Monthly Archives: December 2012

Menebak Kepribadian dari Tulisan Tangan

actions-speak.com

Sabtu kemarin saya iseng-iseng mengikuti pelatihan analisa sidik jari dan tulisan tangan (graphology). Lumayan lah bisa belajar hal baru. Untuk yang sidik jari, nanti saya bagi materinya (insya Allah saya scan dan upload besok). Nah, untuk tulisan tangan, setidaknya ada 10 hal yang bisa kita lakukan untuk sebuah analisa sederhana.

Sebelumnya, kita butuh tulisan tangan, bukan nasi putih dan bawang yang sudah dihaluskan. Karena kita mau membedah tulisan tangan, dan bukan masak nasi goreng. Silahkan menulis dengan tema bebas. Misalnya: impian saya 10 tahun lagi. Tulisan itu harus ditulis di kertas polos tanpa garis. Kenapa? Karena jika ditulis diatas batu, prasasti namanya. Udah ah, nanti ada penjelasannya. Bisa satu halaman. Lebih banyak lebih baik. Karena semakin lama menulis, karakter penulisan akan semakin keluar.

Udah punya tulisan tangan? Jangan lupa dibubuhi tanda tangan. Sekarang coba lakukan 10 langkah ini:

  1. Periksa keterbacaan. Apakah tulisan itu enak dibaca? Jika iya, berarti bagus. Jika tidak, berarti ada masalah komunikasi dari penulisnya.
  2. Margin. Jika tulisan itu margin kirinya sangat mepet, penulis adalah orang penyendiri yang tidak bisa melupakan masa lalu. jika margin kiri semakin melebar, penulis cenderung antusias, memerlukan kebebasan, ambisius, tapi kurang mampu merencanakan pekerjaan dengan efektif.
  3. Ukuran huruf. Standarnya 1-2 mili per huruf. Jika kecil, penulis berarti lebih suka menjadi “supporter”, sedangkan jika besar, penulis ingin mencari perhatian dan show off.
  4. Kemiringan tulisan. Kami diberi busur khusus untuk mengukur ini. Jika miring ke kanan, penulis ekstrovert, jika kiri introvert. Eh tapi harus diingat, jika kemiringannya ekstrem mengindikasikan penulisnya mengalami gangguan mental! Hiiiii..
  5. Arah tulisan. Coba deh perhatikan, jika kita menulis di HVS tanpa garis, tidak semua orang mampu membuat tulisan yang lurus. Jika tulisan semakin keatas, orang itu optimis. Jika kebawah, pesimis. Jika justified rapi seperti format MS word? Berarti penulis orang yang membosankan :p (tapi mampu mengorganisir dengan sangat baik).
  6. Jenis tulisan. Ada beberapa jenis tulisan: kaku, bulat, runcing, flat, thread dll. Tulisan yang bulat (dibaca terlihat empuk) menunjukkan orang yang ramah. Jika runcing, maka hati-hati jika memberi kritik, karena feedback yang diberikan akan tajam.
  7. Bad traits. Ada beberapa traits (kebiasaan) tulisan yang menunjukkan permasalahan psikologis penulis. Bisa berupa coil, hook, black spot dll. Untuk masalah ini bisa menghabiskan satu buku sendiri hehehe.
  8. Zona. Dalam sebuah tulisan ada beberapa “zona” (kita mengukurnya dengan penggaris khusus). Zona atas (tulisan terlihat tinggi) menandakan penulis adalah seorang pemikir. Jika zona bawahnya panjang, penulis berarti lebih memikirkan kebutuhan materialistis dan biologis (sex).
  9. Posisi tanda tangan. Jika dekat dengan batang tubuh tulisan, berarti tulisan itu realistis. Jika jauh, maka patut diwaspadai, karena bisa saja tulisan itu penuh dengan mimpi dan cenderung membual. Jika tanda tangan berada disisi kiri, penulis berorientasi pada masa lalu. sebaliknya jika di kanan, penulis adalah seorang yang future oriented.
  10. Kesesuaian tulisan dan tanda tangan. Pernah lihat tulisan ceker ayam tapi tanda tangannya sangat elegan? Pasti sering. Karena tanda tangan adalah “tulisan yang ingin dipersepsikan”. Sehingga banyak orang memiliki tanda tangan yang sangat indah, meskipun tulisan naturalnya berkebalikan. Waspadai hal ini. Dan juga untuk menganalisa tanda tangan, diperlukan keahlian khusus.

Nah, Apa kata tulisan tangan Anda?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ayo ke Aceh!

Moga2 bisa sholat disini :D
Moga2 bisa sholat disini 😀

Karena krisis Eropa, tahun ini tidak ada outing di kantor saya (perintah dari kantor pusat di London sono). Hore-hore-hore. Loh koq seneng? Iya donk, karena berarti ada alesan untuk traveling :D.

Ketika Gandhi pertama kali datang dari Afrika Selatan, hal yang pertama kali ia lakukan adalah membeli tiket kereta api lalu mulai berkeliling ke seluruh India. Gandhi tahu, ia tidak akan mengenal negerinya, jika tidak pernah mengunjunginya. Bangsa bukanlah tumpukan catatan administrative, atau fenomena sosiologis yang bisa ditelaah secara teoritis.

Untuk bisa mengenal sebuah bangsa, Anda harus berkenalan dengan manusianya. Dan itu juga berarti melihat kehidupan mereka, mendengarkan suaranya, bertukar cerita, dan menghargai keluhuran budaya yang ada. Dan saya ingin meniru Gandhi. Saya ingin menghirup nafas Indonesia sesungguhnya. Berkenalan dengan orang di dalamnya. Mendengarkan cerita. Berbagi dengan mereka.

Untuk itu, ada satu daerah yang ingin saya kunjungi, provinsi paling barat dari Indonesia:  Daerah Istimewa Aceh. Kapan?

Itu dia masalahnya. Nasib sebagai kacung membuat kita tidak bisa mengatur waktu libur seenak udel. Pilihan ada di libur panjang bulan ini. Nah, sayangnya waktu tempuh ke Aceh lama amir. Bisa menempuh waktu 4-5 hari dengan jalur darat. Kan pesawat uda ada?

Eits, mana seru!. Justru yang dicari petualangan melintasi trans Sumatera lewat jalur daratnya itu loh. Kali aja dapet suguhan bajing lonjat kaya di berita-berita. Hehehe. Pulangnya baru boleh naek pesawat. Sehingga dihitung-hitung bos, waktu seminggu tidaklah cukup.

Masalah kedua: -masalah klasik- biaya hehe. Sungguh lucu Indonesia ini, biaya trip ke Aceh bisa lebih mahal daripada plesiran ke Negara tetangga. Pesawat ke Aceh bisa kena sejuta (paling murah). Kalo bus kena 600rb (bandingkan dengan tiket promo 150rb ke KL yang saya dapatkan). Sehingga dari Jakarta, kita harus menyiapkan budget sekitar 3 juta. Dengan budget yang sama, kita sudah bisa traveling ke Asia Tenggara.

Bismillah, mari berdoa semoga Tuhan memberikan kesempatan.

Ada yang mo join backpacking atau mau memberi tumpangan? Leave it on your comment ya! 😀

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail