Monthly Archives: June 2015

Chichikov

“Tuan menginginkan orang-orang yang sudah mati?” tanya Sobakevich heran.

“Ya… yang sudah tidak ada” jawab tamu dihadapannya menegaskan.

Bagaimana mungkin, seseorang ingin membeli petani-petaninya, yang sudah mati? Sobakevich si tuan tanah kembali bertanya. Tapi sang pembeli, sangat serius dengan tawarannya. Akhirnya mereka sepakat di harga dua setengah rubel. Untuk membeli petani yang sudah tak ada lagi. Transaksi jual beli atas jiwa-jiwa mati.

Pembeli itu, Chichikov, adalah pejabat licik yang bersembunyi dalam topeng kesopanan aristokrat. Pakaiannya selalu rapi, tubuhnya terbungkus jas dari satin atau beludru. Memiliki kereta dengan kuda yang sehat. Berkeliling Rusia untuk mencari tuan tanah, dan menawarkan transaksi konyol: Chichikov akan membeli petani mereka yang sudah tiada.

Korupsi

Chichikov adalah tokoh dalam Dead Souls karya Nikolai Gogol. Sastrawan besar Rusia yang mengkritik bobroknya birokrasi dalam karya sastra indah yang penuh nuansa satir. Chichikov digambarkan sebagai birokrat tulen: pandai menjilat atasan, bermuka manis, tapi sebenarnya akan melakukan apapun untuk keuntungan pribadinya.

Ilustrasi from Russia-antique.com
Ilustrasi from Russia-antique.com

Ia pernah menjadi petugas bea cukai. Menolak segala macam suap kecil hanya agar bisa dipromosikan ke kantor pusat sehingga ia bisa melakukan korupsi yang lebih besar: penyelundupan terselubung. Ketika kejahatannya mulai terendus, ia melarikan diri dan berpikir untuk melakukan bisnis “jiwa-jiwa mati”.

Diceritakan Rusia pada saat itu akan mengadakan sensus penduduk setiap beberapa tahun. Sayangnya data penduduk seringkali tidak update. Banyak penduduk yang tercatat meskipun pada kenyataannya mereka sudah mati. Pada umumnya petani penggarap ladang. Chichikov melihat peluang.

Rencana Chichikov sederhana: ia akan membeli petani mati (disensus tercatat masih hidup), mengurus akte pembelian sehingga ia secara resmi “tercatat memiliki petani”, untuk kemudian menjadikan akte kepemilikan petani itu sebagai jaminan untuk mendapatkan pinjaman.

Chichikov sudah dibutakan oleh harta. Yang ia tahu, bagaimana mendapatkan rubel dengan cara mudah. Meskipun harta itu didapat dari hasil korupsi, menjilat, atau menipu, bukanlah soal. Ia mungkin tidak tahu firman Tuhan:

“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik..” Al-Baqarah 168.

Kostanjoglo

Ketika aparat hukum mulai mencurigai transaksi aneh ini, Chichikov melarikan diri. Ia sempat singgah di sebuah desa dan bertemu tuan tanah kaya yang rajin bekerja.

“Kalau Tuan ingin cepat kaya.. Tuan tak akan pernah kaya. Tapi, kalau Tuan ingin menjadi kaya tanpa memikirkan berapa lama Tuan membutuhkan waktu, Tuan akan menjadi kaya dengan cepat. Orang harus mencintai pekerjannya. Tanpa itu Tuan tak dapat melakukan sesatu.” Konstanjoglo menjawab pertanyaan Chichikov tentang cara cepat menjadi kaya.

Chichikov tercengang mendengar petuahnya. Dan beralasan jika ia tidak terlahir dari golongan kaya. Tapi Konstanjoglo menentang pendapat itu.

“Orang yang dilahirkan dengan beberapa ribu dan dibesarkan dengan beberapa ribu tak akan pernah mencetak uang, karena ia telah mengembangkan segala macam kebiasaan mahal dan segala macam hal yang lain.

Orang harus mulai dari permulaan dan bukan dari tengah, dari satu kopek, dan bukan dari satu rubel. Dari bawah dan bukan dari atas. Barulah orang akan mendapat pengetahuan yang menyeluruh mengenai hidup dan juga orang-orang, yang kemudian hari akan berurusan dengannya.

Kalau Tuan telah mengalami semua itu dan telah mengerti bahwa setiap uang tembaga harus dijaga baik-baik sebelum Tuan dapat melipatkannya menjadi tiga, dan apabila Tuan telah melewati segala macam cobaan dan bencana Tuan akan menjadi demikian terlatih dalam berbagai cara dunia, hingga Tuan tak akan pernah membuat kesalahan dan tak akan pernah bersedih dalam usaha apa pun.”

Di akhir novel, Chichikov harus merasakan akibat perbuatannya. Ia dijebloskan kepenjara. Tapi Chichikov beruntung. Pangeran bersedia mengampuninya setelah dibujuk oleh Murazov, pembela hukumnya. Chichikov pun hanya dihukum ringan: hartanya disita dan ia diminta pergi meninggalkan kota.

Saat diperjalanan, Chichikov terus mengingat pesan dari Murazov.

“Tuan tak punya kecintaan akan kebaikan, paksalah diri Tuan melakukan kebaikan tanpa suatu kecintaan kepadanya… Paksalah diri Tuan beberapa kali… nanti Tuan akan belajar mencintainya”.

Ia pun memulai hidup baru. Dari awal, tanpa memiliki apa-apa. Chichikov yang dulunya pejabat kalangan atas, sekarang harus menjadi rakyat kelas bawah.

Tapi bukankah itulah hukumnya? Orang harus mulai dari bawah, dan bukan dari atas.

 

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Dua Burung

Netizen dihebohkan dengan Kakek Winnie The Pooh didaerah Sidoarjo (dekat rumah ortu saya!). Si Kakek dengan tampang memelas dan mengaku terkena stroke, ditemukan berkeliaran di jalan dan kemudian dilaporkan ke radio setempat. Simpati berdatangan. Aparat bergerak cepat. Kakek langsung “diselamatkan” dan dibawa ke shelter penampungan.

sumber: Merdeka.com

Simpati berubah menjadi caci maki setelah kemudian terpapar fakta mencengangkan. Si kakek ternyata punya rumah layak, sepeda motor belasan juta, dan pernah menikah 7 kali! (saya aja kalah T_T). Bahkan saat diamankan, ia kedapatan memegang uang ratusan ribu rupiah. Nilai yang takkan terduga jika melihat penampilannya.

Si Kakek berusaha mengoptimalkan bentuk fisiknya untuk menghasilkan pundi-pundi materi. Dan yang lebih parah: sepertinya pihak keluarga tahu. Bahkan seolah-olah menjadi “peminta professional” yang takkan pulang sebelum membawa pulang ratusan ribu rupiah.

Mental “peminta” bukanlah hal yang salah. Karena kita bukanlah makhluk serba bisa. Asal kita tahu, meminta kepada siapa. Kepada manusia? Kepada jin penguasa laut selatan? Meminta berkah kepada leluhur dan lelembut? Atau pemilik dari segala alam?

“Berdoalah (mintalah) kepadaKu, niscaya Aku kabulkan untukmu” janji Tuhan dalam Al-Mukmin ayat 60.

Sedangkan untuk urusan dengan manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan: menjadi peminta atau pemberi. Seperti cerita yang saya cuplik dari ON karya Jamil Azzaini.

Pilihan

Seorang sufi pernah bercerita bahwa sahabatnya yang bernama Al-Balkhi pada suatu hari berpamitan hendak berdagang ke suatu negeri untuk mencari rezeki dari Allah. Sebelum berangkat, ia berpamitan dengan sahabat karibnya, Ibrahim ibn Adham. Ia menyampaikan kepada Ibrahim bahwa ia ingin pergi dalam jangka waktu yang lama. Ternyata beberapa hari kemudian ia sudah kembali. Ketika Ibrahim berjumpa Al-Balkhi, ia bertanya:

“Apa gerangan yang membuat engkau cepat pulang?”

Mendengar pernyataan itu, Al-Balkhi menceritakan, “Dalam perjalanan aku singgah di suatu tempat yang teduh untuk beristirahat. Tiba- tiba terlihat di hadapanku seekor burung yang pincang dan buta. Aku merasa heran sambil berkata di dalam hati ‘Bagaimana burung ini bisa hidup ditempat semacam ini, padahal ia tidak bisa melihat dan tidak bisa berjalan?’

Sejenak kemudian, seekor burung lain datang membawa makanan menghampiri burung yang cacat itu. Lalu makanan itu diberikan. Ternyata burung yang membawa makanan itu berulang- ulang datang sehingga burung yang pincang dan buta itu merasa puas dan kenyang. Timbullah angan-angan dalam pikiranku:

‘Sesungguhnya Sang Pemberi rezeki terhadap burung yang pincang dan buta ini tentu berkuasa memberi rezeki ini padaku.’ Akhirnya, pada saat itu juga aku memutuskan tidak perlu berdagang, lalu kembali pulang lagi ke kampungku.”

Setelah mendengar kisah sahabatnya itu, Ibrahim ibn Adham berkata padanya,

“Mengapa kamu lebih senang memilih menjadi burung yang pincang dan buta, yang hidupnya ditanggung oleh burung lain? Dan mengapa kamu tidak memilih untuk menjadi burung yang sanggup hidup sendiri, sehingga bisa menolong kawannya yang pincang dan buta itu? Apakah kamu tidak tahu bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?”

Lalu Al-Balkhi bangkit mendekati Ibrahim sambil berkata padanya:

“Sungguh Anda telah menjadi mahaguru saya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Niat

Tree-of-light-Tang-Yau-Hoong
Tree-of-light-Tang-Yau-Hoong

Manakah yang lebih baik, berniat baik dengan hasil buruk atau berniat buruk dengan hasil baik?

Dalam cerita pendek Kuntowijoyo, Sepotong Kayu Untuk Tuhan, diceritakan seorang kakek yang ingin menyumbangkan sebatang kayu untuk pembangunan surau. Sebuah pohon nangka yang ditanam dengan tangannya, dibesarkan dengan tangannya, dan ditebang dengan tangannya! Ia akan membuktikan dengan benda yang nyata, sekali dalam hidupnya dapat juga ia menyumbang untuk Tuhan.

“Berbaktilah kamu dijalan Tuhan dengan harta dan jiwamu!”

Agar tidak ada seorang pun yang tahu, ia ingin mengirimkan kayu itu secara diam-diam. Kakek yang baik. Ia ingin belajar ikhlas, dan takut akan riya’. Ia ingin sekali menebang kayu nangka itu dengan tangannya sendiri. Tapi apa daya, ia malah jatuh pingsan karena kelelahan.

Akhirnya ia menghubungi seorang penebang. Si Kakek akan menggunakan dahan-dahan pohon nangka sebagai bayaran. Penebang itu tahu maksud lelaki tua dan menolak untuk menerima upah, tetapi lelaki tua itu menerangkan: amal itu terletak dalam niat.

Niat yang baik, seharusnya menghasilkan sesuatu yang baik. Tapi di zaman modern ini, niat baik saja tidak cukup. Ada seorang direktur yang niatnya memotong rantai birokrasi, malah dijadikan tersangka korupsi. Ada orang yang niatnya menolong, malah ditodong. Ada yang niatnya membantu, malah kena tipu.

Ibu saya sering berpesan:

Niat baik saja belum tentu hasilnya baik, apalagi niatnya tidak baik?

Selain niat baik, kita juga harus bersabar dan percaya. Bersabar karena niat baik kita bisa disalah artikan, dan percaya jika sekecil-kecilnya kebaikan, akan menghasilkan kebaikan.

“Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji sawi, niscaya dia akan mendapat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat biji sawi, niscaya dia akan mendapat balasannya” [Al Zalzalah 7-8]

Kakek tua dan penebang lalu menyeret kayu nangka ke tepi sungai. Besok pagi-pagi buta akan mereka membawa kayu dengan gerobak ke tempat pembangunan surau. Niat mereka sederhana: memberi sesuatu, tanpa perlu memberi tahu. Biarlah para pembangun surau terheran-heran melihat kayu besar berwarna kuning sudah berada diantara mereka. Kayu kiriman Tuhan. Kayu yang berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Jika sang kakek menyumbangkan kayu untuk Tuhan, maka di bulan suci ramadhan kita bisa “menyumbangkan puasa” untuk Sang Pencipta. Puasa yang bergantung niatnya. Yang berniat puasa untuk ikut-ikutan, hanya akan mendapatkan gagah-gagahan. Yang berpuasa demi diet, akan mendapatkan badan yang lebih kurus. Mereka yang berpuasa untuk sesuatu yang fana, hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga.

Sayangnya ketika pagi-pagi buta kakek dan penebang datang ke sungai, mereka heran. Kayu itu tak tampak.

“Mana kayu itu, Pak Penebang?”.

“Mana kayu itu, Kakek?”.

Keduanya berpandangan. Terdiam. Rupanya terjadi banjir semalam. Kayu itu pasti ikut hanyut. Tapi saya percaya niat sang kakek tak akan bisa hanyut. Karena amal terletak dalam niat. Dan manusia akan mendapatkan apa yang mereka niatkan. Termasuk puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan.

Lelaki tua berdiri. Penebang berdiri. Sesuatu telah hilang.

“Tidak, tak ada yang hilang” kata lelaki tua itu. Pak Penebang mendorong kembali gerobak.

“Kakek, kita pulang”. Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Tersenyum. Bertanya:

Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Selling to Z

Z.

Gen Z

Generasi milenia

Generasi digital

Generasi serba cepat

 

Perhatian mereka terbatas

Ingin diakui

Merasa eksis

Narsis abis

 

Gen Z generasi informasi

Merasa sudah tahu

Berbekal google.com

Paling anti diceramahi

 

Gen Z membenci tulisan bertele-tele

Semua harus bergambar

Bersuara

Bergerak

 

Singkat

Padat

Jelas

 

Harus fun

Lupakan hal serius

Harus lucu

Atau menyentuh kalbu

 

Menjual kepada gen Z

Akan susah jika kita masih berkata:

Brand! Brand! Brand!

Karena mereka ingin mendengar:

Saya! Saya! Saya!

 

Kuncinya:

Engagement

Encouragement

Empowerement

 

Brand dan konsumen

Harus bisa menjadi suami-istri

Saling terbuka dan berdiskusi

Membicarakan apa yang terjadi

 

Brand harus melepaskan status produsen-konsumen

Karena mereka bukan lagi konsumen

Tapi seorang partner

Yang lebih tahu apa yang mereka mau

 

Brand harus mengurangi bicara

Dan memperbanyak mendengar

 

Berhenti memerintah

Tidak lagi berceramah

 

Lama-lama tulisan ini terlalu berteori.

Sepertinya saya harus menghentikan tulisan saya disini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail