Dua Burung

Netizen dihebohkan dengan Kakek Winnie The Pooh didaerah Sidoarjo (dekat rumah ortu saya!). Si Kakek dengan tampang memelas dan mengaku terkena stroke, ditemukan berkeliaran di jalan dan kemudian dilaporkan ke radio setempat. Simpati berdatangan. Aparat bergerak cepat. Kakek langsung “diselamatkan” dan dibawa ke shelter penampungan.

sumber: Merdeka.com

Simpati berubah menjadi caci maki setelah kemudian terpapar fakta mencengangkan. Si kakek ternyata punya rumah layak, sepeda motor belasan juta, dan pernah menikah 7 kali! (saya aja kalah T_T). Bahkan saat diamankan, ia kedapatan memegang uang ratusan ribu rupiah. Nilai yang takkan terduga jika melihat penampilannya.

Si Kakek berusaha mengoptimalkan bentuk fisiknya untuk menghasilkan pundi-pundi materi. Dan yang lebih parah: sepertinya pihak keluarga tahu. Bahkan seolah-olah menjadi “peminta professional” yang takkan pulang sebelum membawa pulang ratusan ribu rupiah.

Mental “peminta” bukanlah hal yang salah. Karena kita bukanlah makhluk serba bisa. Asal kita tahu, meminta kepada siapa. Kepada manusia? Kepada jin penguasa laut selatan? Meminta berkah kepada leluhur dan lelembut? Atau pemilik dari segala alam?

“Berdoalah (mintalah) kepadaKu, niscaya Aku kabulkan untukmu” janji Tuhan dalam Al-Mukmin ayat 60.

Sedangkan untuk urusan dengan manusia, kita dihadapkan pada dua pilihan: menjadi peminta atau pemberi. Seperti cerita yang saya cuplik dari ON karya Jamil Azzaini.

Pilihan

Seorang sufi pernah bercerita bahwa sahabatnya yang bernama Al-Balkhi pada suatu hari berpamitan hendak berdagang ke suatu negeri untuk mencari rezeki dari Allah. Sebelum berangkat, ia berpamitan dengan sahabat karibnya, Ibrahim ibn Adham. Ia menyampaikan kepada Ibrahim bahwa ia ingin pergi dalam jangka waktu yang lama. Ternyata beberapa hari kemudian ia sudah kembali. Ketika Ibrahim berjumpa Al-Balkhi, ia bertanya:

“Apa gerangan yang membuat engkau cepat pulang?”

Mendengar pernyataan itu, Al-Balkhi menceritakan, “Dalam perjalanan aku singgah di suatu tempat yang teduh untuk beristirahat. Tiba- tiba terlihat di hadapanku seekor burung yang pincang dan buta. Aku merasa heran sambil berkata di dalam hati ‘Bagaimana burung ini bisa hidup ditempat semacam ini, padahal ia tidak bisa melihat dan tidak bisa berjalan?’

Sejenak kemudian, seekor burung lain datang membawa makanan menghampiri burung yang cacat itu. Lalu makanan itu diberikan. Ternyata burung yang membawa makanan itu berulang- ulang datang sehingga burung yang pincang dan buta itu merasa puas dan kenyang. Timbullah angan-angan dalam pikiranku:

‘Sesungguhnya Sang Pemberi rezeki terhadap burung yang pincang dan buta ini tentu berkuasa memberi rezeki ini padaku.’ Akhirnya, pada saat itu juga aku memutuskan tidak perlu berdagang, lalu kembali pulang lagi ke kampungku.”

Setelah mendengar kisah sahabatnya itu, Ibrahim ibn Adham berkata padanya,

“Mengapa kamu lebih senang memilih menjadi burung yang pincang dan buta, yang hidupnya ditanggung oleh burung lain? Dan mengapa kamu tidak memilih untuk menjadi burung yang sanggup hidup sendiri, sehingga bisa menolong kawannya yang pincang dan buta itu? Apakah kamu tidak tahu bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah?”

Lalu Al-Balkhi bangkit mendekati Ibrahim sambil berkata padanya:

“Sungguh Anda telah menjadi mahaguru saya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *