Monthly Archives: January 2013

5 Things You Can Do at Hat Yai

Halo-halo jupe lagi hehe. Kebanjiran nggak? Alhamdulilah deh kalo enggak. Ini banjirnya berupa air aja ngerepotin ya, apalagi banjir lemak. Kaya saya donk hehehe. Kalo kena banjir beneran gmana bang? Yang sabar ya kakak… Mungkin sambil nunggu surut bisa ngungsi sambil traveling ke Hat Yai dulu (Cuma sekitar 3 jam penerbangan koq).

Berikut secara singkat, beberapa objek wisata hat Yai (tidak semua tempat saya datangin. Sebagian tempat didapat dari hasil obrolan sesama backpacker dan tentu saja: internet. Ga perlu study banding kaya DPR kalo Cuma pingin tau beginian mah):

1.       Wat Hatyai Nai

Patung Buddha berbaring terbesar ketiga di Thailand. Panjangnya sepanjang 35 meter. Sang Buddha digambarkan sedang berbaring dengan tumpuan satu tangan. Cara kesana? Continue reading 5 Things You Can Do at Hat Yai

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Hat Yai (1)

Patung ‘Reclining” Buddha raksasa. Karena ada masalah dengan kamera HP saia, gambar ini saia ambil dari situs chiang-mai.org

Setelah melakukan tour trans de Sumatera bulan Desember, saya melanjutkan perjalanan hidup ini (biar puitis dikit cuk) ke tiga Negara tetangga: Thai, Malay, and Sin bulan Januari. Tapi tenang, saya ga akan menuliskan catatan perjalanan ala itenary atau jurnal Marcopolo. Saya ga akan cerita:

“Pagi-pagi saya datang di kota X langsung boker ke hotel Y trus siangnya e’ek di restoran A lanjut pipis di mall B and naik bus C akhirnya sampai malem balik ke kuburan Z”.

Saya juga ga akan nulis tentang kota-kota yang sudah beken dan sudah banyak reviewnya macam Sin, KL, Phuket, atau Bangkok. Jika Anda ingin kesana, silahkan googling. Info sudah melimpah ruah. Saya hanya ingin berbagi informasi tentang sebuah kota yang agak kurang terkenal. Terletak di selatan Thailand, dekat dengan Malaysia, dan tentu saja sangat jauh dari Tangerang Selatan dan very very far far away dari Merauke. Kota itu bernama: Hat Yai.

Overview

Hat Yai, saya ga tau bagaimana cara bacanya. Orang-orang yang saya temui pronunciations-nya beda-beda. Supir bis bilangnya Hak Nyei, agen bilang Hat Yei, ada yang nyeletuk Hat Nyai. Tapi tulisannya Hat Yai. Kota ini menjadi tempat transit para backpacker (hampir rata2 backpacker Bule mewajibkan singgah di Hat Yai). Baik dari Bangkok/Phuket menuju Malaysia, atau sebaliknya, dari Malaysia mau ke Phuket/Bangkok. Kalau Anda jurusan surga-neraka juga boleh singgah koq. Hehehe.

Konon pada zaman dahulu kala, Hat Yai sangat ramai dijadikan tempat transit. Tapi sejak bergolaknya separatism dan isu-isu pemberontakan di Pattani, ditambah semakin menjamurnya Low Cost Carrier macam Air Asia, banyak traveller yang mengambil direct flight dan melupakan Hat Yai.

Suasananya seperti kota-kota Thailand pada umumnya (bingung saia cara deskripsinya). Pusat kota didominasi pertokoan. Penduduknya rada susah pake bahasa Inggris. Sehingga bahasa tarzan dan bahasa gambar (tunjukkan foto destinasi) lebih berguna. Untuk bepergian, mintalah penjaga hotel untuk menuliskan tujuan Anda dalam bahasa Thai. Jangan kaya saya, sebelum ke kota saya minta diajari bahasa Thai sedikit-sedikit, tapi ga saya tulis! Baru jalan 20 meter otak saya dengan sukses sudah melupakan semua materi kursus tadi hehehe.

Tapi untuk tawar-menawar beberapa pedagang ngerti number in English koq. Aturan harga juga sama: begitu mereka tahu kita bukan orang asli, harganya dinaekin. Tawar aja setengahnya. Closed di antaranya. Contoh: penjual buka 1000 bath, tawar 500, closing di 600-700 bath.

Oh ya, kalo mau naik Tuk-tuk/ojek kudu hati-hati. Karena ga ada tuh namanya argo, semua murni hasil nego. Based on pengalaman temen, tukang tuk-tuk nya terkadang minta surcharge pas udah nyampe. Kalo ga mau ngebunuh tukang tuk-tuk karena emosi (kita debat sampai ngotot pake English, sono ngomel2 pake Thai, cucok kan?), mending bayar aja langsung pas naik. Hehehe.

Biaya hidupnya cukup terjangkau. Penginapan mulai 200 bath (sekitar Rp 60 rb), sekali makan 30-50 bath (10-15 ribu). Kalo naik angkot tuk-tuk nyegat pinggir jalan bayar aja 10-20 bath (3-6 ribu). Kalo mau charter Tuk-tuk/van buat muter2 atau maen ke luar kota, harganya sekitar 100-200 bath.

Pokoknya cuma di Thailand saya baru bisa ngerasa hidup seperti turis. Di Malaysia saya ngerasa seperti TKI. Di Singapore kerasa jadi kaum Dhuafa. Semua karena rupiah yang sangat kita cintai ternyata tak terlalu dihargai di luar negeri. Hiks.. hiks..

What To Do?

Ngapaen aja sih yang bisa dilakuin di Hat Yai? Oh banyak.. situ bisa ngupil seharian, nyuci baju, nyapu jalanan (turis apa OB Mas?), atau Cuma ngendon di kamar. Tapi mana seru ya? Minggu depan akan saya tulis beberapa spot yang bisa Anda datengin jika singgah ke kota ini barang satu-dua hari.

Koq tulisannya bersambung cuk? Iyaaaa… ni baru sampe Indo. Males nulis panjang-panjang. Sabar ya kakak-kakak semua.

Happy Travelling!!!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

7 Tempat Hemat Pengganti Hotel [Travelnomics]

Pengen traveling tapi biaya terbatas? Santai cuk, untuk apa kita belajar ilmu ekonomi jika tak mampu memecahkan persoalan ini. Tapi sebelumnya kita harus tahu, cost structure sebuah perjalanan wisata. Busyet, udah kaya kuliah Akbi aja (Akuntansi Biadab.. eh Akuntansi Biaya).

Jika ditelusuri, sebenarnya ada tiga pos utama traveling:

  1. Transportasi > cara mencapai tempat wisata
  2. Konsumsi > cara bertahan hidup dan biar balik ga tinggal nama
  3. Akomodasi > biar ga dikira gelandangan dan ada tempat numpang line poop
  4. Prostitusi (oh, ini khusus wisata lendir. Bisa tanya bupati Garut yang lebih ahli)

Untuk mengamalkan prinsip ekonomis sebenarnya sederhana. Cara hemat ongkos transportasi adalah sering-sering hunting tiket promo sambil berdoa biar ga kehabisan. Untuk hemat konsumsi juga simple, cukup puasa Senin Kamis. Sahurnya Senin, bukanya Kamis. Pasti bisa saving duit banyak tuh. Nah, untuk penghematan akomodasi nih, jarang yang memberikan terobosan out of the box.

Penulis hanya ingin berbagi cara berhemat biaya penginapan/hotel. Tulisan ini disarikan dari pengalaman traveling sejak zaman SMP. Mulai yang nyaman pake travel nginep di hotel berbintang sampai ngegembel segembel gembelnya tidur di tempat berbintang (kagak ada atapnya, bener-bener beratapkan bintang :p).

Traveling terakhir saya adalah tour trans Sumatera mulai dari Jakarta – Lampung – Palembang – Jambi –  Pekanbaru – Samosir – Berastagi – Medan – Aceh – Sabang- Aceh – Jakarta pada Desember 2012 lalu. Dan boleh percaya boleh tidak (emangnya gw Tuhan kudu diimani?), saya hanya menginap di penginapan di tiga kota. Itupun karena ingin berwisata lebih lama.

Sisanya tidur dimana donk? Enak ya jadi jin, ngantuk tinggal masuk ke botol… Eits jangan syirik dulu donk. Ini saya bocorin tempat menginap pengganti hotel.

7 Tempat Senyaman Hotel

Continue reading 7 Tempat Hemat Pengganti Hotel [Travelnomics]

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Membantu

vanderbilt.edu

“Ada yang bisa saya bantu?”

Pertanyaan ini sering kita dengar ketika berbelanja di toko atau menelpon call center. Biasanya diucapkan oleh penjaga toko atau resepsionis diujung telpon. Pertanyaan sederhana yang sesungguhnya sangat bermakna. Mengapa? Karena pertanyaan diatas adalah dasar semua bisnis. Pondasi seluruh kegiatan ekonomi. Kekayaan milyaran dolar, dimulai dari sana.

Bisnis atau kegiatan ekonomi, sering kita anggap hanya sebuah hubungan transaksional semata. Si A memberikan barang/jasa kepada si B, dan sebagai balas jasa, si B memberikan uang. Tapi sesungguhnya lebih dari itu. Bisnis menciptakan hubungan kemanusiaan yang saling menguntungkan. Transaksi tercipta karena relasi aksi-reaksi.

Karena manusia adalah makhluk social dan takkan mampu memenuhi kebutuhannya sendiri. Ia butuh bantuan orang lain untuk melangsungkan kehidupan. Kita butuh pangan, sandang, papan, serta berjuta keinginan. Sedangkan para pengusaha, entrepreneur, kapitalis, (atau apapun Anda menyebutnya), adalah manusia terpilih yang mampu melihat kebutuhan manusia, dan “membantu” dengan menciptakan barang/jasa untuk memenuhi kebutuhan itu.

Pasar Adalah Orang yang Perlu Dibantu

Pada 1976 ketika berjalan-jalan di daerah sekitar kampusnya, Chittagong University, Muhammad Yunus menemukan kenyataan menyakitkan tentang pengrajin bambu. Mereka harus membayar bunga yang sangat tinggi kepada rentenir untuk bisa mendapatkan dana pinjaman. Yunus terkagum-kagum dengan semangat para pengrajin yang didominasi wanita. Mereka bekerja dengan rajin, dan terus berusaha membayar pinjaman meskipun dibebani bunga yang mencekik.

Ia sempat menemui bankir local dan bercerita tentang hal ini. Hasilnya adalah lelucon, bagaimana mungkin bank bisa memberikan kredit untuk mereka yang tidak pantas mendapat kredit? Pendidikan mereka rendah, tidak mengerti business plan atau system akuntansi. Yunus tak tinggal diam. Ia lalu menyuruh mahasiswanya mendata pengrajin, dan dengan uang pribadinya sebesar $27, memberikan kredit lunak. Selebihnya adalah sejarah. Grameen bank lahir, dan Yunus dianugerahi hadiah nobel.

Lain Bangladesh lain Indonesia. Jika pada 1970-an Anda ingin menyewa mobil di Jakarta Continue reading Membantu

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail