Monthly Archives: June 2014

Ka’bah Dekat Rumah (6): Hello Brother!!!

Saya berhasil meninggalkan imigrasi paling sakti sekitar jam 12 siang. Cuaca kering menyambut. Parah. Panas dan gerah. Pantes onta punya punuk. Buat nampung air biar ga kehausan. Saya juga punya punuk. Sayangnya ditaruh di perut.

Karena keringetan dan belum mandi, saya putuskan untuk numpang mandi disalah satu toilet disekitar bandara. Bermodal tampang cuek meski diliatin petugas kebersihan. Setelah merasa segar dan berganti baju bersih, waktunya sholat dhuhur dulu.

Tujuan selanjutnya adalah Madinah. Loh koq ga langsung ke Mekah? Ngapain jauh-jauh ke Madinah dulu? Koq ga miqat di Jeddah? Karena ilmu agama saya pas-pasan, saya percaya aja kata berbagai buku umroh dan nasihat travel agent saya. Katanya miqat di Jeddah hanya boleh untuk Ahlul-Jeddah. Alias warga jedah asli. Karena KTP saya masih Sidoarjo ya udah, ke Madinah aja dulu.

Nah sodara-sodara, bagaimana cara ke Madinah? Jarak Jeddah Madinah cukup jauh. Sekitar 450 km. Pilihannya bisa naik pesawat, bis, taksi, atau onta biar kaya musafir jaman dulu. Berdasarkan hasil penerawangan saya bersama mbah Google, harusnya ada bus umum yang melayani rute Jeddah-Madinah. Namanya Saptco (Saudi Public Transport Company). Bus ini yang jadi tujuan mode transportasi saya.

No English Please

Karena semua jamaah yang landed sudah dijemput travel masing-masing, saya doank yang bengong bingung mau ngapain. Saya coba tanya2 ke petugas bandara. Tapi jawabannya:

“La English. La English” ternyata hampir semua petugas tidak bisa berbahasa Inggris.

Saya coba datangi supir taksi yang mangkal di sekitar bandara.

“Where is bus station to Madinah?” tanya saya baik-baik.

“Madinah? 200 riyal” kata dia sampai menggunakan bahasa Inggris ala kadarnya ditambah body language bahasa tarzan.

“No, I want to go to city. Bus terminal. Not madinah!” kata saya berusaha menjelaskan.

Tapi tetep aja. Keterbatasan bahasa komunikasi dimana saya ga bisa bahasa arab dan dia ga ngerti bahasa inggris membuat pembicaraan kami seperti orang bisu lagi ngobrol ama orang tuli. Ga nyambung hahaha.

Saya coba berpindah tempat, berganti supir taksi. Tapi hasilnya sama aja. Saya ga bisa menjelaskan kalo saya mau naik taksi mereka ke terminal bus di kota, untuk ke Madinah. Semua minta hal yang sama: Madinah 150-200 riyal.

Setelah capek muter2, akhirnya saya ngaso dulu. Sambi berdoa dan memikirkan plan B, harus membayar 150 riyal (sekitar 600rb) untuk taksi ke Madinah.

Sambil duduk saya berdoa. Ya Allah, sudah jauh-jauh kesini masa ga bisa ke Madinah. Tolong bantuin donk. Kan mahal banget kalau belum-belum ngeluarin duit 150-200 riyal atau sekitar 600-700rb. Saya berdoa sekhusuk2-nya. Kata orang sholeh, doanya orang kesusahan itu lebih didengar Tuhan. Kebetulan saya orang susah. Susah kurus lebih tepatnya.

Ibrahim

Yo wes lah, yang penting sudah berdoa. Waktunya berusaha. Saya coba datangi lagi. Ada taksi yang lagi cari-cari penumpang. Dan saya baru ingat, di hape kan ada Tourist Language! Itu loh, applikasi android yang bisa diunduh gratis berisi percakapan sehari-hari dari berbagai bahasa seluruh dunia.

Lewat aplikasi ini ada bantuan bahasa bagi turis yang ingin bertanya hal-hal sederhana. Mulai dari berapa harga barang, sampai lokasi hotel. Dan disitu juga ada pertanyaan mengenai transportasi. Bus! Yah itu dia.

Nah kebetulan juga ada supir taksi yang jemput bola menawarkan tumpangan.

“Where is the bus station?” kata saya.

“Bus?” kata dia.

Langsung saya sodorkan hape dan saya putarkan audio translation dalam bahasa arab (aplikasi ini ada fasilitas speech dalam bahasa asing). Eh tiba-tiba ni orang langsung semangat.

“Hello brother..”. Tak lupa nyerocos dalam bahasa arab. Rupanya dia kira kalo suara aplikasi adalah suara telpon sodara saya. Dia pikir sedang ngobrol ama orang beneran! Hahahaha langsung saya ngakak ga ketahan.

“Hello brother.. Hello brother…” dia mulai panik dan mengembalikan hape saya karena mengira perbicaraan telpon sudah terputus. Saya masih ketawa-ketawa aja. Ga tahu mau njelasinnya dalam bahasa arab.

Ha-fila. Nah itu dia bahasa arabnya bus. “Where is the ha-fila?” kata saya lagi.

“No.. me taksi” kata dia menjelaskan kalau dia supir taksi. Sebenarnya saya juga tahu kalo dia driver taksi dan bukan penjual bakso atau artis film porno. Tapi alhamdulilah abang taksi ini berinisiatif mencari seorang pekerja orang Indonesia! Alhamdulilah akhirnya ga perlu bicara bahasa tarzan terus!

Bertemulah saya dengan Aa’ Zainal. Orang Tasik yang udah 3 tahun kerja di airport. Setelah saya cerita kalau ada makhluk ganteng yang baru landing dari Indonesia dan butuh tumpangan ke Madinah, dia segera memerika passport saya.

“Coba kasih ke orang disebelah sana. Bilang kalo mau ke Madinah” kata bujang yang hanya pulang setahun sekali ini.

Dia menunjuk sekawanan orang berbadan besar, berkulit gelap, dengan gamis putih yang sedang duduk di mobil listrik mirip caddie car. Busyet, masa baru datang udah ketemu asykar. Tapi karena ga ada pilihan lain dan orang yang berniat melakukan pelecehan seksual kepada saya pasti berpikir dua kali, akhirnya saya berani.

Saya datang, menunjukkan paspor dan meminta tolong untuk tumpangan ke Madinah. Ternyata mereka bukan asykar. Tapi semacam agen bus. Mengatur kedatangan dan jadwal keberangkatan bus penjemput jamaah. Setelah di cek sebentar, laki-laki yang mengenakan kemeja berdiri, lalu berteriak:

“IIBBRAAHIIMMMMM!!!!” woww suaranya uda kaya macan yang mengaum membelah keramaian bandara. Ibarat film Kungfu, dia baru saja mengeluarkan jurus “Auman Singa pemecah gendang telinga”.

Tak berapa lama datanglah seorang Om-om dari Indonesia, mengenakan rompi, dan berbadan subur. Setelah tahu duduk permasalahannya, dan mengecek paspor saya, dia menoleh sebentar:

“Nanti ikut saya”. Alhamdulilah…

Jika Tuhan pernah membantu nabi Musa dengan membelah lautan. Hari itu Tuhan membantu saya dengan memberikan tumpangan.

Peta jeddah ke Madinah
Peta jeddah ke Madinah
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ka’bah Dekat Rumah (5): Imigrasi Paling Sakti

Setelah mendapat visa, baru sadar: tinggal 2 hari dan saya belum nyiapin apa2!

Baju belum di packing, ihram belum nyari, duit riyal belum dapat, disana tinggal dimana juga ga tahu! Ini disebabkan saya sempat meng-cancel salah satu bookingan hotel di mekah. Karena based on info dari Om, hotel yang saya booking jauh dari masjidil haram. Memang waktu saya book harganya lumayan miring, bintang 4 dengan harga 500rb an/malam.

Dari Jeddah ke Madinah naik apa? Ga tau. Ntar nginep dimana? Ga tau. Emang bisa bahasa arab? Ga tau. Bisanya Cuma al-fatihah ama amin. Jadi boleh dibilang, saya bonbis aja. Bondo bismillah. Yang penting bukan bonbin. Kebon binatang.

Hari sabtu saya ambil visa sekalian ke money changer. Sengaja ga bawa duit banyak. Ya karena emang duit saya ga banyak hehehe. Yang penting cukup buat makan dan transportasi. Akomodasi? Pintu masjid masih menanti hihi. Pengalaman backpacking dan cita-cita menjadi james bon (jaga mesjid dan kebon) membuat saya bisa tidur dimana saja, kapan saja, dan dengan siapa saja (dengan gaya apa aja?).

Urusan baju ihram saya dapat dari Om yang nolongin ngurus visa. Masih ada logo bank didalamnya. Buku panduan haji dapat sumbangan dari temen kantor (makasih Mbak Satyo!). Translator arab dapat dari mbah google setelah diberitahu temen (tq cuk Wana).

Ke terminal rawamangun dianter kakak. Ga pake tuh rombongan sekampung. Ga pake selametan. Ga ada sholawatan. Ga pake ngundang tetangga se-RT. Berangkat ya berangkat aja. Pokoknya saya Cuma bawa satu ransel backpack, dan satu ransel kecil wadah paspor.

Di terminal 3 saya ketemu rombongan dari tasik. Sekitar 20 orang. Umroh juga. Alhamdulilah ada temennya. Jadi rame. Mereka sengaja naik AirAsia untuk menekan biaya tiket. Satu orang cukup bayar 17 juta. Beda misalnya kalo naik full service carrier. Biaya umroh bisa membengkak.

Penerbangan saya ke Kuala Lumpur (KL) dulu. Sampai KL agak malam. Masih mendarat di KLCC. Sekarang AirAsia pindah ke klia2. Lebih baru dan megah katanya. Belum sempat kesana. Setelah menunggu sekitar 3 jam yang saya isi sambil tidur2 ayam dan cari makan, pesawat Airbus 330 yang membawa ke Jeddah akhirnya tiba.

Latihan Kesabaran

Di pesawat saya bersebelahan dengan ibu dari Malaysia. Dia kaget saat tahu kalo saya solo backpacker. Langsung deh dikasi wejangan tips and trick selama disana. Tak cukup disitu, eh saya malah dikasi duit! Katanya setelah saya cerita, dia jadi inget ama anaknya. Meski muka saya mungkin mirip ama supirnya hehehe.

Penerbangan berlangsung smooth. Setelah menempuh 8 jam penerbangan kami landing sekitar jam 7 pagi di terminal haji. Kalo negara lain kan biasanya lagsung cepat-cepat ke imigrasi. Saya coba berinisiatif turun. Baru nyampe bawah langsung disuruh balik ama petugas. Katanya belum waktunya.

“Go back! Go back!” kata yang jaga.

Akhirnya saya kembali keatas. Menunggu bareng jamaah umroh yang lain. Sambil menunggu ada yang membeli sim card, ada yang kekamar mandi, ada yang tiduran sampai tidur beneran. Berjam-jam kami harus menunggu. Sampai akhirnya ada pengumuman bahwa kami boleh turun. Penantian belum berakhir sodara2. Petugas imigrasi yang mirip Ridho Roma sudah menanti. Saya kaget. Koq bisa ya orang arab wajahnya ke-Ridho roma2-an?

Berdasarkan bayangan saya, antri imigrasi sangatlah sederhana. Seperti pengalaman negara lain yang pernah saya kunjungi. Kita mengantri, petugas imigrasi akan memerika paspor, melakukan scanning sidik jari, foto, lalu men-cap paspor disertai senyuman: “Welcome to Saudi Arabia..”.

Tapi realita tidak seindah real madrid. Kami harus ngantri lamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa sekaliiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii. Saya sampai mikir, Ini ngantri imigrasi apa antri mau di hisab sih? Lama banget. Saya ga bisa bayangin waktu musim haji. Pasti suasana kaya di padang ma’syar. Orang2 campur baur dari segala penjuru dunia. Apakah prosesnya selama ini?

Imigrasi Sakti

Setelah saya selidiki, proses lama ini terjadi karena sistem kerja petugas imigrasi itu sendiri. Prosesnya gini:

Pertama, dia akan cek tuh orang punya hape. Ada pesan whatssapp atau nggak. Kedua, Anda akan dilirik sebentar. Ketiga, balik lagi lihat hape, mungkin ada notifikasi facebook. Keempat, paspor Anda akan dilihat, diraba, dan diterawang. Untung bukan diputer, dijilat, dicelupin.

Kelima, terus ya balik lagi ke hp dia. Satu menit. Ada balasan whatsapp. Dia ketik2 bentar. Ada balesan lagi. 3 menit berlalu dan dia ketawa2. Balas lagi. Hening. Sudah 5 menit. Yang diajak whatsapp belum bales. Dia akhirnya noleh lagi ke komputer.

Baru mau input data, eh bangke ada balesan whatsapp lagi. Lupa ama komputer. Ga inget ama paspor. Kembali lagi ke step pertama. Begitu terus hingga dia mulai bosan dan agak sadar kalau ada manusia yang menempuh 8 jam penerbangan dan butuh satu stempel simpel. Tinggal ngecap doank apa susahnya ya akhi?.

Ritual ini berlangsung belasan hingga puluhan menit tergantung amal perbuatan Anda selama di dunia. Kalo mau ngantri saran saya bawa kaki palsu buat cadangan kalo pegel ya hehehe. Bagi saya pribadi, ini adalah imigrasi paling sakti yang pernah saya kunjungi. Petugas yang biasanya dipaksa ramah dan penuh senyum, disini dibebaskan berbuat sekehendak hati.

Setelah 5 jam menunggu, iya 5 jam! LIMA JAM! el-i-em-a je-a-em (landing sebelum jam 7, baru bisa keluar imigrasi pas dhuhur), akhirnya saya bisa merasakan sengatan matahari Saudi. Ternyata beda ya ama matahari di Indonesia. Di Saudi matahari-nya panas. Sedangkan matahari di Indonesia kan ber-AC dan sering ngasih diskon 70% kalau akhir tahun. Gara-gara kepanasan jadi nulis guyonan garing gini.

Suasana antrian imigrasi. Ga terlalu rame tapi lama sekali

Nah, permasalahan hidup baru dimulai sodara-sodara. Bagaimana cara pergi ke Madinah?

Minggu depan insya Allah akan saya ceritakan bagaimana bisa saya dapat transportasi nyaman ke Madinah, 6 jam perjalanan, disertai wisata jalan-jalan, dengan harga: gratis!.

Karena selalu ada jalan dari Tuhan, bagi mereka yang ingin berkunjung ke rumah Tuhan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail