Prinsip-prinsip Sukses Dalam Hidup [Principle by Ray Dalio]

Ray Dalio adalah founder dari ‘hedge fund’ Bridgewater. Apaan tuh Bridgewater alias jembatan air?

Anggep aja dia dukun yang bisa menggandakan duit investor lewat investasi di pasar keuangan (saham, obligasi, index dll).

Saat udah tua, si Ray Dalio tiba-tiba kepikiran: “Anjir, koq gw bisa tajir melintir ya?”

Setelah dipikir-pikir, ia merasa karena punya kebiasaan membuat ‘principle’ dalam kehidupan dan pekerjaan.
Ray Dalio percaya jika semesta adalah mesin raksasa. Yang perlu kita lakukan biar sukses ya menerapkan sistem dan algoritma yang tepat.

Nah, berhubung udah ga butuh duit, ia lalu membagikan prinsip hidupnya dalam buku ini: Principle.

Males baca atau ga punya bukunya? Bisa temukan slide-booknya disini ya:

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Mungkin ini kabar game-bira bagi gamers sedunia. Hampir sama pentingnya dengan penantian vaksin Corona. Penantian itu terjawab, Playstation kini punya cicit. Seri kelima dari console paling laris itu akan dirilis akhir tahun ini.

Design-nya cool dan futuristik. Pasti sexy kalo dibikin kartun Moe-nya. Dukungan hardware-nya mumpuni. Gawe-game kelas dewa siap beraksi.

Pertanyaannya: apakah gamer seharusnya membeli PS5?

Mungkin pertanyaan yang agak absurd. Karena kembali ke individu masing-masing. Kalau situ gamers dan punya duit ya silahkan beli. Klo missqueen bisa main sambil ngimpi aja lewat streaming youtube. Klo dhuafa quota mungkin waktunya beralih ke gobak sodor.

Pertanyaan ini muncul karena saya pribadi ingin membelinya. Tapi kemudian ada satu masalah muncul: berapa nilai dari memiliki PS5?


Nilai disini bukanlah harga beli. Tapi sejauh mana kepemilikan barang itu memberikan utility value (nilai pakai) dan return on investment (imbal balik investasi) jika barang yang dibeli adalah asset yang diharapkan memberikan keuntungan.

Ribet amat hidup lu cuk?

Oh jelas. Ini karena pengalaman saya membeli laptop gaming pada 2014. Harganya 8 juta. Tapi ternyata sangat jarang dipake nge-game! Dari 2014-2019, saya hanya memakainya untuk bermain game tak lebih dari 48 jam (dari manifes akun Steam).

Karena itu untuk menghitung nilai guna suatu barang, kita bisa mengevaluasi dengan dua rasio: 

  1. Utility value = acquisition cost / usage
  2. Opportunity cost value = berapa nilai yang kita dapatkan jika menggunakan sumber daya yang ada untuk kegiatan yang lain

Continue reading Apakah Sebaiknya Kita Membeli PlayStation 5?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Namanya Hendhi. Driver Gojek yang saya temui siang tadi. Nama tambahan di kontak handphone saya: Hendhi baik hati. 

Karena Ia memang berhati baik. 

Pada pertengahan Mei lalu, Ia diminta mengantar paket sembako. Penerimanya adalah seorang mahasiswa. 

Paket itu diterima dengan air mata. Karena ternyata Ia sedang kesusahan. Kekurangan bahan makanan. Tertahan Covid-19 yang merepotkan.

Tak tega melihat kondisi mahasiswa itu, Hendhi mengratiskan ongkos kirim. Ditambah beberapa hari kemudian datang lagi untuk membantu. Memberikan uang saku.

Hendhi lalu curhat ke media sosial. Dan menjadi cerita yang viral.

Hari ini saya sedih banget nganter gosend bahan pokok Beras + Nasi + Telur buat mahasiswa.Mereka kehabisan bekal untuk makan dan mereka gak bisa pulang ke kampung. Mulai hari ini saya buka FREE ONGKIR area jogja khusus mengantar bahan pokok untuk yg membutuhkan”

Cuitannya menginspirasi banyak orang. Ada yang tergerak melakukan penggalangan dana, untuk membantu mahasiswa yang kesusahan di luar sana. Ia juga tetap membantu aksi berbagi selama pandemi. Tentu dengan kapasitasnya sebagai driver Gojek: mengikhlaskan ongkos kirim yang ia miliki. 

Tapi yang membuat saya penasaran, apa yang Ia dapatkan dengan melakukan kebaikan? Continue reading Apakah Anda Ingin Hidup Bahagia?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Menyatukan Kepingan Hati: Membuat Strategic Puzzle (6)

Dari semua tahap analisa dan perencanaan yang sudah kita pelajari, tujuan utamanya sebenarnya satu: membuat keputusan tentang langkah apa yang sebaiknya kita lakukan.

Dibandingkan langsung memikirkan solusi, melakukan analisa strategic memberikan satu keuntungan: kita bisa melihat gambaran besar dan ada kemungkinan menemukan solusi yang lebh baik.

Cara paling mudah untuk menyatukan analisa yang telah kita lakukan adalah dengan menulis strategy puzzle. Apa pula itu? Continue reading Menyatukan Kepingan Hati: Membuat Strategic Puzzle (6)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Landak Itu Keren – Inward Looking Strategy (5)

“If you know the enemy and know yourself, you need not fear the result of a hundred battles” [Sun Tzu] 

Di tulisan sebelumnya kita berkenalan dengan outward looking strategy. Pendekatan yang ‘market driven’. Tapi pendekatan ini dikritik karena terlalu berfokus keluar. Dan belum tentu cocok dengan organisasi kita.

Karena terkadang, strategi terbaik adalah strategi yang sesuai kondisi dan kemampuan sendiri. Premis inilah yang mendasari inward looking strategy. Melihat kedalam dulu baru keluar.

Ibarat kapal, jika outward looking strategy melihat lautan es lalu kita mempersiapkan kapal dengan pemecah es, maka inward looking berpikir kebalikan. Udah tau kapalnya ga punya pemecah es, ngapain lewat lautan es? Mending lewat jalur lain yang lebih hangat meski harus memutar lebih jauh dan perjalanan lebih lama.

Apa aja sih tools-tools yang biasanya dipakai? Masih dengan contoh studi kasus koki restoran hotel yang terancam PHK karena Covid-19.

Product/Service Analysis

Yang paling sederhana adalah analisa produk/service kita sendiri. Jadi kita lihat dulu kita punya barang.

Abis dilihat diapain? Tentu ga cuma dipegang, diraba, dan diterawang, tapi juga dipikirkan beberapa pertanyaan:

– Apakah produk / jasa saya masih relevan? (bahasa gampangnya: masih laku ga sih?)

– Apakah ada yang perlu saya ubah?

– Apa inovasi yang perlu kita coba?

– Apakah kita mampu membuat produk/jasa baru?

Dan berbagai pertanyaan lainnya. Intinya kita pingin tahu:

A. Product-market fit : Ni barang/jasa diterima pasar nggak?

B. Product/service life cycle : Dimasa depan masih laku ga sih?

C. Product/service development plan : Perlu ada yang diubah atau bikin produk/jasa baru?

Kalau kasusnya koki resto. Kita bisa menganalisa menu-menu apa saja yang kita jual. Tanggapan pasar. Serta memikirkan inovasi menu dimasa depan. Siapa tahu dengan kondisi Covid-19 kita butuh mengubah menu menjadi lebih ‘sehat’.

Portfolio Analysis

Hampir mirip dengan product/service analysis. Tapi ini kasusnya untuk konglomerasi dengan banyak produk/jasa di berbagai industri. Tujuannya untuk memutuskan, unit bisnis mana yang dipertahankan, dikembangkan, atau dijual / dimatikan.

Caranya gimana? Mirip-mirip sih. Dimulai dengan performa unit bisnis, lalu industry trend, dan proyeksi kedepan. Metrix yang sering dipakai adalah BCG metrix dimana membagi unit bisnis menjadi 4 quadran: star, dog, cash cow, dan tanda tanya. 

managementconsulted.com

Segitiga Landak

Konsep yang saya sukai dan sangat bisa diterapkan di kehidupan pribadi. 

Berdasarkan dari fabel Yunani kuno: Rubah ingin menangkap landak. Ia menyerang, mencakar, mendorong, sampai berpura-pura mati. Tapi tetap saja kalah oleh landak yang cuma mengerti satu hal: berlindung dengan duri. 

Dari situ lahirlah pepatah: “Rubah tahu banyak hal kecil, tapi landak hanya tahu SATU hal besar”.

Jim Collins mempopulerkannya dalam buku fenomenal Good to Great (2001). Ia menyarankan kita harus berprilaku seperti landak. Sederhana. Fkus. Tidak gampang teralihkan ketika sedang berburu. Dan punya seni bertahan yang bagus lewat duri-durinya. 

Konkretnya bijimana? Untuk sukses, temukan perpotongan 3 hal:

1. Passion kita

2. Skill kita

3. Peluang ekonomis

Semua pribadi atau perusahaan idealnya menggabungkan 3 faktor diatas dalam menjalankan usahanya. Punya passion untuk berbisnis, punya kemampuan deliver value, dan ada peluang yang jelas.

mindtools.com

Untuk kasus Koki, misalnya ada ide untuk membuat channel tutorial memasak yang diharapkan bisa menambah pemasukan lewat iklan di Youtube. Apakah ide itu worth untuk dilakukan?

Gunakan segitiga landak. Jika kita punya passion melakukannya (membuat tutorial memasak), punya skill (bisa merekam dan mengedit video), dan ada peluang (viewer category food cukup tinggi), maka hal itu patut untuk dicoba.

Puzzle Aksi

Kita sudah belajar membaca peta, menentukan tujuan, dan mengenal beberapa framework strategi. Terus gimana?

Waktunya menyusun puzzle. Menggabungkan apa yang kita ketahui, menjadi translasi aksi yang benar-benar terjadi.

Insya Allah akan kita bahas di tulisan akhir pekan.

____________________________

Bagi pembaca yang baru pertama kali melihat tulisan ini mungkin bingung: ini tulisan apaan sih?

Tulisan ringan ini adalah sarana pembelajaran saya untuk berpikir strategis. Karena saya merasa sangat lemah dalam strategic thinking, sering bingung saat membuat yearly planning, dan rekomendasi solusi yang saya hasilkan sangat receh dan parsial.

Jujur saya iri dengan teman-teman kantor yang punya background konsultan. Mereka mampu menganalisa gambaran besar suatu permasalahan, merumuskan rencana aksi yang komprehensif, dan menemukan solusi atas akar permasalahan yang terjadi.

Karena itulah saya membaca buku-buku strategic thinking dan berpikir: hey banyak framework keren ternyata!

Kenapa ilmu ini hanya dipelajari oleh korporat-korporat besar dan professional di perusahaan multinasional? Padahal banyak sekali tools yang bisa kita pakai belajar berpikir strategis dan mencari solusi untuk masalah kehdupan sehari-hari. 

Harapan saya, semakin banyak masyarakat Indonesia yang mampu berpikir strategis.

#1 : Kenapa berpikir strategis?

#2 : Strategic alignment : Belajar Membaca Peta

#3 : Strategic goal setting : Belajar Menentukan Tujuan

#4 : Outward looking : Kenapa kita harus belajar ke Mama Loren

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Kita Harus Berguru ke Mama Loren – Outward Looking Strategic (4)

Ibarat melakukan perjalanan, di tulisan sebelumnya kita sudah belajar membaca peta dan menentukan destinasi perjalanan kita.

Langkah selanjutnya adalah membuat rencana strategis guna menjawab pertanyaan teknis: Bagaimana cara mencapai tujuan kita? Fase inilah yang membedakan pemimpi dan pemimpin. Pemimpi hanya bermimpi, sedangkan pemimpin melakukan aksi Nyata untuk mencapainya.

Jika mahasiswa sekolah bisnis mendengar kata strategi, biasanya langsung terbayang cost leadership vs differentiation vs focus-nya Mbah Michael Porter. Untuk bisa kesana, ada banyak teknis praktis penciptaan strategi yang bisa diterapkan. 

Kalau saya boleh sarikan ada 2 jenis pendekatan:

A. Outward looking: Melihat kebutuhan eksternal baru memikirkan apa yang harusnya dilakukan

B. Inward looking : Melihat kemampuan internal lalu memikirkan apa yang harus kita lakukan

Tentu yang terbaik adalah menggabungkan keduanya. Melihat kemampuan internal kita, tapi juga memikirkan keadaan eksternal. 

Biar ga bingung, kita coba kenali satu persatu. Masih dengan studi kasus jika kita adalah koki resto hotel yang terancam di-PHK jika tidak melakukan sesuatu.

Outward-Looking Approach

Ibarat perjalanan kapal, outward looking approach berarti melihat lautan yang akan kita arungi dimasa depan, baru mempersiapkan kapal yang cocok untuk melintasinya.

Gampangannya: jika kita melihat di masa depan lautan akan dipenuhi es, berarti kita harus menyiapkan kapal dengan pemecah es agar bisa tetap berlayar. 

Kelebihan strategi ini ada pada sifat ‘market fit’. Dalam artian kita sudah mempersiapkan kebutuhan pasar atau industri kita dimasa depan. Kelemahannya ada pada resources fullfilment. Kemampuan menyediakan sumber daya. Untuk organisasi kecil yang ga punya banyak sumber daya, pilihan aksi menjadi sangat terbatas.

Ada banyak sekali tools yang bisa dipakai. Tapi kita coba kenali tiga tools yang umum terdengar:

#1 Benchmarking

Benchmarking bahasa gampangannya adalah studi banding. Atau belajar ke orang yang sudah sukses. Prosesnya kita melihat organisasi lain yang sudah sukses, mempelajari strategi yang mereka lakukan, lalu mencoba ‘meniru’ mereka. Tentu setelah dilakukan penyesuaian disana-sini.

Contoh: kita mencari resto hotel lain yang masih bisa ‘survive’ dan melihat apa yang mereka lakukan. Misalnya kita belajar jika resto hotel lain menjual lewat gofood, berpromosi online lewat FB/IG ads, dan menciptakan frozen food siap santap dengan citarasa hotel berbintang. Tulis dulu pelajarannya. 

#2 Future Market Forecasting

Untuk cara kedua kita harus berguru ke almarhum Mama Loren. Karena kita akan mencoba ‘meramal’ trend yang ada di masa depan, lalu mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Apakah kita harus mengumpulkan ketujuh bola naga atau belajar ‘Edo Tensei’ untuk menghidupkan Mama Loren lagi? Kalau bisa sih silahkan. Jika tidak bisa untungnya ada Mbah Google yang ga kalah sakti. Caranya gimana?

Tentu yang pertama tolong hapus website tujuan browsing Anda dari po**hub.com, br***er.com dan situs internet positif lainnya. Bisa diganti ke situs berita macam Bloomberg, The economist, atau McKinsey. Karena di internet sudah banyak ‘para pakar’ mengabarkan trend yang sedang dan akan terjadi.

Kedua, gunakan common sense berdasarkan pengamatan sehari-hari. Karena para ahli ramalannya masih fifty:fifty. Mereka ga akan tahu local insight yang sedang terjadi.

Contoh: para ahli meramal Covid-19 takkan ada obatnya sampe 2021. Berarti kita harus berdamai dengan Corona. Apa implikasinya? Mungkin gaya makan dine in akan berubah. Space antar bangku semakin lebar. Ditambah sekat penutup antar pengunjung. Berarti kita harus men-design ulang layout resto kita agar ‘Corona safety’.

#3 Brainstorm Scenario Analysis

Kita tahu masa depan sangatlah tidak pasti. Bahkan kita tidak tahu apakah kita masih hidup atau tidak esok hari. 

Karena masa depan penuh ketidakpastian inilah, lahir scenario analysis. Untuk mempersiapkan kemungkinan terbaik hingga terburuk.

Biar tulisan ini keliatan se-tra-te-jik dan ilmiah (plus saya dianggep pinter), saya coba ceplokan model gambar dari Strategic Planning: How to Deliver Maximum Value Through Effective Business Strategy karya Wittmaan dan Reuter (2004).

Mamam tuh modeling! Udah kaya belajar planet-planet ya boss. Padahal praktiknya bisa kita buat simple koq . 

Coba bikin satu tabel berisi tiga kolom. Isinya: perkiraan kemungkinan yang terjadi, dampaknya kepada kita, lalu aksi apa yang kita lakukan. Contoh:

(kalau kasusnya korporat besar bisa puluhan halaman riset dengan data modeling yang canggih)

Nah itu baru outward-looking strategy bosku. Perlu dilengkapi dengan inward-looking agar kita tahu kondisi dan kemampuan organisasi kita. Akan kita bahas di tulisan selanjutnya agar artikel ini tidak terlalu panjang dan tahan lama.

Yang pikirannya kebayang macem-macem: saya tahu history browser Anda. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Goal Setting (3)

“If you want to be happy, set a goal that commands your thoughts, liberates your energy and inspires your hopes.” —Andrew Carnegie

https://www.indoindians.com/

Jika kita sudah membuat strategic alignment, maka kita mulai masuk ke inti dari strategic thinking: membuat strategy beneran hehe.

Saat strategic alignment kita membaca peta untuk mengetahui kondisi kapal dan lautan, maka strategic formulation adalah membuat itinerary (rencana perjalanan) dimasa depan. 

Karena ini mirip dengan rencana perjalanan, maka seperti pepatah: banyak jalan menuju Roma. Tak ada yang benar tak ada yang salah. Semua tergantung SIKONDOM (Situasi, Kondisi, Dominasi nasib).

Dari berbagai model kerangka berpikir dari bermacam buku-buku bisnis diluar sana, klo disarikan sebenarnya ada tiga fase formulasi strategi sederhana:

  1. Strategic goal setup: Kita mau kemana?
  2. Problem-solving-solution hypothesis: Bagaimana cara termudah dan termurah untuk kesana?
  3. Resources and impact matrix: Perbekalan apa saja yang kita butuhkan?

Yuk kita bahas satu persatu dengan sederhana.

Salah Tujuan = Salah Asuhan

Yang pertama tentu menentukan tujuan: Mau dibawa kemana hubungan kita? Lah koq malah nyanyi yang nulis.

Ini fase krusial karena salah menentukan tujuan berarti kesasar. Apakah itu keliru? Ya nggak juga. Colombus awalnya bertujuan ke India, eh malah nemu Amerika. Penemu minuman Coke, John Pemberton, awalnya bereksperimen untuk menemukan obat sakit kepala. Malah nemu cikal bakal Coca Cola.

Kasus diatas adalah serendipity. Kebetulan aja hasilnya bener. Tapi kedua contoh tadi sama-sama punya tujuan awal!. Gak ada ceritanya peneliti tanpa tujuan eksperimen, tau-tau menemukan senyawa atau penemuan baru.

Yang pasti salah itu jika kita tidak menentukan tujuan. Karena itu berarti terombang-ambing tanpa arah dan pegangan yang jelas. Bisa sampai sih. Sampai jumpa lagi hehe.

Bagaimana cara menentukan strategic goal yang baik? Ada banyak teori.

Mulai kudu SMART (Specific, Measurable, Actionable, Realistic, Time based). Ada juga yang bilang jika strategic goal itu harus ‘besar’, ‘panjang’, dan ‘tahan lama’ (bahasa Jim Collins disebut BHAG : Big Hairy Audatious Goal). 

Jangan ngeres dulu. Ini bukan iklan obat kuat. Maksudnya strategic goal kita seharusnya bisa menginspirasi kita dalam mengarungi perjalanan yang panjang. 

Biar kebayang kita balik ke studi kasus jika kita Koki resto hotel yang terdampak Corona.

Kemana Kita?

Misalnya kita sudah melakukan strategic alignment dan tahu jika kondisi kapal kita goyang, dan ada badai karena Covid-19. Peran yang bisa kita lakukan adalah memasak makanan lezat, yang bisa menjadi sumber pemasukan hotel disaat sulit seperti ini.

Strategic objective yang bisa kita tulis adalah:

“Menjadi resto hotel terbaik di Indonesia”.

Kelihatannya keren ya. Resto hotel terbaik.Tapi kebayang ga menjadi resto terbaik itu kaya gimana? Trus apakah sudah kriteria Smart? Gimana klo kita reworks dikit dan jadi:

“Pada Desember 2020 menjadi resto hotel bintang 4 terkemuka yang menjual 1000 porsi makanan per hari”.

Kita menset kriteria terkemuka dengan benchmark goal yang jelas: penjualan 1000 porsi per hari. Sangat sederhana dan jelas. Jika nanti penjualan kita hanya 999, berarti kita belum jadi restoran terkemuka. Sesederhana itu.

Ada tips tambahan yang bisa kita lakukan setelah menulis strategic objective. Kita bisa bertanya lagi:

  1. Apakah tujuan kita sudah ‘benar’?
  2. Adakah alternatif tujuan yang lebih ‘benar’?

Sangat disarankan untuk melontarkan pertanyaan ‘nakal’ dan provokatif:

Apakah tetap menjadi bagian resto hotel sudah benar? Kenapa kita tidak mengusulkan ke manajemen untuk membuat mobile resto chain yang independent? Kenapa kita tidak coba beralih ke industri yang masih related dengan makanan seperti food content media?

Karena salah tujuan = salah asuhan. Terus pertanyakan tujuan strategis Anda. 

Karena tujuan dari hidup, adalah hidup dengan tujuan.

 

____________________________________________

 

 

PS: Bagian selanjutnya adalah bagian tersulit tapi terseru: formulasi solusi strategis! Doakan saya bisa menulisnya dengan cukup jelas dan komprehensif

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Strategic Alignment

Tulisan ‘Belajar Berpikir Strategis’ sebelumnya sudah membahas What dan Why dari seni berpikir strategis secara umum. Sekarang kita masuk ke fase teknis: How.

Bagaimana memperbaiki kemampuan berpikir strategis kita?

Secara sederhana, proses berpikir strategis kalau saya boleh intisarikan, terdiri dari tiga tahap:

1. Strategic alignment: Menyelaraskan tujuan besar organisasi dengan tim kita

2. Strategic formulation: Membuat strategi tim untuk mencapai tujuan organisasi

3. Strategic execution and evaluation: Mempersiapkan ekskusi dan evaluasi atas strategi yang telah kita bangun

Tak usah bingung dengan istilah-istilah asing diatas. Sengaja saya tulis dalam bahasa Inggris biar saya dianggap orang pinter doank :p. 

Oke biar simple kita pakai contoh saja.

Misalnya kita adalah seorang koki di restoran salah satu hotel berbintang. Sejak negara api berkedok Covid-19 menyerang, tingkat hunian terjun bebas. Kamar-kamar kosong. Kita terancam di PHK. Apa yang bisa kita lakukan?

Jika tidak belajar strategic thinking, kita dipersilahkan berkeluh kesah, pasrah, dan mengutuk keadaan yang ada.

Tapi kan kita lagi belajar berpikir strategis. Sayang donk kalo cuma ngedumel aja. Terus kita kudu piye?

Mengusulkan perubahan business model, ide promosi, dan aksi-aksi konkret lain yang bisa dilakukan memang bagus. Tapi sabar dulu bosku. Sebelum masuk ke rekomendasi aksi, ada baiknya kita mundur kebelakang dan melakukan strategic alignment.

Apa pula strategic alignment itu?

Strategic Alignment = Membaca Peta

Iya bener. Strategic alignment itu seperti Dora yang menyuruh kita membaca peta.

Bayangkan resto hotel tempat bekerja kita adalah kapal. Kita adalah penumpang didalamnya. Nah strategic alignment itu bagaikan membaca peta untuk menjawab beberapa pertanyaan:

– Kemana arah kapal ini? (Apa tujuan organisasi saya?)

– Jika menangkap ikan, jenis ikan apa yang ditangkap? (Siapa customer kita?)

– Apakah kapal ini baik-baik saja atau ada kebocoran? (Bagaimana kondisi organisasi saya?)

– Bagaimana ombak dan angin yang berembus? (Apa trend eksternal yang sedang terjadi?)

– Apakah cuaca cerah? Atau ada badai? (Apa dampak trend ke organisasi saya? Apakah organisasi akan menghadapi masa sulit?)

– Ada berapa banyak kapal lain yang berlayar? Siapa yang terbesar? Bagaimana kondisi mereka? (Analisis kompetisi. Siapa pemain inti. Apa competitor movement yang dilakukan?)

– Apa peran saya dalam kapal ini? (Apa tugas kita dalam membantu tujuan organisasi?)

– Adakah peran lain yang sedang dibutuhkan? (Haruskan saya belajar skill baru dan membantu departemen lain yang kekurangan orang?)

Dan berbagai pertanyaan ‘strategic’ lainnya.

Teman-teman kita yang berprofesi sebagai konsultan punya banyak kerangka berpikir (framework) canggih untuk proses membaca peta ini.

Contohnya: 5C analysis (Customer, Company, Competitor, Country, Change), PESTEL analysis (Political, Economic, Social, Technology, Environment, Law), SWOT (Strenght, Weakness, Opportunity, Threats), dan banyak tools-tools keren lainnya.

Ga usah bingung dengan model diatas. Konsultan memang dibayar mahal untuk membuat kita terkesima dengan metode-metode canggih yang mereka miliki.

Padahal prinsip intinya harus menjawab: Kita ada dimana? Kita mau kemana? Bagaimana keadaan sekitar kita? (belum ngomongin kita harus ngapain ya)

Nah daripada membahas bacotan saya yang membingungkan, mari kita coba praktik saja.

Tulis Dulu

Kembali ke cerita jika kita koki resto hotel yang terdampak Covid. Kita bisa membuat strategic alignment sederhana dengan modal sebuah kertas dan pensil. Bagi tiga bagian lalu tulis:

  1. Kondisi kapal saya dan kemana arah kapal ini
  2. Kondisi lautan dan kapal kompetitor
  3. Peran saya di kapal saat ini

Untuk mengetahui kondisi kapal kita, bisa mulai bertanya ke teman-teman bagian lain: Kira-kira terjadi penurunan hunian berapa persen? Apa lini bisnis yang masih memberikan pemasukan? Seberapa besar penurunan customer yang dine in? Apakah ada arahan strategy dari manajemen?

Lalu kita cek ombak dan lautan  dengan browsing internet dan bertanya ke hotel-hotel lainnya. Apakah semua resto di hotel mengalami hal yang sama? Untuk resto selain hotel, adakah inovasi yang mereka lakukan? Apa insight dari pelanggan kita? Adakah perubahan prilaku konsumsi?

Terakhir, kita coba pasangkan puzzle tim kita ke dalam peta organisasi dan arah industri. Apakah peran divisi resto masih relevan dimasa depan? Apa yang bisa kita lakukan untuk membantu tujuan? Tujuannya agar kita mengerti kontribusi konkret yang bisa kita berikan demi kemajuan organisasi.

Karena kasusnya imbas Covid terhadap hotel, mungkin latihan ini agak terasa kurang berguna. Kita tahu Covid adalah force majeur yang menghantam seluruh industri pariwisata.

Tapi sekali lagi ini hanyalah contoh. Tujuan kita menulis strategic alignment adalah agar kita berlatih:

a. Melihat gambaran besar dari situasi yang terjadi

b. Membuat koneksi antara kejadian di luar terhadap organisasi kita

c. Tidak terburu-buru langsung melontarkan solusi yang retjeh dan parsial

Seseorang yang tidak melakukan strategic alignment akan merasa pekerjaan mereka hanyalah rutinitas membosankan tanpa dampak yang lebih besar terhadap organisasi. Mereka cenderung melakukan job desk yang diminta tanpa pernah bertanya apa kontribusi besar yang mereka bangun.

Padahal tak ada pekerjaan kecil yang tak penting. Seperti mesin mobil, baut sekecil apapun yang terlepas, akan menimbulkan kerusakan besar dimasa depan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail