Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jurus Antik Mendapatkan Istri Cantik

Waktu reuni sekolah dan si Pipi Kentang ikutan, teman-teman saya heran:

“Koq mau ama Yoga?”

Maklum, Istri saya cantik dan modis. Berbanding terbalik dengan saya yang antik dan tragis.

Teman-teman sekolah pasti tahu betapa suramnya tampang saya waktu sekolah.

Karena wajah saya memang menarik. Menarik lalat dan nyamuk untuk hinggap.

Punya bemper muka yang jauh dari kata tampan atau “enak dilihat” memang challenging. Saya ga punya competitive advantage untuk menggoda kaum hawa.

Ganteng kagak, miss queen iya.

Saya memang sering “dekat” dengan banyak wanita.

Terutama di angkot dan pasar. Dekat secara posisi ya. Bukan dekat secara hubungan asmara.

Mungkin ini bukti jika Tuhan itu adil. Lelaki jelek perlu menikah dengan wanita cantik untuk mempertahankan garis evolusi.

Kalau orang jelek menikah dengan orang jelek dan menghasilkan keturunan yang jelek, maka lama-lama manusia bisa punah.

Toh pengalaman saya menunjukkan jika lelaki gendut biasanya istrinya cantik. God bless fat people!

Disini saya akan share tips bagaimana mendapatkan istri yang cantik meski kita tidak punya tampang yang menarik.

#1 Pasang banyak cermin di kamar

freepik.com

Karena jodoh itu 100% ada ditangan Tuhan. Kita hanya perlu melakukan 3B: Berdoa… berusaha… dan berkaca… hehehe.

Tapi tenang aja, urusan muka ga terlalu pengaruh koq.

Sebenarnya jika ada kaum hawa yang mau jadi pasangan saya itu bukan karena saya keren atau gimana. Tapi udah takdirnya begitu.

Meskipun saya gantengnya ngalahin Nabi Yusuf tapi klo si doi belum jodoh ya palingan jadi mimpi basah: berasa, tapi cuma di dunia maya.

Jadi ya banyakin berdoa ya gaes! Doa-nya simple koq:

“Ya Tuhan, jika Ia memang jodohku tolong mudahkanlah.

Jika Ia bukan jodohku maka jodohkanlah”.

Simple kan?

#2 Ikuti Standy Up Comedy

freepik.com

Apa yang membedakan kita dengan lelaki lain?

Apa kelebihan saya selain kelebihan berat badan?

Dua pertanyaan diatas perlu dijawab oleh semua lelaki yang bertarung di bursa jodoh.

Intinya kita harus menemukan unique selling point yang membuat lawan jenis tertarik. Bisa tajir melintir, otak intelek yang bikin melek, atau badan atletis kaya artis bokep.

Karena harta saya Cuma bisa untuk hidup H+1, IQ pas2an, dan badan saya lebih mirip karet sintetis daripada atletis, saya memilih aspek humor sebagai senjata utama. Intinya saya harus bisa membuat Pipi Kentang tertawa!

Caranya? Banyak2 baca buku humor dan dengerin jokes receh garing. Makanya jangan heran jika tulisan ini garing banget dan tinggal digoreng tanpa perlu dijemur lagi.

#3 Berhenti Berpikir

freepik.com

Harus saya akui, buku Men Are from Mars, Woman from Venus membantu saya memahami psikologi kaum hawa.

Saya jadi tahu jika wanita hanya ingin dimengerti dan dilindungi. Tak perlu dinasehati atau diceramahi.

Perempuan butuh dukungan. Bukan sanggahan atas kesalahan.

Mereka hanya ingin didengarkan. Tanpa mendapat penghakiman.

Pria sebagainya tidak menggunakan “men’s thinking” dalam berhubungan dengan perempuan. Jika masih belum paham, coba deh baca bukunya John Gray diatas.

It will help your relationship with any woman in any situation.

#4 Menjadi Kecoa

freepik.com

Alasan utama Pipi Kentang mau saya hamili (Bahasa alusnya: menerima saya) adalah: saya mirip kecoa.

Anda tahu, kecoa adalah salah satu hewan yang mampu bertahan meskipun terkena radiasi nuklir. Mereka symbol ketahanan dan sifat pantang menyerah.

Kecoak juga punya anti biotik super yang melindungi mereka dari penyakit paling mematikan sekalipun. Karena itulah mereka bisa bertahan hidup di tempat-tempat jorok dan sangat ga “liveable” (apalagi instagramable).

Intinya, milikilah ‘Grit’ dan sifat pantang menyerah seperti kecoa!

#5 Tutup Mata, Lupakan Cantiknya

males nyari foto baru haha

Saran klise: Jangan mencintai seseorang wanita karena dia cantik.

Karena kecantikan bisa memudar.

Dan Anda tahu, memulihkan kecantikan wanita yang memudar tidak bisa menggunakan bayclin (emang warna baju).

Cintai seorang wanita karena kamu percaya dia adalah tulang rusuk yang hilang.

Coba tutup mata dan berinteraksi dengannya. Apakah kamu bahagia? Apakah kamu masih ingin menghabiskan masa tua bersamanya?

Jika Ya, maka go fight for her!

Ingatlah, seorang wanita tidak dicintai pria karena cantik. Tapi Wanita menjadi cantik karena dicintai oleh seorang pria.

#6 Ingat Ulang Tahunnya

Terakhir, seorang pria harus ingat ulang tahun pasangannya. Seperti hari ini, Pipi Kentang berulang tahun!

Tulisan ini didedikasikan sebagai hadiah disertai ucapan standard: “Sebentar lagi lu bakal mati cuk!”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Semakin Malas Menulis Catatan Harian?

Sudah beberapa tahun ini saya semakin malas menulis catatan harian.

Padahal waktu awal-awal menulis tahun 2006, semangat banget.

Terinspirasi dari orang2 keren macam Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, atau Anne Frank.

Dalam angan-angan saya, catatan harian itu akan menjadi fosil perjalanan hidup. Yang akan berharga mahal saat saya jadi miliarder nanti.

Judulnya sengaja saya bikin jadi doa: “Catatan Harian Seorang Manusia Kaya”.

Tapi sampai sekarang alhamdulilah koq ga kaya-kaya juga haha.

Waktu zaman kuliah, setiap hari saya menulis 2 halaman.

Setelah lulus, turun jadi 1 halaman karena lebih sibuk nulis CV lamaran.

Waktu jadi kacung korporasi. Semakin jarang menulis setiap hari.

Mimpi jadi penulis semakin samar. Kalah dengan urusan pekerjaan yang semakin sangar. Proyek buku pun semakin tak terdengar hehe.

Tapi jika dianalisa, sebenarnya ada dua penyebab kemalasan saya menulis catatan harian.

Pertama soal bahasa.

Mulai 2010 saya menggunakan bahasa Inglis untuk nulis diary.

Padahal grammar saya ancur banget. Ngertinya cuma dialog film: “Oh yes, Oh no, Oh My God. Harder-deeper-faster”.

Penyebabnya waktu itu ada seminar di Fisipol. Pengisi acaranya alumni HI yang sukses keliling bumi. Dia bercerita pengalaman belajar ngomong bahasa bule: yang penting dicoba wae.

Lagipula ini zaman digitalis, mau ga mau saya kudu bisa sepik-sepik Inglish. Biar pun mix-mix ala Jaksel. Ora popo.

Gara-gara pake Inglish ala-ala, saya ga bisa bebas menuliskan ekspresi. Mungkin karena kosakata saya limited edition. Koleksinya terbatas hehe.

Tapi penyebab utama saya malas menulis sesungguhnya adalah: rutinitas saya mudah ditebak.

Hidup cuma bangun, olahraga, sarapan, pergi kerja, meeting, traveling kesana-sini, main ama anak istri, lalu tidur untuk memotong umur keesokan hari.

Tak terlalu banyak “intellectual sparkling” yang terjadi.

Beda saat waktu kuliah.

Pagi hari saya bisa bergumul dengan cultural studies, siangnya membedah pemikiran kaum kapitalis, malamnya membaca logika orang atheist.

Dulu sering sekali muncul pertanyaan random dikepala.

“Mengapa orang bisa ketawa? Apakah kita bisa melihat Tuhan? Kenapa ada orang miskin dan kaya?”

Sekarang pertanyaan yang muncul adalah:

“Bagaimana cara menaikkan market share? Gimana caranya beli rumah? Apa yang terjadi dengan Yoda 5 tahun lagi?”

Sepertinya hidup saya bergerak semakin banal.

Untungnya hidup kita tidak kekal.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pikiran yang Terkunci

Semalam saya naik pesawat JOG-CGK. Rutinitas mingguan seorang anggota PJKA (Pulang Jumat Kembali Ahad). Flight saya mendarat jam 23.30 dan karena ga dapat garbarata, kami diangkut menggunakan bus menuju terminal kedatangan 2F bandara Soetta.

Alhamdulilah dapat duduk di hot seat (kursi 1-5, 12 dan 14 maskapai AirAsia), dan itu berarti saya bisa boarding dan turun duluan. Lumayan membantu untuk yang pingin cepet-cepet keluar bandara (sekalian promosi dikit hehe).

Rombongan pertama pun sudah sampai di arrival gate. Begitu kagetnya kami karena pintu dalam keadaan tertutup dan tidak ada petugas yang berjaga!. Wah apa gara-gara final Piala Dunia nih ga ada petugas satu orang pun yang terlihat.

Kami pun mengantri didepan pintu, menunggu adanya petugas untuk membantu. Tiga menit berlalu, penumpang mulai kzl. Terdengar geraman dan komplain. Semua menyalahkan tidak adanya bantuan petugas terhadap penumpang yang kebingungan.

Lima menit hampir berlalu ketika tiba-tiba ada penumpang yang iseng mendorong pintu. Dan ternyata GA DIKUNCI dong! Jadi kita semua tadi berdiri ngantri di depan pintu yang sebenarnya bisa dibuka!

Cracker

Saya jadi sadar, selama lima menit pikiran kami-lah yang “terkunci”. Tidak berani membuka pintu. Mungkin karena ini lingkungan bandara, pintu tertutup, dan ada electronic key di samping tembok. Pikiran kami otomatis menciptakan hipotesa: jangan masuk kalau tidak berkuasa.

Hey, bukankah hidup juga seperti ini? Betapa sering pikiran kita menciptakan gembok saat ada peluang didepan mata. Kunci itu bisa berupa kata-kata:

“Project ini terlalu sulit…”

“Saya tidak punya sumber daya…”

“Lebih baik menunggu arahan atasan…”
Untuk membuka kunci itu, kita harus belajar menjadi cracker dan menerapkan prinsip tagline iklan: #JustDoIt, #BikinJadiNyata, #MulaiAjaDulu.

Seperti “penumpang cracker” yang iseng-iseng mendorong pintu dan membantu penumpang lain untuk menemukan jalan, para inovator adalah orang-orang yang bisa membuka gembok kebuntuan.

Karena kebuntuan itu ada didalam pikiran. Karena pintu bernama peluang itu selalu terbuka. Karena merupakan tugas kita sebagai manusia untuk berani mencoba.

source: freepik.com
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hey Yoda, Apakah Tuhan benar-benar Ada?

Untuk Yoda, di tahun 2024.

Karena sekarang umurmu 7 tahun (semoga masih hidup ya, karena umur siapa yang tahu), maka sudah waktunya kamu berkenalan dengan istilah Tuhan. Mari memulai diskusi kita dengan mengajukan tiga pertanyaan sederhana:

Apa itu Tuhan? Apa bukti jika Tuhan benar-benar ada? Apa manfaat mempercayai/tidak mempercayai adanya Tuhan?

Saya ingin kamu belajar bertanya secara kritis. Kenapa? Agar kamu sadar akan pilihanmu. Jangan sampai kamu percaya Tuhan dan menjadi pengikut agama tertentu, tanpa punya alasan yang kuat dibaliknya.

Pada dasarnya di dunia ini, ada dua golongan besar. Mereka yang mempercayai Tuhan vs manusia yang tidak percaya dengan zat bernama Tuhan. Sebenarnya ada orang ketiga: orang yang percaya Tuhan tapi tidak menjalankan perintahNya. Haha.

Masing-masing punya argumen dan alasan unik. Alangkah baiknya jika kita mendengarkan masing-masing pendapat dari kedua kubu.

Pertanyaan orang Atheist

Sepengetahuan saya, kenapa banyak orang menjadi atheist (tidak percaya Tuhan) adalah karena Tuhan tidak bisa dibuktikan secara empiris. Tuhan tidak memiliki wujud yang konkret. Tuhan hanyalah konsep abstrak di pikiran orang yang percaya. Semua hanya karangan pemuka agama untuk menancapkan pengaruhnya.

Bagi kaum atheist, dunia terbentuk dengan sebuah mekanisme besar berupa alam raya beserta hukum-hukum yang bernama sains. Ilmu pengetahuan. Tuhan itu tidak logis karena tidak terlihat dan wujudnya tidak jelas.

Menurut mereka, konsep “tuhan” lahir karena ketidakmampuan manusia menjelaskan fenomena alam raya. Nenek moyang kita begitu takut melihat petir, lalu lahirlah mitologi tentang zeus. Saat panen buruk, muncullah cerita soal dewi Sri.

Secara umum, kritik dasar yang dilancarkan tentang “ketiadaan Tuhan” ada tiga:

Pertama, Tuhan tidak bisa dibuktikan langsung secara empiris. Belum pernah ada manusia yang bertemu Tuhan. Orang mati juga tidak pernah kembali untuk menceritakan jika surga dan neraka benar-benar ada. Tuhan juga seperti “hilang”. Ia tidak tampak, kasat mata, dan seperti hilang dari peredaran.

Kedua, berbicara Tuhan pasti berbicara agama. Banyak kaum atheist yang mengkritik institusi sosial bernama agama. Agama dipandang sebagai insititusi penuh eksploitasi. Hanya menguntungkan pemuka agama.

Karl Marx bahkan mengingatkan jika agama adalah candu. Candu yang membuat manusia meringkuk ke dalam penjelasan tentang sebuah zat yang tak kasat mata dan membunuh sains.

Mayoritas agama abad modern juga bersumber dari ajaran yang diturunkan ratusan tahun yang lalu. Terus sekarang Tuhan ngapain donk? Abis ninggalin agama terus ngilang begitu aja?

Ketiga. Jika Tuhan benar-benar sesuatu yang universal, mengapa pengalaman spiritual yang dirasakan manusia sangat bersifat individual? Mengapa hanya nabi tertentu yang mendapat wahyu? Kenapa tidak semua orang? Kenapa Tuhan pilih-pilih terhadap wakilnya? Kenapa Tuhan tidak membuat pengumuman yang ditempel di langit untuk membuat semua manusia sadar jika Ia benar-benar ada?

Pembelaan Orang Beragama

Di sisi yang lain, orang beragama juga punya pembelaan. Saya coba rinci yang sederhana ya:

Pertama, Tuhan adalah pencipta yang berbeda dari makhluknya. Karena berbeda, kita tidak bisa menerapkan logika manusia kepadaNya. Ia tidak bisa dibuktikan secara indrawi, karena merupakan zat surgawi.

Pernyaan: sekarang Tuhan lagi ngapain ya? Adalah sebuah bentuk antromorphisme. Sebuah usaha “memanusiakan” Tuhan. Padahal menurut agamawan, Tuhan tidak tidur, makan, serta tak terikat ruang dan waktu. Kita tidak bisa menggunakan standar manusia.

Para biarawan memiliki pendekatan keren untuk menjelaskan ini: via negativa. Definisi Tuhan dijelaskan dengan semua hal yang bukan Tuhan. Karena Tuhan dipercaya berbeda dengan makhluknya, berarti Tuhan bukanlah semua hal yang kita ketahui.

Pembelaan kedua umat beragama, pengetahuan manusia sangat terbatas. Sains hanya baru pada level penjelasan yang penuh dengan dugaan. Kita membangun hipotesis berdasarkan data dan fakta yang ada, dan membuat dugaan bernama ilmu pengetahuan.

Manusia baru sampai level “penjelasan”, belum sampai “penciptaan”. Sepintar-pintarnya manusia membuat pesawat antariksa, manusia belum mampu menciptakan seekor nyamuk. Alam dan isinya adalah “bentuk empiris” adanya Tuhan.

Ketiga, ada konsep unik bernama iman. Iman berarti rasa percaya. Inilah pembeda orang atheist dan beragama. Iman, seperti kritik sebelumnya, bersifat sangat personal. Ia tidak bisa diproduksi secara massal, dan setiap manusia punya kadar yang berbeda-beda.

Ada orang yang awalnya beragama tapi kemudian murtad (misal Stalin), dan ada juga orang murtad yang pada akhirnya beragama (misal Malcolm X). Memang ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh (misal lingkungan, pengalaman, insentif sosial dll), tapi tetap saja tidak menjamin jika seorang yang dibesarkan di lingkungan beragama akan mati sebagai ahli agama.

Berdasarkan pengalaman saya, konsep iman inilah yang menjadi kunci perdebatan kedua kubu. Semua pertanyaan orang atheist akan di counter oleh ahli agama, dan akan di jawab lagi oleh orang atheist. Pokoknya ga abis-abis dan akan jadi seperti Tiktok: seru tapi ngeselin.

Dengan konsep iman, semua kelar. Sebego-begonya argumen tapi kalo udah beriman ya diterima aja. Atau sebaliknya, secanggih-canggihnya penjelasan tapi kalo belum beriman ya gak mempan juga. Simple.

Okay, tulisan ini udah terlalu panjang. Akan kita lanjutkan dengan manfaat beragama atau tidak beragama.

Tapi sebelumnya, kira-kira kamu mau pilih kubu yang mana?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#19 Marshmallow Puasa

Ingin jadi manusia sukses? Belajarlah berpuasa.

Setidaknya itu hasil penelitian klasik “Marshmallow test” yang dilakukan Walter Mischel dari Universitas Stanford pada tahun 60-an.

Tes ini melibatkan anak-anak dengan instruksi sederhana: mereka akan diberi satu marshmallow/kue/permen. Boleh dimakan jika mereka suka. Tapi jika mau bersabar dan menunggu, mereka akan diberi dua marshmallow setelah beberapa waktu.

Dua puluh delapan tahun kemudian, diadakan tes kedua untuk memantau perkembangan anak yang mengikuti tes. Hasilnya? Anak-anak yang mampu menunda dan mau bersabar dilaporkan memiliki kehidupan yang lebih sukses.

Mereka tumbuh sebagai orang dewasa yang kompeten, punya nilai akademik yang bagus, dan lebih makmur secara pendapatan.

Kok bisa? Penelitian Mischel mengajarkan dua hal yang sangat penting untuk pengembangan karakter manusia:

#1 Willpower

Kemampuan mengontrol diri sendiri. Ini berarti mampu untuk TIDAK melakukan sesuatu disaat kita sebenarnya sangat ingin melakukan tindakan itu.

#2 Delayed gratification

Kemampuan menunda kesenangan. Ini berarti mampu berkata NANTI untuk sesuatu yang sangat kita inginkan saat ini.

Seorang anak yang memiliki willpower dan kemampuan menunda kesenangan akan tumbuh sebagai manusia yang hidup untuk mempersiapkan masa depan. Mereka tahu jika masa muda adalah masa pembangunan fondasi. Dan itu berarti mereka harus mau melakukan sesuatu yang PENTING, meski hal itu tidak selamanya MENYENANGKAN.

Puasa

Lantas apa hubungannya dengan puasa?

Puasa sebenarnya adalah sebuah “Marshmallow test” yang lebih luar biasa. Durasinya lebih panjang sampai 12 jam, dan “hadiah marshmallow” yang ditawarkan lebih dahsyat: dihapusnya dosa-dosa.

Yang diajarkan serupa:

Sejauh mana kita mampu mengontrol diri sendiri dan mau menunda kesenangan. Ini berarti tidak makan dan minum meski kita lapar dan haus, serta tidak melakukan sesuatu yang mengurangi amalan puasa meski kita ingin sekali melakukannya.

Seorang muslim yang mampu menahan lapar seharian harusnya mampu menolak sogokan yang menggiurkan. Harusnya bisa mengelola waktu untuk menunda kegiatan yang tak perlu. Pastinya bisa menunda konsumsi dan memperbanyak investasi.

 

Seorang yang sudah berpuasa seharusnya bisa menjadi manusia paripurna.

Karena puasa mengajarkan jika hidup bukan cuma pencarian kesenangan, dan kebaikan terkadang membutuhkan pengorbanan yang tidak menyenangkan.

freepik

Note:

Sebenarnya riset Mischel mendapat tantangan. Watts et al dari New York University (2018) mencoba mereplikasi apa yang dilakukan Mischel. Hasilnya? Tidak sejalan dengan temuan Mischell, Watts melihat peran keluarga dan lingkungan lebih penting untuk mendukung kesuksesan anak dibandingkan self control dari sang anak itu sendiri.

http://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0956797618761661

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#15 Dimana Nikmat dari Tidur?

Tsamamah ibn al Asyras ditanya oleh orang gila biara di Hizqal

“Apakah tidur itu nikmat?”

Tentu saja benar, jawab Tsamamah.

Orang gila itu lalu bertanya kembali:

“Kapan orang tidur merasakan kenikmatan itu? Jika nikmat itu sebelum tidur, engkau terlalu memaksakan jawaban. Jika nikmat itu saat tidur, engkau keliru karena saat itu orang tidur tak berakal. Jika nikmat itu setelah tidur, engkau juga salah karena saat itu orang tidur sudah bangun”.

Tsamamah terdiam. Ia lalu balik bertanya, “Jadi bagaimana pendapatmu?”

Sesungguhnya kantuk adalah penyakit yang menimpa badan dan obatnya adalah tidur.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#14 Samnun dan 4 Hal

Samnub ash Shufi adalah orang gila dari kota Bashrah. Suatu hari ia dipanggil oleh khalifah yang bertanya: “Samnub. Dalam kedekatan, perlukah pengkhidmatan?”

Samnun menjawab,

“Amirulmukminin! Sesungguhnya hati orang2 yg terhubung dengan Allah senantiasa berkhidmat kepada-Nya”.

Bagaimana caramu terhubung dengan Nya? Tanya sang amir.

“Saya tidak bisa terhubung dengan Allah kecuali setelah mengamalkan 4 hal:

Saya mematikan yang hidup yaitu nafsu dan menghidupan sesuatu yang mati yaitu hati.

Saya menyaksikan yang gaib yaitu akhirat dan menganggap gaib sesuatu yang nyata yaitu dunia.

Saya mengabadikan sesuatu yang fana yaitu kehendak dan menfanakan sesuatu yang abadi yaitu hasrat.

Saya mengasingkab sesuatu yang akrab dengan kalian dan akrab dengan sesuatu yang asing dengan kalian”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail