Monthly Archives: December 2013

Enak Bikin Anak???

Setelah pulang meeting dari kantor klien, di dalam angkot burung biru, saya berdebat dengan rekan kerja saya. Sebut saja kakak “S”. Perempuan single. Beberapa tahun lebih tua dari saya (belum sampe 30 ya bos). Jabatannya digital advertising manager. Kakak S boleh dibilang seorang career woman. Punya pengalaman malang melintang di dunia korporasi.

Mengawali karier di perusahaan “K” (yang punya biscuit sekuat macan) sebagai brand executive. Pindah ke Mbah “G” sang empunya search engine di Singapore. Lalu mendapat beasiswa master di Prancis dan baru bergabung ke kantor saya tahun ini.

Tema yang kita debatkan rada-rada bego dan sebenarnya ga penting. Judulnya: Lebih menguntungkan mana, punya anak atau tidak?

Dia mengawali perdebatan dengan hipotesis bahwa biaya untuk membesarkan anak semakin tahun semakin tinggi. Mulai dari konsumsi makanan dan susu, akomodasi, baju yang harus terus ganti, sampai biaya pendidikan yang tidak murah lagi.

“Coba lu invest duitnya, pasti dapetnya lebih gede” kilah kakak S.

Tapi nanti sapa yang ngerawat kita saat tua?

“Eh, emang anak lu mau ngerawat elu? Lu aja ogah kan ngerawat ortu lu. Mending bayar suster deh”.

Dalam hati saya mau bilang: lha gw aja males ngerawat diri gw sendiri, apalagi orang lain. hahaha.

Daripada debat kusir lebih baik kita menghitung secara rasional, lebih menguntungkan mana antara punya anak atau nggak.

Cost of raising child

Menggunakan perhitungan bego dan asumsi ala kadarnya, saya mendapatkan nilai sekitar 1,2 Milyar jika kita ingin membesarkan anak hingga umur 17 tahun (lulus SMA). Saya sengaja tidak menghitung variable perguruan tinggi karena ga tega melihat besaran angkanya (total menjadi sekitar 2,3 M). Hahaha.

Nilai ini didapat dengan memperkirakan biaya hidup bulanan sekarang dan mem-future value-kannya dengan nilai rate 10%. Kalo present value-nya sih “Cuma” sekitar 400 juta.

Tabel cost yearly

Table2

Wowww…  kita harus jadi milyader donk kalo ingin punya anak? Akhirnya sekarang saya tahu kenapa ada orang yang tega menjual bayinya seharga 10 juta. Pilih mana: dapat 10 juta sekarang atau ngeluarin 1,2 milyar sampai 17 tahun kedepan?

Tapi tentu pemikiran sesat ini akan semakin sesat jika kita tidak membahas keuntungan jika memiliki keturunan. Karena saya belum merried, saya juga tidak tahu apa enaknya punya anak. Apa jangan-jangan enak pas buatnya, repot pas ngerawatnya?

Enak Punya Anak?

Secara matematis ekonomis, memiliki anak berarti memiliki liabilitas. Ia bukanlah asset yang menguntungkan. Anda tidak mau anak anda ngamen di perempatan atau nyamar jadi bayi gendongan pengemis kan? Lagipula ada UU perlindungan anak yang mencegah kita untuk memperbudak mereka yang belum berumur 17 tahun.

Jikapun anak kita menjadi manusia produktif di usia 25 tahun, berarti kita baru bisa menikmati “return on investment” sekitar umur 50 tahun keatas. Kita asumsikan usia harapan hidup 70 tahun, maka setelah 20 tahun dengan asumsi anak kita menyisihkan pendapatannya, kita akan mendapatkan 1,6 M (simulasi terlampir). Secara ekonomis, return-nya masih dibawah biaya hidup dan kuliah yang dibutuhkan.

table3

Tapi seperti tagline iklan salah satu kartu kredit: there’s something that money can’t buy. Ada beberapa hal yang terlalu berharga, sehingga tidak mungkin ada label harga didalamnya.

Siapa yang bisa menghitung harga tawa seorang bayi? Berapa rupiah nilai keceriaan anak-anak? Dan berapa investasi yang dibutuhkan untuk memiliki keturunan yang mendoakan kita? Sama seperti saat saya tidak tahu berapa harga pelukan hangat ibu saya. Berapa biaya gendongan dan kelonan bapak saya. Atau berapa rupiah nilai keceriaan dan kehangatan di ruang keluarga saya.

Jikapun suatu saat saya bisa menghitungnya, saya takkan pernah mampu membayarnya.

Selamat hari ibu.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Pelarian di Akhir Pekan

Tidak biasanya saya menulis tentang pengalaman akhir pekan saya. Tapi kali ini, ada beberapa pelajaran yang mungkin bisa diambil dari kebodohan yang saya lakukan. Jadi ceritanya Sabtu 30 November yang lalu saya menghabiskan weekend di Negara tetangga, Singapura. Sekalian ikutan Standard Charter marathon, salah satu event lari tahunan terbesar. Sebenarnya biasa saja, untungnya ada beberapa kejadian special yang membuatnya jadi luar biasa.

Pertama, flight yang saya naiki delay. Ga enak kalo nyebut merek, karena maskapai ini client saya sendiri hahaha. Uda dapat tiket promo, pas weekend pula (dan nikmat Tuhan mana yang kau dustakan?). Tahu sendiri lah kalau traffic Soetta ngalahin terminal Rawamangun. Boarding telat 30 menit ditambah ngetem di runway 20 menit. Perkiraan saya datang jam 8 malam, eh baru datang jam 9.15 malam. Alhamdulilah masih landing dengan selamat.

Kedua, saya telat ngambil race pack! Begitu landing saya langsung berlari membelah Changi, petugas imigrasi, dan berbagai halangan rintangan yang menanti (rima-nya ga nahan boiiii). Tak sampai 15 menit saya sudah berada di MRT menuju Singapore Expo untuk pengambilan race pack lari besok. Dan ternyata sodara-sodara.. acaranya uda bubar setengah jam yang lalu!

Tahu sendiri lah Negara jiran yang satu ini. Jika dijadwal bilang tutup jam 9, ya tutuplah dia jam 9 teng. Ga butuh lama untuk unpack satu aula dan membereskan logistic. Kata teman2 runner yang lain, hanya butuh 3 menit untuk mengambil race pack. Uda kaya bikin mie instant donk. Jangan bandingkan dengan Jakarta Marathon yang memaksa runner ngantri selama 5 jam. Hahaha.

“Please help me.. My flight was delay. I came from Indonesia” saya nyoba melas-melasin tampang ke panitia yang tersisa.

“Sorry, there are no race pack here. Everything has been moved away” kata encik-encik penjaga stan.

Suasana tempat pengambilan race pack. Ga butuh lama buat unpack

Makjlebbbb… rasanya itu kaya uda bayar mesen makanan di restoran tapi Cuma bisa nyium aromanya doank sambil diusir ke kuburan. Kebayang tuh rugi dollar kebuang sia2. Kepingin ngejer ke gudang, mbak panitia ga tau gudangnya dimana. Mau protes, lha wong panitia-nya udah on time. Mau ngaku anaknya Lee Kwan Yew, eh koq item gendut gini yewww…

Tapi kita harus optimis, kali aja besok bisa nyelip saat race. Ngomong aja racepack ilang. Yang penting bisa tetep lari. Sesuai pepatah: Guru kencing berdiri, runner kencing berlari. Akhirnya malam itu saya bisa bubu dengan sedikit optimisme.

Nah kejadian ketiga: saya kena razia security. Pagi-pagi sekali saat shubuh saya uda menuju Harbor Front. Tempat race akan dimulai. Rute-nya asyik koq. Kita muter2 Sentosa sebelum finish di Padang. Bisa masuk Universal studios pula. Tapi damn, ternyata security ada dimana-mana. Mereka juga screening runner yang mau masuk. No BIB number = no race = nongkrong. Ga ada tuh ceritanya penumpang gelap bisa masuk ke race line. Daripada bengong, akhirnya saya lari sendiri ke arah woodlands. Pedih bung hahaha.

Mohon doanya

Apa pelajarannya? Yah intinya sih semua harus dipersiapkan dengan matang, termasuk memperhitungkan kemungkinan terburuk. Saya lupa memperhitungkan kemungkinan delay. jika tahu maka saya bisa nitip ke runner yang lain. Yang kedua ya banyak-banyak berdoa. Ini penting loh. Karena kalau Tuhan tidak berkehendak, gagal tuh rencana biar sehebat apapun persiapannya.

Sejak kejadian ini saya tersadar, saya belum mempersiapkan apa-apa untuk keberangkatan umrah 2014 (insya Allah). Padahal saya bakal backpackeran tanpa travel partner disana. Mungkin Tuhan mengingatkan saya untuk mempersiapkan A-Z perjalanan. Terbayang sakitnya jika gagal berangkat padahal sudah membeli tiket dan booking hotel.

Karena itu saya minta doa dari para pembaca. Biar rencana traveling bisa terealisasi tanpa efek samping. Akhir tahun ini insya Allah coba berhitung ke Belitung, February umroh ke tanah suci, dan April nyari bunga kamboja ke Kamboja. Karena rasa gagal traveling itu ternyata cukup sakit bos. Sampai saya harus nulis curhat ga jelas kaya gini. Hahaha.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail