Monthly Archives: September 2012

Kutakatik, Da Vinci, dan Proses Kelahiran Jetski

Punya banyak barang bekas dirumah? Bingung diapain? Mau ngelatih kreativitas sambil mengubah sampah menjadi “emas”?

Kalau jawaban-nya Iya bisa coba datang deh ke Kutakatik art class yang ada di daerah Pondok Indah (belakang PIM 2). Di sebuah rumah berlantai 3 yang lantai atasnya sudah disulap menjadi arena kreasi barang-barang bekas.

Kutakatik adalah kreasi dua orang wanita yang pada awalnya hobi desain tapi juga peduli pada pendidikan. Tante Raya dan Kyra (secara mereka lebih tua dari saia :p) memulai Kutakatik ini sekitar 4 tahun lalu. Motivasinya? Selain menyalurkan hobi seni, juga sebagai sarana edukasi. Tuh kan ga Cuma air seni doank yang harus disalurkan hehehe.

Disini kita bisa belajar membuat berbagai kreasi dari barang bekas. Mulai dari robot-robotan dari kardus bekas, celengen keren dari kaleng, kamera mainan dari karton, sampai seni instalasi kontemporer dan masih banyak lagi. Kalo muka bekas gimana kakak? Oh.. kalo itu tukar tambah aja di toko plastic, lumayan buat modal operasi plastic. Hehehe.

13490051261257217915
Beberapa kreasi dari barang bekas

Saya udah nyoba loh… Jadi ceritanya saya bersama teman-teman Kompasiana (komunitas blogger Kompas) mendapat undangan mengikuti kelas singkat di Kutakaktik, hari Minggu lalu (23 September 2012). Ngapaen aja acaranya cuk? Selain kumpul-kumpul dan foto-foto, kita diberi tantangan.

Tantangan

Jadi kita diberi barang bekas, supply peralatan seperti gunting, kertas, batu.. (eh emangnya suit..)  dan mendapat tantangan bagaimana mengubah barang bekas ini menjadi barang yang lebih berguna.. wuih.. saya kan ga bisa guna-guna?

Kelihatannya gampang? Eits.. jangan salah Continue reading Kutakatik, Da Vinci, dan Proses Kelahiran Jetski

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Harapan

migraine-ista.blogspot.com

Untuk memenangkan pemilu, ada resep sederhana yang selama ini berlaku. Jika Anda “juara bertahan” (incumbent), cukup jelaskan keberhasilan apa.yang telah dicapai. Sertakan data yang menantang (kalau perlu permainkan metodologi statistiknya), ditunjang dengan kekuatan media sebagai sarana propaganda.

Sedangkan Jika Anda adalah seorang penantang, kunci suksesnya juga sederhana: cukup kritik keadaan saat ini dan tawarkan perubahan. Tampilkan kegagalan penguasa saat ini. Ajukan pertanyaan retoris tentang penderitaan mereka, lalu berikan pil ekstasi: janji akan perubahan.

Siapa yang menang? Pemenangnya adalah mereka yang mampu Continue reading Harapan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Diskon

Salah satu promo diskon

Dua minggu setelah musim lebaran, saya mencoba berjalan-jalan kesalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta. Lagi butuh sepatu jogging, sekalian mau ngecek, apakah perayaan ritual konsumsi pasca lebaran masih berlanjut. Karena Anda tahu, konsumsi masyarakat Indonesia mencapai puncaknya saat ramadhan.

Tibalah saya disalah satu tenant sepatu. Harganya masih sama, berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Tapi yang menarik adalah masih adanya promo diskon yang bagi saya, cenderung “menyesatkan”.

Permainan Psikologis

Coba bayangkan, ada dua jenis sepatu. Yang di diskon, dan yang tidak. Sepatu tanpa diskon berharga, anggap saja, rata-rata 500ribu rupiah. Sepatu dengan diskon, tertulis gede-gede 50% OFF, memiliki harga gross rata-rata 900ribu. Harga netnya? Silahkan dibagi dua = 450 ribu rupiah. Koq hampir sama aja dengan yang ga diskon sih?

Mungkin hal inilah yang sempat dikeluhkan YLKI saat perhelatan Jakarta Great Sale beberapa waktu lalu. penjual memberikan diskon setelah menaikkan harga base barang tersebut. Sehingga diskon sebenarnya tidak sebesar yang digembar-gemborkan. Diskon hanya berperan sebagai sweeter, pemanis, yang sayangnya terbuat dari gula buatan. Sehingga tidak baik bagi kesehatan keuangan.

Hal yang sama juga berlaku bagi industry travel. Baik pesawat, kereta api, dan kapal laut. Anda tahu kan maskapai penerbangan yang sering memberikan diskon promo, bahkan ada yang sampai seharga NOL rupiah. Apakah mereka rugi? Oh, jangan salah. Mereka justru mendapatkan keuntungan berlipat.

Karena pricing tiket pesawat menerapkan system floating real time yang terus berubah. Tidak ada harga pasti. Ada asymmetric information. Semakin jauh hari booking, harga semakin murah. Semakin mepet, semakin mahal. Tapi terkadang, selang beberapa jam jika seat masih kosong, harga bisa murah.

Yang jelas, tiket promo mampu meningkatkan awareness. Orang berlomba-lomba membuka website untuk mencari informasi. Mereka tergiur dari promosi tiket murah, yang meskipun dari 100 seat, mungkin yang di-promo hanya dua seat (itu rahasia perusahaan sih hehehe).

Secara psikologis, setidaknya ada beberapa peran diskon:

Continue reading Diskon

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Testimoni

sidomi.com

Sebelumnya saya menderita kencing manis, setelah berobat ke klinik Tong Fang, kini saya bisa kencing es teh manis. Terima kasih klinik Tong Fang..

Dulu saya seorang waria, setelah saya berobat di Klinik Tong Fang, Alhamdullilah sekarang saya sudah punya suami. Terima kasih Klinik Tong Fang

Sudah 3 tahun saya menderita sakit kepala sebelah. Setelah saya berobat ke Klinik Tong Fang, kepala saya tinggal sebelah. Terima kasih Tong Fang…

 Ada banyak lagi versi plesetan iklan Tong Fang dan beberapa klinik pengobatan tradisional China lainnya. Silahkan ketik keyword “Tong Fang” di Google atau Kaskus, ratusan versi telah lahir dan terus lahir. Plesetan ini dibuat karena kejengahan masyarakat menyaksikan iklan ini di televisi. Namanya juga tukang obat, semua penjual mengaku-ngaku jika produknya nomor satu.

Tapi ngakunya emang kebangetan sih. Mereka seperti menjual panacea, obat segala penyakit yang ada di mythology  Yunani. Penyakit-penyakit berat macam kanker, jantung, ginjal, sampai syaraf katanya dapat disembuhkan setelah dua tiga kali pengobatan dengan harga yang terjangkau. Katanya juga, metode pengobatan ini alami, herbal, dan tanpa efek samping.

Tapi, kata sapa?

Testimoni Palsu?

Iklan klinik ini menggunakan metode testimony. Digambarkan mantan pasien yang telah sembuh menceritakan pengalamannya berobat ke klinik itu. Setelah berobat kesana kemari tidak sembuh-sembuh, penyakit bisa hilang gara-gara Tong Fang. Sakti bener emang.

Masalahnya, konsumen sekarang sudah semakin cerdas. Konsumen bukan lagi kerumunan massa yang bisa diagitasi, diprovokasi, dan dimanipulasi. Mereka bisa tahu mana testimony asli, dan mana yang hasil suruhan membaca script copy.

Mereka sudah melek informasi. Mampu melakukan komparasi, rasionalisasi, dan yang paling sakti: menggalang aksi advokasi. Social Media menjadi senjata andalan mereka. Surat pembaca tetap dipakai juga. Tak ketinggalan aduan ke YLKI dan semacamnya. Sampai jalur hukum di pengadilan kalau bisa!.

Masih ingat kan kasus klaim “paling irit” yang digugat konsumen Nissan dan berhasil dimenangkan penggugat?

Lantas, bagaimana mengatasi konsumen ribet macam ini? Continue reading Testimoni

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Curhat] “Kuliah” Lagi

Ada resolusi baru setelah ramadhan ini: peningkatan kapasitas intelektual dan finansial.

Dua hal yang menjadi prioritas utama. Karena saya merasa, kehidupan menjadi karyawan membunuh spirit pencarian. Tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan nakal, diskusi radikal, atau rasa penasaran yang berjejal. Tak ada lagi mimpi-mimpi besar mengubah dunia, cita-cita membangun bangsa, atau pemikiran-pemikiran tentang peradaban manusia.

Saya takut menjadi manusia kecil. Mereka yang meributkan hal-hal kecil. Memikirkan permasalahan kecil. Hidup untuk kehidupan kecil. Hidup hanya memikirkan uang, karier, keluarga, jabatan, anak, istri, tagihan kartu kredit, cicilan rumah, bonus keluar negeri, bagaimana mendapat promosi. Topic-topik “kecil” yang dianggap besar oleh sebagian orang.

Jika bertemu teman kuliah, topic pembicaraan selalu hal-hal kecil: si A sekarang kerja disini. Si B udah promosi. Si C nikah ama D. si E anaknya dua. Si F uda master dari luar negeri. Tidak ada lagi ide-ide besar yang selalu menarik diperdebatkan saat kuliah. Cerita-cerita inspirasi bisnis berganti jadi perbandingan gaji. Dan pertanyaan filosofis dijawab dengan kalimat “ngapaen sih lo mikir gituan”.

Saya tidak mau seperti itu. Karena itu, saya ingin “kuliah” lagi. Kembali menjadi anak bodoh
Continue reading [Curhat] “Kuliah” Lagi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail