Monthly Archives: May 2016

Pengalaman Pertama dengan BPJS

Hari Jumat lalu untuk pertama kalinya saya menggunakan BPJS. Gara2 teledor jalan pas townhall meeting, kepala kejedot speaker. Karena ga pake No drop, bocor deh darah kemana2. Ternyata seperti ini ya rasanya menstruasi di kepala.

Setelah dibantu teman2 untuk pertolongan pertama (tq banget kawan!), saya dilarikan ke tukang tambal ban terdekat. Ya ke rumah sakit lah bos…

Kebetulan ada Rumah Sakit swasta di dekat kantor. Pas di UGD, dengan kepala cenut2 saya disuruh daftar ke administrasi dulu. Dan anehnya, RS ini tidak menerima asuransi swasta karena hanya melayani BPJS.

Stigma negatif tentang BPJS (antri lama, sering dibilang penuh, pelayanan kurang) membuat saya melupakan kartu itu dan selalu menggunakan asuransi swasta.

“KTP bawa kan?” Kata mbak2 di pendaftaran pasien.

Ternyata BPJS sudah terintegrasi dengan data kTP sodara-sodara! Wah ga rugi dulu saya input data sesuai kartu penduduk itu.

Karena masih harus nunggu, dan sepertinya pendarahan masih berlangsung, saya minta untuk mendapat penanganan medis. Klo darah yang keluar bisa didonorin sih gpp, atau kalau enggak, minimal bisa saya minum lagi biar masuk ke tubuh.

Akhirnya saya mendapat jahitan. Dari dokter koas yang masih muda dan bening.

“Saya mau nyoba jahit donk mas” kata mbak dokter ke perawat yang awalnya menangani saya.

Waduh saya mau jadi beruang percobaan nih. Mau ngelarang kan ga mungkin. Berdoa aja jahitannya bener. Mau pake jelujur, tusuk rantai, tusuk tikam jejak, atau tusuk flanel terserah deh yang penting helm saya bisa dipakai lagi.

Dengan bimbingan Tuhan, arahan mas perawat, dan beberapa kali tusukan disertai rintihan pasien, mbak dokter sukses menjahit kepala saya. Setelah selesai, saya harus antri untuk disuntik anti tetanus. Takut sudut speaker yang saya jedotin berkarat. Klo dapat 24 karat sih gpp. Lumayan bisa dijual ke toko emas hehehe.

Setelah itu, balik ke administrasi dan ambil obat. Karena ga bawa kartu BPJS, saya diminta menyerahkan fotocopy KTP. Dan itu berarti harus keluar RS karena anehnya di pendaftaran ga ada mesin fotocopy -_-.

Tentu saya berharap pelayanannya bisa menyamai RS yang hanya menerima asuransi swasta.

Baru seminggu lalu saya main ke salah satu RS di Jakarta Selatan. Kaki saya menderita cantengan dan harus dilakukan ekstraksi abses dengan menyayat jempol kaki.

Dokter di RS ini menjelaskan A-Z tentang kaki cantengan saya. Penyebab, diagnosa, dan langkah-langkah medis yang akan dilakukan. Selain itu ia mengakhiri sesi “diskusi” dengan pertanyaan: “Ada lagi yang mau ditanyakan?”

Sayangnya ada harga ada rupa. RS BPJS hanya mengenakan biaya 135rb untuk jahitan kepala, sedangkan RS Asuransi Swasta men-charge saya senilai 900rb untuk cantengan di kaki.

Overall mengenai BPJS, saya cukup puas dengan penanganan yang diberikan. Cashless, cardless, data terintegrasi, dan saya cuma nunggu sekitar 5-15 menit untuk mendapat pelayanan. Dalam benak saya, pasien BPJS sering ditelantarkan dan harus sabar ngantri berjam-jam.

Bagi yang masih “alergi” dengan BPJS, coba pikir lagi: asuransi mana yang memberikan banyak sekali benefit (operasi jantung aja di cover) dan hanya meminta premi 80rb/bulan?

Bagi yang masih protes, ga mau bayar kalo ga sakit, dan koar-koar di sosmed katanya negara gagal menjamin kesehatan warganya, saya punya satu pertanyaan untuk Anda:

Mission report, 16 December, 1991.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Ingin Terdengar Cerdas Saat Bertanya? Gunakan 7 Template Pertanyaan Ini!

Saat sedang mengikuti pengajian, saya terkantuk-kantuk. Suara ustadz yang merdu mendayu-dayu, hembusan AC yang sejuk, dan empuknya kursi membuat setan dengan sukses membuat mata saya bertambah berat. Saya pun tertidur.

Ketika terbangun, pak Ustadz sudah selesai dengan ceramahnya dan waktunya sesi tanya jawab. Tapi entah kenapa, suasana hening karena ga ada yang bertanya. Daripada hening krik-krik terus dan kasihan Pak Ustadz-nya ngomong sendirian, saya iseng melontarkan pertanyaan.

Selesai acara, teman saya heran:

“Hebat banget lu Ga, abis tidur begitu bangun tiba-tiba nanya”.

Budaya kita memang bukan budaya bertanya. Padahal seperti peribahasa: malu bertanya sesat di jalan (terlalu banyak bertanya itu memalukan hehehe). Kita biasanya malu, atau justru bingung harus bertanya apa.

Saya jadi sadar, banyak dari kita perlu belajar “teknik bertanya yang cerdas”. Karena orang yang bertanya sering dianggap cerdas. Dan Anda ga perlu minum jamu tolak bala untuk jadi orang cerdas. Gunakan teknik-teknik dibawah ini untuk menghasilkan pertanyaan yang bernas.

Dengan menggunakan template ini, Anda bisa menghasilkan pertanyaan bahkan sebelum narasumber berbicara! Dan ini pasti berkontribusi positif untuk pencitraan. Anda bisa gunakan untuk menjilat atasan atau memukau gebetan hehehe.

Studi Kasus:

Jadi misalnya Anda mengikuti seminar dengan tema:

“PERAN INTERNET UNTUK PEREKONOMIAN INDONESIA DI TENGAH MASYARAKAT EKONOMI ASEAN”

Saya akan membagi ke beberapa tipe pertanyaan, yang perlu Anda perhatikan adalah jenis pertanyaan, tujuan pertanyaan, dan kata kunci (keyword) yang ditanyakan. Tapi Anda wajib menyimak materi yang disampaikan oleh narasumber. Jangan sampai kita menanyakan hal yang sudah dijelaskan, atau bertanya diluar topik yang dibicarakan.

  1. Kausatif

Pertanyaan untuk mengetahui akar masalah (root cause) suatu topik. Biasanya menggunakan kata kunci ‘Apa penyebab..’. Contoh:

“Menurut Anda, apa penyebab penetrasi internet di Indonesia masih sangat tertinggal dari negara ASEAN lain?”

  1. Eksploratif positive

Pertanyaan ekploratif positive berarti mencoba menganalisa faktor-faktor yang bisa berkontribusi positif terhadap pemecahan sebuah permasalahan. Contoh:

“Menurut Anda, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kesuksesan e-commerce Indonesia untuk bersaing dengan e-commerce dari negara-negara ASEAN seperti Singapura?”

  1. Eksploratif negatif

Kebalikan dari eksplorasi positif. Pertanyaan jenis ini melihat aspek negatif dari suatu permasalahan. Dan memunculkannya sebagai isu. Contoh:

“Menurut Anda apa saja yang harus diwaspadai pelaku usaha Indonesia untuk bersaing dalam MEA?”

  1. Komparatif

Membandingkan sesuatu dengan yang lebih sukses, selalu membuat kita kelihatan lebih cerdas. Tapi kita harus punya contoh sukses yang bisa dijadikan studi kasus. Contoh:

“Dibandingkan dengan Uni Eropa, kira-kira apa yang harus dilakukan oleh ASEAN untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi dan mengurangi ketimpangan antar anggotanya?”

  1. Prediktif

Pertanyaan prediktif berarti bicara masa depan. Biasanya ia akan membicarakan apa yang terjadi kemudian. Anda bisa bertanya

“Menurut Anda, dengan kondisi yang ada, bagaimana perekonomian ASEAN 5 tahun lagi?”

  1. Imaginatif – What If

Berisi pengandaian. Anda bisa memasukkan skenario yang belum terpikirkan. Pertanyaan ini sangat bagus untuk memancing ide-ide baru. Contoh:

“Menurut Anda, apakah MEA harus menciptakan aliansi ekonomi dengan China dan India? Jika iya, aliansi macam apa yang harusnya kita lakukan?”

  1. Solutif

Pertanyaan model ini lebih bersifat meminta saran untuk kasus yang dihadapi. Anda bisa to the point seperti:

“Menurut Anda, apa yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk mendukung kesuksesan MEA?”

Untuk lebih singkatnya bisa mengacu tabel dibawah:

Template pertanyaan
Template pertanyaan

Pertanyaan Untuk Richard Branson

Nah, dengan 7 template pertanyaan ini Anda ga perlu bingung jika suasana krik-krik, hening dan khusyuk. Dan orang hebat selalu punya pertanyaan dahsyat. Socrates dihukum mati karena mengajak orang-orang bertanya tentang hakikat hidup manusia, Galileo terus mempertanyakan apakah bumi benar-benar datar, dan Copernicus mempertanyakan kepercayaan jika matahari bergerak mengelilingi bumi.

Dalam bisnis juga begitu. Suatu hari Richard Branson, pemilik dari Virgin Group sedang mengisi sebuah seminar. Di akhir sesi tanya jawab, ada seorang pemuda yang memberikan pertanyaan-pertanyaan kritis dan berbobot. Ia merasa kualahan. Saat selesai acara ia menghubungi asistennya dan memintanya untuk bicara dengan pemuda itu, dengan harapan bisa merekrutnya menjadi pegawai dimasa depan.

Begitu terkejutnya si Richard, pemuda tadi ternyata tidak sedang mencari pekerjaan. Ia adalah Stelios Haji-Ioannou, anak taipan Yunani dan sedang mempersiapkan kelahiran Easy Jet, maskapai penerbangan yang ingin meniru kesuksesan Virgin airlines.

Memang benar, jika ingin mengetahui kejujuran seseorang, tatap matanya.

Tapi jika ingin mengetahui kecerdasan seseorang, dengarkan pertanyaannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail