Monthly Archives: December 2015

JSW Stories (2) : Ide Harus Menjual

Karena sudah dibentuk 20 kelompok, saya harus bergabung dengan tim yang sudah ada. panitia sempat memperkenalkan saya ke dua kelompok. Mulai dari start up travel buddies (dimana saya tidak melihat uniqueness value dan ditawarkan) dan market place untuk agribisnis (saya merasa idenya terlalu mainstream dan orang-orangnya serius banget – meeting pake bahasa Inggris segala).

Dan akhirnya panitia memperkenalkan pada tim sempaq.com. Tim yang paling ga laku karena baru memiliki 4 orang anggota. Tim absurd dengan ide besar untuk mengubah dunia percelanadalaman. Beranggotakan fantastic four. Selain Faizal yang baru lulus dari Undip, ada Anggi seorang designer perusahaan sepatu terkemuka, Berlian, business development sebuah start up hotel room branding, dan Eric seorang investment banker.

Ide dari sempaq.com, menurut Faizal berasal dari kegelisahan bagian genital. Ia melihat ada permasalahan besar yang menghantui dunia perkancutan: celana dalam sering dipakai terlalu lama! Sehingga menghasilkan permasalahan 3M: melar, mahal (toko mengambil margin terlalu tinggi), dan malas beli baru.

For your info, satu celana dalam sebenarnya memiliki biaya produksi tidak lebih dari 8ribu rupiah. Sedangkan di toko harganya bisa 20rb sampai 50rb tergantung merek. Ini adalah peluang yang ingin disasar: menjual sempak dengan harga miring dan konsep berlangganan.

Sempaq berusaha mengatasi permasalahan 3M dengan menawarkan skema berlangganan. Ya anda ga salah baca: berlanggananan kancut! Meniru konsep one dollar shave club di Amrik sono dimana orang hanya membayar sekitar 3 dollar dan dia akan mendapat kiriman pisau cukur setiap bulan.

Hmmm… ide yang unik dan menarik. Saya langsung kebayang jika kita menciptakan personalized underwear dimana konsumen bisa mendesign celana dalamnya sendiri. Mungkin dikasih gambar Darth Vader atau Spongebob. Ingin celana dalam cowok berenda-renda dengan motif bunga atau polkadot? Lewat sempaq, semua itu bisa.

Test The Water

Saya yang bertugas sebagai tim finance mulai menyiapkan formulasi business plan. Dan itu berarti menghitung proyeksi profit loss, break even point, payback period, dan projection hingga lima tahun kedepan. Itung-itungan saya BEP ada di angka 1700 sempak per tahun. Dengan asumsi menjual sempak seharga 15ribu.

Untuk menguji asumsi bisnis, kita perlu tes pasar. Berlian pergi ke Indomaret terdekat sedangkan kita mulai bertanya-tanya ke teman mengenai konsep ini. Kemudian datang berita besar: Indomars punya kancut yang hanya dijual 11ribu rupiah! Ketahuan banget saya udah lama ga beli sempak, sehingga kurang update dengan harga.

Tak cukup disitu, saat sesi mentoring, Aryo dari Grupara mempertanyakan aspek komersial bisnis ini:

  1. Kenapa harus berlangganan sempak bulanan?
  2. Bukankah celana dalam yang ada di pasar bisa tahan hingga berbulan-bulan?
  3. Kenapa ada laki-laki yang menginginkan celana dalam unik? Bukankah sempak tak terlihat?

Mendapat dua kabar ini: bahwa Indomars punya sempak murah dan market pasar yang aneh membuat kelompok kami gegana (gelisah galau dan merana). Bagaikan adegan Darth Vader memberitahu Luke Skywalker jika ia adalah bapaknya: Nooooooooooooooo!!!!!!!.

index

Pivot

Lessonnya: Ide unik tidak cukup. Ia harus bisa menjual. Harus ada pasar yang membelinya. Jika tidak, ide itu bukan ide bisnis. Sempaq belum lolos tes ini. Saya bilang belum, karena saat ini pasar yang disasar sangat kecil. Mayoritas laki-laki tidak terlalu memperdulikan celana dalam mereka. Jika nanti muncul kaum lelaki yang sadar akan kebutuhan mengganti sempaq dan menginginkan kancut personal dan fashionable, maka sempaq bisa saja hidup.

Kami memutuskan untuk pivot. Berganti ide baru. Brainstorm ngalor ngidul selama hampir 8 jam. Mulai dari subscriber based on payment gateway (which sudah dimulai bank), langganan sembako (lebih cocok ke ritel), healthy food provider (dengan tantangan market yang sangat niche), dan ide-ide random seperti layanan pemberi pujian atau pengingat obat bagi manula.

Saat sudah stuck, jam 9 malam, tim-tim yang lain sudah merancang MVP (minimum viable product) semacam apps dan webssite kita masih debat sambil ketawa-ketawa ga jelas. Tiba-tiba saya bertanya ke Berlian:

“Eh ide lu tadi gimana sih?”

Ia lalu mengeluarkan sebuah brosur dan menceritakan ide yang menurut saya unik, low risk, dan punya profitability yang jelas. Mulai jam 9 malam, telah lahir starup bernama Kiyoo. Dan itu berarti kami tidak berjualan sempak lagi.

Bersambung…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Serunya Lari-larian Bareng Zombie Jadi-jadian (Run For Your Lives Indonesia)

Ngikutin serial Walking Dead atau main game Resident Evil? Pingin tahu rasanya diuber zombie? Gimana sih serunya menghadapi zombie-zombie gentayangan? Ga perlu menciptakan radiasi kimia berbahaya atau pergi jauh-jauh ke Amerika. Karena di Ancol, 19 December 2015 lalu, zombie-zombie menebar teror dan kita harus lari menyelamatkan diri!

Run For Your Life (RFYL) adalah event lari unik dimana peserta bisa memilih menjadi survivor atau terinfeksi virus menjadi zombie. Tugas survivor sederhana, Ia harus berlari sekencang-kencangnya untuk selamat dari kejaran zombie. Dia punya “tiga nyawa” berupa tali yang diikatkan di pinggang. Zombie bertugas mengejar survivor dan mengambil “nyawa” untuk menginfeksi survivor.

Zombie doyan selfie
Zombie doyan selfie

Jika di garis finish masih ada minimal satu nyawa, maka survivor akan mendapatkan “survivor medal”. Sedangkan jika sudah habis dimakan zombie, maka medalinya akan berganti menjadi “infected medal”.

Menjadi Zombie

Entah kenapa, saya memilih menjadi zombie. Sepertinya seru bisa nangkepin mbak-mbak survivor seksi yang lagi keringetan. Aduh ketahuan deh motif mesumnya. Tapi alasan utamanya sih karena gaya grafitasi membuat 95 kg massa tubuh saya bergerak lambat dan bakal jadi santapan empuk zombie-zombie kelaparan.

Ada beberapa wave (gelombang keberangkatan). Saya memilih wave pertama jam 12 siang. Setelah registrasi, seorang calon zombie harus di karantina dan mendapatkan sentuhan make over di zombification center. Sebenernya saya malas. Malas mengakuin kalau muka saya sudah kaya zombie dan setelah didandani jadi zombie justru lebih cakep. Tapi buat seru-seruan ya sutralah.

Dimulai dari pemberian “yayasan” atau foundation (bahasa Inggrisnya foundation itu yayasan kan?).

Wow kulitku jadi putihhh
Wow kulitku jadi putihhh

Lanjut pembuatan koreng-korengan.

Peserta didandanin biar cakep
Peserta didandanin biar cakep

Dicat pakai warna merah. dan Voila.

Koq perasaan saya jadi lebih ganteng ya?
Koq perasaan saya jadi lebih ganteng ya?

Ada sekitar 9 zona halangan dan rintangan yang harus dilalui seorang survivor. Saya bertugas menjaga zona zombie 1. Rame-rame cyin, ada kali 10 orang zombie.

Larinya kaya main gobak sodor
Larinya kaya main gobak sodor

Perlu Ditingkatkan

Jujur saja, RFYL ini sangat seru. Hanya disayangkan ada beberapa hal yang kurang dan harusnya bisa ditingkatkan lagi kedepannya. Ga usah jauh-jauh, saat pertama kali registrasi, proses berjalan sangat lama karena masih menggunakan cara manual.

Peserta menyerahkan form registrasi, panitia lalu mengecek nomor melalui handphone untuk kemudian menuliskan di gelang peserta. Ngecek pake handphone man? Sungguh mobile sekali. Apa sih susahnya bawa laptop biar agak sedikit cepat?

Registrasinya lamaaaa
Registrasinya lamaaaa

Lalu proses zombification yang hanya ada sekitar 5 line. Padahal pesertanya ratusan. Ini yang membuat jalannya event molor sekitar 1,5 jam (wave terakhir jam 4.30, di jadwal jam 3). Kerjaan jadi zombie juga membosankan. Kami harus menunggu survivor untuk datang dan setelah itu Cuma duduk-duduk sambil ngobrol. Harusnya setelah selesai jaga, zombie bisa ikutan untuk jadi survivor di wave selanjutnya.

Jpeg
Jpeg

Bagi survivor, track lari yang hanya 2,5 km juga disayangkan. Karena saat pendaftaran tertulis 5k. Kurang lama aja serunya. Masa baru keringetan dikit udah finish.

Ada perosotannya juga bo, sayang pas saya lari uda tutup
Ada perosotannya juga bo, sayang pas saya lari uda tutup

Anyway, RFYL cukup menyenangkan untuk diikuti. At least menjadi variasi dari event lari yang hanya mengandalkan kecepatan dan ketahanan tubuh. Semoga tahun depan track bisa diperpanjang dan zombie bisa ikutan lari jadi survivor.

Biar zombienya ga kebanyakan bengong. Karena lama-lama bisa jadi zomblo.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Startup Weekend Jakarta Stories: Jualan Sempak (1)

Disaat teman2 kantor saya asik ajep2 di Djakarta Warehouse Project 2015, saya juga mengikuti kegiatan yang tak kalah ajep-ajep: Startup Weekend Jakarta. SWJ adalah event dimana peserta datang membawa ide, melakukan pitching (menjual ide), membentuk tim, menciptakan produk/jasa, merencanakan bisnis, dan mempresentasikannya di hadapan venture capital.

Startup weekend

Kenapa saya sangat tertarik? Mudah saja. Sejak SMA saya bercita2 jadi pengusaha, sempat beberapa kali belajar bangkrut saat berbisnis semasa kuliah, dan tahun 2015 ini sudah tahun ketiga belajar jadi kapitalis kantoran di korporasi multinasional. Waktunya membuka warung sendiri! Mumpung usia belum kepala tiga.

Saya jatuh cinta pada dunia start up digital setelah tak sengaja membaca The 100$ Start Up karya Chris Guillebeau. Dari buku itu saya sadar jika perusahaan digital start up memiliki keunggulan yang tak dimiliki brick and mortar company (perusahaan konvensional). Setidaknya dalam dua hal:

  1. Low cost investment (sengan 100 dollar Amda sudah bisa memiliki perusahaan)
  2. Lean operation (ga perlu sewa tempat, penjaga toko dll)

Start up digital adalah game changer. Kaum Cracker. Mereka datang membawa business model baru, memaksa perusahaan tradisional untuk berevolusi menjadi lebih baik.

100 startup

Coba tengok go-jek dan uber yang mengubah landscape transportasi masyarakat urban. Online travel agent mengubah kebiasaan kita dalam memesan tiket liburan. Atau Airbnb yang mampu mengubah definisi kita tentang hotel.

Jualan Sempak

Agenda hari pertama adalah elevator speech pitching dan pembentukan team. Kita diberi waktu satu menit untuk menjelaskan ide di depan semua peserta. Setelah itu dilakukan voting untuk memilih 20 ide terfavorit, dan kita bisa mengajak orang lain untuk bergabung.

Dengan segala kegairahan dan optimisme ala pengantin baru menyambut malam pertama, saya ingin mengikuti WSJ dan menjual ide saya mengenai sponsorship platform. Tapi sayang, saat sudah siap berangkat, pekerjaan saya belum selesai dan ada request tambahan dari regional.

Saya menitipkan ide untuk dijualkan oleh istri. Karena sebetulnya dia lebih jago presentasi gara-gara rajin ikutan Toast master. Tapi setelah dikabari, ternyata hanya ada 4 orang yang menyukai ide itu. Hmmm mungkin market segment ide saya agak niche dan butuh cara penjualan berbeda bagi orang umum.

Saya percaya Tuhan punya rencana terbaik. Semua pasti ada hikmahnya. Karena tidak datang hari pertama, saya harus bergabung dengan 20 besar tim yang ada. Dan pada hari kedua saya bergabung dengan start up yang akan mengubah cara kita memandang dunia. Dunia perkancutan lebih tepatnya.

Ya, pada hari kedua saya bergabung dengan tim sempaq.com. haha.

Bersambung….

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perbandingan Social Media Calon Bupati Sidoarjo, Siapa yang Unggul?

Awalnya saya kaget, loh koq tanggal 9 Desember ada pengumuman libur? Ada hari besar apa ya? Perasaan hari raya udah lewat dan hari kiamat belum diumumkan. Betapa hebohnya saya ketika tahu jika tanggal itu adalah pilkada serentak.

Saya merasa kzl (kesel), sebagai warga negara yang baik dan kebetulan sedang merantau di luar kota, informasi yang saya terima sangat minim. Saya tidak tahu siapa yang maju, apa program mereka, dan kenapa saya harus repot-repot pulang hanya demi nyoblos muka asing yang tidak berpengaruh ke rekening bank saya setiap bulan.

Tapi saya tetap penasaran, siapa aja sih calonnya? Setelah browsing sana sini ternyata ada 4 calon pimpinan daerah yang akan menggawangi kabupaten Sidoarjo, daerah KTP saya.

Daftar calon KPU
Daftar calon KPU

Buset sapa mereka? Koq ga ada yang kenal. Saya coba meng-klik halaman visi misi. Isinya seragam: penuh janji berbusa dengan bahasa berbunga-bunga. Lantas, bagaimana saya bisa tahu pasangan mana yang berbeda?

Iseng-iseng saya mencoba men-compare data social media masing-masing calon. Karena zaman sekarang social media sudah menjadi alat propaganda politik yang sangat ampuh. Trend ini dimulai saat Obama menggunakan twitter dan facebook untuk merebut hati rakyat Amerika (Gross:2012).

Ditengah perkembangan dunia digital seperti saat ini, dimana tingkat penetrasi internet sudah lebih dari 60% dan Indonesia adalah salah satu negara dengan user facebook dan twitter terbesar, social media adalah salah satu senjata untuk mempengaruhi persepsi publik.

Data social media masing-masing calon terlampir dibawah ini:

Data data fans dan follower
Data data fans dan follower

He to the O, Helloowww! Jika melihat halaman social media masing-masing calon akan terlihat jelas jika akun masih memiliki potensi untuk dioptimalkan dengan melakukan posting secara teratur, engagement activity, response yang tanggap, dan juga iklan ke khalayak ramai.

Okay, secara angka fans dan follower maka pasangan no 1 memimpin tipis diatas pasangan no 2. Tapi bagaimana dengan engagement rate? Mari melihat angka-angka yang ada di twitter. Penulis menggunakan tools dari tweetreach untuk mendapatkan angka masing-masing calon kepala daerah. Untuk menyederhanakan data, saya hanya menggunakan nama calon bupati sebagai search query.

Hadi Sutjipo

Tweet Hadi Sutjipto memiliki jangkauan hingga lebih dari 30 ribu. Dan seminggu terakhir ada 15 orang yang mentweet tentang Hadi Sutjipto. Jika melihat contributor, maka reach terbesar berasal dari @beritajatimcom.

 Hadi sutcipto

Utsman Ikhsan

Memiliki reach yang tidak sebesar calon bupati pertama, dengan jumlah kontributor tweet yang lebih sedikit. Kontributor terbesar tetap @beritajatimcom.

Utsman IkhsanSaiful Ilah

Memiliki jumlah exposure dan reach terbesar. Dengan kontributor (orang yang men-tweet) sebanyak 22 orang dalam seminggu terakhir. Penyumbang reach terbesar dari @infojatimID dan @sidoarjonews.

Saiful IllahWarih Andono

Calon bupati terakhir dan paling kasihan. Namanya tidak terdengar di jagat dunia maya. Mungkin tim sukses mereka perlu memasang internet di rumah.

Warih AndonoJika kita melakukan komparasi menggunakan Topsy, didapatkan data yang serupa:

Topsy PilkadaCalon bupati no 3 mengungguli pasangan no 1 dan 2. Tapi beberapa hari terakhir calon no 1 mulai naik (lihat di sisi kanan grafik). Calon bupati no 4? Tolong ingatkan saya saat tim suksesnya sudah memasang internet.

Simpulan Sederhana

Melihat data-data sederhana social media, calon bupati no 1 dan 3 akan bersaing memperebutkan juara dan runner up. Tapi perlu dicatat jika tidak semua pemilih melek digital. Masih banyak kalangan grass root yang tidak mengakses social media. Dan yang paling penting, banyak faktor yang mempengaruhi keputusan pemilih.

Seperti pesan Brigitte Majewski:

“Just because you have a follower doesn’t mean you have a vote. It just means that you have caught their ear. … It’s a good signal, but at the end of the day, a signal is not a vote.”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail