Monthly Archives: June 2011

Anonymous

Siapa dia?
Siapa dia?

Apalah artinya sebuah nama? Shakespeare bertanya. Banyak, sangat banyak. Aristotle mengabdikan hidupnya untuk menghasilkan taksonomi nama-nama hewan dan tumbuhan. Para ahli pemasaran menghabiskan jutaan dollar untuk membangun sebuah nama. Merek. Brand bahasa kerennya.

Nama bukan hanya panggilan. Nama adalah penanda. Identitas. Penuh semiotika makna. Dalam kasus pemasaran, ada banyak cerita tentang sebuah nama. Toyota pernah menjadi bahan tertawaan karena masuk ke pasar AS dengan nama Toyopet. Mereka baru sukses di pasar AS setelah mengeluarkan brand dengan nama eksklusif: Lexus.

Tapi saya tidak akan berbicara tentang branding dalam marketing. Anda pasti lebih ngerti daripada yang nulis tulisan sampah ini. Saya hanya ingin menulis tentang pentingnya sebuah nama bagi manusia, dan betapa kita (terutama saya) sering melupakan makna dari sebuah nama.

Service Excellence

Ide tulisan ini lahir ketika saya mengikuti seleksi wawancara untuk menjadi tukang gali batu bara. Setelah 2x tes tulis, dan 3x wawancara (serius wawancara sampe 3x!), akhirnya saya bertemu direksi. Direktur perusahaan ini orangnya asyik, menyenangkan. Dan setelah satu jam ngobrol ngalor ngidul-kanan kiri disertai penuh tawa, tiba-tiba dia bertanya:

“Oh ya, siapa tadi nama saya?”

Mak Jleb!!!… Rasanya seperti kejatuhan kapas 100kg yang dilempar dari menara 100 lantai dengan kecepatan 100km/jam. Biarpun kapas, karena beratnya 1 ton, tetep sakit juga.

Saya lupa. Blank. Itulah kelemahan orang supel seperti saya. Sangat mudah membangun keakraban, tapi sering tidak memperhatikan detail. Sangat sering, saya disapa orang yang sudah tidak saya ingat lagi namanya. Bahkan pernah, saya bertemu seseorang Continue reading Anonymous

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kolam di Pekarangan – Sapardi Djoko Damono

ikan akuarium kontrakan
ikan akuarium kontrakan

Kolam di Pekarangan

/1/

Daun yang membusuk di dasar kolam itu masih juga tengadah ke ranting pohon jeruk yang dulu melahirkannya. la ingin sekali bisa merindukannya. Tak akan dilupakannya hari itu menjelang subuh hujan terbawa angin memutarnya pelahan, melepasnya dari ranting yang dibebani begitu banyak daun yang terus-menerus berusaha untuk tidak bergoyang. la tak sempat lagi menyaksikan matahari yang senantiasa hilang-tampak di sela-sela rimbunan yang kalau siang diharapkan lumut yang membungkus batu-batu dan menempel di dinding kolam itu. Ada sesuatu yang dirasakannya hilang di hari pertama ia terbaring di kolam itu, ada lembab angin yang tidak akan bisa dirasakannya lagi di dalam kepungan air yang berjanji akan membusukkannya segera setelah zat yang dikandungnya meresap ke pori-porinya. Ada gigil matahari yang tidak akan bisa dihayatinya lagi yang berkas-berkas sinarnya suka menyentuhnyentuhkan hangatnya pada ranting yang hanya berbisik jika angin lewat tanpa mengatakan apa-apa. Zat itu bukan angin. Zat itu bukan cahaya matahari. Zat itu menyebabkannya menyerah saja pada air yang tak pernah bisa berhenti bergerak karena ikan-ikan yang di kolam itu diperingatkan entah oleh Siapa dulu ketika waktu masih sangat purba untuk tidak pernah tidur. Ia pun bergoyang ke sana ke mari di atas hamparan batu kerikil yang mengalasi kolam itu. Tak pernah terbayangkan olehnya bertanya kepada batu kerikil mengapa kamu selalu memejamkan mata. Ia berharap bisa mengenal satu demi satu kerikil itu sebelum sepenuhnya membusuk dan menjadi satu dengan air seperti daun-daun lain yang lebih dahulu jatuh ke kolam itu. Ia tidak suka membayangkan daun lain yang kebetulan jatuh di kaki pohon itu, membusuk dan menjadi pupuk, kalau kebetulan luput dari sapu si tukang kebun.

*

la ingin sekali bisa merindukan ranting pohon jeruk itu.

*

Ingin sekali bisa merindukan dirinya sebagai kuncup.

/2/

Ikan tidak pernah merasa terganggu setiap kali ada daun jatuh ke kolam, ia memahami bahwa air kolam tidak berhak mengeluh tentang apa saja yang jatuh di dalamnya Continue reading Kolam di Pekarangan – Sapardi Djoko Damono

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail