Mengapa Saya Adalah Pria Paling Beruntung di Dunia?

Faktanya: saya gendut, bego, jelek, dan tidak kaya.

Memiliki berat 95 kg dengan lingkar perut hampir 110 cm membuat badan saya mirip Hulk yang obesitas. Saya lebih mirip tokoh di serial Dragon Ball. Tentu bukan Son Goku atau Bezita, tapi lebih condong Majin Buu waktu belum berubah jadi versi langsing.

Muka saya juga sekilas ga mirip artis. Meski dari jauh kaya Brad Pitt, dari dekat malah jadi sandal jepit. Dari kejauhan mirip Alejandro, begitu disamperin: Muka koq bisa gitu ya ndro?.

Saya juga bukan orang pinter. Kuliah 7 tahun dan hampir kena DO dengan IPK yang perlu diinfus dan diberi nafas buatan untuk bisa lepas dari isu SARIP para HRD: Suku, Agama, Ras, dan IP. Pernah rekor memiliki IPK Nol dalam satu semester dengan 6 nilai F, dan pernah mendapat nilai E hanya karena membuat tugas akhir Ilmu PEREK-onomian dalam bentuk cerita pendek yang penuh fantasi. Saya juga pernah 3x mengulang Ekonometri dengan 3 nilai berbeda: E, D, dan C. Klo nilainya B, C, A saya pasti sudah punya bank.

Apakah saya kaya? Boro-boro. Kerja masih ikut orang. Bisa makan setiap hari saja sudah sujud syukur alhamdulilah. Disaat orang lain gonta-ganti kendaraan, saya kemana-mana gonta-ganti jalur komuter line. Saya tidak punya kendaraan bermotor sama sekali (bahkan sepeda motor). Gadget? Laptop hasil pinjeman kantor. Tabungan di Bank? hanya bisa untuk hidup bulan ini.

Sempat terbersit pikiran jujur: Apakah nanti ada perempuan yang khilaf dan mau kawin dengan saya? Apa ada yang mau hidup dengan lelaki kerdus (kere dan mbladus) kaya saya?

Secara statistik, peluang saya mendapatkan jodoh cantik hanyalah 0,0002% dengan asumsi hanya ada 1% (sekitar 500rb) wanita cantik yang bisa dinikahi dari seluruh wanita usia produktif di negeri ini.

Tapi saya beruntung karena ada bidadari yang mau menerima pinangan saya! Setelah ditolak berkali-kali! Saya beruntung karena punya istri cantik dan seksi! Tuhan memang Maha Adil. Ia tahu manusia bisa punah jika orang jelek kaya saya tidak bisa berkembang biak. Masa kawin ama tissue dan sabun?

Namanya Pipi Kentang. Saya sudah cerita banyak tentang dia. Tapi saya belum cerita kenapa dia mau menerima saya.

“Kamu itu kaya kecoak. Diinjek berkali-kali ga mati-mati”.

Rupanya dia nyerah karena saya begitu gigih memperjuangkan cintanya. Berulang kali dicuekin, diboongin, dimanfaatin, didiemin, eh masih aja coba ndeketin hehehe.

Pelajaran buat pejuang cinta: kata “Tidak” bukan berarti menolak. Coba terus sampai kamar bersalin memisahkan cinta Anda. Karena undangan yang disebar dan janur kuning yang berkibar masih bisa dikudeta dengan sangar. Hehehe tolong jangan ditiru ya.

Yang bikin saya lebih beruntung adalah, hari ini Pipi Kentang berulang tahun!

Itu berarti kesempatan untuk minta traktir sushi gratisan dan bisa sedikit melepaskan diri dari menu warteg yang itu-itu lagi. Ini juga berarti Pipi Kentang akan bertambah dewasa, dan harapan untuk bisa menua bersamanya akan menjadi semakin nyata.

Apa hadiah ulang tahunnya? ZE1YVI. Kode booking sederhana yang saya bayar kemarin sore.

Dulu saya berjanji membawanya ke tiga kota di dunia: Mekah, Praha, dan Tokyo. Insya Allah kami akan berkunjung ke negeri Sakura, untuk membuat Pipi Kentang menjadi wanita paling bahagia di dunia dan di luar angkas

Ultah 29 Oct
Ultah 29 Oct

a.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *