Monthly Archives: February 2017

#75 Black Swan Theory: Karena tidak semua angsa ber-warna putih

#75 Black Swan Theory: Karena tidak semua angsa ber-warna putih

Sebelum tahun 1697, anak-anak sekolah di Eropa percaya jika semua angsa berwarna putih. Tidak ada angsa berwarna hitam. Bahkan ada peribahasa: “rara avis in terris nigroque simillima cygno”. Menemukan burung langka di bumi sama sulitnya seperti menemukan angsa hitam.

Tapi itu sebelum Willem de Vlamingh berkunjung ke Australia dan bertemu dengan burung berwarna hitam yang merupakan seekor angsa! Sejak itu runtuhlah teori semua angsa berwarna putih, dan lahirlah istilah “Black swan” untuk menjelaskan falsifikasi: Sebuah kebenaran bisa menjadi salah ketika ada bukti yang membantahnya.

Essais dan trader bernama Nassim Taleb mempopulerkan istilah Black Swan untuk sebutan peristiwa besar tak terprediksi yang mengubah kehidupan kita. Turunnya harga saham secara tiba-tiba (black Monday 19 October contohnya), penemuan transistor, revolusi internet, perang dunia I, hingga semburan lumpur Lapindo, hanyalah segelintir contoh Black swan.

Kenapa penjelasan tentang Black Swan menjadi penting? Karena Black Swan mengajarkan kita tentang ketidakpastian yang menghasilkan perubahan, dan betapa kita sering mengabaikannya. Contohnya: Jika kita bekerja di pemerintahan dan merasa hidup kita akan damai hingga pensiun, ternyata ada Black Swan yang berupa kebangkrutan Negara seperti yang dialami Yunani.

Menurut Taleb, ada 5 penyebab kita sering tidak melihat si Angsa hitam:

  1. Manusia cenderung fokus pada informasi yang mendukung pemikirannya (confirmation bias) dan tidak menerima pandangan pihak yang berbeda
  2. Illusion of understanding: Kita seringkali merasa menemukan ‘rahasia’ dalam sebuah informasi, lalu menciptakan cerita untuk menjelaskannya.
  3. Otak kita tidak diprogram untuk memikirkan hal yang belum ada
  4. Kita sering mengabaikan “bukti-bukti yang tak terlihat”
  5. Ludic fallacy: Kita cenderung menggunakan informasi yang kita ketahui untuk memperkirakan hal yang tidak kita ketahui. Pada kenyataannya, ada banyak faktor berpengaruh yang belum kita perhitungkan.

Jika kita sudah tahu tentang fenomena Black Swan, apa yang bisa kita lakukan? Persiapkan diri kita untuk Positive Black Swan. Cobalah berpikir dua langkah didepan. Ciptakan gerakan ahead the curve. Berusahalah menjadi inventor, entrepreneur, atau cracker yang membawa pembaruan.

Jika kita merasa nyaman dengan hidup kita sekarang, berjaga-jagalah jika ada Negative Black Swan. Itu berarti kita sebaiknya memiliki tabungan yang cukup, tidak gila hutang konsumtif, mulai berinvestasi, dan melakukan mitigasi risiko.

Yakinlah suatu saat Black Swan akan hadir ke hadapan Anda.

http://cdn.pcwallart.com/images/black-swan-bird-wallpaper-3.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa kita suka bermulut manis

#74 Good guy syndrome:

Saya pernah meeting dengan salah satu instansi untuk mengajukan proposal kerjasama. Saya sudah rapat dan bertemu pejabat yang berwenang. Setelah presentasi, mereka bilang akan membantu. Saya akan dihubungi lagi setelah ini. Tapi sudah beberapa bulan berlalu dan tidak ada kabar apa-apa. Saat saya follow up juga tak ada perkembangan berarti.

Apakah Anda pernah mengalaminya? Di PHP-in orang lain dengan janji-janji manis saat bertemu. Awalnya saya merasa jengkel. Jadi orang koq gitu amat sih? Tapi setelah berpikir sejenak, ternyata saya juga sering melakukannya. Berkata iya di depan, tapi tidak melakukan apa yang saya janjikan. Atau saat ada teman meminta tolong, saya hanya mengiyakan tanpa melakukan follow up.

Rupanya saya sering jatuh pada “good guy” syndrome: keinginan untuk dipersepsikan sebagai orang baik yang selalu siap membantu. Good guy syndrome paling sering kita temukan pada politisi, sebagai salah satu bentuk pencitraan guna mendapatkan dukungan. Atau saat ada keluarga/teman dekat yang meminta bantuan, kita merasa berat untuk menolaknya dan memainkan good guy syndrome.

Kenapa kita sering terjebak good guy syndrome? Menurut saya setidaknya karena dua alasan. Pertama, kita ingin dicitrakan sebagai orang baik. Sejak kecil kita diajarkan akan pentingnya tolong-menolong dan muncul kesan jika menolak memberikan bantuan adalah tindakan yang tidak sopan.

Kedua, kita tidak diajarkan untuk berkata TIDAK dengan tegas. Kita cenderung menghindari konflik dan beranggapan jika penolakan dapat memicu terjadinya konflik. Ditambah tekanan social dari peminta bantuan, yang biasanya kita lakukan adalah melakukan penundaan dan penghindaran.

Untuk itulah kita harus bersikap asertif di awal. Katakan Ya jika kita memang bisa, dan tidak jika memang tidak. Memainkan peran good guy dan memberikan harapan surga hanya merugikan peminta bantuan dan diri kita sendiri.

Bill Cosby pernah berpesan:

“Saya tidak tahu rahasia kesuksesan, tapi kunci kegagalan adalah berusaha untuk menyenangkan semua orang”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa kita hanya memperhatikan informasi awal dan akhir

#73 Primacy dan Recency effect

Misal ada iklan biro jodoh yang menggambarkan sifat dua orang wanita single. Rina: Cantik, pintar, wanita karier, pemalas, dan pemarah. Sedangkan Rani: Pemarah, pemalas, wanita karier, cantik, dan pintar. Mana yang Anda pilih?

Mayoritas lelaki akan memilih menghubungi Rina daripada Rani meski keduanya punya sifat yang sama persis. Otak kita akan memberikan cap “cantik – pintar” pada Rina, dan “pemarah – pemalas” pada Rani. Kondisi ini disebabkan oleh primacy effect: kita memberikan bobot lebih pada informasi yang kita terima diawal.

Primacy effect membuat kita menceritakan kesuksesan diawal presentasi rapat, baru masuk ke permasalahan yang terjadi di tengah sesi presentasi. Tujuannya: kita ingin terlihat sukses. Dan kesuksesan harus di blow up di awal.

Tapi untuk informasi dengan data yang banyak, terkadang kita hanya mengingat bagian akhirnya saja. Misal kita disuruh menceritakan berita yang kita baca. Cara paling mudah adalah mengingat berita yang kita baca terakhir kali. Hal ini karena adanya recency effect, dimana kita akan menyimpan recent information yang baru kita terima.

Intinya, otak kita memberikan perhatian lebih pada bagian awal dan akhir informasi. Contoh saat kita diminta menghafal nomer handphone teman: 08155378267123. Kita akan bilang: “Oh yang depannya 081 dan akhirnya 123 ya?”.

Dalam komunikasi, primacy dan recency effect memegang peranan penting. Sebuah iklan harus bisa menarik perhatian penonton di 5 detik awal, dan harus bisa meninggalkan kesan di 5 detik akhir. Saat mendengarkan ceramah, kita biasanya hanya mengingat bagian awal dan akhir dari ceramah itu (pas tengah-tengah tidur donk). Karena itu sampaikan informasi penting di awal, lalu simpulkan di akhir.

Primacy dan receny effect juga menjelaskan kenapa seorang playboy punya kesan yang special untuk pacar pertama dan terakhir mereka. Pacar ketiga, kelima, atau ketujuh? Sudah lupa tuh.

https://ys6dd2pc2w81bhaa03k9l16k04-wpengine.netdna-ssl.com/wp-content/uploads/2015/03/recency-effect-primacy-effect.png
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa kita suka membandingkan diri dengan orang lain?

#72 Social comparison bias

Kapan terakhir Anda mengikut reuni? Bisa reuni teman kuliah, SMA, SD, atau TK sekalipun. Biasanya saat berkumpul bersama, kita akan mengajukan pertanyaan standar:

“Gimana kabarnya? Sekarang dimana (kerja/usaha)? Udah punya anak berapa? Tinggal dimana?”

Selain bertujuan mengupdate database tentang teman kita, sebenarnya ada tujuan social yang tersembunyi: kita ingin melihat perkembangan hidup mereka dibandingkan hidup kita sendiri. Kita melakukan social comparison secara tidak sadar.

“Oh si X yang dulu miskin sekarang udah sukses. Kapan ya bisa setajir dia?”

“Kasihan si Z, padahal dulu kembang kelas sekarang udah janda. Untung keluargaku baik2 aja”

Masalahnya, social comparison bisa menghasilkan bias. Antara membuat kita merasa minder karena merasa seperti remahan roti dibandingkan orang lain, atau justru membuat kita sombong karena merasa superior dibanding orang lain.

Biasanya social comparison bias membuat kita hanya nyaman bergaul dengan orang yang “kelasnya” sama atau lebih rendah dibandingkan kita. Bias ini membuat kita tidak menyukai orang yang dianggap lebih baik/sukses, karena berpotensi menganggu posisi kita secara sosial.

Contohnya dalam rekrutmen pegawai, ada orang yang menolak seorang kandidat karena merasa si kandidat lebih baik dan berpotensi menggantikan posisinya. Terdengar aneh? Coba tanyakan pelaku di dunia politik atau entertainment. Anda akan menemukan dimana “pemain lama” sering mengintimidasi “pemain baru”.

Guy Kawasaki, salah satu dedengkot Apple pernah mengingatkan bahaya itu:

“A-players hire people even better than themselves. It’s clear, though, that B-players hire C players so they can feel superior to them, and C-players hire D-players. If you start hiring B-players, expect what Steve [Jobs] called “the bozo explosion” to happen in your organization.”

Bencana yang dimaksud adalah saat Anda merekrut CEO dengan kualitas B, Anda akan berakhir dengan staff kualitas Z.

Bagaimana cara mengurangi social comparison bias? Tentu dengan melihat sisi positif dari memiliki kolega yang lebih hebat dari kita.

Punya teman yang sudah punya banyak usaha tentu mempermudah kita mencari mentor bisnis. Punya teman yang sudah S3 tentu membuat kita tidak kesulitan dalam mencari pandangan akademis. Punya teman yang jadi pejabat tentunya akan membantu kita dalam berurusan dengan birokrasi.

Intinya, melakukan social comparison adalah sesuatu yang manusiawi, dan bahkan bisa dikatakan positif. Mereka bisa menjadi penyemangat bagi diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Karena pertanyaannya sungguh sederhana: Jika mereka bisa, kenapa kita tidak?

http://www.womanthology.co.uk/wp-content/uploads/2014/04/GOLDFISH-800-x-400.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Bandwagon Effect: Kenapa kita suka ikut-ikutan

#71

Mantan owner Primagama, Purdi Chandra, punya saran aneh jika kita ingin membuka rumah makan: Parkirkan banyak mobil di halamannya, kalah perlu minjem mobil tetangga!. Penuhi parkiran dan ciptakan persepsi jika rumah makan itu selalu ramai.

Tujuannya? Untuk menarik orang lain datang karena rasa penasaran. “Tuh tempat koq rame banget sih kelihatannya? Enak kali ya”.

Sama dengan café yang memberikan diskon khusus atau free drink bagi konsumennya yang mau mengupload foto di social media sambil men-mention akun rumah makan itu. Tujuannya untuk menciptakan kesan jika si café sedang trending di social media sekaligus punya menu yang “instagram-able”.

Kedua contoh diatas adalah penerapan bandwagon effect. Pengaruh yang lahir karena banyak orang lain yang melakukannya. Karena pada dasarnya kita adalah makhluk social dan memiliki perilaku “herding”: ikut-ikutan. Kita akan mengikuti apa yang terjadi di kelompok kita.

Dulu waktu zamannya sepeda fixie, banyak yang sepedaan fixie. Pas trend-nya lomba lari 10k, kita tiba-tiba banyak yang jadi atlit dadakan dan rajin lari. Saat orang lain lagi sibuk ngomentari pilkada, kita tak mau kalah untuk ikut-ikutan berkomentar. Intinya kita tidak mau ketinggalan kereta dan ingin terlihat selalu update.

Pemasar dan politikus juga sering memanfaatkan bandwagon effect. Mereka menggerakkan kampanye yang menunjukkan jika produk mereka sudah banyak penggunanya. Tujuannya menciptakan “virality” dan menciptakan “social proof”.

“90% konsumen Indonesia menggunakan produk Z”.

“Survey lembaga X menunjukkan pasangan no 4 pemenangnya”

Bagaimana menggunakan bandwagon effect untuk kebaikan? Misalnya kita ingin mengajak orang lain gemar membaca. Maka ciptakan kesan jika membaca itu keren. Sebarkan pesan-pesan positif dari buku yang kita baca. Bagikan cerita tentang orang-orang hebat yang ternyata punya hobi baca. Percayalah jika manusia akan mengikuti “social proof” yang ada.

Itu kalau bandwagon effect-nya positif. Lha kalo semua teman kita korupsi, apa kita mau ketinggalan jamaah?

https://prawdaxlxpl.files.wordpress.com/2010/05/bandwagon-2.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Sleeper Effect: Kenapa propaganda butuh waktu lama

#70

Saat perang dunia II, Amerika berlomba-loma memproduksi film propaganda. Tujuannya agar masyarakat mendukung peperangan yang terjadi. Tapi seberapa efektif pengaruh film itu? Akhirnya diadakan riset untuk mengetahuinya dengan mengambil responden beberapa prajurit.

Hasilnya mengecewakan, film itu tidak meningkatkan antusiasme prajurit terhadap perang. Mereka sepertinya tahu jika film itu sengaja dibuat sebagai bentuk propaganda.

Dua bulan kemudian, dilakukan penelitian ulang dan terjadi sesuatu yang diluar dugaan. Para prajurit yang telah menonton film itu lebih antusias mendukung perang daripada prajurit yang tidak menonton. Ternyata propaganda film itu berhasil!.

Para peneliti heran karena hal ini bertentangan dengan aturan “decay rate”. Dimana dengan seiring berjalannya waktu, kita cenderung melupakan informasi yang kita terima. Kita pasti sudah lupa isi berita yang kita baca sebulan yang lalu.

Sejak itu lahir kepercayaan jika propaganda menyebar seperti zat radioactive. Meskipun tidak tampak, ia akan tetap ada dan membuat penerimanya terkontaminasi dalam pengaruh laten. Psikolog Carl Hovland menyebutnya “sleeper effect”, sebuah kondisi dimana kita menerima informasi secara “tertidur” (bawah sadar) meski sudah melupakan sumber informasinya.

Sleeper effect digunakan pemasar dengan terus memborbardir kita dengan pesan propaganda konsumtif dalam bentuk iklan. Pernahkah Anda melihat iklan, mengacuhkannya, lalu entah kenapa tiba-tiba teringat meski lupa darimana sumbernya?

Hal ini juga yang menjelaskan kenapa kita masih mengingat berita yang sudah kita lupakan sumbernya, dan sangat rawan untuk menjadi Hoax (karena validitasnya tidak bisa di cross check). Para politisi juga menggunakan sleeper effect dengan menciptakan black campaign, mengangkat isu-isu negative, dan menyebarkan berita bohong menyerang pesaingnya.

Lagipula siapa yang peduli dengan Hoax? Dalam jangka panjang sleeper effect akan membuat konspirasi berita bohong terlihat nyata. Seperti pesan ahli propaganda Nazi, Joseph Goebbels:

“A lie told once remains a lie, but a lie told a thousand times becomes the truth”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Old school paradox: Kenapa teknologi lama akan bertahan semakin lama

#69

Akan seperti apa dunia 50 tahun kedepan?

Anda mungkin membayangkan dunia yang semain digitalize dan canggih sehingga pemilu dilakukan secara online. Mungkin industry robotic akan semakin terjangkau dan semua mobil disupiri oleh robot. Mungkin juga nano biologi sudah berkembang sehingga kultur jaringan akan memperpanjang usia harapan hidup hingga 100 tahun.

Pada pertengahan abad 20 sudah banyak science fiction yang memimpikan jika pada akhir millennium (2000-an) kita sudah menaiki mobil terbang, memakan makanan dari pil instant, hingga berwisata di bulan. Kenyataannya, kita belum melakukannya dan masih banyak teknologi dari masa lalu yang kita gunakan sampai saat ini.

Kertas yang kita gunakan ditemukan di Tiongkok pada abad ke 2. Kita duduk dikursi yang merupakan penemuan bangsa mesir kuno pada abad 26 SM. Sendok dan garpu yang kita pakai adalah hasil penemuan bangsa Romawi pada abad ke 4. Kita masih berhitung menggunakan nomer 0 sampai 10 yang ditemukan bangsa Arab 14 abad silam.

Jadi kira-kira akan seperti apa teknologi dunia pada 2060?

Nassim Taleb memberikan petunjuk: teknologi yang telah kita pakai selama 50 tahun, akan tetap kita pakai 50 tahun lagi. Jika sebuah teknologi baru berusia beberapa tahun, maka belum tentu ia akan bertahan hingga puluhan tahun kedepan. Anggap teknologi adalah sebuah spesies makhluk hidup. Jika ia mampu bertahan selama 50 tahun, seharusnya ia akan mampu bertahan 50 tahun lagi.

Ambil contoh lilin. Ditemukan oleh bangsa Mesir abad 3 SM, dan sekarang masih kita pakai meski sudah ditemukan lampu yang lebih terang. Sekarang coba ambil contoh “pager”. Sempat menjadi hits beberapa belas tahun lalu sebelum hilang digilas kecanggihan handphone.

Kita akan tetap menggunakan teknologi “old school” dan belum tentu mengadopsi teknologi baru dalam jangka panjang. Itu berarti 50 tahun lagi kemungkinan besar kita akan tetap menyetir mobil yang digerakkan oleh bensin, kita akan tetap kecanduan gadget (mungkin lebih parah), dan kita akan tetap berlibur dengan pesawat dan bukan melalui gerbang teleportasi,

Mungkin karena itu ada pepatah nihil sub sole novum: Tak ada yang baru dibawah matahari.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Cul-de-sac: Kenapa terkadang jalan buntu adalah jalan yang terbaik

#68

Pada abad ketiga sebelum masehi, terjadi peperangan di daerah Julu, China yang melibatkan dinasti Qin dengan tentara Negara Chu. Secara jumlah, tentara dinasti Qin lebih unggul. Jumlah mereka 300.000, berkali-kali lipat dari pasukan Chu yang hanya memiliki 20.000 personil.

Komandan Negara Chu yang terdesak, Xiang Yu, punya strategy gila. Setelah berhasil menyebrangi sungai, ia memerintahkan anak buahnya untuk membakar seluruh kapal dan hanya menyediakan persediaan bekal selama 3 hari. Aturannya sederhana: memenangkan perang atau mati. Hal yang sama konon dilakukan Cortes, Alexander Agung, dan juga Tariq Ibnu Ziyad saat hendak menaklukkan daerah baru.

Mereka menciptakan cul-de-sac dengan harapan pasukannya akan mengoptimalkan seluruh kemampuannya. Karena terbukti manusia memiliki “power of kepepet” (meminjam judul buku Jaya Setiabudi). Disaat terdesak, kita akan mengeluarkan 200% kemampuan kita.

Biasanya ga kuat lari. Begitu dikejar anjing, ternyata kita bisa nyaingin Usain Bolt. Ngakunya ga ngerti bela diri, tapi begitu berantem ama perampok kita akan mengeluarkan segala jurus maut seperti Bruce Lee. Power of kepepet-lah yang menyebabkan banyak tim papan atas kesulitan melawan tim juru kunci yang sedang berjuang lolos dari degradasi.

Mungkin karena itu Sun Tzu memberikan saran yang sangat mulia: “Jangan habisi musuh yang terdesak. Berikan mereka jalan melarikan diri”. Berperang melawan 100 orang yang kepepet antara hidup dan mati hampir sama dengan melawan 200 orang prajurit militant.

Pelajarannya: kesulitan adalah berkah, dan jalan buntu adalah anugerah. Jika sekarang hidup Anda sedang dilanda permasalahan berat dan menemukan jalan buntu, yakinlah masih ada jalan keatas. Tuhan sedang menantang kreativitas dan militansi kita dalam menjalani cobaan.

Karena disetiap kesulitan, ada kemudahan. Dan disetiap permasalahan, ada kekuatan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Introspective Illusion

#67 Introspective illusion: Jika calon gubernur kita hebat, kenapa tidak semua orang memilihnya?

Saya yakin tanggal 15 kemarin Anda mencoblos saat pilkada. Pilih nomer berapa hayo? Siapapun jagoan Anda, saya hanya punya satu pertanyaan: Kenapa Anda memilih dia? Coba pikirkan tiga alasan sederhana.

Sudah?

Nah, dengan segala kelebihan jagoan Anda, kira-kira kenapa orang lain tidak melakukan hal yang sama? Jika dia memang pemimpin yang hits dan kirin bingitz, kenapa masih ada orang yang memilih calon lain? Coba pikirkan tiga alasan sederhana.

Sudah juga?

Saat melakukan latihan diatas, sesungguhnya kita berpeluang untuk jatuh dalam perangkap introspective illusion. Kecenderungan untuk percaya jika kita bisa mengetahui motivasi tindakan yang kita lakukan.

Kita merasa pilihan kita atas si X disebabkan alasan a, b, c, d hingga z.

“Si X sudah terbukti track record-nya”

“Si X orang jujur”

“Masalah ini hanya bisa diselesaikan oleh orang seperti si-X”

Karena kita sangat percaya dengan introspection yang kita lakukan sendiri, kita lalu mencemoh orang dengan “instrospection” (pandangan motivasi) yang berbeda. Menurut Rolf Dobelli, setidaknya dalam 3 asumsi:

  1. Assumption of ignorance, kita menganggap orang lain mengabaikan informasi yang ada: “Sudah tahu si X paling hebat, masih aja pilih si Z”
  2. Assumption of idiocy, kita mangganggap orang lain itu bodoh : “Bego banget sih mereka. Mau aja dikibulin janji-janji surga si Z”
  3. Assumption of malice, kita menganggap orang lain punya niat jahat : “Pasti pendukung si Z titipan konspirasi antek Mamarika dan Wahyudi yang ingin menghancurkan bangsa ini”

Intinya, menilai sesuatu hanya berdasarkan penilaian pribadi bisa sangat bias. Kita akan tertipu oleh introspection yang kita lakukan. Mari belajar untuk melihat dan menerima “instrospection” orang lain.

Jika sudut pandang kita ternyata berbeda ya ga usah dipaksakan untuk sama. Cukup saling menghormati dan menghargai. Lakum diinukum wa liya diin.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#66: Affect Heuristic: Kenapa kita meragukan merk abal-abal

Saat berbelanja di mall, ada 2 pilihan baju yang ingin Anda beli: baju lengan pendek warna merah, dan baju lengan panjang warna hitam. Kira-kira mana yang akan Anda pilih?

Jika Anda rasional, Anda akan menganalisa bahan, model, harga, kecocokan dengan stock celana di rumah, dan pendapat istri atau pacar. Anda lalu membuat tabel komparasi dan mulai menuliskan rating untuk variable yang diperbandingkan. Seharusnya Anda akan membeli baju dengan skor paling tinggi.

Untungnya kita memiliki proses mental bernama heuristic, sebuah short cut pengambilan keputusan tanpa menganalisa semua informasi yang ada. Sehingga kita tak perlu menciptakan model ekonometri hanya untuk memilih baju yang cocok menurut selera. Heuristic bisa disebut insting, atau “gut feeling”, intinya pengambilan keputusan tanpa berpikir terlalu panjang.

Salah satunya adalah affect heuristic, proses berpikir berdasarkan pengaruh stimulus. Mendengar kata “Setan” bisa membuat Anda merinding, sedangkan kata “Bayi” membuat kita tersenyum. Affect Heuristic adalah pemrosesan informasi dengan melihat “stimulus” disekitar kita. Ia membantu kita untuk berhati-hati saat melewati rumah yang dijaga anjing, dan juga menjauh dari pagar dengan logo petir. Padahal bisa saja si anjing itu jinak, dan pagar itu tidak dialiri listrik.

Winkielman et al (1997) membuktikan jika kita digerakkan oleh stimulus subliminal. Ia meminta responden melihat slide show huruf mandarin. Ia juga menyisipkan gambar orang senyum, netral, dan marah dalam waktu 1/250 detik. Ternyata responden lebih memilih huruf setelah gambar orang tersenyum ditampilkan (meskipun mereka tidak sadar).

Masalahnya, affect heuristic sering menghasilkan keputusan yang bias. Penelitian dari Alexander Kempf et al (2014) menunjukkan jika banyak investor lebih mempertimbangkan familiarity (terkenal tidaknya suatu perusahaan) daripada aanalisa laporan keuangan. Akibatnya mereka sering men-over estimate return untuk perusahaan yang dikenalnya, dan men-under estimate return untuk perusahaan yang belum pernah mereka dengar.

Karena itulah pemasar menghabiskan uang trilyunan untuk menciptakan stimulus dalam bentuk iklan dan kampanye pemasaran. Itu juga alasan saat ada dua barang sejenis dengan merk yang berbeda, kita cenderung memilih merk yang pernah kita dengar.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail