Monthly Archives: April 2010

Rockefeller

Saya berkenalan dengan John D. Rockefeller di emperan masjid Agung Sidoarjo. Pada tahun 2000, saat masih kelas 2 SMP. Ketika selesai sholat dan sedang memakai kaus kaki, tiba-tiba ada seorang takmir menghampiri. Sampai saat ini saya masih percaya dia sebenarnya malaikat.

“Dibaca ya..” Tiba-tiba dia memberikan sebuah buku. Tanpa alasan dan tanpa firasat. Juga tanpa jaminan.

Buku kecil berwarna hijau dengan tulisan judul kuning. Saya sudah lupa judul dan pengarangnya, yang jelas saat itu pertama kalinya saya mendengar kata Rockefeller. Isinya tentang perjalanan hidup orang terkaya dunia yang mendirikan Standard Oil Company.

Takmir yang amir. Bijaksana. Karena ia tahu, haram hukumnya membiarkan ilmu membeku didalam rak buku berdebu. Sejak itu saya diperbolehkan mengobrak-abrik koleksi perpustakaan dilantai dua. Buku kedua yang direkomendasikan dan masih saya ingat betul adalah karangan Michael H.Hart. 100 Tokoh Paling Berpengaruh Dunia.

7 Sisters

Baru siang tadi (27-4-2010) Rockefeler muncul lagi. Dalam acara bedah buku
“Dibawah Bendera Asing: Liberalisasi Industri Migas di Indonesia” karangan M Kholid Syeirazi (LP3ES:2009). Tapi dalam bentuk yang lain. Lewat 7 sisters. Karena seperti kita ketahui, Standard Oil Company muncul sebagai perusahaan raksasa. Sehingga pemerintah paman Sam sampai harus memecahnya menjadi 34 perusahaan.
Continue reading Rockefeller

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

TOGELnomics

Cerita ini harus dimulai dari 11 Maret 2010. Saat saya pulang ke Surabaya, menumpang bus Mira. Duduk dibangku paling belakang disamping pintu. Disamping saya ada pengamen yang entah kenapa, tidak mengamen. Mungkin ia mengalami disorientasi profesi.

Seperti polisi yang bosan mengayomi dan belajar sedikit korupsi. Seperti pegawai pajak yang sudah bosan menyimpan uang tarikan pajak di peti kayu dan belajar sedikit investasi lewat tabungan berbunga tinggi.
Ia selalu tersenyum sepanjang perjalanan. Naik dari Solo, membawa “sound system portable”. Rupanya ia adalah seniman jalanan yang mengerti teknologi. Toh, seni telah mengalami komodifikasi.
Continue reading TOGELnomics

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tamu yang Aneh

Tadi malam ada tamu yang datang kehatiku. Sambil mengetuk pintu. Dengan pelan. Pintu kubuka, dan kulihat sebuah buku berdebu. Ingin bertemu.

“Wah, Qur’an kecilku… apa kabar???” aku menyambut Al-Qur’an kecil itu.

Kupersilahkan ia masuk. Bingung aku harus menyuruhnya duduk dimana. Sudah sesak dengan gambar porno, tumpukan target dan strategi, buku-buku kiat sukses sambil menjadi kaya, kliping berita pembunuhan, ceceran darah, dan pembalut.
Continue reading Tamu yang Aneh

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Mendapatkan Investor

Seringkali pengusaha (apalagi pemula) terhadang kendala modal dalam menjalankan bisnisnya. Jika pembiayaan internal tak mungkin (ga punya duit), maka pilihan pengusaha hanya dua: berhutang atau mencari investor yang mau membiayai bisnisnya.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara mendapatkan investor??? Kita buat simulasi kasus saja. Misalnya Kita membutuhkan 50 juta untuk membuat rumah makan.

Sebelum menjawab, akan lebih baik kita menurunkan pertanyaan: siapa itu investor? Bagaimana saya bisa menemukan investor?

Jenis-jenis Investor

Secara sederhana investor dapat diartikan pihak yang menanamkan uangnya di sebuah bisnis. Ternyata menurut kuliah yang saya dapatkan di Entrepreneur Campus Yogyakarta, setidaknya ada tiga jenis investor:

  1. Tipe rasional

Maunya Cuma untung. Tipe yang sangat banyak ditemui. Tapi juga lebih mudah. Dalam artian, kita bisa menciptakan hubungan yang profesional. Mereka tidak menuntut yang “macam-macam”. Asal untung, modal kembali. Semua happy J.

  1. Tipe ideologi emosional

Mereka mau membantu, tapi dengan “syarat”. Bersifat ideologis atau mengandung nilai-nilai tertentu. Contohnya Pak haji yang bersedia berinvestasi dibisnis rumah makan Kita tapi Kita tak boleh menjual rokok disana. Inilah bedanya dengan investor rasional. Terkadang investor turut campur dalam nilai2 perusahaan.

  1. Angel investor

Kita harus berhati2 dengan tipe ini. There are no free lunch. Jika Kita bertemu dengan investor yang benar2 mau membantu, tidak menuntut macam-macam, juga sepertinya tidak memiliki motif apapun, maka sebaiknya Kita berdoa. Semoa Kita benar-benar bertemu dengan malaikat dan bukan domba berbulu srigala (bosan dengan ungkapan srigala berbulu domba? Kenapa tidak diganti “srigala berkelamin domba???” hehehe).

Semakin rasional investor, semakin profesional hubungan yang dibangun. Setelah tahu jenis2 investor berdasarkan motivasi umum, lalu apa?

Investor Terhebat

Daripada Kita mimpi bertemu malaikat yang menyamar jadi investor, lebih baik Kita ngomong langsung saja ke bosnya: Tuhan. Hey, saya TIDAK BERBOHONG. TUHAN adalah INVESTOR KITA. Ia memberikan kita kehidupan, kesehatan, bakat, dan kemampuan. Semua itu adalah investasi yang tidak ternilai. Jadi saran no.1 adalah: BERDOALAH!!!. (Saya sudah membuktikan, tahun 2009 saya mendapatkan investor 60 juta!)

Konsep Harus Jelas

Setelah itu Kita harus sudah memilikii konsep bisnis yang jelas terlebih dahulu. Tulislah dalam bentuk proposal sederhana. Jangan berpikiran sophisticated complicated (apaan seh???), intinya dibuat simple saja. Jauhi anggapan semakin tebal semakin bagus. Itu SALAH.

Karena calon investor hanya memiliki waktu tak lebih dari 3 menit untuk MENILAI BISNIS KITA. Cukup tulis latar belakang, gambaran produk/jasa, produksi, distribusi, pemasaran, dan juga analisa keuangan. Langsung tulis BENEFIT yang didapatkan investor. Entah berupa bagi hasil, atau buyback saham dalam jangka waktu tertentu.

Tak lupa tulis prospek perkembangan bisnis Kita minimal 5 tahun kedepan. Rekor proposal tertipis yang pernah saya buat adalah hanya 1 (satu) lembar. Dan tetap bisa goal.

Contact List

Nah sekarang coba tulis semua orang yang Kita kenal dan kira-kira “bisa membantu” (keluarga dan teman dekat bisa menjadi prioritas). Siapa pun. Karena pada dasarnya semua orang berpotensi menjadi investor Kita. Investasi tak harus melulu uang toh? Bisa peralatan, perizinan, tempat, doa dll. Bahkan tukang becak yang berpenghasilan Rp.30rb seharipun bisa!.

Tak percaya??? Sekarang mari ubah pola pikir kita. Kita butuh 50 juta, tapi apakah harus didapatkan dari satu orang? Apakah tidak bisa kita menerbitkan saham senilai 10rb perlembar? Dan berarti Kita akan memiliki 5.000 lembar saham yang bisa Kita jual eceran!.

Lagi-lagi saya sudah mencoba. Saat SMU tahun 2003, bersama teman2 dari Junior Achievement International yang mengajari kami membuat perusahaan kecil-kecilan. Modal yang dibutuhkan Rp.500rb. Apa yang kami lakukan? Memecahnya menjadi Rp.10rb dan menjualnya keteman atau orang tua kami sendiri! Bisa kan????

Jikapun Kita tidak menemukan investor yang mampu, kita bisa bertanya kepada kenalan Kita, “Kira-kira siapa yang bisa menjadi investor saya?”.

Jika sudah ada calon investor, segeralah buat janji untuk BERTEMU LANGSUNG. Haram hukumnya sekedar menitipkan proposal Kita kesekretaris bahkan satpam.

“Halo, Bapak X, saya (nama Kita) ingin berbicara tentang sesuatu yang menyangkut masa depan portofolio kekayaan Anda. Bisa kita bertemu untuk makan siang?” (believe me bos, mendengar kata “portofolio kekayaan masa depan”, minimal ia akan memberikan waktu 5 menit dikantornya).

Modal Terbesar

Modal terbesar dalam menjalankan bisnis dan mendapatkan investor bukanlah uang. Tapi masalah KEPERCAYAAN. Sebuah bentuk modal sosial yang tak bisa dinilai dengan uang. Kenapa pihak Bank membutuhkan jaminan seritifikat rumah Kita? Karena mereka belum percaya kepada Kita!.

Mereka masih belum tahu track record bisnis Kita. Apakah “berbakat” untung atau rugi. Apakah Kita tidak lari. Apakah Kita bukan penipu. Coba lihat pengusaha-pengusaha besar, malah pihak Bank yang “mengemis-ngemis” kepada pengusaha tersebut agar mau mengambil kredit.

Tips

Sebelum kita bisa meyakinkan orang lain, terlebih dahulu kita harus bisa meyakinkan diri sendiri. Lakukan presentasi dengan percaya diri. Disertai data dan fakta. Tak cukup berasumsi saja. Bagaimana orang lain akan mempercayai kita jika kita sendiri tidak percaya pada diri sendiri?

Jangan terlalu berjanji. Bersikaplah jujur, realistis dan profesional. Jika tahun pertama rugi (dan kebanyakan bisnis mengalami kerugian diawal-awal operasinya), maka jangan menjanjikan pembayaran. Lebih baik Kita kehilangan calon investor karena tak mampu menyanggupi permintaan muluknya, daripada kehilangan integritas karena menjadi Yes Man! Menjanjikan apa yang diinginkan oleh investor.

Keep your promise. Jika Kita sudah berkata A, maka pantang untuk melakukan B. Ini berkaitan dengan modal yang paling utama: kepercayaan. Kehilangan uang masih bisa dicari, kehilangan kepercayaan takkan bisa dibeli.

Gagal itu biasa. Band seperti The Beatles pun pernah gagal mendapatkan “investor”. DECCA record, sebuah perusahaan rekaman yang mendengar demo lagu mereka, menganggap grub ini tak lebih dari anak muda berandalan dengan musik yang “kacau”.

Jika Kita gagal mendapatkan investor, tak perlu berputus asa! Teliti lagi konsep bisnis Kita, pelajari seni negoisasi, terus cari contact, kembangkan jaringan, dan jangan pernah mengubur impian Kita untuk menciptakan rumah makan itu!!!.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail