Sepeda Untuk Nana

Sebulan yang lalu saya diajak teman kuliah, si Priyok (anak akuntansi yang jadi ketua BEM fakultas dulu-) untuk berkunjung ke Karawang.

Bukan demi Arwah Goyang Karawang yang aduhai itu (busyet seleranya..), atau membaca puisi Karawang-Bekasi. Tapi demi berkunjung ke belakang Kawasan Industri Karawang. Ada apa disana?

Ternyata di belakang kawasan pabrik yang megah itu, masih ada surga kecil yang mencoba bertahan. Sebuah surau warna hijau, dengan bangunan semi permanen yang digunakan anak-anak yatim untuk tinggal, bersekolah, dan belajar mengaji. Ternyata masih ada kedamaian dalam kesederhanaan, ditengah keterbatasan.

Disana tinggal kurang lebih 20-an anak. Dengan Ustadz Nana sebagai pengasuhnya. Dan fasilitas hidup seadanya. Di sampingnya ada empang, yang sering dipakai anak-anak untuk mandi dipagi hari. Jika Anda datang ke sore hari, akan ada sekumpulan anak sedang membaca kitab suci. Terkadang ada yang mengeluh sakit gigi,

“Ustadz, gigi saya sakit” seru seorang anak.

“Iya, nanti dibeliin obat”. Jawab Ustadz Nana sabar.

“Ustad perut saya juga sakit” seorang akhwat tidak mau ketinggalan.

“Iya, nanti juga dibeliin obat” kata Ustadz Nana lagi. Pikir saya, ini guru ngaji apa tukang obat? Hahaha.

“Disini kalo mau kemana-mana jauh Mas. Ke Puskesmas harus ke kota.” Permasalahan klasik perekonomian dunia ketiga: infrastruktur. Tak ada jalan yang layak untuk mencapai Kampung Sarijaya Batu Koneng, Desa Telukjambe Timur tempat pondok Al-Kholisoh ini.

Bagaimana dengan sekolah? Jangan ditanya. Pergi ke sekolah menggunakan angkot adalah kemewahan disini. Jalanan yang rusak, berada di lahan perhutani (which means full of tumbuh-tumbuhan semi hutan) tentu membuat pengusaha angkot ataupun Kopaja mikir-mikir kalo mau ngetem disini.

Itulah mengapa Ustadz Nana harus rela mengantarkan santri-santri-nya ke sekolah satu persatu menggunakan motor. Meski jaraknya 10km lebih. Setiap pagi. Setelah shubuh, Ustadz Nana harus membelah jalan becek, menembus kawasan industry, menuju sekolah di kota. Demi masa depan santri-santrinya.

“Orang-orang disini jarang yang kerja di pabrik Mas… bagaimana bisa kerja di pabrik, ijazah aja ga punya. Karena itu saya pinginnya anak-anak disini bisa sekolah… sampe SMA… minimal nanti kerja di pabrik-pabrik didekat sini”.

 Impian Ustadz Nana. Cukup SMA. Yang penting bisa bekerja. Mendapat uang secukupnya. Hidup sewajarnya. Sederhana saja.

Sepeda Untuk Nana

Untuk meringankan beban Ustadz Nana, sempat terpikir untuk membuatkan jalan bawah tanah langsung menuju sekolah. Tapi ya Cuma di pikiran doank haha. Karena tidak realistis, pilihan jatuh kepada sepeda. Iya, sepeda pancal. Agar santri-santri Ustadz bisa berangkat sendiri. Tak perlu mengantri. Mengayuh mimpi. Kami berharap dengan sepeda, anak-anak bisa berangkat dengan mandiri.

Meski jaraknya 10 km, masih mungkin untuk ditempuh dengan sepeda. Yah mungkin mandi keringat sampai di sekolah. Tapi bukankah mereka yang berkeringat di masa muda, akan tersenyum bahagia di masa tua?

Sekalian mengajarkan semangat pantang menyerah dalam menuntut ilmu. Jika mereka bisa mengatasi jarak puluhan kilometer saat sekolah, mereka pasti bisa mengatasi jarak ribuan kilometer saat kuliah. Siapa yang tahu, kalau Tuhan menitipkan kecerdasan luar biasa meski mereka bukan anak dari kalangan yang berpunya?

Awalnya, kita mulai dari hal kecil. Mari memberikan satu sepeda untuk mereka. Jika ternyata sepeda bisa menjadi solusi, baru deh kita bagikan sepeda untuk semua anak. Sebelum itu, satu saja sebagai test drive.

Untuk itu, saya mengundang teman-teman yang ingin berpartisipasi dalam proyek sepeda ini. Project goal-nya 1 juta saja. Silahkan tulis nama di komentar. Nanti akan saya kirimkan no rekening yang bisa dituju. Satu orang cukup Rp.100.000 saja. Koq ga ditalangin sendiri bos? Bisa aja, tapi saya sedang belajar. Belajar untuk mengajak orang ikut berbuat baik.

Karena tolong-menolonglah kamu, dalam kebaikan.

Sepeda Untuk Nana participant @100.000 till 30 Oct 2013

  1. Yoga PS
  2. Priyok Pamungkas
  3. Diah
  4. Rizki Kuncoro
  5. Tri Wulandari
  6. Asti Ayuningtyas
  7. Hamba Allah
  8. Hamba Allah
  9. Dwi Andi R
  10. Pugo Sambodo
  11. Febri
  12. Agung Triatmoko
  13. Barkah
  14. Barkah
  15. Riris
  16. Santy Novaria

Alhamdulilah dalam waktu semalam sudah terkumpul donatur untuk satu sepeda. Karena minggu depan saya ada jadwal traveling, penyerahan sepedanya dilakukan minggu depannya lagi ya (5 atau 6 Oct).

Silahkan transfer ke Bank BCA 615-508-934-6 a.n Yoga Pratama Samsugiharja. Tolong konfirmasi kalo udah transfer ke 081-578-613-875. Semoga Allah yang membalas :D.

 Sorry, pas kesana HP saya kereset and semua pict ilang. ini ambil dari gambar temen via kaskus

jalan menuju tempat Ustadz nana (dari kaskus)
jalan menuju tempat Ustadz nana (dari kaskus)
tempat tinggal
tempat tinggal

masjid kecil dan tempat santri

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

14 thoughts on “Sepeda Untuk Nana

    1. Itu di blog. Tapi saya ga apal kalo alamat detail. Pokoknya dibelakang kawasan Industri, abis pabrik Unicharm, trus ada jalan buntu. Belok kiri masuk ke tanahnya Perhutani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *