“Manfaat” Corona bagi Indonesia

“Saya ini penderita Corona: Cowok Romantis dan Mempesona”

Joke garing diucapkan oleh seorang pejabat salah satu BUMN di Yogyakarta, saat saya meeting tanggal 19 Maret lalu. Inilah hebatnya warga negara +62, wabah penyakit pun bisa dijadikan guyonan. 

Padahal pandemi ini sudah menyerang 336 ribu orang dan menewaskan lebih dari 14 ribu penderitanya. Vaksinnya masih dalam pengembangan. Obatnya juga belum jelas. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump pecaya jika obatnya mirip obat malaria: Chloroquine dan Hydroxychloroquine. Sedangkan Presiden Jokowi merasa obatnya adalah Avigan, yang diplesetkan jadi Afgan. Indonesia sudah memesan 5 juta butir.

Menurut bocoran Dahlan Iskan, pasien Covid-19 di Jakarta diberi obat:  Oseltamivir 2x 75 mg, tambah vitamin C. Plus Azithromycin 2×500 mg atau Levofloxacin 1×750 mg. Jika berat maka diberi Chloroquine sulphate 2x 500 mg. Saya tak tahu yang mana yang benar. Saya bukan dokter. Meski punya tulisan tangan seperti dokter. 

Yang jelas Covid-19 sudah memporakporandakan perekonomian kita. Banyak proyek tertunda. IHSG terjun bebas. Pemerintah bingung untuk memberi stimulus fiskal. Menurut Asian Development Bank, dampak global akibat virus corona berkisar US$77 miliar hingga US$347 milar. Setara dengan 0,1% hingga 0,4% PDB global.

Kita boleh bersedih dan harus bersabar sambil mengelus dada (asal jangan dada tetangga). Tapi saya melihat, masih ada ‘hikmah’ dari cobaan ini. Saya mencatat setidaknya ada 5 manfaat yang bisa kita syukuri, untuk sementara.

  1. Lebih dekat dengan keluarga

Sejak Presiden Jokowi menghimbau warganya untuk bekerja #dirumahaja, banyak kantor yang memberlakukan Bekerja Dari Rumah (BDR). Dampaknya? Pekerja sekarang jadi lebih dekat dengan keluarganya.

Bagi yang belum tahu, banyak pekerja di Jabodetabek yang harus berangkat sesudah shubuh, dan pulang jam 10 malam (terima kasih traffic Ibukota!). Setiap hari, 5 hari seminggu. Tak heran jika anaknya lebih suka memanggil ‘Om’ dari pada ‘Papa’. Dengan BDR, ada waktu mobilitas yang bisa dihemat, ditambah libur sekolah, kini banyak keluarga yang bisa menghabiskan quality time bersama-sama #dirumahaja.

Tapi perlu dicatat: Ga semua pekerja bisa menikmati ini. Mayoritas yang bisa ya pekerja intelektual anggota kelas menengah dan bekerja di perusahaan besar. Bagi pekerja informal, sektor produksi, atau jenis pekerjaan yang high labor intense, maka konsep BDR hanyalah mimpi. Ga masuk kerja, ya ga makan.

Jadi bersyukurlah teman-teman yang bisa bekerja dimana saja ya!

  1. Orang Indo jadi lebih peduli dengan kesehatan

Sejak kapan orang Indo jadi rajin cuci tangan? Ya sejak wabah Covid melanda. Itu memang cuma pendapat subjektif saya. Tapi sejak Corona, cuci tangan menjadi budaya wajib yang dilakukan semua orang. Bahkan hand sanitizer sekarang begitu mudah ditemukan di kantor/masjid/tempat keramaian.

Padahal budaya cuci tangan yang diperkenalkan oleh dokter Hungaria, Ignaz Semmelweiz sejak 1870. Berangkat dari keprihatinan karena tingginya kematian Ibu ketika melahirkan. Ternyata salah satu penyebabnya, dokter yang menangani para Ibu tadi baru saja menangani pasien lain dan tidak melakukan pembersihan yang cukup. 

Budaya cuci tangan dengan sabun atau cairan antiseptik sendiri mulai diterapkan luas sejak 1980-an dan sejak saya kecil (90an) sudah digalakkan di sekolah-sekolah. Tapi saya belum pernah melihat aplikasi yang begitu masif seperti saat Covid ini. Tentunya kita berharap agar budaya ini tetap dijaga meski suatu saat Corona telah mereda (Aamiin).

  1. Akhirnya Kita Bisa Memanfaatkan Internet Untuk Sesuatu yang Produktif

“Internet cepat buat apa?” Dulu ada menteri yang kutipannya dipotong dan jadi pertanyaan seperti itu.

Ga kebayang kan bisa kuliah online? PNS kerja dirumah? Sidang skripsi lewat video call? Berkat kejadian luar biasa Covid-19 ini, masyarakat dituntut untuk mengadopsi teknologi guna mendukung produktifitas.

Yang semula belum paham cara pakai Zoom, Skype, atau Google Hangout, akhirnya pada coba. Aplikasi belajar online (Ruang *uru, Z*nius, dll) saya yakin mengalami peningkatan traffic. Internet bagi generasi muda +62 hanya identik dengan sosial media, youtube, game online, dan tempat cari video ena-ena, kini kembali kepada ‘khittah’-nya sebagai teknologi untuk berkreasi dan berbagi.

  1. Banyak aksi solidaritas sosial, karena Orang Indonesia itu Peduli dengan Sesama!

Ga semua orang bisa ‘survive’ dengan BDR (ditolong pendapatan gede, tabungan yang cukup, dan bisa remote working), banyak profesi yang terdampak kelangsungan hidupnya. Misalnya mitra ojek online. Mereka tak ada pilihan lain, klo ga narik ya ga makan. Mau BDR juga ga mungkin. 

Untungnya masyarakat masih memiliki empati. Muncul gerakan di twitter untuk berbagi. Membeli Gofood untuk sang driver itu sendiri. Belum lagi penggalangan dana crowd sourcing untuk pembelian alat kesehatan. Semua orang bahu-membahu membantu sesama.

  1. Kita Belajar tentang False Negative

Saya masih ingat saat banyak pejabat yang meng-klaim: “Orang Indonesia kebal Corona”. 

Ga perlu menyebut ‘merk’ pejabatnya. Silahkan Googling sendiri. Yang jelas, pernyataan-pernyataan diatas adalah bukti empiris tentang false negative, istilah dalam dunia medis saat diagnosa menganggap tidak adanya penyakit, padahal sebenarnya ada. Hal ini wajar terjadi karena keterbatasan informasi, dan mindset yang menganggap Covid-19 sama dengan flu biasa yang bisa sembuh dengan mudahnya.

Karena itu juga, jangan merasa yakin dengan jumlah penderita yang tedeteksi. Per 22 Maret, sudah tercatat 514 orang. Pertanyaannya, berapa orang yang sudah di tes? Belum ada mass rapid test yang dilakukan sehingga penderita sebenarnya bisa lebih banyak lagi.  Ancaman false negative masih ada didepan mata.

———————

Lima hal yang saya tulis diatas bukanlah sebuah ‘kegembiraan’ diatas penderitaan. Saya hanya ingin melihat hikmah yang bisa kita ambil, dari kejadian luar biasa ini. Sambil terus berdoa, dan berusaha dengan menjaga kesehatan, agar Virus Covid-19 bisa segera mereda.

Saya teringat cerita yang katanya bersumber dari kitab Kifayatul Awwam. Diceritakan Nabi Musa pernah sakit gigi. Karena belum ada dokter gigi, akhirnya ia berdoa kepada Allah. Allah memberikan resep: ambil rumput untuk diletakkan di gigi yang sakit. Puji Tuhan, sakit itu sembuh.

Di lain hari, sakit giginya kambuh. Karena emang belum ditambal. Nabi Musa berinisiatif menempelkan rumput yang sama ke giginya yang sakit. Lha koq ga ngefek? 

Allah menjawab:

“Wahai Musa, Aku adalah yang menyembuhkan dan Akulah yang mengobati. Akulah yang memberi mudharat dan Akulah yang memberi manfaat.”

Pelajarannya? Kita bukan Nabi Musa yang bisa minta ‘resep’ langsung ke Tuhan. Sebagai manusia biasa, kita wajib berdoa dan berusaha mencari obat kesembuhan, sambil tetap menjaga kesehatan.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Cara Mengubah Kebiasaan Kita

 

Mengapa 80% orang yang diet gagal hanya dalam waktu seminggu*?

Mengapa saat resolusi tahun baru, hanya 19% orang yang mampu melaksanakannya selama 2 tahun**?

Mengapa kita seringkali tetap melakukan kebiasaan buruk, meski tahu kita seharusnya berhenti?

Kita tahu merokok tidak baik untuk kesehatan. Mengapa kita sulit untuk berhenti?

Kita tahu olahraga itu penting. Mengapa kita sangat malas menggerakkan badan?

Kita tahu membaca itu investasi. Mengapa kita tetap memilih menonton gosip dan sinetron?

Jawaban pertanyaan diatas menurut Charles Duhigg adalah: karena kita tersandera oleh kebiasaan (habit).

Kebiasaanlah yang membuat kita bergerak dan melakukan semua rutinitas tanpa perlu berpikir lagi. Ini yang membuat kita langsung membuka aplikasi sosmed saat membuka laptop padahal ada pekerjaan yang harus kita lakukan. 

Kebiasaan pula yang mengarahkan kita untuk membeli es krim coklat meski baru saja makan nasi padang. Bagi yang terbiasa membikin kopi, maka aktivitas pertama yang dilakukan adalah menyeduh secangkir kopi dipagi hari.

Pertanyaannya: apakah kebiasaan buruk bisa dihilangkan?

Jawaban jujurnya: TIDAK BISA!. Kebiasaan tidak bisa dihilangkan karena manusia adalah makhluk yang hidup berdasarkan kebiasaan.

Kabar baiknya: kebiasaan buruk dapat diganti dengan kebiasaan baik.

Dalam The Power of Habit, Duhigg menjelaskan rahasia-nya secara ilmiah.

3 Langkah

Sebelum mengganti kebiasaan, kita harus tahu dulu struktur sebuah kebiasaan. Menurut pakar, ada tiga komponen terciptanya habit:

#1 Cue (pemicu): pencetus lahirnya kebiasaan

#2 Routine (rutinitas): Aktivitas rutin yang dilakukan

#3 Reward: Imbalan yang kita dapatkan setelah melakukan aktivitas itu

Kita ambil contoh kebiasaan ngemil di kantor. 

Lahirnya kebiasaan ngemil seringkali terjadi bukan karena kita lapar, tapi adanya ‘pemicu’ berupa kue yang disediakan gratis oleh kantor. Rutinitasnya tentu saja mamam kue-nya. Dan kita mendapat reward berupa perut kenyang dan lidah yang dimanjakan. 

Lantas bagaimana mengubahkan?

Langkah pertama adalah: mengidentifikasi rutinitas yang ingin kita ubah. 

Sadar jika harus berubah menjadi krusial karena otak kita harus mengerti jika ‘ada sesuatu yang salah’ dengan aktivitas yang sedang kita lakukan. Kalo ga merasa sadar ya pasti ga berubah karena merasa ‘fine-fine’ aja.

Langkah kedua: lakukan eksperiment dengan reward. 

Tujuannya untuk mengubah ‘rutinitas’ sebelum mendapatkan reward. Jika sebelumnya kita absen dan langsung mengambil kue gratis, mungkin sebaiknya kita hanya makan kue setelah mengerjakan 1-2 laporan. Atau apa yang terjadi jika reward berupa kue diganti dengan buah?

Langkah ketiga: Temukan cue, motivasi sebuah kebiasaan

Kenapa kita melakukan apa yang kita lakukan? 

Kenapa kita makan kue di pagi hari? Apakah karena lapar? Atau suka rasa manisnya? Atau karena bengong dan ga tau harus ngapain?

Jika karena lapar, ya coba sarapan terlebih dahulu. Jika hanya suka manisnya, mungkin mengganti kue dengan jus segar yang lebih sehat. Jika karena bengong, mungkin bisa membalas email terlebih dahulu.

Terakhir: mulai berubah. Ciptakan rencana dan laksanakan rencana itu.

Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri.

Image result for charles duhigg"

 

*https://www.health.com/nutrition/5-reasons-most-diets-fail-within-7-days

**https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2980864

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Detik yang Menentukan

Jika Anda punya resolusi yang belum dicapai tahun ini, maka santai saja. Anda tidak sendiri.

Tapi kira-kira apa yang membuat orang belum mencapai target mereka? Dugaan saya: banyak dari kita yang belum memulai.

Contohnya jika saya punya mimpi jalan-jalan ke Eropa. Saya sudah menuliskannya ke resolusi. Tapi hanya menulis mimpi “jalan-jalan ke Eropa” punya dua permasalahan fundamental.

Pertama, mimpi itu terlalu abstrak dan tidak jelas. Eropa adalah daratan seluas 10,18 juta kilometer persegi. Saya juga tidak menjelaskan berangkat kapan, sendiri atau ikut grup, dan kapan kembalinya.

Kedua, target itu terlalu ‘besar’ tanpa road map yang jelas. Tak ada strategi dan rencana aksi. Bagaimana bisa pergi ke Eropa jika saya tidak tahu apa yang harus dilakukan?

Tanpa ada road map untuk memulai dari mana, kita hanya berputar-putar dalam wacana pergi ke Eropa tanpa mampu mengubahnya menjadi tindakan yang konkret (ujung-ujungnya cuma ke Gembira Loka).

Untungnya pakar strategi punya solusi. Kita harus menciptakan objective yang jelas, disertai key result yang bisa diukur. Itulah fungsi OKR. Objective and key result.

Setelah itu OKR dituruhkan jadi action plan. Tindakan-tindakan yang harus dilakukan. Misal tiga langkah awal ‘Liburan ke Eropa’ adalah:

1. Menentukan tujuan negara dan waktu jalan-jalan

  1. Melakukan survey tiket dan perkiraan biaya
  2. Membuka tabungan khusus

Apakah dengan membuat daftar aksi maka mimpi kita akan terjadi? Tidak semudah itu ferguso!

Prefontal cortex otak kita akan melakukan kalkulasi dan sugesti:

“Emang lu mampu? Hidup masih mulung juga. Mending ditabung cuk… “

Apa yang harus kita lakukan saat menghadapi kondisi seperti ini?

5 Detik

Mel Robbins punya jawaban sederhana: gunakan kekuatan meta-kognisi kita. 

Mahluk apa pula itu meta-kognisi? 

Bahasa sederhananya sih insting. Gunakan pikiran kita untuk mengarahkan insting bertindak. 

Gunakan #5SecondRule.

Premisnya sederhana: 

If you have an instinct to act on a goal, you must physically move within 5 seconds or your brain will kill it.

Jika kita ingin melakukan sesuatu dan setelah 5 detik masih kebanyakan mikir, besar kemungkinan tindakan itu ga jadi kita lakukan.

Contohnya waktu mau nanya nomor telpon cewek/cowok cantik di jalan. Kita ingin sekali bertindak tapi pikiran prefontal cortex kita mencegah:

“Nanti klo ga dikasih gimana? Malu ga sih? Emang siapa situ koq sok kenal?”

Kebanyakan mikir malah ga jalan.

Yang perlu kita lakukan sederhana banget. Berhitung 5..4…3…2..1 dan… berhenti mikir! Langsung gerak samperin dia! Pokoknya harus action! Ga usah dipikir konsekuensinya!

Itulah seni #5SecondRule. Seperti launching roket, kita menggunakan 5 detik untuk memusatkan tindakan dan menghiraukan pikiran sadar kita sendiri. Pokoknya pakai insting untuk melakukan sesuatu.

Aturan ini bisa dipakai saat kita takut memulai sesuatu yang baru, atau ragu-ragu dalam bertindak. Termasuk soal pemenuhan resolusi diri sendiri. 

Banyak orang tidak bisa mencapai target yang mereka inginkan karena mereka belum mulai BERGERAK untuk mencapainya.

Padahal kata kuncinya sederhana: Mulai aja dulu. Just do it.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Akan Tiba Suatu Masa

Akan tiba suatu masa, saat kita menjadi tua.

Kulit jadi keriput, mata menjadi rabun, postur menjadi bungkuk. Apapun perawatan yang kita lakukan, ternyata tak akan mampu menahan musuh bernama penuaan.

Saat itu terjadi, konon hal-hal yang kita anggap penting saat ini, tidak lagi terlalu berarti.

Cerita tentang kerja, akan berganti menjadi kenangan masa muda. Kebanggaan pencapaian, sepertinya berubah menjadi sebuah kecapaian. Obrolan-obrolan kesuksesan, akan berganti menjadi tips kesehatan.

Katanya akan tiba suatu masa, ketika kita merindukan masa kecil kita sendiri.

Mengingat hangatnya pelukan Ibu, resahnya kita karena amarah Ayah, atau senangnya kita mendapat uang jajan dari Kakek Nenek yang sekarang sudah pergi dan tiada. Apakah benar harta terbesar itu bernama keluarga?

Kita merindukan fase kehidupan saat semuanya hanya tentang permainan. Belum ada tuntutan. Belum ada cicilan dan tagihan. Belum ada perbandingan dengan teman satu angkatan. Semua begitu menyenangkan.

Konon akan tiba suatu masa, saat kita tahu siapa sebenarnya teman-teman dekat kita.

Bukan mereka yang mendadak akrab saat kita hidup dalam kemudahaan. Tapi mereka yang selalu tersenyum dan membuka pintu meski kita sedang dalam kesusahan.

Teman terbaik memiliki kuping sebesar gajah Afrika, tapi anti bocor seperti kondom Amerika. Mereka akan menampung semua rahasia yang kita berikan saat bercerita, dan takkan menggosipkannya di dunia maya.

Pada akhirnya tiba suatu masa, dimana jiwa akan berkenalan dengan cinta.

Meski awalnya cinta bertamu sebagai nafsu. Namun berkat sang waktu, kekaguman berubah menjadi penerimaan. Karena ternyata dia yang awalnya kita anggap begitu sempurna, ternyata menyebalkan dan punya dosa seluas angkasa.

Kita pada saatnya akan mengerti. Bahwa cinta itu tentang belajar mengerti, dan takkan pernah memiliki. Karena seperti dunia ini, tak ada cinta yang akan abadi.

Akan tiba suatu masa, orang yang kamu cintai sedang berulang tahun.

Seperti saat ini, 29 Oktober. Tanggal ulang tahun istri saya sendiri.

Inilah saatnya.

Sekarang waktunya.

Izinkan saya berdoa:

Semoga kami bisa menghabiskan hari tua, pada suatu masa.

happy family
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Saya Lakukan Untuk Bekerja Hanya 4 Hari Dalam Seminggu

freepik.com

Apa trend kerja yang patut kita coba di 2020?

Flexy hours? Udah basi.

Remote working? Biasa bingits.

Boleh pakai baju bebas termasuk celana pendekan? Itu Inovasi zaman vintage kawanku.

The new trend is: less workdays!

Semoga bos saya tidak membaca artikel ini. Tapi saya harus membuat pengakuan dosa: Saya hanya bekerja 4 hari dalam seminggu!

Tentu ada banyak faktor kenapa bisa kejadian.

Karena kebetulan saya belajar di perusahaan yang mementingkan hasil. Kebetulan budaya kerjanya bebas mau remote working, work from home, atau pakai sendal jepitan ke kantor. Kebetulan saya tidak berada di divisi yang membutuhkan kehadiran fisik sepanjang waktu.

Ritual less workdays ini terinspirasi dari buku jadul (tahun 2007) yang ditulis Tim Ferriss: 4 Hours Workweek.

Doi mengusulkan solusi yang pasti dicintai semua umat manusia:

a. Kerja cuma 4 jam seminggu

b. Nganggur-senganggur-nganggurnya

c. Tetap dapat duit buat keliling dunia

Secara logika sangat bisa dilakukan dengan:

  1. Menciptakan bisnis dengan sistem yang mapan
  2. Pastikan pengeluaran lebih kecil dari pendapatan

Tim menawarkan perspektif yang berbeda tentang kekayaan. Menurut dia, orang kaya itu bukan orang yang punya banyak uang. Orang kaya adalah orang yang memiliki komuditas yang tak mungkin diciptakan oleh manusia: waktu.

Orang kaya adalah orang yang punya waktu untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan.

Bagaimana caranya?

Framework yang Ia tawarkan adalah D-E-A-L.

D untuk Definition. Tentang mengubah mindset bahwa kekayaan itu bukan berbentuk harta. Tapi waktu yang terekam dalam bentuk ‘moment’. Buat apa punya 1 juta dollar di bank tapi ga pernah menikmati 1 juta dollar itu? Percuma punya villa tapi ga pernah tinggal di villa itu.

E untuk Elimination. Pentingnya hidup ‘sewajarnya’. Minimalis. Tapi bukan missqueen. Ini tentang meninggalkan ‘ilusi kebahagiaan’ berupa kepemilikan barang, penguasaan informasi, status, dan persepsi orang lain terhadap kita.

A untuk Automation. Bagaimana membangun sistem bisnis sehingga Anda tak perlu mengurus bisnis itu sendiri, kekuatan outsourcing, dan pelajaran MBA – Management by Absence.

L untuk Liberation. Berisi tips-tips praktis agar bisa ‘menghilang’ dari kantor tanpa diketahui bos, cara mendapatkan asisten virtual, sampai saran psikologis jika kita sudah menjadi manusia nomad yang bingung harus ngapain untuk mengisi waktu sehari-hari. Menjadi pengangguran berduit ternyata berbahaya secara psikologis!

Aplikasi Saya

Karena saya masih belajar ikut perusahaan orang, tentu ga bisa ekstrim kerja hanya 4 jam. Kecuali klo saya kawin ama nenek investornya yah…

Yang bisa saya lakukan: mengurangi hari kerja menjadi 4 hari. Dengan metode sederhana:

Design and delegate. Di awal tahun, membuat strategi dan action plan aktivitas yang akan dilakukan selama 6 bulan kedepan. Propose ke bos. Approve? Lanjut ke fase delegation. Kira-kira siapa vendor yang bisa mengeksekusi project ini. Dalam day to day basis, fungsi kita hanya sebagai kontroller dan evaluator.

Eliminate. Membuang pekerjaan yang gak berdampak. Penyakit orang kantoran: menganggap banyak kerjaan itu baik. Padahal aslinya biar kelihatan kerja doank. Output tidak sama dengan outcome. Cari critical output yang menghasilkan outcome paling besar.

Automate. Untuk reporting saya menggunakan automate queries. Inilah manfaat belajar data science. Sehingga setiap minggu sistem akan mengirimkan market performance secara otomatis untuk dianalisa. Report juga harus dibikin sederhana. Hanya satu halaman. Analisa detail bisa ditaruh dalam appendix.

Learning. Tim saya membuat perjanjian: sisihkan satu hari dalam seminggu untuk meninggalkan pekerjaan dan fokus untuk belajar. Apa saja. Ga harus berhubungan dengan urusan kantor. Kelihatannya tidak produktif. Tapi percayalah, karyawan yang terus belajar akan menghasilkan metode-metode baru yang pada ujungnya meningkatkan produktivitas perusahaan.

Dengan menerapkan 4 hari kerja saya merasa:

  1. Terpacu untuk bekerja lebih efektif dan efisien
  2. Mengurangi beban pikiran dengan tidak memikirkan ‘low impact activities’
  3. Merasa menjadi manusia yang lebih baik dengan terus belajar sepanjang waktu

Gimana. Penasaran mau coba? Inget pesen Oom Tim:

Most things make no difference. Being busy is a form of laziness—lazy thinking and indiscriminate action. Being overwhelmed is often as unproductive as doing nothing, and is far more unpleasant. Being selective—doing less—is the path of the productive. Focus on the important few and ignore the rest.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Resep Menjadi Kaya dari Zaman Babilonia

Ini bukan tentang MLM.
Bukan juga soal ilmu ghoib.
Atau rahasia investasi milyarder.
Ini tentang buku klasik tahun 1926 yang selalu nongol di daftar bacaan orang-orang kaya. Membuat saya penasaran. Dan akhirnya ikutan membaca juga.
The Richest Man in Babylon. Karya George Clason. Buku kecerdasan finansial yang dirangkum dalam cerita sederhana.
Tersebutlah Arkad. Pembuat tablet tanah liat yang bisa menjadi orang terkaya di Babilonia. Koq bisa?
Karena Ia mengamalkan tiga rahasia sederhana.
Tiga Rahasia Sederhana
Arkad ternyata awalnya hanya pembuat tablet tanah liat (sebagai media tulisan/prasasti). Ia bukan founder startup, programmer hacker, atau artis bokep dengan follower jutaan.
Ia hanyalah orang biasa dengan satu pembeda: Keinginan untuk memiliki hidup yang lebih baik.
Suatu hari, Algamish, seorang kaya berkedok rentenir di zamannya, memesan tablet. Ia ingin tablet itu jadi besok pagi. Ditawarkan juga upah yang lumayan.
Tak puas hanya dengan uang, Arkad mengajukan penawaran.
“Aku akan menyelesaikan pesananmu tapi setelah itu tolong ajari aku cara menjadi kaya raya”.
Itu inti terjemahan bebas permintaan Arkad. (Jujur aja, buku ini ditulis tahun 1929 dan saya menemukan banyak kosa kata Inggris jadul yang sekarang hanya dipakai untuk menulis puisi).
Arkad rupanya mencari seorang mentor. Dan ia tahu: pengetahuan akan mendatangkan kekayaan. Satu dollar yang ditanam di kepala, akan melahirkan 100 dollar di kantong.
Algamish tertarik dengan tawaran itu. Tak biasanya ada pembuat lempeng yang ingin belajar dan bertanya tentang cara mendapat kekayaan. Kesepakatan pun dibuat.
Besoknya, setelah lembur ditemani kopi, bear brand, dan Red Bull, jadi juga tuh lempengan. Sekarang giliran Algamish yang harus menepati janjinya. Membocorkan rahasia menjadi kaya.
Resepnya jika dirangkum akan seperti ini:
“You first learned to live upon less than you could earn. Next, you learned to seek advice from those who were competent through their own experience to give it. And, lastly, have learned to make gold work for you”.
Aplikasi Tiga Saran Tadi
Bingung? Kalau saya rangkum aplikasinya, setidaknya ada tiga perkara:
#1 A part of all you earn is yours to keep.  Sisihkan 1/10 dari Pendapatan. Berapapun gaji/pendapatan Anda, wajib hukumnya untuk menyisihkan 10%. Pokoknya gimana caranya pengeluaran harus lebih kecil dari pendapatan.
#2 Terus Belajar dan Bertanya ke Para ahli
Inilah pentingnya ilmu pengetahuan dan lingkaran pergaulan. Anda ingin kaya? Maka wajib belajar dan bertanya ke orang yang tepat. Karena itulah orang-orang tajir selalu meng-hire orang yang lebih pintar dari mereka. Karena bertanya ke orang yang salah, sama saja mendapatkan jawaban yang salah.
#3 Membuat Pendapatan Bekerja
Ini tentang menggerakkan 1/10 harta yang telah kita kumpulkan. Tentang membuat uang kita berkembang dengan berinvestasi ke bisnis/asset yang tepat. Anda tak akan menjadi kaya hanya dengan menabung. Anda akan menjadi kaya lebih cepat dengan memutar tabungan Anda.
Simple kan? Secara teori iya: Sisihkan 1/10 dari penghasilan dan kumpulkan modal. Terus belajar. Dan berinvestasi / membuat usaha dengan uang yang kita kumpulkan tadi.
Namun pada praktiknya kita lebih tertarik untuk mikirin kredit sana-sini, main game sampai lupa belajar, dan menggantungkan pendapatan hanya pada pekerjaan yang memberikan kita gaji saat ini.
Karena itulah Algamish berpesan:
“Wealth, like a tree, grows from a tiny seed. The first copper you save is the seed from which your tree of wealth shall grow. The sooner you plant that seed the sooner shall the tree grow. And the more faithfully you nourish and water that tree with consistent savings, the sooner may you bask in contentment beneath its shade.”’
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dua Aturan Untuk Hidup Penuh Kebahagiaan

Untuk Yoda, yang Alhamdulilah masih hidup juga.

Puji Tuhan sudah 730 hari kamu mengenyam kehidupan.

Sebagai donatur sel sperma, tentu saya sangat bersyukur. Semoga Allah memberikanmu keberkahan, dalam menjalani sisa kehidupan.

Untuk hadiah ulang tahun, ada dua prinsip kehidupan yang ingin saya bagikan. Mungkin bisa membantumu menemukan kebahagiaan. Di masa depan.

Prinsip ini saya dapatkan dari membaca ratusan buku, bertemu ribuan orang, dan menjalani hidup belasan ribu hari.
Dua prinsip sederhana, untuk ulang tahunmu yang kedua.

Prinsip #1: Kunci Kebahagiaan Ada Pada Mengingat Tuhan

Menurut sains, kebahagiaan hanyalah letupan neuron.

Rasa ‘senang’ adalah hasil proses syaraf di otak manusia. Dihasilkan hormon bernama endorphin, dopamine, oxytocin, dan serotonin.

Resep bahagia?

Berolahraga plus istirahat yang cukup (mengeluarkan endorphin dan dopamine), cintai orang lain (perangsang oxytocin), dan lakukan refleksi atau meditasi (serotonin akan bereaksi).

Sayangnya tidak semudah itu Ferguso!

Ketika dewasa, kamu akan berhadapan dengan kegagalan, penolakan, kehilangan, kesedihan, kerusakan, dan penderitaan.
Sebuah keadaan negatif yang tidak bisa kita ubah dengan berolahraga sampai berkeringat 2 liter.

Saat menemui kesulitan, manusia akan mulai mempertanyakan eksistensinya. Dan ada dua aliran:
A. Humanisme
B. Determinisme

Humanisme percaya jika manusia adalah penentu kehidupan mereka sendiri. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mengatasi masalah yang mereka punya.

Akibatnya? Lelah sekali. Karena terlalu percaya diri.

Saya lebih cenderung opsi kedua. Karena menurut agama, kehidupan sudah ada yang mengatur. Tugas kita hanya berusaha sekuat tenaga. Sisanya dipasrahkan pada Sang Pencipta.

Teman atheis kita mengkritik: pemeluk agama cenderung fatalis dan tidak saintifik. Agama lahir karena ketidakmampuan manusia mengatasi kesulitan hidup.

Terserah mereka saja. Saya sudah mencoba. Menerapkan problem solving dengan metode kekuatan manusia semata. Atau meminta ‘bantuan’ Sang Pencipta lewat doa.

Kesimpulan saya sungguh terang: hanya dengan mengingat Allah hatimu akan tenang.

Prinsip #2: Semuanya Hanya Sementara. Pada Akhirnya Kita Akan Mati

Manusia modern membenci kematian. Sains digalakkan agar manusia bisa hidup lebih lama.

Banyak manusia yang lupa jika tak ada yang abadi di dunia ini.

Karena itu mereka sombong saat diatas, terpuruk saat dibawah.

Padahal semuanya sederhana.

Kesulitan itu sementara. Tugas kita berdoa dan berusaha. Yakinlah kita akan melaluinya.

Kesuksesan itu sementara. Jangan merasa diatas segalanya. Yakinlah kita akan ditinggalkannya.

Rasa ingat mati akan membuat kita menjadi orang yang optimis-realistis. Tidak patah semangat ketika dibawah. Tidak merasa jumawa ketika diatas.

Terakhir, ada resep sederhana tentang cara menjadi bahagia.

Seseorang mendatangi Buddha Gautama dan berkata:

“Saya ingin bahagia. Tunjukkan caranya wahai Sang Bijaksana”.

Buddha bertanya lagi. “Apakah kamu benar-benar ingin bahagia?”

Orang itu menjawab dengan lebih yakin.

“Saya ingin bahagia”.

Buddha tersenyum dan menjawab:

“Pertama, singkirkan kata ‘Saya’. Itu adalah ego. Kedua, buang kata ‘ingin’. Itu adalah nafsu. Setelah itu kamu hanya akan menemukan kebahagiaan”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pesawat Oleng, Kapten!

Bayangkan Anda seorang kopilot penerbangan.

Apa yang akan Anda lakukan jika pilot pesawat tiba-tiba terkena serangan jantung?

Bingung? mungkin. Gugup? bisa jadi. Panik? manusiawi. 

Tapi ada 200 juta penumpang yang menggantungkan harapannya kepada Anda. Pesawat harus tetap terbang. Harus bisa mendarat. Dengan selamat.

Untungnya kopilot itu adalah B.J Habibie. Seorang pencipta pesawat yang sangat mencintai penumpangnya, rakyat Indonesia.

Pesawat oleng, Kapten!

Situasi politik memanas. Lawan politiknya mempertanyakan kredibilitasnya dan memaksa ia mundur.

Dalam ‘Detik-detik yang Menentukan’ (2006), putra terbaik bangsa kelahiran Pare-pare itu menulis:

“Adalah wajar jikalau kaum intelektual pada umumnya dan para elit politik khususnya, tidak memberi kepercayaan dan memiliki prasangka negatif terhadap kepemimpinan saya.

Saya mungkin dianggap sebagai kroni dan ‘kaki tangan Soeharto’ yang tidak memeiliki wawasan dan kemampuan sendiri, kecuali mengikuti perintah dan petunjuk Pak Harto”.

Zugzwang

Habibie mengalami keadaan ‘Zugzwang’. Istilah Jerman dalam permainan catur dimana keadaan terjepit memaksa kita harus mengambil keputusan sulit.

Ekonomi sedang krisis (inflasi sampai 60%). Nilai tukar terpuruk (sampai 15 ribu). Ditambah rendahnya kepercayaan dari ‘penumpang pesawatnya’ sendiri. Politik sangat tidak stabil.

Untungnya Tuhan masih memberinya akal sehat. 

“…sangat saya sadari bahwa guru yang paling kuat memengaruhi proses kebijakan saya adalah ‘otak sehat’ saya sendiri”.

Ia mulai mendata permasalahan yang ada, berkonsultasi dengan para ahli, dan berani mengeluarkan keputusan berani. Yang penting baik bagi bangsa ini.

Contohnya? 

Dalam bidang ekonomi, untuk memulihkan rupiah yang tertekan Ia ‘mengeluarkan’ Bank Indonesia (BI) dari jajaran kabinet. BI harus punya power! Harus independen dan membuat kebijakan berdasarkan akal sehat. Selama BI duduk dalam kabinet, maka sangat rawan menjadi sapi perah politikus.

Habibie membebaskan tahanan politik yang berseberangan dan mereformasi dunia pers. Membuat Indonesia menjadi negara yang sangat demokratis, bebas berpendapat, dan semua orang bebas mendirikan media. Sesuatu yang tabu untuk dilakukan selama 32 tahun Mbah Harto berkuasa.

Selain itu ia mempersiapkan ‘infrastruktur politik’ untuk Indonesia pasca reformasi. Mulai dari mendorong desentralisasi dengan konsep otonomi daerah, reformasi dwi-fungsi ABRI, hingga persiapan pemilihan Presiden langsung yang bisa kita nikmati pada pemilu 2014.

Tak Sempurna

Tentu ada beberapa kebijakan beliau yang dikritik sehingga pertanggungjawabannya ditolak saat sidang istimewa MPR.

Dalam hal ini pun beliau mengakui. Jika membaca konsep ‘problem solving’ yang ia pakai selama hidup, kita akan mengerti (saya sarikan menjadi tiga besar):

  1. Dalam kehidupan, tidak ada masalah yang dapat diselesaikan secara sempurna
  2. Semua penyelesaian masalah harus diselesaikan dengan pendekatan aproksimasi dimulai A-1 sampai A-X
  3. Keputusan harus diambil. Dan terkadang justru lebih menguntungkan untuk mencoba pendekatan baru. Misal dari strategi A-1 ke strategi B-1

Termasuk soal Timor-timor. Pendekatannya sangat sederhana. Saat menerima Uskup Belo, beliau bertanya: 

“Apa yang dapat saya laksanakan untuk memenuhi keinginan rakyat Timtim?”

Semuanya tentang akal sehat dan kemanusiaan. Tak ada niatan untuk memikirkan kekuasaan, atau mengambil keputusan berdasarkan tekanan. Yang penting harus menghasilkan kebaikan.

Habibie selalu mengingat almarhum Bapaknya yang meninggal sewaktu memimpin shalat Isya bersama keluarga. Saat Habibie baru berusia 13 tahun. Karena itu Ia selalu mengembalikan semua urusannya kepada Sang Pencipta.

“Saya pasrah terima apa adanya dan dengan tenang menghadapi semuanya tanpa bertanya: Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Karena semua saya laksanakan dengan iktikad dan niat membantu memperbaiki nasib dan masa depan bangsa Indonesia yang saya cintai”.

Kita takkan mungkin melupakan jasa beliau yang berhasil membawa pesawat raksasa bernama Indonesia melewati turbulensi reformasi. Saya hanya bisa berdoa agar semakin banyak ‘the next Habibie’ yang membuat keputusan berdasarkan akal sehat dan berlandaskan kebaikan kemanusiaan.

Auf Wiedersehen Kapitän. Selamat jalan Kapten!

https://www.traveller.com.au
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membaca Buku 300 Halaman Dalam 2 Jam

Jika ada pilihan: mendapat 5 kg emas atau 5 kg buku rahasia mendapatkan emas. Kira-kira mana yang Anda pilih?

Jika memilih emas, maka saya menduga situ belum jadi orang kaya. (Klo udah kaya ga butuh emas lagi donk haha)

Konon orang yang benar-benar kaya biasanya tahu jika knowledge capital lebih penting dari monetary capital

Warren Buffet menghabiskan 80% waktunya untuk membaca. Qorun berkata jika kekayaannya didapat karena ilmu yang dimilikinya. Sayyidina Ali pernah berpesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Karena jika kita memilih harta, kita harus menjaganya. Sedangkan jika kita memilih ilmu, ilmu yang akan menjaga kita.

Tentu yang terbaique adalah mendapatkan keduanya. 

Karena itu bekal yang diberikan Arkad, orang terkaya di Babilonia kepada anaknya, Nomasir. Ia menyuruh anaknya berkelana dan memberinya dua modal: 3 kantong emas dan 5 lempengan tablet berisi kebijaksanaan dalam mencari kekayaan..

Singkat cerita, emasnya habis tidak tersisa. Dan berkat rezeki Tuhan ditambah petunjuk dari tablet (tanah liat, bukan ipad)  itulah sang anak bisa kembali ke ayahnya dan membawa lebih banyak keuntungan. Harus ditambahin cap Tuhannya cuy biar ga dibilang kapir hehe.

Saya ga akan cerita rahasia yang ditulis Arkad. Anda bisa baca sendiri dalam The Richest Man in Babylon karya George Clason.

Saya cuma mau cerita: kita tahu membaca itu penting, tapi bagaimana bisa menyelesaikan buku dalam waktu yang terbatas?

Karena itulah saya iseng-iseng mengikuti training membaca cepat. Katanya sih menjamin buku 300 halaman bisa dituntaskan hanya dengan 2 jam, dengan 100% pemahaman, plus bisa bikin mindmap isi bukunya.

Biaya training full-nya 3 jutaan rupiah. Saya cuma ikut yang setelah hari. Bayar ratusan ribu. Dalam tulisan ini saya akan coba sarikan agar Anda ga perlu bayar sepeser pun. Cukup bayar pake doa hehehe.

Ini dia 3 rahasia membaca 300 halaman dalam waktu 2 jam:

Rahasia 1: Rombak Mindset

Kemalasan orang dalam membaca biasanya terletak pada mindset atau pola pikir. Contohnya:

  1. Membaca itu harus dari awal sampai akhir
  2. Membaca = sekolah
  3. Membaca = belajar

Ini adalah hasil didikan bertahun-tahun dimana kita dibiasakan hanya membaca di sekolah. Buku yang dibaca pun hanya buku pelajaran. Dan dirumah ga ada buku hiburan.

Mindset yang perlu ditanamkan:

  1. Membaca itu memuaskan rasa penasaran
  2. Buku yang dibaca ga harus berat
  3. Kita bebas membaca sesuai dengan gaya kita

Saya pernah menolak calon staff di bidang marketing karena bacaan. Waktu interview saya tanya:

“Buku marketing apa yang terakhir kamu baca?”

Setelah loading 30 detik, dia menjawab “Kotler”. 

Rahasia 2: Jangan Dibaca Semua! Baca yang Penting dengan Cepat!

Ini kunci utamanya. Buku bukan kitab suci. Ia hanya alat untuk menyimpan informasi. Kenapa ga perlu semua? Karena buku setebal 300 halaman biasanya berisi 90rb kata. Jika Anda ingin baca semua, dengan kecepatan kata per menit 200, maka butuh waktu sekitar 8 jam.

Itu full konsentrasi 8 jam. Belum memperhitungkan gangguan, distraksi, atau rasa bosan menghampiri. Ini yang membuat orang malas menuntaskan sebuah buku. Kesannya lama dan berat.

Lha terus piye ngerti isi bukune klo ga perlu dibaca semua? Step by stepnya seperti ini:

  1. Berdoa sebelum membaca. Mintalah kemudahan kepada Tuhan
  2. Pastikan posisi baca ergonomis dan kondisi nyaman +  rileks
  3. Start with Why. Kenapa kita ingin baca sebuah buku
  4. Find What. Baca daftar isi. Cari bagian yang ingin kita ketahui
  5. Pake metode skimming / speed reading / photo reading. Klo saya: Hanya baca paragraph awal/akhir, dan perhatikan ide kunci dari sebuah paragraph..
  6. Tingkatkan Kata per menit (KPM). Semakin tinggi KPM Anda, semakin cepat kelar bacanya. Ini masalah jam terbang. Ga usah dipikir. Semakin sering baca, KPM semakin tinggi.
  7. Membaca untuk mengeksplorasi. Coret-coret bagian yang Anda anggap penting. Tulis ide inti yang ingin disampaikan penulis. Tinggalkan bookmark untuk dibuka lagi. Jika menggunakan kindle, gunakan fungsi highlight/notes sebanyak mungkin.
  8. Ga usah dipaksa. Dibawa enjoy aja. Tapi tetapkan target minimal 1 bab. Kenapa? Agar agar progress. Biasanya ga lama koq. Antara 5-10 menit tergantung RPM dan kecanggihan kita dalam skimming 
  9. Setelah selesai 1 buku biarkan mengendap sehari

Rahasia 3: Membaca Untuk Mencari dan Berbagi

Ilmu terkadang seperti adonan. Ia perlu diendapkan agar masuk ke alam bawah sadar. Setelah diistirahatkan, maka ilmu perlu dikembangkan.

Sehari setelah dibaca cepat, maka kita WAJIB ‘mengikat makna’ (meminjam istilah almarhum Hernowo) isi buku yang kita baca.. Karena percuma juga membaca 1000 halaman tapi ga ngerti apa yang kita baca.

Cara paling mudah. Tulis dalam mindmap. Klo naik level bisa dalam bentuk artikel. Ga perlu berat2. Bisa kaya artikel ga penting seperti yang Anda baca ini. Klo punya banyak waktu, bisa sharing dalam bentuk video.

Percayalah, bagian terpenting dari proses belajar adalah mempraktikkan apa yang kita pelajari. 

Pengetahuan baru menjadi kebijaksanakan setelah dilaksanakan. Dan satu paragraf ilmu yang dipraktikan jauh lebih berharga dari 1.000 halaman buku yang hanya dihafalkan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Four Blocker

Ada pelajaran menarik dari meeting PLN dan Jokowi pada 5 Agustus 2019 kemarin.

Bukan tentang ‘ngambeknya’ Jokowi. Masih ga ada apa-apanya dibandingkan amukan netijen kelas menengah Ibukota.

Bukan juga soal manajemen PLN. Yang belum punya direktur. BUMN yang diganti namanya jadi ‘Perusahaan Lilin Negara’ oleh netijen Maha Mulia.

Yang menarik adalah proses berlangsungnya rapat. Berlangsung singkat. Karena perbedaan minat.

Jokowi meminta: “…tolong yang disampaikan yang simple-simple saja..”.

Wajar. Karena Presiden tidak punya kemampuan mekanik soal listrik.

Sementara pihak PLN lalu memberikan penjelasan teknis tentang penyebab pemadaman. Mulai dari sistem kelistrikan sampai permasalahan yang timbul.

Wajar. Karena mereka adalah ‘orang lapangan’ yang menguasai keadaan.

Jokowi sepertinya tidak mengerti. Lalu berkomentar: “Penjelasannya panjang sekali”.

Setelah meminta permasalahan ini segera diatasi, Ia pun langsung pergi.

Media politik mengeksploitasi: Presiden murka hari ini.

Generalis vs Spesialis

Adanya masalah komunikasi seperti ini sering terjadi di berbagai organisasi. Biasanya antara tim teknis dan direksi. Orang spesialis dan orang generalis.

Direksi biasanya hanya ingin melihat secara makro. Sedangkan tim teknis biasanya terlalu mengurusi hal-hal mikro.

Tim direksi butuh penjelasan sederhana. Sedangkan tim teknis ingin menjelaskan semuanya.

Direksi ingin solusi permasalahan instant. Sedangkan tim teknis tahu ada batasan yang bisa dilakukan.

Apa jurus yang bisa kita pakai untuk mengatasi permasalahan komunikasi ini?

Ada beberapa cara yang bisa dicoba. Yang paling sederhana: gunakan 4 Blocker. Apa itu?

Metode ini saya ambil dari buku #Sharing karya Handry Satriago, CEO General Electric.

Budaya komunikasi di GE dibuat sangat cair karena four blocker ini.

Semua orang bisa mengeluarkan idenya. Secara sederhana. Rapat dilakukan dalam tempo singkat. Keputusan diambil dengan cepat.

Rumus four blocker sederhana: Ide disampaikan dalam sebuah 1 (SATU) lembar presentasi.

Dibagi 4 blok.

Blok pertama. WHAT: Apa yang terjadi. Sebutkan data dan fakta yang ada.

Blok kedua. WHY: Kenapa koq bisa terjadi? Temukan root cause penyebabnya.

Blok ketiga. HOW: Apa sih solusi yang kita lakukan? Tulis action plan-nya. Klo banyak, cukup tulis 3 critical action.

yang terakhir: HELP: Apa sih yang kita butuhkan untuk mengeksekusi ide itu? Apakah butuh budget, man power, tambahan wewenang, atau apapun.

Dengan 4 blocker, ide dapat disampaikan secara sederhana dan pengambilan keputusan dapat dilakukan saat itu juga.

Ini berbeda dengan budaya pemerintahan atau BUMN kita. Saya sering melihat laporan yang sengaja diperpanjang, dibumbui kata-kata canggih, dan juga dibuat berlembar-lembar dengan tembusan yang sebenarnya bisa dijadikan lampiran.

Mungkin ini karena waktu sekolah dulu kita diajarkan: jawaban yang paling panjang adalah yang paling benar.

Padahal terkadang: jawaban paling sederhana adalah jawaban yang paling mengena.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail