Monthly Archives: January 2014

Belitung (2) : Betul-betul Kebetulan

“Sendirian ya Mas?” Seorang laki-laki berumur 20an menyapa saya.

Sebenernya saya ingin menjawab dengan jawaban standar: “Berdua, ama Tuhan”. Tapi karena takut percakapan akan terlalu berbau filosofis untuk pertemuan awal, saya hanya menjawab mainstream: “Iya”.

“Baru pertama kali ke Belitung?” Tanya-nya lagi. Ini mau liburan apa konferensi pers ya? Koq ditanya-tanyain melulu.

Karena merasa tidak membawa uang banyak untuk dirampok, dan tidak punya badan seksi untuk dicabuli, saya menjawab dengan ramah dan terbuka. Sambil memasuki arrival gate bandara, kami terus mengobrol. Akhirnya saya tahu kalau namanya Syifa (suka dipanggil Sheva, tapi akhirnya saya suka manggil Shepa).

Dia seorang dokter dari Jogja! Anak UMY lebih tepatnya. Baru lulus tahun lalu, dan bekerja disalah satu medical company yang menyuplai dokter-dokter perusahaan tambang. Karena merasa memiliki “Jogja connection” (saya kuliah S-1 disana :D), kami menjadi cepat akrab.

Eh, bukan pertama kalinya lho saya bisa cepat akrab dengan traveler. Perasaan senasib seperjalanan, sama-sama terdampar di negeri orang, menimbulkan rasa persaudaraan sesama pejalan. Sebuah sikap yang wajar untuk menciptakan koalisi. Toh sama-sama menguntungkan. Bisa jalan bareng, cost sharing, dan tolong menolong jika ada yang ditimpa musibah.

Saya pernah check-in satu kamar dengan traveler wanita yang baru saya kenal 2 jam sebelumnya saat di Sabang Aceh, nemu guide saat tersesat di pasar Hat Yai, dan bertemu partner in crime sampai ditawari hotel gratis saat di Johor Bahru. Intinya: dunia masih dipenuhi orang baik!.

Nah, untungnya saya dan Shepa punya banyak kebetulan. Kebetulan dia ada kenalan Couchsurfing yang mau menerimanya menjadi host, kebetulan temannya bisa menjadi guide, kebetulan dia sudah ada rentalan motor, dan kebetulan dia butuh teman. Lha koq kebetulan saya belum punya kenalan di Tanjung Pandan, kebetulan saya belum ada kendaraan, dan Kebetulan juga saya lagi nyari teman berpetualang.

Akhirnya setelah mengetahui tanggal kepulangan masing-masing, saya dan Shepa sepakat mengadakan koalisi strategic berdasarkan kebetulan-kebetulan yang betul-betul terjadi.

 

Guide book dan CD promosi Departemen Pariwisata yang bisa diambil gratis di Bandara

Next week: kita akan mengunjungi pulau terkecil di dunia!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Belitung (1): You Never Walk Alone!

 Delapan tahun yang lalu, Belitung hanyalah pulau kecil tak dikenal. Jikapun terkenal, hanya pada kalangan anak TK.

“Ayo anak-anak.. mari belajar Belitung sama-sama..”.

Pasca reformasi dan otonomi daerah, Belitung menjadi bagian provinsi Bangka-Belitung. Namun meski sudah menjadi bagian provinsi yang otonom, namanya kalah oleh Pulau Bangka, New York, atau London (ya jelas lah!!!). Belitung hanya dikenal sebagai pulau penghasil timah yang ketika di googling, tak akan menampilkan review pantai yang ciamik, penduduk yang ramah, budaya Melayu yang khas, dan tembok besar China (ini apa lagi).

Pokoknya, orang ga tau tuh dimana Pulau Belitung. Tapi semua berubah sejak Negara api menyerang… oh ini bukan tentang Legend of Aang pemirsa.

Belitung mulai dikenal dunia sejak diterbitkannya Laskar Pelangi, Novel best seller yang sudah diterbitkan di 65 Negara dan terjual lebih dari 5 juta copy (bayangkan jika Andrea dapet 1$ per buku, berapa total royaltinya?).

Ketika membaca novel ini sekitar tahun 2006, saya terpukau oleh sihir kata Andrea Hirata. Tapi dia belum bisa membuat saya garuk-garuk tembok dan ngesot-ngesot tanah ingin pergi kesana. Momentum terjadi setelah film Laskar Pelangi booming sekitar tahun 2008-2009. Riri Riza mampu mengangkat keindahan Belitung, dan membuat saya ingin kesana sebelum meninggalkan dunia yang fana ini. Hahaha.

Laskar Pelangi bahasa China.

(Sekedar info, pemerintah Aceh rela membayar ratusan juta ke Andrea Hirata asal dia mau memindahkan lokasi shooting dari Belitung. Tapi Andrea menolak, dan hasilnya, Belitung mendapat milyaran dari pertumbuhan ekonomi setelah film ini diluncurkan. Dan akan dibuat Laskar Pelangi versi Hollywood!!!)

Doa saya terjawab 4 tahun kemudian. Setelah menempuh 144 SKS harapan, kesabaran, dan keberuntungan (emangnya S-1), akhir December 2013 kemarin alhamdulilah saya berkesempatan berkunjung kesana. Menjejakkan kaki di bumi laskar pelangi.

Tiga Persiapan yang Tidak Saya Siapkan

Biasanya orang traveling selalu mempersiapkan tiga hal: akomodasi, transportasi, dan itinerary (rencana perjalanan). Tapi untungnya saya beda. Saya lebih suka spontanitas. Jikapun ada rencana, hanya gambaran besar destinasi yang ingin saya kunjungi dan tidak memikirkan urusan teknis.

Pengalaman terakhir ikutan tour kantor ke Hongkong membuat saya kapok. Traveling sudah seperti inspeksi pabrik. Datang ke tempat wisata A, checked. Makan di restoran B, checked. Pergi ke pasar C, checked. Balik ke hotel, checked. Besok harus berangkat pagi lagi  agar check list bisa selesai.

Untuk Belitung ini saya ingin setengah bertualang. Datang ke pulau orang tanpa ga tau tau nginep dimana, Cuma punya satu temennya temen (saya punya teman A, si A punya temen B. Saya Cuma sms-an ama si B ngaku kalo temen-nya si A), dan ga tau kesana mau kemana serta harus naik apa.

Saya baru tahu destinasi wisata yang menarik setelah googling pas malam H-1. Booking hotel termurah untuk semalam saja. Dan baru sadar kalau di Belitung itu ga ada angkutan umum untuk jalan-jalan ke tempat wisata. Lha terus piye? Panic? Galau? Bingung? Selooowwwww mas broohhhh.

You never walk alone.

Itu prinsip saya kalau traveling. Biarpun berangkat sendiri, saya percaya jika saya tidak pernah sendiri. Masih ada Tuhan J. Masih ada traveler-traveler lain seperjalanan. Masih ada penduduk asli yang ramah-ramah. Masih ada petualangan yang pasti menyenangkan.

Bismillah… berdoa saja. Manusia itu bersaudara. Kita saja yang sering lupa.

Berbekal ransel gede berisi baju 5 hari, kaos oblong, sandal jepit, buku karya Coelho dan Gladwell sebagai teman bacaan, saya menjejakkan kaki di tanah bandara H.A.S. Hanandjoeddin, Tanjung Pandan. Runway-nya pendek. Saya kaget saat Airbus 320 Citilink bisa mendarat di bandara sependek ini.

Baru berjalan beberapa langkah setelah turun dari pesawat, tiba-tiba ada yang menyapa:

“Sendirian ya Mas?”

You never walk alone! Saya tersenyum dalam hati. Saya tahu jika petualangan ini baru saja dimulai.

Pantai Tanjung Tinggi alias Pantai Laskar Pelangi
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cerita Sederhana Pengantar Senja Tentang Ayah dan Anaknya

Ketika di Belitung, saya menyaksikan kecelakaan tunggal di depan mata. Saat itu saya baru saja pulang berpetualang dari pantai Penyabong di daerah Membalong, dan hendak pulang kearah kota Tanjung Pandan.

Seorang ibu yang berboncengan dengan anaknya mengalami kecelakaan. Ia kaget karena anaknya bergerak tiba-tiba, dan secara reflex mengerem mendadak. Ban selip, dia pun jatuh. Anaknya yang dibonceng dan kira-kira masih berusia 7 tahun, jatuh menimpa batu. Tragisnya: karena tidak memakai helm, kepalanya bocor.

Dikarenakan jalanan sepi (ditengah pepohonan semi hutan), saya mengajukan diri untuk mengantar Ibu yang malang ini ke Puskesmas terdekat yang ada di daerah Simpang Rusa. Saya membonceng mereka berdua selama 3 km untuk mendapatkan perawatan. Kepala sang adik masih terus mengeluarkan darah. Sang Ibu tak henti mengucapkan doa dan istighfar dan meminta saya segera memacu gas.

Beruntungnya kita. Puskesmas masih buka. Padahal dokter jaganya sudah bersiap pulang. Ketika itu 31 December jam 3 sore. Orang-orang sudah terkena euphoria tahun baru. Pak dokter yang sudah berada di pagar keluar pun dipanggil kembali. Ada pasien gawat darurat menanti.

Setelah mendapat perawatan (membersihkan luka, menjahit kepala), tak lama kemudian sang Bapak datang. Pak Zainal namanya. Orang Jakarta, perantauan yang sudah 3 tahun menjadi juru las di pasar. Tampangnya rada sangar. Memakai jaket hitam, dengan kulit terbakar matahari. Mirip bang “Jo” yang menjadi host acara “Tangkap” di TV beberapa tahun lalu. Waspadalah! Waspadalah!

Apa yang pertama kali dilakukan Bapak sangar ini ketika melihat anaknya terbaring dengan jahitan dan lumuran darah di kepala? Bukan panik, bukan marah, bukan kaget. Dia justru tersenyum, tertawa, dan berkata:

“Ehh.. jagoan papa abis jatoh ya? Ga’papa kan sayang? Pasti kuat kan” sambil menunjukkan ekspresi tenang dan gembira.

Sang anak, Indra namanya, hanya diam dan tersenyum. Ia hanya bocah SD yang memaksa ikut Ibu ke kota untuk membeli terompet tahun baru karena ingin merayakan pergantian tahun bersama sang abang di perkemahan Meranti.

Mungkin dia kaget. Ayahnya tidak marah, dan itu berarti ia tidak salah! Berbeda dengan reaksi sang Ibu yang menyalahkan dirinya karena tidak mau menggunakan helm ketika berangkat.

“Ini loh Mas, udah aku suruh pake helm ga mau. Mau pake jaket aja setelah dipaksa-paksa. Makanya lain kali nurut!” sang Ibu seolah-olah tidak mau disalahkan atas kecelakaan yang menimpa anaknya.

Sang ayah hanya tersenyum. Tidak mengeluh. Tidak ngedumel. Selama sang anak baik-baik saja, berarti semuanya baik-baik saja.

Saat mengantarkan si ayah mengambil motor yang tertinggal, ia mulai bercerita. Tentang asal-usulnya. Bos-nya yang kabur. Bengkel yang ia ambil alih. Tunggakan hutang. Pengalaman membuka bengkel las. Kerasnya hidup. Dan cerita tentang keluarga kecilnya. Dunia kecil yang ia cintai, dan ingin ia lindungi.

Ayah tetaplah Ayah. Meski terlihat keras karena terbiasa berurusan dengan besi dan las, dia tetaplah seorang ayah yang harus mengajari anak laki-laki bahwa kekuatan sejati, ada pada kelembutan di dalam hati.

Pantai Penyabong. Sorry rada mendung. Aslinya hamparan laut tenang warna ijo yang bikin saya ga kuat untuk ga nyebur hahaha

 NB: Oh ya, saya menulis ini untuk Bapak saya yang berulang tahun hari ini! Semoga panjang umur ya Pak! 😀

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail