Monthly Archives: April 2015

How to Write

7 September, 1982

If everybody in our company took an exam in writing, the highest marks would go to the 14 directors..

The better you write, the higher you go in Ogilvy & Mather. People who think well, write well.

Woolly minded people write woolly memos, woolly letters and woolly speeches.

Good writing is not a natural gift. You have to learn to write well. Here are 10 hints:

  1. Read the Roman-Raphaelson book on writing (Writing That Works, Harper & Row, 1981). Read it three times.
  2. Write the way you talk. Naturally.
  3. Use short words, short sentences and short paragraphs.
  4. Never use jargon words like reconceptualize, demassification, attitudinally, judgementally. They are hallmarks of a pretentious ass.
  5. Never write more than two pages on any subject.
  6. Check your quotations.
  7. Never send a letter or a memo on the day you write it. Read it aloud the next morning – and then edit it.
  8. If it is something important, get a colleague to improve it.
  9. Before you send your letter or your memo, make sure it is crystal clear what you want the recipient to do.

(point terakhir menurut saya yang paling penting)

  1. If you want ACTION, dont write. Go and tell they guy what you want.

Diambil dari The Unpublished David Ogilvy. 2012. Profile Books Ltd. London.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sedikit Resep Penciptaan Brand Community

Ditengah dunia marketing yang semakin horizontal seperti saat ini, brand community memegang peranan vital dalam penguatan brand. Peer support influence istilah kerennya. Karena konsumen zaman sekarang, berkat kecanggihan teknologi dan gajet, semakin terkoneksi dengan konsumen yang lainnya.

Revolusi digital membuat konsumen semakin mudah untuk mereview, memuji, merekomendasikan, hingga menghujat dan mencaci maki produk yang mereka gunakan. Dan ditengah bombardir iklan yang mengklaim produk yang dijual adalah “kecap nomer 1”, banyak konsumen menggunakan rekomendasi teman sebagai dasar pengambilan keputusan pembelian.

Untuk itulah brand community berperan penting. Coba bayangkan konsumen brand-brand besar semacam Apple, Harley Davidson, Linux, hingga klub bola macam Manchester United dan AC Milan. Mereka memiliki brand community yang otomatis menghasilkan evangelist. Kaum loyalist yang akan memperjuangkan brand hingga titik darah penghabisan. Berani menghina Harley didepan anak moge yang sedang touring? Anda harus siap-siap dicium. Dicium sama aspal jalanan.

Asyik kan kalo kita bisa punya brand community sendiri. Brand kita ada yang ngebelain, ada yang ngejagain, dan yang paling asyik: mereka rela mempromosikan secara gratis. Brand community ini ada yang lahir dengan sendiri, tanpa campur tangan marketer, tapi juga bisa hasil settingan pemasar.

Bagaimana cara membuatnya? Continue reading Sedikit Resep Penciptaan Brand Community

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail