Monthly Archives: January 2012

Komplain

Ternyata tulisan sebelum ini berbuntut panjang. Karena dibaca orang2 mantan kantor temen saya, dan ia menerima komplain.

Terpaksa harus saya remove. Buat temen saya, sorry banget ya bro. Lain kali saya minta permission dulu deh 🙁

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Segitiga Landak

Bagaimana menemukan bisnis yang cocok dengan kita?

Pertanyaan yang sering ditanyakan dalam seminar-seminar kewirausahaan. Biasanya dilontarkan oleh mereka yang belum pernah punya bisnis. Masih pemula dan terus meraba-raba. Dan pertanyaan ini pula yang kembali ditanyakan oleh seorang teman saya. Dia resign setelah menjadi auditor kantor akuntan public ternama guna mengejar cita-citanya menjadi pengusaha.

Okay, saya tidak ingin menggurui. Saya juga masih belajar. Beberapa kali berbisnis sejak SMA hingga kuliah. Mayoritas untung. Tapi tidak jarang juga rugi. Yang pasti, tidak ada bisnis saya yang sustain, berkelanjutan. Semua sifatnya musiman. Karbitan. Dadakan. Sporadic. Atau apa lah namanya.

Saya pernah berjualan buku bekas pelajaran saat tahun ajaran baru. Menjual bunga saat valentine. Takjil pisang ijo saat puasa. Bahkan menjadi pedagang asongan. Yang bertahan agak lama, saya pernah membuka dealer motor bekas selama 10 bulan, dan menjadi peternak bebek petelur selama 1 tahun. Semua dilakukan disela-sela jadi anak sekolahan.

Setelah lulus pertengahan 2011 lalu, sekarang status saya justru jadi pegawai kantoran biasa. Niatnya belajar sambil mencari modal social untuk membayar hutang yang masih ada. Hehehe.

So, saya tidak punya kapabilitas untuk memberikan petuah sakti. Saya hanya ingin berbagi model dari Jim Collins dan sedikit matriks yang saya ciptakan sendiri. Sedikit oleh2 dari teori di bangku kuliah yang tersisa. Semuanya tentang menemukan peluang bisnis yang ada.

Segitiga Landak

Jim Collins dalam karya masterpiece-nya, Good to Great, melakukan penelitian terhadap perusahaan paling sukses di dunia. Hasilnya, ia melihat semua perusahaan sukses menerapkan prinsip dari segitiga landak. Anda tahu landak? Binatang bercula satu. Oh, itu badak. Landak adalah hewan berduri yang jadi icon video game SEGA lewat tokoh Sonic the Hedgehog.

Prilaku landak sangat sederhana. Ia terfokus. Tidak gampang teralihkan ketika sedang berburu. Dan punya self defense mechanism yang bagus lewat duri-durinya. Yang jelas, menurut Collins, semua perusahaan hebat harus seperti landak: Sederhana. Focus. Dan punya pertahanan kuat.

Semua perusahaan hebat harus punya tiga hal: Continue reading Segitiga Landak

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tiga Rahasia Mendapatkan Harga Termurah Untuk Setiap Barang yang Kita Beli

Kapan ke Jogja lagi???

Untuk mendapatkan harga termurah, sebenarnya sederhana: belajarlah seni tawar menawar.

Belanja ga pake nawar? Mana seru! Bagian inilah yang membuat saya paling bersemangat. Bagi saya, seni tawar menawar adalah praktikum kuliah negosiasi yang sejati. Lewat tawar menawar Anda akan belajar manajemen isu konflik, optimalisasi sumberdaya ekonomis, berupaya mencari win-win solution, serta 144 SKS mata kuliah psikologi social dan komunikasi massa (selain dapat diskon harga tentunya :p).

Tawar menawar pula yang membuat pasar kembali menjadi organisme sosial yang manusiawi. Kumpulan manusia. Bukan kumpulan harga-harga. “Fasilitas” yang tidak ada di gerai modern pusat perbelanjaan. Jika Anda berbelanja ke gerai modern di mall, hanya tercipta komunikasi satu arah. Penjual dengan harga yang sudah ditentukan.

Take it, or leave it.

Berbeda dengan pasar biasa. Baik itu pasar yang sudah “modern” (tertata, tercluster, dan udah punya oyjeck klo uyjan juga ga beycheck) seperti Tanah Abang, Pasar Turi, Beringharjo, dll. Secondary market (pasar jual beli mobil contohnya) atau pasar online (cth: FJB kaskus).

Disini Anda bertransaksi dengan manusia. Bukan system barcode atau kasir yang terpaksa tersenyum meski sedang dilanda masalah rumah tangga. Di pasar “tradisional”, Anda bisa bersentuhan langsung dengan pelaku ekonomi. Mendengar cerita mereka. Bercanda. Berbicara soal cuaca, daerah asal, isu politik, hingga gossip artis ternama. Hidup bukan hanya berurusan tentang harga.

Lantas, bagaimana cara tawar menawar biar dapat barang termurah? Cukup ikuti tiga langkah dari saya.

Tiga Cara Untuk Mendapatkan Harga Terbaik Untuk Setiap Barang yang Anda Beli

Continue reading Tiga Rahasia Mendapatkan Harga Termurah Untuk Setiap Barang yang Kita Beli

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Lomba dan Rahasia Hidup Bahagia

Ada banyak lomba yang pernah saya ikuti selama jadi mahasiswa. Mayoritas sih menang. Menangis dan menanggung malu maksudnya… hiks.. hiks… tapi beberapa kali menang beneran. Hadiahnya lumayan. Mulai dapat duit jutaan, blackberry, sampai ada yang Cuma dapat botol minuman (hadiah hiburan T_T).

Karena itu saya sangat mengappresiasi ide Dyah yang ingin mengadakan lomba menulis untuk peringatan satu tahun ekonom Gila. Sebenarnya saya punya ide untuk lomba foto model, tapi nanti pasti ga seru. Soalnya saya pasti menang. Menangis dan menanggung malu lagi deh. Hehehe. Tapi kalo lomba sumo, kayaknya saya menang beneran :p.

Lagipula, hidup adalah perlombaan. Kita berlomba untuk hidup. Kita adalah hasil balapan lari jutaan sel sperma laki-laki yang menghamili ibu kita. Hanya satu sel juara yang mampu membuahi sel ovum wanita yang melahirkan kita. Kita adalah hasil perlombaan itu!.

Dua Pelajaran Kehidupan

Dari sekian banyak lomba menulis, ada dua pelajaran utama yang bisa saya petik hikmahnya.

Pertama: lomba sebenarnya adalah perlombaan dengan diri sendiri.

 Musuh utama kita bukanlah peserta lain. Tapi diri kita sendiri. Bagaimana menghasilkan karya magnum opus yang state of the art. Beyond expectation para juri. Ini juga berarti perlombaan melawan malas. Rasa takut kalah. Kebingungan mengurai masalah dan mencari solusi. Dan bagaimana cara manajemen kerja agar bisa mengirimkan karya tepat waktu.

Jadi jika kita kalah, berarti kita dikalahkan oleh diri kita sendiri, bukan orang lain. Dan jika kita menang, berarti kita mengalahkan diri kita sendiri, bukan orang lain.

 Kedua: ada yang lebih penting dari sekedar uang.

 Mengenai motivasi mengikuti lomba. Uang memang penting. Tapi ternyata ada yang lebih penting! Apa itu? Continue reading Tentang Lomba dan Rahasia Hidup Bahagia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

2011 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 9.500 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

(Baru Pulang dari taun baruan di Sumatera, lum sempet nulis :P)

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail