Monthly Archives: September 2013

Sepeda Untuk Nana

Sebulan yang lalu saya diajak teman kuliah, si Priyok (anak akuntansi yang jadi ketua BEM fakultas dulu-) untuk berkunjung ke Karawang.

Bukan demi Arwah Goyang Karawang yang aduhai itu (busyet seleranya..), atau membaca puisi Karawang-Bekasi. Tapi demi berkunjung ke belakang Kawasan Industri Karawang. Ada apa disana?

Ternyata di belakang kawasan pabrik yang megah itu, masih ada surga kecil yang mencoba bertahan. Sebuah surau warna hijau, dengan bangunan semi permanen yang digunakan anak-anak yatim untuk tinggal, bersekolah, dan belajar mengaji. Ternyata masih ada kedamaian dalam kesederhanaan, ditengah keterbatasan.

Disana tinggal kurang lebih 20-an anak. Dengan Ustadz Nana sebagai pengasuhnya. Dan fasilitas hidup seadanya. Di sampingnya ada empang, yang sering dipakai anak-anak untuk mandi dipagi hari. Jika Anda datang ke sore hari, akan ada sekumpulan anak sedang membaca kitab suci. Terkadang ada yang mengeluh sakit gigi,

“Ustadz, gigi saya sakit” seru seorang anak.

“Iya, nanti dibeliin obat”. Jawab Ustadz Nana sabar.

“Ustad perut saya juga sakit” seorang akhwat tidak mau ketinggalan.

“Iya, nanti juga dibeliin obat” kata Ustadz Nana lagi. Pikir saya, ini guru ngaji apa tukang obat? Hahaha.

“Disini kalo mau kemana-mana jauh Mas. Ke Puskesmas harus ke kota.” Permasalahan klasik perekonomian dunia ketiga: infrastruktur. Tak ada jalan yang layak untuk mencapai Kampung Sarijaya Batu Koneng, Desa Telukjambe Timur tempat pondok Al-Kholisoh ini.

Bagaimana dengan sekolah? Jangan ditanya. Pergi ke sekolah menggunakan angkot adalah kemewahan disini. Jalanan yang rusak, berada di lahan perhutani (which means full of tumbuh-tumbuhan semi hutan) tentu membuat pengusaha angkot ataupun Kopaja mikir-mikir kalo mau ngetem disini.

Itulah mengapa Ustadz Nana harus rela mengantarkan santri-santri-nya ke sekolah satu persatu menggunakan motor. Meski jaraknya 10km lebih. Setiap pagi. Setelah shubuh, Ustadz Nana harus membelah jalan becek, menembus kawasan industry, menuju sekolah di kota. Demi masa depan santri-santrinya.

“Orang-orang disini jarang yang kerja di pabrik Mas… bagaimana bisa kerja di pabrik, ijazah aja ga punya. Karena itu saya pinginnya anak-anak disini bisa sekolah… sampe SMA… minimal nanti kerja di pabrik-pabrik didekat sini”.

 Impian Ustadz Nana. Cukup SMA. Yang penting bisa bekerja. Mendapat uang secukupnya. Hidup sewajarnya. Sederhana saja.

Sepeda Untuk Nana

Untuk meringankan beban Ustadz Nana, sempat terpikir untuk membuatkan jalan bawah tanah langsung menuju sekolah. Tapi ya Cuma di pikiran doank haha. Karena tidak realistis, pilihan jatuh kepada sepeda. Iya, sepeda pancal. Agar santri-santri Ustadz bisa berangkat sendiri. Tak perlu mengantri. Mengayuh mimpi. Kami berharap dengan sepeda, anak-anak bisa berangkat dengan mandiri.

Meski jaraknya 10 km, masih mungkin untuk ditempuh dengan sepeda. Yah mungkin mandi keringat sampai di sekolah. Tapi bukankah mereka yang berkeringat di masa muda, akan tersenyum bahagia di masa tua?

Sekalian mengajarkan semangat pantang menyerah dalam menuntut ilmu. Jika mereka bisa mengatasi jarak puluhan kilometer saat sekolah, mereka pasti bisa mengatasi jarak ribuan kilometer saat kuliah. Siapa yang tahu, kalau Tuhan menitipkan kecerdasan luar biasa meski mereka bukan anak dari kalangan yang berpunya?

Awalnya, kita mulai dari hal kecil. Mari memberikan satu sepeda untuk mereka. Jika ternyata sepeda bisa menjadi solusi, baru deh kita bagikan sepeda untuk semua anak. Sebelum itu, satu saja sebagai test drive.

Untuk itu, saya mengundang teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam proyek sepeda ini. Project goal-nya 1 juta saja. Silahkan tulis nama di komentar. Nanti akan saya kirimkan no rekening yang bisa dituju. Satu orang cukup Rp.100.000 saja. Koq ga ditalangin sendiri bos? Bisa aja, tapi saya sedang belajar. Belajar untuk mengajak orang ikut berbuat baik.

Karena tolong-menolonglah kamu, dalam kebaikan.

Sepeda Untuk Nana participant @100.000 till 30 Oct 2013

  1. Yoga PS
  2. Priyok Pamungkas
  3. Diah
  4. Rizki Kuncoro
  5. Tri Wulandari
  6. Asti Ayuningtyas
  7. Hamba Allah
  8. Hamba Allah
  9. Dwi Andi R
  10. Pugo Sambodo
  11. Febri
  12. Agung Triatmoko
  13. Barkah
  14. Barkah
  15. Riris
  16. Santy Novaria

Alhamdulilah dalam waktu semalam sudah terkumpul donatur untuk satu sepeda. Karena minggu depan saya ada jadwal traveling, penyerahan sepedanya dilakukan minggu depannya lagi ya (5 atau 6 Oct).

Silahkan transfer ke Bank BCA 615-508-934-6 a.n Yoga Pratama Samsugiharja. Tolong konfirmasi kalo udah transfer ke 081-578-613-875. Semoga Allah yang membalas :D.

 Sorry, pas kesana HP saya kereset and semua pict ilang. ini ambil dari gambar temen via kaskus

jalan menuju tempat Ustadz nana (dari kaskus)
jalan menuju tempat Ustadz nana (dari kaskus)
tempat tinggal
tempat tinggal

masjid kecil dan tempat santri

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

4R of Social Modeling

source picture: Kindmedia.com

Apa yang mempengaruhi prilaku seseorang? Bagaimana cara mengubah prilaku manusia? Apakah manusia bisa berubah menjadi lebih baik? Bagaimana cara mengubah masyarakat? Apakah rekayasa social bisa dilakukan?

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui benak saya. Dilatar belakangi rasa penasaran dan tuntutan pekerjaan yang memaksa saya untuk belajar mempengaruhi kerumunan massa. Kebetulan saya berada di dunia advertising-marketing. Sebuah wilayah persilangan antara marketing brand dan culture evolution.

Brand yang sukses, biasanya mampu mempengaruhi budaya konsumennya. Contohnya air mineral. Dahulu orang merebus air untuk minum. Sekarang, kita menyebut salah satu brand untuk merujuk pada air minum. Bahkan air mineral dalam gallon sudah menjadi “kewajiban” disetiap rumah tangga.

Perlu dicatat, apa yang manusia lakukan, sebenarnya hanya sebuah puncak gunung es perwujudan alam bawah sadarnya. Itu kata ahli-ahli psikolog macam Freud. Seperti juga pesan T Haru Eker:

“Jika ingin mengubah buahnya, Anda harus mengubah akarnya. Jika ingin mengubah yang terlihat, Anda harus mengubah yang tidak terlihat”

Social Modeling

Apa yang kita lakukan, apa yang kita pilih, keputusan apa yang kita ambil, tidak terlepas dari berbagai factor. Jika kita bisa mengetahui factor-faktor yang berpengaruh ini, lalu mengubahnya, mengarahkannya, mengkondisikannya, dan memanipulasi sehingga menghasilkan output yang kita inginkan, maka rekayasa social bisa kita lakukan.

Buset bahasa-nya berat amat ya…

Gampangannya gini, kita ingin membuat pisang goreng. Untuk itu kita membutuhkan pisang (bukan nasi), terigu, gula & garam, dan minyak. Modelnya menjadi:

PG (Pisang Goreng) = P (Pisang) + T (Terigu) + G (Garam) + M (Minyak)

Jika ingin manis, maka kita bisa mengatur variable G (Gula), jika ingin berkulit tipis, kita bisa mengurangi variable T (Terigu). Dan seterusnya, output pisang goreng bisa kita atur setelah kita tahu variable-variable apa saja yang berpengaruh.

Demikian pula dengan manusia. Menjadi manusia sholeh, baik, tidak sombong dan rajin menabung bisa kita capai jika mengetahui variable-variable apa saja yang mempengaruhi prilaku kita.

Setelah berdoa, membaca, dan bertapa, sementara ini saya menyimpulkan bahwa tindakan manusia ditentukan oleh 4R: Reward, Resource, Reason, dan Reinforcement. Berikut penjelasan singkatnya.

Reward

Apa yang saya dapatkan dari melakukan sebuah tindakan? Manusia selalu mencari kesenangan dan membenci kesulitan. Ini adalah motivasi paling dasar manusia.

Resource

Mampukah saya melakukan tindakan itu? Sumber daya mutlak dilakukan. Contohnya kita lapar, ingin makan ayam goreng. Tapi jika ga punya duit? Ya makan ati :p

Reason

Motivasi dalam melakukan tindakan. Bisa internal, atau eksternal. Bisa rational, atau emotional.

Reinforcement

Penguat sebuah tindakan. Contohnya ketika rajin belajar kita dipuji guru, membuat kita semakin bersemangat untuk belajar lebih biat.

Social modeling ini bisa kita aplikasikan untuk marketing, berdakwah, education campaign, melawan obesitas, atau jika ingin berhenti merokok. Yang terpenting, kita harus melakukan sesuatu untuk mengubah 4R diatas.

Minggu depan, kita akan membahas lebih dalam disertai contoh studi kasus. Karena kebetulan saya berusaha mempraktikkan social modeling dalam kehidupan sehari-hari.

Oh ya, selain 4R diatas, adakah pembaca yang bisa menambahkan? Feel free to discuss 🙂

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail