Tetangga di Jakarta

“Yoga kemana aja? Koq ga pernah shubuhan di musholla?” Tanya tetangga saya, Haji Fakih saat berpapasan di pagi hari.

“Iya pulang malam terus Pak hehe”. Jawab saya ngeles.

Saya memang pulang kantor habis maghrib, biasanya baru meluncur setelah isya. Terima kasih atas macet dan jauhnya jarak, saya baru bisa masuk rumah sekitar jam 10 malam.

Bisa langsung tidur?

Jangan harap. Masih ada proyek pribadi yang harus dilakukan. Membaca, menulis, riset kecil-kecilan, dan yang paling penting: push rank mobile lejen haha.
Tapi pertanyaan Haji Fakih menyadarkan saya. Untuk apa menjadi manusia hebat jika sholat berjamaah aja masih sering telat?

Pertanyaan beliau adalah pertanyaan terbaik seorang manusia kepada sesamanya. Jauh lebih baik dari pertanyaan standar macam, “Sekarang kerja dimana? Omset usaha udah berapa? Kapan nikah?” Halah.

Saya beruntung punya tetangga seperti Haji Fakih. Karena tetangga yang baik adalah tetangga yang saling tolong menolong dalam kebaikan. Dan itu juga berarti mengingatkan jika kita melakukan kesalahan.

Dalam ajaran agama saya, tetangga adalah saudara terdekat kita. Bakan seorang muslim bisa termasuk dzalim jika ia bisa hidup kenyang sedangkan tetangganya masih kelaparan.

Seperti cerita dari Abdullah bin Mubarak. Ia bermimpi mendengar malaikat membicarakan seorang dari Damsyik yang amal hajinya telah diterima, padahal orang ini tidak berangkat ke Mekah. Kenapa? Karena ia menyumbangkan 300 dirham tabungan hajinya untuk tetangganya yang sedang kelaparan dan kesusahan.

Dan ga cuma Haji Fakih yang baik. Bu Haji Pucung sering membantu saya beres-beres rumah. Bahkan Bi Itun sering menyapukan halaman saya. Ketahuan ya saya males bersih-bersih. Mungkin karena itu banyak nyamuk di rumahku (lagu generasi kolonial, bukan milenial).
Saya jadi bersyukur tinggal di kampung di selatan jakarta. Meski hanya berjarak 500 meter dari mall Aeon dan apartemen Southgate yang sedang dibangun dengan penuh kemewahan, lingkungan saya penuh dengan kehangatan. Meski bangunan rumah kami penuh dengan kesederhanaan.

Ya Rabbi, berkatilah tetangga-tetangga kami, dan orang-orang yang sudah membaca tulisan ga penting ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Titanic Syndom. Kenapa hanya Paranoid yang Bertahan

15 April, 106 tahun yang lalu.

Sebuah kapal raksasa berlayar mengarungi lautan Atlantic. Merupakan salah satu kapal terbesar yang pernah dibuat umat manusia di masa itu. Dibangun di Belfast, Irlandia, oleh White Star Line, perusahaan ekspedisi guna menghubungkan Erope ke Amerika.

Dengan panjang 268,8 meter, dan lebar 28,2 meter. Kapal itu memiliki berat 46.000 ton, dan memiliki kecepatan hingga 40 km/jam. Itu berarti rute dari Southampton ke New York bisa ditempuh dalam waktu kurang dari seminggu.

Target pasarnya kelas menengah yang mendambakan kenyamanan dalam perjalanan. Tiket termurah dijual mulai dari 3 pounds, atau setara 298$. Sedangkan first class dibrandrol 870 pounds atau 83.200$. Semewah apa fasilitas yang ditawarkan? Kapal itu Dilengkapi kolam renang, perpustakaan, bar dan restoran kelas atas, lapangan squash, gym, bahkan pemandian ala Turki.

Insinyur perancangnya, Thomas Andrew, harus menciptakan inovasi untuk bisa menciptakan kapal sebesar  dan semewah itu. Lumbungnya memiliki 16 kompartemen kedap air. Kapal ini dirancang untuk mampu mengapung meski 2 kompartemen tengah, atau 4 kompartemen depan kebanjiran air.

Karena itulah White Star Line menjualnya dengan tagline yang fenomenal: “Unsinkable ship”. Kapal yang tak bisa tenggelam. Mungkin karena di design takkan tenggelam, ia hanya memiliki sekoci terbatas.

“Control your Irish passions, Thomas. Your uncle here tells me you proposed 64 lifeboats and he had to pull your arm to get you down to 32. Now, I will remind you just as I reminded him these are my ships. And, according to our contract, I have final say on the design. I’ll not have so many little boats, as you call them, cluttering up my decks and putting fear into my passengers.”

Pesan J. Bruce Ismay, direktur dari White Star Line.

Akhirnya hanya ada 20 sekoci yang disediakan. Seharusnya mampu mengangkut 1.178 orang dari 2.223 total penumpang ketika mengalami kecelakaan saat menabrak gunung es. Pada kenyataannya, hanya 710 orang yang berhasil naik ke sekoci. 1514 nyawa lainnya harus tenggelam ditengah dinginnya lautan es.

Sebelum menghantam gunung es, sebenarnya sudah ada pesan yang dikirimkan dari Mesaba, kapal uap yang sedang berlayar didekatnya. Tapi operator kawat Jack Phillips dan Harold Bride tidak meneruskan pesan itu ke kapten kapal karena sibuk mengirimkan pesan-pesan dari penumpang.

Titanic Syndrom

Saya sengaja mengenang peristiwa karamnya Titanic karena sebuah pemikiran sederhana: Titanic syndrom masih terus ada.

Syndrom ini menyerang dengan tanda-tanda sederhana:

  1. Sangat percaya dengan keadaan status quo yang kita jalani
  2. Mengabaikan sinyal-sinyal perubahan yang merupakan “gunung es tak terlihat”

Coba perhatikan organisasi-organisasi besar yang karam. Mereka sangat percaya dengan adagium “too big too fail”. Terlalu besar untuk gagal. Semua rencana bisnis yang dilakukan bagaikan blue print Titanic: besar, kokoh, tanpa celah, takkan bisa “tenggelam”.

Padahal selalu ada bahaya tak terlihat. Gunung es yang tak terlihat di depan mata. Bisa berbentuk disrupsi industi, perubahan pola konsumsi, atau pergeseran teknologi.

Karena itulah perencanaan terbaik bukanlah strategic planning tanpa celah kegagalan. Tapi adaptive planning yang penuh perubahan, ketidakpastian, dan opsi melakukan “Plan B to Z”.

Meminjam buku klasik karangan CEO Intel Andrew Grove: Only Paranoid Survive. Perusahaan yang mampu bertahan adalah perusahaan yang mampu melihat kehancuran perusahaannya sendiri dan mempersiapkan masa depan.

Sebaik apapun rencana kita diatas kertas, selalu ingatlah tragedi Titanic: Tak ada yang sempurna di dunia, tak ada kapal yang tak bisa tenggelam.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa yang Terjadi Jika Kita Menguasai Data Orang di Facebook?

https://timedotcom.files.wordpress.com/2016/01/facebook-logo-002.jpgDunia dihebohkan dengan kebocoran data facebook. Ga tanggung-tanggung man, 87 juta data bocor dan digunakan untuk kepentingan orang ketiga. Eh, emangnya siapa yang selingkuh?

Bocor ban bisa ditambal, bocor genteng bisa dipakein No Drop, bocor kepala bisa berdarah (jelas lah..).

Lha ini yang bocor adalah data pengguna facebook yang notabene-nya sangat mementingkan privasi. Pasar modal langsung merespons dengan penurunan saham yang membuat kekayaan kawan lama saya, Mark Zuckerberg, berkurang 4,9 miliar dollar[1].

Kawan lama maksudnya: kalo saya ketemu Mark Zuckerberg, dia akan berpikir lamaaaaaaaaa banget mencoba mencari saya di ingatan kawan-kawannya. Karena capek, akhirnya dia sadar kalo kita memang belum pernah bertemu hehehe.

Saya tidak akan menyinggung kasus Cambridge Analytica. Silahkan baca di forum-forum BB21+. Cerita singkat yang saya tahu: ada aplikasi yang tujuan awalnya untuk riset prilaku digital. Aplikasi ini justru bisa mengakses data teman dari orang yang menjadi responden. Data ini dipakai untuk kampanye capres.

Yang lebih ingin saya tulis adalah, se-powerfull apa sih facebook? Apa yang terjadi jika kita curhat, pamer foto, dan bikin status alay di facebook? Dan seperti judul artikel ga penting tapi enak dibaca ini: apa yang bisa kita lakukan jika menguasai data di facebook?

Facebook is not social media, it’s social advertisement

Harus diakui, facebook adalah salah satu sosial media paling populer di planet ini. Tercatat memiliki 2,13 miliar pengguna aktif. Ada 300 juta foto baru yang di upload setiap hari, dan setiap detik, ada 5 akun baru mendaftar[2].

Dulu waktu awal-awal kemunculan facebook tahun 2007, saya masih belum mengerti dari mana mereka dapat uang. Saya pikir facebook adalah social media yang memberikan jasa gratisan dan tidak menghasilkan keuntungan.

Sekarang kantor saya membayar jutaan dollar untuk beriklan di facebook. Salah satu kerjaan saya adalah bikin iklan di facebook. Sampai banyak orang yang dibayar hanya untuk fesbukan sambil nyambi jadi admin page/brand tertentu.

Emang sesakti itukah facebook?

Jujur saja, iya. Facebook adalah salah satu media iklan terbaik. Sangat efektif dan efisien untuk berjualan dengan return of marketing investment yang cucok meong endang mbambang.

Kenapa facebook bisa menjadi media iklan yang sangat efektif?

Karena mereka memiliki data personal user-nya.

Ya data-data kita ini. Yang kita isi-isi sendiri lewat status, foto, click, like, comment, atau interaksi digital lainnya.

Facebook tahu mood kita, kadar ke-alay-an kita, hobi kita, lokasi kita, apa yang kita sukai, karakteristik teman-teman kita, sampai konten-konten yang sering kita konsumsi (biasakan clear history browser ya guys!). Pokoknya semua aktivitas kita akan di simpan oleh facebook untuk di formulasi dan pada akhirnya di monetisasi kepada pengiklan.

Tujuan facebook sangat mulia: bagaimana mengirimkan pesan (iklan) yang tepat kepada orang yang tepat (calon pembeli).

Karena itulah yang doyan buka situs e-commerce akan ngelihat iklan2 e-commerce, atau yang suka traveling akan sering melihat promo maskapai (btw AirAsia ke Jepang pp Cuma 1,6 juta!). Algoritma facebook akan tahu jika kita adalah lelaki, maka probabilitas melihat iklan pembalut adalah 0,0001%.

Kabar baiknya, apapun jenis bisnisnya, kita bisa menggunakan facebook untuk berjualan.

Misalnya Anda berbisnis “rendang crispy”. Udah ga zamannya lagi bawa rendang di jok sepeda motor, lalu muter-muter keliling kota sambil teriak-teriak “Rendang Crispyyy… Selalu di hatiiiii”. Itu marketing jaman old, yu now.

Cukup duduk manis didepan laptop, lalu buat business account di facebook. Setelah itu bikin iklan dengan gambar menarik. Targetkan ke orang di daerah pasar potential yang punya interest topic yang relevan seperti food, rendang, Indonesian food, dan sebagainya.

Anda Cuma perlu membayar biaya iklan yang tidak terlalu mahal (dihitung per CPM – cost per 1000 impression iklan tayang) dan biarkan algoritma facebook pixel yang bekerja mencarikan pembeli potensial.

Data mining is gold mining

Kembali ke pertanyaan judul, apa yang terjadi jika kita memiliki data-data pengguna facebook?

Seharusnya Anda akan jadi kaya, sangat-sangat kaya. Tentu jika tahu cara menggunakannya. Seperti kasus kampanye presiden di Amrik, pemilik data-data itu bisa menciptakan komunikasi yang relevan sesuai karakteristik orang yang ingin di target.

Ibaratnya mau PeDeKaTe ke lawan jenis, mengetahui data-data gebetan kita akan meningkatkan success rate untuk membuat si dia terkesan. Jika tahu si doi weton-nya kliwon dan sukanya di air, kita bisa langsung mengajaknya jalan-jalan ke Pantai dan bukan ke mall.

Karena sekarang adalah zaman informasi, maka data memegang peranan kunci. Memiliki akses ke data jutaan orang sama dengan nelayan yang memiliki peta pergerakan ikan dibawah laut. Ia bisa tahu harus menangkap ikan yang mana, kapan, dimana, dan umpan apa yang harus dipakai dan disukai si ikan.

Seperti pesan bang Napoleon Bonaparte: war is 99% information. Semakin banyak informasi yang Anda expose di facebook, semakin banyak analytics yang mereka dapat yang pada akhirnya membantu pengiklan seperti saya untuk berjualan.

Karena itulah sekarang saya jarang mengupdate status atau pamer foto hehehe.

Reference:

[1] http://www.scmp.com/news/world/united-states-canada/article/2137935/facebook-falls-pressure-mounts-zuckerberg-over-data

[2] https://zephoria.com/top-15-valuable-facebook-statistics/

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Untuk Apa Manusia Hidup?

Dear Yoda di tahun 2035,

Jika kamu benar-benar membaca tulisan ini pada tahun 2035, berarti umurmu sudah 17 tahun. Semoga kamu masih hidup ya hehehe..

Umur 17 tahun berarti kamu akan memasuki masa pra-dewasa. Dan itu berarti secara kognitif kamu sudah bisa melakukan memprosesan informasi tingkat tinggi, atau melakukan analisa atas objek yang bersifat abstrak. Bahasa sederhananya: kamu sudah bisa mikir.

Tulisan ini diketik di atas pesawat XT 7688 jurusan Jakarta-Surabaya, 23 Maret 2018 disaat kamu genap berumur 6 bulan dan mulai makan MPASI (Makanan pengganti ASI). Sekarang tujuan hidupmu sama dengan 6 miliar manusia ketika bayi: bagaimana caranya bertahan hidup.

Karena itulah kamu tidak bisa menahan lapar dan menangis saat haus, takut saat ditinggal Ibumu yang merupakan sumber makanan, dan lebih memilih susu daripada cek senilai 10 juta dollar.

Tapi di tahun 2035, seharusnya kamu memiliki tujuan hidup yang lebih kompleks, transedental, dan personal. Apakah itu?

Jujur saja, saya tidak tahu.

Personal Purpose

Alasan saya mengajakmu mempertanyakan tujuan hidup sebenarnya sederhana: karena tidak semua manusia tahu tujuan hidupnya. Mereka tidak tahu apa yang mereka cari sebelum mati.

Dan ini sangat berbahaya.

Manusia yang tidak memiliki tujuan hidup seperti kapal laut dengan kapten yang tidak tahu akan berlayar kemana. Mereka akan diombang-ambingkan lautan, dan bisa terdampar ke daratan yang tidak mereka inginkan.

Mereka tidak pernah bertanya:

Kenapa kita dilahirkan di dunia?

Apa misi yang sedang kita jalani?

Warisan apa yang ingin kita tinggalkan?

Apa makna penciptaan manusia dan seluruh alam raya?

Meskipun setiap manusia, bisa memiliki tujuan hidup yang berbeda.

Jika kamu bertanya kepada ahli biologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah bertahan hidup dan mempertahankan kelangsungan spesies kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli psikologi, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah menemukan aktualisasi diri kita.

Jika kamu bertanya kepada ahli agama, mereka akan menjawab jika tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Mana yang benar? Yang pasti tujuan hidup manusia begitu kompleks dan bisa merupakan gabungan alasan diatas atau alasan lainnya.

Saya tidak akan memberikan kuliah panjang soal tujuan hidupmu. It’s your life. Go find it by yourself. Saat kamu membaca tulisan ini, belum tentu saya masih bernafas.

Saya hanya meminta, mulailah bertanya.

Pertanyakan Tuhanmu, negaramu, duniamu, pandangan hidupmu. Ciptakan badai dalam dirimu.

Mulailah menggali informasi. Dari buku, diskusi, video, pod cast, dan segala sumber inspirasi. Ciptakan kontradiksi.

Jangan 100% percaya dengan apa yang dikatakan orang lain kepadamu. Bacalah kitab suci agama lain, dengarkan argumen orang Atheist. Saya tidak ingin kamu beragama Islam hanya karena keluargamu beragama Islam.

Dan yang paling penting: mulai pikirkan tujuan hidupmu. Jika kamu bingung, coba bayangkan saat kamu nanti mati, dan Tuhan bertanya:

“Hey Yoda, ngapain aja lu selama di dunia?” atau jika kamu nanti tidak percaya Tuhan (nanti kita harus diskusi panjang tentang ini), cukup pikirkan apa yang orang lain kenang ketika mengingat namamu.

Yang jelas, seperti kutipan meme-meme bijak: Tujuan dari hidup adalah untuk hidup dengan tujuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Manfaat Skripsi yang Akhirnya Saya Ketahui

 

Saat kuliah, kita pasti pernah menulis skripsi. Dan hampir di setiap penelitian, ditulis dengan urutan yang seperti ini:

Bab 1: Rumusan masalah, hipotesa, dan metodologi

Bab 2: Landasan teori

Bab 3: Hasil penelitian

Bab 4: Simpulan dan saran

Jujur saja, saya ga ngerti kenapa harus mengikuti pakem seperti itu. Apa itu “rumusan masalah”? Masalah koq dicari-cari bukannya diselesaikan. Apa pula itu hipotesa? Ada berapa macam metodologi? Kenapa harus mengikuti metodologi yang pernah dilakukan orang lain di jurnal-jurnal ilmiah?

Dosen-dosen saya dulu tidak pernah menjelaskan apa manfaat pola pikir sistematis seperti itu (apa saya yang ga dengerin ya..). Dulu saya tahunya ya karena pakemnya udah gitu, tinggal ngikutin aja. Pokoknya udah shoheh dan ilmiah.

Penerapannya dalam kehidupan sehari-hari? Ntar aja dipikiran, yang penting bisa bantu kamu lulus kuliah. Titik.

Ini menciptakan jarak antara dunia akademis dan dunia praktis. Ilmu hadir sebagai teori tinggi yang mengawang-ngawang tanpa perlu dipraktikkan dalam kehidupan yang kekinian.

Tapi dengan bertambahnya usia dan pengalaman, saya percaya jika pola pikir sistematis ala skripsi adalah kunci rahasia untuk menguasai dunia.

Big Why

Pendidikan zaman saya dulu adalah pendidikan model industrialis. Siswa dianggap sebagai tanah liat. Tugas lembaga pendidikan adalah membentuk tanah liat itu sesuai kebutuhan industri. Kalau pasar butuh vas, ya dibentuk vas. Kalau butuh kendi, ya dibentuk jadi kendi.

Karena itulah fakultas kedokteran akan mengajarkan ilmu medis, dan fakultas ekonomi akan ngajarin muridnya tentang bisnis. Ga akan ada ceritanya mahasiswa komunikasi diajarin ilmu nggendam, atau anak sastra disuruh kerja praktik jadi babi ngepet.

Masalahnya, proses pendidikan yang terjadi adalah transfer of knowledge, bukan proses search of knowledge. Bahasa gampangnya, selama saya kuliah, diskusi yang terjadi adalah membahasa “What”, dan tidak focus pada “Why”.

Saya dulu kuliah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, jurusan manajemen. Semester pertama mata kuliah manajemen, saya dicekoki teori tentang manajemen modern, ilmu ekonomi, akuntansi pengantar, dan berbagai mata kuliah yang sudah saya lupakan.

Saya mayoritas belajar tentang “What”: Apa itu ekonomi makro, apa itu manajemen, apa itu akuntansi.

Hampir tidak ada dosen yang memantik rasa penasaran dan bertanya “Why”: Kenapa perusahaan bisa maju atau mundur? Kenapa ada negara kaya dan ada negara miskin? Kenapa saya gendut, jelek, dan miskin? Oh maap pemirsa, yang terakhir adalah curhatan pribadi.

Padahal proses penemuan selalu dimulai dengan pertanyaan, dan tak akan berakhir dalam sebuah jawaban.

Praktik

Kembali ke skripsi. Bab I selalu dimulai dengan “Big why” yang sebenarnya adalah inti dari rumusan masalah. Skripsi saya dulu tentang pengaruh pengaruh piala dunia terhadap turunnya harga saham. Big why-nya: Kenapa setiap ada piala dunia indeks harga saham Amerika terkoreksi? Apakah hal yang sama terjadi di Indonesia?

Jika sudah tau “Kenapa”, waktunya menemukan hipotesa. Kenapa perlu menciptakan hipotesa? Hipotesa sebenarnya dugaan awal kita, sebagai alasan terjadinya “Big Why”. Tanpa hipotesa, kita tak akan bisa masuk kedalam solusi permasalahan.

Sedangkan metodologi adalah teknik untuk membuktikan hipotesa. Seperti teknik pada umumnya, kita diberi kebebasan menggunakan metode yang pernah dipakai orang atau membuat sendiri. Khusus untuk level S1, penggunaan metodologi dari jurnal hanya untuk memudahkan mahasiswa dalam melakukan penelitian.

Masih bingung? Oke kita coba praktik. Misalnya Anda adalah direktur pemasaran. Sales terus turun. Apa yang Anda lakukan?

Seperti skripsi. Temukan “Big Why”. Identifikasi inti permasalahannya. Kenapa penjualan bisa turun? Lini produk mana yang turun? Saluran distribusi apa? Apakah pesaing juga mengalami hal yang sama?

Setelah itu ciptakan hipotesa, kenapa penjualan turun. Apakah karena pergerakan kompetitor? Apakah karena daya beli melemah? Apakah karena harga produk kita lebih mahal?

Jika hipotesa terkuat telah dipilih, waktunya untuk diuji. Misalnya hipotesa terkuat penyebab turunnya penjualan adalah daya beli melemah yang diikuti oleh penurunan harga oleh pesaing. Oke, berarti solusi instant-nya adalah menurunkan harga. Tapi apakah itu benar? Ya makanya perlu diuji.

Caranya? Coba bikin program diskon untuk periode yang terbatas. Jika dengan pengurangan harga, unit terjual kembali naik, berarti benar masalah ada pada harga. Tapi jika nggak ngefek? Berarti hipotesa kita salah dan harus mencari penyebab lainnya.

Inti dari penulisan skripsi bukan pada hasil penelitian itu sendiri. Tapi melatih manusia untuk mengembangkan rasa ingin tahu, berlatih membuktikan kebenaran dengan metode ilmiah, dan yang paling penting: menumbuhkan rasa haus mencari ilmu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Horizon

Saya bertanya ke teman sekaligus mentor untuk urusan investasi. Bagaimana sih cara membuat investment plan yang baik? Jawabannya ternyata sangat sederhana:

“Analisa makro ekonominya. Kira-kira apa industry yang akan booming tahun depan, lihat valuasinya sekarang. Lu harus invest untuk beberapa tahun kedepan. Kalo masuk di industry yang booming tahun ini, udah telat. Harga udah naik”.

Saya tersadar. Kuncinya ada di time horizon. Sejauh mana kita bisa memandang masa depan.

Kualitas seorang pemimpin, inovator, atau investor diukur dari dari kemampuan melihat masa depan yang belum dilihat semua orang. Karena para innovator dan investor hebat, hidup dengan horizon yang panjang.

Meskipun definisi “masa depan” bisa sangat bervariasi.

Bagi politikus, masa depan berarti 5 tahun lagi. Seorang pengusaha mungkin menganggap masa depan berarti keadaan 10 tahun lagi. Menurut filsuf, masa depan berarti 100 tahun nanti. Sedangkan bagi spekulan, masa depan adalah apa yang terjadi 1 jam kedepan.

Melihat dan Berbuat

Ini berbeda dengan “budaya instant” yang menyerang masyarakat kita. Semuanya ingin serba cepat. Cepat kaya, cepat sehat, cepat pintar. Kita sering lupa orang yang kita lihat sukses sekarang, adalah orang yang bekerja sangat keras 10 tahun lalu.

Tak berhenti hanya melihat, innovator dan investor hebat  melakukan tindakan untuk mempersiapkan masa depan. Karena mampu melihat masa depan tanpa melakukan tindakan sama dengan melihat cewek cantik/cowok ganteng tapi ga berani berkenalan. Hasilnya kita tetap jomblo.

Ini yang membuat organisasi kelas dunia berinvestasi di teknologi yang masih belum jelas masa depannya. Karena mereka mempunyai horizon 20 hingga 50 tahun lagi.

Saat perusahaan migas kita masih meributkan harga BBM, perusahaan migas dunia terus mengembangkan energi terbarukan. Saat kita mewacanakan mobil nasional, Google dan Tesla sedang getol-getolnya riset tentang self driving car. Saat kita berdebat soal reklamasi, SpaceX sudah berambisi menciptakan koloni di luar angkasa nanti.

Jika kita tertinggal jauh dibelakang, apa yang bisa kita lakukan?

Satu-satunya cara mengejar ketertinggalan adalah bukan dengan mengikuti resep sukses yang terjadi saat ini, tapi melakukan quantum leap: memikirkan apa yang terjadi 10 tahun lagi dan mempersiapkannya dari sekarang.

Ini seperti pesan Jack Ma di World Economic Forum.

“If you want to be successful tomorrow, it’s impossible

If you want to be successful next year, it’s impossible

But if you want to be suceessful in the next 10 years, you have a chance.

Let’s compete for 10 years later. (You have to say): This is what I do believe in the next 10 years, and everything I do is for achieving that goal”.

Pelajarannya? Expand our vision, see longer horizon, and the most important thing: do the action.

https://cdn.pixabay.com/photo/2017/07/31/21/45/sea-2561397_960_720.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ignoramus: Kenapa ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan

Saat menjalani sidang doctor untuk menguji disertasinya, Andi Hakim Nasution (mantan rektor IPB) mendapat pertanyaan aneh dari seorang dewan penguji.

Secara tiba-tiba sang penguji bertanya tentang penyakit yang menyerang hewan tertentu. Ia sempat berpikir, “Mengapa dia bertanya tentang ini? Dan apa pula subyek yang ditanyakannya?” sambil memikirkan istilah asing yang ditanyakan dosen pengujinya.

Setelah merenung, dengan berat hati, calon doktor tadi menghela nafas dan berkata, “Maaf, saya tidak tahu…”.

Mendengar jawaban itu, tiba-tiba sang penguji merasa lega. Ia tersenyum dan memandang dengan puas melihat mahasiswanya tidak dapat menjawab pertanyaan yang ia berikan.

Calon doktor statistika eksperimental itu tertunduk lesu. Perjuangan riset bertahun-tahun bisa saja hancur karena sebuah pertanyaan istilah asing yang ia sendiri baru pertama kali mendengarnya. Tapi ternyata dia diumumkan lulus!

Saat berjabat tangan, dia bertanya kepada dosen penguji tadi.

“Apa jawaban dari pertanyaan yang Anda tanyakan?” tanyanya penasaran.

“Saya tidak tahu”, jawab sang penguji tersenyum.

“Pardon me… Maaf…”

“Iya, itu jawabannya. Saya sendiri tidak tahu jawabannya. Saya menanyakan hal yang sebenarnya tidak ada. Anda sudah menjawab semua pertanyaan kami dengan saat baik saat ujian. Tapi disitulah masalahnya. Kita sebagai ilmuwan terkadang harus mengetahui ada hal-hal yang tidak bisa kita ketahui. Saya ingin Anda belajar hal tersebut”.

Cerita yang saya ambil dari buku lawas “Pola Induksi Seorang Eksperimentalis” itu menegaskan sebuah pelajaran: ketidaktahuan lebih penting dari pengetahuan.

Hal ini menjadi relevan karena manusia modern begitu mengagungkan kalimat “pengetahuan adalah kekuatan”, sehingga kita seringkali tidak mau mengakui ketidaktahuan kita sendiri.

Lihatlah saat netizen berusaha berdebat tentang topic yang tidak ia kuasai, calon pegawai yang berusaha membuat pewawancaranya terkesan, atau anggota dewan yang ingin terlihat hebat didepan rakyat. Semuanya berusaha terlihat “Maha Tahu”.

Kita seringkali lupa dan tidak mau mengakui jika sumber pengetahuan sesungguhnya ada pada ketidaktahuan. Karena seorang ilmuwan pada dasarnya adalah seorang ignoramus: orang yang tidak tahu.

Perbedaan ilmuwan dan orang biasa ada pada langkah selanjutnya: apakah dia itu mau jujur mengakui ketidaktahuannya? Maukah ia mencari pengetahuan baru untuk menjawab ketidaktahuan itu?

Menerapkan pola pikir seorang ignoramus, berarti kita harus merayakan ketidaktahuan.

Ketidaktahuan adalah tanda jika masih banyak pelajaran yang bisa kita temukan. Tak perlu malu dan menutup-nutupi. Kita hanya perlu jujur pada diri sendiri: masih banyak yang harus kita pelajari.

Jika pengetahuan adalah kekuatan, maka ketidaktahuan adalah ibu dari pengetahuan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Mukhlis

Di kelas bahasa arab yang saya ikuti, ada soal tentang kata “mukhlis”. Isim fa’il (pelaku) yang berarti orang yang ikhlas. Apa makna ikhlas? Ikhlas berarti kemurnian hati. Seorang mukhlis hanya menemukan Tuhannya sebagai alasan semua amalannya.

Salah satu tanda keikhlasan adalah bisa menerima semua ketetapan Tuhan dengan senyuman. Contohnya jika rumah kita kebakaran. Orang yang ikhlas, kata Pak Ustadz, akan mampu menerima kenyataan dan tidak akan protes kepada Tuhan.

Urusan konslet hubungan pendek arus listrik, terbakar kena lilin, atau karena ledakan tabung LPG, itu cuma skenario teknis. Yang penting secara strategis ia sadar jika rumahnya adalah pemberian Tuhannya, dan sekarang sedang diminta oleh yang punya.

Seorang mukhlis tahu jika guru kehidupan itu bermacam-macam. Ada guru bernama kegembiraan, kenikmatan, dan kebahagiaan. Tapi ada juga guru berjudul kesedihan, kesakitan, dan kehilangan. Jika ingin belajar esensi kehidupan seutuhnya, kita harus belajar kepada semuanya.

Hanya menerima guru kesuksesan tanpa menerima guru kegagalan akan membuat kita terjerumus kesombongan. Hanya ingin bertemu guru kehidupan tanpa mengenal guru kematian membuat kita terbuai keduniawian.

Malam itu saya pulang dengan perasaan haru. Alhamdulilah bisa belajar sesuatu. Dan baru saja menerima teori kuliah kehidupan baru, keesokan harinya saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas itu.

Ketika bangun, jam sudah menunjukkan jam 5 pagi. Alarm jam 3 pagi di hape tidak berbunyi sama sekali. Saya cari tidak ada. Demikian juga dengan laptop yang saya letakkan disamping. Raib tak berjejak. Saya bangun dan melihat pintu terbuka. Rupanya semalam saya lupa mengunci pintu dan ada orang yang bertamu.

Alhamdulilah. Berarti saya disuruh mempraktikkan ilmu ikhlas. Lupa mengunci pintu itu persoalan teknis, yang pasti secara strategis Tuhan mengambil harta yang ia titipkan, dan mengingatkan saya untuk lebih sering berbuat kebaikan.

Inilah tanda kasih sayang Tuhan. Pencuri pun ia berikan rezeki. Saya masih percaya si pencuri adalah orang baik yang hanya sedang butuh uang. Buktinya saya tidak mengalami cedera apa-apa.

Gara-gara kejadian itu saya tersadar, ternyata Tuhan telah memberikan harta yang sangat berharga: orang-orang baik disekitar saya.

Tetangga membantu saya meminjamkan handphone, uang, dan menyelidiki semua informasi. Sedangkan teman-teman kantor justru patungan memberikan sumbangan untuk membeli handphone dan mengganti laptop kantor yang hilang.

Saya cuma bisa bersyukur. Setidaknya ada dua asset terpenting yang belum hilang: iman dan harapan. Tanpa dua hal itu, hidup seorang milyuner tak ubahnya seorang pengemis: kosong dan hampa.

Saya juga masih belum bisa seikhlas orang bijak dalam cerita zen. Diceritakan seorang pertapa yang kemalingan. Pintunya tidak dikunci dan ketika bangun, ia melihat rumahnya berantakan. Ia lalu menangis keras dan membuat tetangganya datang. Mereka bertanya apakah ada barang yang hilang.

“Tidak ada yang hilang…” jawab si pertapa

Lalu kenapa kau menangis? Tanya si tetangga.

“Aku bersedih karena tidak punya barang apa-apa untuk diberikan kepada pencuri. Padahal jika ia membangunkanku, akan kuambilkan bulan di langit untuknya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Wish list vs Action list

Tahun baru membuat timeline saya dipenuhi dengan “resolusi baru”. Standar postingan masyarakat urban: pergantian tahun wajib hukumnya nulis refleksi dan penetapan target yang ingin dicapai.

Tapi saya melihat ada dua jenis orang di lini masa saya. Mereka yang menetapkan keinginan hidupnya sebagai target, dan orang yang menuliskan tindakan sebagai resolusi tahun barunya. Wish list versus action list.

Orang dengan wish list akan menuliskan IMPIAN yang ingin diwujudkan. Bisa berarti tempat yang ingin didatangi, pendidikan yang ingin diselesaikan, pendapatan yang ingin didapat, asset yang ingin dikuasai, dan masih banyak lagi.

Berbeda dengan tipe kedua, orang dengan action list akan menulis TINDAKAN yang akan dia lakukan selama 2018. Mereka sudah tidak menulis what to achieve, tapi juga how to achieve. Ini bisa berarti kebiasaan-kebiasaan baru yang ingin dilakukan, pengetahuan baru yang ingin dipelajari, dan deretan aksi yang harus terjadi.

Kira-kira golongan mana yang akan lebih berhasil mencapai target yang telah ditetapkan?

Riset dari British Journal of Psychology mungkin bisa memberikan sedikit petunjuk. Mereka melakukan percobaan tentang kebiasaan berolahraga selama 2 minggu. Dengan sample 248 orang dewasa yang dibagi ke dalam 3 grup.

Grup #1 control group. Mereka diminta untuk mencatat seberapa sering mereka berolahraga dalam 2 minggu kedepan.

Grup #2 motivation group. Selain diminta mencatat frekuensi olahraga dalam 2 minggu kedepan, mereka diminta membaca selebaran tentang pentingnya berolahraga bagi kesehatan.

Grup #3 intention group. Diminta mencatat frekuensi olahraga selama 2 minggu, juga menerima selebaran tentang manfaat olahraga, dan diminta untuk menuliskan KAPAN dan DIMANA mereka akan berolahraga.

Hasilnya? Group 3 mencatatkan skor luar biasa. Sekitar 91% melakukan olahraga sekali seminggu dan jauh lebih tinggi dari group 1 (38%), dan group 2 (35%).

Lesson learned? Complete your goal with complete plan. More details are better. We have to know HOW to do it, WHO will do it, WHERE it will happen, and WHEN it should be done.

Bagi yang sudah punya wish list, saatnya bikin action list. Kalau sudah punya action list, waktunya bikin timeline.

Kalau sudah punya timeline? Ya waktunya ACTION. #bikinjadinyata

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#97 Curse of knowledge: Kenapa perempuan sangat sulit dipahami

Anda tahu lagu “selamat Ulang tahun”, “Lihat Kebunku”, atau “Burung Kakaktua”? Sekarang mari lakukan percobaan sederhana. Coba nyanyikan lagu itu menggunakan ketukan tangan (ga boleh pake suara mulut yaa) dan minta orang lain untuk menebak judul lagunya.

Jika kita menyanyikan 20 lagu terkenal, kira-kira berapa persen lagu yang yang bisa ditebak dengan benar? Apakah 50% atau bahkan 70%? Hei, ini lagu popular yang diketahui anak hingga orang tua.

Kenyataannya, hanya 3% lagu yang bisa ditebak! Setidaknya itu hasil percobaan dari Elizabeth Newton dalam disertasi tahun 1990: “Overconfidence in Communication of Intent”. Pengetuk lagu merasa lagu-lagu yang ia nyanyikan dalam hati adalah lagu terkenal sehingga ia yakin orang lain juga akan mengenalinya.

Eksperimen sederhana yang dilakukan peneliti Stanford itu mengingatkan kita tentang curse of knowledge, kutukan pengetahuan. Apa itu? Kutukan pengetahuan itu gampangannya begini: Kita tahu apa yang tidak diketahui orang lain, tapi kita seringkali merasa orang lain tahu, apa yang kita tahu.

Contoh curse of knowledge banyak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Buku panduan barang yang sangat teknis tanpa ilustrasi yang jelas, iklan dengan konsep abstrak yang bikin bingung penonton, Professor yang menjelaskan mata kuliah dengan banyak istilah alien, hingga perempuan yang sering Cuma ngasih kode untuk dipahami lelaki.

Curse of knowledge berbahaya karena menciptakan distorsi komunikasi dan kegagalan proses penyampaian pesan. Studi kasus paling klasik adalah saat kaum hawa ngambek dan ketika ditanya “Kamu kenapa?” mereka cuma menjawab “Aku gak papa…” sambil ngasih sinyal dalam bentuk non verbal (mata sayu, mulut cemberut, dan tatapan mata kosong).

Jawaban “Aku gak papa..” adalah sandi curse of knowledge tingkat tinggi yang perlu dipecahkan lewat riset dalam bentuk disertasi.

Untuk mengurangi curse of knowledge ini maka kita dapat melakukan dua hal. Pertama, kita harus menyesuaikan gaya komunikasi dengan profil pendengar. Ngobrol tentang investasi dengan seorang financial planner tentu akan berbeda gayanya dengan seorang tukang ojek.

Dan yang kedua, gunakan bahasa komunikasi yang singkat, jelas, dan mudah dipahami. Kita harus berasumsi jika pihak pendengar tidak menguasai istilah khusus dari topic pembicaraan yang ingin kita sampaikan.

Sedikit pesan untuk para perempuan: please speak your mind. Curse of knowledge seringkali membuat hubungan percintaan berakhir tragis hanya karena para pria tidak mampu memahami inti komunikasi yang sedang disampaikan oleh wanita.

Karena tidak semua lelaki paham arti dari “Aku gak papa..”.

http://2.bp.blogspot.com/-BaSDVxSO65k/VsauOi2LeyI/AAAAAAAABnQ/RJxpO4-vFTY/s1600/B7Ja-67CAAAvoQ-.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail