Monthly Archives: May 2012

Pinter Milan

Kemarin saya berkesempatan menonton Inter Milan melawan Indonesia Selection. Alhamdulilah, dapet tiket gratisan dari kantor. Hehehe. Disuruh bayar sendiri? Ogah!!! Mana mungkin saya rela membayar 3,5 juta hanya untuk melihat pemain lapis kedua Inter mengajari pemain kita cara bermain bola.

Dan seperti sudah tertulis di kitab lauhul mahfuz, Inter KW 1 mengorak-arik (emangnya telor?!?) pertahanan Indonesia selection yang sempat menekan di awal-awal babak pertama. Skornya cukup 3-0. Hasil giringan Longo di babak pertama (eh beneran digiring doank ke dalam gawang kan!), tendangan Pazzini plus tusukan Luca Tremolda.

Terlepas dari permainan tak berimbang setengah lapangan (apalagi di akhir babak II), Andik yang udah empot-empotan lari tapi tetep kesusahan menjebol gawang Inter, Maicon yang lupa daratan karena ga pernah menghuni posisi bek kanan, dan kiper Inter Rafaelle Di Gennaro yang saking nganggurnya lebih sering ngopi-ngopi daripada menjaga gawangnya sendiri, ada dua pelajaran yang bisa kita ambil.

Kelas Menengah

Segi positif pertamanya, saya bisa tahu tampang pemain yang selama ini hanya menghuni reserve team di game football manager yang biasa saya mainkan. Hehehe becanda. Yang pertama tentu saja soal kebangkitan kelas menengah Indonesia Continue reading Pinter Milan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ujian

bestmastersineducation.com


Saya membenci ujian ketika sekolah. Apalagi kalau ujiannya deres. Bisa banjir deh. Huehueue. Ada beberapa sebab. Causa prima-nya adalah karena nilai-nilai sekolah saya jelek. Untung tampang saya enggak (fitnah dan boong itu beda tipis loh :p). Sangat jarang masuk 10 besar untuk urusan nilai. Tapi untuk masalah berat badan, jangan ditanya donk hehehe.

Jikapun ranking 10 besar itu pun ranking 9 titik 5. Dalam artian ada lima orang dengan nilai sama yang pantas duduk dirangking 9. Hebat banget kan sampe ada 5 orang dengan nilai sama. Mungkin karena budaya gotong royong dan rasa senasib sepenanggungan. Mungkin juga karena tingginya solidaritas social. Termasuk untuk urusan ujian. Nyontek maksudnya.

Jujur, waktu sekolah saya pinter. Pinter mengeksploitasi orang lain lebih tepatnya. Saya memiliki kemampuan menganalisa kemampuan seseorang, melakukan pendekatan personal, membangun jaringan social, mengoptimalkan belas kasihan kemanusiaan berbalut rasa-tidak-tega-memiliki-teman-gendut-dan-bego seseorang untuk kepentingan pribadi.

Dulu juga saya ga pernah nyatet, karena saya punya “sekretaris pribadi”. Anak cewek yang rapi catetannya dan pasti langganan saya fotokopi. Ada tugas paper atau LKS? Tenang… ada “tim riset” yang menyediakan data jawaban. Besok ujian? Malemnya main game donk! Karena setiap ujian saya udah punya “tim ahli”. Anak2 jago matematika, bahasa inggris, dan IPA yang bisa saya berdayakan.

Kebiasaan nyampah ala parasit ini berhenti ketika kelas 3 SMA. Waktu itu saya sadar jika SPMB tidak memungkinkan membawa “tim ahli” ketika ujian. Saya mulai tobat, insyaf, kembali ke jalan lurus kebaikan. Saya ingat Tuhan. Narkoba, miras, judi, dan prostitusi saya tinggalkan. Merindukan cahaya kebaikan. Sambil teringat kembali dosa-dosa yang telah saya lakukan. Jika saya teruskan, lama-lama tulisan ini jadi majalah Hidayah sodara-sodara.

Dan hasilnya, saya meraih nilai UN tertinggi sekabupaten! Guru-guru tidak percaya. Keluarga tidak percaya. Teman-teman tidak percaya. Saya sendiri juga tidak percaya! Saya takut! Saya takut jika ada jaringan mafia yang menculik anak SMA cerdas dengan nilai UN tertinggi untuk dipaksa menjadi pegawai negeri. Atau Jangan-jangan ini hanyalah taktik propaganda zionisme Israel dan sekutunya untuk menciptakan euphoria dan mencuci otak kaum muda Indonesia. Jika saya teruskan, lama-lama tulisan ini jadi majalah Sabili sodara-sodara.

Kembali ke laptop (karena saya nulisnya di laptop beneran) Setidaknya ada beberapa hal lain yang membuat saya membenci ujian sekolah Continue reading Ujian

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Buku Gratis] Compassion

Halo pembaca setia blog saya baik yang masih terperangkap di dunia atau yang udah hijrah ke neraka hehehe…

Cuma mau bagi satu buku. Compassion, karya Karen Armstrong. Buku yang bikin saya “diinterogasi” bule saat sedang menunggu di executive lounge di kota Surabaya beberapa waktu lalu. Diajak ngobrol lebih tepatnya. Dia mengira saya penganut ajaran spiritualitas tertentu. Bule kurang kerjaan yang lagi backpacker dari Aussie. Mungkin dia juga heran, ternyata orang utan Indonesia juga kenal ama Armstrong :P.

Saya akan menulis review-nya lain kali. Soalnya saat ini kondisi saya masih drop. Tepar. Mencret. Lemes. Efek Another weekend diluar kota. Seperti biasa, just leave your address boss.

Oh ya, doakan Bapak saya yang sedang sakit. Moga2 cepet sembuh ya 🙂

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail