Kenapa Masih Banyak Wanita Pintar yang Jadi Korban Buaya Darat?

“Tolong nasihatin bahwa menggugurkan kandungan itu dosa besar… lebih baik menikahiku.. terserah setelah anak ini lahir dia mau menceraikan, tapi aku ga mau kalau disuruh gugurin kandungan… dosa besar..”

Cerita dari teman perempuannya teman perempuan saya (jangan diartikan jadi girl friend donk!) waktu zaman kuliah membuat saya tercengang. Bunga, bukan nama sebenarnya, rupanya sedang hamil, padahal belum menikah! Koq bisa kejadian?

Rupanya dia menjadi korban gombalan pacarnya, sebut saja Si Borokokok. Borokokok dan Bunga memang sudah lama berpacaran sejak zaman kuliah. Hubungan mereka sempat putus nyambung, pasang surut, dan naik turun seperti nilai tukar rupiah. Sempat dikira sudah masuk tahap merger ke arah pernikahan, eh sekarang Borokokok malah meminta bayi di kandungan Bunga untuk segera dilikuidasi.

Mungkin Borokokok ga pernah hamil, dan ga bakal ngerasain mengandung bayi di perut. Saya ngerasain perut yang mengandung lemak aja udah kepayahan. Apalagi mengandung seorang bayi mungil belahan jiwa yang kelak akan menjadi penerus masa depan dunia?

Padahal Bunga adalah wanita karier yang pintar. Lha koq bisa bego-begoin sama Borokokok?

Koq Bunga bisa begitu bodoh dan tidak belajar dari kasus-kasus “tabrak lari” sebelumnya. Kan kejadian seperti ini sudah menjadi rahasia umum. Sampai diangkat ke layar kaca macam sinetron “Pernikahan Dini” (keliatan banget umurnya) atau film “Juno”. Seharusnya dia sudah tahu donk, banyak kasus klise dimana perempuan jadi korban gombalan laki-laki buaya darat.

Pertanyaan sederhana: kenapa masih banyak waniita berpendidikan yang menjadi korban?

Pleasure Seeker

Kejadian ini kembali menegaskan premis jika pada dasarnya manusia tidak rasional. Jika teman saya rasional, seharusnya dia tidak akan menyerahkan keperawanannya kepada lelaki yang belum mempersuntingnya. Jika si Borokokok rasional, seharusnya dia berhati-hati dan menggunakan kontrasepsi sewaktu menyemprotkan benihnya (eh….).

Kita memang sangat tidak rasional. Jika manusia rasional, takkan ada perokok (karena kita tahu itu merugikan kesehatan), tak ada penderita obesitas (karena semua tahu terlalu banyak makanan berlemak bisa membunuhmu), takkan ada sampah berserakan di jalan (karena logikanya, semua tahu jika sampah menyebabkan penyakit macam banjir dan kutukan lainnya), dan tak akan ada yang mau jadi pengguna narkoba.

Tapi kenyataannya, kita tidak melakukan apa yang bermanfaat bagi kita, tapi apa yang menyenangkan bagi kita. Manusia modern pada umumnya, meminjam tagline salah satu es krim, adalah seorang “pleasure seeker”, pencari kenikmatan. Enak duluan, risiko dipikir belakangan.

Rokok itu enak, jadi kita tak peduli dengan paru-paru. Lemak itu nikmat, persetan dengan kolesterol. Membuang sampah di tong itu ribet, lebih gampang tinggal buang dimana saja. Narkoba itu asoy, jika kecanduan itu urusan belakang.

Berpikir Lebih Panjang

Daniel Kahneman, salah satu pemenang nobel pernah menulis tentang dua jenis cara berpikir. Sistem 1 dan sistem 2. Sistem 1 adalah sistem “berpikir pendek”, dimana tidak diperlukan pekerjaan mental yang berat. Terkadang kita menjalankan sistem 1 berdasarkan insting dan kebiasaan. Misalnya saat mengendarai kendaraan di jalanan sepi, membaca sekilas headline koran hari ini, memasak masakan yang sudah kita kuasai, atau menjawab pertanyaan sederhana berapa 1+1.

Sistem 2 bekerja lebih kompleks. Ia akan bekerja jika sistem 1 tidak mampu menjawab permasalahan yang ada. Seperti saat menghitung 25 x 17 tanpa kalkulator, mengingat nomer handphone, memarkirkan kendaraan di sudut sempit, mengisi SPT pajak, atau bermain sudoku.

Pada kasus Bunga teman saya, rasa cinta di sistem 1 telah mengambil alih kendali logika sehingga sistem 2 tak pernah muncul ke permukaan. Padahal untuk memunculkan sistem 2, kita hanya perlu mengajukan tiga pertanyaan sederhana. Tiga pertanyaan yang akan memaksa kita melakukan evaluasi dan mengaktifkan sistem 2.

a.       Apakah yang kita lakukan ini baik?

b.      Apakah yang kita lakukan ini benar?

c.       Apakah yang kita lakukan ini berguna?

Sayangnya nasi sudah menjadi bubur. Nafsu atas nama cinta sudah membutakan logika. Kini saya hanya bisa berdoa agar si Borokokok sadar dan mau bertanggung jawab atas perbuatannya. Semoga dengan menulis ini, para gadis yang sedang berpacaraan mau berpikir berkali-kali sebelum menyerahkan kesucian jiwanya atas nama cinta.

Untuk Bunga, semoga mampu bersabar dalam taubat. Tidak usah menggugurkan kandungannya. Karena wanita memiliki rahim, dan Tuhan itu ar-rahim. Maha pengasih. Dan kasih Tuhan tidak mengenal status orang suci atau pendosa. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga, seperti sajak Soebagio Sastrowardoyo:

Karena dosa, Kita dewasa.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *