#97 Curse of knowledge: Kenapa perempuan sangat sulit dipahami

Anda tahu lagu “selamat Ulang tahun”, “Lihat Kebunku”, atau “Burung Kakaktua”? Sekarang mari lakukan percobaan sederhana. Coba nyanyikan lagu itu menggunakan ketukan tangan (ga boleh pake suara mulut yaa) dan minta orang lain untuk menebak judul lagunya.

Jika kita menyanyikan 20 lagu terkenal, kira-kira berapa persen lagu yang yang bisa ditebak dengan benar? Apakah 50% atau bahkan 70%? Hei, ini lagu popular yang diketahui anak hingga orang tua.

Kenyataannya, hanya 3% lagu yang bisa ditebak! Setidaknya itu hasil percobaan dari Elizabeth Newton dalam disertasi tahun 1990: “Overconfidence in Communication of Intent”. Pengetuk lagu merasa lagu-lagu yang ia nyanyikan dalam hati adalah lagu terkenal sehingga ia yakin orang lain juga akan mengenalinya.

Eksperimen sederhana yang dilakukan peneliti Stanford itu mengingatkan kita tentang curse of knowledge, kutukan pengetahuan. Apa itu? Kutukan pengetahuan itu gampangannya begini: Kita tahu apa yang tidak diketahui orang lain, tapi kita seringkali merasa orang lain tahu, apa yang kita tahu.

Contoh curse of knowledge banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Buku panduan barang yang sangat teknis tanpa ilustrasi yang jelas, iklan dengan konsep abstrak yang bikin bingung penonton, Professor yang menjelaskan mata kuliah dengan banyak istilah alien, hingga perempuan yang sering Cuma ngasih kode untuk dipahami lelaki.

Curse of knowledge berbahaya karena menciptakan distorsi komunikasi dan kegagalan proses penyampaian pesan. Studi kasus paling klasik adalah saat kaum hawa ngambek dan ketika ditanya “Kamu kenapa?” mereka cuma menjawab “Aku gak papa…” sambil ngasih sinyal dalam bentuk non verbal (mata sayu, mulut cemberut, dan tatapan mata kosong).

Jawaban “Aku gak papa..” adalah sandi curse of knowledge tingkat tinggi yang perlu dipecahkan lewat riset dalam bentuk disertasi.

Untuk mengurangi curse of knowledge ini maka kita dapat melakukan dua hal. Pertama, kita harus menyesuaikan gaya komunikasi dengan profil pendengar. Ngobrol tentang investasi dengan seorang financial planner tentu akan berbeda gayanya dengan seorang tukang ojek.

Dan yang kedua, gunakan bahasa komunikasi yang singkat, jelas, dan mudah dipahami. Kita harus berasumsi jika pihak pendengar tidak menguasai istilah khusus dari topic pembicaraan yang ingin kita sampaikan.

Sedikit pesan untuk para perempuan: please speak your mind. Curse of knowledge seringkali membuat hubungan percintaan berakhir tragis hanya karena para pria tidak mampu memahami inti komunikasi yang sedang disampaikan oleh wanita.

Karena tidak semua lelaki paham arti dari “Aku gak papa..”.

http://2.bp.blogspot.com/-BaSDVxSO65k/VsauOi2LeyI/AAAAAAAABnQ/RJxpO4-vFTY/s1600/B7Ja-67CAAAvoQ-.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Centurion: Apa Rahasia Hidup Selama 100 Tahun?

Pada suatu hari Darren Hardy, pendiri majalah Success, bertemu dengan penumpang di pesawat. Ia bercerita jika punya kakek Centurion (orang yang berumur 100 tahun lebih), yang masih hidup sehat. Manusia zaman sekarang berumur 100 tahun? Wow banget.

Hardy penasaran dan ingin tahu kenapa si kakek mampu hidup selama itu. Apa rahasianya? Apa pelajaran hidupnya? Karena penasaran, Hardy menjadwalkan wawancara one on one dengan sang kakek.

http://2.bp.blogspot.com/-ojTLWPXzcNY/UL6g0G77naI/AAAAAAAAD9E/O7i77tBvGmg/s1600/100Years-300×270.gif

Awalnya si kakek menolak. Ia membenci publisitas. Tapi ia meyakinkan jika pengalaman hidupnya akan membantu orang yang masih muda. Si kakek akhirnya setuju. Mereka juga membuat kesepakatan jika sang kakek akan menuliskan pelajaran hidup yang didapatnya di atas kertas. Dalam bayangan pengarang buku Compound Effect itu, akan ada bertumpuk-tumpuk pelajaran hidup yang bisa dibagi.

Tibalah hari wawancara. Ternyata si kakek sangat kaya. Ia tinggal di rumah seperti mansion lengkap dengan petugas security. Padahal awalnya si kakek hidup miskin. Juga tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ini yang membuat Hardy semakin penasaran tentang rahasia si kakek.

Ia diterima di perpustakaan megah yang berisi berbagai macam buku. Mulai dari klasik hingga modern. Ternyata si kakek pembaca yang rajin. Meski tidak sekolah tinggi, ia terus belajar hingga masa tua.

Setelah berbasa-basi, Hardy bertanya ke pokok permasalahan. Mana daftar yang ingin dibagi?

Oh iya, kata si kakek yang kemudian merogoh sakunya. Ia menyerahkan selembar kertas. Ada sebaris kalimat tertulis disitu. Hanya ini? Tanya Hardy terkejut.

“Ya hanya satu lembar ini”.

Semua kebijaksanaan dalam 100 tahun hidupnya, hanya berupa satu kalimat?

“Iya, jika kamu mengikuti saran saya, hanya ini nasihat yang bisa saya berikan”.

Apa yang ditulis Centurion tadi?

“Only a few things matter, stick to it, and master it”.

Hanya ada beberapa hal yang penting, fokuslah, dan kuasai hal-hal penting itu.

Law of Critical Things

Saran si kakek centurion awalnya terdengar aneh. Tapi sesungguhnya sangat fundamental. Karena ternyata hidup mayoritas manusia dipusingkan dengan memikirkan banyak hal yang tak penting, dan melupakan sedikit hal yang sebenarnya benar-benar penting.

Bahasa gampangnya, mayoritas manusia menderita dua penyakit amnesia:

  1. Kita tidak tahu tujuan hidup kita
  2. Kita tidak tahu critical aspects apa saja yang berpengaruh besar dalam mencapai tujuan itu

Contohnya?

Coba lihat kehidupan kita. Apakah kita tahu LIFE GOAL yang penting dalam hidup kita? Apakah kita tahu apa yang ingin kita capai 5 tahun lagi? Apakah kita tahu warisan peradaban apa yang ingin kita tinggalkan untuk anak cucu kita?

Mayoritas dari kita beraktivitas hanya karena rutinitas. Kita tidak tahu kenapa kita melakukan apa yang biasanya kita lakukan. Rata-rata orang bekerja hanya untuk mencari uang dan membayar tagihan. Kita sering lupa jika setiap manusia pasti punya tujuan hidup yang istimewa.

Karena tidak memiliki LIFE GOAL yang jelas, kita jadi tidak bisa membedakan mana hal yang penting dan tidak penting. Kita tidak bisa mengidentifikasi “critical factor”. Apa itu? Pada dasarnya critical factor adalah aspek yang berpengaruh lebih penting dibandingkan hal lain.

Misalnya life goal kita adalah menjadi Chef kelas dunia, maka critical factor yang harus kita kuasai adalah pemilihan bahan makanan, teknik memasak, dan juga skill presentasi makanan. Bagaimana dengan ilmu manajemen keuangan restoran? Itu skill penting tapi tidak critical bagi seorang Chef. Ia bisa mendelegasikan kebutuhan skill itu dengan merekrut seorang akuntan.

Jika tujuan hidup kita adalah menjadi CEO kelas dunia, maka skill komunikasi, leadership, dan problem solving harus lebih diasah daripada kemampuan kalkulus atau matematis. Jika ingin jadi dokter paling canggih ya focus belajar ilmu kedokteran dan bisa mengesampingkan pelajaran tentang kesenian.

Karena itulah jika Anda perhatikan, semakin tinggi jenjang pendidikan maka topic yang dipelajari semakin sedikit. Pelajarannya semakin sempit tetapi pembahasannya semakin dalam. Karena sesuai pesan Centurion: Only a few things matter, stick to it, and master it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Applikasi Wajib Selama di Tiongkok

Bepergian ke negeri tirai bambu memang perlu persiapan extra. Selain butuh visa khusus, infrastruktur digital negeri Tiongkok memang agak berbeda. Disini Google, facebook, dan banyak situs popular lainnya tidak bisa diakses karena adanya “Great Firewall”.

Pemerintah China memang agak ketat dalam mengawasi netizen-nya. Jangan harap bisa seenaknya bikin meme yang menyindir pejabat di weibo (social media asli China, rada mirip gabungan FB dan twitter). Bisa-bisa ter-cyduk aparat setempat hehehe.

no_power
free website upload

Tapi tenang saja, China tetap China. Negeri dengan kebudayaan berumur ribuan tahun yang tetap mempesona. Untuk membuat traveling kita semakin mudah dan menyenangkan, sebaiknya kita menyiapkan 5 applikasi dibawah.

Ingat, karena Google tidak bisa diakses, jangan harap bisa mendownload aplikasi ini di mainland ya. Kecuali jika Anda menggunakan jaringan internet hasil roaming.

Oke, langsung saja install 5 aplikasi ini sebelum berangkat ke negeri China.

#1 Baidu translator

Punya IELTS score 10? Mohon maaf kecanggihan situ sepik-sepik Englis ga akan mempan disini. Mayoritas orang tidak berbahasa Inggris. Orang China yang bisa ngomong Inggris biasanya terbatas pada mereka yang mengenyam pendidikan tinggi.

baidu
free website upload

Tapi tenang koq, dengan bantuan Baidu translator kendala bahasa ini bisa teratasi. Cukup ketikkan apa yang Anda ingin katakan dan voila, keluar aksara mandarin-nya. Baidu juga sudah dilengkapi dengan teknologi voice recognition. Dia dengan canggihnya bisa mendeteksi omongan mandarin yang cepet dan ribet sekalipun.

Pokoknya fardhu ain untuk install aplikasi ini jika ingin ngobrol ama orang local.

#2 VPN

Untuk mengakali “great firewall”, kita bisa menggunakan VPN. Apaan sih itu? Virtual Private Network (bener ga?) boleh dibilang seperti kedok. Kita bisa menyembunyikan lokasi akses internet kita sehingga seolah-olah mengakses dari luar negeri. Saya pribadi menggunakan Opera VPN dan so far baik-baik saja.

http://www-static-blogs.operacdn.com/multi/wp-content/uploads/sites/2/2016/03/opera-vpn-ios-landscape.jpg

Dengan VPN, “great firewall” bisa ditembus dan semua situs-situs maksiat di daftar internet positif, bisa diakses. Gunakan dengan bijak hehehe.

#3 Ofo bicycle/bike sharing sejenisnya

China juga dikenal dengan negeri sejuta sepeda. Padahal saya yakin jumlah sepeda di China ada ratusan juta haha. Dan enaknya lagi, sudah ada layanan bike sharing. Apaan itu? Pada dasarnya sama kaya sepeda rental. Tapi bedanya Anda bisa meletakkannya dimana saja setelah memakai. Enak kan? Banget.

http://cn.allchinatech.com/wp-content/uploads/2016/10/ofo-1ofos-Weibo.jpg

Tinggal cari sepeda yang diparkir, scan menggunakan QR code yang ada di applikasi, dan kunci terbuka secara otomatis. Jika sudah dipakai, bebas diparkir dimana saja dan kunci lagi via aplikasi. Tarifnya murah. Antara 1-2 yuan (1 yuan = 2000 rupiah) sekali naik tergantung lama pemakaian.

#4 WeChat

Aplikasi chatting paling sakti di TIongkok. Wechat bukan hanya untuk ngegosip atau nyebar isu ga jelas. Mereka sudah berkembang jadi e-commerce, market place, alat pembayaran, hingga media promosi yang sangat efektif (ada 10 juta akun resmi third party yang ada di wechat).

https://www.geeky-gadgets.com/wp-content/uploads/2014/03/WeChat.jpg

Anda bisa membeli tiket pesawat, makanan, melakukan pembayaran dan sejuta manfaat lainnya lewat aplikasi ini. Ketika berkenalan dengan orang China, pasti mereka akan meminta nomer wechat.

#5 Didi Chuxing

Uber/Grab/Go-jek versi China. Jumlah drivernya fantastis: 150 juta mobil terdaftar di 350 kota! Ini yang membuat Uber ngos-ngosan di pasar Tiongkok dan mengalami kerugian hingga 1 milliar USD! Sayangnya saya gagal waktu registrasi karena nomor telpon yang bisa didaftarkan maksimal 11 angka. Akan lebih baik jika Anda menggunakan nomer local agar bisa menghubungi/dihubungi driver.

http://www.valuewalk.com/wp-content/uploads/2016/06/Didi-Chuxing-logo.png

Sebenarnya masih banyak aplikasi lain yang memudahkan hidup kita di Tiongkok, tapi saya merasa 3 masalah utama saat datang kesana adalah bahasa, transportasi, dan komunikasi. Kelima aplikasi diatas akan meringankan hidup kita.

Jadi, kapan berkunjung ke Tiongkok?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 Traveling Effect: Kenapa Traveling Terbukti Membuat Kita Bertambah Kaya

Boleh percaya boleh tidak, manusia bisa memiliki peradaban maju seperti sekarang karena nenek moyang kita doyan jalan-jalan.

Setidaknya itu salah satu hipotesa Yuval Noah Harari dalam karya monumentalnya: Sapiens. Menurut Pi-Ej-Di (pengucapan Ph.D zaman Now) asal Israel itu, ada suatu masa ketika nenek moyang kita menjadi seperti si bolang: gemar berpetualang.

Zaman old itu sekitar 45.000 tahun lalu dimana sapiens generasi awal belum mengenal agrikultur atau revolusi industry. Mereka harus hidup dengan berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lain hanya untuk bertahan hidup.

Tapi ternyata kebiasaan menjelajah ini menjadi metodologi paling ampuh untuk mendapatkan ilmu baru. Karena mereka harus mampu mengembangkan kemampuan analisa dengan cepat untuk menjawab pertanyaan yang menyangkut hidup dan mati.

Makanan apa yang aman dimakan? Apakah ada bahaya mengancam? Apa yang harus kita lakukan saat udara dingin? Kemana saya harus pindah setelah ini?

Rumusnya ternyata sederhana:

Tempat baru = pengalaman baru = pengetahuan baru.

Traveling membantu nenek moyang kita untuk mengembangkan pohon pengetahuan yang pada akhirnya mendorong perkembangan kemampuan berpikir manusia.

Seiring kemajuan peradaban, semangat traveling berkembang menjadi semangat penaklukan. Manusia menjelajah untuk menemukan dan mendapatkan wilayah baru. Dan ternyata para imperium besar menginvestasikan sumber daya mereka untuk dua kata sederhana: terra incognita, Tanah tak dikenal.

Pada tahun 1519 Spanyol mengutus pelaut 39 tahun yang ingin mengelilingi bumi dan memutus rantai perdagangan rempah: Ferdinand Magellan. Meskipun ia terbunuh di Philipina, kapal itu, Armada de Molucca, mampu kembali ke Spanyol pada 1522.

Perjalanan Magellan berdampak besar dan mematahkan berbagai mitos: bumi datar dengan ujung dunia, legenda monster laut, peta navigasi jadul yang masih banyak “blank”-nya, dan banyak pengetahuan yang membuat Spanyol mampu menjadi penguasa dunia hingga ratusan tahun kedepan.

Jika kita tarik ke zaman now maka Traveling = pengetahuan baru = kekayaan baru.

Ada banyak bukti orang kaya yang dapat inspirasi dari jalan-jalan. Johny Andrean membuka bread talk gara-gara main ke Singapura. Hendy Setiono dapat ide usaha kebab saat mbolang ke Qatar, sejak itu lahir kebab Baba Rafi. Bahkan Jack Ma pernah menyebut jika trip singkat-nya ke Australia saat muda adalah “perjalanan pembuka mata”.

Sesakti itu kah #efektraveling? Sampai Prof Rhenald Kasali mewajibkan mahasiswanya untuk “get lost” diluar negeri?

Penelitian dari Godart et al (2014) dalam Journal Academy of Management menunjukkan jika professional yang pernah bekerja diluar negeri cenderung lebih kreatif daripada yang tidak. Riset lain dari Zimmermann dan Neyer (2012) menemukan jika traveling membuat mahasiswa subjek penelitiannya lebih extrovert dan terbuka terhadap hal-hal baru.

Kenapa? Karena traveling memberikan kita sudut pandang berbeda dan memaksa kita keluar dari zona nyaman yang ada. Saat traveling kita belajar menjadi minoritas, dan itu berarti harus menerima nilai-nilai yang tak sama.

Jika masih muda, siapkan paspormu, kemasi kopermu, tentukan tujuan petualanganmu. Ingatlah petuah Mark Twain:

“Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.”

Waktunya ngerasain #fektraveling mumpung ada #KursiGratis
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#92 Zeigarnik Effect: Kenapa Terkadang Menunda Itu Baik

Pada tahun 1927, sekelompok mahasiswa dan professor makan di restoran. Mereka memesan banyak makanan, dan anehnya: si pelayan tidak mencatat apapun!

Mereka menduga pasti ada pesanan yang keliru atau kurang. Tapi diluar dugaan, mereka mendapat apa yang mereka pesan tanpa ada kekurangan satu menu pun.

Setelah selesai, rombongna itu keluar. Salah satu mahasiswa psikologi, Bluma Zeigarnik, baru sadar jika selendangnya tertinggal. Buru-buru ia kembali ke restoran dan bertemu pelayan super tadi.

Anehnya, sang pelayan tidak mengenalinya. Ia juga lupa dimana Zeigarnik duduk. Kenapa pelayan tadi bisa lupa? Padahal ia bisa mengingat semua pesanan, bukankah itu berarti memori yang bagus? Zeigarnik penasaran dan bertanya kenapa pelayan bisa mengingat semua pesanan tapi sekarang seperti menderita amnesia:

“Saya mengingat semua pesanan di kepala, hingga pesanan itu dihidangkan”. Si pelayan membocorkan rahasianya.

Zeigarnik tersadar, otak manusia bekerja seperti itu. Kita akan mengingat tugas yang masih harus dikerjakan, dan melupakannya begitu selesai. Seperti computer, semua “unfinished task” akan terekam di sistem dan akan terhapus begitu statusnya “done”.

Serangkaian percobaan akhirnya melahirkan hipotesa tentang Zeigarnik effect: manusia akan lebih mudah mengingat pekerjaan yang tidak selesai (diinterupsi) daripada pekerjaan yang selesai. Ini menjelaskan kenapa ada perasaan yang mengganjal jika kita belum menyelesaikan sesuatu, dan merasa plong setelah melakukannya.

Beberapa riset bahkan menunjukkan jika pelajar yang menginterupsi proses belajarnya dengan kegiatan lain, akan mampu mengingat lebih baik daripada pelajar yang belajar tanpa adanya gangguan.

Jika kita tahu terkadang menunda menuntaskan sebuah tugas bisa berdampak baik, apakah itu berarti lebih baik kita tidak segera menyelesaikan tugas yang ada di hadapan kita? Untuk tugas-tugas kecil, sebaiknya kita jangan menunda. Tapi untuk tugas yang membutuhkan kreativitas, lebih baik kita tidak segera menyelesaikannya.

Riset yang dilakukan Adam Grant, pengarang buku laris Original, menunjukkan jika para “original thinker” punya kebiasaan menunda. Dalam artian jika deadline-nya 7 hari, mereka akan mulai mengerjakan di hari ke-2, membiarkannya tak selesai hingga hari ke 5, dan menyelesaikannya hingga hari ke-7.

Kenapa? Karena Zeigarnik effect membuat tugas yang tak selesai akan selalu kita ingat. Dan sambil menunda menyelesaikannya, para original thinker berpikir keras untuk menciptakan hal yang unik.

Secara bawah sadar otak mereka berusaha menciptakan koneksi antar disiplin ilmu untuk menghasilkan sesuatu yang baru. Ditambah adrenalin kreativitas yang mengucur deras saat menjelang deadline, otak manusia dipaksa untuk menghasilkan solusi yang tak terduga.

Mulai sekarang jika Anda sedang mengerjakan proyek yang membutuhkan kreativitas, jangan buru-buru menyelesaikannya. Hasilnya bisa medioker. Coba kerjakan, lalu tinggalkan beberapa saat. Ketika Anda kembali untuk menyelesaikan-nya, Zeigarnik effect akan memberikan persepsi yang berbeda.

https://media.licdn.com/mpr/mpr/AAEAAQAAAAAAAA2eAAAAJGUzOWMxYWEzLTZiMGUtNDE2Yi04OTc4LTM5ZWJmMTg2YzAxYw.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#96 Fallacy of single cause: Kenapa kita harus berpikir multi dimensi

Kenapa banyak perusahaan ritel yang tutup?

Pertanyaan diatas sempat menjadi perbincangan hangat netizen beberapa waktu lalu. Banyak pihak yang berkomentar dan memberikan analisisnya.

Sebagian pengamat menyoroti shifting perilaku belanja masyarakat yang berpindah ke online. Ada pengamat yang menyalahkan lesunya daya beli masyarakat. Ada juga yang menyoroti inefisiensi peritel dalam melakukan ekspansi.

Mana yang benar? Semuanya bisa benar. Yang jelas, hanya “menyalahkan satu factor” dapat menyebabkan kita terperangkap dalam fallacy of single cause. Kecenderungan untuk menyederhanakan permasalahan.

Karena pada kenyataannya, masalah yang terjadi cenderung kompleks dan multi dimensi. Penutupan gerai pada perusahaan A bisa memiliki motif yang berbeda dengan penutupan gerai perusahaan B.

Hampir sama dengan pertanyaan: “Kenapa Jakarta sering banjir?”. Hanya menyebut “buruknya drainase” takkan menyelesaikan masalah karena masih ada aspek tata kota, perilaku warga, dan infrastruktur social yang sudah sangat padat ditengah lahan yang sempit.

Otak kita menyukai “single cause reasoning” karena lebih sederhana dan mudah dimengerti.

Kenapa ada krisis 1998? Jawaban single reasoning-nya: Karena ulah spekulan valas yang menghajar nilai tukar rupiah. Padahal masih ada permasalahan politik dan social yang membuat krisis tahun 98 mampu melahirkan reformasi.

Kenapa banyak koruptor di Indonesia? Jawaban gampangnya: karena banyak pejabat korup. Padahal ada aspek lemahnya pengawasan hukum, berbelitnya sistem birokrasi, dan juga sistem meritokrasi yang masih berjalan setengah hati.

Point-nya: biasakan untuk berpikir multi dimensi dan jangan hanya melihat dari satu sisi.

Contohnya jika Anda adalah seorang CEO yang baru saja meluncurkan produk baru. Setelah satu bulan, produk itu tidak laku. Apakah Anda akan menyalahkan tim marketing karena gagal mencapai target penjualan?

Sadarlah tentang jebakan fallacy of single cause. Duduk dengan tim Anda dan rincikan semua factor yang menyebabkan produk itu tidak terserap oleh pasar. Bisa promosi yang kurang, feature yang kurang greget, user interface yang membingungkan, dan lain-lain.

Rinci semua factor, dan bagi kedalam dua jenis: yang bisa kita ubah (harga, design, promosi, dll) dan yang tidak bisa kita ubah (kondisi ekonomi, nilai tukar, dll). Setelah itu lakukan test dengan merubah factor-faktor yang bisa mempengaruhi pembelian. Misal: mengubah harga, mengubah metode marketing, mengubah design produk, dll.

Jangan terjebak dengan mindset yang meminjam istilah filsuf Herbert Marcuse: one dimensional man. Kebiasaan hanya melihat satu sisi akan membuat Anda jadi kaum sumbu pendek yang ngamuk jika orang lain bilang bumi itu bulat.

Percayalah jika tidak pernah ada penyebab tunggal dalam setiap fenomena yang terjadi.

http://www.chronicle.com//img/photos/biz/photo_2914_landscape_650x433.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Remote Parenting: Parenting Zaman Now?

 

Sudah 2 bulan ini saya jadi anggota PJKA. Sebutan untuk orang yang kerja di kota A, tapi punya keluarga yang menanti di kota B. Disebut PJKA karena punya traveling habit yang khas: Pulang Jumat Kembali Ahad.

Sebenarnya banyak teman-teman yang melakukan hal yang serupa. Di kantor saya banyak yang berasal dari Negara tetangga dan mereka pasti pulang kampung ketika weekend tiba. Tapi rata-rata tidak memiliki anak bayi yang harus diawasi.

Dua bulan ini saya jadi weekend frequent flyer rute Jakarta – Yogyakarta. Setahun lagi BIG membership saya sepertinya bukan lagi platinum, tapi akan mencapai level uranium hehehe. Karena kebetulan Pipi Kentang pingin tinggal di Jogja, sedang saya masih jadi primata Ibukota.

Kenapa milih Jogja? Karena kalo Amerika susah dapat green card, dan kalo Jerman belum dapat visa pengungsi hihi. Sebenarnya Yogyakarta dipilih karena lebih manusiawi, dan yang pasti living cost yang lebih terjangkau di hati. Memang benar jika Jogja berhati mantan.

Ini membuat pertemuan saya dengan Yoda hanya kurang lebih 45 jam seminggu. Waktu yang terbilang singkat untuk membangun bonding dengan si bocah. Apalagi perkembangan bayi sangat cepat. Saya khawatir jika minggu ini dia baru bisa ngomong “uu.. uuhhh” dan tau-tau minggu depan dia sudah bisa ngucapin ayat kursi. Kan saya yang kebakar.

Remote Parenting

Jujur saja saya kurang paham dengan efek remote parenting seperti ini. Hampir semua buku-buku parenting yang saya baca (baru juga baca 1-2 buku hehe) kurang membahas masalah remote parenting: menjadi orang tua jarak jauh.

Apakah saya masih bisa menjalankan role model sebagai Bapak dan tidak Cuma menitipkan sperma untuk membuahi sel telur? Apakah saya bisa mengajarkan “pelajaran hidup” (aduh bahasanya..) kepada Yoda meski jarang bertemu? Apakah Yoda nanti tidak akan memanggil saya Oom?

Saya pernah membaca buku klasik Ken Blanchard yang terbit tahun 1980: The One Minute Manager. Ide yang ditawarkan sungguh menarik: Anda tidak perlu menghabiskan terlalu banyak waktu mensupervisi anak buah. Pertemuan-pertemuan singkat yang efektif jauh lebih bermanfaat daripada meeting berjam-jam yang ga jelas.

Dalam bisnis, Anda bisa melakukan remote management: bebas mbolang kemana saja dan tinggal meminta report dari jauh sambil sekali-sekali ditengok. Apalagi zaman sudah canggih. Misalnya Anda lagi ngupil di Brazil dan pingin tau sales di Singapura, cukup akses dashboard lewat handphone dan sudah ketahuan hasilnya.

Masalahnya, anak bukan perusahaan. Tidak ada dashboard untuk memonitor perkembangan psikologis mereka. Mengandalkan metrics fisik untuk mengukur kebahagiaan juga bisa bias, tambah tinggi badannya belum tentu tambah bahagia hidupnya. Apalagi perkembangan spiritual. Gimana cara remote tracking-nya coba?

Yang bisa saya lakukan sekarang adalah memaksimalkan semua pertemuan yang ada. Setiap ketemu pasti saya puas-puasin cium pipinya sampe tembem hehehe. Tak ketinggalan juga menulis beberapa pertanyaan hidup yang mungkin akan ditanyakan Yoda suatu hari nanti. Sambil berpikir plan B untuk berganti karier yang lebih memberikan kebebasan finansial dan juga family time berkualitas. Doain ya! Hahaha.

Oh ya, ada cerita atau saran dari Papa-papa PJKA lainnya?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Misteri Tentang Bayi yang Masih Belum Saya Mengerti

Untuk Yoda yang merasakan kehidupan dalam satu bulan,

Whats up broo

#1 Kenapa bayi memiliki ekspresi imut dan lucu?

Jangan-jangan itu adalah sebuah bentuk self defense mechanism untuk bertahan hidup. Ia membuat manusia dewasa merasa iba dan mau merawatnya. Hampir sama dengan binatang yang mengembangkan tanduk, taring, dan organ intimidatif untuk menegaskan kekuatan dan bahaya yang mengancam predator. Keimutan menjelma jadi senjata tak kasat mata.

#2 Jika bayi merasa bahagia hanya dengan air susu ibunya, kenapa manusia dewasa tidak pernah merasa puas dengan apa yang mereka punya?

Merawat bayi mengajarkan kita: betapa sederhananya hidup manusia. Asal cukup susu, popok yang kering, dan suhu yang hangat, bayi sudah merasa bahagia. Anehnya syarat menjadi bahagia semakin meningkat seiring bertambahnya usia.

Banyak manusia dewasa yang cukup sandang, pangan, dan papan tapi tetap merasa menderita. Kenapa kita tidak bisa merasa bahagia dengan syarat yang sederhana?

#3 Saat bayi, manusia tidak bisa menghidupi dirinya, kenapa setelah dewasa ia merasa paling berkuasa?

Bayi sapiens adalah salah satu bayi paling rapuh dibandingkan makhluk lainnya. Dalam hitungan jam bayi kuda bisa berlari, dan dalam hitungan hari anak ayam sudah bisa mencari makan sendiri.

Seorang sapiens kecil harus disuapi makanan bertahun-tahun sebelum bisa bertahan hidup mandiri. Dan anehnya, saat mereka besar para sapiens bertingkah seperti penguasa jagat raya. Apakah mereka tidak ingat ketika mereka masih balita?

#4 Seorang bayi laki-laki menangis paling keras, kenapa setelah dewasa ia malu jika berurai air mata?

Lelaki jangan cengeng. Sebuah ungkapan yang aneh menurut saya. Karena menangis itu tanda kecerdasan emosional yang sehat. Banyak karya sastra terinspirasi dari tangisan. Seperti “Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Menangis”-nya Coelho atau sajak “Maka Pada Suatu Pagi” dari Sapardi:

Maka pada suatu pagi hari dia ingin sekali

menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu

Dia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik

dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja

sambil menangis dan tak ada orang bertanya ‘Kenapa?’

#5 Kenapa kita tidak bisa mengingat masa-masa bayi kita sendiri?

Bayi “menderita” infantile amnesia, dan baru bisa merekam memori umur 3-4 tahun. Mungkin Tuhan menciptakan amnesia itu agar otak kita overload informasi, dan cukup mengingat hal-hal penting saja.

Masalahnya banyak anak yang songong dengan orang tuanya karena efek infantile amnesia. Mereka tidak ingat perjuangan orang tua-nya dalam melahirkan dan membesarkan dirinya.

Jika kita bisa mengingat masa-masa bayi kita, saya yakin semua akan tambah sayang kepada orang tua kita. Karena kita tahu betapa repotnya mengganti popok, lelahnya menyusui, dan capeknya menggendong untuk mengajak tidur. Masih tega ngomong kasar ke orang tua sendiri?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#95 Cherry Picking : Kenapa kita hanya melaporkan hal baik

Saya pernah diminta membuat report marketing campaign yang dilakukan bersama partner. Kami menginvestasikan uang dengan porsi 50:50 untuk membeli spot iklan di beberapa Negara Asia. Jumlahnya cukup besar untuk dibelikan lapangan bola di Meikarta hehehe.

Hipotesisnya: akan terjadi kenaikan penjualan saat periode promosi. Kenyataannya? Jualan malah turun cuk!

Apakah saya akan melaporkan buruknya penjualan? Jika saya melakukannya, sang partner akan berpikir dua kali untuk bekerja sama lagi di tahun depan.

Apakah saya akan memanipulasi data? Bagi saya, berbohong dengan data adalah dosa besar yang setara dengan memperkosa hewan peliharaan sendiri. Najis tralala untuk dilakukan.

Lalu, apa yang dapat saya lakukan untuk dapat terlihat sukses tanpa berbohong? Itulah guna cherry picking. Kita mengambil fakta partial yang menunjukkan kesuksesan kita. Terinspirasi dari petani yang hanya mengambil buah manis dan masak, serta meninggalkan yang masih muda dan masam.

Dalam kasus saya, ternyata data nationality Negara bersangkutan mengalami peningkatan. Itu berarti konsumen local meningkat. Sedangkan turunnya penjualan secara overall disebabkan penurunan pembeli nationality asing.

Saya dapat dengan bangga membagi hasil campaign: “Kita mendapat kenaikan penjualan XX% untuk konsumen dengan nationality XX”. Saya senang, mereka senang. Win-win solution.

Cherry picking adalah usaha melihat angle positif dari sebuah peristiwa, dan sering dipakai untuk berjualan. Misalnya saat Anda memesan hotel, gambar-gambar yang ditampilkan adalah hasil cherry picking. Karena prinsipnya sederhana: Tunjukkan yang baik, sembunyikan yang jelek.

Jika penjualan perusahaan Anda turun secara keseluruhan, coba laporkan lini usaha baru yang bertumbuh. Banyak complain dari pelanggan? Sundul 1-2 pujian yang Anda terima. Ingin terlihat sukses meski perusahaan terus merugi? Ceritakan efisiensi yang telah dilakukan.

Bagaimana agar terhindar dari cherry picking yang dilakukan orang lain? Biasakan untuk tidak hanya melihat report summary highlight. Kalau perlu lakukan drill down data mentah dan lakukan analisa berdasarkan pertanyaan sederhana.

“Apa big story yang sedang terjadi? Apakah kesimpulannya benar? Adakah data yang dilaporkan secara parsial?”

Jangan-jangan data yang terlihat bombastis adalah hasil cherry picking yang manis.

http://cummingstrengthandfitness.com/wp-content/uploads/2016/12/no-cherry-picking.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#94 The Power of Niat: Ternyata Motivasi Sangat Berarti

Dalam cerita sufi disebutkan ada sebuah pohon angker yang menjadi tempat menaruh sesajen. Mendengar ini, seorang laki-laki sholeh ingin menebang pohon itu. Menggunakan kapak, ia berangkat dan bertekad untuk memotong-motongnya menjadi kayu bakar.

Ditengah jalan ia bertemu dengan setan yang menyamar menjadi manusia. Setan bertanya:

“Hai Abu Ahmad, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku ingin menebang pohon keramat di desa tetangga”.

“Kenapa kamu ingin menebangnya?”

“Aku takut pohon itu menjadi sumber kesyirikan”.

Setan mencegat jalanan yang ingin dilalui. Karena tidak mau minggir akhirnya mereka berkelahi. Setelah melalui pergulatan, si setan bisa dikalahkan.

Setan yang babak belur meluncurkan tipus muslihat lain:

“Wahai fulan, aku tahu engkau orang yang saleh, tapi hidupmu kekurangan. Jika kau mau menunda niatmu menebang pohon itu, setiap hari engkau akan menemukan 2 keping perak dibawah bantalmu. Pulang dan periksalah jika tidak percaya”.

Mendengar tawaran itu, sang lelaki bergeming. Bayaran 2 keping yang bisa ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari terbersit dikepala. Ia bisa semakin khusuk beribadah dengan uang itu.

Akhirnya ia ingin membuktikan ucapan si setan. Ia lalu pulang dan benar-benar menemukan uang perak. Keesokan harinya, ia tidak menemukan uang perak “jatah harian” yang dijanjikan.

“Dasar setan penipu! Akan kutebang pohon itu”.

Ditengah jalan lagi-lagi ia dihadang oleh setan. Kini ia tersenyum. Lelaki yang masih marah kembali berkelahi dengan setan. Tapi kali ini dengan mudah setan bisa mengalahkan sang pemuda.

“Apa yang terjadi? Kenapa kau bisa tambah kuat?” tanya si pemuda.

“Sesungguhnya aku tidak bertambah kuat. Tapi niatmu yang melemah. Kemarin engkau ingin menebang pohon itu karena Allah, sekarang kau ingin menebangnya karena tidak mendapatkan uang perak”.

Niat dan Motivasi

Niat, dalam hal ini motivasi ternyata berperan penting pada prestasi. Banyak penelitian dan teori menegaskan hal ini.

Dalam manajemen, pegawai yang bermotivasi cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi (Robescu: 2016). Hal yang sama juga berlaku dalam pendidikan. Murid dengan motivasi dan determinasi tinggi, cenderung mampu menyelesaikan studi (Stevanovic:2014).

Percobaan yang dilakukan Robert Nida (2015) pada anak menunjukkan hal yang serupa. Ada 72 anak berusia 4 tahun diminta bermain untuk mengingat 10 mainan acak. Ada tiga grup dengan perlakukan berbeda: incidental, intensional, motivasional.

Di grup incidental, si anak tidak diberi intruksi apa-apa dan langsung diminta mengingat daftar mainan yang mereka pegang beberapa saat sebelumnya. Grup kedua, intensional, peneliti di awal sesi sudah berkata: “Coba ingat-ingat mainan yang kamu mainkan nanti”.

Sedangkan di grup ketiga, peneliti memberikan motivasi: mainan yang mereka ingat berhak untuk mereka simpan. Grup mana yang anak-anaknya memiliki kemampuan mengingat lebih baik? Sesuai hipotesis, grup motivasional secara rata-rata mampu mengingat lebih banyak dibanding grup lainnya.

Karena sesuai dengan inti cerita sufi: motivasi yang kita cari akan menentukan hasil yang kita temui. Dan anehnya, manusia akan mendapatkan hasil sesuai motivasi mereka. Setidaknya itu prinsip expectation theory dari Victor Vroom yang percaya jika:

“Intensity of work effort depends on the perception that an individual’s effort will result in a desired outcome”

Karena itu jika mengalami stagnansi dalam hidup, coba pertanyakan niatnya.

Jika bisnis sedang lesu, coba tanyakan lagi: apa motivasi kita dalam berbisnis?

Jika karier sedang mentok, coba gali lagi: apa yang ingin kita cari dalam bekerja?

Jika buntu dalam studi, coba perdalam lagi: apa yang ingin kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki?

Jangan-jangan motivasi kita terlalu banal dan dangkal, sehingga tidak mampu menghasilkan karya monumental. Karena sesuai pesan Nabi: amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya.

source image https://ishfah7.files.wordpress.com/2017/03/niat.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail