Pesawat Oleng, Kapten!

Bayangkan Anda seorang kopilot penerbangan.

Apa yang akan Anda lakukan jika pilot pesawat tiba-tiba terkena serangan jantung?

Bingung? mungkin. Gugup? bisa jadi. Panik? manusiawi. 

Tapi ada 200 juta penumpang yang menggantungkan harapannya kepada Anda. Pesawat harus tetap terbang. Harus bisa mendarat. Dengan selamat.

Untungnya kopilot itu adalah B.J Habibie. Seorang pencipta pesawat yang sangat mencintai penumpangnya, rakyat Indonesia.

Pesawat oleng, Kapten!

Situasi politik memanas. Lawan politiknya mempertanyakan kredibilitasnya dan memaksa ia mundur.

Dalam ‘Detik-detik yang Menentukan’ (2006), putra terbaik bangsa kelahiran Pare-pare itu menulis:

“Adalah wajar jikalau kaum intelektual pada umumnya dan para elit politik khususnya, tidak memberi kepercayaan dan memiliki prasangka negatif terhadap kepemimpinan saya.

Saya mungkin dianggap sebagai kroni dan ‘kaki tangan Soeharto’ yang tidak memeiliki wawasan dan kemampuan sendiri, kecuali mengikuti perintah dan petunjuk Pak Harto”.

Zugzwang

Habibie mengalami keadaan ‘Zugzwang’. Istilah Jerman dalam permainan catur dimana keadaan terjepit memaksa kita harus mengambil keputusan sulit.

Ekonomi sedang krisis (inflasi sampai 60%). Nilai tukar terpuruk (sampai 15 ribu). Ditambah rendahnya kepercayaan dari ‘penumpang pesawatnya’ sendiri. Politik sangat tidak stabil.

Untungnya Tuhan masih memberinya akal sehat. 

“…sangat saya sadari bahwa guru yang paling kuat memengaruhi proses kebijakan saya adalah ‘otak sehat’ saya sendiri”.

Ia mulai mendata permasalahan yang ada, berkonsultasi dengan para ahli, dan berani mengeluarkan keputusan berani. Yang penting baik bagi bangsa ini.

Contohnya? 

Dalam bidang ekonomi, untuk memulihkan rupiah yang tertekan Ia ‘mengeluarkan’ Bank Indonesia (BI) dari jajaran kabinet. BI harus punya power! Harus independen dan membuat kebijakan berdasarkan akal sehat. Selama BI duduk dalam kabinet, maka sangat rawan menjadi sapi perah politikus.

Habibie membebaskan tahanan politik yang berseberangan dan mereformasi dunia pers. Membuat Indonesia menjadi negara yang sangat demokratis, bebas berpendapat, dan semua orang bebas mendirikan media. Sesuatu yang tabu untuk dilakukan selama 32 tahun Mbah Harto berkuasa.

Selain itu ia mempersiapkan ‘infrastruktur politik’ untuk Indonesia pasca reformasi. Mulai dari mendorong desentralisasi dengan konsep otonomi daerah, reformasi dwi-fungsi ABRI, hingga persiapan pemilihan Presiden langsung yang bisa kita nikmati pada pemilu 2014.

Tak Sempurna

Tentu ada beberapa kebijakan beliau yang dikritik sehingga pertanggungjawabannya ditolak saat sidang istimewa MPR.

Dalam hal ini pun beliau mengakui. Jika membaca konsep ‘problem solving’ yang ia pakai selama hidup, kita akan mengerti (saya sarikan menjadi tiga besar):

  1. Dalam kehidupan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna
  2. Semua penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan pendekatan aproksimasi dimulai A-1 sampai A-X
  3. Keputusan harus diambil. Dan terkadang justru lebih menguntungkan untuk mencoba pendekatan baru. Misal dari strategi A-1 ke strategi B-1

Termasuk soal Timor-timor. Pendekatannya sangat sederhana. Saat menerima Uskup Belo, beliau bertanya: 

“Apa yang dapat saya laksanakan untuk memenuhi keinginan rakyat Timtim?”

Semuanya tentang akal sehat dan kemanusiaan. Tak ada niatan untuk memikirkan kekuasaan, atau mengambil keputusan berdasarkan tekanan. Yang penting harus menghasilkan kebaikan.

Habibie selalu mengingat almarhum Bapaknya yang meninggal sewaktu memimpin shalat Isya bersama keluarga. Saat Habibie baru berusia 13 tahun. Karena itu Ia selalu mengembalikan semua urusannya kepada Sang Pencipta.

“Saya pasrah terima apa adanya dan dengan tenang menghadapi semuanya tanpa bertanya: Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Karena semua saya laksanakan dengan iktikad dan niat membantu memperbaiki nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai”.

Kita takkan mungkin melupakan jasa beliau yang berhasil membawa pesawat raksasa bernama Indonesia melewati turbulensi reformasi. Saya hanya bisa berdoa agar semakin banyak ‘the next Habibie’ yang membuat keputusan berdasarkan akal sehat dan berlandaskan kebaikan kemanusiaan.

Auf Wiedersehen Kapitän. Selamat jalan Kapten!

https://www.traveller.com.au
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membaca Buku 300 Halaman Dalam 2 Jam

Jika ada pilihan: mendapat 5 kg emas atau 5 kg buku rahasia mendapatkan emas. Kira-kira mana yang Anda pilih?

Jika memilih emas, maka saya menduga situ belum jadi orang kaya. (Klo udah kaya ga butuh emas lagi donk haha)

Konon orang yang benar-benar kaya biasanya tahu jika knowledge capital lebih penting dari monetary capital

Warren Buffet menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Qorun berkata jika kekayaannya didapat karena ilmu yang dimilikinya. Sayyidina Ali pernah berpesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Karena jika kita memilih harta, kita harus menjaganya. Sedangkan jika kita memilih ilmu, ilmu yang akan menjaga kita.

Tentu yang terbaique adalah mendapatkan keduanya. 

Karena itu bekal yang diberikan Arkad, orang terkaya di Babilonia kepada anaknya, Nomasir. Ia menyuruh anaknya berkelana dan memberinya dua modal: 3 kantong emas dan 5 lempengan tablet berisi kebijaksanaan dalam mencari kekayaan..

Singkat cerita, emasnya habis tidak tersisa. Dan berkat rezeki Tuhan ditambah petunjuk dari tablet (tanah liat, bukan ipad)  itulah sang anak bisa kembali ke ayahnya dan membawa lebih banyak keuntungan. Harus ditambahin cap Tuhannya cuy biar ga dibilang kapir hehe.

Saya ga akan cerita rahasia yang ditulis Arkad. Anda bisa baca sendiri dalam The Richest Man in Babylon karya George Clason.

Saya cuma mau cerita: kita tahu membaca itu penting, tapi bagaimana bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang terbatas?

Karena itulah saya iseng-iseng mengikuti training membaca cepat. Katanya sih menjamin buku 300 halaman bisa dituntaskan hanya dengan 2 jam, dengan 100% pemahaman, plus bisa bikin mindmap isi bukunya.

Biaya training full-nya 3 jutaan rupiah. Saya cuma ikut yang setelah hari. Bayar ratusan ribu. Dalam tulisan ini saya akan coba sarikan agar Anda ga perlu bayar sepeser pun. Cukup bayar pake doa hehehe.

Ini dia 3 rahasia membaca 300 halaman dalam waktu 2 jam:

Rahasia 1: Rombak Mindset

Kemalasan orang dalam membaca biasanya terletak pada mindset atau pola pikir. Contohnya:

  1. Membaca itu harus dari awal sampai akhir
  2. Membaca = sekolah
  3. Membaca = belajar

Ini adalah hasil didikan bertahun-tahun dimana kita dibiasakan hanya membaca di sekolah. Buku yang dibaca pun hanya buku pelajaran. Dan dirumah ga ada buku hiburan.

Mindset yang perlu ditanamkan:

  1. Membaca itu memuaskan rasa penasaran
  2. Buku yang dibaca ga harus berat
  3. Kita bebas membaca sesuai dengan gaya kita

Saya pernah menolak calon staff di bidang marketing karena bacaan. Waktu interview saya tanya:

“Buku marketing apa yang terakhir kamu baca?”

Setelah loading 30 detik, dia menjawab “Kotler”. 

Rahasia 2: Jangan Dibaca Semua! Baca yang Penting dengan Cepat!

Ini kunci utamanya. Buku bukan kitab suci. Ia hanya alat untuk menyimpan informasi. Kenapa ga perlu semua? Karena buku setebal 300 halaman biasanya berisi 90rb kata. Jika Anda ingin baca semua, dengan kecepatan kata per menit 200, maka butuh waktu sekitar 8 jam.

Itu full konsentrasi 8 jam. Belum memperhitungkan gangguan, distraksi, atau rasa bosan menghampiri. Ini yang membuat orang malas menuntaskan sebuah buku. Kesannya lama dan berat.

Lha terus piye ngerti isi bukune klo ga perlu dibaca semua? Step by stepnya seperti ini:

  1. Berdoa sebelum membaca. Mintalah kemudahan kepada Tuhan
  2. Pastikan posisi baca ergonomis dan kondisi nyaman +  rileks
  3. Start with Why. Kenapa kita ingin baca sebuah buku
  4. Find What. Baca daftar isi. Cari bagian yang ingin kita ketahui
  5. Pake metode skimming / speed reading / photo reading. Klo saya: Hanya baca paragraph awal/akhir, dan perhatikan ide kunci dari sebuah paragraph..
  6. Tingkatkan Kata per menit (KPM). Semakin tinggi KPM Anda, semakin cepat kelar bacanya. Ini masalah jam terbang. Ga usah dipikir. Semakin sering baca, KPM semakin tinggi.
  7. Membaca untuk mengeksplorasi. Coret-coret bagian yang Anda anggap penting. Tulis ide inti yang ingin disampaikan penulis. Tinggalkan bookmark untuk dibuka lagi. Jika menggunakan kindle, gunakan fungsi highlight/notes sebanyak mungkin.
  8. Ga usah dipaksa. Dibawa enjoy aja. Tapi tetapkan target minimal 1 bab. Kenapa? Agar agar progress. Biasanya ga lama koq. Antara 5-10 menit tergantung RPM dan kecanggihan kita dalam skimming 
  9. Setelah selesai 1 buku biarkan mengendap sehari

Rahasia 3: Membaca Untuk Mencari dan Berbagi

Ilmu terkadang seperti adonan. Ia perlu diendapkan agar masuk ke alam bawah sadar. Setelah diistirahatkan, maka ilmu perlu dikembangkan.

Sehari setelah dibaca cepat, maka kita WAJIB ‘mengikat makna’ (meminjam istilah almarhum Hernowo) isi buku yang kita baca.. Karena percuma juga membaca 1000 halaman tapi ga ngerti apa yang kita baca.

Cara paling mudah. Tulis dalam mindmap. Klo naik level bisa dalam bentuk artikel. Ga perlu berat2. Bisa kaya artikel ga penting seperti yang Anda baca ini. Klo punya banyak waktu, bisa sharing dalam bentuk video.

Percayalah, bagian terpenting dari proses belajar adalah mempraktikkan apa yang kita pelajari. 

Pengetahuan baru menjadi kebijaksanakan setelah dilaksanakan. Dan satu paragraf ilmu yang dipraktikan jauh lebih berharga dari 1.000 halaman buku yang hanya dihafalkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Four Blocker

Ada pelajaran menarik dari meeting PLN dan Jokowi pada 5 Agustus 2019 kemarin.
Bukan tentang ‘ngambeknya’ Jokowi. Masih ga ada apa-apanya dibandingkan amukan netijen kelas menengah Ibukota.
Bukan juga soal manajemen PLN. Yang belum punya direktur. BUMN yang diganti namanya jadi ‘Perusahaan Lilin Negara’ oleh netijen Maha Mulia.
Yang menarik adalah proses berlangsungnya rapat. Berlangsung singkat. Karena perbedaan minat.
Jokowi meminta: “…tolong yang disampaikan yang simple-simple saja..”.
Wajar. Karena Presiden tidak punya kemampuan mekanik soal listrik.
Sementara pihak PLN lalu memberikan penjelasan teknis tentang penyebab pemadaman. Mulai dari sistem kelistrikan sampai permasalahan yang timbul.
Wajar. Karena mereka adalah ‘orang lapangan’ yang menguasai keadaan.
Jokowi sepertinya tidak mengerti. Lalu berkomentar: “Penjelasannya panjang sekali”.
Setelah meminta permasalahan ini segera diatasi, Ia pun langsung pergi.
Media politik mengeksploitasi: Presiden murka hari ini.
Generalis vs Spesialis
Adanya masalah komunikasi seperti ini sering terjadi di berbagai organisasi. Biasanya antara tim teknis dan direksi. Orang spesialis dan orang generalis.
Direksi biasanya hanya ingin melihat secara makro. Sedangkan tim teknis biasanya terlalu mengurusi hal-hal mikro.
Tim direksi butuh penjelasan sederhana. Sedangkan tim teknis ingin menjelaskan semuanya.
Direksi ingin solusi permasalahan instant. Sedangkan tim teknis tahu ada batasan yang bisa dilakukan.
Apa jurus yang bisa kita pakai untuk mengatasi permasalahan komunikasi ini?
Ada beberapa cara yang bisa dicoba. Yang paling sederhana: gunakan 4 Blocker. Apa itu?
Metode ini saya ambil dari buku #Sharing karya Handry Satriago, CEO General Electric.
Budaya komunikasi di GE dibuat sangat cair karena four blocker ini.
Semua orang bisa mengeluarkan idenya. Secara sederhana. Rapat dilakukan dalam tempo singkat. Keputusan diambil dengan cepat.
Rumus four blocker sederhana: Ide disampaikan dalam sebuah 1 (SATU) lembar presentasi.
Dibagi 4 blok.
Blok pertama. WHAT: Apa yang terjadi. Sebutkan data dan fakta yang ada.
Blok kedua. WHY: Kenapa koq bisa terjadi? Temukan root cause penyebabnya.
Blok ketiga. HOW: Apa sih solusi yang kita lakukan? Tulis action plan-nya. Klo banyak, cukup tulis 3 critical action.
yang terakhir: HELP: Apa sih yang kita butuhkan untuk mengeksekusi ide itu? Apakah butuh budget, man power, tambahan wewenang, atau apapun.
Dengan 4 blocker, ide dapat disampaikan secara sederhana dan pengambilan keputusan dapat dilakukan saat itu juga.
Ini berbeda dengan budaya pemerintahan atau BUMN kita. Saya sering melihat laporan yang sengaja diperpanjang, dibumbui kata-kata canggih, dan juga dibuat berlembar-lembar dengan tembusan yang sebenarnya bisa dijadikan lampiran.
Mungkin ini karena waktu sekolah dulu kita diajarkan: jawaban yang paling panjang adalah yang paling benar.
Padahal terkadang: jawaban paling sederhana adalah jawaban yang paling mengena.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Memelihara Masalah

Ada sebuah cerita dari Secret of Power Negotiating karya Roger Dawson yang mungkin berguna bagi netijen zaman sekarang.
 
Tersebut seorang pasangan tua yang hidup di kepulauan Pasifik. Suatu hari terjadi bencana puting beliung yang memporak-porandakan rumah mereka.
 
Karena tidak punya tempat berteduh, dan juga tidak mampu membangun rumahnya kembali, mereka pindah ke rumah anaknya.
 
Masalahnya, rumah sang anak cukup kecil. Dia juga punya empat anak kecil dan dua saudara ipar yang juga tinggal serumah. Kini ada 10 orang yang hidup dalam satu atap. Kondisi ini membuatnya tidak nyaman dan stress.
 
Sempat terlintas ide untuk membeli rumah yang lebih besar atau menyewakan tempat untuk kedua orang tuanya. Tapi uangnya hanya cukup untuk menutup kebutuhan sehari-hari.
 
Akhirnya ia pergi ke tetua desa yang terkenal karena kebijaksanaannya. “Apa yang harus saya lakukan agar bisa hidup damai dengan kondisi seperti ini?”
 
Orang bijak itu merenung sebentar. Bukannya bertanya soal luas rumah, alternatif kontrakan, atau jumlah tabungan yang dimiliki sang anak, ia malah bertanya:
 
“Kamu punya ayam?”
 
“Ya, saya punya 10 ekor ayam”.
 
“Kalau begitu masukkan ke dalam pondokmu”.
 
Busyet! Problem solving macam apa ini? Bukankah hal ini tidak akan memecahkan masalah kekurangan ruang? Tapi karena percaya dengan kebijaksaan tetua desa, ia menurut saja.
 
Ide ini mendapat tentangan dari istri dan iparnya. Tapi sang anak bersikeras agar mencoba dulu. Dan benar saja, rumah itu menjadi kapal pecah karena ayam yang berkeliaran tidak karuan.
 
Setelah tiga hari Sang anak kembali mengharap orang bijak tadi. Siapa tahu ada solusi yang lebih masuk akal. Jawaban tetua desa semakin absurd.
 
“Kamu punya kambing kan?”
 
“Ya. Ada sekitar tiga ekor”.
 
“Masukkan juga kambing itu ke pondokmu”.
 
Dengan hati yang menggerutu ia melaksanakan perintah aneh itu. Baru semalam kambing itu dimasukkan, pondok itu sudah lebih pantas disebut kandang. Karena sekarang bukan hewan yang hidup di pondok manusia, tapi manusia yang hidup di kandang hewan.
 
Keesokan paginya ia menghadap lagi.
 
“Tolong berikan saya saran terbaik. Saya sudah mengikuti saranmu tapi keadaan semakin memburuk. Apa yang harus saya lakukan?”
 
Orang bijak tadi tersenyum.
 
“Sekarang keluarkan ayam dan kambing tadi. Rapikan pondokmu. Kamu akan menemukan kedamaian”.
 
Dengan cepat si anak pulang untuk mengeluarkan ayam dan kambing dan merapikan pondok yang lebih parah dari jalur Gaza. Anehnya, sekarang ia merasa lebih lega meskipun ada orang tua yang tinggal bersamanya. Ia juga tidak merasa stress atau mengeluh lagi. Ia menemukan kedamaian.
 
Hikmahnya?
 
Setiap masalah hidup hanya akan membuat kita semakin kuat.
 
Daripada meminta hidup tanpa masalah, mintalah kekuatan untuk bisa mengatasi semua masalah.
 
Pelajaran kedua: kedamaian tak kunjung datang karena kita menjejali pikiran dengan ‘binatang’ yang tak perlu kita ‘pelihara’.
 
Ada binatang bernama ‘merasa benar’. Sehingga selalu ingin terlihat menang saat debat di media sosial.
 
Ada hewan bernama ‘viral’. Hingga memaksa manusia menciptakan sensasi-sensasi yang sebenarnya tak perlu terjadi.
 
Ada peliharaan berwujud ‘up to date’. Membuat kita selalu mengikuti trend tanpa pernah sadar jika trend sengaja diciptakan untuk keuntungan pembuatnya.
 
Binatang ini menghabiskan space otak kita dan menyisakan sedikit ruang untuk hal-hal yang justru paling penting.
 
Orang tua yang jika dirawat akan melahirkan kedamaian. 
 
Bapaknya bernama kerendahhatian. Ibunya bernama rasa syukur akan kasih sayang Tuhan.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

KALIDAWIR

Jumat ini saya menerima tamu istimewa. Mas Bambang. Vice President baru di kantor. Baru 7 minggu. Masih muda. Umurnya 37 tahun.

Apa yang istimewa?

Bukan karena dia malang melintang di dunia venture capital di Amerika. Bukan karena dia punya background financial dan investment yang kuat. Bukan karena banyak startup Indonesia yang telah ia bantu.

Yang menarik adalah cerita soal listrik.

“Saya baru merasakan listrik di umur 18 tahun”.

Mas Bambang lahir di Kalidawir, Tulungagung. Daerah gunung. Sangat ndeso. Didepan rumahnya masih ada hutan. Hiburannya cuma ngelihatin kalong.

Indonesia perlu berumur 55 tahun baru bisa masuk listrik. Sampai sekarang pun disana belum ada sambungan telpon.

Sewaktu sekolah, Mas Bambang ga pernah pake sepatu. Karena emang ga mampu. Setiap hari harus jalan kaki 8 km. Sampe sekolah? Belum. Itu baru ke jalan raya tempat nyegat angkutan umum.

Ketika SMA, gurunya memaksa dia turun gunung. Dia akhirnya ngekos. Sambil bekerja jadi tukang kebun, kuli bangunan, sampai tukang konveksi. Apa saja yang penting bisa sekolah.

Cita-citanya sederhana: Jadi kasir. Setidaknya nggak jadi tukang bangunan atau buruh sawit di Malaysia. Seperti cita2 anak muda di kampung nya.

Guru yang sama memberikan perintah gila: kamu harus kuliah.

Berbekal baju bekas almarhum Bapaknya dia merantau ke Jakarta. Mencoba daftar UMPTN. Coba ke UI, gagal.

Untung ada universitas swasta yang mau menerima dia. Full beasiswa. Sisanya tinggal cerita.

Karena tekun, studinya lancar dan exchange keluar negeri. Setelah lulus, Ia bekerja di Roma, Australia. Kota kecil yang penduduknya cuma 7 ribu. Separuh pengunjung mall di Jakarta.

Hanya betah beberapa bulan. Alasannya sederhana:

“Disana ga bisa jumatan”.

Lalu mulailah dia berkarier di sektor korporasi multinasional. Dari Jakarta sampai San Francisco. Hingga saat ini, jadi Vice President di startup decacorn Indonesia. Setelah 6 tahun hidup di Amerika.

Saya belajar dua hal.

Pertama tentu tentang rahmat Tuhan yang ada pada kesabaran. Karena seperti janji Tuhan: bersama kesulitan, ada kemudahan. Tinggal kita yang harus berusaha. Melakukan upaya terbaik yang kita bisa.

Kedua, sekali lagi saya melihat: bukti ilmu meninggikan derajat. Persis cerita laskar pelangi atau 9 Summers 10 Autumn. Bocah gunung bisa koq punya kompetensi world class.

Asal dididik dengan tepat. Punya kemauan kuat. Dikelilingi lingkungan yang tak menghujat. Ditambah doa pembawa berkat.

Jika hidup kita masih miss queen, maka kita wajib bertanya: berapa buku yang sudah kita baca? Berapa seminar/pelatihan yang sudah kita ikuti? Berapa guru yang sudah kita kunjungi?

Jika kita ingin kehidupan yang lebih baik, ya kita harus belajar dan mencari ilmu yang lebih banyak.

Bukan dengan marah-marah sambil demo menyalahkan pemerintah atau kaum zionis wahyudi mamarika.

Karena Investasi terbaik untuk mengusir kemiskinan adalah pendidikan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Berdebat Dengan Orang Gila

Sebagai netizen, kita pasti sering melihat debat di forum, media social atau kolom komentar berita. Terkadang debat dengan saling berbalas komentar lebih seru daripada subtansi berita/postingan yang ditampilkan. Bahkan ada yang sampai gelut dan berantem di dunia nyata.
Bagi yang tidak terbiasa debat dengan sehat, biasanya berujung pada penyerangan pribadi hingga bully yang ujung-nya menjadi pembunuhan karakter. Sadis bener.
Ilmu debat dan retorika sendiri sebenarnya sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Ya Cuma sayangnya ga diajarkan ke semua orang.
Dan mayoritas masyarakat kita lebih tertarik belajar ilmu selangkangan daripada ilmu perdebatan.
Padahal ada cara elegan ‘menghabisi’ lawan debat kita. Sebuah metodologi yang jika Anda kuasai, bisa digunakan untuk mengimbangi Rocky Gerung debat di ILC hehe.
Apa itu?
Struktur Argumentasi
Menurut Brandon Royal dalam Little Blue Reasoning Book: 50 Principles for Clear and Effective Thinking (2010), kuncinya ada dalam memahami argumentasi lawan debat.
Argumen seseorang pada dasarnya adalah sebuah kesimpulan. Dan kesimpulan yang disampaikan, pasti dibangun dari dua hal: bukti-bukti (evidence) dan asumsi (assumption).
Evidence adalah bukti empiris. Assumption adalah opini atas logika yang dibangun. Bukti + opini akan menghasilkan kesimpulan argumentasi.
Rumusnya:

Conclusion = evidence + assumption

Atau
Conclusion – evidence = assumption

kerangka sebuah argument
Banyak perdebatan dunia maya menjadi sia-sia karena saling menyerang conclusion tanpa disertai bukti dan asumsi yang kuat.
Padahal untuk mengkritisi argument lawan bicara, kita cukup serang bukti dan asumsinya, jangan langsung hajar kesimpulan mereka. Jika kuda-kuda evidence + assumption sudah lemah, ambruklah kesimpulan dengan sendirinya.
Contoh: Yoga pantas jadi presiden!. Ini karena Presiden sekarang kerjanya ga becus dan banyak yang mendukung Yoga!
Conclusion: Yoga pantas jadi presiden
Assumption : Kerja presiden sekarang ga bener. Banyak yang mendukung Yoga.
Evidence: ???? (hampir tidak ada)
Jika Anda ingin mendebat Yoga, cukup tanyakan apa bukti jika kerja presiden sekarang ga bener, dan apa bukti jika banyak rakyat yang mendukung Yoga.
Untuk menyerang asumsi seseorang, setidaknya ada 5 (lima) jenis fallacy (kesesatan) berpikir yang bisa kita pakai untuk menciptakan keraguan dalam sebuah asumsi. (Tapi kita tulis lain kali biar ga terlalu panjang ya bosku, silahkan tinggalkan komentar jika ingin dibahas)
Melawan Orang Gila
Gimana jika lawan debat kita tetep ngeyel dan meyakini bukti yang kita sodorkan adalah ngawur dan penuh rekayasa?
Maka kita masuk ke level berdebat dengan orang gila. Melawan orang gila tidak bisa menggunakan analytical/critical thinking, tapi harus naik 1 tingkat di creative thinking. Contohnya cerita sufi Abunawas.
Suatu hari Abunawas meminjam uang ke tetangganya. Setelah beberapa hari, si tetangga menagih dan mensyaratkan tambahan bunga.
Abunawas menolak, bagaimana mungkin uangnya bisa bertambah. Tetangga itu menjawab:
“Uang itu harta. Sapi itu harta. Sapi saja bisa beranak kenapa uang tidak bisa?!?”
Dengan berat hati Abunawas membayar “anak uang” tadi. Setelah beberapa bulan Abunawas meminjam lagi dengan jumlah yang lebih besar.
Saat jatuh tempo, Abunawas tak kunjung datang mengembalikan uang pinjaman. Akhirnya tetangga culas ini mendatangi rumah Abunawas dan melihatnya sedang bersedih.
“Innalillahi wa inalillahiraji’un. Maafkan aku yang belum sempat datang ketempatmu untuk menyampaikan berita duka ini…. Uangmu… uangmu telah meninggal dunia kemarin….” Kata Abunawas sambil menangis tersedu-sedu.
“Dasar gila! Mana ada uang meninggal dunia! Cepat kembalikan uangku!” seru si tetangga.
Dengan terisak-isak, Abunawas berteriak:
“Kamu yang gila! Jika uang bisa beranak, ia juga pasti bisa meninggal!”
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

O-I-L-S

Misalnya Anda adalah seorang pejabat tinggi. Suatu hari Anda melakukan sidak dadakan dan menemukan jika kerjaan bawahan Anda ga beres. Udah jam 1 tapi belum ada orang yang stand by di kantor melakukan pelayanan.
Apa yang Anda lakukan?
Jika Anda beranggapan marah-marah di depan umum adalah hal yang wajar untuk dilakukan, maka Anda harus berpikir ulang.
Kim Scott, penulis Radical Condor memberikan golden rule: Jika Anda ingin memotivasi team Anda, maka pujilah di depan umum dan kritiklah secara pribadi. Sebaiknya jangan mengkritik di depan umum!
Kenapa? Karena menunjukkan kesalahan manusia didepan banyak orang dapat menghancurkan motivasi mereka. Bukannya menjadi lebih baik, ujung-ujungnya terjadi demotivasi dan harus dilakukan mutasi.
Lantas apa yang harus kita lakukan?
Sebaiknya berikan feedback yang positif.
Bagaimana cara memberikan feedback yang positif? Kita bisa menggunakan metode OILS. Saya mendengar metode ini dari teman mantan konsultan yang mendapatkan pelatihan di Austria. Shahih lah ilmunya.
Sebelumnya perlu diingat, sebaiknya feedback dilakukan secara personal/internal tim. Agar kritik yang kita sampaikan tepat sasaran dan menjaga wibawa orang yang dikritik.
Metodenya disebut O-I-L-S.
O – Observation and Objective
Feedback sebaiknya dimulai dari observasi dan objective (tujuan). Ini dilakukan agar saran yang kita berikan sesuai dengan kenyataan.
“Koq saya melihat ruangan ini kosong pas jam kantor ya? Bukannya jam pelayanan harusnya udah buka dari jam 1?”
I – Impact
Sebutkan dampak yang terjadi dengan kejadian ini.
“Klo kantor kosong gini, gimana klo ada warga yang butuh pelayanan? Jika banyak yang ngantri dan belum selesai karena kita bukanya telat, apa mereka mau kita suruh datang lagi besok?”
L – Listen
“Kalau boleh tahu, Bapak/Ibu pergi kemana ya?”
Disinilah kita mulai mendengarkan ‘alasan versi pelaku’. Karena bisa saja alasan yang mereka sampaikan valid dan masuk akal. Dan bisa juga ngeles/ngibul.
Mungkin mereka akan menjawab,
“Maaf Pak, sedang ada meeting dengan departemen lain”
S – Solution
Solusi harus dicari, berdasarkan permasalahan yang timbul ketika mendengarkan jawaban. Usahakan harus win-win dan berguna bagi semua.
“Oke, saya akan ngomong dengan kepala departemen X dan minta jangan ada rapat di jam 1 Siang. Saya harap Bapak/Ibu kembali kerja ontime ya!”.
OILS juga bisa kita gunakan untuk parenting, atau memberikan feedback kepada siapa saja. Misal adik kita ga mau makan sayur.
“Adek koq ga mau makan sayur?”
Anak baik: “Ga suka”.
Anak julid: “Gw maunya makan ati!”
“Kan sayur bisa bikin badan kita sehat. Sayang juga lho udah dimasakin klo ga ada yang makan”.
Anak baik: “iya ya…”
Anak julid : “Bodo amat! Hilang satu tumbuh seribu!”
“Emang kenapa koq ga mau?”
Anak baik: “Ga enak”.
Anak julid: “Suka-suka gw donk. Emang situ Indomie seleraku?”
“Oh ga enak ya? Biar enak gimana donk? Klo dibikin jus mau coba?”
Anak baik: “Mauuuu”
Anak julid: “Boleh. Sekalian masukin lewat infus idung ya!.
Pendekatan OILS akan jauh lebih positif dan konstruktif daripada marah sana-sini tanpa aksi yang produktif.
Kecuali klo situ mau dibilang ‘kerja’ dan jadi ‘pahlawan’ di media hehe.
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

PeHaKa

Awalnya saya tidak percaya. Tapi terbukti juga. Mantan kantor saya mengeluarkan pemutusan kerja!

Ada puluhan yang kena. Padahal mereka sudah bekerja lama. Mengabdikan jiwa dan raga.

Meski mendapat pesangon, tetap saja menciptakan kesan: Betapa besarnya risiko jadi karyawan!

Tapi tenang kawan, Tuhan tidak tidur. Pasti ada jalan.

Uang pesangon bisa digunakan untuk modal usaha. Semangat!

Peringatan bagi diri saya pribadi: berdoalah agar bisa jadi pembuka rezeki orang. Semoga bisa jadi pengusaha!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Meski Tua Wajib Belajar Data

Meski Tua, wajib belajar data

 

Di kantor saya ada sekolah tentang data. Mencakup pengenalan soal data, Analisa, visualisasi, sampai pembuatan dashboard. Dari mining sampai presenting.

Saya memang sedang belajar di kantor yang memperlakukan data seperti raja. Karena kebetulan kantor saya adalah perusahaan aplikasi.

Yang unicorn.

Dan yang online-online itu.

Disini semua data dianggap berharga. Meski hanya informasi penting yang dikurasi dan di eksplorasi. Sisanya disimpan di atas awan. Cloud computing.

Pemakaian data di kantor sudah mencapai level peta byte. Sekitar 1.000 terra byte. Jika satu film JAV berdurasi 1 jam besarnya sekitar 1 Giga byte, maka storage 1 peta byte bisa membuat Anda nonton film sepanjang 114.155 tahun!

Saya jadi sadar jika membuat aplikasi ‘super app’ ternyata ribet. Ada supporting system yang Panjang dan berliku. Dan kita sebagai user, takkan pernah tahu.

Prinsipnya: semakin smooth dan sederhana user experience-nya, maka semakin canggih system back end + front end-nya. Semakin pintar developer/enginer/data scientist-nya. Jadi wajar lah mereka dibayar mahal haha.

Saya akan membagi alur Analisa data secara sederhana. Bisa diterapkan di bidang apa saja. Semoga berguna, bagi kita yang sedang hidup di industry 4.0. Abad informasi.

#1 Start with goal

Pertanyaan pertama: apa yang kita cari?

Bergumul dengan data berarti kita berusaha mencari pemecahan sebuah masalah. Untuk itu kita harus punya tujuan yang jelas. Apa yang ingin kita ketahui? Apa yang ingin kita capai? Masalah apa yang sedang kita kembangkan?

Contoh: kita ingin tahu kenapa penjualan turun.

#2 Collect the right data

Setelah kita tahu apa yang kita ingin capai, maka masuk ke langkah kedua: kumpulkan data-nya! Hehe

Dalam kasus penjualan turun maka kita harus mengumpulkan data2 yang relevan. Contoh: histori penjualan per area, daftar sales, daftar marketing campaign, hingga feedback dari supplier/customer.

Tapi ya jangan asal ngumpulin data. Misal data harga cabe, atau data relawan. Ya ga nyambung bosku.

#3 Ask ‘Why?”

Uda tau tujuannya, uda dapat datanya. Waktunya mengembangkan hipotesa. Dugaan dugaan. Cara paling mudah adalah bertanya: kenapa?

Kenapa daerah X turun? Kenapa distributor Y naik? Apakah ada hubungan-nya dengan pergerakan competitor?

#4 Analize!

Pada phase ini kita akan membuat data bercerita. Kita bisa menggunakan berbagai metode statistic yang pada ujungnya membuat data berbicara dan menjawab dugaan kita.

Mulai dari statistic deskriptif hingga prediktif. Disinilah skill seorang analis dipertaruhkan. Sejauh mana ia mampu connecting the dots dan menjawab pertanyaan berdasarkan fakta-fakta yang ada.

#5 Create a next step

Langkah terakhir tapi juga yang terpenting: ciptakan action based on data. Abis tahu data-nya, ya masa Cuma diam aja?

Karena tujuan kita menganalisa adalah mempersiapkan action plan yang bisa kita lakukan.

______________

Ya begitulah 5 tahap dasar dalam Analisa data. Ga ada kata terlambat untuk belajar. Meski sudah berumur 31 tahun dan rata2 teman berumur 27 tahun (berasa tua cuy), kita harus tetap menguasai data analytic.

Karena barang siapa menguasai data, maka akan menguasai dunia. Haha

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pemantik

Ahmad Wajib pernah menulis:

Terlalu banyak persentase waktu untuk membaca itu tidak baik. Kita hanya sekedar akan menjadi reservoir ilmu. Pemikiran otentik yang kita adakan maksimal hanya dalam kerangka kemungkinan-kemungkinan yang diberikan dalam suatu buku dan perbandingannya dengan buku sarjana-sarjana lain.

Banyak membaca harus diimbangi dengan banyak merenung dan banyak observasi langsung. Harus ada keseimbangan antara membaca, merenung dan mengamati.

Dengan demikianlah kita akan mampu membentuk pendapat sendiri dan tidak sekedar mengikut pendapat orang atau memilih salah satu di antara
pendapat yang berbeda-beda.
24 April 1969

Apakah benar?

Antara ya dan tidak. Bagi saya sebagai seorang penulis yang masih belajar, membaca adalah pemantik.

Sebenarnya ada pemantik terbaik: pengalaman. Tulisan orang-orang hebat biasanya lahir dari pengalaman pribadi yang kuat.

Contohnya Dahlan Iskan. Dia bisa menulis DIsway setiap hari dengan sangat menarik karena keseharian beliau juga sangat menarik. Berpindah negara, bertemu orang-orang hebat, menciptakan proyek-proyek yang tidak membosankan.

Sayangnya tidak selamanya pengalaman saya pantas untuk ditulis. Saya belum punya rutinitas orang hebat, yang bangun dengan semangat dan gagasan-gagasan besar untuk diwujudkan. Saya sementara masih terperangkap dalam rutinitas salary man dan harus menyelesaikan urusan pekerjaan.

Untuk itulah buku menjadi salah satu pemantik pemikiran yang menghadirkan pengalaman orang lain untuk saya resapi.

Semoga nanti saya punya hari-hari yang menarik untuk ditulis setiap hari!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail