Kenapa Tiket Pesawat Keluar Negeri Lebih Murah?

 

Media diramaikan dengan issue tiket pesawat yang naik gila-gilaan.

Apalagi tahun 2019 apa-apa dikaitkan dengan isu politik. Duit cepek dibuat lodeh. Capek deh.

Pendapat jika tiket ke luar negeri lebih murah daripada rute domestic ada benarnya. Tapi juga ada bias-nya.

Bias karena yang murah biasanya hanya KL/Singapura. Sedangkan yang dibandingkan biasanya rute-rute domestic padat wisatawan seperti Bali, Lombok, atau daerah Indonesia Timur.

Btw, kenapa sih tiket Jakarta – Singapura/KL biasanya lebih murah dibandingkan Jakarta- Bali/Lombok?

Sebenarnya nggak selamanya lebih murah. Kebetulan aja banyak airline yang promo (terutama si Merah).

Tapi setidaknya ada beberapa alasan kenapa rute itu sering banget banting harga.

#1 Harga avtur lebih murah

avtur – sindonews

Ini bocoran waktu saya masih belajar di salah satu airline di Malaysia. Harga avtur lebih murah disana. Karena itulah banyak pesawat yang disetting untuk punya rute gabungan domestic dan internasional.

Ada banyak Istilah. Yang sering dipakai adalah Double U.

Misal ada satu pesawat start Jakarta. Dia akan ke KL dulu. Disana ngisi full tank, lalu balik ke Jakarta. Dari Jakarta baru ambil rute domestic ke Jogja. Dari Jogja diarahin lagi ke KL (ngisi avtur lagi). Balik ke Jogja. Terus malem balik ke Jakarta.

Lebih murahnya di harga berapa? Oh tidak semudah itu Ferguso. Itu rahasia perusahaan hehe.

Kenapa avtur di Indo lebih mahal? Mungkin pejabat-pejabat di Pertamina lebih kompeten untuk menjawab.

#2 Persaingan ketat

Rute-rute ke Singapura dan Kuala Lumpur adalah jalur gemuk dengan banyak pemain. Jarak tempuh ga terlalu jauh, dan juga permintaan tinggi.

Ibarat kolam pancing, isinya Cuma sekelas ikan lele tapi buanyaakkk.

Banyak supply otomatis hukum permintaan berlaku. Daripada terbang dengan pesawat kosong, para airlines sering menjual dengan tiket murah.

Karena airlines bukan angkot yang bisa ngetem nunggu penumpang penuh (ya kali pramugari jadi kernet).

Apalagi low cost carrier mencari pendapatan bukan hanya dari tiket. Masih ada bagasi, makanan, dan berbagai service yang bisa dijual.

Prinsipnya: pesawat kosong nyaring bunyinya. Daripada kosong, yang penting harus ada penumpangnya!

Berapa pun harga tiketnya.

#3 Hub-spoke/Feeder strategy

Banyak airlines yang menempatkan KL/Singapore sebagai hub transit. Tempat berkumpulnya penumpang untuk diangkut ke rute yang lebih jauh. Karena itulah penumpang harus transit di bandara itu.

Dan anehnya, mereka terkadang rela mengorbankan harga rute pendek, untuk membuat orang tertarik terbang ke rute yang lebih jauh.

Misal KLM, full service carrier dari Belanda. Harga Jakarta-KL mereka terkadang mirip-mirip dengan harga promo AirAsia. Mereka rela men-dumping harga CGK-KUL karena pendapatan terbesar didapatkan dari rute KL ke Eropa.

#4 Tarif Batas Bawah

Penyakit utama “mahalnya” tiket domestic kita.

Adanya tarif batas bawah yang membuat airlines tidak boleh memberikan harga promo dibawah harga itu.

Mulai berlaku sekitar tahun 2014. Tujuan utamanya mulia: untuk menciptakan iklim persaingan yang sehat dan tidak ada perang harga antar maskapai.

Tapi kebijakan ini “merugikan konsumen” karena mereka takkan pernah menikmati promo super gila seperti “kursi gratis”.

Logikanya sih, klo keluar negeri aja airlines boleh promo edan-edanan, kenapa rute domestic gak boleh?

#5 Infrastructure yang LCC friendly

Salah satu alasan si Merah bisa merajai penerbangan internasional di ASEAN adalah dukungan infastruktur yang ramah kepada LCC (low cost carrier).

Tarif airport tax KLIA2 misalnya, hanya 35 RM atau 100rb-an. Berbeda dengan Soetta yang ada di angka 230rb.

Kenapa koq lebih murah?

Karena otoritas bandara Malaysia tahu jika LCC ga butuh bandara yang mewah. Yang penting mendukung operasional airlines dan tidak memberatkan wisatawan.

Bandara bagi LCC ga perlu punya lounge dari marmer. Yang penting bisa untuk transit dengan murmer. Murah meriah hehehe.

__________________________________

Begitulah bosku beberapa alasan kenapa penerbangan keluar negeri bisa lebih murah daripada kedalam negeri.

Seperti pepetah: hujan emas di negeri orang, hujan deras di negeri sendiri. Banjir bro. Hehehe.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

OKR

OKR

Apa hubungan tahun baru dengan rahasia organisasi-organisasi kelas dunia?

Tahun baru identik dengan resolusi baru. Dan ternyata mayoritas organisasi hebat pasti punya “resolusi” yang jelas.

Berbeda dengan kita yang biasanya punya resolusi tinggi tapi mimpi (saya ingin langsing contohnya!), organisasi hebat macam Google, Intel, atau Microsoft punya tujuan yang jelas dan terperinci.

Mereka memiliki framework yang lebih dari sekedar resolusi tanpa arti.

Mayoritas organisasi kelas dunia memiliki OKR.

Makhluk apakah itu OKR?

OKR adalah singkatan dari Objective and Key Result.

Berarti tujuan yang ingin kita capai, dan indicator pencapaiannya.

Diciptakan oleh bos Intel, Andy Groove pada tahun 70-an dan dipopulerkan oleh John Doerr.

Konsep ini lalu diperkenalkan John Doerr ke Google yang membuat mereka mampu menciptakan strategi hyper growth yang luar biasa. Bahkan semua Googler (pegawai Google) dipaksa untuk menuliskan OKR pribadi untuk di share ke tim-nya.

Kenapa OKR bisa berdampak signifikan?

Karena OKR akan berfungsi sebagai kompas.

Ia akan memandu kita ke tujuan dan memberi tahu jika tujuan itu sudah/belum tercapai. Tanpa OKR kita hanya melakukan rutinitas biasa tanpa kejelasan kemana kita bergerak.

Menurut Doerr, OKR yang baik harus signifikan, konkret, action oriented, dan inspirasional. Dalam artian OKR itu harus menarik untuk dituju dan punya ukuran/metrix yang jelas.

Kita ambil contoh visi/misi capres 2019.

“Terwujudnya Indonesia Maju/Adil, Makmur, Bermartabat” bukanlah contoh OKR yang baik.

Tujuan itu mungkin terdengar gagah dan keren. Tapi terlalu mengawang-awang dan kurang jelas ukuran pencapaiannya.

“Menjadi negara sejahtera dengan pendapatan per kapita $4.000” jauh lebih gampang diukur. Jika pada akhir masa jabatan pendapatan per kapita masih $3.999 maka presiden itu belum mencapai tujuan.

Karena menurut Andy Groove, indikator OKR harus bisa diukur dengan “Ya atau Tidak”.

Untuk itulah ada “color grading checklist”. Untuk mengevaluasi kinerja kita selama periode tertentu. Hijau jika kita sudah 80-100% dari target, kuning jika 50-79%, dan merah jika dibawah 49%.

Tapi tentu yang lebih penting dari sekedar penetapan tujuan dan penciptaan strategi adalah: eksekusi.

Strategi terbaik adalah strategi yang benar-benar kita jalani.

Just do it.

Selamat mencapai OKR 2019!

source: HotPMO
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Rileks

Anda ingin menjadi pemikir kreatif?

Maka berhentilah berpikir terlalu serius dan sering-seringlah main ke kamar mandi.

Itu hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan Daniel Kahneman, pemenang nobel ekonomi kepada teman-temannya, Mereka mengaku menjadi kreatif dan mendapat ide-ide segar ketika mandi.

Kita pasti diajarkan di sekolah. Archimedes berteriak Eureka dan mendapatkan inspirasi hukum Archimedes saat berendam di kamar mandi. Bukan ketika lagi mengerjakan PR matematika, atau ngitung-ngitung  cicilan KPR.

Saya sih percaya jika Archimedes lahir di Surabaya, ia akan berteriak “JANC**! Dan kita akan mengenal hukum JANC** untuk menjelaskan massa jenis benda.

Saya yakin kita sering mendapat inspirasi saat “ngebom” di WC. Atau ketika ngopi dan ngobrol-ngobrol santai dengan teman?

Dan kenapa pula kita seringkali bisa mengingat barang yang terlupa justru pada saat sholat?

Tapi kenapa ide-ide kreatif justru muncul saat otak kita tidak dipaksa untuk berpikir?

Orang pintar punya pendapat.

Saat kita ngebom, ngopi santai, atau bengong pas sholat (hayo ngaku!), kita merasa rileks.

Kondisi rileks membantu otak lebih cair dan flow. Saat itu koneksi antar neuron bisa terhubung dengan baik.

“Anda perlu memberi waktu bagi otak Anda untuk beristirahat sehingga dapat mengkonsolidasi semua informasi yang masuk” kata Daniel Levitin, professor behavioural neuroscience dari Universitas McGill.

Intinya otak kita harus beristirahat dan mengendorkan syaraf.

Ibarat mesin, otak kita perlu didinginkan sebentar agar bisa melaju dengan lancar.

Mungkin karena itu system Pendidikan di Finlandia menerapkan kebijakan unik: murid diwajibkan beristirahat singkat setelah (maksimal) 45-60 menit pelajaran.

Guru-guru juga punya kewajiban: menyampaikan materi dalam waktu singkat. Jangan terlalu padat. Nanti informasi bisa ngadat.

Lantas, bagaimana cara untuk rileks ditengah semakin sengitnya arus modernitas yang menuntut semuanya serba cepat?

Secara teori gampang. Ingatlah jika semua ini hanyalah urusan dunia.

Dan berita baiknya: dunia tidak dibawa mati.

Harus menemukan produk baru? Harus menciptakan strategy bisnis? Harus menang Pilpres 2019?

Gus Dur sudah punya tag line jawaban kehidupan kita: Gitu aja koq repot.

Dan saya percaya Gus Dur adalah seorang pemikir yang kreatif.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Banyak Orang Meminjam Kredit Online?

Minggu lalu saya mengikuti acara sosialisasi peraturan OJK. Dalam acara itu saya bertemu dengan banyak penggiat fintech dan kebanyakan berbentuk kredit online atau berbasis P2P (peer to peer).

Dari hasil ngobrol-ngobrol saya terbelalak kaget dengan bocoran angka yang mereka punya.

Salah satu fintech pelopor “kredit online” memberikan bisikan:

Ada belasan ribu debitur yang rela meminjam dengan bunga hampir 1% per hari! Bahkan disburstment mereka sudah sampai ratusan milyar dan ada nasabah yang rajin meminjam sampai 16 kali cycle!

Bunga 1% per hari cuk! Meskipun jika kita meminjam 2 juta, 1% hanya Rp 20.000. Tapi seriously?!?

Disini saya belum berbicara riba, tapi secara logika, kenapa ada orang yang rela meminjam 1% per hari?

Setelah mengulik lebih dalam, saya sampai pada beberapa hipotesa. Alasan mengapa ada orang yang rela membayar pinjaman 1% per hari.

Awalnya saya kira lebih karena factor sosio-ekonomi.

Logika saya, para peminjam online ini adalah orang-orang yang tak tersentuh bank, ga punya kartu kredit, berpenghasilan rendah, karena kepepet dan ga bisa minjem kemana-mana.

Apakah seperti itu sodara-sodara?

SALAH!!!

“Ada debitur kita yang kerja di law firm. Punya 2 kartu kredit, gajinya 14 juta”.

Karena si fintech juga ga bego. Mereka ga akan memberikan kredit kepada debitur miss queen yang bakal megap-megap untuk bayar pinjamannya (kredit macet mereka rendah karena menggunakan machine learning dan social media profiling).

Lha terus kenapa masih ada orang meminjam dengan bunga yang gila?

Konsumtif

Untungnya dalam obrolan kami ada founder fintech lain yang mencoba menjelaskan kepada saya. Kenapa ada orang yang “berbaik hati” membayar bunga 1% per hari.

Setidaknya karena dua alasan.

Pertama soal perilaku konsumtif.

Banyak orang meminjam kredit online, sebenarnya hanya untuk membeli barang-barang sekunder. Bukan kebutuhan utama.

Contohnya si karyawan law firm tadi.

Ternyata ada semacam “social rule” dimana untuk bisa bergaul dengan golongan social tertentu, kita harus memiliki barang dengan merek-merek tertentu.

Dalam hal ini, merujuk ke baju, gadget, dan prilaku jajan yang ga murah.

Logika yang dipakai: penampilan akan menunjang kesuksesan. Semakin Anda terlihat sukses, maka semakin besar peluang Anda mendapat klien atau naik jabatan.

Karena itulah si karyawan law firm punya 2 kartu kredit dan semuanya sudah over limit.

(Tapi ada juga peminjam yang ngutang karena kepepet. Misal: ga punya uang makan di akhir bulan)

Alasan kedua, banyak orang yang belum mendapatkan Pendidikan finansial dasar.

Pendidikan finansial ini bukan berarti certified wealth management atau semacamnya, tapi pengelolaan keuangan tingkat dasar.

Se-simple jika pendapatan saya 100, berapa % untuk konsumsi, berapa % untuk dana cadangan, berapa % untuk tabungan atau investasi?

Orang tanpa Pendidikan finansial akan mengiyakan pengajuan kredit selama ia merasa mampu membayar cicilannya yang biasanya mereka anggap ringan.

“Oh Cuma 300rb”.

“Nanti gajian juga lunas”.

“Ah yang penting kebeli sekarang. Bayar dipikir belakangan”

Banyak orang yang belum sadar “kesaktian” konsep time value of money dan “cost of capital”.

Intinya, berhati-hatilah terhadap rayuan “kredit mudah”.

Karena yang mudah, biasanya tidak murah.

Waspadalah! Waspadalah!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hari Bersejarah Dalam Hidup Saya

Tanggal 14 November 2018 adalah hari yang sangat bersejarah dalam hidup saya.

Hari yang ditakdirkan menjadi hari luar biasa.

Mungkin ini hari yang dijanjikan Tuhan kepada saya sebagai hambanya.

Hari perubahan.

Hari tipping point yang mengubah hidup saya selamanya.

Hari yang…

(udah intronya bangke!!)

Okay, tanggal hari 14 November 2018 adalah hari… Rabu.

Dimana saya menciptakan breakthrough, sebuah terobosan yang akan saya catat dalam “My Life Guinness Book of Record”.

Pemirsa, pada 14 November 2018 Pukul 18.14 WIB (GMT +7) akhirnya saya… makan bakso.

What?!? Menyesalkah kamu telah membaca content yang ga ada unsur gossip mesum atau perselingkuhan artis dan hanya menjadi polusi wall social media?

Tentang mamalia dengan badan obesitas yang telah memakan bakso pada 14 November 2018 Pukul 18.14 WIB (GMT +7)?

source: cookpad

Bagi sebagian orang termasuk mantan presiden AS, Barack Obama, bakso adalah makanan biasa. Sudah mandarah daging dan menjadi gastronomi tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi tidak bagi saya.

I hate bakso!

I can’t eat bakso!

Kenapa? Saya juga ga ngerti.

Hipotesisnya, karena dulu Ibu saya pernah berjualan bakso.

Karena memasaknya di dapur rumah, saya sering melihat daging giling dan adonan bakso. Entah kenapa, bentuk bakso sangat tidak menggugah selera. Ditambah bau yang ga jelas antara gabungan daging, tepung, dan bahan2 lainnya.

Intinye saya jadi eneg dan ga selera makan.

Dan itu berlanjut selama ratusan tahun hidup saya! (biar dikira tua sekalian)

Tapi pada 14 November lalu saya memesan mie ayam di salah satu bandara di Jakarta. Ndilalah koq ada baksonya.

Karena sudah memesan mie ayam seharga 58rb sayang donk kalo ga dimaem.

Sempet mikir:

Apa dibiarin aja? Tapi bakal jadi sunk cost dan opportunity loss.

Setelah membaca Misbehaving dari Richard Taller, salah satu pioneer behavioural economics, Akhirnya saya sadar jika kebencian saya terhadap bakso adalah dogma yang penuh bias.

Bakso tidak mengancam hidup saya. Saya tidak menderita karena bakso.

Bakso juga tidak pernah menciptakan kolonialisme atau imperialisme yang membuat orang lain menderita.

Bakso tidak mengenal apartheid. Ia tidak peduli SARA dari manusia yang ingin memakannya.

Kebencian saya kepada bakso mungkin adalah kebencian terhadap aroma dan suasana dapur yang berantakan karena proses memasaknya. Bakso tidak bersalah.

Dan juga setelah saya makan ya… rasanya gitu2 aja. Ga terlalu enak tapi ya ga bikin saya muntah.

Pada 14 November 2018 saya belajar jika manusia sering hidup dengan dogma dan ketakutan yang sebenarnya tidak berdasar.

Ketakutan yang terkadang berkembang jadi kebencian dan sebenarnya lahir dari bias pemikiran.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ketika Malam Berakhir dan Siang Dimulai

Seorang rabi Yahudi bertanya kepada murid-muridnya:

“Bagaimana caranya agar kita tahu kapan malam berakhir dan siang dimulai?”

Karena ada doa dan ibadah yang hanya bisa dilakukan saat malam dan siang hari, para murid menganggap pertanyaan ini penting.

Murid pertama mencoba menjawab, “Rabi, ketika saya melihat ke ladang dan bisa membedakan ladang saya dan ladang tetangga, itulah saat malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi tampak kecewa mendengar jawaban itu. Ia hanya diam.

Murid kedua berkata, “Rabi, ketika saya keluar rumah dan bisa membedakan mana rumah saya dan rumah tetangga, saat itulah malam berakhir dan siang dimulai”.

Rabi masih terdiam.

“Rabi, ketika saya melihat hewan di kejauhan, dan saya bisa tahu hewan apa itu. Entah sapi, kuda, atau domba. Maka itu adalah saat malam berakhir dan siang dimulai”. Jawab murid ketiga.

Rabi malah menggeleng-gelengkan kepalanya.

Murid keempat tak mau kalah, “Ketika saya melihat bunga dan bisa membedakan warnanya, merah kuning atau biru. Itulah watunya malam berakhir dan siang dimulai”.

Mendengar jawaban terakhir itu malah membuat Rabi marah.

“Kalian semua tak mengerti! Kalian hanya membedakan! Kalian membedakan rumah kalian dari rumah tetangga, ladang kalian dari ladang tetangga, membedakan hewan dan warna bunga. Apa hanya ini yang bisa kita lakukan? Membedakan, memisahkan, memecah dunia jadi bagian-bagian? Apa itu guna Taurat?!? Bukan, murid-muridku tersayang, bukan seperti ini. Bukan seperti ini caranya.”

Murid-murid yang kaget tersadar telah mencerna pertanyaan Rabi dengan terlalu dangkal. Mereka menyerah dan bertanya:

“Wahai Rabi, tolong beritahu kami bagaimana cara mengetahui malam telah berakhir dan siang sudah dimulai?”.

Rabi menatap wajah murid-muridnya satu persatu. Dengan suara lembut dan menyentuh, Ia berkata:

“Ketika kalian memandang wajah orang lain, dan kalian bisa melihat bahwa orang itu adalah saudaramu, maka malam telah berakhir dan siang telah dimulai”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jurus Antik Mendapatkan Istri Cantik

Waktu reuni sekolah dan si Pipi Kentang ikutan, teman-teman saya heran:

“Koq mau ama Yoga?”

Maklum, Istri saya cantik dan modis. Berbanding terbalik dengan saya yang antik dan tragis.

Teman-teman sekolah pasti tahu betapa suramnya tampang saya waktu sekolah.

Karena wajah saya memang menarik. Menarik lalat dan nyamuk untuk hinggap.

Punya bemper muka yang jauh dari kata tampan atau “enak dilihat” memang challenging. Saya ga punya competitive advantage untuk menggoda kaum hawa.

Ganteng kagak, miss queen iya.

Saya memang sering “dekat” dengan banyak wanita.

Terutama di angkot dan pasar. Dekat secara posisi ya. Bukan dekat secara hubungan asmara.

Mungkin ini bukti jika Tuhan itu adil. Lelaki jelek perlu menikah dengan wanita cantik untuk mempertahankan garis evolusi.

Kalau orang jelek menikah dengan orang jelek dan menghasilkan keturunan yang jelek, maka lama-lama manusia bisa punah.

Toh pengalaman saya menunjukkan jika lelaki gendut biasanya istrinya cantik. God bless fat people!

Disini saya akan share tips bagaimana mendapatkan istri yang cantik meski kita tidak punya tampang yang menarik.

#1 Pasang banyak cermin di kamar

freepik.com

Karena jodoh itu 100% ada ditangan Tuhan. Kita hanya perlu melakukan 3B: Berdoa… berusaha… dan berkaca… hehehe.

Tapi tenang aja, urusan muka ga terlalu pengaruh koq.

Sebenarnya jika ada kaum hawa yang mau jadi pasangan saya itu bukan karena saya keren atau gimana. Tapi udah takdirnya begitu.

Meskipun saya gantengnya ngalahin Nabi Yusuf tapi klo si doi belum jodoh ya palingan jadi mimpi basah: berasa, tapi cuma di dunia maya.

Jadi ya banyakin berdoa ya gaes! Doa-nya simple koq:

“Ya Tuhan, jika Ia memang jodohku tolong mudahkanlah.

Jika Ia bukan jodohku maka jodohkanlah”.

Simple kan?

#2 Ikuti Standy Up Comedy

freepik.com

Apa yang membedakan kita dengan lelaki lain?

Apa kelebihan saya selain kelebihan berat badan?

Dua pertanyaan diatas perlu dijawab oleh semua lelaki yang bertarung di bursa jodoh.

Intinya kita harus menemukan unique selling point yang membuat lawan jenis tertarik. Bisa tajir melintir, otak intelek yang bikin melek, atau badan atletis kaya artis bokep.

Karena harta saya Cuma bisa untuk hidup H+1, IQ pas2an, dan badan saya lebih mirip karet sintetis daripada atletis, saya memilih aspek humor sebagai senjata utama. Intinya saya harus bisa membuat Pipi Kentang tertawa!

Caranya? Banyak2 baca buku humor dan dengerin jokes receh garing. Makanya jangan heran jika tulisan ini garing banget dan tinggal digoreng tanpa perlu dijemur lagi.

#3 Berhenti Berpikir

freepik.com

Harus saya akui, buku Men Are from Mars, Woman from Venus membantu saya memahami psikologi kaum hawa.

Saya jadi tahu jika wanita hanya ingin dimengerti dan dilindungi. Tak perlu dinasehati atau diceramahi.

Perempuan butuh dukungan. Bukan sanggahan atas kesalahan.

Mereka hanya ingin didengarkan. Tanpa mendapat penghakiman.

Pria sebagainya tidak menggunakan “men’s thinking” dalam berhubungan dengan perempuan. Jika masih belum paham, coba deh baca bukunya John Gray diatas.

It will help your relationship with any woman in any situation.

#4 Menjadi Kecoa

freepik.com

Alasan utama Pipi Kentang mau saya hamili (Bahasa alusnya: menerima saya) adalah: saya mirip kecoa.

Anda tahu, kecoa adalah salah satu hewan yang mampu bertahan meskipun terkena radiasi nuklir. Mereka symbol ketahanan dan sifat pantang menyerah.

Kecoak juga punya anti biotik super yang melindungi mereka dari penyakit paling mematikan sekalipun. Karena itulah mereka bisa bertahan hidup di tempat-tempat jorok dan sangat ga “liveable” (apalagi instagramable).

Intinya, milikilah ‘Grit’ dan sifat pantang menyerah seperti kecoa!

#5 Tutup Mata, Lupakan Cantiknya

males nyari foto baru haha

Saran klise: Jangan mencintai seseorang wanita karena dia cantik.

Karena kecantikan bisa memudar.

Dan Anda tahu, memulihkan kecantikan wanita yang memudar tidak bisa menggunakan bayclin (emang warna baju).

Cintai seorang wanita karena kamu percaya dia adalah tulang rusuk yang hilang.

Coba tutup mata dan berinteraksi dengannya. Apakah kamu bahagia? Apakah kamu masih ingin menghabiskan masa tua bersamanya?

Jika Ya, maka go fight for her!

Ingatlah, seorang wanita tidak dicintai pria karena cantik. Tapi Wanita menjadi cantik karena dicintai oleh seorang pria.

#6 Ingat Ulang Tahunnya

Terakhir, seorang pria harus ingat ulang tahun pasangannya. Seperti hari ini, Pipi Kentang berulang tahun!

Tulisan ini didedikasikan sebagai hadiah disertai ucapan standard: “Sebentar lagi lu bakal mati cuk!”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mendengarkan Keheningan

Pada 1952, John Milton Cage, salah satu composer music paling berpengaruh di abad 20, menulis karya yang tidak biasa.

Komposisi yang diberi judul 4’ 33” itu berisi karya music tanpa suara selama 4 menit 33 detik! Ya, John Cage menulis sebuah lagu tanpa sebuah nada apapun yang terdengar!. Kesunyian selama 4 menit, 33 detik.

Saat diwawancari oleh Richard Kostelanetz, Cage menjelaskan maksud dari 4’ 33”.

“You know I’ve a written a piece called 4’ 33” which has no sounds oh my own making in it… 4’ 33” becomes in performance the sound of the environment”.

John Cage rupanya sudah sampai di level Zen soal suara. Dia beranggapan semua suara adalah music, dan setiap benda pasti menghasilkan suara. Termasuk saat keadaan sunyi tanpa suara itu sendiri.

4’ 33” adalah ajakan untuk menikmati keheningan.

Bisingnya Kehidupan Modern

Karya John Cage masih tetap relevan saat ini karena manusia modern hampir tidak pernah menikmati keheningan.

Rutinitas manusia modern penuh dengan suara. Biasanya dimulai dari alarm pagi. Atau bunyi ayam jantan yang mengikuti suara adzan.

Setelah itu suara TV/radio/pemutar music terus menemani kita beraktivitas.

Kita mendegarkan berita saat sarapan. Menyetel music di kendaraan. Menguping pembicaraan di tempat kerja. Menonton youtube menjelang tidur. Sampai memutar lagu slow sebagai teman tidur.

Kapan kita bisa mendegarkan suara kita sendiri? Atau pertanyaan yang lebih penting: Kenapa kita perlu mendengarkan suara kita sendiri?

Pada dasarnya manusia yang tidak mendengarkan dirinya sendiri akan tumbuh sebagai manusia yang gelisah.

Hidupnya butuh pengakuan dari luar tanpa pernah mendengar kedalam.

Ia butuh pembenaran. Entah pembenaran secara social, atau pengakuan dari sisi material.

Mereka memiliki sesuatu karena orang lain menghargai itu. Memilih sesuatu karena manusia lain menginginkan itu. Hidup dengan cara tertentu karena masyarakat umum menganggapnya berharga.

Senyum Bahagia

Jika Anda berlatih meditasi, konon salah satu latihan yang penting untuk dikuasai adalah: mendengarkan nafas sendiri. Kenapa hal ini penting?

Karena ini adalah proses mencapai pratyahara. Kondisi sadar terhadap diri sendiri dan tidak terpengaruh oleh kondisi luar.

Itu berarti mengerti jika kebahagiaan dapat dimiliki hanya dengan bermodal senyuman, dan penerimaan terhadap diri sendiri.

Meditasi Yoga senyuman sungguh ceria:

Duduklah, rileks.

Tarik nafas dan senyumlah

Bahagialah, damailah

Mari kita lakukan yoga senyuman

Senyumlah. Senyum lagi. Senyumlah seakan-akan Anda tercerahi.

Bahagia, penuh rahmat, ceria.

Orang yang sadar diri tidak akan merasa kesepian ditengah keheningan. Karena mereka tetap bisa mendengarkan suara kesunyian.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Saya Semakin Malas Menulis Catatan Harian?

Sudah beberapa tahun ini saya semakin malas menulis catatan harian.

Padahal waktu awal-awal menulis tahun 2006, semangat banget.

Terinspirasi dari orang2 keren macam Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, atau Anne Frank.

Dalam angan-angan saya, catatan harian itu akan menjadi fosil perjalanan hidup. Yang akan berharga mahal saat saya jadi miliarder nanti.

Judulnya sengaja saya bikin jadi doa: “Catatan Harian Seorang Manusia Kaya”.

Tapi sampai sekarang alhamdulilah koq ga kaya-kaya juga haha.

Waktu zaman kuliah, setiap hari saya menulis 2 halaman.

Setelah lulus, turun jadi 1 halaman karena lebih sibuk nulis CV lamaran.

Waktu jadi kacung korporasi. Semakin jarang menulis setiap hari.

Mimpi jadi penulis semakin samar. Kalah dengan urusan pekerjaan yang semakin sangar. Proyek buku pun semakin tak terdengar hehe.

Tapi jika dianalisa, sebenarnya ada dua penyebab kemalasan saya menulis catatan harian.

Pertama soal bahasa.

Mulai 2010 saya menggunakan bahasa Inglis untuk nulis diary.

Padahal grammar saya ancur banget. Ngertinya cuma dialog film: “Oh yes, Oh no, Oh My God. Harder-deeper-faster”.

Penyebabnya waktu itu ada seminar di Fisipol. Pengisi acaranya alumni HI yang sukses keliling bumi. Dia bercerita pengalaman belajar ngomong bahasa bule: yang penting dicoba wae.

Lagipula ini zaman digitalis, mau ga mau saya kudu bisa sepik-sepik Inglish. Biar pun mix-mix ala Jaksel. Ora popo.

Gara-gara pake Inglish ala-ala, saya ga bisa bebas menuliskan ekspresi. Mungkin karena kosakata saya limited edition. Koleksinya terbatas hehe.

Tapi penyebab utama saya malas menulis sesungguhnya adalah: rutinitas saya mudah ditebak.

Hidup cuma bangun, olahraga, sarapan, pergi kerja, meeting, traveling kesana-sini, main ama anak istri, lalu tidur untuk memotong umur keesokan hari.

Tak terlalu banyak “intellectual sparkling” yang terjadi.

Beda saat waktu kuliah.

Pagi hari saya bisa bergumul dengan cultural studies, siangnya membedah pemikiran kaum kapitalis, malamnya membaca logika orang atheist.

Dulu sering sekali muncul pertanyaan random dikepala.

“Mengapa orang bisa ketawa? Apakah kita bisa melihat Tuhan? Kenapa ada orang miskin dan kaya?”

Sekarang pertanyaan yang muncul adalah:

“Bagaimana cara menaikkan market share? Gimana caranya beli rumah? Apa yang terjadi dengan Yoda 5 tahun lagi?”

Sepertinya hidup saya bergerak semakin banal.

Untungnya hidup kita tidak kekal.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Rahasia Selama di AirAsia

Tak terasa sudah 4 tahun saya “belajar” di AirAsia (ga pake spasi “Air Asia” ya!), banyak cerita yang saya alami. Sekarang, di last day saya nongkrong disini, ada 4 cerita yang harus saya bocorkan, sekalian iklan lowongan haha.

Tentang ID90: Rahasia jalan-jalan hemat

Di AirAsia setiap allstars (sebutan untuk staff) pasti mendapat benefit ID90. Apa itu? ID90 berarti diskon 90% dengan menunjukkan ID karyawan dan keluarga intinya. Ga salah lihat? Iya beneran 90%! Kesemua rute! Ini yang membuat saya males check-in di socmed kalau sedang di bandara. Lha wong hampir setiap minggu!.

Dengan ID90 ini kamu bisa ke Bali/Jogja/Surabaya pp Cuma 300rban. Atau ke Singapura/KL/Bangkok pp sekitar 700-900rb an. Selain itu kita juga dapat jatah coupon 16 point. Untuk penerbangan dibawah 4 jam, biayanya 1 point, sedangkan diatas 4 jam, ongkosnya 2 point. 16 point berarti saya bisa pulang pergi Jakarta-Tokyo 8x setahun secara gratis!

Dan nikmat tiket mana yang engkau dustakan?

Tentang Duty Travel: Kerja Sambil Jalan-jalan

Duty travel artinya perjalanan dinas. Tapi berbeda dengan perjalanan dinas PNS yang biasanya nyaman dan penuh rombongan, duty travel di AirAsia sangat efisien. Klo bisa pulang tektok, ga usah nginep hotel (saya sering ke SIN atau KL dateng pagi pulang malam). Klo cukup sendiri, ga perlu ngajak orang lain.

Total saya sudah duty travel sekitar 300 kali, menginap di hotel 90 hari, dan bisa halan-halan gratis ke 8 negara. Duty travel pertama: 3 hari setelah masuk kerja. Saat itu ada konferensi pariwisata di Singapura.

Duty travel “paling sengsara”: Kunming, Tiongkok. Saya pergi sama Bayu. Anak sales yang baru pertama kali keluar negeri. Sengsaranya gimana?

Waktu kita landing ke Kunming, karena ga bisa bahasa China and Ibu-ibu driver taksinya ga bisa bahasa Inggris, kita Cuma nunjukin brosur tempat event-nya. Ibu-nya langsung tancap gas dan membawa kita ke pinggir kota.

Karena su’udzon, saya iseng-iseng cek google maps (pake roaming karena google di blokir). Wah koq kita diarahin ke tanah kosong antah berantah? Langsung saya minta driver untuk putar balik dan menunjukkan lokasi Gmaps. Setelah ngobrol pake bahasa tarzan, akhirnya kami diantar ke tujuan sesuai Gmaps.

And ternyata dong, kita salah alamat! Kami menunjukkan exhibition center yang lama, sedangkan acara kami harusnya di exhibition center tempat baru. Jadi karena Google ga update di China, “area kosong” di peta sekarang sudah berubah jadi exhibition center kelas dunia. Dan berarti awalnya Ibu taksi udah bener!.

Penderitaan belum berakhir sodara-sodara! Setelah nyegat taksi lagi dan berhasil sampai di tempat pameran untuk registrasi, waktunya check in ke hotel. Tapi naik apa? Rata-rata orang bawa mobil, taksi yang lewat semuanya penuh, mau install uber/Didi ga bisa verifikasi.

Akhirnya kami jalan kaki 2 km sampai nemu halte bis. Karena ga tau rute dan semua pake bahasa Sun Go Kong, kami asal naik. Eh malah kesasar and ga nyampe-nyampe! Karena lelah, kita putuskan turun dan alhamdulilah ada taksi lewat.

Besoknya, karena trauma ribet pulang, kami sepakat menggunakan layanan bike-sharing. Cuma modal aplikasi dengan biaya 1 yuan. Akhirnya kami ngontel 10 km untuk pulang setiap hari. Lumayan olahraga.

Urusan makan juga gitu. Karena takut ga halal, saya putuskan Cuma makan telur rebus. Jadinya setiap sarapan saya makan 8 butir telur sekalian untuk makan siang dan makan malam. Waktu di kamar, tiba-tiba tercium bau telur.

“Sorry gw kentut ya Bay..”

Tentang Tulisan viral ke Tony Fernandez

Waktu itu facebook baru meluncurkan aplikasi untuk korporat bernama workplace. Ini semacam jaringan komunikasi internal. Dengan workplace, AirAsia ingin membuat komunikasi antar departemen lebih cair, dan interaksi antar allstars lebih hidup.

Nah, waktu sosialisasi, ada utusan dari KL yang buka booth. Kita dapat merchandise kalau install, register, dan upload foto profil pake foto yang keliatan mukanya. Ga boleh pake foto artis bokep atau hewan lagi selfie. Terus saya penasaran, “Kenapa harus pake profil picture?”

“Because Tony said so…”

What a stu**d reason. Karena prinsip saya: kita harus melakukan sesuatu karena hal itu baik bagi organisasi, bukan karena disuruh atasan.

Udah deh, saya bikin tulisan yang mengkritisi budaya “boss said” ini. Judulnya “Tony said” dan saya posting di Workplace. Langsung meledak. Bos saya yang lagi regional meeting di Bangkok harus menjelaskan “emang Yoga anaknya kaya gitu” ke team regional. Saya juga jadi berdebat ama Tony di workplace soal budaya ini.

Tapi banyak juga yang memuji. Commercial director China langsung merepost-nya dan memposting ke group manajemen. Director commercial regional langsung men-japri dan memberika assurance “you can talk to me directly”.

Saya jadi terkenal. Ada bule  regional yang tiba-tiba ngajak selfie waktu dia meeting di Jakarta.

“So this is famous Yoga!”. Yo wes, intinya saya ga jadi dipecat haha.

Tentang Baju ihram Untuk ke party

Terakhir cerita soal baju. Di AirAsia tak ada seragam (untuk back office), karena itu saya lebih memilih kaos dan celana jeans. Sebenarnya ada “dress code”. Senin warna putih, selasa batik, jumat merah, dll tapi saya ga pernah ngikutin hehe.

Bahkan saya pernah pakai baju gamis yang bikin kaget orang sekantor. Tapi yang bikin heboh saat annual party 2017 lalu. Seperti biasa, ada kontes berhadiah jutaan rupiah. Sempat terpikir untuk sewa kostum. Setelah menghitung probabilitas dan return on investment (membandingkan kemungkinan menang, sewa, dan hadiah), ternyata cukup masuk akal juga.

Masalahnya, kostum yang saya inginkan sudah out of stock semua (karena last minute). Terus kira-kira kostum apa ya yang unik?

Karena temanya Wonderland dan waktu itu saya sedang baca buku tentang Holy Land (Yerussalem), pagi-pagi kepikir: kenapa ga pake baju ihram aja ya? Toh ongkosnya nol karena sudah ada.

Jadilah ada penampakan manasik haji di salah tempat nongkrong di daerah SCBD. Siapa tau ada yang mau mabok jadi insyaf, yg mau zinah jadi tobat, dan yang mau makan jadi kenyang (ya kali). Alhamdulilahnya, saya terpilih jadi top 10 best costumer dan dapat duit beberapa juta! Yey, alhamdulilah.

(Ga usah pake gambar biar ga dikira melecehkan ya!)

*********

Yang paling bakal saya kangenin ya orang-orang keren didalamnya. Disini lingkungannya fun, terbuka, dan banyak orang pinter buat tempat belajar. Saya ga mungkin lupa saat abis kemalingan. Teman-teman langsung patungan untuk memberikan HP dan uang santunan. Makasih banyak ya guys!.

Mau gabung kesini? Yuk apply mumpung ada lowongan. Kalo kamu marketer gaul yang ngerti marketing strategy, digital, data analytic, punya leadership dan suka mbolang keliling dunia, coba aja daftar. Dijamin ga bakal nyesel hehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail