#94 Traveling Effect: Kenapa Traveling Terbukti Membuat Kita Bertambah Kaya

Boleh percaya boleh tidak, manusia bisa memiliki peradaban maju seperti sekarang karena nenek moyang kita doyan jalan-jalan.

Setidaknya itu salah satu hipotesa Yuval Noah Harari dalam karya monumentalnya: Sapiens. Menurut Pi-Ej-Di (pengucapan Ph.D zaman Now) asal Israel itu, ada suatu masa ketika nenek moyang kita menjadi seperti si bolang: gemar berpetualang.

Zaman old itu sekitar 45.000 tahun lalu dimana sapiens generasi awal belum mengenal agrikultur atau revolusi industry. Mereka harus hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain hanya untuk bertahan hidup.

Tapi ternyata kebiasaan menjelajah ini menjadi metodologi paling ampuh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena mereka harus mampu mengembangkan kemampuan analisa dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati.

Makanan apa yang aman dimakan? Apakah ada bahaya mengancam? Apa yang harus kita lakukan saat udara dingin? Kemana saya harus pindah setelah ini?

Rumusnya ternyata sederhana:

Tempat baru = pengalaman baru = pengetahuan baru.

Traveling membantu nenek moyang kita untuk mengembangkan pohon pengetahuan yang pada akhirnya mendorong perkembangan kemampuan berpikir manusia.

Seiring kemajuan peradaban, semangat traveling berkembang menjadi semangat penaklukan. Manusia menjelajah untuk menemukan dan mendapatkan wilayah baru. Dan ternyata para imperium besar menginvestasikan sumber daya mereka untuk dua kata sederhana: terra incognita, Tanah tak dikenal.

Pada tahun 1519 Spanyol mengutus pelaut 39 tahun yang ingin mengelilingi bumi dan memutus rantai perdagangan rempah: Ferdinand Magellan. Meskipun ia terbunuh di Philipina, kapal itu, Armada de Molucca, mampu kembali ke Spanyol pada 1522.

Perjalanan Magellan berdampak besar dan mematahkan berbagai mitos: bumi datar dengan ujung dunia, legenda monster laut, peta navigasi jadul yang masih banyak “blank”-nya, dan banyak pengetahuan yang membuat Spanyol mampu menjadi penguasa dunia hingga ratusan tahun kedepan.

Jika kita tarik ke zaman now maka Traveling = pengetahuan baru = kekayaan baru.

Ada banyak bukti orang kaya yang dapat inspirasi dari jalan-jalan. Johny Andrean membuka bread talk gara-gara main ke Singapura. Hendy Setiono dapat ide usaha kebab saat mbolang ke Qatar, sejak itu lahir kebab Baba Rafi. Bahkan Jack Ma pernah menyebut jika trip singkat-nya ke Australia saat muda adalah “perjalanan pembuka mata”.

Sesakti itu kah #efektraveling? Sampai Prof Rhenald Kasali mewajibkan mahasiswanya untuk “get lost” diluar negeri?

Penelitian dari Godart et al (2014) dalam Journal Academy of Management menunjukkan jika professional yang pernah bekerja diluar negeri cenderung lebih kreatif daripada yang tidak. Riset lain dari Zimmermann dan Neyer (2012) menemukan jika traveling membuat mahasiswa subjek penelitiannya lebih extrovert dan terbuka terhadap hal-hal baru.

Kenapa? Karena traveling memberikan kita sudut pandang berbeda dan memaksa kita keluar dari zona nyaman yang ada. Saat traveling kita belajar menjadi minoritas, dan itu berarti harus menerima nilai-nilai yang tak sama.

Jika masih muda, siapkan paspormu, kemasi kopermu, tentukan tujuan petualanganmu. Ingatlah petuah Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Waktunya ngerasain #fektraveling mumpung ada #KursiGratis
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#92 Zeigarnik Effect: Kenapa Terkadang Menunda Itu Baik

Pada tahun 1927, sekelompok mahasiswa dan professor makan di restoran. Mereka memesan banyak makanan, dan anehnya: si pelayan tidak mencatat apapun!

Mereka menduga pasti ada pesanan yang keliru atau kurang. Tapi diluar dugaan, mereka mendapat apa yang mereka pesan tanpa ada kekurangan satu menu pun.

Setelah selesai, rombongna itu keluar. Salah satu mahasiswa psikologi, Bluma Zeigarnik, baru sadar jika selendangnya tertinggal. Buru-buru ia kembali ke restoran dan bertemu pelayan super tadi.

Anehnya, sang pelayan tidak mengenalinya. Ia juga lupa dimana Zeigarnik duduk. Kenapa pelayan tadi bisa lupa? Padahal ia bisa mengingat semua pesanan, bukankah itu berarti memori yang bagus? Zeigarnik penasaran dan bertanya kenapa pelayan bisa mengingat semua pesanan tapi sekarang seperti menderita amnesia:

“Saya mengingat semua pesanan di kepala, hingga pesanan itu dihidangkan”. Si pelayan membocorkan rahasianya.

Zeigarnik tersadar, otak manusia bekerja seperti itu. Kita akan mengingat tugas yang masih harus dikerjakan, dan melupakannya begitu selesai. Seperti computer, semua “unfinished task” akan terekam di sistem dan akan terhapus begitu statusnya “done”.

Serangkaian percobaan akhirnya melahirkan hipotesa tentang Zeigarnik effect: manusia akan lebih mudah mengingat pekerjaan yang tidak selesai (diinterupsi) daripada pekerjaan yang selesai. Ini menjelaskan kenapa ada perasaan yang mengganjal jika kita belum menyelesaikan sesuatu, dan merasa plong setelah melakukannya.

Beberapa riset bahkan menunjukkan jika pelajar yang menginterupsi proses belajarnya dengan kegiatan lain, akan mampu mengingat lebih baik daripada pelajar yang belajar tanpa adanya gangguan.

Jika kita tahu terkadang menunda menuntaskan sebuah tugas bisa berdampak baik, apakah itu berarti lebih baik kita tidak segera menyelesaikan tugas yang ada di hadapan kita? Untuk tugas-tugas kecil, sebaiknya kita jangan menunda. Tapi untuk tugas yang membutuhkan kreativitas, lebih baik kita tidak segera menyelesaikannya.

Riset yang dilakukan Adam Grant, pengarang buku laris Original, menunjukkan jika para “original thinker” punya kebiasaan menunda. Dalam artian jika deadline-nya 7 hari, mereka akan mulai mengerjakan di hari ke-2, membiarkannya tak selesai hingga hari ke 5, dan menyelesaikannya hingga hari ke-7.

Kenapa? Karena Zeigarnik effect membuat tugas yang tak selesai akan selalu kita ingat. Dan sambil menunda menyelesaikannya, para original thinker berpikir keras untuk menciptakan hal yang unik.

Secara bawah sadar otak mereka berusaha menciptakan koneksi antar disiplin ilmu untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ditambah adrenalin kreativitas yang mengucur deras saat menjelang deadline, otak manusia dipaksa untuk menghasilkan solusi yang tak terduga.

Mulai sekarang jika Anda sedang mengerjakan proyek yang membutuhkan kreativitas, jangan buru-buru menyelesaikannya. Hasilnya bisa medioker. Coba kerjakan, lalu tinggalkan beberapa saat. Ketika Anda kembali untuk menyelesaikan-nya, Zeigarnik effect akan memberikan persepsi yang berbeda.

https://media.licdn.com/mpr/mpr/AAEAAQAAAAAAAA2eAAAAJGUzOWMxYWEzLTZiMGUtNDE2Yi04OTc4LTM5ZWJmMTg2YzAxYw.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Misteri Tentang Bayi yang Masih Belum Saya Mengerti

Untuk Yoda yang merasakan kehidupan dalam satu bulan,

Whats up broo

#1 Kenapa bayi memiliki ekspresi imut dan lucu?

Jangan-jangan itu adalah sebuah bentuk self defense mechanism untuk bertahan hidup. Ia membuat manusia dewasa merasa iba dan mau merawatnya. Hampir sama dengan binatang yang mengembangkan tanduk, taring, dan organ intimidatif untuk menegaskan kekuatan dan bahaya yang mengancam predator. Keimutan menjelma jadi senjata tak kasat mata.

#2 Jika bayi merasa bahagia hanya dengan air susu ibunya, kenapa manusia dewasa tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka punya?

Merawat bayi mengajarkan kita: betapa sederhananya hidup manusia. Asal cukup susu, popok yang kering, dan suhu yang hangat, bayi sudah merasa bahagia. Anehnya syarat menjadi bahagia semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Banyak manusia dewasa yang cukup sandang, pangan, dan papan tapi tetap merasa menderita. Kenapa kita tidak bisa merasa bahagia dengan syarat yang sederhana?

#3 Saat bayi, manusia tidak bisa menghidupi dirinya, kenapa setelah dewasa ia merasa paling berkuasa?

Bayi sapiens adalah salah satu bayi paling rapuh dibandingkan makhluk lainnya. Dalam hitungan jam bayi kuda bisa berlari, dan dalam hitungan hari anak ayam sudah bisa mencari makan sendiri.

Seorang sapiens kecil harus disuapi makanan bertahun-tahun sebelum bisa bertahan hidup mandiri. Dan anehnya, saat mereka besar para sapiens bertingkah seperti penguasa jagat raya. Apakah mereka tidak ingat ketika mereka masih balita?

#4 Seorang bayi laki-laki menangis paling keras, kenapa setelah dewasa ia malu jika berurai air mata?

Lelaki jangan cengeng. Sebuah ungkapan yang aneh menurut saya. Karena menangis itu tanda kecerdasan emosional yang sehat. Banyak karya sastra terinspirasi dari tangisan. Seperti “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”-nya Coelho atau sajak “Maka Pada Suatu Pagi” dari Sapardi:

Maka pada suatu pagi hari dia ingin sekali

menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu

Dia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik

dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya ‘Kenapa?’

#5 Kenapa kita tidak bisa mengingat masa-masa bayi kita sendiri?

Bayi “menderita” infantile amnesia, dan baru bisa merekam memori umur 3-4 tahun. Mungkin Tuhan menciptakan amnesia itu agar otak kita overload informasi, dan cukup mengingat hal-hal penting saja.

Masalahnya banyak anak yang songong dengan orang tuanya karena efek infantile amnesia. Mereka tidak ingat perjuangan orang tua-nya dalam melahirkan dan membesarkan dirinya.

Jika kita bisa mengingat masa-masa bayi kita, saya yakin semua akan tambah sayang kepada orang tua kita. Karena kita tahu betapa repotnya mengganti popok, lelahnya menyusui, dan capeknya menggendong untuk mengajak tidur. Masih tega ngomong kasar ke orang tua sendiri?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#95 Cherry Picking : Kenapa kita hanya melaporkan hal baik

Saya pernah diminta membuat report marketing campaign yang dilakukan bersama partner. Kami menginvestasikan uang dengan porsi 50:50 untuk membeli spot iklan di beberapa Negara Asia. Jumlahnya cukup besar untuk dibelikan lapangan bola di Meikarta hehehe.

Hipotesisnya: akan terjadi kenaikan penjualan saat periode promosi. Kenyataannya? Jualan malah turun cuk!

Apakah saya akan melaporkan buruknya penjualan? Jika saya melakukannya, sang partner akan berpikir dua kali untuk bekerja sama lagi di tahun depan.

Apakah saya akan memanipulasi data? Bagi saya, berbohong dengan data adalah dosa besar yang setara dengan memperkosa hewan peliharaan sendiri. Najis tralala untuk dilakukan.

Lalu, apa yang dapat saya lakukan untuk dapat terlihat sukses tanpa berbohong? Itulah guna cherry picking. Kita mengambil fakta partial yang menunjukkan kesuksesan kita. Terinspirasi dari petani yang hanya mengambil buah manis dan masak, serta meninggalkan yang masih muda dan masam.

Dalam kasus saya, ternyata data nationality Negara bersangkutan mengalami peningkatan. Itu berarti konsumen local meningkat. Sedangkan turunnya penjualan secara overall disebabkan penurunan pembeli nationality asing.

Saya dapat dengan bangga membagi hasil campaign: “Kita mendapat kenaikan penjualan XX% untuk konsumen dengan nationality XX”. Saya senang, mereka senang. Win-win solution.

Cherry picking adalah usaha melihat angle positif dari sebuah peristiwa, dan sering dipakai untuk berjualan. Misalnya saat Anda memesan hotel, gambar-gambar yang ditampilkan adalah hasil cherry picking. Karena prinsipnya sederhana: Tunjukkan yang baik, sembunyikan yang jelek.

Jika penjualan perusahaan Anda turun secara keseluruhan, coba laporkan lini usaha baru yang bertumbuh. Banyak complain dari pelanggan? Sundul 1-2 pujian yang Anda terima. Ingin terlihat sukses meski perusahaan terus merugi? Ceritakan efisiensi yang telah dilakukan.

Bagaimana agar terhindar dari cherry picking yang dilakukan orang lain? Biasakan untuk tidak hanya melihat report summary highlight. Kalau perlu lakukan drill down data mentah dan lakukan analisa berdasarkan pertanyaan sederhana.

“Apa big story yang sedang terjadi? Apakah kesimpulannya benar? Adakah data yang dilaporkan secara parsial?”

Jangan-jangan data yang terlihat bombastis adalah hasil cherry picking yang manis.

http://cummingstrengthandfitness.com/wp-content/uploads/2016/12/no-cherry-picking.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Weekend with Yoda: Mama Paranoia

Kelahiran Yoda ternyata sedikit banyak berpengaruh pada Pipi Kentang. Dia menjadi agak paranoid.

Contohnya saat saya baru selesai membawa Yoda berjemur. Pipi Kentang berpesan agar jangan pergi jauh. Tapi karena berjemur hanya di depan rumah kurang greget, saya mengajak Yoda jalan-jalan keliling kampong. Ga jauh, hanya 1-2 km saja.

Saat kembali, rumah kosong. Rupanya Pipi Kentang yang panic anaknya ngilang berusaha melacak saya. Pake menginterogasi orang-orang dijalan.

Saat balik kerumah, tiba-tiba dia nangis.

“Dia masih kecil, jangan dibawa pergi-pergi. Nanti kalo sakit aku ngerawatnya sendirian..”

Eh lha koq jadi film drakor (drama korea) gini. Ga pake adegan berpandangan dengan mata berkaca-kaca disertai salju berguguran dan music romantic sih.

Padahal saya ga ngajak Yoda jalan-jalan ke Suriah atau Korea Utara. Ini Cuma 1 km disekitar rumah. Tapi mungkin hal ini normal. Insting keibuan yang ingin memproteksi anaknya sendiri. Karena kebetulan si Yoda sendiri ketika lahir kurang fit.

Biru dan Diam

Ketika Yoda lahir, dia ga nangis dan berwarna agak biru. Air ketubannya juga berwarna hijau seperti alpukat.

Image and video hosting by TinyPic

Awalnya saya bangga punya anak berdarah biru. Wah calon bangsawan nih. Tapi ternyata kata dokter itu tanda kurang bagus. Bayi harusnya berwarna merah. Warna pucat pertanda ada yang salah. Dokter anak langsung memberi oksigen dan ia masuk ruang observasi.

Demikian juga jika tak ada tangisan. Normalnya bayi langsung menangis saat lahir. Semakin keras semakin bagus. Pertanda ia sehat dan kuat.

Diamnya Yoda sempat membuat saya mengira ia akan seperti bayi Yesus yang tidak menangis saat lahir. Tapi setelah dirangsang, akhirnya nangis juga tuh bocah. Berarti dia anak biasa-biasa aja hehehe.

Dan seperti bayi Yesus, Yoda dikunjungi tiga orang. Tapi bukan orang bijak dari timur, tapi perawat-perawat yang membantu persalinan yang kebetulan ada tiga orang. Hehehe lagi.

Menurut diagnosa dokter, Yoga mengalami distress pernafasan. Mungkin karena terlalu lama di Rahim (41 minggu lebih) dan ketuban Ibu-nya sudah ijo. Dugaan saya sih, dia shock karena punya Bapak kaya saya. Hehehe terus.

Soal ketuban berwarna ijo juga membuat saya berpikir, jangan-jangan ni bocah punya bakat jadi hulk. Klo setiap ngambek terus berubah kan report juga. Bisa bayangkan duit yang harus kita keluarkan untuk beli baju baru. Hehehe garing ah.

Terbaik Untuk Anak

Mungkin ada perubahan hormone yang dialami Pipi Kentang. Anggap aja sifat keibuannya keluar sehingga ingin memproteksi dan memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Contohnya soal pemilihan baju dan popok. Pipi Kentang selalu milih popok yang paling mahal, impor dari Jepang. Katanya sih paling berkualitas. Tapi kalau saya pribadi sih, selama si anak ga complain ya kasih aja yang murah dulu (bayi gimana komplainnya ya).

Saya pernah dimarahin karena membelikan baju dengan bahan yang kurang halus dan katanya tidak berkualitas. Padahal harga baju Yoda hampir sama dengan kaos yang saya pakai ngantor dengan ukuran Cuma sepersepuluh baju saya!,

Wah untung gede nih produsen baju bayi. Si anak juga ga mungkin tetep kecil dan harus ganti baju baru yang lebih besar. Market value baby product sendiri diperkirakan sekitar 10,8 milyar dollar worldwide. Di Indonesia sendiri di estimasi sekitar 90 trilyun, karena ada sekitar 5 juta bayi baru yang lahir setiap tahun.

Ya sutra lah ya. Namanya juga belajar jadi orang tua, belajar membesarkan titipan Tuhan. Semoga rezeki kami dimudahkan Amiin hehehe.

 

Data market:

https://www.statista.com/statistics/258435/revenue-of-the-baby-care-products-market-worldwide/

http://ekonomi.kompas.com/read/2015/06/08/202714226/Data.Angka.Kelahiran.Menjadi.Peluang.Pasar

 

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang diajarkan seorang anggota DPR kepada Anaknya dan Tidak Diajarkan oleh Orang Lain?

Beberapa bulan lalu ada anak magang di kantor saya. Sebut saja Bunga, bukan nama sebenarnya. Manis parasnya, baru 18 tahun usianya, dan itu berarti saya ketahuan tua-nya. Haha.

Si Bunga lagi summer break kuliah dan memutuskan iseng-iseng ikutan internship. Dimana kampusnya? Cukup jauh kalo ingin didatangin, aid (dia) kuliah business di Inggris. Apakah dia punya kunci Inggris? It’s not my business sodara-sodara.

Karena si Bunga pingin belajar marketing, saya ditugaskan untuk menjadi buddy. Semacam partner kerja yang bertugas untuk melayani dan membahagiakan hidup si Bunga. Halah. Kebetulan dia juga duduk disamping saya.

“Ntar lu kalo ngomong ama dia siap-siap bawa kamus. Ngomongnya Inggeris terus” kata teman yang udah bertemu dengan Bunga. Wah-wah jangan-jangan kaya Cinta Laura nih. Yang penting jangan Lauren si waria jadi-jadian deh.

Sebagai homo Javanicus (orang Jawa) dengan nilai IELTS yang berada di garis kebodohan, saya tentu keder. Apalagi referensi belajar bahasa Inggris saya hanya berdasarkan pilem-pilem gituan yang Cuma punya dialog “oh yess”, “oh no..”, dan “Oh my God..”.

Tapi setelah bertemu, ternyata anaknya baik. Memang ngomongnya sering nge-blend antara Indo dan Inggris. Saat menulis sesuatu (kami memintanya membuat artikel untuk website), dia menulis dalam bahasa Inggris dulu baru kemudian di-translate ke bahasa Indonesia. Maklum, sekolahnya selalu di sekolah internasional yang kalau misuh pun harus dalam bahasa Inggris.

Hidup Makmur

Yang bikin istimewa: ternyata dia anak seorang pejabat tinggi di negeri ini. Salah satu anggota dewan yang terhormat. Bapaknya cukup ngetop dengan komentar-komentar kontroversial sehingga sering dijadikan bahan bully netizen. Pokoknya kalo saya sebut namanya, situ pasti pernah dengar deh.

Awalnya dia ga mau ngaku. Mungkin dia ingin down to earth dan lepas dari bayangan sang ayah.

Sebagai anak seorang pejabat, hidup Bunga serba berkecukupan. Bisa mbolang kesana-kemari. Dia cerita kalau habis liburan dari Miami. Es krim Miami? Ketahuan deh selera proletar. Ini Miami beneran yang di Amerika sana cuy.

Selain negeri paman Sam, Bunga sangat suka dengan Eropa. Mayoritas Negara-negara terkenal yang mainstream sudah ia kunjungi. Beberapa bulan lagi ia akan mengunjungi Jerman. Nyari suaka? Amit-amit, dia kesana dalam rangka kunjungan tim sepakbola putri kampusnya.

Alhamdulilah dalam hidup Bunga, agak susah menemukan kata susah. Ibarat kalau search engine, kata “hidup susah” udah ke blokir. Error forbidden 404. Jika ia bermain monopoli, maka ia mendapatkan “Kesempatan” dan “Dana Umum” terus-menerus.

Karena Bunga suka nyanyi, dapur rekaman sudah menanti. Karena Bunga suka melukis, sudah ada kolektor yang antri mengoleksi. Saat ingin magang, komisaris kantor saya langsung membukakan pintu untuk dimasuki.

Bunga sendiri sadar, kemudahan dan fasilitas yang ia terima dari orang lain tidaklah gratis. Pasti ada motif membangun relasi dengan sang Ayah. Yang bisa ia lakukan adalah memanfaatkan setiap kesempatan yang datang.

Dua Pelajaran

Dalam pengamatan awam saya, setidaknya Ayah Bunga melakukan dua hal investasi besar untuk sang anak:

Pertama, investasi untuk pendidikan. Bunga belajar di sekolah yang baik, kuliah keluar negeri, membaca banyak buku berkualitas, berkenalan dengan banyak orang hebat, dan membangun jaringan.

Ngobrol dengan Bunga tidak seperti stereotype perbincangan dengan ABG 18 tahun yang dipenuhi pembahasan alay dan kurang penting. Bunga cukup update dengan isu-isu global. Anda bisa berdiskusi tentang politik, ekonomi, real estate, atau perkembangan seni dan sejarah music klasik.

Kedua, investasi dalam pengalaman berpolitik.

Meskipun Ayahnya tidak ingin Bunga terjun dalam politik, tapi tetap saja Bunga dilibatkan. Ia duduk sebagai observer saat penyusunan strategi pilkada Jakarta. Ia ikut dalam rapat-rapat tim sukses. ia juga belajar mengendalikan dan mempengaruhi orang lain, esensi utama dalam berpolitik.

“Kamu tahu FORD principle?” Kata Bunga di dalam mobil yang saya tebengin dalam perjalanan pulang.

Saya menggeleng.

“FORD principle dipakai untuk akrab dengan orang yang baru kita kenal. F for Family, gunakan topik tentang keluarga lawan bicara kita. O untuk Occupation, kita juga bisa ngobrol tentang pekerjaan mereka. R untuk recreation. Coba tanya liburan mereka. Dan terakhir D untuk desire. Apa mimpi yang ingin dicapai?” Rupanya Bunga sudah belajar komunikasi politik dengan terlebih dahulu belajar kemampuan intrapersonal.

Apakah Bunga ingin ikutan terjun dalam politik? Anehnya, ayah Bunga justru menyarankan dia untuk menjauhi politik.

“Kalau Cuma jadi anggota DPR, supir angkot juga bisa”.

Quotes dari sang Ayah yang ia sampaikan dan membuat saya berpikir keras: jangan-jangan ini penyebab rendahnya kualitas anggota dewan kita.

Bunga membocorkan rahasia: semua statement ngawur ayahnya sengaja digunakan untuk meningkatkan popularitas. Karena ternyata, pemilih Indonesia belum rasional. Mereka tidak memilih calon dengan program kerja paling masuk akal. Mayoritas pemilih akan mencoblos orang yang dikenalnya.

Bagaimana cara agar cepat terkenal? Ciptakan skandal, keluarkan statement kontroversial, jadilah media darling, siapkan diri untuk di bully.

Bunga sudah belajar jika politik adalah sebuah panggung sandiwara raksasa. Yang perlu kita lakukan hanyalah memainkan peran sebaik mungkin. Entah jadi protagonist, atau justru antagonis. Yang pasti artis yang menjiwai perannya akan mendapat spotlight, giliran untuk tampil dalam panggung kekuasaan.

She’s smart girl. Saya berdoa Ia akan lebih baik dari Bapaknya.

sumber gambar: http://portalsatu.com/upload2/files/2017/ILUSTRASI/pol.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Nama dan Nafsu Orang Tua

Siapa nama anak saya?

Awalnya sempat terpikir untuk memberi nama yang menggema: Muhammad Yesus Gautama. Gabungan tiga manusia pilihan yang membawa pencerahan bagi kemanusiaan.

Tapi nama diatas terlalu kontroversial. Jangan-jangan nanti dicekal waktu mau jadi gubernur. Dianggap pelecehan terhadap agama tertentu. Bisa-bisa ada aksi demo besar-besaran 234 atau 222 untuk menggulingkannya.

Oke kita coret.

Karena nama itu “brand” yang melekat seumur hidup, ia harus unik. Dan celakanya hampir semua nama orang Indonesia berasal dari kata benda. Bagaimana kalau kita cari nama yang berasal dari kata kerja? Nama yang merupakan salah satu misi hidup manusia:

Mencari Kedamaian Bahagia.

Tapi koq kurang cool dan gak sekeren nama-nama anak zaman sekarang? Disaat teman-temannya dipanggil Alexis, Dafa, atau Layla, masa dia akan dipanggil Men? Trus kalo dia dicari orang, masa orang yang nyari harus bilang: “Saya mencari Mencari”. RIP geramer >.<

Nama dan Harapan

Kenapa nama bisa sangat penting?

Karena nama adalah panggilan yang melekat sepanjang hidup anak kita. Karena itu dalam islam, nama harus berarti baik. Karena nama adalah doa, maka banyak orang tua memberi nama orang yang menjadi panutan.

Di Inggris, nama laki-laki paling popular menurut Guardian bukanlah Charles, James, atau John. Tapi justru Muhammad. Setidaknya itu menurut laporan tahun 2014 lalu. Karena hampir semua muslim menamai anak mereka dengan Muhammad, Mohammed, atau Mohammad. Diseluruh dunia, diperkirakan ada 150 juta orang yang memiliki nama sesuai rasul kita.

Di kampus saya, pernah ada mahasiswa dengan nama “Thomas Edison”. Mungkin ortunya pingin punya anak secerdas penemu lampu pijar. Alhamdulilah terbukti si bocah bisa kuliah kedokteran sambil menang berbagai lomba olimpiade sains.

Ada juga yang nekat memberi nama anaknya barang-barang yang disukai. Netizen pernah dihebohkan dengan orang tua yang memberi nama anaknya “Pajero Sport”. Karena si ayah sangat nge-fans dan merasa tidak sanggup membeli mobil SUV keluaran Mitsubishi itu.

Masalahnya, nama anak bersifat top down dari orang tua, berisi harapan yang diinginkan Ibu Bapaknya.  Tapi jujur saja, belum tentu si anak setuju dengan harapan ortunya. Ada kasus dimana seorang aktivis memberi nama anaknya “Gempur Soeharto”. Nah setelah zaman Soeharto lengser, si anak yang protes akhirnya mengajukan perubahan nama ke pengadilan.

Idealnya si anak harus bisa menentukan sendiri namanya. Ia akan memberi nama sesuai 4P:

Purpose : Untuk apa ia diciptakan

Potential value : Kelebihan apa yang dimiliki

Positioning : Apa yang orang lain ingat

Philosophy: Cerita tentang makna sebuah nama

Hampir seperti artis yang menciptakan nama panggung mereka sendiri, mereka bisa menentukan identitas sesuai panggilan hati dan kompetensi inti.

Sayangnya kita tidak bisa menunggu sang anak untuk berusia 17 tahun sebelum memutuskan nama untuk mereka sendiri. Menggunakan panggilan “hei”, atau “wahai anakku” juga kurang praktis untuk kegiatan sehari-hari.

Nama Gabungan

Kembali ke anak saya. Setelah bertapa, melakukan riset, berpikir, memlilah, memilih, bermeditasi, melakukan analisa, belajar semiotika, hermeunetika, dan berdiskusi, akhirnya kami memilih sebuah nama.

Yoda. Gabungan nama saya dan Pipi Kentang. Juga berarti nama master Jedi favorit saya dalam Star Wars. Salah satu Jedi yang paling bijak dan kuat, guru dari Anakin dan Luke Skywalker.

Askha. Gabungan nama simbah Pipi Kentang. Tapi setelah saya googling, nama Askha adalah merk kripik pisang di Lampung (jeng jeng jeng jeng). Ya semoga nanti bisa ketularan jadi pengusaha sukses.

Samsu. Karena relasi hubungan kami sama-sama suka, jadinya Samsu deh. Bercanda. Itu titipan nama keluarga dari Ibu saya hehe.

Namanya:

Yoda Askha Samsu. Disingkat YAS. Karena Yes sudah terlalu mainstream.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail