PeHaKa

Awalnya saya tidak percaya. Tapi terbukti juga. Mantan kantor saya mengeluarkan pemutusan kerja!

Ada puluhan yang kena. Padahal mereka sudah bekerja lama. Mengabdikan jiwa dan raga.

Meski mendapat pesangon, tetap saja menciptakan kesan: Betapa besarnya risiko jadi karyawan!

Tapi tenang kawan, Tuhan tidak tidur. Pasti ada jalan.

Uang pesangon bisa digunakan untuk modal usaha. Semangat!

Peringatan bagi diri saya pribadi: berdoalah agar bisa jadi pembuka rezeki orang. Semoga bisa jadi pengusaha!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Meski Tua Wajib Belajar Data

Meski Tua, wajib belajar data

 

Di kantor saya ada sekolah tentang data. Mencakup pengenalan soal data, Analisa, visualisasi, sampai pembuatan dashboard. Dari mining sampai presenting.

Saya memang sedang belajar di kantor yang memperlakukan data seperti raja. Karena kebetulan kantor saya adalah perusahaan aplikasi.

Yang unicorn.

Dan yang online-online itu.

Disini semua data dianggap berharga. Meski hanya informasi penting yang dikurasi dan di eksplorasi. Sisanya disimpan di atas awan. Cloud computing.

Pemakaian data di kantor sudah mencapai level peta byte. Sekitar 1.000 terra byte. Jika satu film JAV berdurasi 1 jam besarnya sekitar 1 Giga byte, maka storage 1 peta byte bisa membuat Anda nonton film sepanjang 114.155 tahun!

Saya jadi sadar jika membuat aplikasi ‘super app’ ternyata ribet. Ada supporting system yang Panjang dan berliku. Dan kita sebagai user, takkan pernah tahu.

Prinsipnya: semakin smooth dan sederhana user experience-nya, maka semakin canggih system back end + front end-nya. Semakin pintar developer/enginer/data scientist-nya. Jadi wajar lah mereka dibayar mahal haha.

Saya akan membagi alur Analisa data secara sederhana. Bisa diterapkan di bidang apa saja. Semoga berguna, bagi kita yang sedang hidup di industry 4.0. Abad informasi.

#1 Start with goal

Pertanyaan pertama: apa yang kita cari?

Bergumul dengan data berarti kita berusaha mencari pemecahan sebuah masalah. Untuk itu kita harus punya tujuan yang jelas. Apa yang ingin kita ketahui? Apa yang ingin kita capai? Masalah apa yang sedang kita kembangkan?

Contoh: kita ingin tahu kenapa penjualan turun.

#2 Collect the right data

Setelah kita tahu apa yang kita ingin capai, maka masuk ke langkah kedua: kumpulkan data-nya! Hehe

Dalam kasus penjualan turun maka kita harus mengumpulkan data2 yang relevan. Contoh: histori penjualan per area, daftar sales, daftar marketing campaign, hingga feedback dari supplier/customer.

Tapi ya jangan asal ngumpulin data. Misal data harga cabe, atau data relawan. Ya ga nyambung bosku.

#3 Ask ‘Why?”

Uda tau tujuannya, uda dapat datanya. Waktunya mengembangkan hipotesa. Dugaan dugaan. Cara paling mudah adalah bertanya: kenapa?

Kenapa daerah X turun? Kenapa distributor Y naik? Apakah ada hubungan-nya dengan pergerakan competitor?

#4 Analize!

Pada phase ini kita akan membuat data bercerita. Kita bisa menggunakan berbagai metode statistic yang pada ujungnya membuat data berbicara dan menjawab dugaan kita.

Mulai dari statistic deskriptif hingga prediktif. Disinilah skill seorang analis dipertaruhkan. Sejauh mana ia mampu connecting the dots dan menjawab pertanyaan berdasarkan fakta-fakta yang ada.

#5 Create a next step

Langkah terakhir tapi juga yang terpenting: ciptakan action based on data. Abis tahu data-nya, ya masa Cuma diam aja?

Karena tujuan kita menganalisa adalah mempersiapkan action plan yang bisa kita lakukan.

______________

Ya begitulah 5 tahap dasar dalam Analisa data. Ga ada kata terlambat untuk belajar. Meski sudah berumur 31 tahun dan rata2 teman berumur 27 tahun (berasa tua cuy), kita harus tetap menguasai data analytic.

Karena barang siapa menguasai data, maka akan menguasai dunia. Haha

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pemantik

Ahmad Wajib pernah menulis:

Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain.

Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati.

Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara
pendapat yang berbeda-beda.
24 April 1969

Apakah benar?

Antara ya dan tidak. Bagi saya sebagai seorang penulis yang masih belajar, membaca adalah pemantik.

Sebenarnya ada pemantik terbaik: pengalaman. Tulisan orang-orang hebat biasanya lahir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Contohnya Dahlan Iskan. Dia bisa menulis DIsway setiap hari dengan sangat menarik karena keseharian beliau juga sangat menarik. Berpindah negara, bertemu orang-orang hebat, menciptakan proyek-proyek yang tidak membosankan.

Sayangnya tidak selamanya pengalaman saya pantas untuk ditulis. Saya belum punya rutinitas orang hebat, yang bangun dengan semangat dan gagasan-gagasan besar untuk diwujudkan. Saya sementara masih terperangkap dalam rutinitas salary man dan harus menyelesaikan urusan pekerjaan.

Untuk itulah buku menjadi salah satu pemantik pemikiran yang menghadirkan pengalaman orang lain untuk saya resapi.

Semoga nanti saya punya hari-hari yang menarik untuk ditulis setiap hari!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Educere

Beberapa waktu lalu saya kumpul-kumpul dengan teman-teman. Dan seperti biasa, selain update masalah kehidupan, kita saling bertanya soal anak dan keluarga.

Termasuk soal pendidikan.

Seorang teman mengkhawatirkan soal mahalnya biaya pendidikan anak-anak zaman future (bukan now lagi bosku).

Uang pangkalnya puluhan juta, belum SPP yang nilainya mirip SPP kuliah saya dulu haha.

Yang membuat saya tersadar adalah, stigma yang mengasosiasikan jika pendidikan berarti sekolah.

Apakah tanpa sekolah seorang manusia bisa mendapatkan pendidikan?

Kebetulan saya baru saja menyelesaikan “Educated” dari Tara Westover. Memoar dari seorang ahli sejarah PhD Cambridge yang anehnya, tidak pernah mengenyam bangku sekolah hingga umur 16 tahun!

Sejarah hidup Tara sendiri unik. Dibesarkan oleh keluarga Mormon yang fanatik, Ayahnya menderita schizophrenia dan hidup dalam halusinasi tentang illuminati, konspirasi, dan semakin dekatnya hari kiamat.

Mereka anti pemerintah, tidak percaya dokter, dan bahkan tidak mengurus akte kelahiran anak-anak mereka.

Ayahnya seorang pedagang rongsokan dan kontraktor partikelir. Ibunya bekerja sebagai bidan ilegal. Lalu banting setir menjadi herbalis pengobatan tradisional setelah kecelakaan mobil hebat yang hampir menewaskan keluarga mereka.

Tak ada musik pop. Buku-buku bacaan yang ada hanya alkitab. Pendidikan yang diajarkan hanya baca tulis hitung sederhana. Kata sang Ayah, sekolah adalah alat illuminati untuk mencuci otak kaum muda.

“A man can’t make a living out of books and scraps of paper”.

Untung tak semua kakaknya tahan dengan kultur keluarga anti mainstream ini. Menginjak remaja, dua kakaknya minggat. Lalu menyusul anak ketiga, ingin sekolah.

Anak ketiga ini, Tyler, yang kemudian mengompori Tara untuk belajar. Mandiri. Tanpa diawasi.

Diberikannya buku-buku. Disuruhnya Tara ikut ACT. Test untuk masuk perguruan tinggi. Ijazahnya gimana? Dalam essay application ditulis: Tara mendapat pendidikan home schooling.

Tara sendiri mengisahkan perjuangannya belajar matematika, trigonometri, atau aljabar. Senjatanya cuma satu: kesabaran membaca meski ia tidak mengerti juga.

“The skill I was learning was a crucial one, the patience to read things I could not yet understand”.

Singkat cerita, dia lulus dan diterima di BYU (Bright Young University). Ajaibnya lagi, studinya lancar dan mendapatkan beasiswa ke Cambridge hingga menggenggam gelar PhD!.

Saya jadi tersadar, yang terpenting dari pendidikan bukan tentang INSTITUSI pendidikan. Tapi bagaimana bisa menghasilkan manusia-manusia pembelajar yang mencintai proses pendidikan itu sendiri.

Apalagi di zaman sekarang, pendidikan berbasis kelas terdisrupsi oleh ‘sekolah online’. Ada universitas raksasa bernama Google yang bisa membantu kita menemukan “guru” tentang pelajaran apa saja.

Pingin belajar edit video? Bisa mulai menonton ribuan tutorial di youtube. Ingin tahu soal data science? Banyak kursus di udemy. Pingin tahu matematika? Bisa main-main ke Khan Academy. Bingung klo ada pertanyaan soal coding? Silahkan lempar di Github.

Tentu ‘sekolah online’ takkan bisa 100% mengalahkan pertemuan langsung dengan pengajar ilmu. Ada “adab ilmu” yang harus diajarkan oleh seorang guru. Karena itu pendidikan formal masih memegang peranan penting, meski bukan yang terpenting.

Tantangan pendidikan dimasa depan bukan tentang transfer pengetahuan. Tapi bagaimana menciptakan koneksi antar pengetahuan. Ini tentang mengubah informasi menjadi strategi yang menghasilkan aksi valuasi.

Google menjadi kaya bukan karena menyimpan data search queries penduduk bumi. Google menjadi kaya karena bisa mengubah data keyword pencarian menjadi sesuatu yang berguna bagi pengiklan.

Menurut Craft (1984) kata ‘education’ sendiri punya dua makna. Bisa educare yang berarti membentuk. Atau educere, yang berarti mengeluarkan.

Apa yang dikeluarkan?

Rasa penasaran, kerendahhatian, dan penghormatan kepada anugerah Tuhan bernama pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada perusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missq-ueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat politik). Tidak semudah itu, Ferguso.

Solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan). Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Bahkan penelitian dari Hankins et al (2011) menunjukkan jika orang miskin yang menang lotre akan kembali bangkrut dalam waktu kurang dari 5 tahun!

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

boston.carpe-diem.events.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Dia membagi strategi pengentasan kemiskinan menjadi dua cara: push and pull.

Push lebih bersifat eksternal. Dimana ada negara Al-Tajirun yang menggelontorkan hibah proyek ke negara miskin dalam bentuk “hard assets”.

Sedangkan pull berarti dari dalam. Inilah peran masyarakat (jangan bergantung ama pemerintah!) untuk menciptakan inovasi berbasis nilai yang pada ujungnya mampu melayani kebutuhan pasar.

Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi. Demikian juga dengan Amerika di abad 19. Atau Jepang setelah perang dunia kedua.

Ga ada dari negara negara kaya ini yang mencari pesugihan atau melihara babi ngepet. Semuanya bekerja keras dan berinovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki

#2 Jika kita miskin dan ingin makmur? Ya kita harus berinovasi dan menciptakan value added

Dan itu berarti berhenti menggantungkan nasib kita ke pihak ketiga bernama pemerintah.

Pasrahkan hidupmu hanya kepada Tuhan, dan ciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penyesalan Membeli Kindle

 

November 2018 lalu Amazon merilis kindle seri terbaru: Paperwhite 4.

Dengan storage lebih besar (8GB), gawai baca digital ini juga sudah anti air. Ga usah khawatir rusak klo kecemplung di kolam renang atau got.

Karena mulai lelah berurusan dengan buku fisik (sering hilang waktu traveling, berat di tas, dan harus menyiapkan rak), saya berpikir untuk pindah haluan membaca buku digital.

Awalnya agak ragu. Karena harganya setara dengan smartphone middle low (2,5 jutaan). Apalagi fungsinya Cuma satu: baca buku doang. Tapi berdasarkan testimoni teman-teman dan netijen yang udah pakai, akhirnya saya coba iseng-iseng beli.

Setelah browsing sana-sini, saya nemu reseller di salah satu market place yang menjual dengan harga paling murah. Bahkan lebih murah dari amazonnya sendiri. Kekurangannya: harus mau nunggu 2 bulan.

Ternyata 40 hari kemudian barang sudah datang. Dan saya pun tercengang. Kindle benar-benar tercipta untuk memanjakan pembaca buku!

Setidaknya ada 5 alasan kenapa Anda harus mulai beralih menggunakan kindle:

#1 E-ink Seperti Kertas yang Canggih

Kindle menggunakan teknologi e-ink yang membuat kita seperti membaca diatas kertas. Dengan resolusi 300 dpi, tulisan terlihat tajam dan enak dibaca. Apalagi teknologi kindle memberi kita kebebasan mengatur besar kecil tulisan, jenis-jenis font, dan sangat mudah men-highlight isi buku untuk kemudian dikirim dalam bentuk email. Ga perlu ribet-ribet ngetik ulang lagi!

#2 Ga perlu Takut Cahaya LED

Kindle paperwhite memiliki front light display (cahaya dari samping), berbeda dengan kebanyakan handphone yang menggunakan backlight display (cahaya dari belakang layar). Ini membuat mata tidak cepat capek klo untuk baca. Ga perlu juga takut dengan “blue radiation” yang katanya membuat mata kering. Mau baca berjam-jam? Amann!

#3 Fokus

Karena kindle hanya punya satu fungsi, ini menjadi kekurangan tapi juga kelebihan. Masa ngeluarin 2,5 juta Cuma buat baca buku doank? Mending tablet donk, bisa buat nonton film, browsing, atau main game.

Tapi justru disitu saktinya kindle. Karena Cuma punya satu fungsi, kita tak akan terganggu dalam membaca. Tak ada pesan notifikasi yang mengganggu, tak ada godaan untuk browsing sana-sini, tak ada alasan untuk nonton video-video ga jelas.

Kindle itu seperti perpustakaan. Tak ada keramaian. Tapi kita seperti menemukan ruang untuk menikmati kesendirian. Hanya bersama buku bacaan.

Selama 3 minggu megang kindle, alhamdulilah saya sudah menyelesaikan 3 buku. Sesuatu yang agak sulit dilakukan jika membaca menggunakan tablet.

#4 Lebih Murah

Dibandingkan beli buku fisik, Amazon memberikan diskon yang lebih murah untuk versi digital. Tapi ya gitu, mayoritas buku-buku yang ada berbahasa Inggris. Seandainya Gramedia mengembangkan hal yang serupa, saya yakin dunia perbukuan bisa semakin maju. Karena dengan versi digital, berarti ada penghematan biaya cetak dan distribusi.

Tapi mungkin Mbah Kompas Gramedia ga pingin toko-toko mereka sepi. Padahal dengan bisnis model digital, pengarang dan pembaca sangat diuntungkan. Harga lebih murah akan menjangkau pembaca lebih banyak.

#5 Banyak Ebook Gratis

Bukannya saya mau ngajarin yang ga bener, tapi banyak website menawarkan jutaan ebook kindle secara gratis. Ini memudahkan kita jika tidak kuat membayar buku dalam bentuk dollar. Prinsip busuk saya sih, selama masih ada yang gratisan, kenapa harus nyari yang mbayar? Hahaha.

Tapi saya tetap beli versi resmi koq untuk buku terbitan terbaru. Karena Namanya juga “bajakan”, ebook gratisan takkan bisa di sync dengan account amazon kita. Susah kalau mau men-highlight kalimat-kalimat penting di buku yang kita anggap menarik.

______________

Lho koq isinya positif review doank? Nyeselnya dimana donk?

Iya saya nyesel koq. Saya nyesel kenapa nggak dari dulu-dulu beli kindle-nya hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prosperity Paradox: Kenapa Memberikan Uang Kepada Orang Miskin Takkan Membuat Mereka Kaya

Jika Anda calon presiden dan ditantang untuk mengentaskan kemiskinan, mana yang akan Anda pilih:

  1. Memberikan setiap orang miskin uang 50 juta
  2. Memberikan insentif pajak kepada sperusahaan startup

Mayoritas orang akan berpikir kemiskinan berarti tidak memiliki materi. Berarti secara logika, cara tercepat untuk mengangkat derajat saudara missqueen kita adalah dengan memberikan mereka harta.

Karena itulah banyak bantuan hibah yang diberikan negara kaya. Pemerintah bahkan pernah memberikan Bantuan Langsung Tunai (sekalian buat pencitraan). Tapi solusi ini ternyata tak sustainable (berkelanjutan).

Tidak semudah itu, Ferguso. Kemiskinan adalah masalah yang kompleks dan bukan hanya tentang kepemilikan kekayaan.

Contohnya Afghanistan. Pemerintah AS menggelontorkan 1 milliar dollar untuk pembangunan pendidikan dan kesehatan yang pada akhirnya menghasilkan 1.100 gedung kosong. Atau kasus di Afrika seperti Tanzania. Mereka menerima hibah 200 juta dollar untuk pembangunan industry kertas yang ternyata tidak bisa mereka kelola dan hanya menghasilan “pabrik proyek”.

Clayton Christensen dalam karya terbarunya, Prosperity Paradox: How Innovation can lift nations Out of poverty (2019) menyoroti hal ini.

Menurut professor Harvard ini, bantuan uang, asset, atau infrastruktur, takkan berguna jika tidak disertai oleh satu hal: market driven innovation. Inovasi berbasis pasar.

Seperti kepercayaan kapitalis lainnya: Untuk menciptakan kesejahteraan, harus ada pasar penciptaan nilai. Inovasi berbasis nilai dipercaya akan meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, dan menciptakan kemakmuran.

Menggunakan study case dari berbagai negara Afrika, Asia, dan Amerika, Christensen menunjukkan kesaktian ‘inovasi pasar’. Bahkan thesisnya sangat “unik”:

“It may sound counterintuitive, but our research suggests that enduring prosperity for many countries will not come from fixing poverty. It will come from investing in innovations that create new markets within these countries”.

Jepang dan Korea yang pernah jadi negara yang sama miskin-nya dengan Indonesia, mampu bangkit dengan mendorong industry berbasis inovasi.

Setelah membaca buku yang sangat enak dibaca ini, saya belajar dua hal:

#1 Kemakmuran bukan hanya soal seberapa banyak uang yang kita miliki.

#2 Jika kita miskin dan ingin kaya, ya kita harus berinovasi dan menciptakan nilai tambah.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Tiket Pesawat Keluar Negeri Lebih Murah?

 

Media diramaikan dengan issue tiket pesawat yang naik gila-gilaan.

Apalagi tahun 2019 apa-apa dikaitkan dengan isu politik. Duit cepek dibuat lodeh. Capek deh.

Pendapat jika tiket ke luar negeri lebih murah daripada rute domestic ada benarnya. Tapi juga ada bias-nya.

Bias karena yang murah biasanya hanya KL/Singapura. Sedangkan yang dibandingkan biasanya rute-rute domestic padat wisatawan seperti Bali, Lombok, atau daerah Indonesia Timur.

Btw, kenapa sih tiket Jakarta – Singapura/KL biasanya lebih murah dibandingkan Jakarta- Bali/Lombok?

Sebenarnya nggak selamanya lebih murah. Kebetulan aja banyak airline yang promo (terutama si Merah).

Tapi setidaknya ada beberapa alasan kenapa rute itu sering banget banting harga.

#1 Harga avtur lebih murah

avtur – sindonews

Ini bocoran waktu saya masih belajar di salah satu airline di Malaysia. Harga avtur lebih murah disana. Karena itulah banyak pesawat yang disetting untuk punya rute gabungan domestic dan internasional.

Ada banyak Istilah. Yang sering dipakai adalah Double U.

Misal ada satu pesawat start Jakarta. Dia akan ke KL dulu. Disana ngisi full tank, lalu balik ke Jakarta. Dari Jakarta baru ambil rute domestic ke Jogja. Dari Jogja diarahin lagi ke KL (ngisi avtur lagi). Balik ke Jogja. Terus malem balik ke Jakarta.

Lebih murahnya di harga berapa? Oh tidak semudah itu Ferguso. Itu rahasia perusahaan hehe.

Kenapa avtur di Indo lebih mahal? Mungkin pejabat-pejabat di Pertamina lebih kompeten untuk menjawab.

#2 Persaingan ketat

Rute-rute ke Singapura dan Kuala Lumpur adalah jalur gemuk dengan banyak pemain. Jarak tempuh ga terlalu jauh, dan juga permintaan tinggi.

Ibarat kolam pancing, isinya Cuma sekelas ikan lele tapi buanyaakkk.

Banyak supply otomatis hukum permintaan berlaku. Daripada terbang dengan pesawat kosong, para airlines sering menjual dengan tiket murah.

Karena airlines bukan angkot yang bisa ngetem nunggu penumpang penuh (ya kali pramugari jadi kernet).

Apalagi low cost carrier mencari pendapatan bukan hanya dari tiket. Masih ada bagasi, makanan, dan berbagai service yang bisa dijual.

Prinsipnya: pesawat kosong nyaring bunyinya. Daripada kosong, yang penting harus ada penumpangnya!

Berapa pun harga tiketnya.

#3 Hub-spoke/Feeder strategy

Banyak airlines yang menempatkan KL/Singapore sebagai hub transit. Tempat berkumpulnya penumpang untuk diangkut ke rute yang lebih jauh. Karena itulah penumpang harus transit di bandara itu.

Dan anehnya, mereka terkadang rela mengorbankan harga rute pendek, untuk membuat orang tertarik terbang ke rute yang lebih jauh.

Misal KLM, full service carrier dari Belanda. Harga Jakarta-KL mereka terkadang mirip-mirip dengan harga promo AirAsia. Mereka rela men-dumping harga CGK-KUL karena pendapatan terbesar didapatkan dari rute KL ke Eropa.

#4 Tarif Batas Bawah

Penyakit utama “mahalnya” tiket domestic kita.

Adanya tarif batas bawah yang membuat airlines tidak boleh memberikan harga promo dibawah harga itu.

Mulai berlaku sekitar tahun 2014. Tujuan utamanya mulia: untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat dan tidak ada perang harga antar maskapai.

Tapi kebijakan ini “merugikan konsumen” karena mereka takkan pernah menikmati promo super gila seperti “kursi gratis”.

Logikanya sih, klo keluar negeri aja airlines boleh promo edan-edanan, kenapa rute domestic gak boleh?

#5 Infrastructure yang LCC friendly

Salah satu alasan si Merah bisa merajai penerbangan internasional di ASEAN adalah dukungan infastruktur yang ramah kepada LCC (low cost carrier).

Tarif airport tax KLIA2 misalnya, hanya 35 RM atau 100rb-an. Berbeda dengan Soetta yang ada di angka 230rb.

Kenapa koq lebih murah?

Karena otoritas bandara Malaysia tahu jika LCC ga butuh bandara yang mewah. Yang penting mendukung operasional airlines dan tidak memberatkan wisatawan.

Bandara bagi LCC ga perlu punya lounge dari marmer. Yang penting bisa untuk transit dengan murmer. Murah meriah hehehe.

__________________________________

Begitulah bosku beberapa alasan kenapa penerbangan keluar negeri bisa lebih murah daripada kedalam negeri.

Seperti pepetah: hujan emas di negeri orang, hujan deras di negeri sendiri. Banjir bro. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

OKR

OKR

Apa hubungan tahun baru dengan rahasia organisasi-organisasi kelas dunia?

Tahun baru identik dengan resolusi baru. Dan ternyata mayoritas organisasi hebat pasti punya “resolusi” yang jelas.

Berbeda dengan kita yang biasanya punya resolusi tinggi tapi mimpi (saya ingin langsing contohnya!), organisasi hebat macam Google, Intel, atau Microsoft punya tujuan yang jelas dan terperinci.

Mereka memiliki framework yang lebih dari sekedar resolusi tanpa arti.

Mayoritas organisasi kelas dunia memiliki OKR.

Makhluk apakah itu OKR?

OKR adalah singkatan dari Objective and Key Result.

Berarti tujuan yang ingin kita capai, dan indicator pencapaiannya.

Diciptakan oleh bos Intel, Andy Groove pada tahun 70-an dan dipopulerkan oleh John Doerr.

Konsep ini lalu diperkenalkan John Doerr ke Google yang membuat mereka mampu menciptakan strategi hyper growth yang luar biasa. Bahkan semua Googler (pegawai Google) dipaksa untuk menuliskan OKR pribadi untuk di share ke tim-nya.

Kenapa OKR bisa berdampak signifikan?

Karena OKR akan berfungsi sebagai kompas.

Ia akan memandu kita ke tujuan dan memberi tahu jika tujuan itu sudah/belum tercapai. Tanpa OKR kita hanya melakukan rutinitas biasa tanpa kejelasan kemana kita bergerak.

Menurut Doerr, OKR yang baik harus signifikan, konkret, action oriented, dan inspirasional. Dalam artian OKR itu harus menarik untuk dituju dan punya ukuran/metrix yang jelas.

Kita ambil contoh visi/misi capres 2019.

“Terwujudnya Indonesia Maju/Adil, Makmur, Bermartabat” bukanlah contoh OKR yang baik.

Tujuan itu mungkin terdengar gagah dan keren. Tapi terlalu mengawang-awang dan kurang jelas ukuran pencapaiannya.

“Menjadi negara sejahtera dengan pendapatan per kapita $4.000” jauh lebih gampang diukur. Jika pada akhir masa jabatan pendapatan per kapita masih $3.999 maka presiden itu belum mencapai tujuan.

Karena menurut Andy Groove, indikator OKR harus bisa diukur dengan “Ya atau Tidak”.

Untuk itulah ada “color grading checklist”. Untuk mengevaluasi kinerja kita selama periode tertentu. Hijau jika kita sudah 80-100% dari target, kuning jika 50-79%, dan merah jika dibawah 49%.

Tapi tentu yang lebih penting dari sekedar penetapan tujuan dan penciptaan strategi adalah: eksekusi.

Strategi terbaik adalah strategi yang benar-benar kita jalani.

Just do it.

Selamat mencapai OKR 2019!

source: HotPMO
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rileks

Anda ingin menjadi pemikir kreatif?

Maka berhentilah berpikir terlalu serius dan sering-seringlah main ke kamar mandi.

Itu hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan Daniel Kahneman, pemenang nobel ekonomi kepada teman-temannya, Mereka mengaku menjadi kreatif dan mendapat ide-ide segar ketika mandi.

Kita pasti diajarkan di sekolah. Archimedes berteriak Eureka dan mendapatkan inspirasi hukum Archimedes saat berendam di kamar mandi. Bukan ketika lagi mengerjakan PR matematika, atau ngitung-ngitung  cicilan KPR.

Saya sih percaya jika Archimedes lahir di Surabaya, ia akan berteriak “JANC**! Dan kita akan mengenal hukum JANC** untuk menjelaskan massa jenis benda.

Saya yakin kita sering mendapat inspirasi saat “ngebom” di WC. Atau ketika ngopi dan ngobrol-ngobrol santai dengan teman?

Dan kenapa pula kita seringkali bisa mengingat barang yang terlupa justru pada saat sholat?

Tapi kenapa ide-ide kreatif justru muncul saat otak kita tidak dipaksa untuk berpikir?

Orang pintar punya pendapat.

Saat kita ngebom, ngopi santai, atau bengong pas sholat (hayo ngaku!), kita merasa rileks.

Kondisi rileks membantu otak lebih cair dan flow. Saat itu koneksi antar neuron bisa terhubung dengan baik.

“Anda perlu memberi waktu bagi otak Anda untuk beristirahat sehingga dapat mengkonsolidasi semua informasi yang masuk” kata Daniel Levitin, professor behavioural neuroscience dari Universitas McGill.

Intinya otak kita harus beristirahat dan mengendorkan syaraf.

Ibarat mesin, otak kita perlu didinginkan sebentar agar bisa melaju dengan lancar.

Mungkin karena itu system Pendidikan di Finlandia menerapkan kebijakan unik: murid diwajibkan beristirahat singkat setelah (maksimal) 45-60 menit pelajaran.

Guru-guru juga punya kewajiban: menyampaikan materi dalam waktu singkat. Jangan terlalu padat. Nanti informasi bisa ngadat.

Lantas, bagaimana cara untuk rileks ditengah semakin sengitnya arus modernitas yang menuntut semuanya serba cepat?

Secara teori gampang. Ingatlah jika semua ini hanyalah urusan dunia.

Dan berita baiknya: dunia tidak dibawa mati.

Harus menemukan produk baru? Harus menciptakan strategy bisnis? Harus menang Pilpres 2019?

Gus Dur sudah punya tag line jawaban kehidupan kita: Gitu aja koq repot.

Dan saya percaya Gus Dur adalah seorang pemikir yang kreatif.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail