Monthly Archives: February 2017

Kenapa Kita Harus Bertanya Kenapa?

Yoda sayang,

Saat kamu sedang belajar berbicara nanti, ada satu kata yang harus kamu pelajari sebelum “Tuhan”, “Kapitalisme”, “Return of investment”, “Mama”, atau “cucu”. Kata ini begitu penting, dan telah menjadi kunci sukses perkembangan umat manusia. Banyak penemuan lahir dari kata ini. Meski ada pemikir hebat yang dibunuh karena mengucapkan kata ini.

Kata itu adalah: “Kenapa?”

Memangnya, kenapa kita harus bertanya kenapa? Setidaknya karena tiga sebab sederhana.

Pertama, kenapa adalah kata pembuka. Ia adalah kunci pengetahuan. Tak ada pengetahuan yang ditemukan tanpa pertanyaan “kenapa?”. Newton memformulasikan hukum gravitasi karena bertanya kenapa apel bisa jatuh. Adam Smith disebut pencetus ilmu ekonomi karena bertanya apa rahasia kekayaan sebuah bangsa. Darwin bisa menghasilkan teori evolusi yang kontroversial karena bertanya kenapa makhluk hidup bisa sangat beraneka ragam.

Pada dasarnya, pengetahuan selalu diawali dari keingintahuan. Dan percayalah Yoda, pengetahuan adalah kekuatan dan kekayaan. Jika ingin mendapatkannya, mulailah dengan bertanya: “Kenapa?”.

“Kenapa kita lahir kedua? Kenapa ada orang kaya? Kenapa harus ada Negara? Kenapa kita beragama? Kenapa alam semesta tercipta?”

Alasan kedua: semakin kamu dewasa, semakin sedikit orang yang bertanya. Orang dewasa akan menganggap pertanyaan kenapa adalah pertanyaan milik anak kecil yang tak perlu dijawab. Mereka hidup dalam kedamaian karena merasa telah menemukan jawaban. Padahal, sesungguhnya mereka tak pernah berani bertanya.

Mereka bekerja, tanpa tahu kenapa mereka harus bekerja. Mereka menjalani rutinitas, tanpa berani bertanya kenapa mereka melakukannya. Mereka menerima struktur organisasi dalam bentuk Negara, agama, dan tata social yang ada tanpa pernah mempertanyakannya. Orang dewasa sudah lupa bagaimana serunya bertanya.

Terakhir, bertanya Kenapa akan memberimu pola pikir yang radikal. Radikal bukan berarti anarkis atau merusak. Radikal dalam hal ini berarti “mengakar”. Kamu akan belajar berpikir dalam level epistemologis, titik dasar sebuah ide. Pertanyaan kenapa akan membantumu memisahkan permasalahan subtantif dan tentative. Mana yang penting, dan mana yang tidak. Mana isi, mana kulit. Mana yang aksi, dan mana yang motivasi.

Karena itu, Yoda sayang, teruslah bertanya. Teruslah ragu. Teruslah mempertanyakan semuanya. Yakinlah jika kecerdasan seseorang dinilai dari pertanyaannya, sedangkan kebijaksanaan seseorang akan dinilai dari jawabannya.

Tanya Kenapa?
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Volunteer’s folly: Kenapa kita malas kerja bakti dan ronda malam

Misalnya Anda adalah seorang manajer keuangan di perusahaan raksasa. Setiap hari Anda beraktivitas tanpa melihat matahari. Berangkat shubuh dan baru pulang di malam hari. Hidup Anda dipenuhi meeting, deadline, dan bepergian ke dalam dan luar negeri. Saat weekend, Anda hanya ingin beristirahat di rumah.

Tiba-tiba, ada pengumuman dari masjid perumahan. Ternyata ada kerja bakti! Dan semua warga diundang untuk datang dan membantu membersihkan masjid. Apakah Anda akan ikut kerja bakti?

Anda lalu mulai menganalisa: secara logika ekonomis, mengikuti kerja bakti adalah tindakan yang tidak efisien. Setidaknya karena dua alasan.

Pertama, Anda adalah seorang manajer keuangan dan bukan tenaga kebersihan professional (terima kasih kapitalisme atas pembagian spesialis kerja). Kedua, jika Anda menggunakan ukuran gaji perjam untuk membayar pembersih profesional, Anda sudah bisa me-hire cleaning service dengan kualitas yang lebih baik dari Anda.

Anda ingat tentang fenomena volenteer’s folly. Dimana terkadang secara ekonomis akan lebih baik jika kita tidak menjadi sukarelawan, tetap melakukan pekerjaan kita, dan menyuruh orang lain yang lebih professional.

Volunteer’s folly menjelaskan kenapa tidak ada kegiatan ronda (jaga malam) di perumahan mewah. Daripada para warga menjadi volunteer dengan begadang ga jelas, mendingan mereka fokus pada profesi yang ditekuni dan menghire petugas sekuriti professional.

Tapi tidak selamanya kegiatan volunteer itu “folly”. Setidaknya menurut Trevor Knox dalam The “Volunteer’s folly and socio-economic man: some thoughts on altruism, rationality, and community”. Ada 5 alasan kuat kenapa kita masih terus menjadi relawan. Alasan nonconsequentialist, pilihan constitutive, pricelessness, non rational motivation, dan community preference production.

Intinya, menjadi sukarelawan adalah bukti jika kita tidak selamanya homo economicus. Masih ada sisi humanis utilitarian yang kita punya. Keinginan untuk melakukan sesuatu yang bermakna, dan berkontribusi kepada sesama. Toh, membantu manusia lain pada akhirnya akan membuat kita lebih bahagia.

Seperti pesan Rabindranath Tagore (kutipan favorit dan sudah saya tulis berulang-ulang!):

Saya tertidur dan bermimpi jika hidup adalah kegembiraan

Saya terbangun dan melihat jika hidup adalah pelayanan

Saya melakukan, dan percayalah: pelayanan adalah kegembiraan

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail