Monthly Archives: November 2015

[Ngakak] Kompilasi Meme Perusak Bunga Amaryllis

Rusaknya kebun bunga Amaryllis  di daerah Pathuk, Gunung Kidul bukan hanya menimbulkan penyesalan (karena saya belum sempat kesana :p). Salah satu “oknum” mahasiswi yang menyebarkan foto di media social dan dengan cueknya berkata “Terserah gua donk” memaksi reaksi netizen. Puluhan meme lahir sebagai bentuk sindiran terharap mahasiswa baru itu.

initial foto
initial foto

Berikut beberapa meme yang sempat saya rangkum dari situs 1cak.com

Civil War version

captain americaShe is everywhere

everywhereVersi Larangan Ibu

ibu2

Jurassic Worldjurrassic Monaskompilasi1Sampe di Bulan Sob! mars Kompilasi Moto GPmoto GPPararel World pararrel world Adik Bayiselfie bayi Finding Neverlandselfie ketubrukPlant vs Zombie seperti zombie Ada benernya jugasholat selfieDimana-mana lagi transportasiWWE wweSo, next time hati-hati ya sebelum posting di social media 🙂

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Berkenalan dengan Scientology

Scientology? Agama apaan tuh? Aliran kepercayaan penganut science?

Awalnya saya hanya tahu jika Tom Cruise adalah penganut Scientology. Dan bukan cuma mas Tom, ada juga John Travolta dan beberapa artis macam Chick Corea atau Dave Brubeck (kalo suka Jazz pasti tahu siapa mereka).

Rasa kepo saya baru sedikit terjawab setelah menonton film dokumenter “Going Clear Scientology and The Prison of Belief”. Film tahun 2015 ini menceritakan seluk beluk Scientology yang diceritakan dengan detail dan berdasarkan pengakuan para mantan pengurusnya.

source: http://300mbfilms.org

Hubbard

Lafayette Ronald Hubbard, adalah pendiri Scientology. Cukup menarik ketika membaca riwayat hidupnya, karena awalnya dia adalah penulis cerita science fiction di majalah. Setelah perang dunia, dimana dia ikut menjadi anggota Angkatan Laut Amerika Serikat, dia kembali dan menulis “bible” dari Scientology: Dianetics.

Dianetics adalah fondasi Scientology. Berasal dari kata Dia (menembus) dan Noos (jiwa). Dianetics secara sederhana berarti “menembus jiwa”. Hubbard menjelaskan jika setiap kejadian dalam hidup akan terekam dalam otak. Dan otak manusia terdiri dari dua bagian: analytic dan reactive.

Analytic berurusan dengan logika, perhitungan, pemikiran. Sedangkan reactive bertugas untuk menyimpan hal-hal yang bersifat emosional. Manusia menggunakan dua jenis otak ini untuk membuat keputusan dan bertahan hidup. Penderitaan manusia terjadi karena kejadian-kejadian traumatis tersimpan dalam otak reactive,  seringkali tertidur dan belum tersembuhkan.

Hubbart percaya, pengalaman traumatis manusia dapat disembuhkan dengan memintanya menceritakan pengalaman itu, untuk kemudian move on dan melanjutkan hidupnya lagi. Untuk itulah Scientology memperkenalkan konsep “audit”. Dimana peserta diminta untuk memegang alat bernama “e-meter” yang diklaim bisa membaca pergerakan emosi dalam otak.

Auditor (orang yang memandu sesi auditing) akan bertanya:

“Kenapa Anda galau?”

“Kenapa Anda selalu gagal move on?”

“Apa yang paling Anda kenang dari masa lalu bersama mantan?”

Pokoknya pertanyaan-nya itu mengaduk emosi dan mem-blender perasaan. Jika ada sesuatu yang tidak beres, e-meter akan bereaksi. Titittitititittt. Auditor akan meminta Anda untuk bercerita lagi. Dan setelah itu, pufffffff. Emosi terlepaskan dan tidak ada sinyal dari e-meter.

orang sedang memegang e-meter, sumber: tonyortega.org

Setelah melakukan audit, maka Anda akan “clear”, Bersih. Terbebas dari pengalaman traumatis masa lalu, terlepas dari emosi negatif, dan Anda akan memiliki pikiran yang jernih untuk menyongsong masa depan yang cerah. Sungguh sebuah praktik yang mirip dengan konsultasi psikologis.

Menjadi Agama

Bagaimana mungkin sebuah buku self help dan metode konseling dapat menjadi agama? Inilah yang membuat saya penasaran dan sekaligus membuat saya kagum. Saya harus mengacungkan jempol kepada Hubbard yang mampu menciptakan “kepercayaan”, “ritual”, “simbol”, “institusi” dan tak kalah penting: “sistem bisnis”.

Jadi ceritanya, setelah sukses dengan Dianetics dan pelatihan auditing (dimana peserta harus membayar $500 pada tahun 1950an untuk di-audit), Hubbard mulai percaya jika dia adalah penyelamat umat manusia karena merasa bisa menyembuhkan semua penyakit psikologis yang ada. Dan kemudian, dia juga bermasalah dengan pajak. Satu-satunya jalan adalah mendirikan organisasi sosial berbasis keagamaan.

Kemudian lahirlah Scientology. Menggunakan Dianetics sebagai value (kepercayaan), Hubbard menciptakan skema audit berjenjang (ritual), mempercanggih e-meter (simbol), dan tak kalah gila: mendirikan gereja Scientology (institusi). Skema audit berjenjang berarti Anda harus membayar lebih untuk berada di level yang lebih tinggi. Dan itu juga berarti kerajaan bisnis yang tak tersentuh oleh pajak.

Seperti penjelasan Hubbard sendiri dalam Dianetics 55:

SCIENTOLOGY: is an applied religious philosophy and technology resolving problems of the spirit, Life and thought; discovered, developed and organized by L. Ron Hubbard as a result of his earlier Dianetic discoveries. Coming from the Latin, scio (knowing) and the Greek logos (study), Scientology means „knowing how to know“ or “the study of wisdom.“

Hubbard tahu jika manusia adalah makhluk yang gelisah. Ia tahu jika manusia membutuhkan solusi praktis, dan bukan hanya ceramah dogmatis. Ia mengerti jika agama takkan berarti apa-apa tanpa sebuah tindakan nyata.

Jika Anda datang ke “gereja Scientolog” maka Anda akan menemukan bangunan modern yang lebih mirip kampus. Berisi orang-orang muda, berteknologi canggih, dan materi “khotbah” disampaikan dalam bentuk audio visual. Dan coba lihat topiknya: bukan hanya berbicara sesuatu yang mengawang-awang seperti Tuhan dan hal ghaib, tapi topik-topik praktis yang bisa diterapkan sehari-hari. Seperti “bagaimana berkomunikasi lebih efektif”, “bagaimana cara menjadi bahagia”, atau “hal-hal yang harus Anda lakukan untuk kesuksesan karir”.

Hubbard me-rebranding agama sebagai sesuatu yang praktis, solutif, interaktif, dan aplikatif. Sebuah pembelajaran bagi agama-agama Ibrahim.

gereja scientology source: we.com

Note:

Link download move bisa diklik disini

Untuk mendapatkan perspektif dari sumber primer, Anda bisa membuka website resmi Scientology.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sedikit Catatan Tentang “Stupid Marketing”

Dalam sebuah wawancara kerja untuk posisi marketing manajer, ada dua kandidat yang tersisa. Yang pertama adalah seorang MBA dari sekolah bisnis ternama, dengan fokus pemasaran. Sedangkan kandidat kedua adalah lulusan SMA tapi sudah berpengalaman sebagai salesman.

Jika ada sebuah kontes penjualan yang melibatkan MBA marketing dan orang lulusan SMA, kira-kira siapa yang akan menang? Akhirnya sang penguji memberikan tugas sederhana:

“Tolong jualkan pena ini kepada saya”, sambil menyerahkan sebuah pena yang dipegangnya.

Si MBA Marketing langsung nyerocos dan secara berapi-api menjelaskan fitur dan keunggulan pena yang dijualnya. Dia mengutip angka statistik, quotes tokoh terkenal, dan dengan berbusa-busa membujuk penguji untuk membeli.

Sedangkan kontestan kedua, si lulusan SMA hanya terdiam. Dia mengamati pena itu, mengambilnya, dan memasukkan ke saku jas. Ia kemudian merogoh dompet, lalu berkata:

“Saya punya cek 100 dollar yang akan saya berikan untuk Anda. Tapi saya tidak tahu ejaan nama Anda, bisakah Anda menuliskannya di cek ini?”

“Tapi saya tidak punya pena, boleh saya pinjam?” tanya si penguji.

“Kebetulan sekali, saya sedang menjual pena. Harganya hanya 100 dollar”.

Siklus Kebodohan

Cerita diatas memang hanya karangan saya. Karena berdasarkan pengalaman pribadi, itulah yang terjadi. Para “marketer intelektual” seringkali terjebak dalam menara gading, terlalu suka menganalisa, berteori, mengeluarkan hipotesa. Sedangkan kaum “marketer jalanan” biasanya seperti bajaj: pokoknya jalan, yang penting jualan.

Tentu yang paling baik adalah gabungan keduanya. Marketer yang memiliki landasan berpikir yang kuat, dan juga kemampuan eksekusi yang prima. Yang penting: street smart. Untuk itulah kita memerlukan buku marketing yang juga street smart.

Ketika membaca “Stupid Marketing” karya Sandy Wahyudi dkk, saya terperangah. Buku ini ditulis dengan sederhana, ceria, dan penuh dengan ilustrasi berwarna. Kita kembali diingatkan tentang pentingnya “menjadi bodoh”.

Loh koq jadi bodoh? Iya, kita wajib menjadi bodoh. Tapi bukan asal bodoh hingga menjadi botol : bodoh tolol. Tapi menjadi orang bodoh yang selalu ingin tahu dan berinovasi menciptakan nilai tambah dalam bisnis.

Buku yang ditulis oleh tim dari Universitas Ciputra ini men-highlight “siklus kebodohan”. Siklus ini dimulai dengan menganalisa peluang, melakukan validasi (dengan bantuan teori dan riset), mengoptimalkan ide untuk menciptakan value, menjual ide itu ke pasar, melihat hasil, dan kemudian mengevaluasi sambil kembali ke langkah pertama.

siklus kebodohan
siklus kebodohan

Terkadang marketer melupakan siklus ini. Contohnya saya, ketika ada marketing campaign, pattern-nya sudah bisa ditebak: Bikin marketing plan, Brief agency, beli media, brief ke tim sales dan distribusi, memantau penjualan, siap-siap bikin alasan kalau jualan jeblok, dan laporan ke regional kalau project-nya berhasil (aduh koq jadi curhat).

Bagian berbahanya adalah, saya menjadi kuda delman yang ditutup matanya. Karena melakukan sesuatu, tapi jarang berpikir mengapa kita melakukan apa yang kita lakukan. Dan lupa mengajukan pertanyaan yang paling penting: apa yang harus kita lakukan untuk memperbaiki apa yang kita lakukan?

Beberapa catatan

Meskipun buku ini dituliis dengan sederhana dan menarik, ada beberapa catatan:

  1. Buku ini lebih ke panduan berpikir sebagai marketer yang ideal, dan bukan “how to create marketing plan”. Pembahasan tidak terlalu teknis dan sangat umum.
  2. Terlalu banyak simplifikasi. Contohnya pada bagian penetrate market, Anda tidak bisa hanya mengandalkan social media saat semua brand melakukan hal yang sama tapi dengan eskalasi budget yang lebih gila
  3. Kurangnya study case yang aplikatif. Karena rata-rata pembahasan sangat umum dan jikapun ada contoh, lebih ke sesuatu yang parsial. Saran saya penulis bisa menambahkan study case dimana ada perusahaan yang menerapkan “siklus kebodohan” dari awal hingga akhir

Tapi tetap saja, buku ini menarik untuk dibaca. Terutama bagi marketer, mahasiswa, pebisnis, dan pecinta pemasaran. Formatnya yang sederhana, ringan, dan penuh ilustrasi pasti membuat mata betah untuk menyelesaikan 156 halaman yang ada.

Saya sangat berharap akan lebih banyak buku ekonomi bisnis kita yang ditulis dengan gaya “Stupid Marketing” (jujur saja, saya berdoa agar bisa menulis buku seperti itu).

Agar masyarakat kita sadar jika pengetahuan itu sama pentingnya seperti makanan. Mereka yang tidak makan, akan mati. Mereka yang tidak belajar, pikirannya akan mati.

Stay fool. Stay hungry.

Cover buku, sumber: gramedia.com

Silahkan tinggalkan alamat jika ingin membaca buku ini.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cara Cepat Membaca Buku

Sejak melangsungkan ritual reproduksi yang dibalut aturan sosial kelembagaan bernama pernikahan, saya sudah sangat jarang membagi-bagi buku. Padahal aturan saya tetap sama: pengetahuan itu berasal dari Tuhan dan wajib dibagikan demi kepentingan kemanusiaan.

Nah, masalahnya Pipi Kentang suka menyuruh saya nahan buku yang akan dibagikan. Alasannya klasik tapi ga asyik: dia belum baca. Padahal buku sudah memenuhi rak. Di rumah biasanya ada 4-5 judul baru setiap bulan dan kami tetap tidak tertarik untuk membeli TV.

Oke, saya sengaja menulis tips membaca cepat agar si Pipi Kentang tidak terlalu lama menahan buku yang belum dibaca. Tips ini murni berdasarkan pengalaman pribadi tanpa teori sana-sini, dan juga khusus untuk non fiksi. Agak susah jika diterapkan ke prosa dan puisi.

  1. Baca apa yang Anda suka

Aturan pertama dan utama: Jangan pernah membaca karena dipaksa! Membaca karena terpaksa seperti sebuah pemerkosaan intelektual: sakit dan menimbulkan trauma! Pokoknya sakitnya tuh disini! (sambil nunjuk kepala dan bukan selangkangan).

Salah satu alasan rendahnya minat baca kita adalah karena sejak masa sekolah dipaksa untuk membaca buku pelajaran yang berat dan membosankan. Akibatnya banyak dari kita yang beranggapan jika membaca itu belajar. Padahal membaca itu sebenarnya rekreasi dan sebuah hiburan.

  1. Pilih buku yang bermutu

Anda tau GIGOLO? Bukan yang sama tante-tante. GIGOLO itu singkatan Garbage In Garbage Out = Low Optimization. Tidak semua buku itu baik. Ada yang sehat, dan ada yang sampah. Hemat waktu Anda dengan hanya mengkonsumsi buku-buku baik. Apa tanda buku baik? Temanya menarik, enak dibaca, ditulis dengan runtut, mudah dimengerti, juga tidak berisi kebohongan dan kebencian.

  1. Jangan baca semuanya

Iya itu kunci membaca cepat. Kata pengantar ga usah dibaca. Cukup cover, backcover, daftar isi, lalu boleh ke pendahuluan. Coba cerna apa ide besar yang ingin disampaikan penulis. Buka halaman yang menarik perhatian Anda. Tidak perlu urut. Langsung ke belakang juga boleh. Baca yang paling membuat penasaran.

  1. Apa yang ingin dikatakan penulis? Lupakan data dan angka

Buka halaman dengan cepat untuk setiap bab. Cari apa yang ingin disampaikan penulis. Biasanya ditulis awal atau akhir bab. Di tengah bab biasanya hanya data atau teori pendukung. Anda boleh membaca jika tertarik. Jika tidak, yang penting Anda tahu apa gagasan yang ditulis.

  1. Bisa karena biasa

Semakin lama Anda membaca, maka kecepatan bacaan akan semakin bertambah. Ukurannya word per minutes. Rata-rata dari kita memiliki kecepatan 300-400 wpm. Seiring waktu, bisa meningkat menjadi 700-800 kata per menit. Jika dalam satu halaman ada 600 kata, maka buku setebal 250 halaman akan tandas dalam waktu 5 jam saja.

Sebenarnya ada beberapa teknik untuk meningkatkan kecepatan membaca. Seperti crunching, meta guiding, associating, dan sebagainya. Tapi bagi saya terlalu ribet. Udah lah, baca saja dengan cara yang paling nyaman. Lama kelamaan akan tambah cepat juga.

Untuk buku sastra dan puisi, saya tidak menyarankan speed reading. Karena puisi itu seperti es krim, lebih enak dinikmati dengan tenang, perlahan, dan penuh perhatian. Untaian kata mutiara akan menjadi tidak bermakna jika dibaca tergesa-gesa.

Demikian sedikit tips dari saya, Ada yang punya tips lain?

Btw, ada Norwegian Wood-nya Haruki Murakami yang siap saya bagikan. Silahkan tinggalkan alamat di komentar.

92e97b1a251e79d6fa44fe0b064fcfb4

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail