Monthly Archives: January 2017

#60 Effort justification: Kenapa kita menyukai sesuatu yang didapatkan dengan susah

Pada awal 2014 dunia dikejutkan dengan game mobile yang dibuat developer Vietnam. Flappy Bird sempat menjadi games gratisan yang paling banyak didownload di Apps store. Memberi pendapatan 50.000 dollar per hari kepada Dong Nguyen si developer.

Game itu begitu digandrungi netizen hanya karena satu alasan: sangat susah dimainkan!. Salah satu bentuk kepuasan yang berasal dari effort justification.

Contoh lainnya, kenapa kita sering beranggapan jika masakan diluar tidak seenak masakan kita sendiri? Karena saat memasak sendiri, kita menghabiskan banyak upaya yang melelahkan. Otak kita lalu meresponnya dengan memberikan kepuasan yang lebih tinggi.

Itulah effort justification. Jika kita menghabiskan banyak upaya untuk melakukan/mendapatkan sesuatu, kita cenderung menghargainya lebih. Sama saat kita menyukai sweater rajutan tangan sendiri dibandingkan sweater hasil pabrikan. Atau saat reuni SMA, teman yang kuliah di kedokteran akan dipandang terhormat karena satu alasan: Sekolah dokter itu susah! (dan mahal).

Effort justification dapat menghasilkan penilaian yang bias. Seorang manajer yang menghabiskan banyak waktu dalam sebuah project, tidak akan mampu memberikan penilaian objektif terhadap project itu. Penulis yang menghabiskan waktu tahunan untuk satu buku, akan menganggap buku itu sebagai mahakarya masterpiece. Sutradara yang melakukan shooting dengan budget trilyunan, akan percaya filmnya punya kualitas Oscar.

Pemasar menggunakan effort justification untuk memanipulasi orang lain. Mereka menciptakan tantangan, dan tidak memberi reward terlalu mudah. IKEA meminta konsumennya merakit sendiri untuk menghemat space dan terbukti menghasilkan kepuasan bagi pelanggannya (hey ini rakitanku loh!).

Ketika pertama kali diperkenalkan di Amerika, tepung cake instant dibenci ibu-ibu. Kenapa? Karena terlalu mudah. Produsen lalu memberikan tantangan dengan mewajibkan sang Ibu untuk menyiapkan telur dan mentega secara terpisah.

Demikian juga dengan jodoh. Lawan jenis yang sulit “ditaklukkan” justru malah bikin penasaran. Tapi kalo tampang kita pas-pasan ya ga usah sok jual mahal dan memanfaatkan effort justification. Ada yang mau nawar aja sudah syukur hehehe.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#59 Information bias: Terlalu banyak informasi belum tentu baik

Kemarin saya meeting dengan salah satu media yang sedang berkembang menjadi research agency. Ia menawarkan analisa terhadap data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) yang dilakukan BPS. Ternyata, Susenas adalah tambang emas untuk menggali informasi prilaku ekonomi masyarakat.

Dalam Susenas ada data kependudukan, demografi keluarga, pendidikan, kesehatan, tenaga kerja, pendapatan, pola konsumsi, dan seabrek data lainnya. Nah masalahnya, bagaimana cara memanfaatkan data Susenas ini?

Karena memiliki terlalu banyak informasi terkadang menghasilkan information bias. Jutaan data perilaku konsumsi masyarakat takkan berarti apa-apa jika tidak mampu memilah mana yang penting dan mana yang harus dibuang.

Kita harus mampu mengolah informasi menjadi data insight, dan pada akhirnya menjadi keputusan. Seorang analis yang baik harus mampu memisahkan data penting dan information noise (informasi yang tidak relevan dalam proses analisa).

Information bias bisa menghasilkan information paralysis, ketidakmampuan mengambil tindakan karena terlalu banyaknya informasi yang masuk. Ini seperti belajar menjelang ujian sekolah. Jika besok adalah ujian bahasa Inggris, dan Anda malah belajar sejarah. Maka usaha Anda untuk menghafal isi perjanjian Linggarjati menjadi agak mubadzir.

Intinya bukan pada banyak-sedikitnya informasi yang kita ketahui. Tapi relevansi tidaknya informasi yang kita ketahui untuk pengambilan keputusan. Sebagai bonus, bisakah Anda menjawab pertanyaan ini (coba pisahkan mana informasi yang relevan dan tidak):

Fredy, Cindy, dan Sandy masing-masing memiliki 2 ekor hewan peliharaan. Fredy menyukai Cindy, dan Sandy sebenarnya menaruh hati pada Fredy. Salah satu dari mereka tidak memelihara anjing. Mereka bertemu dalam kelompok penyayang binatang. Cindy satu-satunya yang memelihara kucing Persia. Dibeli saat pameran kucing di tengah kota.

Rumah Fredy dan Cindy hanya berjarak 200 m. Sedangkan rumah Sandy ke Fredy berjarak 2 km. Sandy memelihara anjing kintamani. Hadiah dari Fredy saat berlibur ke Bali. Mereka bertiga sering hangout bersama ke kebun binatang. Fredy dan Cindy juga masing-masing memelihara kelinci. Fredy punya kelinci New Zealand White sedangkan Cindy memelihara kelinci Satin.

Nah pertanyaannya, siapakah yang memelihara kura-kura?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Untuk Anakku yang Bukan Anakku

Yoda sayang,

Delapan bulan lagi, Insya Allah kau akan lahir ke dunia. Bagaimana kabarmu di alam sana? Semoga kasih sayang Ibumu bisa menghangatkanmu di dalam rahim. Dalam bahasa Arab, Rahim berarti pengasih. Karena kasih dan sayang adalah dua kekuatan terbesar yang dimiliki umat manusia. Karena itu juga kita diajarkan menyebut nama Tuhan yang Maha Pengasih.

Kabar kehidupanmu sempat mengagetkanku. Antara senang dan khawatir. Senang karena berarti saya ternyata tidak mandul. Hahaha. Khawatir, karena takut jika tidak bisa menjadi Bapak yang baik. Eh jangan salah, jadi orang tua itu susah! Harus bisa menjadi role model dan juga fasilitator tumbuh kembang sang anak.

Hubungan darah orang tua-anak adalah sebuah hubungan yang bersifat stokastik. Sebuah kejadian acak yang menjadi rahasia pencipta. Kamu tidak bisa memilih orang tua. Saya tidak bisa memilih anak. Kita terima dan jalani saja scenario yang ada. Pasti ada rahasia dari jalan kehidupan yang telah digariskan.

Karena itulah, saat kamu lahir nanti, saya akan berusaha menjadi fasilitator yang baik. Membesarkanmu, melindungimu, dan mengajarimu. Untuk point terakhirlah saya akan mulai memulai menulis surat-surat ini untukmu.

Karena saya merasa, sangat jarang seorang Bapak yang menuliskan pelajaran hidup kepada anaknya. Dulu waktu SMA saya pernah membaca “Surat seorang usahawan kepada anaknya”. Isinya berisi pengetahuan bisnis yang disarikan dari pengalaman sang Bapak agar sang anak bisa menjadi manusia yang lebih baik.

Ketika kamu dewasa nanti, zaman pasti berubah. Mungkin sudah booming nano technology, atau manusia sudah bisa membangun koloni di Mars. Tapi ada yang tak pernah berubah: nilai-nilai kebaikan. Kejujuran akan tetap dicari, kerja keras akan tetap dihargai, cinta kasih akan terus dijunjung tinggi, dan iman akan terus diperjuangkan hingga mati.

Yoda calon anakku,

Saya percaya, anak itu amanah, titipan dari Tuhan untuk kelangsungan kemanusiaan. Karena itu juga, kamu itu sebenarnya bukan anakku. Kamu adalah anak zamanmu. Ada tujuan besar yang sedang diamanahkan Tuhan kepadamu.

Pesanku: temukan jalanmu. Dengarkan hati kecilmu. Jangan hidup dalam sudut pandang orang lain yang mendiktemu. Tuhan akan mengirimkan tanda untuk membimbingmu dan menyelesaikan tugas muliamu.

Alhamdulilah positif
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#58 Stage Migration: Bagaimana cara mempermainkan nilai rata-rata

Misalnya Anda baru ditunjuk sebagai CEO perusahaan sekuritas. Ada 2 fund manager, si A dan B yang melapor kepada Anda. Si A mengurusi klien super kaya, sedangkan B memanage klien biasa-biasa saja.

Pemegang saham meminta Anda menaikkan nilai rata-rata asset dari kedua grup itu (si kaya dan biasa saja). Jika berhasil, Anda akan mendapatkan bonus lumayan. Kira-kira bagaimana caranya?

Kita bisa menggunakan cara stage migration. Memindahkan salah satu klien cukup kaya di grup A ke grup B. Pada akhirnya nilai rata-rata kedua grup akan naik! Ga percaya?

Misal grup A ada 5 nasabah dengan asset: 100 milyar, 75 milyar, 50 milyar, 40 milyar, 30 milyar. Rata-rata assetnya 59 milyar.

Sedangkan di grup B ada 5 nasabah dengan asset: 500 juta, 475 juta, 450 juta, 490 juta, dan 480 juta. Rata-rata assetnya 479 juta.

Jika kita memindahkan salah satu klien A dengan asset 30 milyar ke grup B. Maka nilai average asset grup A akan naik menjadi 66 milyar sedangkan grub B akan naik jadi 5,3 milyar. Selamat! Anda mendapat bonus!.

Stage migration bisa kita gunakan untuk manajemen personalia. Misalnya Anda adalah regional sales dari sebuah pabrikan otomotif. Ada dua dealer dengan total 6 orang sales. Sales 1,2,3 di dealer A, dan sales 4,5,6 di dealer B.

Misal sales no 1 menjual 1 mobile per minggu, no 2 menjual 2 mobil, dan seterusnya sampai sales no 6 menjual 6 mobil per minggu. Jika dirata-rata dealer A menjual 2 mobil, sedang dealer B menjual 5 mobil.

Anda bisa menerapkan stage migration dengan mentransfer sales no 4 ke dealer A. Rata-rata penjualan dealer A akan naik jadi 2,5 sedangkan dealer B akan menjadi 5,5.

Pelajarannya, hati-hatilah saat mendengar laporan kenaikan rata-rata. Periksa metodologinya, cek sumber datanya. Jangan-jangan itu hanya permainan statistic belaka.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#56 Motivation crowding: Kenapa terkadang uang adalah insentif yang buruk

Misalnya Anda sedang menyetir di jalan menuju kantor. Tiba-tiba terlihat teman Anda sedang menunggu angkot di pinggir jalan. Anda berhenti dan menawarkan tumpangan sampai kantor. Begitu sampai, teman Anda tak lupa mengucapkan terima kasih sambil menyodorkan uang 5 ribu, pengganti ongkos angkot.

Apa yang terjadi? Mayoritas dari kita pasti menolak uang itu karena tidak mau disamakan dengan angkot. Kita memberikan tumpangan dengan tulus, dan adanya “uang bensin” justru merusak semuanya. Inilah yang disebut sebagai motivation crowding, dimana insentif moneter justru menurunkan intrinsic motivation.

Bruno Frey dari University of Zurich pernah meneliti tentang penerimaan penduduk di salah satu desa (Wolfenschiessen), terhadap limbah radioaktif. Dalam community meeting, ternyata 50,8% penduduk menerima. Dengan alasan kebanggaan nasional, dan obligasi moral membantu sesama.

Di kesempatan kedua, diadakan survey dengan satu insentif tambahan: setiap penduduk akan mendapatkan $ 5000 yang dibayarkan dari pajak. Hasilnya, tingkat penerimaan justru turun hingga 24,6% saja!.

Dalam buku Freakonomics juga terdapat contoh kasus motivation crowding penitipan anak. Karena banyak orang tua yang terlambat mengambil anaknya di sore hari, diberlakukan denda. Ternyata karena ada denda ini, justru semakin banyak orang tua yang sengaja terlambat. Toh, mereka tinggal membayar denda!.

Intinya, ada banyak motivasi non-moneter yang menggerakkan manusia. Karena hidup tidak cuma mencari materi. Beranggapan jika insentif moneter bisa mengendalikan prilaku manusia hampir sama dengan menaikkan gaji pejabat dan bertaruh mereka tidak akan korupsi.

Karena itu juga banyak orang resign meski punya gaji megah dan fasilitas berlimpah, demi mengejar passion atau panggilan jiwa. Toh untuk apa jadi kaya jika tidak bahagia?

Steve Jobs, pendiri Apple, tahu tentang motivasi intrinsic ini. Ketika ingin membajak John Sculley, CEO Pepsi untuk bergabung dengan Apple, ia hanya mengajukan satu pertanyaan singkat:

“Apakah kamu ingin menjual air gula seumur hidupmu atau ingin mengubah dunia?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#53 Decision fatigue: Kenapa rapat marathon sangat tidak produktif

Misalnya Anda adalah seorang founder startup dan sedang mencari investor. Anda sudah menghubungi beberapa venture capital. Akhirnya pada suatu hari, ada balasan dari salah satu VC. Mereka memberikan waktu1 jam untuk mempresentasikan proposal bisnis.

Masalahnya, ada 3 pilihan jam presentasi: jam 8 pagi, jam 12 siang, dan jam 4 sore. Kira-kira mana waktu yang terbaik?

Sebaiknya Anda memilih pagi. Pilihan jam menjadi krusial karena berpengaruh pada proses pengambilan keputusan. Karena ada decision fatigue. Orang yang lelah, akan menghasilkan keputusan yang tidak optimum.

Penelitian dari Danziger et al (2010) menunjukkan hal itu. Menggunakan 1.112 keputusan juri di Israel, mereka menemukan korelasi antara jam sidang dan kemungkinan banding diterima. Anda bisa membacanya dalam jurnal “Extraneous factors in Judicial Review”.

Misalnya dalam sehari ada persidangan pengajuan banding untuk 4 kasus:

  1. Orang Arab Yahudi yang dihukum karena penipuan (jam 8.50 pagi)
  2. Orang Israel yang dihukum karena penyerangan (jam 1.27 siang)
  3. Orang Arab Yahudi yang dihukum karena penyerangan (jam 3.10 sore)
  4. Orang Israel yang dihukum karena penipuan (jam 4.35 sore)

Ternyata hakim lebih menerima pengajuan banding saat sidang dilakukan di pagi hari (hingga 65%). Kenapa? Karena mereka masih fresh. Mampu menganalisa dengan jernih, dan berani mengambil keputusan. Semakin lama, decision fatigue mulai menyerang. Juri akan mengambil langkah aman dengan menolak keputusan banding.

Sekarang Anda bisa mengerti kenapa hakim menerima tuntutan jaksa di sidang kopi maut Jessica kan? Sidang yang melelahkan dan berlangsung hingga malam terbukti sangat bisa menghasilkan keputusan bias (tentu hakim punya pertimbangan sendiri untuk vonisnya, yang jelas sidang dalam waktu panjang rentan menghasilkan decision fatigue).

Karena itu juga sidang marathon yang dilakukan anggota Dewan menjadi sangat tidak produktif. Ada banyak Undang-Undang yang harus direvisi oleh MK (menurut data 2012, lebih dari 29% UU harus di judicial review).

Bagaimana menguranginya? Siapkan camilan penambah gula darah, dan sering-seringlah beristirahat. Mulailah di pagi hari, tentukan agenda yang ingin dicapai, dan bagilah dalam beberapa sesi. Semakin efisien sebuah rapat, semakin cepat keputusan diambil, dan semakin kecil risiko terkena decision fatigue.

Decide less – decide better.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#52 Power of Justification : Kenapa kita suka mencari alasan

Sedang antri panjang dan ingin menyerobot dengan cara sopan? Mudah. Cukup gunakan kata ajaib “karena”. Ciptakan alasan yang valid dan komunikasikan dengan asertif.

Psikolog Harvard Ellen Langer pernah mencobanya. Menggunakan antrian fotokopi di perpustakaan, ia mencoba menggunakan dua pendekatan untuk membujuk orang didepannya.

“Excuse me, I have five pages. May I use the Xerox machine?” success rate hanya 60%. Klo situ punya 5 halaman untuk di fotokopi, so what gitu loh? (anjir bahasa millennium).
Ia lalu merubah pendekatannya.

“Excuse me, I have five pages. May I use the Xerox machine? Because I’m in rush” ternyata 94% orang akan mempersilakannya untuk duluan.

Itulah kesaktian alasan. Karena manusia membutuhkan justifikasi untuk tindakan yang ia lakukan. Jika kita tidak memberikan alasan, orang akan berpikir: “kenapa saya harus memberikan antrian saya?”. Dengan alasan yang valid, orang akan berpikir: “Saya telah membantu orang yang sedang dikejar deadline”.

Maskapai yang hanya mengungumkan delay tanpa alasan yang jelas, pasti akan diamuk penumpangnya. Oleh karena itulah kita sering mendengar pengumuman: “Karena alasan operasional, pesawat XX terlambat 30 menit”. Pengumuman standard tapi terbukti mampu menenangkan hati penumpang.

Sekolah Pasca Sarjana mewajibkan Anda menulis essay, untuk mengetahui alasan Anda ingin bersekolah disana. HRD juga sering bertanya apa alasan Anda ingin bekerja di perusahaan mereka. Intinya, kita butuh penjelasan atas tindakan yang dilakukan.

Tapi terlalu banyak beralasan juga tidak bagus. Kebiasaan beralasan menciptakan cognitive dissonance (bab 50) untuk menjustifikasi tindakan yang kita lakukan, atau sekedar menyalahkan pihak lain (blaming).

“Kenapa negara kita tidak maju? Karena kesalahan rezim sebelumnya”.

“Kenapa perusahaan kita rugi? Karena pelemahan ekonomi global dan serbuan produk Tiongkok”.

Gunakan alasan dengan bijak. Banyak orang belum mencapai impiannya, karena alasan (motivasi) yang lemah. Jika Anda ingin jadi pengusaha, temukan alasan kenapa Anda harus bekerja keras membangun bisnis. Jika ingin jadi pejabat, temukan alasan kenapa rakyat harus memilih Anda.

Jika ingin hidup bermakna, temukan alasan kenapa Tuhan menciptakan Anda.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Self-serving bias : Kenapa kita suka memuji diri sendiri

#45 Self-serving bias : Kenapa kita suka memuji diri sendiri

Dalam Al Qur’an, ada cerita tentang Qarun, orang terkaya dunia pada masanya. Untuk membawa kunci gudang hartanya saja, dibutuhkan bantuan orang-orang kekar macam The Rock atau John Cena. Ya maklum zaman dulu duit belum bisa ditransfer dan belum ada investasi surat berharga.

Koq bisa sih si Qarun jadi kaya bingits? Kata dia sih:

“Sesungguhnya aku diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”.

Ada dua hal yang menarik dari perkataan Qarun tentang asal muasal hartanya.

Pertama, Qarun sudah tahu jika pengetahuan adalah sumber kekayaan. Padahal ungkapan “knowledge is power” baru dicetuskan Francis Bacon pada abad 16, dan istilah knowledge economy baru dipopulerkan oleh Peter Drucker pada abad 20.

Kedua, pernyataan Qarun adalah contoh nyata dari self-serving bias. Suatu kecenderungan untuk melebihkan peran diri sendiri untuk kesuksesan, dan menyalahkan orang lain serta factor eksternal untuk  kegagalan. Karena kenyataannya, harta milik Qarun adalah pemberian Tuhan.

Mahasiswa yang terkena self-serving bias akan menganggap dirinya brilian saat mendapat A, dan mengutuk ketidakbecusan dosen pengajar saat mendapat C. Direktur yang men-highlight kontribusi kerja kerasnya saat perusahaan untung dan menyalahkan kondisi ekonomi makro saat rugi juga merupakan contoh self-serving bias.

Pendukung Pilkada yang terkena self-serving bias akan memuji setiap keberhasilan sebagai hasil kerja junjungannya, dan akan membawa teori konspirasi-iluminati-Ameriki-Wahyudi untuk setiap kegagalan yang terjadi.

Self-serving bias terjadi karena dua hal: egoisme sebagai makhluk individu yang mampu membuat keputusan sendiri, dan hal itu memang menyenangkan! Apa yang lebih nikmat dari memuji diri sendiri dan menyalahkan orang lain? Meski kebiasaan menyalahkan pihak lain terbukti tidak akan membawa perubahan positif pada diri sendiri.

Menyalahkan TIongkok tidak akan membuat industry kita lebih maju. Menyalahkan Thailand tidak akan meningkatkan produksi beras. Menyalahkan Amerika tidak akan membuat kita mampu memproduksi teknologi yang lebih canggih.

Bahaya dari self-serving bias adalah kesombongan. Dan Tuhan punya hukuman bagi si sombong. Richard Fuld, mantan CEO Lehman Brothers yang menjuluki dirinya ‘Master of Universe’, hanya bisa menyalahkan pemerintah karena tidak memberikan bantuan. Perusahaannya harus lenyap ditelan krisis keuangan.

Hampir seperti bumi menelan seluruh harta milik Qarun. Konon dari situlah muncul istilah harta karun.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail