Monthly Archives: October 2016

Mengapa Saya Adalah Pria Paling Beruntung di Dunia?

Faktanya: saya gendut, bego, jelek, dan tidak kaya.

Memiliki berat 95 kg dengan lingkar perut hampir 110 cm membuat badan saya mirip Hulk yang obesitas. Saya lebih mirip tokoh di serial Dragon Ball. Tentu bukan Son Goku atau Bezita, tapi lebih condong Majin Buu waktu belum berubah jadi versi langsing.

Muka saya juga sekilas ga mirip artis. Meski dari jauh kaya Brad Pitt, dari dekat malah jadi sandal jepit. Dari kejauhan mirip Alejandro, begitu disamperin: Muka koq bisa gitu ya ndro?.

Saya juga bukan orang pinter. Kuliah 7 tahun dan hampir kena DO dengan IPK yang perlu diinfus dan diberi nafas buatan untuk bisa lepas dari isu SARIP para HRD: Suku, Agama, Ras, dan IP. Pernah rekor memiliki IPK Nol dalam satu semester dengan 6 nilai F, dan pernah mendapat nilai E hanya karena membuat tugas akhir Ilmu PEREK-onomian dalam bentuk cerita pendek yang penuh fantasi. Saya juga pernah 3x mengulang Ekonometri dengan 3 nilai berbeda: E, D, dan C. Klo nilainya B, C, A saya pasti sudah punya bank.

Apakah saya kaya? Boro-boro. Kerja masih ikut orang. Bisa makan setiap hari saja sudah sujud syukur alhamdulilah. Disaat orang lain gonta-ganti kendaraan, saya kemana-mana gonta-ganti jalur komuter line. Saya tidak punya kendaraan bermotor sama sekali (bahkan sepeda motor). Gadget? Laptop hasil pinjeman kantor. Tabungan di Bank? hanya bisa untuk hidup bulan ini.

Sempat terbersit pikiran jujur: Apakah nanti ada perempuan yang khilaf dan mau kawin dengan saya? Apa ada yang mau hidup dengan lelaki kerdus (kere dan mbladus) kaya saya?

Secara statistik, peluang saya mendapatkan jodoh cantik hanyalah 0,0002% dengan asumsi hanya ada 1% (sekitar 500rb) wanita cantik yang bisa dinikahi dari seluruh wanita usia produktif di negeri ini.

Tapi saya beruntung karena ada bidadari yang mau menerima pinangan saya! Setelah ditolak berkali-kali! Saya beruntung karena punya istri cantik dan seksi! Tuhan memang Maha Adil. Ia tahu manusia bisa punah jika orang jelek kaya saya tidak bisa berkembang biak. Masa kawin ama tissue dan sabun?

Namanya Pipi Kentang. Saya sudah cerita banyak tentang dia. Tapi saya belum cerita kenapa dia mau menerima saya.

“Kamu itu kaya kecoak. Diinjek berkali-kali ga mati-mati”.

Rupanya dia nyerah karena saya begitu gigih memperjuangkan cintanya. Berulang kali dicuekin, diboongin, dimanfaatin, didiemin, eh masih aja coba ndeketin hehehe.

Pelajaran buat pejuang cinta: kata “Tidak” bukan berarti menolak. Coba terus sampai kamar bersalin memisahkan cinta Anda. Karena undangan yang disebar dan janur kuning yang berkibar masih bisa dikudeta dengan sangar. Hehehe tolong jangan ditiru ya.

Yang bikin saya lebih beruntung adalah, hari ini Pipi Kentang berulang tahun!

Itu berarti kesempatan untuk minta traktir sushi gratisan dan bisa sedikit melepaskan diri dari menu warteg yang itu-itu lagi. Ini juga berarti Pipi Kentang akan bertambah dewasa, dan harapan untuk bisa menua bersamanya akan menjadi semakin nyata.

Apa hadiah ulang tahunnya? ZE1YVI. Kode booking sederhana yang saya bayar kemarin sore.

Dulu saya berjanji membawanya ke tiga kota di dunia: Mekah, Praha, dan Tokyo. Insya Allah kami akan berkunjung ke negeri Sakura, untuk membuat Pipi Kentang menjadi wanita paling bahagia di dunia dan di luar angkas

Ultah 29 Oct
Ultah 29 Oct

a.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Jika Semuanya ada di Internet, Apakah kita Masih Perlu Buku?

Kemarin saya berkunjung ke Big Bad Wolf Surabaya. Itu lho, pameran buku-buku impor yang sebelumnya digelar di ICE BSD. Waktu di Jakarta, karena masalah jarak dan waktu yang memisahkan kita, saya males datang kesana. Pas pulang ke rumah ortu kali ini lha koq pas ada.

posternya
posternya

Saya datang bersama teman, si Dimas. Acaranya sendiri diadakan di Jatim Expo Center, gedung serba guna di deket Graha Pena Surabaya. Ketika saya datang Sabtu sore, suasana sudah rame. Banyak orang nenteng kantong belanjaan gede-gede penuh dengan buku.

Tapi kan sekarang abad digital, apa masih relevan membaca buku?

Anjuran ‘bacalah’ sudah ga laku dan kurang gaul. Ngapain harus cari buku (atau ebook), buka-buka halaman sambil melototin huruf kecil2 yang bikin pusing? Udah lama, ribet, eh belum tentu nemu jawabannya :D.

Mencari informasi di halaman web (entah website, blog, social media, forum dll) terbukti mampu memberikan informasi yang kita inginkan dalam hitungan detik. Sebutannya sudah ‘flash’ dan bukan lagi instant. Karena instant butuh waktu 3 menit dan 200 ml air panas. Oh klo itu memang mie instant.

Apa yang salah dengan mencari informasi lewat browsing? Toh internet sudah menjadi perpustakaan dunia yang merekam segala informasi yang ada. Pingin tahu jarak bumi ke matahari? Tinggal browsing. Pingin tahu nama latin kodok? Tinggal ketik di google. Pingin tahu judul bokep di videotron tempo hari? Ga perlu tanya tetangga. Cukup ketik keyword yang sesuai.

Terus apanya yang salah donk? Sejujurnya ga ada yang salah. Yang salah sih yang ngeracun si Mirna. Lah koq ngomongin sidang kopi.

Gathering information through browsing are great, tapi jika tidak berhati-hati setidaknya ada tiga bahaya yang mengancam para “flash information seeker” (mereka yang ingin dapat informasi dalam sekejap). Tiga advantage yang menurut saya hanya didapat lewat “deep reading” melalui buku/ebook dan membuatnya tak tergantikan oleh website.

#1 Web give you faster information, a good book give you robust information.

It is debatable. Tapi Hoax menyebar begitu cepat lewat web daripada lewat buku. Mengapa? Karena tidak ada filter informasi. Besok saya bisa menulis teori tentang cara diet menurunkan berat badan menggunakan lemak ayam lewat blog saya. Tak ada yang me-recheck apakah informasi yang saya tulis benar atau salah. Filter hanya ada di pembaca yang mempertanyakan: ini masuk akal ga?

Berbeda dengan buku. Untuk menulis sebuah buku seorang penulis harus melewati berbagai filter. Mulai dari penyunting naskah, editor, hingga penerbit yang mempertaruhkan kredibilitasnya. Konsekuensinya? Validitas bisa lebih dipertanggungjawabkan. Tapi kita juga harus hati-hati, ada penerbit abal2 yang sengaja menerbitkan buku demi mengejar keuntungan lewat sensasi.

#2 Web only surfing the surface, a good book give us deeper understanding

Ketika mencari informasi via web baik itu lewat website atau blog, penulis content akan berusaha menyajikan informasi seringkas mungkin. Karena mereka tahu jika pembaca hanya punya waktu terbatas dan tidak ada guna untuk menulis semuanya.

Implikasinya, terkadang web hanya menyentuh rangkuman permukaan. Ia tidak sempat memberikan ruang yang lebar untuk pembangunan argumen dan logika. Informasi di internet dapat menjabarkan “What” dan “How”, tapi belum tentu bisa menjelaskan “Why” dengan baik.

Contohnya saat saya ingin tahu lebih jauh tentang kapitalisme vs marxisme. Hanya mengandalkan ulasan orang di web takkan membawa pemahaman yang mendalam tanpa membaca buku-buku yang ditulis Adam Smith, Keynes, Friedman, Karl Marx, Engels dan pemikir lain-nya.

Membaca Wikipedia tentang profil seseorang tentu akan jauh berbeda dengan membaca langsung biografi yang lebih lengkap dan menyeluruh. Baca sejarah kemerdekaan Indonesia di web, tentu beda dengan membaca Indonesia Menggugat-nya Soekarno, atau Untuk Negeriku-nya Hatta.

Bahayanya jika Kita terbiasa menelan informasi secara bulat, kita tidak akan terlatih untuk bertanya: Koq bisa gitu? Metodologynya kaya apa? Kenapa bisa lahir teori seperti itu? Kenapa kejadian itu bisa terjadi? Kita hanya tahu “apa” dan “siapa”, tapi lupa mencari tahu “bagaimana” dan “kenapa”.

#3 Web give you engagement, book give you moment of silent

Web memiliki kekuatan di komunikasi dua arah antara penulis content dan juga pembaca. Keistimewaan yang tidak bisa dimiliki sebuah buku. Tapi justru disitu kelebihannya, buku menawarkan keheningan disaat pembaca meresapi materi yang sedang dibacanya. Sifat komunikasi yang dibangun hanya searah membuat pembaca harus menginterpretasi informasi yang masuk dalam dialog diri yang penuh dengan rasa sunyi.

Buku adalah sebuah kapal selam. Ia mengajak pembacanya untuk berpikir lebih dalam, lebih jauh, dan berusaha menyentuh subtansi pengetahuan. Buku yang baik bukan hanya kaya akan informasi, tapi juga mengajak pembacanya bertanya: mengapa ini bisa terjadi? Sebuah perjalanan pikiran yang agak susah ditandingi oleh artikel website yang hanya punya 1000-2000 kata per postingnya.

Kematian Buku?

Sayangnya minat baca Indonesia masih diurutan 60 dari 61 negara berdasarkan hasil survey oleh Central Connecticut State University. Saya sedih sekaligus bersyukur. Sedih karena berarti kualitas pendidikan kita tertinggal jauh, tapi juga bersyukur sambil positive thingking: jangan-jangan masyarakat kita sudah jadi masyarakat multimedia?.

Karena hidup di abad 21 berarti menambah pilihan informasi. Toh Internet, buku/ebook, audiobook, video, dll hanyalah medium penyampaian informasi. Semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saya sendiri percaya buku akan semakin digusur oleh ebook.

Yang penting kita harus menjadi manusia pembelajar. Manusia yang tak pernah lelah bertanya, mencari pengetahuan, dan menyebarkan ilmu untuk kebaikan kemanusiaan. Dan kebetulan, salah satu cara termudah mencari pengetahuan adalah dengan membaca. Karena itulah firman Tuhan yang pertama adalah “bacalah”, dan bukan “tontonlah”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Peran Iphone dibalik Hits PPAP

Saya berani bertaruh jika mayoritas dari kita sudah melihat video PPAP.

ppapVideo 1 menit yang menampilkan seorang laki-laki dengan gaya kuning yang ngejreng berlatar background putih sedang bernyanyi tentang apple + pen, dan pineapple + pen ini berhasil menyita perhatian netizen dan telah ditonton lebih dari 5 juta dalam 2 minggu.

Demi apa, Cuma video gini doank bisa ngetop? Sedangkan youtubers lain yang sudah ngepet siang malam shooting sambil begadang edit sana pake mandi 8 kembang masih aja viewers-nya ga seberapa.

Apa rahasianya? Kenapa ada content yang mudah diingat dan menancap di kepala penontonnya?

Stickyness Factor

Chip Heath dan Dan Heath dalam Made to Stick sudah menjelaskan tentang rahasia menjadikan ide lebih mudah diingat. Kita dapat menggunakan 6 kriteria yang disebut SUCCESS.

Simple – sampaikan pesan secara sederhana

Unexpected – berikan hal yang tak terduga

Concret – gunakan pendekatan yang nyata, jangan mengawang-awang

Credible – pastikan penyebar pesan dapat dipercaya

Emotional – sisipkan aspek emosi manusia

Stories – jadikan sebuah cerita, bukan ceramah

Dalam kasus PPAP, video itu hanya memenuhi beberapa kriteria Sticky. Ia simple, hanya 1 menit. Apakah ada unexpected factor? Bisa ya bisa tidak. Awalnya saya kira akan terjadi sesuatu. Tapi overall effect surprise-nya tidak mencolok.

PPAP tidak memiliki aspek emosional yang berarti, hanya menghibur bagi sebagian orang. Ada yang merasa jengkel. PPAP Juga bukan sebuah video dengan stories yang mengalir. Mungkin ia concrete, karena menunjukkan pena, apel, dan buah nanas.

Lantas, apa yang menjadikan video ini begitu hits?

Trigger

Saya menemukan dugaan jawabannya setelah membaca buku karya murid Heath bersaudara. Mahasiswa itu, Jonah Berger, terinspirasi oleh Made to Stick lalu menulis buku berjudul Contagious. Ia penasaran dan ingin mengetahui wabah “getok tular”. Kenapa sesuatu bisa lebih mewabah dan menjadi trend.

Berdasarkan riset bertahun-tahun yang ia lakukan atas video yang lebih sering ditonton, artikel yang paling sering dibagikan, dan berbagai fenomena sosial yang menjadi trend, terdapat 6 kriteria getok tular yang efektif. Diringkas menjadi Stepps. Yaitu:

Social curreny – sebuah trend harus memiliki mata uang sosial, yang membuat penyebar pesannya memiliki nilai lebih

Trigger – tahukah Anda jika penjualan coklat Mars meningkat saat misi pathfinder NASA diluncurkan? Coba tebak kemana tujuan misi itu? Tepat sekali, planet Mars.

Emotion – Content yang paling sering dibagikan di internet bukanlah tentang kekayaan, tapi kemanusiaan.

Public – manusia akan meniru manusia lain. gagasan kita harus dibuat seumum mungkin

Practical value – berdasarkan insight dari mobile conference yang saya ikuti, 87% content yang disukai adalah content dengan nilai praktis atau “how to”. Demikian juga dengan buku non fiksi laris.

Story – manusia menceritakan cerita. Semua propaganda harus dibentuk dalam cerita.

Nah, setelah melihat 6 faktor diatas saya percaya kesuksesan PPAP ditolong oleh trigger sebuah product yang sedang booming: Iphone. Tak percaya? Mari kita lihat datanya.

Iphone dan PPAP

Lewat google trend kita bisa melihat jumlah keyword yang diketik di google, terutama youtube. Dan saat saya memasukkan keyword iphone, apple, dan ppap di Jepang (tempat video ini berasal), jawaban itu terkuak.

Highlight kuning adalah saat PPAP di launch
Highlight kuning adalah saat PPAP di launch

Saat PPAP dirilis terjadi lonjakan search untuk keyword iphone dan juga apple (yang saya highlight kuning). Mengapa? Hipotesis saya: PPAP menggunakan kata ‘apple pen’ dan men-trigger apple fansboy bertanya-tanya. Mungkinkah Apple mengeluarkan produk pen terbaru?

Para fansboy apple ini kemudian menemukan video unexpected yang diluar dugaan mereka (awalnya mengira produk apple pen dan ternyata literally benar-benar apple dan pen), lalu kemudian menyebarkannya ke orang lain.

“Hey lihat, ada ‘apple pen’ terbaru!” Disini peran social currency berperan. Anda akan dianggap keren karena update informasi tapi juga berjasa karena menyebarkan konten yang menghibur.

The rest is history. PPAP menjadi hits dan meme icon diseluruh dunia. Bagaimana dengan Indonesia? Seperti biasa, kita adalah follower. Search term PPAP baru naik beberapa hari terakhir saat di Jepang sudah menunjukkan penurunan.

baru hits beberapa hari terakhir
baru hits beberapa hari terakhir

Ya gak papa sih. At least kita ga ikut-ikutan nyari judul JAV yang ada di videotron beberapa hari yang lalu hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Six Sigma Ways of Getting Richer

I just finished my green belt lean six sigma training. What is six sigma? Is it kamasutra sex training? What is green belt? Did I attend aikido training? Did I train for go green campaign?

green-belt-sertificate

Basically six sigma is a way of thinking. It’s the recipe on why some company could create world class product with zero defect. Ok, to make it simple lets use real practice. Imagine yourself. All of us want to get rich. But how? Let’s use six sigma approach.

DMAIC

Six sigma starts from defining our problem and goal, measuring it, analyzing which critical factor that can be improved, implementing change, and controling the impact. Define-Measure-Analyze-Implement-Control. DMAIC.

In that case, first we must define what is our problem and what is our goal. Our problem is being poor and our goal is becoming rich. Then we must define, how poor is our current condition? How rich we want to be? Write it down. For example:

Current condition: We have 10 mio IDR debts

Goal condition: We will have 1 bio IDR assets

Between current condition and expected goal there is a gap. How to fill the gap? We need a strategy. The beauty of six sigma is learning how to specify the improvement process, and break it down into small improvement project. Remember Pareto principle, there is 20% factor which contributes to 80% effect.

We all know that to be richer, there are two approaches:

#1 Getting more assets

#2 Reducing liabilities

Since it’s a broad subject, then we must choose which area that we want to improve. Lets say since we are still working 9 to 5, getting new asset will be harder. So lets choose reducing liabilities option. At least we will have more money to save and buy assets. Now, what kind of liabilities?

Specify it, Measure it

Which liabilities that we want to cut? We have to break it down into more detail aspects. For example in liabilities there is mortgage, credit card bills, daily consumption, transportation, and etc.

How to know which one to save? The only way is by asking the data. We must collect all of spending data and then make a decision based on it. So for example, we start writing down all of expenses in the past 30 days and suddenly find out that 30% of liabilities come from credit card payment. How come?

Then we find out that 50% of credit card bills are coming from restaurant and bar merchant. We realize that even though we make our own cook, sometimes it’s nice to chill out with friend in fancy hangout places. We also find out that we spend 30% for ecommerce since we are always tempted by “discounted fashion apparel online” regularly. Aha, there is potential area of improvement!

So if we write down the function of credit card consumption, the number will be:

Break down liabilities
Break down liabilities

Our project will be:

“How to reduce credit card liabilities from 30% into 18%?”

We know change is easy to say but hard to do. Change is not just applying technical aspect but it is also about human touch. 90% of change is failed because people are resistant for change. Using threat opportunity matrix we could try to convince ourselves on urgency of changes:

thread-opportunityChange what you can change

From the liabilities tree above, it turns out that restaurant and ecommerce posts contribute 80% of the bills. Can we reduce the restaurant and ecommerce expenses till zero? It seems impossible. So, do what we can do. Change what we can change. The most important thing: we must create improvement. So lets say we list down 7 possible actions to reduce credit card bills:

  1. Changing the hangout places
  2. Creating shopping list before browsing on ecommerce site
  3. Writing down reminder in laptop desk: “Reduce Your Bills, Save Your Money”
  4. Blocking ecommerce site in our laptop and mobile
  5. Saying goodbye to our lovely friends and never hang out in restaurant again
  6. Ordering cheaper foods during hang out
  7. Cutting our credit card … physically!

Hmmm how to choose which action we must take? We can use impact matrix. Categorize it based on effort and impact.

effort-impact-matrix

From metrix above It’s better to choose the red box (low effort-high impact) since those actions are easier to do but have impactful outcomes. The rule of thumb: choose the highest impactful actions (red and green box).

Okay, now we know what we want to do. So let’s do it. Creating shopping list and never buy “out of list” stuff, writing down reminder in our desk and of course choosing cheaper food like salad while we are hanging out.

All we have to do is to make it new habit or standard. Implement and control new ‘policy’, then measure it at the end of the period to measure the impacts. If our credit card liabilities drop untill 18% of all liabilities, that means we are success in achieving our goal. If don’t, look at the reasons. Why it can’t be implemented? And how to change it? Because life is a continuous change.

Remember the Holy Prophet Muhammad says:

“Do you know who is luckiest man? He is a person whose today is better than yesterday, and whose tomorrow is better than today”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail