Monthly Archives: November 2010

Proxy

Salah satu penyakit kemanusiaan modern adalah kegemaran melakukan perhitungan. Kejayaan perkembangan logika dan matematika telah meminta tumbal. Semua urusan membutuhkan ukuran. Justifikasi. Kuantifikasi. Penjelasan dalam bentuk angka-angka pasti. Termasuk untuk urusan hati.

Kehidupan butuh pengukuran. Karena pengetahuan membutuhkan kepastian. Aliran positivistic membangun bangunan pengetahuan dari serangkaian asumsi yang membutuhkan pengujian. Dan pengujian membutuhkan penghitungan.

Untuk itulah kita, manusia modern abad 21, menciptakan proxy. Sebagai jembatan pengukuran.

Untuk mengukur kinerja seorang direktur dipakai proxy pertumbuhan laba dan harga saham. Untuk melihat kecerdasan seorang mahasiswa dipakai proxy nilai IPK, tak lupa nilai UAN menjadi proxy lulus tidaknya seorang siswa SMA.

Kita mengukur kesuksesan seseorang dengan proxy kekayaan dan jabatan.  Proxy kecantikan menurut industry televisi adalah warna kulit, bentuk rambut, dan seberapa menggairahkannya bentuk badan Anda. Untuk mengetahui keshalehan seseorang kita menggunakan proxy ibadah yang ia lakukan.

Tapi bagaimana dengan niat. Bagaimana proxy untuk ukuran hati? Apakah kita bisa mengukur niat dan hati seseorang? Karena seperti kata Einstein:

“Tidak semua yang diperhitungkan bisa dihitung, dan tidak semua yang bisa dihitung, diperhitungkan.”

 

Ziarah

Dalam cerpen Ziarah karya sastrawan Rusia Leo Tolstoy, diceritakan dua petani tua yang ingin berziarah ke Jerusalem. Kota suci tiga agama. Efim Sechevelof dan Eliyah Bodroff.

Continue reading Proxy

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sapuan Feses Waria Meledak

Ingin menumbuhkan budaya baca dengan mudah? Tapi tidak punya waktu untuk membaca? Gampang. Tinggal buat “perpustakaan” didalam kamar mandi rumah kita.

Saya serius! Tidak usah membayangkan perpustakaan yang mewah dengan koleksi ribuan buku. Cukup berikan tumpukan beberapa buku, majalah, atau Koran, didalam lingkungan kamar mandi. Letakkan saja diatas kloset. Kita bisa membacanya sambil “melaksanakan tugas” rutin. Tentu kebiasaan ini lebih baik dari merokok dikamar mandi bukan?

Mari kita hitung. Andai kita melakukan “migrasi” di kamar mandi selama 15 menit setiap pagi. Saya yakin bisa lebih lama. Nah, dari situ anggap saja 5 menit digunakan untuk “membuang sesuatu”. Waktu 5 menit inilah yang bisa dioptimalkan.

Anggap saja kecepatan membaca kita hanya 2 menit per halaman. Berarti minimal 2 halaman katam setiap pagi. Dengan asumsi kita rajin kekamar mandi setiap hari, berarti dalam setahun sudah ada 2 halaman x 365 hari atau sekitar 730 halaman terbaca! Jumlah halaman itu setara dengan 2 buku dengan ketebalan standar, atau 7 buku dengan ketebalan tipis!.

Masih meremehkan “kekuatan toilet”?

Continue reading Sapuan Feses Waria Meledak

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penyakit Orang Miskin

“Kaum miskin itu menjadi miskin karena ruang kapabilitas yang kecil. Mereka menjadi miskin karena tidak bisa melakukan sesuatu dan bukan karena tidak memiliki sesuatu”

[Amarthya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998)

 

Anda tahu apa perbedaan orang kaya dan orang miskin? Bukan tampang, bukan jumlah uang, dan bukan seberapa sering ia pergi keluar negeri. Konon, perbedaan utama yang signifikan antara orang kaya dan miskin hanya ada pada satu hal: kemampuan mengoptimalkan asset.

Saya mendapatkan pelajaran ini sejak membaca Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki ketika masih kelas 1 SMA. Saat itu, ada pelajaran pertama yang sangat penting: bagaimana membedakan asset dan liabilitas (kewajiban).

Asset vs Liabilitas

Asset dalam suatu neraca laporan keuangan ada disisi kiri, sedangkan liabilitas (kewajiban) ada disisi kanan. Gampangnya, asset adalah segala sesuatu yang memasukkan uang kekantong kita. Sedangkan liabilitas adalah segala sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantong kita. Sesederhana itu. Tapi orang seringkali terjebak, keliru membedakan asset dan liabilitas.

Sekarang apakah uang termasuk asset? Bagaimana dengan mobil, rumah, tanah, dan surat berharga? Ternyata Itu semua belum tentu asset loh! Harta belum tentu asset, dan asset belum tentu harta.

Continue reading Penyakit Orang Miskin

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

cover cerpenIni adalah cerpen favorit saya. Karya Kuntowijoyo dalam Dilarang Mencintai Bunga-Bunga (Anda juga harus membaca cerpen ini jika doyan cerpen sufistik, menurut saya lebih keren dari Adam Makrifat-nya Danarto. Karena Cerpen tema selangkangan zaman dulu belum rame).

 

Cerpen ini bercerita tentang perjuangan seorang kakek yang ingin menyumbangkan sepotong kayu nangka, untuk Tuhan tercinta.

 

Setiap membaca cerpen ini entah mengapa, saya selalu bersemangat melakukan kebaikan. Oleh karena itu suatu hari nanti saya ingin sekali menjadikan cerpen ini sebagai wallpaper penghias tembok rumah.

 

Agak panjang, alokasikan waktu 15-20 menit untuk membacanya. Bisa anda save dan baca jika ada waktu luang. Karena belum ada yang posting di internet, saya mengetik ulang cerpen ini. Jadi maaf klo ada salah2 ketik ya ^_^

 

Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Oleh: Kuntowijoyo

 

Matahari sudah tinggi di pedusunan kecil itu, ketika lelaki tua terbaring di kursi panjang, di muka rumahnya. Ia berbuat demikian sejak pagi. Tak seorang pun akan menahannya berbuat itu! Isterinya tidak di rumah. Syukurlah aku bisa bikin anak! Dan anak itu bisa bikin cucu! Perempuan tua, isterinya, beberapa hari yang lalu mengatakan padanya, bahwa ia kangen setengah mati pada cucunya. Maka pergilah perempuan cerewet itu. Ia pergi dengan kereta terpagi kemarin.

Lelaki tua itu sendiri saja. Kalau tidak, tentu isterinya telah mencarinya, bila pagi-pagi dia berbaring saja macam sekarang. “Pergi pemalas!”, kata isterinya andaikata ia di rumah. Tetapi ia tak dirumah. Lelaki tua itu menjulurkan kaki sepuasnya, menyedot pipa sampai nafasnya terasa sesak. Sekaranglah ia benar-benar bebas. Seaptutnya ia pergunakan kebebasan itu untuk bermalas-malas: berbaring di kursi panjang menikmati langit, pohonan, dan kebunnya.

Rumah itu terletak dipinggir dusun, jauh dari tetangga. Tak seorang pun akan melihatnya berbaring sampai kapan pun. Dibelakang rumah adalah sungai kecil. Kebunnya melandai sampai menyentuh tepi sungai itu. Pohon-pohon meramaikan pekarangan. Alangkah berat kerjanya! kalau istri dirumah, dia akan disuruhnya membungkuk-bungkuk sepanjang kebun. Ada-ada saja. Kayu! Kayu habis! Alangkah kotor kebun kita! Ia harus bangkit cepat-cepat, kalau tidak ingin basah kuyup tubuhnya oleh siraman air istrinya. Kerja itu memang perlu, ia tahu. Hanya isterinya terlalu cerewet. Ia yang sudah seputih itu rambutnya masih saja dinilai sebagai pemalas. Persetan! Toh, istrinya tidak ada sekarang!.

Aku bukan pemalas, pikir lelaki tua itu. Aku anak cucu mereka yang suka kerja keras. Aku rajin, dari ujung kaki sampai ujung rambut! Ia menyedot rokok pipa dalam-dalam. Tapi buktikanlah, Kakek, tiba-tiba ia berpikir-pikir. Ya, berkata itu mudah. Bukti itu sulit. Namun ia tak tahu kerja apa yang dapat dikerjakan pada saat seperti ini. Katakanlah, misalnya kayu bakar. Kayu bakar telah bertumpuk di dapur. Ia sendiri menumpuknya. Atau menyapu halaman. Sia-sia saja, tak seorang pun akan melihat rumahnya. Rumahnya cukup terlindung dari mata orang.

Tiba-tiba ia bangkit. “Demi Tuhan!”, Continue reading Sepotong Kayu Untuk Tuhan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail