Startup Weekend Jakarta Stories: Jualan Sempak (1)

Disaat teman2 kantor saya asik ajep2 di Djakarta Warehouse Project 2015, saya juga mengikuti kegiatan yang tak kalah ajep-ajep: Startup Weekend Jakarta. SWJ adalah event dimana peserta datang membawa ide, melakukan pitching (menjual ide), membentuk tim, menciptakan produk/jasa, merencanakan bisnis, dan mempresentasikannya di hadapan venture capital.

Startup weekend

Kenapa saya sangat tertarik? Mudah saja. Sejak SMA saya bercita2 jadi pengusaha, sempat beberapa kali belajar bangkrut saat berbisnis semasa kuliah, dan tahun 2015 ini sudah tahun ketiga belajar jadi kapitalis kantoran di korporasi multinasional. Waktunya membuka warung sendiri! Mumpung usia belum kepala tiga.

Saya jatuh cinta pada dunia start up digital setelah tak sengaja membaca The 100$ Start Up karya Chris Guillebeau. Dari buku itu saya sadar jika perusahaan digital start up memiliki keunggulan yang tak dimiliki brick and mortar company (perusahaan konvensional). Setidaknya dalam dua hal:

  1. Low cost investment (sengan 100 dollar Amda sudah bisa memiliki perusahaan)
  2. Lean operation (ga perlu sewa tempat, penjaga toko dll)

Start up digital adalah game changer. Kaum Cracker. Mereka datang membawa business model baru, memaksa perusahaan tradisional untuk berevolusi menjadi lebih baik.

100 startup

Coba tengok go-jek dan uber yang mengubah landscape transportasi masyarakat urban. Online travel agent mengubah kebiasaan kita dalam memesan tiket liburan. Atau Airbnb yang mampu mengubah definisi kita tentang hotel.

Jualan Sempak

Agenda hari pertama adalah elevator speech pitching dan pembentukan team. Kita diberi waktu satu menit untuk menjelaskan ide di depan semua peserta. Setelah itu dilakukan voting untuk memilih 20 ide terfavorit, dan kita bisa mengajak orang lain untuk bergabung.

Dengan segala kegairahan dan optimisme ala pengantin baru menyambut malam pertama, saya ingin mengikuti WSJ dan menjual ide saya mengenai sponsorship platform. Tapi sayang, saat sudah siap berangkat, pekerjaan saya belum selesai dan ada request tambahan dari regional.

Saya menitipkan ide untuk dijualkan oleh istri. Karena sebetulnya dia lebih jago presentasi gara-gara rajin ikutan Toast master. Tapi setelah dikabari, ternyata hanya ada 4 orang yang menyukai ide itu. Hmmm mungkin market segment ide saya agak niche dan butuh cara penjualan berbeda bagi orang umum.

Saya percaya Tuhan punya rencana terbaik. Semua pasti ada hikmahnya. Karena tidak datang hari pertama, saya harus bergabung dengan 20 besar tim yang ada. Dan pada hari kedua saya bergabung dengan start up yang akan mengubah cara kita memandang dunia. Dunia perkancutan lebih tepatnya.

Ya, pada hari kedua saya bergabung dengan tim sempaq.com. haha.

Bersambung….

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *