Monthly Archives: February 2015

Rahib yang Menjual Ferrari

edisi bhs indo

Saya membaca The Monk Who Sold His Ferrari secara tidak sengaja. Ketika itu saya sedang sholat di praying room bandara Changi Singapura. Salah satu bandara terbaik dunia ini memang tidak memiliki musholla yang dedicated, tapi mereka menyediakan ruang doa bersama untuk semua penganut agama.

Saya berjamaah dengan bapak-bapak orang Melayu. Dia tanya saya dari mana. Pingin jawab “dari tadi” takutnya ga nyambung. Setelah ngobrol basa yang gak basi, saya akhirnya tahu jika dia bekerja di salah satu toko buku di dalam bandara.

Mainlah kesana, ajaknya. Karena flight saya masih satu jam lagi, saya mengiyakan tawarannya. Lagipula, buku adalah teman terbaik saat menunggu.

Novel Motivasi

Setelah sampai di toko, dia mempersilahkan saya melihat-lihat. Bagi saya, ini adalah kesempatan membaca gratis. Dari berbagai koleksi buku bahasa asing yang ada, saya tertarik pada sebuah buku dengan judul yang unik: The Monk Who Sold His Ferrari. Setelah saya balik ke Indonesia, ternyata edisi terjemahan-nya sudah dicetak sejak September 2014 lalu.

Buku cerita inspirasi ini berkisah tentang seorang pengacara kondang Julian Mantle. Hidupnya sangat sukses, baik dalam karier, ataupun berkeluarga. Punya rumah mewah, dan tentu saja: Ferrari Merah.

Tapi tentu semua yang ada di dunia, hanya sementara. Suatu hari, ada kabar duka. Putrinya kesayangannya meninggal karena kecelakaan. Julian yang sebelumnya sangat sibuk dan tidak punya banyak waktu bersama keluarga, menjadi merasa bersalah. Dia merasa depresi. Kemudian mencoba menghibur diri lewat minuman keras dan tak butuh waktu lama untuk menghancurkan tubuhnya sendiri: dia terkena serangan jantung ketika sidang.

Disaat keadaan semakin buruk, dia memutuskan untuk pensiun dari dunia hukum, menjual semua asset (termasuk Ferrari kesayangannya) dan pergi ke India untuk hidup yang lebih baik. Ketika dia kembali, dia justru terlihat 10 tahun lebih muda, badan ramping, muka bercahaya, dan menjadi bijaksana. Apa rahasianya?

Cerita Rahasia dari Kaum Bijak Sivana

Dia membagi rahasia hidup bahagianya kepada John, kawan firma hukumnya. Sebuah rahasia yang konon diperoleh dari kaum pertapa Himalaya.

Rahasia yang ada dalam sebuah cerita sederhana:

Kau sedang duduk di tengah taman yang sangat Continue reading Rahib yang Menjual Ferrari

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Pak Presiden dan Situational Leadership

Hari Jum’at lalu saya iseng-iseng mengikuti leadership training yang diadakan oleh kantor regional. Dari undangan yang di blast ke ribuan orang, hanya dua orang Indonesia yang bersedia hadir. Diantara berbagai materi yang dibagi, ada satu konsep klasik yang menurut saya masih sangat berguna di zaman modern: situational leadership.

Makhluk apaan itu?

Situational leadership adalah konsep yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard pada tahun 69 (jangan memikirkan gaya 69). Tentang bagaimana mengambil keputusan sebagai leader berdasarkan 4 situasi: telling, selling, participating, dan delegating. Berikut penjelasan singkatnya:

Telling: Anda memberikan instruksi langsung. Perintah yang jelas tentang step to do. Tanpa perlu mendengarkan pendapat mereka.

Selling: Anda menjual ide dan menjelaskan sesuatu kepada staff Anda. Meyakinkan mereka akan keputusan Anda.

Participating: Anda meminta pendapat team Anda. Ada sharing of power disini.

Delegating: Anda berada di luar dan hanya mengawasi. Semua Anda serahkan kepada bawahan Anda.

Kapan harus menjadi seorang teller, seller, coordinator, delegator, atau malah vibrator???

Tergantung Sikondom

Coba lihat diagram dibawah ini:

managewell.net
managewell.net

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi situational leadership. Namanya juga situational. Semua tergantung sikondom: situasi, kondisi, dan dominasi. Semua bisa berubah. Tapi setidaknya kita bisa melihat dari task dan relationship category, readiness, dan juga directive level-nya. Aduh koq gaya banget lu cuk pake bahasa Inggris mulu?

Seperti diagram diatas. Untuk project yang sifatnya berfocus pada tugas dan tidak memikirkan relationship, maka gaya telling lebih tepat. Contohnya: saat ada kondisi yang membutuhkan keputusan mendesak, atau saat anggota team masih baru dan belum tahu apa-apa. Disini Anda diperbolehkan menjadi diktator.

Selling lebih digunakan untuk memberikan keyakinan kepada anggota team. Mempersuasi mereka tentang keputusan yang Anda ambil. Contohnya: saat Anda memberikan new role kepada staff Anda, terkadang ada resistensi. Tugas Anda sebagai leader adalah “menjual” ide tentang role baru itu dan membuatnya setuju untuk mengambil peran tersebut.

Sedangkan participating biasanya diambil saat Anda merasa directional level bisa dikurangi, dan dimungkinkan adanya sharing of power. Disini Anda akan meminta masukan dari staff. Tugas Anda hanya mengawasi dan memberikan guidence secara garis besar. Sangat cocok jika Anda memimpin departemen yang diisi “orang-orang lama”. Mereka biasanya sangat ingin didengar dan berperan dalam pengambilan keputusan.

Last but not least, delegating bisa kita gunakan untuk staff grade A. Para stars performer. Mereka yang sangat Anda percayai dan tidak membutuhkan pengawasan detail. Saat menerapkan delegating, Anda memberikan 100% authority kepada staff untuk mengambil keputusan.

Nah setelah tahu teorinya, bayangkan Anda adalah seorang pemimpin pabrik yang lagi nge-tren: batu bacan. Semua berjalan smooth dan perfect. Sampai pada suatu pagi, negara api mulai menyerang. Halah garing banget.

Suatu pagi ada dua staff Anda yang melakukan kesalahan fatal. Untung hanya dua. Kalau tiga nanti jadi salah tiga dan berubah menjadi nama kota di Jawa Tengah. Satu lagi jokes yang tidak kreatif bung.

Nah, staff Anda yang melakukan fatality itu:

Pegawai A, anak baru yang baru bergabung sehari.

Pegawai B, sudah bekerja 10 tahun, selama ini bekerja dengan sangat baik.

Apa yang harus Anda lakukan? Pendekatan apa yang harus diambil? Apakah:

  1. Memarahinya dan memberi hukuman mengepel lapangan bola
  2. Memujinya sebagai pembelajaran dan memberikan promosi kenaikan gaji dan liburan ke Maladewa
  3. Tidak melakukan apa-apa dan menganggap tidak terjadi apa-apa

Tentu Anda tidak bisa memarahi habis-habisan si anak baru dan kemudian menyuruhnya menyelesaikan masalahnya sendiri (delegating). Bisa-bisa doi akan langsung resign dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita juga tidak perlu memberikan arahan terlalu detail kepada pegawai B yang sudah mahir melakukan tugasnya selama 10 tahun dengan sempurna. Bisa-bisa respect dia kepada Anda malah turun karena berpikir Anda menganggap dirinya tidak capable. Sedikit encouragement dan less directing akan lebih efektif.

Apa Style Presiden Kita?

Sekali lagi, leadership itu seni, bukan Cuma teori. Kita bisa belajar 1000 buku tentang leadership tapi belum tentu akan menjadi great leader. Dan seni kepemimpinan berarti juga seni membuat keputusan. Tahu kapan harus memutuskan berdasarkan kebijakan personal. Kapan harus mendengarkan saran komunal. Atau bahkan ada kalanya harus mendelegasikan pengambilan keputusan ke level struktural.

Intinya, pemimpin harus bisa memutuskan.

Bagaimana dengan presiden baru kita? Saya tidak mau banyak berkomentar. Tapi kasus pengangkatan kapolri menunjukkan:

Anda bukanlah pemimpin jika tidak bisa mengambil keputusan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail