Monthly Archives: February 2013

Eudaimonia

Eudaimonia from elenchusacademy.wordpress.com

Suatu hari, Paulo Coelho, pengarang novel best seller Alchemist, sedang berlibur di Spanyol. Pada saat sedang berjalan di stasiun kereta, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Coelho ingin membantu pengemis itu, tapi sebelum memberi, ia berpikir: Hey, aku adalah seorang turis, pengemis seperti ini umum ditemui dimana pun.

Akhirnya ia pun bergegas pergi. Meninggalkan pengemis tadi.

Malam hari, entah mengapa, Coelho kembali terkenang wajah sang pengemis. Ia sudah bertemu ribuan peminta-minta, tetapi ekspresi sang pengemis menimbulkan iba yang mendalam. Ia sampai tidak bisa tidur. Terus menyesal. Mengapa ia tidak membantu orang yang kesusahan ketika ada kesempatan?

Besoknya, ia kembali ketempat sang pengemis berada. Nihil. Tak ada disana. Ia lalu memutuskan berjalan-jalan mengelilingi kota, berharap berpapasan dengan orang miskin yang terus menghantui hidupnya. Tapi tetap saja, hingga liburannya usai, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan.

Coelho lalu kembali ke Brazil. Berharap melupakan kejadian dengan pengemis itu. Tapi percuma. Sang pengemis terus hadir di kehidupan Coelho. Menciptakan penyesalan, ketersiksaan, dan penderitaan. Sadar jika Tuhan memiliki rencana besar, tidak butuh waktu lama bagi Coelho untuk kembali ke Spanyol. Kali ini bukan demi liburan penuh kesenangan, tapi menjawab teka-teki yang terus menghantui. Tujuannya Cuma satu: menunaikan kebaikan yang sempat tertunda!.

Satu-dua hari berlalu. Menjadi seminggu. Coelho sudah mengelilingi kota, hingga sudut-sudut tersempit. Hasilnya nihil. Pengemis itu bagaikan menghilang tanpa jejak Continue reading Eudaimonia

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[Ebook] Time Series Data Analysis Using Eviews

“Coba yang tidur itu disuruh cuci muka”.

Tiba-tiba teman sekelas menoleh kearah saya. Ada juga yang menjawil dan membangunkan. Oh, rupanya saya ketiduran saat kelas statistik. Untung dosennya baik, Pak A, menyuruh saya membasuh muka, kalau bisa berwudhu sekalian. Sholeh sekali bapak ini.

Dengan berat badan (bukan berat hati lagi) saya ke kamar mandi, cuci muka, lalu kembali ke kelas. Ga butuh waktu lama saya kembali ketiduran. Hahaha. Tapi kali ini saya berusaha agar tidak kedengaran ngoroknya. Rupanya “meditasi siang” saya bisa ketahuan karena ada suara aneh sejenis gelombang alpha yang terdengar di kelas. Ngrok… Hahahha.

Itu dulu. Saat saya membenci angka dan matematika. Waktu itu saya masih anak semester I yang masuk fakultas ekonomi karena membenci perhitungan sains di fakultas MIPA. Intinya, saat SMA saya sangat membenci IPA, dan sangat bangga jadi anak “SOS”.

Saya belum tahu kalau dasar ilmu ekonomi adalah statistik. Bahkan penerapan matematika itulah yang sering membuat ekonom sombong karena memiliki pendekatan kuantitatif yang lebih “eksak” dibandingkan jurusan social lainnya macam filsafat atau sastra.

Di ekonomi, semuanya harus bisa dihitung. Harga, luas, sampai probabilitas. Semua ada ukurannya. Untuk mengukur sesuatu yang abstract macam kebahagiaan dan kesehatan, ekonom ga kekurangan akal. Diciptakannya variable proxy, dan berbagai model dummy.

Cinta Tidak Selalu Pada Pandangan Pertama

Sekarang saya mengerti kenapa ekonom sangat Cinta dengan angka. Jawabannya sederhana: angka tidak pernah dusta. Angka adalah fakta yang ingin bercerita. Tugas seorang analis, dalam hal ini CEO atau investor, adalah mendengarkan cerita yang ingin disampaikan oleh angka.

Ketika laporan keuangan menunjukkan angka negative, sesungguhnya angka sedang bercerita bahwa ada yang salah dengan perusahaan ini. Ketika gross margin tinggi sedangkan net profit rendah, angka sedang ingin berbicara tentang inefisiensi yang mungkin sedang terjadi. Dan mereka yang menghiraukan angka, akan dihukum oleh angka. Saya pernah membuat keputusan yang salah, karena tidak mendengarkan angka, dan menggunakan emosi semata.

Terlebih lagi setelah saya membaca “Setan Angka”, karya Hans Magnus Enzensberger. Buku yang sangat menarik dan bercerita tentang seorang anak yang bermimpi bertemu dengan setan angka. Di mimpinya ia mendapat penjelasan tentang kegunaan angka, jenis-jenis angka, bilangan prima, dan berbagai logika matematika lainnya.

Didalam buku itu kalau tidak salah (karena sudah bertahun-tahun lalu bacanya) ada pengandaian yang sangat cerdas: mari membayangkan dunia tanpa angka. Bayangkan jika Anda membaca laporan keuangan dan di kolom aktiva tertera kata:

“Jumlah asset setara kas senilai: Tiga Ratus Tiga Puluh Tiga Milyar Seratus Empat Puluh Tiga Juta Sembilan Ratus Lima Puluh Tiga ribu rupiah”

 Sejak itu saya mulai menyukai angka. Toh Cinta bisa tumbuh karena terpaksa. Hahaha.

Semua Ilmu Berguna

Ketika belajar di dunia professional, kemampuan mendengarkan angka berbicara (analisa) ternyata sangat dibutuhkan. Bahkan sudah menjadi must have skill di semua bidang. Saya yang tiga kali mengulang mata kuliah ekonometrika I dengan nilai E, D, C (mungkin dosennya kasian liat muka saya sehingga akhirnya dikasih C :p) mau tidak mau, suka tidak suka, gemuk tidak gemuk (aamiiinn) harus bisa sedikit-sedikit ekonometrika.

Percayalah, Tuhan itu adil. Saya yang waktu kuliah malas membaca dan bertanya tentang ekonometrika, dipaksa untuk belajar kembali. Karena itu bagi teman-teman yang masih di bangku kuliah, yakinlah bahwa tidak ada ilmu Tuhan yang sia-sia. Semuanya berguna. Hanya saja kita tidak tahu kapan ilmu itu akan kita gunakan.

Oh ya, yang ingin belajar time series pakai Eviews, ini ebook yang bisa dibaca (klik gambar dibawah). Saya sudah mengirim email ke penulisnya, tapi belum juga dibalas. Jangan lupa, ucapkan terima kasih dan panjatkan doa bagi penulisnya yah!

time-series-data-analysis-using-eviews

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ini Yang Harus Anda Lakukan Jika Kena Tilang

Ongkos tilang “resmi”. ini denda maksimal ya 🙂

Bulan lalu saya terkena razia. Razia orang ganteng? Oh pastinya hehe. Sayangnya razia-nya mewajibkan saya menunjukkan SIM dan STNK. Karena kebetulan saya cuma pingin beli buah di deket rumah, otomatis surat-surat berharga tadi tidak saya bawa. Coba pak polisinya minta surat berharga macam saham dan obligasi, pasti saya bawa. Hehehe (ketahuan bacotnya, semua transaksi BEI sudah paperless sejak lama).

Singkat kata, saya ditilang. Kasihan ya? Lebih kasihan lagi burung kutilang donk. Masa ditilang tiap hari. Hihi. Dan tidak seperti biasanya, saya menolak “sidang ditempat” atau “titip sidang”. Dan tumben juga pak polisinya ga mancing-mancing kearah sana. Wuih, mau jadi warga Negara yang baik nih bos?

Akhirnya saya mendapat panggilan sidang 2 minggu kemudian. SIM C hasil tembakan saat SMA harus disekolahkan. Nah, kira-kira sidang itu ngapain aja sih? Apa yang harus kita lakukan jika kena tilang? Bagaimana kita bisa melanjutkan hidup setelah memasuki ruang sidang? Bagaimana pandangan masyarakat ketika kita harus duduk sebagai terdakwa? Pilih baygon apa arsenic untuk mengakhiri kehidupan yang tidak adil ini?

Simple

Dua minggu kemudian, saya datang ke pengadilan. Sekedar info, pengadilan negeri Jakarta Timur itu sudah pindah sodara-sodara! Om google kali ini menyesatkan. Website resmi-nya lebih parah. Ga di update sama sekali. Saya sudah jauh-jauh datang ke Pulomas eh ternyata pengadilannya deket tempat tinggal saya. Di dekat Penggilingan, sebelum kantor Walikota Jakarta Timur. Saya juga sih yang bego, padahal punya tetangga yang jadi hakim di pengadilan. Hehehe.

Ternyata pengadilannya simple. Cukup datang, ngantri berjam-jam (tergantung rame nggaknya), masuk, mendengarkan “vonis”, membayar, dan pulang deh. Sayangnya, karena ada request regional dadakan dan tidak bisa dilimpahkan, saya harus stay di kantor dan tidak bisa mengikuti sidang. lha koq bisa bilang sidangnya simple kalo ga ikutan? Lah, kan ada internet dan orang pengadilan yang bisa ditanyain cuk…

Bagi yang ga bisa ikut sidang, prosesnya lebih simple lagi Continue reading Ini Yang Harus Anda Lakukan Jika Kena Tilang

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sapi Hitam

 

Berdasarkan penilaian saya, ada tanda utama untuk membedakan mana organisasi baik dan organisasi busuk. Apa itu? Sederhana saja, culture organisasi tentang kesalahan.

Di organisasi yang baik dan hebat, kesalahan dianggap sebuah pembelajaran. Mereka menyimpan file-file “kegagalan” yang telah terjadi (bahkan ditulis dalam bentuk power point!), disertai pembelajaran dan feedback yang bisa dilakukan penerus dimasa depan. Tidak ada kambing hitam personal. Ini kesalahan si A, manager B, atau supplier C. Kesalahan ada pada tindakan, bukan personal.

Sebaliknya, di organisasi busuk menyalahkan adalah sebuah kelaziman. Dan biasanya, yang menjadi kambing hitam adalah factor eksternal. Saya pernah membaca laporan keuangan sebuah perusahaan yang telah rugi bertahun-tahun. Dan di sambutan direksinya, dia menyebut perusahaan merugi karena imbas krisis Eropa!. Memang krisis mempengaruhi bisnis secara global, tapi setelah 2 tahun berlalu apakah manajemen tidak bisa mencari alternative diversifikasi pasar?

Demikian juga dengan masyarakat kita. Sangat suka menyalahkan, ditambah demen banget bikin alasan. Saya merasa kebiasaan menyalahkan dan mencari alasan ini membuat bangsa kita ga maju-maju. Contohnya saat banjir, yang pendukung gubernur lama menyalahkan gubernur baru karena dianggap ga becus, sedangkan gubernur baru menyalahkan gubernur lama karena memberikan warisan permasalahan. Ribut sendiri deh.

Elite politik juga gitu. Bos-nya ditangkap aparat penegak hukum, ujung-ujungnya lari ke konspirasi jionis lah, Wahyudi lah, Remason lah. Sibuk mencari sapi hitam (bosen pake kambing). Pokoknya kalo ada kesalahan, itu pasti karena factor eksternal.

Cerita tentang raja yang bodoh dari Eurice de Souze ini mungkin bisa menjadi pembelajaran. Ketidakmampuan melihat akar permasalahan dan kebiasaan menyalahkan bisa menjadi sumber kehancuran.

Raja yang Bodoh

Suatu hari seorang guru mengajak muridnya berjalan2 ke negeri yang terkenal akan kebodohan rajanya. Sang guru ingin memberikan pelajaran kepada muridnya, tentang akibat dari kebodohan itu sendiri. Kebetulan, saat mereka sampai di alun-alun kota, sedang diadakan pengadilan rakyat.

Dua orang wanita berjalan maju ke depan.

“Tuanku”, kata mereka kepada raja, “Kami menginginkan keadilan. Beberapa minggu lalu suami kami mencoba memasuki rumah seorang pedagang ketika ia sedang bepergian ke desa lain. Selagi mencoba membuat lubang yang cukup besar untuk dilewati, tembok runtuh dan membunuh suami kami. Jika rumah itu tidak tua dan sangat lapuk, suami kami tentu tidak akan terbunuh. Kami ingin pedagang itu dihukum karena merampas nyawa suami kami”.

Bukannya mempertanyakan alasan suami wanita memasuki rumah pedagang, Raja langsung memanggil pedagang untuk menghadap. “Tuanku, tembok yang runtuh itu bukan salahku. Continue reading Sapi Hitam

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail