Monthly Archives: November 2016

Kenapa Semakin Tinggi Gaji Kita, Semakin Tinggi Hutang Kita?

source: postimg.org
source: postimg.org

Beberapa waktu lalu saya meeting dengan salah satu perusahaan penyedia kredit tanpa agunan. Mereka beroperasi di mall-mall dan bekerja sama dengan toko-toko besar. Lewat jasa mereka, Anda bisa mendapatkan kredit dengan mudah dan membawa pulang peralatan elektronik atau rumah tangga dengan uang muka yang ringan.

Iseng-iseng saya tanya, barang apa sih yang paling diminati oleh konsumen Indonesia. Jawabannya membuat saya heran: handphone dan gadget.

Berdasarkan data mereka, masyarakat kita tergolong konsumen yang selalu up to date untuk urusan gawai elektronik. Setiap ada model baru, konsumen sudah mengantri. Handphone yang dipakai juga berganti-ganti. Kasarannya: jika Amerika baru rilis Iphone 7, konsumen kita sudah siap membeli iphone 8.

Ada dua hal yang membuat saya heran. Pertama, kenapa banyak orang mengambil kredit konsumsi dengan bunga lumayan tinggi hanya untuk sebuah gadget? Ini kredit tanpa agunan loh, risiko tinggi akan di transfer dengan cost of capital yang lebih tinggi.

Kedua, bukankah gadget canggih nan mahal bukanlah kebutuhan primer? Di zaman sekarang komunikasi memang menjadi kebutuhan utama, tapi kan bisa beli handphone second atau yang ga terlalu mahal. Toh handphone 4G sudah banyak yang dijual dengan harga terjangkau.

Logika bego saya sih, untuk apa ngutang untuk sesuatu yang ga mengancam nyawa kita. Ngutang karena kelaparan atau butuh biaya berobat masih bisa saya terima, tapi ngutang demi beli handphone???

Balapan Tikus

Saya kemudian teringat petuah Kiyosaki yang saya baca sewaktu SMA. Ia memberikan penjelasan kenapa banyak orang bergaji tinggi, tapi hutangnya lebih tinggi. Ini adalah rahasia kenapa banyak orang kaya tambah kaya, dan banyak kelas menengah tidak naik jadi orang kaya.

Contohlah si A yang baru lulus kuliah dan kemudian bekerja. Sewaktu single pendapatannya pas-pasan. Ia hidup ngekos dan naik angkutan umum. Karena rajin bekerja, ia dipromosikan jadi manajer dan mendapat gaji tinggi. Ia lalu merasa manajer takkan afdol tanpa memiliki mobil pribadi. Akhirnya ia membeli mobil dengan harapan bisa mencicil dari gaji-nya setiap bulan.

Tak lama berselang ia bertemu wanita pujaan hatinya. Mereka menikah dan memutuskan membeli rumah mungil. Sampai disini sepertinya hidup A akan bahagia selamanya. Tapi mereka lalu memiliki anak, dan rumah mungil itu sudah terlalu kecil bagi mereka.

Kabar baik, A dipromosikan jadi general manajer dan pendapatannya naik lagi. Istrinya melahirkan anak kedua. Mereka lalu menjual rumah pertama untuk uang muka rumah yang lebih besar, dan mengkredit mobil kedua untuk menunjang mobilitas istrinya yang mulai sibuk ikut arisan.

Ketika A akhirnya menjadi direktur, ia pindah ke rumah mewah yang merepresentasikan citranya sebagai orang sukses, berganti mobil sport dengan harga miliaran, dan tak lupa mengikuti kenggotaan klub golf bergengsi untuk menambah pergaulan.

Kira-kira, apakah Pak A akan pensiun dengan asset miliaran atau hutang yang belum lunas hingga ia harus memperpanjang masa pensiunnya? Eits jangan lupa, anak-anaknya mulai dewasa dan butuh biaya kuliah.

Harta belum tentu asset

Pelajaran dari cerita diatas: kita seringkali tidak bisa membedakan asset (harta) vs liabilitas (kewajiban), dan terjebak dalam balapan tikus guna melunasi hutang sepanjang hidup. Masa sih, hidup hanya bekerja mengejar gaji untuk melunasi hutang esok hari?

Seperti si A, ia terjebak untuk membeli asset yang sebenarnya adalah sebuah liabilitas. Dalam akuntansi tradisional, setiap harta adalah asset kita. Tapi tidak menurut Kiyosaki. Ia mengusulkan definisi baru: asset adalah segala sesuatu yang mendatangkan pemasukan.

Dengan definisi itu, rumah yang kita tempati bukanlah asset (karena ada biaya pemeliharaan), kecuali kita sewakan. Mobil yang kita kendarai bukanlah asset (jika hanya untuk keperluan pribadi), kecuali kita gunakan untuk taksi online.

Handphone yang kita miliki bukanlah asset (karena ada depresiasi), kecuali kita sewakan atau perjual belikan.Uang tabungan di bank bukanlah asset (karena inflasi seringkali lebih tinggi daripada bunga), kecuali kita investasikan dalam bentuk lain.

Masalahnya kita berbondong-bondong membeli liabilitas yang dibalut jubah sebuah asset. Inilah yang membuat kelas menengah tak beranjak menjadi orang kaya. Dan ini yang membuat orang kaya, menjadi semakin kaya.

Mereka tahu apa itu asset. Oleh karena itu mereka hidup sewajarnya, membelanjakan uangnya untuk pendidikan, mendirikan usaha, berani berinvestasi, memelihara kesehatan, berpikiran positif, dan terus menyebarkan kebaikan sebelum nanti berpulang kepada Tuhan.

Mereka tahu “gaya hidup” tidak akan semahal “hidup gaya”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail