Monthly Archives: April 2016

Acara Tivi Koq Kaya Gini?

Sering, Gusti, aku bertanya-tanya sendiri,

kenapa sih mama tenggelam di televisi,

mengunyah iklan menelan mimpi.

Sabar, mama, tunggu aku masuk ke layar tivi.

(Doa 1 – Silampukau)

logo tv dari https://infoindonesia.files.wordpress.com/2014/04/stasiun-tv-swasta.jpeg

Seorang kawan terheran-heran begitu tahu jika dirumah saya tak ada televisi.

“Hah yang bener? Pasti langganan tv kabel kan?”

Kabelnya sih ada, tapi tivi-nya ga ada. Lha gimana mau nonton tv kabel kalau ga punya tivi? Absennya kotak hiburan warna-warni di rumah kami memang sudah menjadi komitmen bersama. Selain tidak terlalu menikmati acara yang ditayangkan di layar kaca, kami sepakat untuk menjalani hidup hemat biaya hahaha.

Tapi ciyus, ada beberapa alasan kami tidak tertarik membeli tivi. Karena pernah bekerja di media agency, saya tahu jika televisi tak lebih dari media pemasaran untuk mendongkrak penjualan. Semua acara yang diproduksi pada akhirnya akan bermuara pada berapa banyak duit iklan yang bisa dihasilkan (rating hanya salah satu metode pengukuran).

Bagi yang belum tahu, biaya ngiklan selama 30 detik untuk prime time (jam 7 – 9 malam) bisa mencapai puluhan juta rupiah (30-80 juta). Dan biasanya semakin tinggi rating maka semakin mahal biaya ngiklannya.

Bagaimana cara mengukur rating? Mayoritas pengiklan akan menggunakan rating point hasil study AC Nielsen. Jadi Nielsen memiliki sebuah alat “people meter”, dimana dia akan memasangkan alat di ribuan rumah yang dijadikan sample. Lewat alat itu akan ketahuan, berapa persen orang yang menonton suatu acara, program apa yang paling diminati, acara yang paling sedikit penontonnya, dan kebiasaan menonton lainnya.

Semakin tinggi suatu rating, berarti semakin banyak penontonnya. Jika semakin banyak yang nonton, akan semakin banyak pengiklan yang membeli spot iklan di acara itu. Nah karena logika yang berlaku adalah hukum pasar, maka stasiun tivi akan terus menayangkan program yang memiliki rating bagus. Sekarang tahu kan kenapa ada Tukang Bubur yang udah bertahun-tahun exist meski buburnya ga ada lagi. Ya itu berarti tim programnya sukses mempertahankan rating acara.

 Bukan Salah Stasiun TV

Saya sering tertawa ketika mendengar ada orang menyalahkan stasiun tivi karena acara-acara yang dianggap “kurang bermutu”. Pertama, saya bingung ketika harus mendefiniskan acara yang “bermutu” dan “tidak bermutu” itu seperti apa. Apakah acara berita pasti lebih bagus dari sinetron? Apa benchmark-nya? Apa metrics yang digunakan untuk mengukurnya?

Kalau ada acara yang dianggap “kurang mendidik”, apa definisi program yang mendidik? Bukankah filter mendidik-tidaknya sebuah tayangan ada di otak para penontonnya sendiri? Contohnya ada acara sinetron yang menampilkan kehidupan keluarga kaya dan hidup mewah. Sebagian orang akan protes:

“Sinetron seperti ini hanya menampilkan kemewahan!”

Loh, bukannya justru bagus ya? bukannya itu mengajarkan kita untuk tidak malu jika ingin kaya, yang penting terus berusaha. Pola pikir sirik-nya diubah donk: Jika mereka yang ada di sinetron aja bisa kaya, kita juga pasti bisa.

Alasan kedua adalah program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita. Kan sebelumnya sudah saya bilang, iklan ngikutin rating, dan rating ngikutin selera penonton. Jadi ya jangan ngambek kalo acara kita isinya sinetron dan drama India, berarti ya masyarakat kita sukanya sinetron dan drama India.

Program yang ada di televisi kita hanyalah cerminan selera masyarakat kita

Saya iseng nulis ini sebagai salah satu aksi konkret dan ajakan untuk menjadi penonton kritis. Mumpung sedang ramai membahas revisi UU penyiaran. Mbok ya jangan Cuma mengutuk acara tivi kita yang katanya kurang mencerdaskan. Siaran Tivi ga cerdas ya berarti masyarakat kita juga belum cerdas. Masih suka drama cinta-cintaan, makhluk jadi-jadian, kebut-kebutan, India-Indiaan dan Turki-Turkian.

Sudah ga kuat dan muak dengan acara tivi yang ada? Jauhkan televisi dari rumah Anda :p

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Perahu ke Surga

Hari ini (9 April) saya diajak kawan kuliah (si Desti) untuk berkunjung ke Bogor. Bertemu murid-murid boarding school dari salah satu lembaga pendidikan. Desti punya ide untuk menghubungkan cita-cita dan realita dunia nyata. Ada muridnya yang ingin jadi Diplomat, dan kebetulan pula ada kawan kami (Dika) yang sekarang jadi diplomat.

Diharapkan Dika bisa sharing tentang suka duka jadi diplomat, sekaligus memberikan tips dan trick jika ingin mengikuti jejaknya. Semacam kelas inspirasi gitu. Saya sengaja ikutan untuk jalan-jalan, dan juga karena males disuruh bersih-bersih kalo hanya main game di rumah. Kami berlima (sama Bocil dan Lila) janjian ketemu di Bogor.

“Bro bear, Nanti disana lu harus menginspirasi anak-anak ya” kata Desti waktu kami bertemu di KFC stasiun Bogor.

Hah? Inspirasi apaan? Soal hubungan signifikan obesitas terhadap ketampanan? Atau pengaruh lari pagi terhadap penurunan berat badan yang tak pernah berarti? Saya tak akan bisa memotivasi orang lain karena saya percaya motivasi terbaik ya motivasi yang dihasilkan diri sendiri.

“Ya udah nanti sharing-sharing aja ya”. Kamipun berangkat dan menempuh perjalanan hampir 1 jam.

Acara dilaksanakan di masjid. Dika sukses menginspirasi anak-anak. Dengan cerita serunya keliling dunia mewakili Indonesia, serta berbagai cerita off the record soal hubungan luar negeri kita. Saat saya diminta sharing, masa saya harus cerita soal marketing strategy ke anak-anak SMA tak berdosa ini?

Saat bingung, saya teringat ‘Perahu Neraka ke Surga’. Salah satu problem solving tools sederhana yang saya pakai untuk memperbaiki proses, menambal loop hole, menciptakan perubahan, dan juga mendapatkan jodoh (hey, saya PDKT ke istri pakai manajemen strategic lho!).

Kalo saya pikir-pikir, tools ini saya tulis dari hasil membaca beberapa buku problem solving yang dikembangkan perusahaan konsultan macam McKinsey dan six sigma ala General Electric. Tentu dengan simplifikasi sederhana yang cocok untuk anak SMA.

Agar lebih mudah kita pakai cerita fiktif.

Surga yang Terbuka

Alkisah, ada orang yang menjadi penghuni neraka. Karena tak tahan menderita, ia lalu berdoa:

“Ya Tuhan, ampunilah dosa hamba. Sudah bertahun-tahun hamba di neraka, tolong hentikan siksa ini dan masukkan hamba ke surga”

Karena kasihan, Tuhan pun membukakan pintu surga untuknya.

“Baiklah, Kubukakan pintu surga untukmu”

Karena girang bukan kepalang, orang tadi langsung jingkrak-jingkrak dan berlari meninggalkan ‘kompleks neraka’. Begitu kagetnya ia ketika ternyata ada sungai yang memisahkan surga dan neraka. Didalam sungai banyak monster dan setan.

“Tuhan, bagaimana cara ke surga?”

Tiba-tiba ada suara:

“Gunakan akalmu, optimalkan sumber dayamu, semua kubebaskan kepadamu”. Kata suara ghaib itu.

Orang itu sadar, ia ada di neraka, dan ingin menuju ke surga. Dan pintu surga sudah terbuka! Ia hanya perlu kesana. Ia tahu ada sungai yang membatasi dan harus melintasinya. Ia butuh alat untuk menyebrang sungai.

Setelah melihat sekeliling, ia akhirnya mengambil pohon-pohon untuk menciptakan rakit. Urusan tenggelam itu belakangan, yang penting ia sudah membuat rakit dan mengarungi sungai. Membelah arus, menuju surga yang ia impikan.

Matrix Neraka-Surga

Cerita diatas hanyalah perumpamaan. Neraka adalah kondisi kita saat ini. Surga adalah hal yang ingin kita tuju. Sungai adalah hambatan yang menghadang. Kita harus tahu apa hambatan yang ada baru kemudian bisa menentukan solusi untuk mengatasi hambatan itu.

Untuk lebih simple-nya bisa mengacu matrix dibawah ini. Contoh kasus, saya ingin menurunkan badan dari 115 ke 95 kg. Yang perlu saya lakukan adalah menyebutkan keadaan sekarang, lalu kondisi yang saya harapkan.

Mengapa keadaan sekarang belum seperti yang saya harapkan? Karena ada “sungai hambatan”. Dengan merinci hambatan yang ada, saya bisa men-list “perahu” yang ingin saya buat. Setelah itu saya bisa menciptakan action plan yang harus saya lakukan.

Matrix neraka-surga
Matrix neraka-surga

Kenapa matrix neraka-surga ini penting?

  1. Karena banyak dari kita tidak tahu perubahan apa yang diinginkan
  2. Karena banyak dari kita tidak tahu tindakan apa yang harus dilakukan

Dengan menuliskan-nya di matrix neraka-surga, kita memiliki road map sederhana. Apa yang ingin kita capai, apa penghambatnya, apa yang kurang, dan apa yang harus kita lakukan.

Ketika salah satu murid bernama Sandy mencoba matrix ini, ia tahu jika cita-citanya adalah menjadi diplomat (surga). Sedangkan sekarang ia masih anak SMA (neraka). Ada sungai yang menghadang (gelar S1 dengan IPK dan Universitas yang bagus, Toefl 550, tes Departemen Luar Negeri, communication skill, negotiation skill, politik luar negeri, dan skill dipomat lainnya).

Sekarang Sandy tahu action plan yang harus dilakukan. Berdoa kepada Tuhan, belajar yang rajin, mempersiapkan kelulusan untuk masuk ke kampus bergengsi dan mengambil jurusan humaniora, membeli kamus, belajar vocabulary, mencoba menulis esai, belajar speaking in English, dan rajin membaca berita luar negeri di koran.

“Mulai hari ini dan seterusnya, saya memantapkan cita-cita saya di kemudian hari, yaitu memiliki pasport berwarna hitam…” tulis Sandy di facebook-nya. Pasport hitam adalah pasport diplomatik.

Sandy bermimpi. Tapi mimpi tak cukup. Kita harus beraksi. Sepenuh hati. Mengeluarkan potensi yang kita miliki. Karena Tuhan takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubahnya sendiri.

Karena Tuhan telah membuka pintu surga-Nya. Kita hanya perlu perahu untuk mencapainya.

Foto bareng di Bogor
Foto bareng di Bogor
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail