Monthly Archives: May 2013

Tentang Kesedihan dan Mengapa Kita Terus Merasa Sedih

source: deviantart

Seorang Ibu yang sangat sedih karena kehilangan anaknya yang meninggal dunia, mendatangi Siddharta Gautama. Setelah berkeluh kesah dan menumpahkan kesedihannya, ia meminta kepada sang Buddha agar anaknya bisa hidup kembali kedunia. Sebuah permintaan yang sedikit mustahil. Anehnya, Buddha menyetujui permintaan sang Ibu. Dengan satu syarat:

Sang Ibu harus membawa benih dari keluarga yang tak pernah kehilangan anggota keluarga. Mendengar syarat itu dengan senang hati sang Ibu segera bergegas pergi. Mengetuk pintu demi pintu.

“Adakah benih yang bisa engkau bagikan?” tanya Ibu disebuah rumah.

“Ya kami memilikinya”

“Apakah keluargamu tidak pernah kehilangan salah satu anggotanya?”

“Maaf sekali, keluarga kami baru saja ada yang meninggal bulan lalu”

“Sayang sekali. Sang Buddha menyuruh saya untuk mencari benih di rumah yang tidak pernah kehilangan anggota keluarganya”

Demikian sang Ibu terus mencari. Mengetuk pintu demi pintu. Rumah demi rumah. Ia berpindah ke desa tetangga. Tapi tetap saja. Semua orang pernah kehilangan. Semua keluarga harus menerima tamu kematian. Akhirnya ia kembali mengharap Buddha.

“Bhante… ternyata tidak ada keluarga yang tidak pernah kehilangan anggotanya. Tidak ada yang tidak pernah merasakan kesedihan. Karena tidak ada manusia hidup, yang tak mati.” Sang Ibu lalu mendapat pencerahan dan menjadi bhikkuni.

Penyebab Kesedihan

Sang Ibu mampu “move on” dari kesedihan yang menimpanya. Tapi mengapa sebagian dari kita tidak?

Martin Seligman dari University of Pennsylvania punya jawabannya. Ternyata, makhluk hidup mampu mempelajari keputusasaan dan menjadikannya sarana bertahan hidup. Coba bayangkan seekor macan sirkus. Pada awalnya ia adalah hewan buas. Tapi berbagai hukuman ketika ia mulai bertindak ganas, dan setoran makanan ketika ia jinak, mampu mengontrol prilakunya.

Demikian juga dengan manusia. Menurut Seligman, keputusasaan yang dialami sebagian manusia adalah sebuah “explanatory style” (gaya penjelasan): kebiasaan dalam menjelaskan kejadian buruk dalam hidup mereka. Contohnya ketika kita kecopetan. Percakapan didalam diri kita mengenai penyebab kecopetan akan mempengaruhi output yang terjadi.

Manusia pesimis, mudah menyerah, dan kalah, menurut Seligman, menjelaskan kejadian buruk sebagai:

1.       Permanent: kejadian buruk akan terus terjadi. Saya kecopetan karena takdir saya memang sial. Nanti saya pasti akan kecopetan lagi.

2.       Pervasive: generalisasi sempit universal. Karena dompet saya hilang di terminal, berarti semua terminal tidak aman.

3.       Personal: semua hanya berpusat pada personal individu. Ini semua karena saya. Semua orang pasti menyalahkan diriku? Mengapa nasibku begitu menyedihkan?

Yang harus kita lakukan, menurut Seligman, adalah menjelaskan pada diri kita sendiri bahwa apapun yang terjadi bahwa hal ini adalah sementara (tidak permanen), spesifik pada kasus tertentu, dan bukan hanya masalah kita sebagai seorang pribadi. Penjelasan itu harus temporary, specific, dan external.

Kembali kecerita Buddha diatas. Sang Ibu akhirnya menemukan pencerahan ketika ia menemukan kesadaran. Sadar jika dunia itu sementara, kehilangan adalah kewajaran, dan kehidupan-kematian adalah sesuatu yang diluar kekuasaan kita.

Sang Ibu sadar jika semua permasalahan kehidupan itu: temporer, spesifik, dan eksternal.

—–

Mau nulis tentang Buddha tapi karena lagi baca tentang Seligman. Jadinya tulisan campur aduk kaya gini. hahaha

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Segelas Air Seharga 15 Juta

blog.chron.com

Sepulang dari meeting, saya menumpang salah satu angkot warna biru. Dan seperti biasa, macet menjadi paket tambahan yang tak terelakkan lagi. Tapi macet tidak selamanya menjadi bencana. Terkadang, ia justru membawa berkah didalamnya.

Didalam macet dimana gerak terbatas sekali. Waktu seakan berhenti. Jarak menjadi tak ada lagi. Ia membawa kembali nuansa kemanusiaan yang selama ini pergi. Lewat dialog sederhana tentang kehidupan sehari-hari. Teman dialog kali ini namanya Setiawan Jodi. Sang pengemudi taksi.

Saya memulai pembicaraan tentang macet. Obrolan lalu mengalir menjadi kehidupan berbangsa bernegara, pembangunan, pertumbuhan kendaraan, cerita sehari-hari, suka duka narik taksi, dan entah kenapa menjadi topic rezeki.

Awalnya hanya soal voucher taksi. Saya bercerita tentang salah satu supir taksi di kantor salah satu klien saya yang pernah mendapat durian runtuh dari langit: cek voucher 7 juta rupiah untuk argo seratusan ribu!

Jadi ceritanya supir taksi yang beruntung ini adalah langganan seorang manager di perusahaan FMCG multinasional. Kebetulan saat itu menjelang hari raya. Puasa. Menjelak mudik ke kampung halaman kita. Entah malaikat apa yang ada, sang manager dengan baik hati ingin berbagi tunjangan hari raya. Ia menuliskan angka 7 juta di voucher cek taxi. Sang supir tentu langsung terkejut dan berkaca-kaca dalam hati.

“Tapi ada teman saya yang dapat voucher 15 juta Mas”

“Wow, langganan juga pak?”

“Bukan”.

“Loh, koq bisa Pak?”

Segelas Air

“Jadi waktu itu ceritanya bulan puasa. Temen saya ini sedang nganter tamu. Terus kena macet. Karena udah maghrib, dia tanya ke tamunya: ‘maaf Bapak, sudah maghrib, Bapak mau sholat maghrib dulu mungkin?’ tawar teman saya itu”.

“Karena merasa sudah dekat, tamu ini nolak. Terus teman saya ngomong lagi: ‘Maaf Bapak, karena sudah waktunya buka, dibatalkan sama air ini dulu ya’ sambil menawarkan air dalam kemasan gelas.”

Mungkin karena tersentuh, saat sampai di tujuan, tamu yang ternyata seorang pengusaha ini menuliskan angka fantastis di voucher taksi itu: 8 juta rupiah!. Tentu sang supir terperanjat dan berterima kasih sedalam-dalamnya. Masalah belum berhenti disitu. Saat hendak mencairkan voucher di pool, voucher itu ditahan.

“Kita harus klarifikasi ke pemberi voucher”. Itu sudah peraturan perusahaan. Ditelponlah pemberi voucher. Meminta kejelasan. Jangan-jangan supir taksinya yang berbohong dan memanipulasi voucher.

“Loh itu hak saya donk mau ngasih berapa. Itu kan uang-uang saya” kata pengusaha tadi. Dan lebih hebatnya lagi, ia datang ke pool dan menuliskan satu voucher tambahan senilai 7 juta rupiah!. Sehingga total 15 juta.

Empati

Sekecil-kecilnya kebaikan, pasti akan dibalas kebaikan. Itu prinsipnya. Tapi entah kenapa, kita sering lupa, terlalu berfocus pada hal-hal besar. Kita beranggapan jika berbuat baik itu berarti menyumbangkan sekian juta rupiah, membantu sekian puluh anak yatim, menyantuni sekian ratus fakir miskin. Seolah-olah dunia hanya bisa berubah dengan kekuatan besar.

Padahal dunia bisa menjadi lebih baik lewat tindakan sederhana. Menyebut nama Tuhan ketika bangun di pagi hari, menyiram tanaman, memberi makan hewan kelaparan, menyapa tetangga, tersenyum kepada satpam, ceria ketika bertemu sejawat, atau berbagi sedikit rezeki yang kita miliki. Kebaikan-kebaikan kecil yang terakumulasi akan sama dengan kebaikan besar yang terfluktuasi.

Dan kebaikan yang disampaikan dari hati, akan sampai kedalam hati. Apa yang dilakukan pengemudi taksi tadi adalah tindakan yang sudah semakin jarang kita temui: melayani sesama dengan hati dan empati.

Daniel Pink dalam To Sell is Human menyebut bahwa empati akan semakin penting di dunia modern ini. Seorang negosiator yang memiliki empati terbukti memiliki kemungkinan untuk mendapatkan win-win negotiation. Penjual yang memiliki empati memiliki kemungkinan melakukan closing dan menjaga hubungan personal.

Saat hubungan antar manusia sudah menjadi hubungan penjual dan pembeli. Semua menjadi transaksi untung dan rugi. Kehadiran empati berarti kembali memanusiakan manusia. Menempatkan diri kita didalam posisi orang lain. Merasakan apa yang mereka rasakan. Dan membantu apa yang bisa kita bantu. Tanpa pernah memikirkan apa yang kita dapatkan sebagai balasan. Termasuk, hanya dengan memberikan segelas air.

Karena jangan pernah remehkan segelas air. Konon, Harun Al Rasyid bersedia menukar segelas air dengan separuh kerajaannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Membeli Tiket Mudik (Kereta Api)

KAI

Lebaran sebentar lagi (masih 3 bulan lagi sih), tapi perburuan tiket mudik sudah dimulai sodara-sodara! Tepat pada tanggal 3 Mei, kita sudah bisa booking tiket kereta untuk tanggal 2 Agustus 2013. Tanggal keramat karena diperkirakan menjadi puncak mudik lebaran tahun 2013.

Karena tidak ingin mengulangi “KEBODOHAN” tahun lalu (naek kapal PELNI dan harus sholat ied di TENGAH LAUT karena kapalnya DELAY), saya sudah berniat hunting tiket dari jauh-jauh hari. Pilihannya dua: pesawat atau kereta api.

Tiket pesawat tanggal segitu rata-rata 900rb. Sedangkan kereta? Cukup 600rb saja untuk Jakarta Surabaya. Lumayan beda 300rb bisa buat beli ketupat. Sekarang tinggal beli tiketnya nih. Apakah harus datang ke stasiun dan antri dari pagi? Itu mah sudah kuno. Pake calo donk! Oh salah ding. Tinggal beli online aja sekarang mah.

Multi Channel

Untungnya PT KAI sudah mempersiapkan infrastruktur multi channel booking. Selain datang ke stasiun, kita bisa mendapatkan tiket sepur melalui online, agen resmi, indomaret, hingga outlet PT Pos Indonesia. Kali ini saya ingin sharing pengalaman membeli tiket mudik online dari website PT KAI: www.kereta-api.co.id.

Sebenarnya ada dua fase: pemesanan dan pembayaran. Untuk detail langkahnya seperti dibawah ini:

  1. Buka www.kereta-api.co.id pilih menu reservasi tiket.
  2. Cari kereta sesuai kebutuhan. Sesuaikan jadwal keberangkatan.
  3. Masukkan data-data pribadi pemesan. Setelah selesai akan keluar kode pembayaran (kode booking). Untuk membayar kita bisa lewat ATM atau kartu kredit. Saya coba lewat ATM.
  4. Pergi ke ATM. Pilih menu pembayaran.
  5. Masukkan kode 711711 (ini kode resmi PT KAI)
  6. Masukkan kode booking 13 angka (dikirim juga lewat email koq)
  7. Periksa data perjalanan. Jika sudah sesuai tinggal pilih bayar.
  8. Simpan struk dan tukarkan di stasiun maksimal 1 jam sebelum keberangkatan.

Tuh, simple kan. Karena simple, orang-orang sudah pada booking dan stok kursi semakin menipis. Ayo buruan beli sebelum kehabisan 😀

(dan jangan mengulangi kebodohan saya untuk naik PELNI @_@).

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Mewaspadai” Tiket “NOL” Rupiah?

Minggu-minggu ini ada beberapa airlines yang sedang gencar-gencarnya promo. Lebih tepatnya hanya dua: “Air Merah” dan “Si macan”. Bagaimana dengan “Singa airlines” yang baru saja terkena musibah di Denpasar? Untuk yang itu harga tiketnya sudah over priced. Sehingga sering saya coret dari daftar wajib LCC saat mencari tiket.

Si “Air Merah” baru saja meluncurkan promo Karnaval nol rupiah. Sedangkan “Si macan” memberikan promo “1 Rupiah” untuk tiket return. Kebetulan, saya membeli kedua airlines itu. Untuk “Air Merah” saya dapat ke Singapura 66 ribu dan Johor Bahru pp 400 ribu. Sedangkan “Si macan” akan mengantarkan saya ke Bali dengan biaya 600 ribu pulang pergi. Semuanya dari Jakarta.

Loh katanya nol rupiah? Koq masih bayar ratusan ribu?

Yang Gratis Itu Seat-nya

“Mana nol rupiahnya?”

“Gw udah select Nol, pas di proceed ke next step koq jadi ratusan ribu?”

“Nih airlines mau boongin konsumen ya?”

Komentar seperti ini sering dikemukakan ticket hunter. Semata-mata karena kita sebagai konsumen tidak tahu bahwa Airlines akan memisahkan biaya tiket dengan fuel surcharge, tax, dll. Kita bisa lihat contoh gambar dibawah.

cost breakdown tiket JB

Tertulis jika biaya tariff (seat) = NOL rupiah. Jadi Airlines tidak berbohong donk! Tapi kita harus tetap membayar fuel surcharge, dan airport tax (di Luar Negeri airport tax dimasukkan dalam biaya tiket – klo gambar diatas 200rb). Lagipula, disaat tiket normal bisa berharga ratusan ribu, maka harga diatas tergolong sangat murah. Makanya saya iseng-iseng beli hehehe.

Yang perlu dicatat, beberapa airlines memasukkan opsi asuransi, seat selection, on board meal, dan tambahan bagasi. Sebagai konsumen hemat menjurus kere, kita harus pintar-pintar “membuang” opsi-opsi tambahan itu. Konsumen yang ga ngerti, biasanya asal next-next aja. Tahu-tahu mereka kaget melihat biaya yang membengkak dan menganggap airlines melakukan kebohongan publik.

Tips gampangannya: baca semua terms & condition dan jika ingin murah, un-thick semua option tambahan.

Add on cost baggage and insurance

Motivasi Promo Seat

Btw, kenapa sih Airlines berbaik hati merelakan kursinya hingga gratis? Logikanya sederhana: meningkatkan load factor (tingkat keterisian pesawat). Sebagai informasi, dalam airlines ada beberapa “tingkatan harga tiket”. Tidak ada yang sama. Semua tergantung permintaan.

Missal ada 100 seat (tempat duduk) tersedia. Harga dimulai dari Rp 100 untuk 10 seat. Jika sudah laku, tiket merangkak menjadi Rp 120 untuk 20 seat. Jika semua terjual, harga berubah jadi Rp 150 untuk jatah 40 seat. Demikian seterusnya hingga misalnya harga menjadi Rp 200 untuk 30 seat terakhir (sekedar contoh doank. Tingkatan harga tergantung maskapai. Salah satu maskapai bisa sampai 8 tingkatan harga!).

Karena airlines business ada seasonal-nya, rata-rata load factor pesawat 70-80%. Tergantung musimnya. Pas musim liburan ya rame. Kalo ga pas liburan ya gitu deh. Banyak yang kosong. Nah, promo tiket sebenarnya adalah usaha untuk memberikan beberapa tiket dengan harga terendah di bulan-bulan low season. Bulan February-April dan sebulan setelah lebaran adalah best moment untuk mencari tiket promo. Dan jangan bermimpi ada maskapai yang memberikan promo di musim lebaran! (kecuali itu maskapai bapak kita sendiri).

Pola pikir airlines simple koq: daripada kursi dibiarin kosong, kenapa ga di diskon aja?

Jadi ya, happy hunting tiket promo! 😀

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Penebusan Dosa

Halo semua 😀

Akhirnya sampai juga. Kembali ke ibukota. Sudah sebulan terakhir ini setiap weekend harus berada diluar kota. Setelah mengunjungi kota kecil di ujung barat pulau Jawa (yang tulisannya masih bersambung), saya terbang ke Padang. Lalu dua minggu lalu mengikuti acara kantor di Hongkong dan China (eh, apa bedanya?!?). Dan terakhir, ikutan marathon di Malang.

Ada banyak cerita yang ingin saya tulis. Banyak pelajaran yang ingin saya bagikan. Tapi pertama-tama, saya ingin membuat pengakuan dosa: Selama ini ga sempet nulis! Padahal haram hukumnya berlindung dalam alasan dan membuat excuse untuk hal-hal yang tidak bisa kita capai. Sebagai gantinya, saya mau bagi-bagi buku aja deh. Tapi berbeda dengan biasanya, kali ini saya ingin by request dari pembaca blog tercinta.

So, tinggalkan komen berisi buku yang ingin teman-teman baca (alamatnya jangan lupa ya). Syukur-syukur kalo Insya Allah saya bisa membelikannya 🙂

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail