JSW Stories (2) : Ide Harus Menjual

Karena sudah dibentuk 20 kelompok, saya harus bergabung dengan tim yang sudah ada. panitia sempat memperkenalkan saya ke dua kelompok. Mulai dari start up travel buddies (dimana saya tidak melihat uniqueness value dan ditawarkan) dan market place untuk agribisnis (saya merasa idenya terlalu mainstream dan orang-orangnya serius banget – meeting pake bahasa Inggris segala).

Dan akhirnya panitia memperkenalkan pada tim sempaq.com. Tim yang paling ga laku karena baru memiliki 4 orang anggota. Tim absurd dengan ide besar untuk mengubah dunia percelanadalaman. Beranggotakan fantastic four. Selain Faizal yang baru lulus dari Undip, ada Anggi seorang designer perusahaan sepatu terkemuka, Berlian, business development sebuah start up hotel room branding, dan Eric seorang investment banker.

Ide dari sempaq.com, menurut Faizal berasal dari kegelisahan bagian genital. Ia melihat ada permasalahan besar yang menghantui dunia perkancutan: celana dalam sering dipakai terlalu lama! Sehingga menghasilkan permasalahan 3M: melar, mahal (toko mengambil margin terlalu tinggi), dan malas beli baru.

For your info, satu celana dalam sebenarnya memiliki biaya produksi tidak lebih dari 8ribu rupiah. Sedangkan di toko harganya bisa 20rb sampai 50rb tergantung merek. Ini adalah peluang yang ingin disasar: menjual sempak dengan harga miring dan konsep berlangganan.

Sempaq berusaha mengatasi permasalahan 3M dengan menawarkan skema berlangganan. Ya anda ga salah baca: berlanggananan kancut! Meniru konsep one dollar shave club di Amrik sono dimana orang hanya membayar sekitar 3 dollar dan dia akan mendapat kiriman pisau cukur setiap bulan.

Hmmm… ide yang unik dan menarik. Saya langsung kebayang jika kita menciptakan personalized underwear dimana konsumen bisa mendesign celana dalamnya sendiri. Mungkin dikasih gambar Darth Vader atau Spongebob. Ingin celana dalam cowok berenda-renda dengan motif bunga atau polkadot? Lewat sempaq, semua itu bisa.

Test The Water

Saya yang bertugas sebagai tim finance mulai menyiapkan formulasi business plan. Dan itu berarti menghitung proyeksi profit loss, break even point, payback period, dan projection hingga lima tahun kedepan. Itung-itungan saya BEP ada di angka 1700 sempak per tahun. Dengan asumsi menjual sempak seharga 15ribu.

Untuk menguji asumsi bisnis, kita perlu tes pasar. Berlian pergi ke Indomaret terdekat sedangkan kita mulai bertanya-tanya ke teman mengenai konsep ini. Kemudian datang berita besar: Indomars punya kancut yang hanya dijual 11ribu rupiah! Ketahuan banget saya udah lama ga beli sempak, sehingga kurang update dengan harga.

Tak cukup disitu, saat sesi mentoring, Aryo dari Grupara mempertanyakan aspek komersial bisnis ini:

  1. Kenapa harus berlangganan sempak bulanan?
  2. Bukankah celana dalam yang ada di pasar bisa tahan hingga berbulan-bulan?
  3. Kenapa ada laki-laki yang menginginkan celana dalam unik? Bukankah sempak tak terlihat?

Mendapat dua kabar ini: bahwa Indomars punya sempak murah dan market pasar yang aneh membuat kelompok kami gegana (gelisah galau dan merana). Bagaikan adegan Darth Vader memberitahu Luke Skywalker jika ia adalah bapaknya: Nooooooooooooooo!!!!!!!.

index

Pivot

Lessonnya: Ide unik tidak cukup. Ia harus bisa menjual. Harus ada pasar yang membelinya. Jika tidak, ide itu bukan ide bisnis. Sempaq belum lolos tes ini. Saya bilang belum, karena saat ini pasar yang disasar sangat kecil. Mayoritas laki-laki tidak terlalu memperdulikan celana dalam mereka. Jika nanti muncul kaum lelaki yang sadar akan kebutuhan mengganti sempaq dan menginginkan kancut personal dan fashionable, maka sempaq bisa saja hidup.

Kami memutuskan untuk pivot. Berganti ide baru. Brainstorm ngalor ngidul selama hampir 8 jam. Mulai dari subscriber based on payment gateway (which sudah dimulai bank), langganan sembako (lebih cocok ke ritel), healthy food provider (dengan tantangan market yang sangat niche), dan ide-ide random seperti layanan pemberi pujian atau pengingat obat bagi manula.

Saat sudah stuck, jam 9 malam, tim-tim yang lain sudah merancang MVP (minimum viable product) semacam apps dan webssite kita masih debat sambil ketawa-ketawa ga jelas. Tiba-tiba saya bertanya ke Berlian:

“Eh ide lu tadi gimana sih?”

Ia lalu mengeluarkan sebuah brosur dan menceritakan ide yang menurut saya unik, low risk, dan punya profitability yang jelas. Mulai jam 9 malam, telah lahir starup bernama Kiyoo. Dan itu berarti kami tidak berjualan sempak lagi.

Bersambung…

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *