Sedikit Catatan Tentang Money vs Meaning

Senin kemarin banyak teman yang mem-forward tulisan Rhenald Kasali soal Money dan Meaning. Hidup itu cari uang atau makna? Dengan penuh contoh nyata, penulis favorit saya ini menunjukkan jika orang-orang hebat bekerja bukan untuk money, tapi untuk meaning. Mereka tidak mencari harta. Tapi melakukan sesuatu yang meaningful, bermakna.

Rhenald mengutip pesan Co-Founder Apple, Guy Kawasaki kepada kaum muda:

“Kejarlah meaning. Jangan kejar karier demi uang. Sebab, kalau kalian kejar uang, kalian tidak dapat ‘meaning’, dan akhirnya tak dapat uang juga. Kalau kalian kejar ‘meaning’, maka kalian akan mendapatkan position, dan tentu saja uang.”

Tapi apakah benar seperti itu?

Apakah dengan melakukan sesuatu yang bermakna, kita akan mendapatkan semuanya?

Segitiga Landak

Saya kurang sependapat dengan Rhenald. Karena tidak selamanya hal yang meaningful, ternyata bisa menjadi sesuatu yang resourceful. Karena meaning

, seperti passion, bersifat sangat personal. Meaning bagi satu orang, akan berbeda dengan orang yang lain.

Jika saya adalah seorang pecinta puisi, dan menemukan meaning dari puisi, maka saya tak cukup hidup hanya dengan membaca puisi. Meaning, harus digeser menjadi impact. Bermakna saja tidak cukup, ia harus berguna. Saya harus bisa membaca dan menulis puisi yang bermakna bagi sesama.

Tentu yang paling ideal adalah meaning yang memberikan money.

Ketika saya berkunjung ke Laos, saya sempat mencicipi lokal restoran bernama Makphet. Apa yang unik dari tempat ini? Selain menawarkan menu lokal yang telah dimodifikasi, Makphet ternyata memiliki misi sosial didalamnya. Resto ini tergabung dalam salah satu yayasan yang memberikan pendidikan dan pelatihan bagi anak jalanan di Laos. Selain mengadakan advokasi, di dalamnya kita bisa membeli suvenir yang dibuat oleh mereka.

Salah satu kegiatan Makphet
Salah satu kegiatan Makphet

Hal ini mirip yang dilakukan oleh Blake Mycoskie. Pendiri Toms shoes. Kependekan dari Shoes for tomorrow. Ketika sedang berlibur di Argentina, dia melihat jika masih banyak anak yang tidak mampu membeli sepatu. Hatinya tergerak, terinspirasi oleh sepatu tradisional Argentina, alpargata, ia menciptakan Toms dan menerapkan konsep one for one. Setiap satu penjualan sepatu Toms, ia akan memberikan satu sepatu bagi anak yang membutuhkan.

Blake memadukan meaning, impact, dan money. Melahirkan model social-preneur. Kondisi ideal ini disebut “segitiga landak”. Perpaduan antara passion, skill, dan peluang ekonomi. Saya sudah pernah menulis tentang segitiga landak disini.

 Empat Kemungkinan

Meaning saja tidak cukup. Ia harus impactful, dan juga joyful. Sebaik-baiknya kegiatan adalah yang bermakna, sekaligus membuat kita bahagia. Sehingga ada empat kemungkinan aktivitas:

  1. Tidak berguna dan tidak membahagiakan > Garbage.
  2. Membahagian tapi tidak impactful > Masturbation. Contohnya: narkoba
  3. Impactful tapi tidak joyful > Sacrifice. Biasanya terjadi pada fase awal pengorbanan untuk sesama. semakin lama kita akan semakin bahagia
  4. Impactful dan joyful > Actualization. Inilah saat meaning, impact, dan happiness bersatu menjadi kenikmatan aktualisasi diri.
Pilih yang mana?
Pilih yang mana?

Entah kenapa, pesan Rabindranath Tagore selalu terngiang di kepala:

“Saya tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kebahagiaan. Saya terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan. Saya melakukan, dan percayalah, pelayanan adalah kebahagiaan”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *