Monthly Archives: September 2010

Bejatnya Dongeng Indonesia

Ternyata, dongeng Indonesia itu penuh dengan pelajaran korupsi dan tipu muslihat. Mungkin ini yang menyebabkan prilaku sebagian masyarakat Indonesia penuh dengan kelicikan, kemunafikan, dan berbagai trik untuk mengkadalin orang lain. Tentu tidak semuanya. Masih banyak yang penuh muatan moral positif.

Tapi saya punya tiga contoh cerita rakyat yang seharusnya tidak diceritakan lagi:

Kancil

saifulislam.com

Siapa yang tidak kenal tokoh ini? Tentu banyak. George Bush dan jutaan anak Amerika mungkin tidak kenal kancil (bener tho?). Tapi di Indonesia kancil begitu populer. Populer dengan kecerdikan yang sebenarnya penuh kebohongan dan jauh dari pesan kejujuran.

Masih ingat tentang Kancil sang pencuri ketimun? Saat tertangkap si kancil lalu membohongi anjing Pak Tani. Mengatakan jika ia akan diajak ke pesta. Anjing yang sudah seperti wartawan infotainment karena termakan gossip dan tidak mengenal kata cross check ini langsung percaya. Si kancil kembali Berjaya.

Saat membaca cerita ini ketika SD berabad-abad yang lalu (umur Om Jin berapa?), tak lupa dibumbui pesan moral: Anak-anak, jadilah seperti kancil yang cerdik. Wow… kancil memang cerdik. Cerdik untuk urusan membohongi dan memanipulasi!

Cerita kancil dan pak tani tidak mengajarkan pentingnya arti sebuah kejujuran dan tanggung jawab. Berani berbuat, berani menanggung akibatnya. Justru kancil dipuji karena bisa melarikan diri. Sebuah pelajaran untuk membohongi orang lain demi keselamatan diri sendiri. Luar binasa!

Continue reading Bejatnya Dongeng Indonesia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Surat Kematian

Coryell-deviantartSeorang tukang pos terjatuh didepan rumahku. Tukang pos yang malang. Harus kehilangan nyawa dengan posisi melintang. Kubaringkan ia diberanda. Didekat pohon mangga. Kubiarkan sepeda motor bebek oranye itu meraung-raung dijalan raya.

Ditangannya ada sebuah surat. Dengan amplop coklat dan prangko abu-abu. Kuambil kiriman itu. Kulihat siapa pengirimnya. Tidak ada siapa-siapa. Kulihat sapa penerimanya. Aku tak mengenalnya.

Kurogoh dompet tukang pos. kucari kartu tanda pengenalnya. Siapa tahu dia adalah anggota teroris yang sedang mengantarkan sebuah misi rahasia.

Hanya ada KTP dan secarik kertas lusuh yang sudah kusut didompet itu. Sebuah tanda tentang sebuah pesan yang penuh tanya. Sebelum sempat kubaca. Tukang pos yang sudah mati ini tiba-tiba berdiri. Lalu berpidato panjang sekali:

“Saya sudah 30 tahun menjadi tukang pos. Menjadi tukang pos adalah panggilan hidup. Weltanchaung. Ini sudah tertulis didalam kitab kejadian sebelum menjadi kenyataan. Bahwa saya, Ahmad Subekti, diciptakan untuk melakukan pengiriman.

Jibiril. Ya Jibril. Saya hidup seperti jibril. Menjadi utusan Tuhan. Apa bedanya jibril dengan saya? Bukankah kami sama-sama menjadi kurir saja?

Selama 30 tahun mengabdi, saya, Ahmad Subekti, tidak pernah gagal dalam mengantarkan surat. Biar hujan badai. Biar gunung meletus. Biar kiamat sekalipun. Asal tidak gerimis. Pasti saya terjang. Bahkan saya memiliki sebuah moto hidup: Mengantarkan surat atau mati!

Tapi kali ini, saya tak bisa menemukan alamat surat ini. Surat terakhir untuk hari ini. Aib. Sungguh sebuah aib. Ahmad Subekti, tidak bisa mengantarkan surat! Apa pertanggungjawaban saya di akhirat nanti? Sungguh memalukan. Sebuah surat adalah amanat Tuhan yang harus disampaikan.

Padahal saya sudah berputar-putar kesana kemari diseluruh dunia. Mencoba mencari alamat untuk sang surat. Juga sudah bertanya kesiapa saja. Termasuk rumput yang bergoyang. Bahkan google saja tidak bisa menemukan alamat surat ini!

Untuk apa hidup jika tidak memiliki tujuan hidup? Bukankah tujuan dari hidup adalah untuk hidup dengan tujuan?  Padahal seorang Ahmad Subekti memiliki prinsip: Mengantarkan surat atau mati.

Dan kali ini, karena saya gagal mengantarkan surat, maka saya harus mati. Sekian.Terima kasih”

Setelah berbicara berapi-api. Tukang pos kembali mati. Pidato perpisahan yang seolah-olah menjadi requiem pengiring kematian. Tak lupa aku ikut bertepuk tangan.

Kubaca nama dan alamat di KTP tukang pos. Kubandingkan dengan surat yang ada ditanganku.

Tukang pos yang baik hati. 30 tahun mengabdi. Tapi belum pernah menerima surat untuk dirinya sendiri.

Tukang pos yang kasihan sekali. Ia tidak lagi mengenali. Alamat surat untuk dirinya sendiri.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jebakan Offside

Peternak sapi dikampung nenek saya bingung. Harga sapi terus mengalami penurunan. Sapi yang semula berharga 12 juta ++ kini bisa didapatkan tak lebih dari 10 juta saja. Padahal harga daging di pasaran terus naik. (Ya Tuhan, tolong ampuni pedagang daging yang ngambil untung kebangetan)

Weqs, koq bisa harga sapinya turun ya? Tentu saja bisa. Presiden kebo saja bisa diturunkan klo mau, masa sapi nggak bisa?

Tangan Tuhan

Continue reading Jebakan Offside

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail