Tiga Kelemahan Kursus Online

Seorang teman bercerita: setiap malam ga boleh langsung tidur. Alasannya? “Ada kuliah jam 11 malam”. Kuliah ama Genderuwo?

Rupanya dia sedang ikutan short course jarak jauh. Program digital dari salah satu kampus Ivy League di Amerika sono. Wuih keren donk!

Yang bikin saya kagum adalah sumber biayanya. Teman saya rela mengocek kantong pribadi untuk ikutan kursus tadi. Ongkosnya kata dia ga mahal-mahal amat: 50 juta aja. Jauh lebih murah dari executive short course Harvard yang bisa mencapai 52 ribu dollar (700 juta-an). 

Secara logika sederhana, pelatihan online memberikan banyak sekali manfaat. Biayanya jauh lebih murah, simple plus praktis, fleksibel, dan terutama tidak terikat ruang dan waktu. Apalagi ditengah pandemi Covid. Virus yang sudah menyerang 19 juta umat manusia ini memaksa kita menerapkan pembelajaran jarak jauh. 

Sekolah diliburkan, diganti interaksi lewat laptop berbasis daring. Webinar menjamur. Mulai dari yang gratisan sampai yang berbayar. Termasuk berkembangnya kursus online. Pemerintah sendiri lewat program Prakerja (yang kita ga tahu bagiamana nasib kedepannya), memberikan subsidi bagi pencari kerja untuk mengikuti pelatihan online ini.

Sejak WFH sendiri, alhamdulilah saya sudah mengoleksi 10 sertifikat kursus karena kebetulan dikasih full akses di salah satu platform. Saya merasa sangat terbantu. Bayangkan: kita bisa belajar apa saja, kapan saja, dimana saja, dari guru-guru terbaik dunia pula! 

Apakah mungkin di masa depan, institusi pendidikan kita akan full online? Karena pernah merasakan belajar secara tatap muka, saya merasa online learning (terutama Massive Open Online Course) punya beberapa kendala.  Apa saja? Continue reading Tiga Kelemahan Kursus Online

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Prinsip-prinsip Sukses Dalam Hidup [Principle by Ray Dalio]

Ray Dalio adalah founder dari ‘hedge fund’ Bridgewater. Apaan tuh Bridgewater alias jembatan air?

Anggep aja dia dukun yang bisa menggandakan duit investor lewat investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, index dll).

Saat udah tua, si Ray Dalio tiba-tiba kepikiran: “Anjir, koq gw bisa tajir melintir ya?”

Setelah dipikir-pikir, ia merasa karena punya kebiasaan membuat ‘principle’ dalam kehidupan dan pekerjaan.
Ray Dalio percaya jika semesta adalah mesin raksasa. Yang perlu kita lakukan biar sukses ya menerapkan sistem dan algoritma yang tepat.

Nah, berhubung udah ga butuh duit, ia lalu membagikan prinsip hidupnya dalam buku ini: Principle.

Males baca atau ga punya bukunya? Bisa temukan slide-booknya disini ya:

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Mungkin ini kabar game-bira bagi gamers sedunia. Hampir sama pentingnya dengan penantian vaksin Corona. Penantian itu terjawab, Playstation kini punya cicit. Seri kelima dari console paling laris itu akan dirilis akhir tahun ini.

Design-nya cool dan futuristik. Pasti sexy kalo dibikin kartun Moe-nya. Dukungan hardware-nya mumpuni. Gawe-game kelas dewa siap beraksi.

Pertanyaannya: apakah gamer seharusnya membeli PS5?

Mungkin pertanyaan yang agak absurd. Karena kembali ke individu masing-masing. Kalau situ gamers dan punya duit ya silahkan beli. Klo missqueen bisa main sambil ngimpi aja lewat streaming youtube. Klo dhuafa quota mungkin waktunya beralih ke gobak sodor.

Pertanyaan ini muncul karena saya pribadi ingin membelinya. Tapi kemudian ada satu masalah muncul: berapa nilai dari memiliki PS5?


Nilai disini bukanlah harga beli. Tapi sejauh mana kepemilikan barang itu memberikan utility value (nilai pakai) dan return on investment (imbal balik investasi) jika barang yang dibeli adalah asset yang diharapkan memberikan keuntungan.

Ribet amat hidup lu cuk?

Oh jelas. Ini karena pengalaman saya membeli laptop gaming pada 2014. Harganya 8 juta. Tapi ternyata sangat jarang dipake nge-game! Dari 2014-2019, saya hanya memakainya untuk bermain game tak lebih dari 48 jam (dari manifes akun Steam).

Karena itu untuk menghitung nilai guna suatu barang, kita bisa mengevaluasi dengan dua rasio: 

  1. Utility value = acquisition cost / usage
  2. Opportunity cost value = berapa nilai yang kita dapatkan jika menggunakan sumber daya yang ada untuk kegiatan yang lain

Continue reading Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Namanya Hendhi. Driver Gojek yang saya temui siang tadi. Nama tambahan di kontak handphone saya: Hendhi baik hati. 

Karena Ia memang berhati baik. 

Pada pertengahan Mei lalu, Ia diminta mengantar paket sembako. Penerimanya adalah seorang mahasiswa. 

Paket itu diterima dengan air mata. Karena ternyata Ia sedang kesusahan. Kekurangan bahan makanan. Tertahan Covid-19 yang merepotkan.

Tak tega melihat kondisi mahasiswa itu, Hendhi mengratiskan ongkos kirim. Ditambah beberapa hari kemudian datang lagi untuk membantu. Memberikan uang saku.

Hendhi lalu curhat ke media sosial. Dan menjadi cerita yang viral.

Hari ini saya sedih banget nganter gosend bahan pokok Beras + Nasi + Telur buat mahasiswa.Mereka kehabisan bekal untuk makan dan mereka gak bisa pulang ke kampung. Mulai hari ini saya buka FREE ONGKIR area jogja khusus mengantar bahan pokok untuk yg membutuhkan”

Cuitannya menginspirasi banyak orang. Ada yang tergerak melakukan penggalangan dana, untuk membantu mahasiswa yang kesusahan di luar sana. Ia juga tetap membantu aksi berbagi selama pandemi. Tentu dengan kapasitasnya sebagai driver Gojek: mengikhlaskan ongkos kirim yang ia miliki. 

Tapi yang membuat saya penasaran, apa yang Ia dapatkan dengan melakukan kebaikan? Continue reading Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Menyatukan Kepingan Hati: Membuat Strategic Puzzle (6)

Dari semua tahap analisa dan perencanaan yang sudah kita pelajari, tujuan utamanya sebenarnya satu: membuat keputusan tentang langkah apa yang sebaiknya kita lakukan.

Dibandingkan langsung memikirkan solusi, melakukan analisa strategic memberikan satu keuntungan: kita bisa melihat gambaran besar dan ada kemungkinan menemukan solusi yang lebh baik.

Cara paling mudah untuk menyatukan analisa yang telah kita lakukan adalah dengan menulis strategy puzzle. Apa pula itu? Continue reading Menyatukan Kepingan Hati: Membuat Strategic Puzzle (6)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Landak Itu Keren – Inward Looking Strategy (5)

“If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles” [Sun Tzu] 

Di tulisan sebelumnya kita berkenalan dengan outward looking strategy. Pendekatan yang ‘market driven’. Tapi pendekatan ini dikritik karena terlalu berfokus keluar. Dan belum tentu cocok dengan organisasi kita.

Karena terkadang, strategi terbaik adalah strategi yang sesuai kondisi dan kemampuan sendiri. Premis inilah yang mendasari inward looking strategy. Melihat kedalam dulu baru keluar.

Ibarat kapal, jika outward looking strategy melihat lautan es lalu kita mempersiapkan kapal dengan pemecah es, maka inward looking berpikir kebalikan. Udah tau kapalnya ga punya pemecah es, ngapain lewat lautan es? Mending lewat jalur lain yang lebih hangat meski harus memutar lebih jauh dan perjalanan lebih lama.

Apa aja sih tools-tools yang biasanya dipakai? Masih dengan contoh studi kasus koki restoran hotel yang terancam PHK karena Covid-19.

Product/Service Analysis

Yang paling sederhana adalah analisa produk/service kita sendiri. Jadi kita lihat dulu kita punya barang.

Abis dilihat diapain? Tentu ga cuma dipegang, diraba, dan diterawang, tapi juga dipikirkan beberapa pertanyaan:

– Apakah produk / jasa saya masih relevan? (bahasa gampangnya: masih laku ga sih?)

– Apakah ada yang perlu saya ubah?

– Apa inovasi yang perlu kita coba?

– Apakah kita mampu membuat produk/jasa baru?

Dan berbagai pertanyaan lainnya. Intinya kita pingin tahu:

A. Product-market fit : Ni barang/jasa diterima pasar nggak?

B. Product/service life cycle : Dimasa depan masih laku ga sih?

C. Product/service development plan : Perlu ada yang diubah atau bikin produk/jasa baru?

Kalau kasusnya koki resto. Kita bisa menganalisa menu-menu apa saja yang kita jual. Tanggapan pasar. Serta memikirkan inovasi menu dimasa depan. Siapa tahu dengan kondisi Covid-19 kita butuh mengubah menu menjadi lebih ‘sehat’.

Portfolio Analysis

Hampir mirip dengan product/service analysis. Tapi ini kasusnya untuk konglomerasi dengan banyak produk/jasa di berbagai industri. Tujuannya untuk memutuskan, unit bisnis mana yang dipertahankan, dikembangkan, atau dijual / dimatikan.

Caranya gimana? Mirip-mirip sih. Dimulai dengan performa unit bisnis, lalu industry trend, dan proyeksi kedepan. Metrix yang sering dipakai adalah BCG metrix dimana membagi unit bisnis menjadi 4 quadran: star, dog, cash cow, dan tanda tanya. 

managementconsulted.com

Segitiga Landak

Konsep yang saya sukai dan sangat bisa diterapkan di kehidupan pribadi. 

Berdasarkan dari fabel Yunani kuno: Rubah ingin menangkap landak. Ia menyerang, mencakar, mendorong, sampai berpura-pura mati. Tapi tetap saja kalah oleh landak yang cuma mengerti satu hal: berlindung dengan duri. 

Dari situ lahirlah pepatah: “Rubah tahu banyak hal kecil, tapi landak hanya tahu SATU hal besar”.

Jim Collins mempopulerkannya dalam buku fenomenal Good to Great (2001). Ia menyarankan kita harus berprilaku seperti landak. Sederhana. Fkus. Tidak gampang teralihkan ketika sedang berburu. Dan punya seni bertahan yang bagus lewat duri-durinya. 

Konkretnya bijimana? Untuk sukses, temukan perpotongan 3 hal:

1. Passion kita

2. Skill kita

3. Peluang ekonomis

Semua pribadi atau perusahaan idealnya menggabungkan 3 faktor diatas dalam menjalankan usahanya. Punya passion untuk berbisnis, punya kemampuan deliver value, dan ada peluang yang jelas.

mindtools.com

Untuk kasus Koki, misalnya ada ide untuk membuat channel tutorial memasak yang diharapkan bisa menambah pemasukan lewat iklan di Youtube. Apakah ide itu worth untuk dilakukan?

Gunakan segitiga landak. Jika kita punya passion melakukannya (membuat tutorial memasak), punya skill (bisa merekam dan mengedit video), dan ada peluang (viewer category food cukup tinggi), maka hal itu patut untuk dicoba.

Puzzle Aksi

Kita sudah belajar membaca peta, menentukan tujuan, dan mengenal beberapa framework strategi. Terus gimana?

Waktunya menyusun puzzle. Menggabungkan apa yang kita ketahui, menjadi translasi aksi yang benar-benar terjadi.

Insya Allah akan kita bahas di tulisan akhir pekan.

____________________________

Bagi pembaca yang baru pertama kali melihat tulisan ini mungkin bingung: ini tulisan apaan sih?

Tulisan ringan ini adalah sarana pembelajaran saya untuk berpikir strategis. Karena saya merasa sangat lemah dalam strategic thinking, sering bingung saat membuat yearly planning, dan rekomendasi solusi yang saya hasilkan sangat receh dan parsial.

Jujur saya iri dengan teman-teman kantor yang punya background konsultan. Mereka mampu menganalisa gambaran besar suatu permasalahan, merumuskan rencana aksi yang komprehensif, dan menemukan solusi atas akar permasalahan yang terjadi.

Karena itulah saya membaca buku-buku strategic thinking dan berpikir: hey banyak framework keren ternyata!

Kenapa ilmu ini hanya dipelajari oleh korporat-korporat besar dan professional di perusahaan multinasional? Padahal banyak sekali tools yang bisa kita pakai belajar berpikir strategis dan mencari solusi untuk masalah kehdupan sehari-hari. 

Harapan saya, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mampu berpikir strategis.

#1 : Kenapa berpikir strategis?

#2 : Strategic alignment : Belajar Membaca Peta

#3 : Strategic goal setting : Belajar Menentukan Tujuan

#4 : Outward looking : Kenapa kita harus belajar ke Mama Loren

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Kita Harus Berguru ke Mama Loren – Outward Looking Strategic (4)

Ibarat melakukan perjalanan, di tulisan sebelumnya kita sudah belajar membaca peta dan menentukan destinasi perjalanan kita.

Langkah selanjutnya adalah membuat rencana strategis guna menjawab pertanyaan teknis: Bagaimana cara mencapai tujuan kita? Fase inilah yang membedakan pemimpi dan pemimpin. Pemimpi hanya bermimpi, sedangkan pemimpin melakukan aksi Nyata untuk mencapainya.

Jika mahasiswa sekolah bisnis mendengar kata strategi, biasanya langsung terbayang cost leadership vs differentiation vs focus-nya Mbah Michael Porter. Untuk bisa kesana, ada banyak teknis praktis penciptaan strategi yang bisa diterapkan. 

Kalau saya boleh sarikan ada 2 jenis pendekatan:

A. Outward looking: Melihat kebutuhan eksternal baru memikirkan apa yang harusnya dilakukan

B. Inward looking : Melihat kemampuan internal lalu memikirkan apa yang harus kita lakukan

Tentu yang terbaik adalah menggabungkan keduanya. Melihat kemampuan internal kita, tapi juga memikirkan keadaan eksternal. 

Biar ga bingung, kita coba kenali satu persatu. Masih dengan studi kasus jika kita adalah koki resto hotel yang terancam di-PHK jika tidak melakukan sesuatu.

Outward-Looking Approach

Ibarat perjalanan kapal, outward looking approach berarti melihat lautan yang akan kita arungi dimasa depan, baru mempersiapkan kapal yang cocok untuk melintasinya.

Gampangannya: jika kita melihat di masa depan lautan akan dipenuhi es, berarti kita harus menyiapkan kapal dengan pemecah es agar bisa tetap berlayar. 

Kelebihan strategi ini ada pada sifat ‘market fit’. Dalam artian kita sudah mempersiapkan kebutuhan pasar atau industri kita dimasa depan. Kelemahannya ada pada resources fullfilment. Kemampuan menyediakan sumber daya. Untuk organisasi kecil yang ga punya banyak sumber daya, pilihan aksi menjadi sangat terbatas.

Ada banyak sekali tools yang bisa dipakai. Tapi kita coba kenali tiga tools yang umum terdengar:

#1 Benchmarking

Benchmarking bahasa gampangannya adalah studi banding. Atau belajar ke orang yang sudah sukses. Prosesnya kita melihat organisasi lain yang sudah sukses, mempelajari strategi yang mereka lakukan, lalu mencoba ‘meniru’ mereka. Tentu setelah dilakukan penyesuaian disana-sini.

Contoh: kita mencari resto hotel lain yang masih bisa ‘survive’ dan melihat apa yang mereka lakukan. Misalnya kita belajar jika resto hotel lain menjual lewat gofood, berpromosi online lewat FB/IG ads, dan menciptakan frozen food siap santap dengan citarasa hotel berbintang. Tulis dulu pelajarannya. 

#2 Future Market Forecasting

Untuk cara kedua kita harus berguru ke almarhum Mama Loren. Karena kita akan mencoba ‘meramal’ trend yang ada di masa depan, lalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Apakah kita harus mengumpulkan ketujuh bola naga atau belajar ‘Edo Tensei’ untuk menghidupkan Mama Loren lagi? Kalau bisa sih silahkan. Jika tidak bisa untungnya ada Mbah Google yang ga kalah sakti. Caranya gimana?

Tentu yang pertama tolong hapus website tujuan browsing Anda dari po**hub.com, br***er.com dan situs internet positif lainnya. Bisa diganti ke situs berita macam Bloomberg, The economist, atau McKinsey. Karena di internet sudah banyak ‘para pakar’ mengabarkan trend yang sedang dan akan terjadi.

Kedua, gunakan common sense berdasarkan pengamatan sehari-hari. Karena para ahli ramalannya masih fifty:fifty. Mereka ga akan tahu local insight yang sedang terjadi.

Contoh: para ahli meramal Covid-19 takkan ada obatnya sampe 2021. Berarti kita harus berdamai dengan Corona. Apa implikasinya? Mungkin gaya makan dine in akan berubah. Space antar bangku semakin lebar. Ditambah sekat penutup antar pengunjung. Berarti kita harus men-design ulang layout resto kita agar ‘Corona safety’.

#3 Brainstorm Scenario Analysis

Kita tahu masa depan sangatlah tidak pasti. Bahkan kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau tidak esok hari. 

Karena masa depan penuh ketidakpastian inilah, lahir scenario analysis. Untuk mempersiapkan kemungkinan terbaik hingga terburuk.

Biar tulisan ini keliatan se-tra-te-jik dan ilmiah (plus saya dianggep pinter), saya coba ceplokan model gambar dari Strategic Planning: How to Deliver Maximum Value Through Effective Business Strategy karya Wittmaan dan Reuter (2004).

Mamam tuh modeling! Udah kaya belajar planet-planet ya boss. Padahal praktiknya bisa kita buat simple koq . 

Coba bikin satu tabel berisi tiga kolom. Isinya: perkiraan kemungkinan yang terjadi, dampaknya kepada kita, lalu aksi apa yang kita lakukan. Contoh:

(kalau kasusnya korporat besar bisa puluhan halaman riset dengan data modeling yang canggih)

Nah itu baru outward-looking strategy bosku. Perlu dilengkapi dengan inward-looking agar kita tahu kondisi dan kemampuan organisasi kita. Akan kita bahas di tulisan selanjutnya agar artikel ini tidak terlalu panjang dan tahan lama.

Yang pikirannya kebayang macem-macem: saya tahu history browser Anda. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail