Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penyesalan Membeli Kindle

 

November 2018 lalu Amazon merilis kindle seri terbaru: Paperwhite 4.

Dengan storage lebih besar (8GB), gawai baca digital ini juga sudah anti air. Ga usah khawatir rusak klo kecemplung di kolam renang atau got.

Karena mulai lelah berurusan dengan buku fisik (sering hilang waktu traveling, berat di tas, dan harus menyiapkan rak), saya berpikir untuk pindah haluan membaca buku digital.

Awalnya agak ragu. Karena harganya setara dengan smartphone middle low (2,5 jutaan). Apalagi fungsinya Cuma satu: baca buku doang. Tapi berdasarkan testimoni teman-teman dan netijen yang udah pakai, akhirnya saya coba iseng-iseng beli.

Setelah browsing sana-sini, saya nemu reseller di salah satu market place yang menjual dengan harga paling murah. Bahkan lebih murah dari amazonnya sendiri. Kekurangannya: harus mau nunggu 2 bulan.

Ternyata 40 hari kemudian barang sudah datang. Dan saya pun tercengang. Kindle benar-benar tercipta untuk memanjakan pembaca buku!

Setidaknya ada 5 alasan kenapa Anda harus mulai beralih menggunakan kindle:

#1 E-ink Seperti Kertas yang Canggih

Kindle menggunakan teknologi e-ink yang membuat kita seperti membaca diatas kertas. Dengan resolusi 300 dpi, tulisan terlihat tajam dan enak dibaca. Apalagi teknologi kindle memberi kita kebebasan mengatur besar kecil tulisan, jenis-jenis font, dan sangat mudah men-highlight isi buku untuk kemudian dikirim dalam bentuk email. Ga perlu ribet-ribet ngetik ulang lagi!

#2 Ga perlu Takut Cahaya LED

Kindle paperwhite memiliki front light display (cahaya dari samping), berbeda dengan kebanyakan handphone yang menggunakan backlight display (cahaya dari belakang layar). Ini membuat mata tidak cepat capek klo untuk baca. Ga perlu juga takut dengan “blue radiation” yang katanya membuat mata kering. Mau baca berjam-jam? Amann!

#3 Fokus

Karena kindle hanya punya satu fungsi, ini menjadi kekurangan tapi juga kelebihan. Masa ngeluarin 2,5 juta Cuma buat baca buku doank? Mending tablet donk, bisa buat nonton film, browsing, atau main game.

Tapi justru disitu saktinya kindle. Karena Cuma punya satu fungsi, kita tak akan terganggu dalam membaca. Tak ada pesan notifikasi yang mengganggu, tak ada godaan untuk browsing sana-sini, tak ada alasan untuk nonton video-video ga jelas.

Kindle itu seperti perpustakaan. Tak ada keramaian. Tapi kita seperti menemukan ruang untuk menikmati kesendirian. Hanya bersama buku bacaan.

Selama 3 minggu megang kindle, alhamdulilah saya sudah menyelesaikan 3 buku. Sesuatu yang agak sulit dilakukan jika membaca menggunakan tablet.

#4 Lebih Murah

Dibandingkan beli buku fisik, Amazon memberikan diskon yang lebih murah untuk versi digital. Tapi ya gitu, mayoritas buku-buku yang ada berbahasa Inggris. Seandainya Gramedia mengembangkan hal yang serupa, saya yakin dunia perbukuan bisa semakin maju. Karena dengan versi digital, berarti ada penghematan biaya cetak dan distribusi.

Tapi mungkin Mbah Kompas Gramedia ga pingin toko-toko mereka sepi. Padahal dengan bisnis model digital, pengarang dan pembaca sangat diuntungkan. Harga lebih murah akan menjangkau pembaca lebih banyak.

#5 Banyak Ebook Gratis

Bukannya saya mau ngajarin yang ga bener, tapi banyak website menawarkan jutaan ebook kindle secara gratis. Ini memudahkan kita jika tidak kuat membayar buku dalam bentuk dollar. Prinsip busuk saya sih, selama masih ada yang gratisan, kenapa harus nyari yang mbayar? Hahaha.

Tapi saya tetap beli versi resmi koq untuk buku terbitan terbaru. Karena Namanya juga “bajakan”, ebook gratisan takkan bisa di sync dengan account amazon kita. Susah kalau mau men-highlight kalimat-kalimat penting di buku yang kita anggap menarik.

______________

Lho koq isinya positif review doank? Nyeselnya dimana donk?

Iya saya nyesel koq. Saya nyesel kenapa nggak dari dulu-dulu beli kindle-nya hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada sperusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Berarti secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missqueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat pencitraan). Tapi solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan).

Tidak semudah itu, Ferguso. Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Jepang dan Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki.

#2 Jika kita miskin dan ingin kaya, ya kita harus berinovasi dan menciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Tiket Pesawat Keluar Negeri Lebih Murah?

 

Media diramaikan dengan issue tiket pesawat yang naik gila-gilaan.

Apalagi tahun 2019 apa-apa dikaitkan dengan isu politik. Duit cepek dibuat lodeh. Capek deh.

Pendapat jika tiket ke luar negeri lebih murah daripada rute domestic ada benarnya. Tapi juga ada bias-nya.

Bias karena yang murah biasanya hanya KL/Singapura. Sedangkan yang dibandingkan biasanya rute-rute domestic padat wisatawan seperti Bali, Lombok, atau daerah Indonesia Timur.

Btw, kenapa sih tiket Jakarta – Singapura/KL biasanya lebih murah dibandingkan Jakarta- Bali/Lombok?

Sebenarnya nggak selamanya lebih murah. Kebetulan aja banyak airline yang promo (terutama si Merah).

Tapi setidaknya ada beberapa alasan kenapa rute itu sering banget banting harga.

#1 Harga avtur lebih murah

avtur – sindonews

Ini bocoran waktu saya masih belajar di salah satu airline di Malaysia. Harga avtur lebih murah disana. Karena itulah banyak pesawat yang disetting untuk punya rute gabungan domestic dan internasional.

Ada banyak Istilah. Yang sering dipakai adalah Double U.

Misal ada satu pesawat start Jakarta. Dia akan ke KL dulu. Disana ngisi full tank, lalu balik ke Jakarta. Dari Jakarta baru ambil rute domestic ke Jogja. Dari Jogja diarahin lagi ke KL (ngisi avtur lagi). Balik ke Jogja. Terus malem balik ke Jakarta.

Lebih murahnya di harga berapa? Oh tidak semudah itu Ferguso. Itu rahasia perusahaan hehe.

Kenapa avtur di Indo lebih mahal? Mungkin pejabat-pejabat di Pertamina lebih kompeten untuk menjawab.

#2 Persaingan ketat

Rute-rute ke Singapura dan Kuala Lumpur adalah jalur gemuk dengan banyak pemain. Jarak tempuh ga terlalu jauh, dan juga permintaan tinggi.

Ibarat kolam pancing, isinya Cuma sekelas ikan lele tapi buanyaakkk.

Banyak supply otomatis hukum permintaan berlaku. Daripada terbang dengan pesawat kosong, para airlines sering menjual dengan tiket murah.

Karena airlines bukan angkot yang bisa ngetem nunggu penumpang penuh (ya kali pramugari jadi kernet).

Apalagi low cost carrier mencari pendapatan bukan hanya dari tiket. Masih ada bagasi, makanan, dan berbagai service yang bisa dijual.

Prinsipnya: pesawat kosong nyaring bunyinya. Daripada kosong, yang penting harus ada penumpangnya!

Berapa pun harga tiketnya.

#3 Hub-spoke/Feeder strategy

Banyak airlines yang menempatkan KL/Singapore sebagai hub transit. Tempat berkumpulnya penumpang untuk diangkut ke rute yang lebih jauh. Karena itulah penumpang harus transit di bandara itu.

Dan anehnya, mereka terkadang rela mengorbankan harga rute pendek, untuk membuat orang tertarik terbang ke rute yang lebih jauh.

Misal KLM, full service carrier dari Belanda. Harga Jakarta-KL mereka terkadang mirip-mirip dengan harga promo AirAsia. Mereka rela men-dumping harga CGK-KUL karena pendapatan terbesar didapatkan dari rute KL ke Eropa.

#4 Tarif Batas Bawah

Penyakit utama “mahalnya” tiket domestic kita.

Adanya tarif batas bawah yang membuat airlines tidak boleh memberikan harga promo dibawah harga itu.

Mulai berlaku sekitar tahun 2014. Tujuan utamanya mulia: untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat dan tidak ada perang harga antar maskapai.

Tapi kebijakan ini “merugikan konsumen” karena mereka takkan pernah menikmati promo super gila seperti “kursi gratis”.

Logikanya sih, klo keluar negeri aja airlines boleh promo edan-edanan, kenapa rute domestic gak boleh?

#5 Infrastructure yang LCC friendly

Salah satu alasan si Merah bisa merajai penerbangan internasional di ASEAN adalah dukungan infastruktur yang ramah kepada LCC (low cost carrier).

Tarif airport tax KLIA2 misalnya, hanya 35 RM atau 100rb-an. Berbeda dengan Soetta yang ada di angka 230rb.

Kenapa koq lebih murah?

Karena otoritas bandara Malaysia tahu jika LCC ga butuh bandara yang mewah. Yang penting mendukung operasional airlines dan tidak memberatkan wisatawan.

Bandara bagi LCC ga perlu punya lounge dari marmer. Yang penting bisa untuk transit dengan murmer. Murah meriah hehehe.

__________________________________

Begitulah bosku beberapa alasan kenapa penerbangan keluar negeri bisa lebih murah daripada kedalam negeri.

Seperti pepetah: hujan emas di negeri orang, hujan deras di negeri sendiri. Banjir bro. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

OKR

OKR

Apa hubungan tahun baru dengan rahasia organisasi-organisasi kelas dunia?

Tahun baru identik dengan resolusi baru. Dan ternyata mayoritas organisasi hebat pasti punya “resolusi” yang jelas.

Berbeda dengan kita yang biasanya punya resolusi tinggi tapi mimpi (saya ingin langsing contohnya!), organisasi hebat macam Google, Intel, atau Microsoft punya tujuan yang jelas dan terperinci.

Mereka memiliki framework yang lebih dari sekedar resolusi tanpa arti.

Mayoritas organisasi kelas dunia memiliki OKR.

Makhluk apakah itu OKR?

OKR adalah singkatan dari Objective and Key Result.

Berarti tujuan yang ingin kita capai, dan indicator pencapaiannya.

Diciptakan oleh bos Intel, Andy Groove pada tahun 70-an dan dipopulerkan oleh John Doerr.

Konsep ini lalu diperkenalkan John Doerr ke Google yang membuat mereka mampu menciptakan strategi hyper growth yang luar biasa. Bahkan semua Googler (pegawai Google) dipaksa untuk menuliskan OKR pribadi untuk di share ke tim-nya.

Kenapa OKR bisa berdampak signifikan?

Karena OKR akan berfungsi sebagai kompas.

Ia akan memandu kita ke tujuan dan memberi tahu jika tujuan itu sudah/belum tercapai. Tanpa OKR kita hanya melakukan rutinitas biasa tanpa kejelasan kemana kita bergerak.

Menurut Doerr, OKR yang baik harus signifikan, konkret, action oriented, dan inspirasional. Dalam artian OKR itu harus menarik untuk dituju dan punya ukuran/metrix yang jelas.

Kita ambil contoh visi/misi capres 2019.

“Terwujudnya Indonesia Maju/Adil, Makmur, Bermartabat” bukanlah contoh OKR yang baik.

Tujuan itu mungkin terdengar gagah dan keren. Tapi terlalu mengawang-awang dan kurang jelas ukuran pencapaiannya.

“Menjadi negara sejahtera dengan pendapatan per kapita $4.000” jauh lebih gampang diukur. Jika pada akhir masa jabatan pendapatan per kapita masih $3.999 maka presiden itu belum mencapai tujuan.

Karena menurut Andy Groove, indikator OKR harus bisa diukur dengan “Ya atau Tidak”.

Untuk itulah ada “color grading checklist”. Untuk mengevaluasi kinerja kita selama periode tertentu. Hijau jika kita sudah 80-100% dari target, kuning jika 50-79%, dan merah jika dibawah 49%.

Tapi tentu yang lebih penting dari sekedar penetapan tujuan dan penciptaan strategi adalah: eksekusi.

Strategi terbaik adalah strategi yang benar-benar kita jalani.

Just do it.

Selamat mencapai OKR 2019!

source: HotPMO
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rileks

Anda ingin menjadi pemikir kreatif?

Maka berhentilah berpikir terlalu serius dan sering-seringlah main ke kamar mandi.

Itu hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan Daniel Kahneman, pemenang nobel ekonomi kepada teman-temannya, Mereka mengaku menjadi kreatif dan mendapat ide-ide segar ketika mandi.

Kita pasti diajarkan di sekolah. Archimedes berteriak Eureka dan mendapatkan inspirasi hukum Archimedes saat berendam di kamar mandi. Bukan ketika lagi mengerjakan PR matematika, atau ngitung-ngitung  cicilan KPR.

Saya sih percaya jika Archimedes lahir di Surabaya, ia akan berteriak “JANC**! Dan kita akan mengenal hukum JANC** untuk menjelaskan massa jenis benda.

Saya yakin kita sering mendapat inspirasi saat “ngebom” di WC. Atau ketika ngopi dan ngobrol-ngobrol santai dengan teman?

Dan kenapa pula kita seringkali bisa mengingat barang yang terlupa justru pada saat sholat?

Tapi kenapa ide-ide kreatif justru muncul saat otak kita tidak dipaksa untuk berpikir?

Orang pintar punya pendapat.

Saat kita ngebom, ngopi santai, atau bengong pas sholat (hayo ngaku!), kita merasa rileks.

Kondisi rileks membantu otak lebih cair dan flow. Saat itu koneksi antar neuron bisa terhubung dengan baik.

“Anda perlu memberi waktu bagi otak Anda untuk beristirahat sehingga dapat mengkonsolidasi semua informasi yang masuk” kata Daniel Levitin, professor behavioural neuroscience dari Universitas McGill.

Intinya otak kita harus beristirahat dan mengendorkan syaraf.

Ibarat mesin, otak kita perlu didinginkan sebentar agar bisa melaju dengan lancar.

Mungkin karena itu system Pendidikan di Finlandia menerapkan kebijakan unik: murid diwajibkan beristirahat singkat setelah (maksimal) 45-60 menit pelajaran.

Guru-guru juga punya kewajiban: menyampaikan materi dalam waktu singkat. Jangan terlalu padat. Nanti informasi bisa ngadat.

Lantas, bagaimana cara untuk rileks ditengah semakin sengitnya arus modernitas yang menuntut semuanya serba cepat?

Secara teori gampang. Ingatlah jika semua ini hanyalah urusan dunia.

Dan berita baiknya: dunia tidak dibawa mati.

Harus menemukan produk baru? Harus menciptakan strategy bisnis? Harus menang Pilpres 2019?

Gus Dur sudah punya tag line jawaban kehidupan kita: Gitu aja koq repot.

Dan saya percaya Gus Dur adalah seorang pemikir yang kreatif.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Banyak Orang Meminjam Kredit Online?

Minggu lalu saya mengikuti acara sosialisasi peraturan OJK. Dalam acara itu saya bertemu dengan banyak penggiat fintech dan kebanyakan berbentuk kredit online atau berbasis P2P (peer to peer).

Dari hasil ngobrol-ngobrol saya terbelalak kaget dengan bocoran angka yang mereka punya.

Salah satu fintech pelopor “kredit online” memberikan bisikan:

Ada belasan ribu debitur yang rela meminjam dengan bunga hampir 1% per hari! Bahkan disburstment mereka sudah sampai ratusan milyar dan ada nasabah yang rajin meminjam sampai 16 kali cycle!

Bunga 1% per hari cuk! Meskipun jika kita meminjam 2 juta, 1% hanya Rp 20.000. Tapi seriously?!?

Disini saya belum berbicara riba, tapi secara logika, kenapa ada orang yang rela meminjam 1% per hari?

Setelah mengulik lebih dalam, saya sampai pada beberapa hipotesa. Alasan mengapa ada orang yang rela membayar pinjaman 1% per hari.

Awalnya saya kira lebih karena factor sosio-ekonomi.

Logika saya, para peminjam online ini adalah orang-orang yang tak tersentuh bank, ga punya kartu kredit, berpenghasilan rendah, karena kepepet dan ga bisa minjem kemana-mana.

Apakah seperti itu sodara-sodara?

SALAH!!!

“Ada debitur kita yang kerja di law firm. Punya 2 kartu kredit, gajinya 14 juta”.

Karena si fintech juga ga bego. Mereka ga akan memberikan kredit kepada debitur miss queen yang bakal megap-megap untuk bayar pinjamannya (kredit macet mereka rendah karena menggunakan machine learning dan social media profiling).

Lha terus kenapa masih ada orang meminjam dengan bunga yang gila?

Konsumtif

Untungnya dalam obrolan kami ada founder fintech lain yang mencoba menjelaskan kepada saya. Kenapa ada orang yang “berbaik hati” membayar bunga 1% per hari.

Setidaknya karena dua alasan.

Pertama soal perilaku konsumtif.

Banyak orang meminjam kredit online, sebenarnya hanya untuk membeli barang-barang sekunder. Bukan kebutuhan utama.

Contohnya si karyawan law firm tadi.

Ternyata ada semacam “social rule” dimana untuk bisa bergaul dengan golongan social tertentu, kita harus memiliki barang dengan merek-merek tertentu.

Dalam hal ini, merujuk ke baju, gadget, dan prilaku jajan yang ga murah.

Logika yang dipakai: penampilan akan menunjang kesuksesan. Semakin Anda terlihat sukses, maka semakin besar peluang Anda mendapat klien atau naik jabatan.

Karena itulah si karyawan law firm punya 2 kartu kredit dan semuanya sudah over limit.

(Tapi ada juga peminjam yang ngutang karena kepepet. Misal: ga punya uang makan di akhir bulan)

Alasan kedua, banyak orang yang belum mendapatkan Pendidikan finansial dasar.

Pendidikan finansial ini bukan berarti certified wealth management atau semacamnya, tapi pengelolaan keuangan tingkat dasar.

Se-simple jika pendapatan saya 100, berapa % untuk konsumsi, berapa % untuk dana cadangan, berapa % untuk tabungan atau investasi?

Orang tanpa Pendidikan finansial akan mengiyakan pengajuan kredit selama ia merasa mampu membayar cicilannya yang biasanya mereka anggap ringan.

“Oh Cuma 300rb”.

“Nanti gajian juga lunas”.

“Ah yang penting kebeli sekarang. Bayar dipikir belakangan”

Banyak orang yang belum sadar “kesaktian” konsep time value of money dan “cost of capital”.

Intinya, berhati-hatilah terhadap rayuan “kredit mudah”.

Karena yang mudah, biasanya tidak murah.

Waspadalah! Waspadalah!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hari Bersejarah Dalam Hidup Saya

Tanggal 14 November 2018 adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup saya.

Hari yang ditakdirkan menjadi hari luar biasa.

Mungkin ini hari yang dijanjikan Tuhan kepada saya sebagai hambanya.

Hari perubahan.

Hari tipping point yang mengubah hidup saya selamanya.

Hari yang…

(udah intronya bangke!!)

Okay, tanggal hari 14 November 2018 adalah hari… Rabu.

Dimana saya menciptakan breakthrough, sebuah terobosan yang akan saya catat dalam “My Life Guinness Book of Record”.

Pemirsa, pada 14 November 2018 Pukul 18.14 WIB (GMT +7) akhirnya saya… makan bakso.

What?!? Menyesalkah kamu telah membaca content yang ga ada unsur gossip mesum atau perselingkuhan artis dan hanya menjadi polusi wall social media?

Tentang mamalia dengan badan obesitas yang telah memakan bakso pada 14 November 2018 Pukul 18.14 WIB (GMT +7)?

source: cookpad

Bagi sebagian orang termasuk mantan presiden AS, Barack Obama, bakso adalah makanan biasa. Sudah mandarah daging dan menjadi gastronomi tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi tidak bagi saya.

I hate bakso!

I can’t eat bakso!

Kenapa? Saya juga ga ngerti.

Hipotesisnya, karena dulu Ibu saya pernah berjualan bakso.

Karena memasaknya di dapur rumah, saya sering melihat daging giling dan adonan bakso. Entah kenapa, bentuk bakso sangat tidak menggugah selera. Ditambah bau yang ga jelas antara gabungan daging, tepung, dan bahan2 lainnya.

Intinye saya jadi eneg dan ga selera makan.

Dan itu berlanjut selama ratusan tahun hidup saya! (biar dikira tua sekalian)

Tapi pada 14 November lalu saya memesan mie ayam di salah satu bandara di Jakarta. Ndilalah koq ada baksonya.

Karena sudah memesan mie ayam seharga 58rb sayang donk kalo ga dimaem.

Sempet mikir:

Apa dibiarin aja? Tapi bakal jadi sunk cost dan opportunity loss.

Setelah membaca Misbehaving dari Richard Taller, salah satu pioneer behavioural economics, Akhirnya saya sadar jika kebencian saya terhadap bakso adalah dogma yang penuh bias.

Bakso tidak mengancam hidup saya. Saya tidak menderita karena bakso.

Bakso juga tidak pernah menciptakan kolonialisme atau imperialisme yang membuat orang lain menderita.

Bakso tidak mengenal apartheid. Ia tidak peduli SARA dari manusia yang ingin memakannya.

Kebencian saya kepada bakso mungkin adalah kebencian terhadap aroma dan suasana dapur yang berantakan karena proses memasaknya. Bakso tidak bersalah.

Dan juga setelah saya makan ya… rasanya gitu2 aja. Ga terlalu enak tapi ya ga bikin saya muntah.

Pada 14 November 2018 saya belajar jika manusia sering hidup dengan dogma dan ketakutan yang sebenarnya tidak berdasar.

Ketakutan yang terkadang berkembang jadi kebencian dan sebenarnya lahir dari bias pemikiran.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail