#85 Crespi Effect: Kenapa kebaikan kita hanya bertahan saat Ramadan?

Bulan Ramadan membawa dampak positif bagi hidup kita. Masjid jadi ramai hingga dini hari, qur’an diperdengarkan disana sini, music di mall berganti lagu religi, orang jadi rajin berbagi, anak Yatim akhirnya dikunjungi, dan kita saling bermaaf-maafan sambil bersilaturahmi.

Saya sempat berpikir, apa yang membuat semua orang jadi sholeh?

Apakah karena pada bulan mulia ini setan dibelenggu dan pahala dilipatgandakan? Apakah karena pada bulan Ramadan ada malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan?

Secara teoritis psikologis, ada korelasi antara performa yang dilakukan terhadap insentif yang didapatkan.

Pada tahun 1942, seorang Psikolog bernama Leo Crespi mencoba meneliti dampak insentif terhadap “kinerja” pada tikus. Ia meneliti tiga grup tikus yang rata-rata beranggotakan 20-an ekor tikus albino jantan berumur 3-6 bulan.

Disetiap grup ia meletakkan tikus itu di sebuah “sirkuit buatan” dengan umpan pakan yang ada di ujung “garis finish”. Ia menciptakan semacam “lomba balap tikus” dengan umpan yang berbeda-beda sebagai hadiahnya. Ia lalu mengukur kecepatan tikus dalam berlari mengambil umpan itu.

Hasilnya ternyata sesuai dugaan, semakin banyak reward (umpan) yang diberikan, semakin cepat performa lari si tikus. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit umpan di ujung lintasan, semakin tidak bersemangat si tikus yang membuat larinya melambat.

Mungkin ini yang membuat kita begitu bersemangat menyambut Ramadan. Kita terkena “Crespi effect” saat reward yang alhamdulilah dahsyatnya menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan.

Pertanyaan selanjutnya: Kenapa kesalihan ini tidak bisa bertahan lama? Kenapa setelah Ramadan usai kita kembali melakukan dosa-dosa yang sama untuk ditebus di Ramadan berikutnya (jika masih hidup)?

Dugaan saya: karena kita masih seperti si tikus dan berfokus pada “umpan” bonus pahala saat Ramadan. Kita tidak sadar jika Ramadan adalah bulan latihan. Semacam environmental trial testing sebelum menjalani “ujian sesungguhnya” di bulan berikutnya.

Kita lupa jika puasa dibulan Ramadan dan puasa sunnah dibulan lain itu sama baiknya. Kita sering lupa jika menahan emosi itu seharusnya dilakukan sepanjang tahun. Dan seharusnya kita sadar jika menyantuni anak yatim itu bukan ritual setahun sekali.

Padahal Ramadan adalah sebuah penerapan incentive theory yang dilakukan oleh Tuhan. Ia memberikan positive reinforcement berupa bulan pengampunan dan pelipatgandaan pahala agar kita, pada akhirnya mencintai kebaikan dan menjadi orang baik.

Bukankah itu tujuan Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah di dunia?

Tidak hanya mencari pahala ibadah berlipat ganda. Hal itu akan kita dapat jika kita melaksanakan tugas utama kita:

Menjadi rahmat bagi semesta.

https://static.comicvine.com/uploads/original/11119/111198831/4557633-2008240983-mouse.jpg

*sumber gambar

**sumber jurnal Crespi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Nudies Party ala Onsen

Jika berkunjung ke negeri Sakura, ada satu kegiatan yang wajib masuk to do list activity: mandi bareng di onsen!.

Pemandian air panas di Jepang dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan sumber airnya. Ada yang bersumber dari air alami, disebut Onsen. Dan ada yang berasal dari air keran yang dipanasi dan diberi berbagai mineral dan aroma therapy, namanya sento.

Onsen biasanya ada di daerah pegunungan dan menjadi satu paket wisata dengan resort yang ada. Otomatis harganya jadi laham bo’ (bisa ribuan yen). Sedangkan sento, karena menggunakan air panas buatan, punya tiket masuk yang lebih terjangkau dan bisa ditemukan di kota besar.

Orang Jepang sendiri sangat suka mandi di pemandian umum. Kenapa? Karena zaman dahulu, ga semua orang bisa punya kamar mandi. Apalagi yang ada air panasnya. Sehingga orang berbondong-bondong datang ke onsen untuk mencari kehangatan mandi air panas ditengah udara Jepang yang dingin.

Karena penasaran, akhirnya saya dan Pipi Kentang googling daftar onsen yang ada. Kebetulan didekat penginapan kami ada Funaoka Onsen, ‘sento’ tradisional yang kata Wikipedia, sudah berdiri sejak tahun 1923 (ngalahin Nyonya Meneer cuy!).

Foto dari depan. Ga boleh foto didalem cuy. dok pribadi

Telanjang Bulat

Setelah sampai, kami agak kagok. Karena ga bawa handuk sedangkan semua orang sudah siap dengan peralatan mandinya. Setelah membayar tiket 430 yen, kami harus membayar extra 200 yen untuk membeli handuk (ya kali bajunya dibuat handuk).

Setelah itu pengunjung harus masuk ke ruang ganti. Lebih tepatnya, ruang copot baju. Karena disini Anda harus menanggalkan semua pakaian seperti mau mandi dirumah sendiri. Rasanya gimana? Aneh dan ga biasa. Apalagi pas baru masuk and ngeliat bapak-bapak dengan santainya nyopot baju disamping saya.

Aturan mandi di onsen mengharuskan kita untuk telanjang bulat saat masuk kedalam. Agak kagok juga sih, puasa-puasa ngeliat “rudal” orang. Klo kalah gede gimana? Kan maluuuu -_-

Setelah itu saya masuk ke ruang pembilasan. Disini kita diminta menyiram badan kita sebelum masuk ke kolam. Abis gebyar gebyur asal basah, masuklah saya kedalam lokasi pemandian.

Orang-orang sudah berendam dengan santainya. Kondisinya cukup ramai, meski masih jam setengah 4 sore (padahal Funaoka onsen baru buka jam 3). Mungkin karena onsen ini menjadi salah satu top visit places di forum-forum travel, banyak turis mampir untuk berendam.

Karena banyak turis yang datang saya bisa melakukan uji ANOVA (analysis of variance) dari hipotesis yang saya dapat dari video J*V, bra*zer, atau b*ngbros. Oh “samurai” orang Jepang segitu, “pedangnya” orang bule segitu, “goloknya” orang Timur Tengah segitu. Hehehe.

Rasa airnya gimana?

Panassss! Saya yang baru berendam 15 menit udah ngerasa berendam 15 tahun. Untungnya Onsen ini menawarkan berbagai pilihan air panas. Ada yang regular (air panas biasa), beraroma rempah-rempah, sampai yang dialiri listrik! Kita tinggal pindah-pindah kolam untuk merasakan sensasi berendam yang berbeda-beda.

Saya paling suka kolam rempah. Aroma airnya segar. Khusus untuk yang berlistrik, airnya mendapat aliran listrik ber-watt rendah. Rasanya seperti digelitik dan kedut-kedut di kulit. Apalagi di bagian sensitive kita, Auuwwww.

Andai ada di Indonesia…

Zaman sekarang, karena semua orang sudah punya kamar mandi dan pemanas air, onsen sudah berganti fungsi. Dari sekedar tempat mandi dan mensucikan diri (ajaran Buddha menempatkan mandi sebagai bentuk penyucian), menjadi wahana relaksasi dan rekreasi.

Saya tidak bisa membayangkan jika ada ritual mandi telanjang bareng seperti ini ada di Indonesia. Sudah pasti dicurigai jadi sarang pesta Gay dan jadi target penggrebekan FPI.

Padahal mandi bareng di onsen punya filosofi social yang tinggi. Kewajiban telanjang bulat membuat kita membuang semua sikap “ja-im” dan malu-malu. Suasana onsen yang rileks juga sangat cocok untuk menambah keakraban dan bonding time bersama teman.

Tapi jujur saja, saya masih merasa malu. Apa karena itu kemaluan saya besar?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#85 Illusion of attention: Kenapa yang kita lihat bisa saja tipuan

Pada 1999 psikolog Daniel Simons dan Christopher Chabris membuat eksperimen sederhana. Mereka menampilkan video sekelompok orang (3 orang baju putih, 3 orang baju hitam) sedang mengoper bola basket. Instruktur di video meminta Anda untuk menghitung jumlah operan yang dilakukan peserta berbaju putih.

Ditengah kegiatan mengoper bola, tiba-tiba ada orang berpakaian gorilla yang berjalan diantara peserta. Anehnya, mayoritas dari responden mengaku tidak melihat ada gorilla besar yang nongol di tengah-tengah mereka. Jika penasaran, Anda bisa menonton “The Monkey business illusion” di youtube.

Itulah illusion of attention: saat kita terlalu menaruh perhatian pada sesuatu aspek, kita sering melewatkan hal besar yang tengah terjadi.

Hal ini yang menyebabkan kita dilarang menelpon saat menyetir. Perhatian yang terbagi antara jalan raya dan pembicaraan di telpon bisa memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan.

Pesulap adalah profesi yang paling banyak memanfaatkan illusion of attention. Contohnya tipuan kelinci dari topi. Pesulap akan membuat kita memperhatikan topi dan sapu tangan yang ia bawa. Dua buah benda yang sengaja dimainkan untuk menciptakan illusion of attention. Padahal kunci trik itu ada pada kelinci yang tersembunyi dibawah meja.

Pencopet juga sering menggunakan illusion of attention untuk mengalihkan perhatian korbannya. Saya hampir kehilangan handphone saat ada orang mengajak ngobrol dan disaat yang sama berpura-pura menawarkan pijat gratis (ternyata ada komplotannya yang bergerak merogoh saku saya).

Dalam dunia intelejen, illusion of attention tercipta dengan menciptakan scenario yang bisa mengalihkan perhatian public. Contohnya invasi yang dilakukan oleh AS kepada Irak. Isu senjata pemusnah masal yang dihembuskan adalah illusion of attention agar dunia tidak sadar tentang kepentingan ekonomi dan politik yang ada dibelakangnya.

Pelajarannya: perhatian kita bisa menipu. Terlalu focus pada hal kecil membuat kita melupakan hal lain yang lebih besar.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#84 Ownership Bias: Ka’bah dan Pelajaran Tentang Kehilangan

Umroh kali ini terasa berbeda.

Tahun 2014 lalu saya datang sebagai solo gembel backpacker, sekarang saya membawa si Pipi Kentang dan Ibu Mertua dan ikut serta dalam rombongan 146 peserta.

Dari segi fasilitas? jauh lebih baik. Tiga tahun lalu saya tidur di emperan masjid, mandi di toilet, sengaja puasa untuk menghemat konsumsi, dan menggunakan bahasa arab hasil google translate untuk mendapat tumpangan kendaraan. Sekarang alhamdulilah ada kasur empuk di hotel berbintang yang hanya berjarak ratusan meter dari masjid, makanan prasmanan bebas nambah 3x sehari, dan bis nyaman untuk ditumpangi.

Dan nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?

Tapi selalu ada pelajaran berharga didalamnya, dan lagi-lagi soal kehilangan.

Saat umroh pertama, saya diberi pelajaran dengan kehilangan harta. Saya kehilangan semua barang yang saya bawa. Satu backpack besar berisi perlengkapan perjalanan hilang saat saya taruh didepan masjidil Haram, dan seluruh uang sisa saya hilang dicuri oleh komplotan taksi gelap di Jeddah (untung Tuhan mengirimkan Dody, teman kuliah yang kebetulan dinas disana. Thanks so much bro!).

Kali ini saya diajarkan untuk kehilangan tiga hal yang lebih besar.

Yang pertama adalah “kehilangan keluarga”.

Ceritanya saya ingin melakukan tawaf beserta keluarga. Karena Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh, saya meminjam kursi roda hotel. Harusnya jamaah kursi roda melakukan tawaf dilantai 2, tapi karena jadi jauh (4 km cuy) saya coba nakal membawa kursi roda ke area ka’bah.

Apes, ada penjaga yang melihat. Kursi roda ga boleh turun. Saya meminta istri dan mertua untuk menunggu sementara saya meletakkan kursi roda ditempat aman. Setelah saya cari kira-kira tempat yang rada sepi dan aman (saya taruh di dekat penitipan sandal yang ga ada jamaahnya), saya pun menyusul.

Eh, mereka sudah ga ada! Dan pipi kentang ga bawa hape pula. Masa mereka sudah tawaf duluan sih? Bagaimana saya bisa menemukan mereka ditengah ribuan orang yang sedang tawaf? Bukankah Ibu mertua saya ga kuat jalan jauh?

Bismillah. Saya pun tawaf sambil berdoa.

“Ya Allah pertemukan saya dengan keluarga saya”.

Satu putaran, belum ketemu.

Saya mulai berpikir plan B, apakah nanti saya langsung tunggu dihotel saja? Bagaimana cara biar Ibu mertua kuat jalan kesana?

Dua putaran, belum juga ketemu.

Saya mulai merasa sepi, seperti ini rasanya ditinggal pergi keluarga yang kita cintai? Tak pernah bertemu lagi.

Tiga putaran, tak juga berjumpa.

Tapi bukankah, semua akan kembali kepada-Nya? Tugas kita hanya melepaskan dan mengikhlaskan. Setelah memberikan sugesti seperti itu, hati saya merasa lega. Dan tahu ga, di putaran ketiga ini saya melihat istri dan ibu mertua saya bersama jamaah yang lain! Alhamdulilah!.

Jadi ceritanya saat mereka menunggu, ada tawaran tawaf bersama jamaah satu rombongan. Mereka sudah menunggu tapi saya ga nongol-nongol juga. Akhirnya mereka tawaf duluan.

Kamipun menyelesaikan tawaf dan kembali keatas, untuk menerima kehilangan kedua.

 “Kehilangan amanat”.

Kursi roda itu sudah raib! Padahal sudah saya letakkan di tempat yang sepi jamaahnya. Saya coba tanya penjaga, “no English”. Saya coba pake bahasa arab seadanya. Dianya ga ngerti. Waduh. Padahal kursi roda itu amanat dari hotel. Jika hilang maka otomatis saya wajib mengganti.

Saya coba tanya pusat informasi, disuruh ke bagian lost & found yang jauh banget. Mana sudah mau adzan maghrib.

Qadarullah. Que sera-sera. Yang terjadi, terjadilah.

Akhirnya saya memutuskan sholat maghrib dan isya di depan Ka’bah sambil browsing harga-harga kursi roda. Waduh bisa ga jadi beli oleh-oleh nih kalau memang disuruh ganti. Tapi itulah harga amanat. Mungkin Allah nyuruh kami untuk sedekah kursi roda agar dipakai orang yang lebih membutuhkan.

Setelah sholat isya saya buat nadzar:

“Ya Allah kalau kursi roda itu ketemu, hamba akan berpuasa 3 hari”.

Sebagai last effort, saya coba cek sekali lagi. Dan ternyata sandal yang saya letakkan di kursi roda tidak diambil. Ada juga sandal jelek warna item. Awalnya saya kira punya Pipi Kentang, tapi karena gak yakin, tidak saya ambil.

“Loh itu sandal jepitnya koq ketemu? Punyaku mana?” kata Pipi Kentang.

Oh ternyata sandal item jelek itu punya dia. Ya udah daripada pulang nyeker, saya coba ambil lagi.

Tapi karena suasana ramai, saya coba masuk dari pintu lain (turunan samping King Abd Aziz gate) dan malah kesasar. Saya justru diusir penjaga dan disuruh keluar ke gerbang yang tidak saya ketahui.

Mungkin Allah punya rencana, karena ternyata kursi roda itu terparkir rapi dipintu keluar! Saya coba yakinkan diri, jangan-jangan punya orang lain? Tapi dari warna polos dan pijakan kakinya yang agak kroak emang bener ini punya hotel. Alhamdulilah… tinggal puasa 3 hari deh hehehe.

Saat saya kembali untuk mengambil sandal buluk item punya Pipi Kentang, ternyata sandal itu sudah menghilang. Kira-kira sapa sih yang mau ngambil sandal item bulukan itu? Saya Cuma tersenyum. Insya Allah semua sudah diatur.

Yang ketiga: “kehilangan teman”

Kehilangan ketiga dan terberat adalah kehilangan kawan sekamar saya, Pak Satrio. Beliau meninggal terkena serangan jantung setelah melakukan tawaf di hari terakhir berada di Mekkah.

Bapak yang satu ini paling semangat beribadah diantara teman-teman sekamar yang lain. Jam 2 selalu sudah bangun, mandi, dan berangkat ke masjid untuk sholat malam. Demikian juga saat melaksanakan tawaf sunnah.

Setelah tawaf, awalnya Pak Satrio merasakan sesak nafas. Ia lalu pulang ke hotel dan dikira hanya masuk angin. Kata istrinya, tidak ada riwayat penyakit aneh kaya jantung atau asma. Untung ada Pak Iwan, yang tahu jika itu bukan sesak biasa. Sesak nafas disertai dada yang sakit adalah indikasi serangan jantung.

Akhirnya Pak Satrio dilarikan kerumah sakit dan langsung masuk ruang ICU. Jantungnya terus melemah dan beberapa hari kemudian menghembuskan nafas terakhir di tanah suci, setelah disholatkan oleh ribuan jamaah masjidil haram. Sungguh akhir hidup yang indah dan insya Allah husnul khotimah.

Pelajarannya?

Kita menderita ownership bias: merasa memiliki apa yang sebenarnya tidak kita miliki.

Kita merasa memiliki harta, keluarga, sahabat, bahkan nyawa kita sendiri. Padahal semua hanyalah titipan yang bersifat sementara. Tak ada yang kita miliki hingga akhir dunia. Kita juga merasa sedih saat titipan itu harus dikembalikan kepada pemiliknya.

Padahal Tuhan sudah mengajarkan: Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un.

Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.

http://pre03.deviantart.net/97c6/th/pre/i/2010/347/1/2/lost_soul_evolurtion_by_nataly1st-d34sqs9.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#83 Via Negativa

Dalam Art of Thinking Clearly karya Rolf Dobelli, diceritakan jika Paus Julius II pernah bertanya kepada Michelangelo:

“Apa rahasia kejeniusanmu? Bagaimana bisa kamu menciptakan patung David, masterpiece dari segala masterpiece?”

Michelangelo menjawab singkat:

“Sederhana. Saya membuang semua bagian yang bukan David”.

Gampangannya, jika Michelangelo melihat sebongkah batu raksasa, ia sudah bisa melihat David didalamnya dan tinggal membuang bagian yang tidak berguna: bongkahan yang bukan bagian tubuh David.

Jawaban Wdiatas memberikan kita petunjuk: terkadang kita tidak tahu rahasia kesuksesan, tapi kita jelas tahu penghalang kesuksesan. Yang perlu kita lakukan hanyalah tidak melakukan sesuatu yang bisa menghalangi kesuksesan itu.

Ini membuktikan jika negative knowledge (mengerti not to do – apa yang sebaiknya tidak dilakukan) sama pentingnya dengan positive knowledge (what to do – apa yang harus dilakukan). Teolog menyebutnya Via negativa dan menggunakannya untuk menjelaskan Tuhan kepada orang atheist. Bukan dengan menjelaskan ‘apa itu Tuhan’, tapi dengan menjelaskan ‘ apa yang bukan Tuhan’.

Manajemen modern membalut via negativa dalam berbagai metode canggih dan keren seperti Lean Six Sigma. Padahal Intinya sama: membuang aktivitas yang tidak perlu dan tanpa nilai tambah. Digabung dengan Kaizen, Anda akan menemukan rahasia kesuksesan produk Jepang: terus melihat kelemahan sendiri dan terus memperbaiki diri.

Kita bisa menerapkan via negativa untuk memperbaiki kehidupan pribadi. Kuncinya sama: tahu apa yang harus dihindari.

Contohnya jika saya ingin jadi petinju juara dunia, maka akan ada beberapa kategori aktivitas yang bisa saya lakukan:

  1. Aktivitas bermanfaat yang saya sukai. Misal: menambah asupan protein dalam makanan
  2. Aktivitas bermanfaat yang tidak saya sukai. Misal: berlatih beban
  3. Aktivitas tidak bermanfaat yang saya sukai. Misal: bermalas-malasan dan bermain game seharian
  4. Aktivitas tidak bermanfaat yang tidak saya sukai. Misal: merokok

Menerapkan via negativa berarti mengurangi kebiasaan negative yang menjauhkan diri dengan pencapaian mimpi kita sendiri.

Karena kita semua pasti punya mimpi-mimpi. Dan terkadang kita tidak pernah tahu cara mewujudkan mimpi itu. Tapi kita semua tahu tindakan atau kebiasaan yang menghalangi diri kita dalam mencapai mimpi.

Yang perlu kita lakukan hanyalah melakukan via positiva: melakukan tindakan yang bermanfaat, dan via negativa: menghindari aktivitas yang penuh mudharat.

activity matrix

Karena itulah agama saya mendefinisikan ketakwaan dengan konsep sederhana: mematuhi perintah-Nya (what to do), dan menjauhi larangan-Nya (not to do).

Hal ini juga yang menjadi rahasia Luqman Ibn ‘Anqa’ Ibn Sadun sehingga ia mendapat gelar Al-Hakim, orang yang bijaksana.

“Aku tahan pandaganku, aku jaga lisanku, aku perhatikan makananku, aku pelihara kemaluanku, aku berkata jujur, aku menunaikan janji, aku hormati tamu, aku pedulikan tetanggaku, dan aku tinggalkan segala yang tak bermanfaat bagiku”.

Lagi-lagi penerapan via negativa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#82 House money effect: Kenapa penjudi semakin bernafsu saat menang

Misalnya Anda adalah seorang pekerja pabrik. Setiap hari Anda menabung dan hidup hemat. Setelah beberapa tahun terkumpul uang 250 juta hasil jerih payah keringat Anda. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu?

  1. Membiarkannya di tabungan bank
  2. Menginvestasikannya
  3. Menggunakan uang itu untuk merenovasi rumah atau membeli kendaraan
  4. Berlibur dan jalan-jalan keluar negeri

Kebanyakan orang akan memilih opsi A, B, atau C.

Sekarang kita balik kasusnya. Andaikan Anda baru saja memenangkan undian 250 juta. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu? Rata-rata dari kita akan memilih opsi D, baru masuk ke opsi C, B, dan A.

Logikanya: uang itu sama-sama 250 juta. Yang berbeda hanya cara mendapatkannya. Kenapa kita memiliki pola konsumsi yang lebih konsumtif untuk jumlah uang yang sama?

Richard Thaller menyebutnya house-money effect. Terinspirasi dari penjudi yang lebih agresif saat sedang mengungguli bandar (the house). Mereka akan mempertaruhkan uang yang lebih besar, dan berani mengambil lebih banyak risiko.

https://s3.amazonaws.com/images.agentsvoice.com/uploads/image/image/20/large_house_money.jpg

Dalam pasar modal, house money effect mendorong investor yang memiliki “portofolio hijau” untuk lebih sering bertransaksi dan menginvestasikannya ke dalam saham yang lebih berisiko.

Thaller mencoba melakukan eksperimen sederhana. Ia membagi mahasiswanya menjadi dua grup. Grup pertama diberitahu jika mereka mendapatkan 30 dollar dan berkesempatan untuk memenangkan lebih jika mengikuti undian koin.

Jika kepala maka mereka mendapat tambahan 9 dollar, jika ekor maka uang mereka berkurang 9 dollar. Ada 70% respondend di grup pertama tertarik dengan taruhan ini.

Di grup kedua, mereka diberitahu jika tidak mendapat apa-apa. Dan mereka berkesempatan untuk mendapatkan 30 dollar secara langsung, atau mengikuti undian dengan hadiah 39 dollar jika koin yang dilempar kepala, dan 21 dollar jika koin yang dilempar adalah ekor.

Ternyata responden yang tertarik hanya 43%. Padahal expected value mereka sama: jika konservatif 30 dollar, dan jika agresif antara 21-39 dollar.

Pemasar menggunakan house money effect untuk mempengaruhi konsumen dengan memberikan free credit bagi pengguna pertama, referral bonus, hingga saldo gratis.

Tujuannya? Membuat konsumen merasa “menang” dan mulai berbelanja lebih banyak.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#81 Salience effect: Kenapa informasi hangat bisa menipu

Ada berita artis ditangkap karena mengkonsumsi narkoba. Semua orang berkomentar, mengutuk keras dan menyayangkan bagaimana bisa si artis terjerat lembah hitam itu. Narkoba menjadi topic hangat yang diperbincangkan di warung kopi, acara gossip, dan menghiasi headline media baik digital atau tradisional.

Misalnya Anda Anda adalah seorang jurnalis kriminal. Kebetulan keesokan harinya ada kecelakaan. Penyebabnya masih diselidiki polisi. Namun berdasarkan sumber internal yang Anda miliki, ditemukan beberapa gram bubuk narkotika di dashboard mobil.

Anda lalu menulis berita dengan judul panas:

“Narkoba kembali merenggut korban!”

Headline berita seperti diatas adalah korban salience effect. Salience adalah tingkat “noticeable” (kecenderungan untuk dikenal) atas informasi yang menonjol. Salience effect bisa berarti: terkadang sesuatu yang stand out, bisa mengacaukan analisa yang ada.

Adanya narkoba yang merupakan informasi dengan salient tingggi menciptakan bias. Karena belum tentu narkoba adalah penyebab terjadinya kecelakaan. Bisa saja sang pengemudi mengantuk, atau ada factor sabotase eksternal. Karena itu perlu dilakukan penyelidikan yang menyeluruh.

Contoh lainnya saat ramai-ramainya soal polemic transportasi online. Anda mendapat berita jika ada tabrakan antara angkot dengan salah satu taksi online. Jika terkena salience effect, Anda akan menulis:

“Angkot dan Taksi Online kembali berseteru!”

Judul berita diatas akan disukai editor Anda. Sifatnya bombastis, up to date, dan mampu memanfaatkan salient dari momentum gonjang-ganjing taksi online. Tapi secara logika, tabrakan yang terjadi belum tentu disebabkan oleh konflik supir angkot dengan taksi aplikasi online. Bisa saja kecelakaan terjadi karena hal lain yang tak disengaja, dan kebetulan salah satu korbannya adalah anggota taksi online.

Intinya, kita harus berhati-hati dengan salience effect. Informasi yang bersifat menonjol bisa melupakan kita untuk mencari akar permasalahan dan langsung memberikan penilaian yang dangkal.

Contohnya terakhir: saat maraknya kasus penculikan, tiba-tiba anak tetangga Anda belum pulang hingga malam hari. Jika Anda berpikir ia menjadi korban penculikan, maka cobalah untuk tenang dan kurangi salience effect yang terjadi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Orang India Masih Suka Membaca Koran?

Dalam kunjungan saya ke India, ada satu hal yang menarik perhatian soal media: surat kabar cetak ternyata masih hidup bahagia!

Awalnya saya tidak percaya saat disodori data oleh media agency dan team local di Bangalore. Masa sih print penetration masih tinggi? Hari gini siapa sih yang masih baca Koran cetak selain orang tua?

Dibandingkan dengan belahan dunia lainnya, Koran-koran India masih Berjaya. Spending iklan masih tumbuh antara 8-10%. Hampir setiap hari ada pengiklan yang memesan “jacket ads” di halaman depan (biasanya harga paling mahal).

Advertising spending di print bahkan mengalahkan televisi. Pembaca masih setia, tingkat readership surat kabar masih tinggi (60%). Masih ada 70.000 media cetak yang melayani hampir 700 juta pembaca.

Kenapa? Setelah melakukan observasi langsung dan meeting dengan media local, menurut saya setidaknya ada tiga alasan sederhana.

Harga yang Murah

Boleh percaya boleh tidak, di India Anda bisa mendapatkan Koran dengan harga hanya 5 rupee (1.000 rupiah) saja! Harga ini masih bisa lebih murah lagi jika berlangganan bulanan. Jajanan pasar Jaelebi yang disukai Sharoo di film Lion aja berharga 10 rupee. Lha ini Koran 20-an halaman full colour cuma seharga setengahnya!

Harga yang sangat terjangkau membuat surat kabar cetak menjadi bagian keseharian yang tak terlupakan bagi semua kalangan. Tiada pagi tanpa membaca Koran dan segelas kopi.

Koq bisa murah banget sih? Karena mereka melakukan subsidi silang. Porsi pendapatan berasal dari iklan dan digunakan untuk mensubsidi biaya produksi (kata forum internet, biaya produksi asli satu koran sekitar 30 rupee, dijual rugi hanya 5 rupee). Selain itu economics of scale dalam jumlah besar, bahan baku kertas yang berlimpah, dan man power yang murah, membuat produksi dapat lebih efisien.

Budaya baca yang tinggi

Factor kedua yang membuat India masih setia dengan surat kabar cetak adalah tingginya budaya baca disana. Menurut NOP World Culture Scores (2005), rata-rata orang India menghabiskan 10,2 jam sepekan untuk membaca. Sangat berbeda dibandingkan orang Indonesia yang menonton TV selama 20 jam.

Ini juga dibuktikan dengan tingginya jumlah buku baru yang terbit. Total lebih dari 90.000 judul buku baru diterbitkan di India. Indonesia? Masih jauh, kita hanya mampu menghasilkan 24.000 judul buku (data 2009).

Menurut Nielsen, market value buku di India mencapai 261 milyar rupee (sekitar 52 trilyun rupiah). Ini menempatkan India sebagai pasar buku terbesar keenam dunia, dan nomer dua untuk penerbitan dalam bahasa Inggris.

Tingginya budaya baca India sebenarnya bukan hal yang baru. India kuno sudah menghasilkan bacaan kelas dunia seperti Mahabharata atau Ramayana. Orang Asia yang menjadi pemenang nobel sastra pertama juga berasal dari India: Rabindranath Tagore.

Penetrasi online yang belum maksimal

Meskipun India memiliki image sebagai “silicon valley of Asia”, dan banyak bos-bos perusahaan IT multinasional berasal dari sana (CEO Google Sundar Pichai misalnya), ternyata penetrasi digital mereka belum merata. Secara rata-rata baru 27% penduduknya yang melek internet (mayoritas kota besar).

Pengalaman saya mengunjungi beberapa kota di barat dan utara India, sinyal data akan bervariasi tergantung Negara bagian. Provider yang setrong (aduh bahasanya) di Uttar Pradesh misalnya, bisa jadi justru ngilang saat masuk ke Negara bagian Maharashtra.

Tapi tentu digital terus tumbuh tak tertahankan. Penetrasi smartphone dan semakin terjangkaunya paket data menjadi pemicunya. Salah satunya ada provider gila yang rela memberikan free unlimited data hingga satu tahun! Tindakan edan ini diikuti provider yang lain dengan memberikan diskon data. Digitalized India hanyalah soal waktu.

Apa yang bisa dilakukan surat kabar Indonesia?

Kita tahu industry media cetak Indonesia memasuki masa sunset. Readership terus turun, pemasukan iklan terus berkurang, dan beberapa media mulai gulung tikar. Meniru jalan India dengan meningkatkan readership lewat harga gila yang super murah ditengah tingginya ongkos produksi sepertinya jalan bunuh diri yang tak perlu dicoba.

India bukan Indonesia. Digitalized news dan migrasi ke online platform sudah menjadi keharusan. Kekuatan media ada di content. Content akan menarik traffic. Traffic akan menarik pengiklan. Untuk urusan berbentuk kertas atau daring, itu hanyalah medium.

http://www.pinkjooz.com/wp-content/uploads/2013/06/newspapers_industry_booming_india.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Three Good”

Konon, tingkat peradaban sebuah kota bisa dilihat dari lalu lintasnya. Jika teratur jalanannya, maka teratur pula masyarakatnya. Demikian sebaliknya, semakin ruwet jalanan sebuah kota, maka semakin chaos orang-orang yang ada di dalamnya.

Ketika menginjakkan kaki di Delhi, sebagai manusia eksodus via Jakarta saya sudah mengantisipasi keruwetan yang akan terjadi.

“Paling ga seruwet Jakarta” itu yang ada dalam benak saya.

Tapi begitu menjelajahi jalanan Delhi dan Mumbai, ternyata lalu lintas Jakarta belum ada apa-apanya! Saya tiba-tiba jadi sholeh dan ingat Tuhan karena gaya menyetir yang dekat dengan kecelakaan. Beberapa kali kami menyalip dengan jarak yang tipissss. Klo saya main game Need for Speed, NOS-nya bakal keisi terus.

Bawaannya ngebut, rebutan jalan, salip menyalip, hobi rem mendadak, ditambah klakson yang terus ditekan membuat suasana menjadi seperti konser: ramai dan meriah. Lalu lintas sudah seperti hunger game sehingga berlaku hukum rimba: siapa cepat dia dapat.

Raj, driver yang mengantar kami bilang jika dibutuhkan “3 good” untuk bisa menyetir dengan selamat di Delhi.

Pertama adalah “Good Break”

Rem yang pakem. Jika Anda menyetir di Delhi maka jangan kaget jika tiba-tiba ada benda asing nyelonong ke tengah jalan. Bisa auto rickshaw (bajai) yang lagi belajar nikung kaya nikung pacar teman, orang yang bosen hidup tiba-tiba lari menyebrang, hingga sapi yang like a boss melenggang dengan santai.

(FYI, sapi disini adalah binatang suci yang dilindungi. Dia takkan dimarahi atau diusir. Dan jangan pernah mengajak teman India Hindu Anda untuk makan malam steak tenderloin atau Wagyu!)

Pergerakan kendaraan yang ada di jalanan sangat stochastic menyaingi pergerakan indeks bursa Dow Jones. Sekarang saya tahu kenapa di Indonesia ada ungkapan:

“Ngeles aja lu kaya Bajai!”

Karena ternyata sodara-sodara, di negeri nenek moyang Bajai udah bukan ngeles lagi. Tapi sudah masuk ke tingkat evasion: bisa menghindar dengan sangat lihai. Jangan heran klo selama nyetir tiba-tiba mobil dibelakang sudah nyalip dari samping. Udah kaya ninja aja.

Menurut data WHO, ada 238 ribu kecelakaan jalan raya pada 2013. India adalah Negara dengan jumlah kecelakaan terbesar kedua dunia setelah China. Well, mungkin karena jumlah penduduk mereka 1 milyar lebih.

Good yang kedua: Good horn

Lalu lintas Delhi bagaikan orchestra raksasa yang memainkan symphony Beethoven no 5. Semua orang memainkan alat music klaksonnya dengan bersemangat.

Mulai sedan yang menglakson truk didepannya, tiba2 ada klakson dari mini van yang ingin ikut nyalip, diikuti klakson nyaring bis yang harus ngerem ndadak, dan ditutup dengan auto (sejenis bajai) yang tiba-tiba masuk nyalip si truk.

Saking hingar bingarnya lalu lintas di India, ada tiga kota yang termasuk top 10 kota terbising di dunia: Delhi, Kolkata, dan Mumbai. Tingkat kebisingannya bisa mencapai 100 db (decibel). Kebisingan 100 decibel itu seperti mendengarkan pesawat Jet yang lagi take off dari jarak 300 meter.

My friend, this is the beauty of India. Negara dengan 1,3 miliar penduduk yang penuh cerita. Setelah menceritakan dua Good tadi, Raj terdiam. Saya yang udah penasaran akhirnya bertanya.

“What is the last good?”

Dengan santai Raj bilang: “Good luck”.

Jpeg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#80 Default Effect: Kenapa kita suka pilihan standar

Jika Anda ingin membeli sepeda motor dengan harga murah, carilah motor yang sudah dimodifikasi habis-habisan. Demikian juga dengan mobil, bekas anaik muda yang hobi modifikasi biasanya membuat harga jualnya turun.

Pasar akan menghargai lebih tinggi kendaraan yang masih standard daripada kendaraan yang sudah dimodif. Bahkan mobil antik dengan onderdil orisinal bisa punya harga berlipat-lipat dibandingkan mobil tua yang memakai spare part modern.

Kita menyukai orisinalitas bawaan. Bahkan manusia akan cenderung memilih pilihan standar (default) yang diberikan. Darisitulah lahir default effect, kecenderungan orang untuk memilih opsi yang dijadikan standard default.

Ada perusahaan airlines yang kesulitan menjual travel insurance tambahan. Apa yang mereka lakukan? Menggunakan default effect, mereka menjadikannya sebagai pilihan standard (default) saat pemesanan tiket (Anda harus un-click untuk tidak membeli). Hasilnya take up pembelian langsung meroket. Orang yang tidak tahu atau malas memilih cenderung menerima option standard yang diberikan.

Percobaan yang dilakukan oleh Eric Johnson dan Dan Goldstein menunjukkan hal yang serupa. Mereka bertanya kepada responden: “Apakah Anda tertarik mendonorkan organ Anda?”

Mereka menciptakan dua kondisi. Kondisi pertama, jawaban “Ya saya bersedia” tidak otomatis tercentang, sedangkan di kondisi kedua jawaban “Ya” tercentang dan menjadi jawaban default. Hasilnya? Kondisi pertama hanya menghasilkan 40% orang yang setuju sedangkan di kasus kedua jawaban “Ya” melonjak menjadi 80%.

Kenapa default effect bisa berpengaruh?

Menurut Young Huh et al (2014) setidaknya ada tiga sebab. Pertama, pilihan default secara implisit berarti pilihan yang disarankan oleh otoritas pemberi pilihan. Kedua, pilihan default menjadi reference point dan menciptakan loss aversion saat harus berganti pilihan. Ketiga, tidak dibutuhkan action untuk melakukannya, cukup mengikuti pilihan yang ada.

Pelajarannya: Jika ingin orang lain melakukan sesuatu, jadikan pilihan itu sebagai pilihan standard (default).

http://www.degreesource.com/wp-content/uploads/2015/05/default.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail