Niat

Tree-of-light-Tang-Yau-Hoong
Tree-of-light-Tang-Yau-Hoong

Manakah yang lebih baik, berniat baik dengan hasil buruk atau berniat buruk dengan hasil baik?

Dalam cerita pendek Kuntowijoyo, Sepotong Kayu Untuk Tuhan, diceritakan seorang kakek yang ingin menyumbangkan sebatang kayu untuk pembangunan surau. Sebuah pohon nangka yang ditanam dengan tangannya, dibesarkan dengan tangannya, dan ditebang dengan tangannya! Ia akan membuktikan dengan benda yang nyata, sekali dalam hidupnya dapat juga ia menyumbang untuk Tuhan.

“Berbaktilah kamu dijalan Tuhan dengan harta dan jiwamu!”

Agar tidak ada seorang pun yang tahu, ia ingin mengirimkan kayu itu secara diam-diam. Kakek yang baik. Ia ingin belajar ikhlas, dan takut akan riya’. Ia ingin sekali menebang kayu nangka itu dengan tangannya sendiri. Tapi apa daya, ia malah jatuh pingsan karena kelelahan.

Akhirnya ia menghubungi seorang penebang. Si Kakek akan menggunakan dahan-dahan pohon nangka sebagai bayaran. Penebang itu tahu maksud lelaki tua dan menolak untuk menerima upah, tetapi lelaki tua itu menerangkan: amal itu terletak dalam niat.

Niat yang baik, seharusnya menghasilkan sesuatu yang baik. Tapi di zaman modern ini, niat baik saja tidak cukup. Ada seorang direktur yang niatnya memotong rantai birokrasi, malah dijadikan tersangka korupsi. Ada orang yang niatnya menolong, malah ditodong. Ada yang niatnya membantu, malah kena tipu.

Ibu saya sering berpesan:

Niat baik saja belum tentu hasilnya baik, apalagi niatnya tidak baik?

Selain niat baik, kita juga harus bersabar dan percaya. Bersabar karena niat baik kita bisa disalah artikan, dan percaya jika sekecil-kecilnya kebaikan, akan menghasilkan kebaikan.

“Dan barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat biji sawi, niscaya dia akan mendapat balasannya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat biji sawi, niscaya dia akan mendapat balasannya” [Al Zalzalah 7-8]

Kakek tua dan penebang lalu menyeret kayu nangka ke tepi sungai. Besok pagi-pagi buta akan mereka membawa kayu dengan gerobak ke tempat pembangunan surau. Niat mereka sederhana: memberi sesuatu, tanpa perlu memberi tahu. Biarlah para pembangun surau terheran-heran melihat kayu besar berwarna kuning sudah berada diantara mereka. Kayu kiriman Tuhan. Kayu yang berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan.

Jika sang kakek menyumbangkan kayu untuk Tuhan, maka di bulan suci ramadhan kita bisa “menyumbangkan puasa” untuk Sang Pencipta. Puasa yang bergantung niatnya. Yang berniat puasa untuk ikut-ikutan, hanya akan mendapatkan gagah-gagahan. Yang berpuasa demi diet, akan mendapatkan badan yang lebih kurus. Mereka yang berpuasa untuk sesuatu yang fana, hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga.

Sayangnya ketika pagi-pagi buta kakek dan penebang datang ke sungai, mereka heran. Kayu itu tak tampak.

“Mana kayu itu, Pak Penebang?”.

“Mana kayu itu, Kakek?”.

Keduanya berpandangan. Terdiam. Rupanya terjadi banjir semalam. Kayu itu pasti ikut hanyut. Tapi saya percaya niat sang kakek tak akan bisa hanyut. Karena amal terletak dalam niat. Dan manusia akan mendapatkan apa yang mereka niatkan. Termasuk puasa yang kita lakukan di bulan Ramadhan.

Lelaki tua berdiri. Penebang berdiri. Sesuatu telah hilang.

“Tidak, tak ada yang hilang” kata lelaki tua itu. Pak Penebang mendorong kembali gerobak.

“Kakek, kita pulang”. Lelaki tua itu berdiri sejenak lagi. Tersenyum. Bertanya:

Sampai kepadaMukah, Tuhan?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *