Monthly Archives: March 2013

Kota Kecil (1)

Libur panjang kali ini saya isi dengan rekreasi yang sedikit berbeda. Berbekal ransel, baju ganti, kartu gesek plastic bekal akomodasi, tumpukan buku, tanpa alat transportasi pribadi, tanpa peta dari dora, dan saya siap berangkat. Sendirian (bersama Tuhan lebih tepatnya). Hanya satu yang kurang: saya tidak tahu mau kemana!

God bless stochastic traveler.

Dalam terminology statistik, saya jatuh cinta pada dua kata: outlier dan stochastic (kata ketiga: long tail). Yang pertama merujuk pada data tidak biasa diluar kewajaran sehingga terkadang harus disingkirkan untuk memperhalus modeling, sedangkan kata yang kedua, merujuk pada keacakan pergerakan sebuah variable. Tidak bisa ditebak. Sukar diprediksi. Spontan. Standar deviasi terlalu tinggi.

Dan sifat stochastic pada traveling berarti mempasrahkan nasib perjalanan pada kaki yang melangkah. Itulah yang saya lakukan. Keluar dari apartemen, menumpang shuttle bus ke halte trans Jakarta terdekat. Logika saya sederhana: pergi kesalah satu terminal bus.

Saya masih belum tahu mau kemana. Ketika setelah menembus kemacetan dan tiba di terminal Kampung Rambutan-pun saya masih melongo. Ga tau mau ngapain. Bukankah kehidupan tidak selamanya harus memiliki kejelasan tujuan? Apa yang terjadi jika ternyata tujuan dari perjalanan adalah perjalanan itu sendiri?

Tapi tidak memiliki tujuan tidak dikenal dalam sains manajemen. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang hanya menghasilkan inefisiensi dan pemborosan sumber daya. Tugas seorang leader adalah menetapkan goal, dan mengarahkan segala sumber daya untuk mencapainya.

Saat tiba didepan loket peron terminal, saya tahu, keputusan harus segera ditetapkan.

“Ada bus ke Pandeglang?”

Serang

Dan tibalah saya disalah satu bus. Prima rasa apa prima jasa ya? Atau prima raga? Yang penting bukan prima gama deh. Atas saran pak supir yang budiman, saya disarankan turun di Serang untuk kemudian menyambung ke Pandeglang.

Kenapa Pandeglang? Saya juga tidak tahu. Karena saya tidak tahu inilah makanya saya mau cari tahu ada apaan di Pandeglang. Bego banget ya haha. Apalagi saat saya googling tentang Pandeglang, isinya tentang pantai semua. Carita dan Anyer. Tapi saya sedang tidak ingin mainstream. Mending mainsaham. Hahaha.

Pas long weekends dateng ke tempat rekreasi? Sama aja pas kiamat datang ke padang ma’shar!!! Pasti rameeee buanggetttt. Inilah asyiknya stochastic traveling. Pergi ke kota kecil. Tidak terkenal. Tidak memiliki tujuan. Menjauhi keramaian. Berharap bertemu ketenangan. Menuju kedamaian kehidupan.

Ok cukup bacotan sok bijaknya. Saat di terminal, Pelajaran kehidupan yang saya dapat: lebih baik menunggu di perempatan jalan daripada di dalam terminal. Kenapa? Karena bis-nya pasti ngetem dulu di perempatan! Apa sekalian saya nunggu di Serang? Pernyataan bodoh no 2 di tulisan ini.

Setelah dua jam an berdesak-desakan, ngantri, dan merasakan full sauna yang lumayan membakar lemak (padahal ada AC-nya), tibalah saya di Serang. Turun di terminal bayangan sekitar mall of Serang. Sekarang mau kemana kita tuan muda? Saya juga tidak tahu kakak tua…

Akhirnya saya memutuskan berjalan kaki sekitar 4 kilo ke pusat kota. Aturan city tour no 1 bagi saya: usahakan berdikari! Berjalan dengan kaki sendiri. Karena kalo pake kaki palsu ga bersyukur namanya. Jalan kaki akan memberikan the real experience. Merasakan udara kota. Mendengarkan dialek local bahasa. Mencium bau tanah yang berbeda. Tahun lalu saya menjelajahi Sumatera dan sedikit Asia Tenggara dengan berjalan kaki.

Kata bapak di bis, saya kudu naek angkot ke Pandeglang. Tapi hey, kenapa tidak mengeksplore dulu kota ini? Hey, bukankah saya pingin jadi yoga the explorer? Dan hey, sekarang sudah ada internet explorer!

Dengan muka acak, akhirnya saya memilih salah satu hotel secara acak.

Jaka Sembung perutnya Kembung. Tulisannya bersambung bung!!!

Peta Wisata kab. Serang, Banten
Peta Wisata kab. Serang, Banten

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Peminta

gelandangan modis di China buat ilustrasi doank.

Diantara beberapa “Ibu-ibu yang nongkrong sambil membawa wadah mengharapkan uang” di sekitar kantor, ada satu yang berkesan bagi saya. Oh ya, sebelumnya harus saya klarifikasi, saya tidak ingin menggunakan kata pengemis, karena mereka tidak pernah mengemis-ngemis kepada saya hehehe. Tapi karena kata ganti “Ibu-ibu yang nongkrong sambil membawa wadah mengharapkan uang” terlalu panjang, mari kita ganti jadi peminta saja.

Tempat main saya yang disebut kantor (karena kegiatan saya lebih sering main Xbox, nonton youtube, download film bajakan, sambil ngeliatin temen2 main bilyard) ada di daerah Rasuna Berkata, versi local Rasuna Said, Kuningan.

Ada beberapa spot peminta disekitar sini. Biasanya disekitar masjid. Karena ada beberapa masjid di sekitar kantor. Ada masjid Bulog, Menakertrans, belakang Grand Melia, Diknas, dan Kejaksaan. Pokoknya banyak jalan ke surga. Kebetulan, saya sering bosan sholat. Bosan sholat di musholla kantor maksudnya. Jadinya saya pasti blusukan saat dhuhur dan ashar. Sering berpindah-pindah masjid. Terkadang pingin juga nyoba sholat di masjid Katedral. Hahaha.

Tapi ada satu peminta yang menyita perhatian saya. Peminta dengan mangkok penuh berisi uang. Peminta yang mengajari bahwa Tuhan akan menambah rezeki hambanya yang bersyukur. Peminta yang menerapkan customer relationship management tingkat tinggi.

Di depan Indonesia Power

Peminta yang satu ini saya temui secara tidak sengaja. Stand by didepan kantor Indonesia power, perempatan Kuningan – Gatot Subroto. Ketika itu saya berangkat naik busway. Dan turun di halte Kuningan Barat. Dari situ saya harus ngesot ke arah Tempo Scan Tower. Nah, waktu itu saya lihat ibu ini.

Berjilbab, dengan tahi lalat dan membawa seorang anak. Didepannya ada mangkok berisi uang. Penuh. Dari recehan, ratusan, ribuan, dua ribuan, hingga lima ribuan. Berapa lapis? Ratusan! Lebih :p. Iseng-iseng saya merogoh kantong baju. Berisi adalah kosong. OK, pindah ke celana. Ada logam menyempil. Gopek. Rp.500.

Saya meletakkan uang itu. Tiba-tiba dia berteriak,

“TERIMA KASIH PAKKK.. TERIMA KASIIHHH” busyet gopek aja efeknya kaya gini. Kalo saya kasih sejuta mungkin teriakannya bisa sejuta decibel kali. Ngalahin pesawat super sonic donk. Hihihi.

Saya mencoba sok cool. Terus berjalan. Dengan anggun dan keren. Baru 5 meter Ibu itu teriak lagi.

“TERIMA KASIIHH YA PAKK.. SEMOGA KERJAANNYA LANCARRR”.

10 meter melangkah, masih ada efek echoing bergema.

“MAKASIH PAKKK.. MAKASIH..”

Gimana perasaan saya? Tentu jengkol donk.. eh jengkel. Masa baru umur 20-an uda dipanggil Pak. Mungkin karena saya pakai baju kantoran (biar tampang kuli bangunan). Tapi yang jelas, saya merasa pemberian saya berarti. Dan membuat saya ingin kembali.

Consumer Retention

Dan bener juga besok saya kembali! Meski hari itu Continue reading Peminta

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

[SOLD] 100 Kisah Klasik Pemasaran

Hi all,

Pingin tau sejarah perkembangan brand-brand besar macam Apple, Cadburry, Coca-cola, Honda, Toyota, Starbucks, Ikea, IBM, dan lainnya? Coba baca 100 Kisah Klasik Pemasaran yang disusun oleh Jack Mussry and friend.

Buku ini akan memberikan broad perspective tentang pembangunan sebuah brand. Dimulai dari awal berdiri, pemilihan strategi, segala permasalahan yang dihadapi, dan solusi yang bisa dijadikan pelajaran dimasa depan nanti. Memang terkesan terlalu umum, at least, kita bisa tahu secara sekilas.

Wajib dibaca bagi pecinta marketing dan bisnis yang ingin bacaan ringan. Penuh dengan insight sejarah (dari sini saya tahu awal penamaan Mercedez Benz) yang menarik untuk diikuti.

UPDATE: Udah ada yang take via FB 1 menit setelah postingan ini keluar.

Case closed.

cover buku
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail