Monthly Archives: January 2010

Tentang Tetangga Buta yang Melihat Tuhan

(Ijinkan saya bercerita tentang tetangga saya. Yang luar biasa. Yang saya doakan masuk surga)

Dan ia adalah pria yang jatuh cinta pada subuh. Subuh yang teduh. Subuh yang dihiasi awan keruh. Subuh yang menutupi matanya dari cahaya. Tapi membanjiri jiwanya dengan cinta. Lelaki itu, Pak Harun, tetangga saya, selalu menjadi orang pertama yang bangun saat dini hari. Lelaki buta yang karena cintanya pada Musholla, rela tidur disana.

Continue reading Tentang Tetangga Buta yang Melihat Tuhan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bonek Business Wisdom

Setiap businessman harus belajar ke Persebaya. Bahkan kalau perlu diangkat menjadi study cases dalam setiap mata kuliah perilaku konsumen atau marketing management. Bukan hanya belajar tentang cara meraih prestasi juara Liga Nasional, tapi yang paling penting adalah pelajaran tentang suporternya: Bonek!,

Tentu bukan pelajaran tentang cara melempar batu yang baik dan benar. Atau kunci sukses merusak kereta api sekaligus stasiunnya. Bukan juga tips and trick masuk stadion tanpa membayar. Tapi semangat yang menggelora dalam mendukung Persebaya. Esprit de corps yang dimiliki setiap bonek. Bagi seorang bonek, sepakbola bukan hanya urusan menendang kulit bundar, tapi masalah ideologi!
Continue reading Bonek Business Wisdom

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hening

“Tuhan, dengarkan doa kami..” tak ada nada menyalahkan dalam suaranya, tidak juga doanya. Tapi akhirnya sang pastor kalah oleh nasib. Ia mati tenggelam. Padre Garrpe. Mencoba melawan ketika menyaksikan umatnya disiksa dengan sangat pelan. Tapi juga kejam. Tiga orang itu. Ikitsukijima, Chokichi, dan Haru. Mereka diikat dalam tikar. Seperti roti gulung. Lalu dibawa ke tengah lautan. Untuk ditendang. Untuk tenggelam. Untuk itulah Garrpe melawan.

“Vitam praesta puram, iter para tutum”. Kawannya, Padre Rodrigues mencoba mengucapkan Ave Maris Stella, namun yang keluar bukan kalimat-kalimat doa itu. Yang keluar justru keheningan. Diam. Seperti Tuhan yang hanya menyaksikan pertunjukan penyiksaan.

Untuk apa kita melakukan semua ini? Batin Rodrigues mulai berkecamuk. Mengapa ia harus meninggalkan kehidupan sucinya di Lisbon hanya untuk mengalami penderitaan? Mengapa Tuhan menyiksa hambanya dalam keheningan? Mungkin siksaan ini yang membuat gurunya, Padre Ferreire kalah. Ia murtad.
Continue reading Hening

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Odong-Odong

Bersama surat ini kusampaikan salam kepadamu, Abang penarik* odong-odong. Surat sederhana dengan penuh cinta.

Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih kepada abang penarik odong-odong. Berkat Anda, anak-anak di kampung saya bisa belajar menjadi anak-anak lagi. Saya memang tak kenal Anda, dan Anda tak kenal saya. Tapi saya tahu Anda lewat di depan rumah bapak saya setiap jam 9 pagi. Membawa keceriaan di dalam odong-odong berwarna-warni.
Continue reading Odong-Odong

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Doa yang Curang

Saya selalu membenci doa setelah sholat Jumat. Doa panjang berbahasa arab. Doa panjang yang hanya bisa kubalas, “Amin!”. Kebetulan saya hanyalah penganut agama yang tak tahu apa-apa dan penuh curiga. Setiap khatib mengucapkan sebuah kalimat, saya selalu mereka-reka: “apa yang telah diucapkan oleh si tua bangka?”.

Bisa saja ia tak mendoakan keselamatan kita. Tapi justru mendoakan anaknya agar cepat sembuh setelah disunat tadi pagi. Mungkin doanya bukan mengharapkan surga, tapi mendoakan istrinya yang bingung mencari pembalut karena tidak mungkin menggantinya dengan serabut. Apa jaminan,doa berbahasa arab tadi ditujukan untukku? Umat muslim yang tak alim. Dan seperti kambing congek yang dicocor saya punya kelamin yang kemudian menjerit: “Amin!”.

Diam-diam saya berdoa. Doa sederhana. Dalam hati. Doa saya berbunyi: “Semoga hamba mengerti doa yang dibacakan khatib siang tadi”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ramai

Dan manusia modern ternyata membenci sepi. Seperti malam tadi. Sebuah tragedi terjadi. Manusia beramai-ramai membunuh sepi. Mencari ramai. Seperti seorang yang kehausan di gurun pasir. Gurun kesepian. Mereka butuh air. Air yang ramai.

Dan bukan masalah ramai menurutku. Sehingga orang-orang berkumpul di jalan, di lapangan, di pusat-pusat peradaban. Apa yang mereka cari? Tampaknya tak lebih dari diri mereka sendiri. Di tengah kerumuman massa, psikologi bergeser. Dari personal menuju komunal. Dari aku menjadi kamu. Menjadi kita.
Continue reading Ramai

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penjara

Indonesia lahir dari penjara. Di Banceuy, Jawa Barat. Oleh seorang pemuda yang sedang duduk menulis diatas kaleng tempat kotoran. Berkawankan ruangan 1.5 x 2.5 meter, dan setumpuk buku, ia mulai menulis masa depan. Takdir yang ditetapkan Tuhan kepada bangsa dan negaranya. Dari penjara lahir gagasan tentang nation state. Landasan Indonesia. Pemuda itu, Soekarno, menulis salah satu pembelaan terbaik sepanjang sejarah: Indonesia Menggugat. Didalam penjara.

Dibantu istrinya Inggit, yang tekun menyelundupkan buku lewat stagen. Ia mulai menjebol pintu, merusak terali, dan menghancurkan tembok. Dengan ide. Dari penjara pikirannya mendunia. Penjara bisa memasung raganya, tapi takkan pernah mampu menahan cita-citanya yang telah melanglang buana. Penjara takkan mampu menahan ketetapan Sang Pencipta: bangsa Indonesia akan merdeka.

Penjara mengajaknya bercanda. Berkenalan dengan Marx, membaca Sun Yat Sen, mengutip Albarda, meresume karya Snouck Hugronje. Tak kurang ada sekira 66 nama tokoh yang dikutip Soekarno. Sebut saja Anton Menger, August de Wit, Bauer, Boeke, Brailsford, Brooshooft, Clive Day, Colenbrander, Daan van der Zee, de Kat Angelino, Dietrich Schafer, Dijkstra, Duys, Engels, Erskin Childres, Federik Peter Godfried, FG Waller, Gonggijp, Henriette Roland Holsts, Herbert Spencer, HG Wells, Houshofer, Huender, Jaures, John Robert Seeley, dan Jozef Mazzini.

Ada juga Jules Harmand, Karl Kautsky, Karl Renner, Kilestra, Koch, Kraemer, Lievegoed, Mac Swiney, Manuel Quezon, Michael Davitt, Multatuli, Mustafa Kamil, Parvus, Peter Maszlow, Pieter Veth, Raffles, Reinhard, Rouffaer, Rudolf Hilferding, Sandberg, Sarojini Naidu, Schrieke, Scmalhausen, Sister Nivedita, Sneevliet, Stokvis, Treub, Troelstra, van den Bergh van Eysinga, van Gelderen, van Heldingen, van Kol, van Lith, dan Vleming*.
Continue reading Penjara

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belajar Menulis (Lagi)

Pagi yang cerah. Saya sedang menikmati ritual setiap pagi: membaca koran. Tiba-tiba orang tua bertanya, “Skripsimu gimana?”. Kontan ada kuliah subuh di saat dhuha. Bahkan Ibu mengkorelasikan ketidakjelasan kelulusan dimana pada ujungnya berdampak signifikan terhadap masa depan dengan tingkat konfidensi 90% disertai uji validitas dan reabilitas yang tidak kutahu darimana tesisnya.
Continue reading Belajar Menulis (Lagi)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Apa Persamaan dan Perbedaan Ruhut Sitompul dengan Gennaro Gattuso???

Apa persamaan dan perbedaan Ruhut Sitompul dengan Genaro Gattuso? Persamaannya adalah mereka berdua adalah “perusak”. Gattuso adalah salah satu gelandang bertahan terbaik Italia. Permainannya disiplin, mencoba mematikan pergerakan lawan dengan tackling-tackling keras. Benturan biasa dialami. Bahkan sudah menjadi langganan penerima kartu kuning. Julukannya tak kalah keren: Gattuso si Badak!.
Continue reading Apa Persamaan dan Perbedaan Ruhut Sitompul dengan Gennaro Gattuso???

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail