Monthly Archives: October 2011

Pencabut Nyawa

gaf.co.id

Pada bulan Januari 1848 di lembah Sacramento California, seorang tukang kayu bernama James W. Marshall dan partnernya, John A Sutter, berhasil menemukan emas secara tidak sengaja. Mereka sudah mencoba merahasiakan hal ini. Tapi emas adalah emas. Semakin ditutupi, semakin berkilau.

Samuel Brannan, pemilik toko perkakas didekat lumbung gergaji mereka, pergi ke San Fransisco untuk menyebarkan “kabar gembira” ini. Tujuan Brannan murni bisnis: agar banyak orang datang dan membeli peralatan tambang di tokonya. Dalam beberapa bulan, kabar menyebar seperti angin. Seluruh kota mengetahuinya. Dan seluruh kota mengejarnya. San Fransisco berubah menjadi kota hantu. Kota mati. Karena semua orang, tua muda, wanita pria, anak-anak dan dewasa, pergi untuk berburu emas.

Musim panas ditahun yang sama, berita sudah menyebar ke West Coast, menyeberangi Mexico, bahkan hingga ke Hawai. Rumor juga mencapai Mississippi dan Negara bagian timur. Presiden AS kala itu, James K Polk akhirnya membuat pengumuman resmi tentang penemuan emas di California. Pengumuman yang membuat orang-orang menjual harta mereka, membeli cangkul dan sekop, lalu pergi ke California untuk menambang emas.

Kutukan Midas

Para penambang, yang kemudian dikenal sebagai forty-niners atau argonauts, datang dari seluruh penjuru negeri Continue reading Pencabut Nyawa

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kerja! Kerja! Kerja!

Akhirnya selesai juga. Audisi “SBY Idol” yang menyita perhatian public, telah berakhir. Ada menteri yang lengser, ada yang masuk. Kocok ulang komposisi cabinet yang membuat jumlah wakil menteri makin membengkak. Saya tidak ingin berbicara politik reshuffle, biarlah menjadi urusan Presiden dengan Tuhan. Saya hanya ingin mengucapkan selamat kepada CEO favorit saya yang akhirnya masuk ke jajaran birokrasi: Dahlan Iskan.

Ya, Dahlan Iskan adalah CEO favorit saya! Ada banyak alasan yang membuat saya kagum. Selain dari kemampuannya membesarkan Jawa Pos group. Dari sebuah Koran kecil yang hampir bangkrut di daerah Kembang Jepun menjadi holding company dengan 200 anak perusahaan yang menyaingi Kompas Gramedia.

Juga spirit “intrapreneurship” yang telah ia praktikkan dengan terus memberikan inovasi dan breakthrough dalam setiap perusahaan yang dipimpinnya. Terbukti PLN yang selama bertahun-tahun menjadi Perusahaan Lilin Negara mampu membalikkan keadaan dan menjadi power house energy negara.

Tapi yang membuat saya terkagum-kagum adalah “modal utamanya” selama ini. Kemampuan dasar yang didapat dari profesi awalnya sebagai seorang wartawan. Skill yang menurut saya sangat basic dan fundamental, tapi terbukti mampu menjadi dasar kesuksesan seorang Dahlan Iskan. Apa itu? Continue reading Kerja! Kerja! Kerja!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Para Pencari Tuhan

Untuk mengetahui kualitas iman seorang muslim, maka cukup periksa sholatnya. Karena ibadah ini menjadi tiang agama. Pondasi yang mendasari kualitas takwa seorang hamba. Jika baik sholatnya, insya Allah baik hidupnya. Karena itulah, amalan yang dihisab pertama kali adalah urusan sholat.

Sayangnya sholat saya berantakan. Sering pas injury time (shubuh jam setengah 6, dhuhur setengah 3, dsb), jalannya ngebut via jalan tol pula. Sholat saya juga mengidap gejala ejakulasi dini: ga’ sampai 3 menit sudah kelar. Hahaha. Surat yang dibaca Cuma itu-itu saja. Saya juga masih bertanya-tanya, dimana nikmatnya sholat.

Sampai saya bertemu teman kantor bernama Mas Hari. Dia waktu sholat khusyuk sekali. Tenang. Tidak terburu-buru. Ada semacam perasaan damai yang menjalar. Ada rasa puas yang terpancar. Setelah sholat pasti raut wajahnya memancarkan kebahagiaan. Berseri-seri. Berbinar-binar.

Karena penasaran, saya bertanya, bagaimana caranya sholat senikmat itu. Dia memberi saran: Continue reading Para Pencari Tuhan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Curhat] Bad News, Good News

Ada berita baik dan berita buruk yang ingin saya sampaikan.

Berita baiknya, saya akhirnya sadar jika saya ganteng (yang mau muntah silahkan ngantri di belakang). Okay, berita baik selanjutnya: saya pindah kerja ke ibukota.

Oh ya lupa cerita, setelah lulus bulan mei dari kampus tercinta, saya diterima menjadi jongos disalah satu BUMN dan bekerja di Surabaya. Antara Juli-September. Ternyata saya tidak terlalu menikmati pekerjaan di pasar modal. Hidup sepertinya membosankan jika selama 30 tahun kedepan saya habiskan dibelakang komputer, memelototi candle stick, membaca laporan keuangan, membuat rekomendasi harian, dan merayu nasabah melakukan trading.

Saya harus menerima kenyataan jika saya seorang fundamentalis sejati ala Benjamin Graham (gurunya Warrant Buffet) dan tidak terlalu menikmati proses menjadi seorang trader, apalagi spekulan. So saya resign dan alhamdulilah mulai November pindah ke Jakarta untuk menjadi kacung perusahaan multinasional asing di bidang advertising dan media investment.

Saya masih mencari passion saya, dan terus bertanya tentang arti dan tujuan hidup di dunia. Saya baru mencoba dua bidang yang saya sukai ketika kuliah: marketing dan finance (saham dkk). Saham sudah dicoba (dan saya tetap ingin jadi value investor dengan swing trading mingguan :D), Jadinya saya coba banding setir kebidang yang tak kalah asyiknya: advertising dan media.

Saya juga masih berniat kerja sambil membangun bisnis saya nanti. Niatnya sih kerja cari modal, skill, dan jaringan. Jika ternyata kerjanya menantang dan menyenangkan, mungkin bisa lanjut sampai pensiun. Tapi sebagai backup, saya HARUS punya bisnis sampingan. Entah apa itu. Mungkin Tolstoy Farm. Hahaha.

Bad News

Berita buruknya: Tantangan menulis berkualitas menjadi semakin berat. Ritme hidup di ibukota membuat saya harus berangkat pagi-pagi sekali dan pulang larut malam. Padahal untuk menghasilkan tulisan selama ini, saya butuh membaca 2-3 buku setiap minggu. Rajin membuat resume dan kutipan. Membedah tumpukan sastra, novel, dan puisi (agar tulisan berjiwa dan tidak kering). Membackup data statistik. Traveling dan berbincang-bincang dengan orang untuk menggali insight plus perspektif baru. Tak lupa rajin merenung serta melakukan kontemplasi.

Saya tidak terbiasa asal tulis. Karena menulis adalah salah satu passion hidup saya. Dan saya serius menjalaninya. Sudah ada writer plan 2020 yang sudah berlangsung selama setahun. So far so good. Dalam fase konsolidasi hingga 2013 saya hanya memiliki target sederhana: rutin menulis setiap minggu!. Indicator kesuksesannya meliputi konsistensi terbit, kuantitas keterbacaan per halaman, jumlah “jempol” dan tautan, serta komentar yang masuk di setiap tulisan.

Agar tetap produktif menulis minimal seminggu satu tulisan, saya akan menghadirkan rubric baru: [Curhat]. Namanya doank curhat. Tapi ga 100% curhat. Dalam [Curhat] saya lebih mengedepankan pandangan pribadi. Sehingga tidak perlu capek2 cari data, teori, atau landasan ilmiah. Tulis aja apa yang dikepala. [Curhat] lahir dengan konsep free writing yang lebih personal dan sentimental. Sehingga lebih membantu saya untuk mengekspresikan diri dan berbagi.

Lantas, kalau situ rindu gaya tulisan saya yang sebelum2nya gmana? Gampang. Jika tidak ada label [Curhat] di judul tulisan, berarti itu tergolong essay2 reguler saya. Insya Allah masih segar, kaya data, punya landasan teori ilmiah yang dikemas ringan, memiliki nuansa sastra, serta mencerdaskan dan mencerahkan (Amiiiiinnnnnnnnnnnnn :D).

Tak lupa saya umumkan pergeseran jadwal terbit tulisan, dari hari Jumat menjadi hari Minggu. Karena saya butuh waktu untuk keluar dari rutinitas dan menggali pandangan-pandangan baru. Mencari inspirasi dan berbagi aspirasi. Saya akan tetap berusaha keras menghadirkan tulisan berkelas. Karena setiap ide tulisan yang lahir sudah saya anggap seperti anak sendiri. Anak kata-kata yang harus dirawat dan dibesarkan dengan sepenuh jiwa raga.

Bagi saya, menulis adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Karena telah menitipkan kecerdasan, pengetahuan, dan kesempatan untuk mengembangkan pemikiran. Saya akan terus menulis. Untuk Tuhan dan kemanusiaan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail