Omne Ignotum Pro Magnifico

Sudah dua bulan ini saya mengikuti kelas bahasa arab. Ini sesuai dengan target dan sempat saya jadikan status pada 2013 lalu.

Nulis target ga ada ruginya loh
Nulis target ga ada ruginya loh

Alhamdulilah semuanya masih on progress. Saya sedang belajar R (salah satu software statistik) untuk bermain dengan big data sambil terus berkutat dengan marketing strategy salah satu LCC. Saya menghabiskan 30 menit setiap hari untuk membaca summary laporan keungan plus analisis teknikal perusahaan yang ingin saya invest, dan juga ga pernah berhenti takjub dengan perkembangan digital marketing serta tumbuhnya perusahaan startup.

Tapi baru tahun ini belajar bahasa arab… Dan salah satu pemicunya adalah abang Gojek.

Jadi ceritanya pada 6 April 2016 lalu, saya ada janji dengan salah satu teman di Central Park. Untuk menghemat waktu, saya naik Gojek. Saat perjalanan seperti biasa saya ajak ngobrol. Saya bertanya:

“Bang kalo abis narik gojek ngapain?”

Saya sih mikirnya jawaban standar kaya “Saya lagi ambil PhD untuk riset kalkulus integral” atau “Paling liburan ke Santorini Mas”. Oh itu ga standar ya? Tapi jawaban dia memang ga standar.

“Saya les Mas. Les bahasa Inggris”. Ia lalu menyebut salah satu lembaga kursus bahasa Inggris.

Mendengar Bapak-bapak Ojek berumur 30-an masih mau belajar bahasa Inggris itu seperti ngeliat kakek ompong masih mau makan kerupuk. Semangat banget cuk!

Saya jadi malu. Dia aja masih semangat tholabul ilmi, mencari ilmu. Saya koq malah semangat tholabul istri, mencari istri. Maaf Pipi Kentang :p! Sejak itu saya memutuskan untuk takkan pernah berhenti mencari ilmu, meski harus berjalan menembus kerak bumi, berenang mengarungi tujuh samudera, dan terbang ke langit ketujuh. Anjis pingin muntah saking lebaynya.

Usia Itu Alasan, Bukan Halangan

Dan dikelas bahasa arab, ada salah satu peserta yang menginspirasi. Namanya Pak Gatot, umur sudah hampir setengah abad. Tapi semangatnya paling hebat. Dia paling rajin datang ke kelas, tak pernah absen. Saat yang lain puas dengan 2x pertemuan seminggu saat malam, Pak Gatot juga datang di kelas akhir pekan.

Program kami memang hanya 2x seminggu selama 3 bulan untuk setiap tingkat, tapi penyelenggara membebaskan jika ingin ikut kelas pagi, malam, atau akhir pekan. Mau ikut semuanya juga boleh. Nah saking rajinnya Pak Gatot, dia bingung ketika ditanya: Antum sebenarnya kelas yang mana? Yang pasti Pak Gatot termasuk kelas mamalia.

Gara-gara Pak Gatot, saya jadi malu kalau hanya datang di kelas malam. Dia begitu semangat meski harus belajar hal dasar seperti makhrojul huruf, perkenalan dengan huruf syamsiyah qomariyah, menulis ism’, imla’, dan percakapan dasar.

Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)
Pak Gatot lagi praktik conversation (pake baju putih)

Kita sekarang hidup di zaman materealistis, dimana semuanya diukur dengan materi. Dan harta dianggap lebih penting daripada ilmu. Kita lebih semangat ikutan seminar properti, MLM, atau rahasia investasi daripada mengkaji ilmu yang berguna di akhirat nanti.

Padahal Ali ibn Abi Thalib sudah memberikan pesan: pilihlah ilmu dibanding harta. Ilmu menjaga pemiliknya, sedang harta harus dijaga oleh pemiliknya. Harta berkurang saat dibelanjakan, sedangkan ilmu semakin bertambah saat dibagikan. Dan saya percaya: jika ilmu sudah kita dapat, harta akan mendekat.

Omne ignotum pro magnifico. Segala sesuatu yang tidak kita ketahui terlihat luar biasa. Tapi percayalah, Man saaro ‘alaa darbi washola. Barang siapa berjalan pada jalannya, maka dia akan sampai pada tujuannya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *