Kenapa kita suka membandingkan diri dengan orang lain?

#72 Social comparison bias

Kapan terakhir Anda mengikut reuni? Bisa reuni teman kuliah, SMA, SD, atau TK sekalipun. Biasanya saat berkumpul bersama, kita akan mengajukan pertanyaan standar:

“Gimana kabarnya? Sekarang dimana (kerja/usaha)? Udah punya anak berapa? Tinggal dimana?”

Selain bertujuan mengupdate database tentang teman kita, sebenarnya ada tujuan social yang tersembunyi: kita ingin melihat perkembangan hidup mereka dibandingkan hidup kita sendiri. Kita melakukan social comparison secara tidak sadar.

“Oh si X yang dulu miskin sekarang udah sukses. Kapan ya bisa setajir dia?”

“Kasihan si Z, padahal dulu kembang kelas sekarang udah janda. Untung keluargaku baik2 aja”

Masalahnya, social comparison bisa menghasilkan bias. Antara membuat kita merasa minder karena merasa seperti remahan roti dibandingkan orang lain, atau justru membuat kita sombong karena merasa superior dibanding orang lain.

Biasanya social comparison bias membuat kita hanya nyaman bergaul dengan orang yang “kelasnya” sama atau lebih rendah dibandingkan kita. Bias ini membuat kita tidak menyukai orang yang dianggap lebih baik/sukses, karena berpotensi menganggu posisi kita secara sosial.

Contohnya dalam rekrutmen pegawai, ada orang yang menolak seorang kandidat karena merasa si kandidat lebih baik dan berpotensi menggantikan posisinya. Terdengar aneh? Coba tanyakan pelaku di dunia politik atau entertainment. Anda akan menemukan dimana “pemain lama” sering mengintimidasi “pemain baru”.

Guy Kawasaki, salah satu dedengkot Apple pernah mengingatkan bahaya itu:

“A-players hire people even better than themselves. It’s clear, though, that B-players hire C players so they can feel superior to them, and C-players hire D-players. If you start hiring B-players, expect what Steve [Jobs] called “the bozo explosion” to happen in your organization.”

Bencana yang dimaksud adalah saat Anda merekrut CEO dengan kualitas B, Anda akan berakhir dengan staff kualitas Z.

Bagaimana cara mengurangi social comparison bias? Tentu dengan melihat sisi positif dari memiliki kolega yang lebih hebat dari kita.

Punya teman yang sudah punya banyak usaha tentu mempermudah kita mencari mentor bisnis. Punya teman yang sudah S3 tentu membuat kita tidak kesulitan dalam mencari pandangan akademis. Punya teman yang jadi pejabat tentunya akan membantu kita dalam berurusan dengan birokrasi.

Intinya, melakukan social comparison adalah sesuatu yang manusiawi, dan bahkan bisa dikatakan positif. Mereka bisa menjadi penyemangat bagi diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik. Karena pertanyaannya sungguh sederhana: Jika mereka bisa, kenapa kita tidak?

http://www.womanthology.co.uk/wp-content/uploads/2014/04/GOLDFISH-800-x-400.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *