Kenapa kita suka bermulut manis

#74 Good guy syndrome:

Saya pernah meeting dengan salah satu instansi untuk mengajukan proposal kerjasama. Saya sudah rapat dan bertemu pejabat yang berwenang. Setelah presentasi, mereka bilang akan membantu. Saya akan dihubungi lagi setelah ini. Tapi sudah beberapa bulan berlalu dan tidak ada kabar apa-apa. Saat saya follow up juga tak ada perkembangan berarti.

Apakah Anda pernah mengalaminya? Di PHP-in orang lain dengan janji-janji manis saat bertemu. Awalnya saya merasa jengkel. Jadi orang koq gitu amat sih? Tapi setelah berpikir sejenak, ternyata saya juga sering melakukannya. Berkata iya di depan, tapi tidak melakukan apa yang saya janjikan. Atau saat ada teman meminta tolong, saya hanya mengiyakan tanpa melakukan follow up.

Rupanya saya sering jatuh pada “good guy” syndrome: keinginan untuk dipersepsikan sebagai orang baik yang selalu siap membantu. Good guy syndrome paling sering kita temukan pada politisi, sebagai salah satu bentuk pencitraan guna mendapatkan dukungan. Atau saat ada keluarga/teman dekat yang meminta bantuan, kita merasa berat untuk menolaknya dan memainkan good guy syndrome.

Kenapa kita sering terjebak good guy syndrome? Menurut saya setidaknya karena dua alasan. Pertama, kita ingin dicitrakan sebagai orang baik. Sejak kecil kita diajarkan akan pentingnya tolong-menolong dan muncul kesan jika menolak memberikan bantuan adalah tindakan yang tidak sopan.

Kedua, kita tidak diajarkan untuk berkata TIDAK dengan tegas. Kita cenderung menghindari konflik dan beranggapan jika penolakan dapat memicu terjadinya konflik. Ditambah tekanan social dari peminta bantuan, yang biasanya kita lakukan adalah melakukan penundaan dan penghindaran.

Untuk itulah kita harus bersikap asertif di awal. Katakan Ya jika kita memang bisa, dan tidak jika memang tidak. Memainkan peran good guy dan memberikan harapan surga hanya merugikan peminta bantuan dan diri kita sendiri.

Bill Cosby pernah berpesan:

“Saya tidak tahu rahasia kesuksesan, tapi kunci kegagalan adalah berusaha untuk menyenangkan semua orang”.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *