Monthly Archives: November 2012

Oleh-oleh Kreatif dari Pekan Kreatif

Minggu ini ada tiga undangan yang menghampiri meja saya. Pertama, pemutaran premier film Langit Ketujuh karya Rudi Soedjarwo. Kedua, invitation malam penganugerahan Yahoo! OMG Award 2012. Yang terakhir, undangan via whatss app dari Jauhari untuk menghadiri Pekan Produk Kreatif 2012.

Undangan pertama tidak bisa saya hadiri karena harus meeting sampai malam (sok sibuk, aslinya males aja kena macet hehehe). Acara kedua, OMG awards semalam, biasa aja. Cuma konser music dengan bintang tamu Noah, Nidji, Raisa, dan beberapa artis yang baru saya tahu namanya. Lumayanlah nambah referensi trend anak muda zaman sekarang (sok tua dan menjadi bijak). Saya baru tahu kalau ternyata fans JKT48 bisa lebih gila dari fans-nya Noah.

Nah, acara ketiga nih yang menurut saya sangat menarik. Bahkan saya sudah datang dua kali! Yupz, Pekan Produk Kreatif di Epiwalk Kuningan. I love this event. Pertama, karena deket banget ama kantor, tinggal ngesot juga bisa nyampe. Kedua, bisa membuka mata dan jaringan di industry kreatif. Ketiga, acara gretongan!.

PPKI 2012

Konsep acaranya open stand, full of workshop, dan juga full entertainment di panggung utama. Dari ratusan stan, semuanya unik dan menarik. Membuat saya berpikir “Wah bener juga, koq ga pernah kepikiran ya?!?” atau “Kreatif banget nih!!!”.

Tapi, ada beberapa stand favorit saya, yang bisa dicoba didatengin. Hari ini Minggu 25 November 2012, hari terakhir ya J. Ini adalah 5 stan paling unik fersi Yoga de spot:

1. You Oke I Bayar (www.youokibayar.com)

Start up yang menurut saya paling kocak. Mereka memposisikan diri sebagai pool talent dunia maya. Seperti youtube, tapi lebih local. Lewat situs you OK ini, kita bisa mengupload video. Dan jika video kita menjadi yang paling banyak ditonton, uang 100rb sudah menanti. Konsep bisnisnya sendiri seperti Youtube, tapi yang bikin saya tertarik dan ngakak ya nama-nya itu loh.. You-OK-I-bayar. Hahaha. Mereka juga membuat mini stage yang diisi live performance artis You Ok I bayar. Tenang, kita ga perlu bayar koq untuk ngeliat mereka J.

2. Keris raksasa dari Kebumen + Sepatu raksasa dari kertas

Sudah jelas sodara-sodara. Ngangkut barang segede beduk kaya gini tentu lebih susah dari nyelundupin narkoba. Saya tak perlu bercerita apa-apa.

Keris raksasa dari Kebumen
Sepatu dari Komunitas Pecinta Kertas (KPK)
3. Angklungbot

Kalau Ariel sempat menciptakan “inovasi” industry music dalam celana, maka Angklungbot adalah inovasi industry music dalam negeri. Seperti namanya: angklung + bot. angklung yang dimainin ama botol? Pinginnya sih gitu, tapi bot di kasus ini adalah robot. Bener sekali, angklungbot adalah alat music dimana kita tinggal menginput kunci-kunci nada dalam computer dan voilaaa.. angklung akan bermain dengan sendirinya (angklungnya benar-benar bergetar ya, bukan suara digital). Lama-lama saung angklung mang ujo punya saingan nih.

Angkung pake bot
4. Finger print analysis

Sebenarnya finger print analysis sudah lama, tapi saya aja yang baru pertama nyoba. Lewat scan sidik jari, kita dapat memetakan “potensi bawaan” yang tercetak di tubuh kita. Darisini kita bisa tau kekuatan kita itu apa, trus tipe orangnya seperti apa. Saya sempet nyoba finger print 10 jari tangan. Pinginnya sih finger print jari kaki, tapi kata mas konsultannya, belum ada alat untuk scan kaki gajah. Apa hasilnya? Kasih tau ga ya… kata sidik jari, ternyata saya orangnya kreatif, supel, dan yang paling suka: tidak cocok jadi karyawan!!!. Kalo yang jelek2 saya simpen sendiri donk hehehe.

Harusnya foto pas scanning ya?

5. Kompas

Bagaimana rasanya maen game balapan pake Koran? Stand kompas memberi tahu rasanya. Di stan ini kita cukup meletakkan tulisan kompas yang ada diatas headline Koran didepan sensor, dan koran otomatis berubah menjadi setir. Mobil bisa belok kanan kiri kalau kita “membelokkan” Koran ke kanan/kiri. Mau ngebut? Injak gas dengan menundukkan Koran. Rem berlaku sebaliknya.

Nyetir pake koran cetak Kompas

Semoga tahun depan PPKI semakin dikenal dan diikuti oleh tenant-tenant yang semakin kreatif. Karena ekonomi dunia sudah bergerak dari raw material based ke knowledge based dan menuju creative based economy.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dari Atas Tumpukan Sampah: Menulis Adalah Menangis

-sepucuk surat untuk adik.

 Oleh: Khoer Jurzani*)

Cover Adam Kaisinan

  Jika menulis adalah tangis, rumah kita pasti sudah tenggelam.  Karenanya, kita beruntung memiliki bapak seorang pemulung. Ya karena profesi bapaklah setiap hari ada saja bahan bacaan gratis untuk kita; Koran dan majalah bekas, buku bekas. Sejak kecil kita sudah akrab dengan Si kuncung, Bobo, Si kembar O Sullivan, Garfield, Donal bebek. Sebab kita tidak memiliki banyak mainan seperti anak-anak lain, mainan kita adalah apa yang ada di dalam imaji kita, gambar-gambar berbicara, tulisan-tulisan mengajak kita menari.

Ketika bapak mulai sibuk dengan pekerjaan dan ibu sering membentak serta menyembunyikan buku-buku bacaan, entah kenapa ibu tidak suka sekali melihatku membaca seharian, aku pun mulai menulis. Tulisan pertamaku adalah puisi, mengenai ibu tiri.

Kakak tidak yakin apakah kakak bisa bertahan hidup sampai sekarang kalau Pak Cevi, Guru Madrasah Ibtidaiyah, tidak meminjami kakak novel dengan judul Dokter Widi, sebuah buku berlabel Milik Departeman P dan K, Tidak diperjualbelikan itu adalah buku pertama yang membuat kakak menangis. Sejak saat itu Pak Cevi selalu meminjami kakak buku-buku cerita. Kakak masih ingat, waktu kelas enam MI, kakak mulai mencoba membuat cerita bersambung, yang tiap hari kakak bagikan ke teman-teman sekelas.

Apakah kamu percaya, jika ada sebuah sekolah paling aneh di dunia, tidak ada guru, tidak ada murid, yang ada rerumput kering dan bangunan kusam. Seorang laki-laki kecil tiap hari berada di dalamnya, kesepian. Guru dan murid hanya berdatangan pada saat menjelang ujian. Tidak ada pelajaran. Tidak ada ilmu yang didapatkan.

Engkau beruntung bisa belajar di SMP negeri Dik, tidak berada di Madrasah Tsanawiyah di dasar jurang itu. Hingga untuk meyakinkan bapak dan ibu bahwa aku benar-benar berangkat ke sekolah, tiap hari aku pergi ke

Continue reading Dari Atas Tumpukan Sampah: Menulis Adalah Menangis

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kontradiksi

Captain Indonesia from na9a.com

Menyebut kata “pahlawan” berarti menyebut sebuah kontradiksi. Ada pertentangan. Ada perdebatan. Ada pertarungan. Karena pada dasarnya, arti pahlawan sendiri bersifat relative, dan kalau boleh saya bilang, sedikit absurd.

Apakah Soekarno pahlawan? Bagaimana dengan Sultan Hassanudin? Pangeran Diponegoro? Atau Imam Bonjol? Bagi kita, sebuah bangsa yang berusaha untuk berdiri di kaki sendiri, mereka adalah penyelamat bangsa. Tapi cobalah berpikir jika Anda seorang colonial yang lahir pada awal tahun 1900-an, maka nama-nama yang saya sebut adalah kaum renegade. Rebellion. Pemberontak. Pengacau ketertiban dan keamanan.

Karena sesungguhnya kepahlawanan bersinggungan erat dengan kekuasaan. Dan kekuasaan beririsan dengan kepentingan. Apa menjadi pahlawan untuk apa. Siapa menolong siapa. Karena hidup selalu punya dua sisi. Seseorang bisa menjadi pejuang bagi sebuah kaum, tapi bisa dianggap pemberontak bagi Negara lain. Ia bisa menjadi pemenang di malam hari, lalu berubah menjadi pecundang pada pagi hari.

Kita dan Mereka

Bagi kita, Deandels itu perampok. JP Coen itu penghisap. Pieter Both sang pemimpin pertama VOC adalah pemerkosa bangsa. Tapi bagi mereka, nun jauh di Negara yang lautnya lebih tinggi daripada darat, nama-nama diatas adalah pahlawan Continue reading Kontradiksi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Elephant Can Run!

Jika Louis Gerstner menulis Who Says Elephants Can’t Dance? pada 2002 yang membahas proses turnaround IBM dan pembuktian jika big size tidak selalu berarti gemuk, lambat, dan malas, maka hari ini (4 November 2012) saya membuktikan jika elephant juga bisa berlari.

Yah, alhamdulilah untuk pertama kalinya dalam hidup saya, ikut event lomba lari 10 kilometer! Rutenya mulai dari monas hingga jembatan semanggi. Total waktu yang saya tempuh mencapai 1 jam 37 menit dengan kecepatan rata-rata 8 km/jam untuk jarak 13.18 km (versi GPS  Endomondo).

Statistik dari Endomondo

Bagaimana rasanya? Well, boleh percaya boleh nggak, saya enggak merasa terlalu capek! Loh, koq bisa? Apa rahasianya?

Continue reading Elephant Can Run!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail