Monthly Archives: May 2010

5000 dari Ibu

We know the price of everything, but value of nothing

(Oscar Wilde)

Pras datang membawa cerita-cerita bermakna. Ia bercerita. Tentang ibunya.

“Kowe (kamu) tau ga Yog, waktu aku mau ke Jakarta, aku bilang sama Ibu. Ibuku Cuma bilang: waduh le (nak), si mbok Cuma bisa nyangoni selamet.

Terus Yog, ia ambilkan duit. Lima ribu yog. Lima ribu untuk sangu ke Jakarta. Wah, rasane piye ngono (rasanya gimana gitu). Bukan jumlah lima ribunya. Tapi pemberiannya itu lho”.

Kami berdua tersenyum. Senyum yang berbeda. Ada rasa haru pada senyum pras. Lima ribu. Lima ribu dari Ibu. Bagi kita yang terbiasa meminta berjuta-juta dari orang tua, lima ribu tak berarti apa-apa.

Tapi bagi kawanku, Pras, seorang warrior of life, lima ribu dari seorang Ibu adalah segalanya. Saat orang tua tak sanggung memberikan bantuan materi, maka sesuatu yang bersifat supra-materi bekerja. Continue reading 5000 dari Ibu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jalan ke Surga

Iman tidak pernah tahu kemana ia dituntun. Tetapi, iman tahu dan mencintai Dia yang menuntun.
(Oswald Chamber)

Untuk Tuhan:
dari wikipediaHan, pada hari Kamis lalu (29 April 2010) ada pastor dari Swiss datang ke kampus. Memberi kuliah umum. Orangnya sudah sepuh, kelahiran 1928. Teolog Katolik lulusan Sorbonne. Tapi masih seger lho, bicaranya lancar, jalannya masih tegap. Orang yang beruntung karena Kau panjangkan umurnya.

Namanya Hans Kὔng. Sudah menulis banyak sekali buku. Tentang Kamu. Mulai On Being a Christian (1974), Does God Exist? An Answer for Today (1980), Christianity and The World Religions: Paths of Dialogue with Islam, Hinduism, and Buddhism (1986), Why I am Still Christian(1987), dan banyak karya lainnya. Oh ya, dia juga menulis tentang agamaku Islam: Past, Present, and Future (2007).


Dialog

Maaf ya Han, TOEFLku pas-pasan. Duduk lesehan paling belakang (gedung UC UGM sudah penuh), ditambah aksen Inggris kecampur Jerman dari mbah Kὔng. Jadinya saya Cuma bisa manggut-manggut sok ngerti. Inti dari kuliah umumnya itu Han, yaitu agar kami manusia, mulai membuka pintu dialog.

Mungkin karena kami terlalu cinta kepada-Mu kali ya. Sampai bunuh-bunuhan. Rebutan tanah. Menumpahkan darah. Konflik abadi yang terus terjadi. Ah…. dulu kenapa kau tidak menuruti saran malaikat sih, Han? Kami manusia kan memang Cuma bisa ngerusak saja. Pantas kalau iblis ogah sujud didepan Adam.

Mbah Kὔng memberikan materi tentang “akar” tiga agama terbesar dunia: Yahudi, Kristen, dan Islam. Sebuah perbandingan sejarah perkembangan agama lebih tepatnya. Dia mencoba melihat “persamaan dan perbedaan” untuk kemudian menjadi pintu masuk dialog antar agama. Karena menurut dia: tak ada perdamaian antar bangsa tanpa perdamaian antar agama.

Kritik

Tapi Han, saya merasa mbah Kὔng terlalu sempit dalam memandang konflik. Ia melihat bahwa agama adalah salah satu “sumber” perpecahan. Pertanyaannya Han, apakah kami manusia benar-benar berperang karena agama???

Kalau dahulu memang ada perang salib. Kalau disejarah Islam zaman kekhalifahan, memang ada seruan berperang dijalan-Mu. Jihad fissabilillah. Kristen mengenal gold, glory, dan gospel. Tapi bagaimana dengan sekarang?

Apakah Amerika menyerang Irak karena Sadam Husein orang Islam? Atau demi minyak? Apakah israel-Palestina terus bertanding memperebutkan lahan dakwah? Atau memang tanah untuk hidup? Konflik AS-Afghanistan, perang Sunni-Syiah, sampai kasus Ambon-Poso apakah benar-benar karena diri-Mu? Atau Engkau hanya dijadikan kedok sarana agitasi dan mobilisasi massa yang sebenarnya demi kepentingan politik dan ekonomi?

Kami hidup dizaman yang semakin sekuler, Han. Desekularisasi kata sosiolog Peter Berger. Deprivatisasi agama kata sosiolog lain Jose Cassanova. Agama menjadi semakin pribadi. Bukan urusan masyarakat lagi.

Manusia modern semakin ingin menyingkirkan diri-Mu dari urusan-urusan dunia mereka. Menempatkan urusan agama dipinggir. Bukan diatas atau ditengah. Urusan dengan-Mu ya saat beribadah atau hari-hari besar agama saja. Yang kebetulan bertepatan dengan hari libur nasional.

Lihatlah konstelasi politik dan negara didunia. Hampir tidak lagi yang menganut negara berbasis agama secara mutlak. Demokrasi hadir sebagai tuhan-tuhan kecil yang terus disembah. Jikapun Engkau hadir, hanya sebatas pemanis konstitusi.

Urusan moral juga seperti itu. Aturan-aturan-Mu hanya manis di bibir. Kami manusia, terus mencibir. Uruslah moralmu sendiri!!! Karena itu bintang film porno juga masih bisa mencalonkan diri menjadi pemimpin dinegeri ini.

Engkau hanya hadir disaat pagi yang hening. Dan malam yang buta. Karena Tuhan “hadir” dalam kesendirian.Keheningan kemanusiaan. Ketika manusia akhirnya sadar, tak perlu belajar teologi untuk mengetahui eksistensi tentang “sesuatu yang suci”.

Ketika realitas sakral bertemu momen-momen transendental penuh nuansa spiritual yang personal.

Nuansa yang mengingatkan kita, manusia, akan kerinduan berjalan kearah surga.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail