Monthly Archives: April 2012

Locus

productivity501.com

Apa yang membedakan pemenang dan pecundang? Ada banyak pembeda. Mulai dari mindset, sikap, spirit, hingga belief. Tapi saya percaya jika salah satu perbedaan fundamental ada pada persepsi. Cara memandang permasalahan itu sendiri.

Seorang ahli psikologi bernama Julian Rotter membedakan manusia menjadi dua golongan: mereka dengan locus of control eksternal melawan orang dengan locus of control internal. Locus of control berakar dari bahasa Yunani, locus, yang berarti tempat. Locus of control secara gampang merujuk pada “tempat control”.

Mereka dengan locus of control eksternal percaya jika apa yang mereka alami dalam hidup ditentukan diluar control Pribadi mereka. Sedangkan orang dengan locus of control internal percaya jika mereka bisa menentukan nasib mereka sendiri.

Tampaknya sederhana. Tapi besar dampaknya Continue reading Locus

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Atman

Atmanconnection
atmanconnection.com

Seorang teman bertanya, apa perbedaan senang dan bahagia?

Teman tadi mengajukan preposisi sederhana, seringkali kita merasakan kesenangan, tapi apakah kita merasakan kebahagiaan? Contohnya ketika kita memenangkan hadiah undian berupa mobil. Kita merasa senang. Tapi mengapa kesenangan itu berubah menjadi kesedihan ketika ternyata kita mengalami kecelakaan saat mengendarai mobil tadi.

Mobil yang semula menjadi sumber kebahagiaan, tiba-tiba menjadi sumber penderitaan. Betapa relatifnya hidup.

Pertanyaan mengenai kebahagiaan sesungguhnya adalah pertanyaan tentang eksistensi kemanusiaan. Pemikiran tentang ini membayangi para filsuf dan bijak bestari sejak dahulu kala. Epicurus, penggagas hedonism, beranggapan bahwa manusia hidup untuk mencari kebahagiaan. Tapi sayangnya pengikutnya mempelintir definisi kebahagiaan hanya sebagai pemenuhan kesenangan.

Padahal Epicurus mengejar sebuah keadaan tanpa rasa takut (ataraxia) dan tidak adanya rasa sakit (aponia). Kebahagiaan jenis ini hanya bisa dikejar dengan pengetahuan, hubungan pertemanan dengan kasih sayang, dan hidup dengan kebaikan. Kebahagiaan tidak dicapai dengan makan sekenyang-kenyangnya, tidur sepuas-puasnya, bercinta sekuat-kuatnya, atau minum sebanyak-banyaknya.

4 F

Karen Armstrong dalam Compassion menyebutkan bahwa manusia memiliki “otak tua” guna mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan bertumpu pada 4 F: feeding, fighting, fleeing, dan f**king. Manusia butuh makan, mempertahankan hidup, dan memproduksi keturunan. Dan seiring perkembangan peradaban, manusia menciptakan “otak baru”, neokorteks. Pusat penalaran yang membuat kita mampu merenungkan diri sendiri, dunia, dan membentengi diri dari hasrat naluriah primitif itu.

Paul Broca, seorang ahli anatomi Prancis pada 1878 menemukan wilayah yang disebut le grand lobe limbique. Penelitian yang diperkuat oleh Paul Maclean yang menyebutkan bahwa emosi positif belas kasih, sukacita, ketenangan, dan kasih sayang tidak dihasilkan oleh hipotalamus, tapi system limbic yang diduga terletak dibawah korteks. Evolusi otak manusia yang semula hanya memikirkan hasrat fisik mempertahankan kehidupan, ternyata memiliki tempat untuk berkembangnya kelembutan dan kemanusiaan.

Bangsa Arya di India mampu menjadi contoh “penciptaan kebahagiaan” yang lebih tinggi. Kebiasaan berperang yang tak memberikan apa-apa mampu mereka redam. Lahirlah Upanishad, sebuah serangan terhadap pencarian kenikmatan indrawi. Menuju pencarian surgawi. Material berkembang ke spiritual.

Para guru bijak berusaha menemukan atman, “diri sejati” yang menjadi inti. Sesuatu yang absurd. Karena seperti pesan Yajnavalkya Continue reading Atman

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail