Monthly Archives: March 2017

#82 House money effect: Kenapa penjudi semakin bernafsu saat menang

Misalnya Anda adalah seorang pekerja pabrik. Setiap hari Anda menabung dan hidup hemat. Setelah beberapa tahun terkumpul uang 250 juta hasil jerih payah keringat Anda. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu?

  1. Membiarkannya di tabungan bank
  2. Menginvestasikannya
  3. Menggunakan uang itu untuk merenovasi rumah atau membeli kendaraan
  4. Berlibur dan jalan-jalan keluar negeri

Kebanyakan orang akan memilih opsi A, B, atau C.

Sekarang kita balik kasusnya. Andaikan Anda baru saja memenangkan undian 250 juta. Apa yang akan Anda lakukan dengan uang itu? Rata-rata dari kita akan memilih opsi D, baru masuk ke opsi C, B, dan A.

Logikanya: uang itu sama-sama 250 juta. Yang berbeda hanya cara mendapatkannya. Kenapa kita memiliki pola konsumsi yang lebih konsumtif untuk jumlah uang yang sama?

Richard Thaller menyebutnya house-money effect. Terinspirasi dari penjudi yang lebih agresif saat sedang mengungguli bandar (the house). Mereka akan mempertaruhkan uang yang lebih besar, dan berani mengambil lebih banyak risiko.

https://s3.amazonaws.com/images.agentsvoice.com/uploads/image/image/20/large_house_money.jpg

Dalam pasar modal, house money effect mendorong investor yang memiliki “portofolio hijau” untuk lebih sering bertransaksi dan menginvestasikannya ke dalam saham yang lebih berisiko.

Thaller mencoba melakukan eksperimen sederhana. Ia membagi mahasiswanya menjadi dua grup. Grup pertama diberitahu jika mereka mendapatkan 30 dollar dan berkesempatan untuk memenangkan lebih jika mengikuti undian koin.

Jika kepala maka mereka mendapat tambahan 9 dollar, jika ekor maka uang mereka berkurang 9 dollar. Ada 70% respondend di grup pertama tertarik dengan taruhan ini.

Di grup kedua, mereka diberitahu jika tidak mendapat apa-apa. Dan mereka berkesempatan untuk mendapatkan 30 dollar secara langsung, atau mengikuti undian dengan hadiah 39 dollar jika koin yang dilempar kepala, dan 21 dollar jika koin yang dilempar adalah ekor.

Ternyata responden yang tertarik hanya 43%. Padahal expected value mereka sama: jika konservatif 30 dollar, dan jika agresif antara 21-39 dollar.

Pemasar menggunakan house money effect untuk mempengaruhi konsumen dengan memberikan free credit bagi pengguna pertama, referral bonus, hingga saldo gratis.

Tujuannya? Membuat konsumen merasa “menang” dan mulai berbelanja lebih banyak.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#81 Salience effect: Kenapa informasi hangat bisa menipu

Ada berita artis ditangkap karena mengkonsumsi narkoba. Semua orang berkomentar, mengutuk keras dan menyayangkan bagaimana bisa si artis terjerat lembah hitam itu. Narkoba menjadi topic hangat yang diperbincangkan di warung kopi, acara gossip, dan menghiasi headline media baik digital atau tradisional.

Misalnya Anda Anda adalah seorang jurnalis kriminal. Kebetulan keesokan harinya ada kecelakaan. Penyebabnya masih diselidiki polisi. Namun berdasarkan sumber internal yang Anda miliki, ditemukan beberapa gram bubuk narkotika di dashboard mobil.

Anda lalu menulis berita dengan judul panas:

“Narkoba kembali merenggut korban!”

Headline berita seperti diatas adalah korban salience effect. Salience adalah tingkat “noticeable” (kecenderungan untuk dikenal) atas informasi yang menonjol. Salience effect bisa berarti: terkadang sesuatu yang stand out, bisa mengacaukan analisa yang ada.

Adanya narkoba yang merupakan informasi dengan salient tingggi menciptakan bias. Karena belum tentu narkoba adalah penyebab terjadinya kecelakaan. Bisa saja sang pengemudi mengantuk, atau ada factor sabotase eksternal. Karena itu perlu dilakukan penyelidikan yang menyeluruh.

Contoh lainnya saat ramai-ramainya soal polemic transportasi online. Anda mendapat berita jika ada tabrakan antara angkot dengan salah satu taksi online. Jika terkena salience effect, Anda akan menulis:

“Angkot dan Taksi Online kembali berseteru!”

Judul berita diatas akan disukai editor Anda. Sifatnya bombastis, up to date, dan mampu memanfaatkan salient dari momentum gonjang-ganjing taksi online. Tapi secara logika, tabrakan yang terjadi belum tentu disebabkan oleh konflik supir angkot dengan taksi aplikasi online. Bisa saja kecelakaan terjadi karena hal lain yang tak disengaja, dan kebetulan salah satu korbannya adalah anggota taksi online.

Intinya, kita harus berhati-hati dengan salience effect. Informasi yang bersifat menonjol bisa melupakan kita untuk mencari akar permasalahan dan langsung memberikan penilaian yang dangkal.

Contohnya terakhir: saat maraknya kasus penculikan, tiba-tiba anak tetangga Anda belum pulang hingga malam hari. Jika Anda berpikir ia menjadi korban penculikan, maka cobalah untuk tenang dan kurangi salience effect yang terjadi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Orang India Masih Suka Membaca Koran?

Dalam kunjungan saya ke India, ada satu hal yang menarik perhatian soal media: surat kabar cetak ternyata masih hidup bahagia!

Awalnya saya tidak percaya saat disodori data oleh media agency dan team local di Bangalore. Masa sih print penetration masih tinggi? Hari gini siapa sih yang masih baca Koran cetak selain orang tua?

Dibandingkan dengan belahan dunia lainnya, Koran-koran India masih Berjaya. Spending iklan masih tumbuh antara 8-10%. Hampir setiap hari ada pengiklan yang memesan “jacket ads” di halaman depan (biasanya harga paling mahal).

Advertising spending di print bahkan mengalahkan televisi. Pembaca masih setia, tingkat readership surat kabar masih tinggi (60%). Masih ada 70.000 media cetak yang melayani hampir 700 juta pembaca.

Kenapa? Setelah melakukan observasi langsung dan meeting dengan media local, menurut saya setidaknya ada tiga alasan sederhana.

Harga yang Murah

Boleh percaya boleh tidak, di India Anda bisa mendapatkan Koran dengan harga hanya 5 rupee (1.000 rupiah) saja! Harga ini masih bisa lebih murah lagi jika berlangganan bulanan. Jajanan pasar Jaelebi yang disukai Sharoo di film Lion aja berharga 10 rupee. Lha ini Koran 20-an halaman full colour cuma seharga setengahnya!

Harga yang sangat terjangkau membuat surat kabar cetak menjadi bagian keseharian yang tak terlupakan bagi semua kalangan. Tiada pagi tanpa membaca Koran dan segelas kopi.

Koq bisa murah banget sih? Karena mereka melakukan subsidi silang. Porsi pendapatan berasal dari iklan dan digunakan untuk mensubsidi biaya produksi (kata forum internet, biaya produksi asli satu koran sekitar 30 rupee, dijual rugi hanya 5 rupee). Selain itu economics of scale dalam jumlah besar, bahan baku kertas yang berlimpah, dan man power yang murah, membuat produksi dapat lebih efisien.

Budaya baca yang tinggi

Factor kedua yang membuat India masih setia dengan surat kabar cetak adalah tingginya budaya baca disana. Menurut NOP World Culture Scores (2005), rata-rata orang India menghabiskan 10,2 jam sepekan untuk membaca. Sangat berbeda dibandingkan orang Indonesia yang menonton TV selama 20 jam.

Ini juga dibuktikan dengan tingginya jumlah buku baru yang terbit. Total lebih dari 90.000 judul buku baru diterbitkan di India. Indonesia? Masih jauh, kita hanya mampu menghasilkan 24.000 judul buku (data 2009).

Menurut Nielsen, market value buku di India mencapai 261 milyar rupee (sekitar 52 trilyun rupiah). Ini menempatkan India sebagai pasar buku terbesar keenam dunia, dan nomer dua untuk penerbitan dalam bahasa Inggris.

Tingginya budaya baca India sebenarnya bukan hal yang baru. India kuno sudah menghasilkan bacaan kelas dunia seperti Mahabharata atau Ramayana. Orang Asia yang menjadi pemenang nobel sastra pertama juga berasal dari India: Rabindranath Tagore.

Penetrasi online yang belum maksimal

Meskipun India memiliki image sebagai “silicon valley of Asia”, dan banyak bos-bos perusahaan IT multinasional berasal dari sana (CEO Google Sundar Pichai misalnya), ternyata penetrasi digital mereka belum merata. Secara rata-rata baru 27% penduduknya yang melek internet (mayoritas kota besar).

Pengalaman saya mengunjungi beberapa kota di barat dan utara India, sinyal data akan bervariasi tergantung Negara bagian. Provider yang setrong (aduh bahasanya) di Uttar Pradesh misalnya, bisa jadi justru ngilang saat masuk ke Negara bagian Maharashtra.

Tapi tentu digital terus tumbuh tak tertahankan. Penetrasi smartphone dan semakin terjangkaunya paket data menjadi pemicunya. Salah satunya ada provider gila yang rela memberikan free unlimited data hingga satu tahun! Tindakan edan ini diikuti provider yang lain dengan memberikan diskon data. Digitalized India hanyalah soal waktu.

Apa yang bisa dilakukan surat kabar Indonesia?

Kita tahu industry media cetak Indonesia memasuki masa sunset. Readership terus turun, pemasukan iklan terus berkurang, dan beberapa media mulai gulung tikar. Meniru jalan India dengan meningkatkan readership lewat harga gila yang super murah ditengah tingginya ongkos produksi sepertinya jalan bunuh diri yang tak perlu dicoba.

India bukan Indonesia. Digitalized news dan migrasi ke online platform sudah menjadi keharusan. Kekuatan media ada di content. Content akan menarik traffic. Traffic akan menarik pengiklan. Untuk urusan berbentuk kertas atau daring, itu hanyalah medium.

http://www.pinkjooz.com/wp-content/uploads/2013/06/newspapers_industry_booming_india.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

“Three Good”

Konon, tingkat peradaban sebuah kota bisa dilihat dari lalu lintasnya. Jika teratur jalanannya, maka teratur pula masyarakatnya. Demikian sebaliknya, semakin ruwet jalanan sebuah kota, maka semakin chaos orang-orang yang ada di dalamnya.

Ketika menginjakkan kaki di Delhi, sebagai manusia eksodus via Jakarta saya sudah mengantisipasi keruwetan yang akan terjadi.

“Paling ga seruwet Jakarta” itu yang ada dalam benak saya.

Tapi begitu menjelajahi jalanan Delhi dan Mumbai, ternyata lalu lintas Jakarta belum ada apa-apanya! Saya tiba-tiba jadi sholeh dan ingat Tuhan karena gaya menyetir yang dekat dengan kecelakaan. Beberapa kali kami menyalip dengan jarak yang tipissss. Klo saya main game Need for Speed, NOS-nya bakal keisi terus.

Bawaannya ngebut, rebutan jalan, salip menyalip, hobi rem mendadak, ditambah klakson yang terus ditekan membuat suasana menjadi seperti konser: ramai dan meriah. Lalu lintas sudah seperti hunger game sehingga berlaku hukum rimba: siapa cepat dia dapat.

Raj, driver yang mengantar kami bilang jika dibutuhkan “3 good” untuk bisa menyetir dengan selamat di Delhi.

Pertama adalah “Good Break”

Rem yang pakem. Jika Anda menyetir di Delhi maka jangan kaget jika tiba-tiba ada benda asing nyelonong ke tengah jalan. Bisa auto rickshaw (bajai) yang lagi belajar nikung kaya nikung pacar teman, orang yang bosen hidup tiba-tiba lari menyebrang, hingga sapi yang like a boss melenggang dengan santai.

(FYI, sapi disini adalah binatang suci yang dilindungi. Dia takkan dimarahi atau diusir. Dan jangan pernah mengajak teman India Hindu Anda untuk makan malam steak tenderloin atau Wagyu!)

Pergerakan kendaraan yang ada di jalanan sangat stochastic menyaingi pergerakan indeks bursa Dow Jones. Sekarang saya tahu kenapa di Indonesia ada ungkapan:

“Ngeles aja lu kaya Bajai!”

Karena ternyata sodara-sodara, di negeri nenek moyang Bajai udah bukan ngeles lagi. Tapi sudah masuk ke tingkat evasion: bisa menghindar dengan sangat lihai. Jangan heran klo selama nyetir tiba-tiba mobil dibelakang sudah nyalip dari samping. Udah kaya ninja aja.

Menurut data WHO, ada 238 ribu kecelakaan jalan raya pada 2013. India adalah Negara dengan jumlah kecelakaan terbesar kedua dunia setelah China. Well, mungkin karena jumlah penduduk mereka 1 milyar lebih.

Good yang kedua: Good horn

Lalu lintas Delhi bagaikan orchestra raksasa yang memainkan symphony Beethoven no 5. Semua orang memainkan alat music klaksonnya dengan bersemangat.

Mulai sedan yang menglakson truk didepannya, tiba2 ada klakson dari mini van yang ingin ikut nyalip, diikuti klakson nyaring bis yang harus ngerem ndadak, dan ditutup dengan auto (sejenis bajai) yang tiba-tiba masuk nyalip si truk.

Saking hingar bingarnya lalu lintas di India, ada tiga kota yang termasuk top 10 kota terbising di dunia: Delhi, Kolkata, dan Mumbai. Tingkat kebisingannya bisa mencapai 100 db (decibel). Kebisingan 100 decibel itu seperti mendengarkan pesawat Jet yang lagi take off dari jarak 300 meter.

My friend, this is the beauty of India. Negara dengan 1,3 miliar penduduk yang penuh cerita. Setelah menceritakan dua Good tadi, Raj terdiam. Saya yang udah penasaran akhirnya bertanya.

“What is the last good?”

Dengan santai Raj bilang: “Good luck”.

Jpeg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#80 Default Effect: Kenapa kita suka pilihan standar

Jika Anda ingin membeli sepeda motor dengan harga murah, carilah motor yang sudah dimodifikasi habis-habisan. Demikian juga dengan mobil, bekas anaik muda yang hobi modifikasi biasanya membuat harga jualnya turun.

Pasar akan menghargai lebih tinggi kendaraan yang masih standard daripada kendaraan yang sudah dimodif. Bahkan mobil antik dengan onderdil orisinal bisa punya harga berlipat-lipat dibandingkan mobil tua yang memakai spare part modern.

Kita menyukai orisinalitas bawaan. Bahkan manusia akan cenderung memilih pilihan standar (default) yang diberikan. Darisitulah lahir default effect, kecenderungan orang untuk memilih opsi yang dijadikan standard default.

Ada perusahaan airlines yang kesulitan menjual travel insurance tambahan. Apa yang mereka lakukan? Menggunakan default effect, mereka menjadikannya sebagai pilihan standard (default) saat pemesanan tiket (Anda harus un-click untuk tidak membeli). Hasilnya take up pembelian langsung meroket. Orang yang tidak tahu atau malas memilih cenderung menerima option standard yang diberikan.

Percobaan yang dilakukan oleh Eric Johnson dan Dan Goldstein menunjukkan hal yang serupa. Mereka bertanya kepada responden: “Apakah Anda tertarik mendonorkan organ Anda?”

Mereka menciptakan dua kondisi. Kondisi pertama, jawaban “Ya saya bersedia” tidak otomatis tercentang, sedangkan di kondisi kedua jawaban “Ya” tercentang dan menjadi jawaban default. Hasilnya? Kondisi pertama hanya menghasilkan 40% orang yang setuju sedangkan di kasus kedua jawaban “Ya” melonjak menjadi 80%.

Kenapa default effect bisa berpengaruh?

Menurut Young Huh et al (2014) setidaknya ada tiga sebab. Pertama, pilihan default secara implisit berarti pilihan yang disarankan oleh otoritas pemberi pilihan. Kedua, pilihan default menjadi reference point dan menciptakan loss aversion saat harus berganti pilihan. Ketiga, tidak dibutuhkan action untuk melakukannya, cukup mengikuti pilihan yang ada.

Pelajarannya: Jika ingin orang lain melakukan sesuatu, jadikan pilihan itu sebagai pilihan standard (default).

http://www.degreesource.com/wp-content/uploads/2015/05/default.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#79 Denomination Effect : Kenapa kita harus berhati-hati dengan janji cicilan ringan

Misalnya anak Anda meminta uang jajan 100rb. Kira-kira mana yang akan Anda berikan:

  1. Satu lembar uang merah 100rb
  2. 10 lembar uang ungu pecahan 10rb

Percaya atau tidak, jika Anda ingin anak Anda lebih hemat, sebaiknya berikan satu lembar 100rb-an. Setidaknya itu hasl penelitian dari Priya Raghubir dan Joydeep Srivastava (2009).

Mereka melakukan tiga eksperimen di tiga tempat yang berbeda. Mekanismenya sama: responden akan diberikan 1 pecahan besar (misal $5) atau beberapa pecahan uang kecil (5 lembar $1). Mereka lalu diberi pilihan untuk menyimpan atau membelanjakan uang itu.

Hasilnya ternyata sama: responden yang memegang uang dengan nilai lebih kecil, cenderung lebih boros dalam membelanjakan uang. Itulah kekuatan “denomination effect”, dimana uang dengan nominal yang kecil membuat kita lebih konsumtif untuk membelanjakannya.

Sama seperti saat Anda hanya memiliki uang 100rb didalam dompet. Kita merasa agak berat untuk “memecahkannya” untuk jajan di warung. Berbeda misalnya jika Anda punya 50 lembar Rp.2000. Secara bawah sadar kita merasa lebih ikhlas membelanjakan uang receh yang kita miliki, selain untuk mengurangi ketebalan dompet yang merepotkan.

Jika Anda mampir ke bandara-bandara besar seperti Changi Singapura, akan ada vending machine yang menjual barang-barang seharga $ 1. Mereka memanfaatkan denomination effect. Daripada membawa uang receh, mending dibelanjakan saja. Toh nilainya tidak besar.

Tukang kredit menggunakan denomination effect dengan mengklaim jika kita cukup membayar cicilan ringan. Mereka mengelabui konsumen yang tak pernah menghitung harga total perolehan karena sudah bernafsu membawa pulang barang dengan angsuran yang kelihatannya tidak seberapa.

Pelajarannya: saat ada dua pilihan ATM, pilihlah mesin dengan pecahan 100 ribu. Secara tidak langsung, kita akan mengurangi denomination effect. Dan berhati-hatilah dengan fasilitas cicilan yang rendah. Kesan “ringan”, “murah”, “tidak terasa” adalah hasil dari denomination effect.

http://33hsrj1iv2m43o25k925e51f.wpengine.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2015/07/business-cash-advance-728×410.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#78 In-Group Out-Group bias: Kenapa kita membenci orang yang berbeda kelompok

Beberapa bulan terakhir dunia social media menjadi ajang perdebatan Pilkada. Pasukan cyber media saling menyerang dan menjatuhkan lawan masing-masing dengan berbagai cara. Mulai black campaign, meme satire, framing media hingga debat komentar.

Terbentuk kelompok sesuai pilihan calon. Saya beradaptasi dengan mengurangi konsumsi berita lewat gadget, maximal hanya 15 menit dalam sehari.  Social media hanya saya gunakan untuk posting tulisan dan membalas komentar.

Kenapa? Karena saya merasa perdebatan dunia maya adalah low value added activity. Tidak membuat saya happy, juga tidak membuat saya tambah pinter. Mungkin juga saya tidak terlalu tertarik karena KTP saya masih luar DKI.

Meski bekerja dan alhamdulilah sudah membeli rumah mungil pertama di Jakarta, belum terbersit keinginan untuk berpindah kewargakotaan.

Yang menjadi pertanyaan saya: kenapa kita sangat getol membela kelompok kita sendiri?

Ternyata secara historis biologis, kebiasaan berkelompok adalah metode mempertahankan diri yang diturunkan dari nenek moyang kita. Kita adalah homo homini socius, makhluk social yang saling membutuhkan. Manusia purba berkelompok untuk berburu dan mengamankan wilayahnya dari serangan predator.

Masalahnya, berkelompok ternyata bisa menghasilkan bias pola pikir. Pertama, bias identitas sosial. Batasan “kelompok” sangat tidak jelas. Bisa sangat luas mulai dari kesamaan Negara, agama, suku, pekerjaan, hobi, bahkan kesamaan selera. Padahal identitas itu adalah identitas imajiner yang terbentuk didalam persepsi kita sendiri.

Henri Tajfel, psikolog Polandia menjelaskan jika kita seringkali membutuhkan identitas social untuk menjelaskan posisi kita terhadap orang lain. Disinilah bias kedua lahir: in-group out-group bias. kita seringkali memandang kelompok luar tidak sebaik kelompok kita.

Karena itulah orang Indonesia akan menganggap negaranya lebih baik dari Malaysia, dan sebaliknya, orang Malaysia beranggapan negaranya lebih baik dari Indonesia. Ini yang menjelaskan kenapa pendukung Barcelona akan menghina Madrid, dan sebaliknya, Madridistas akan menghujat Barcelona.

In-group out-group bias-lah yang membuat pendukung pilkada saling mengolok-olok meski yang dihina belum tentu lebih baik dari yang menghina.

Solusinya? Terimalah perbedaaan dan jangan pernah merasa kelompok kita lebih superior dibandingkan kelompok lain.

Bukankah Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal?

http://www.theemotionmachine.com/wp-content/uploads/ingroup-outgroup.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

#77 Time-ask effect: Karena waktu lebih berharga daripada uang

Misalnya Anda adalah seorang pengurus sebuah yayasan. Karena biaya operasional yang terus naik, ketua yayasan itu memberikan Anda misi yang cukup sulit: Bagaimana cara meningkatkan sumbangan dari para donatur?

Apakah dengan mengirimkan “surat cinta” kepada donator berisi permohonan donasi? Wendy Liu dan Jennifer Aaker (2007) penasaran dan melakukan penelitian tentang itu. Mereka menciptakan eksperimen pengumpulan donasi dengan dua versi.

Versi pertama, calon donator akan ditanya: Apakah Anda tertarik memberikan sumbangan dana? Berapa yang ingin Anda sumbangkan? Lalu diikuti pertanyaan: Apakah Anda bersedia meluangkan waktu untuk kegiatan yayasan?

Di versi kedua, pertanyaan yang diajukan sama. Bedanya, pertanyaan tentang meluangkan waktu (time-ask) diletakkan sebagai pertanyaan pembuka baru diikuti pertanyaan sumbangan dana (money-ask). Hasilnya sungguh menarik. Versi time-ask menghasilkan sumbangan yang lebih tinggi (rata-rata $36,44) daripada versi money-ask (rata-rata $24,46).

Koq bisa? Penulis jurnal itu menduga saat kita meminta sesuatu yang bersifat materi, otak manusia langsung menghasilkan “monetary valuation” tentang untung rugi melakukan sesuatu. Sedangkan saat “meminta waktu” didepan, pertanyaan itu akan mengaktifkan emotional mindset beyond money yang pada akhirnya berakhir pada kebahagiaan memberi.

Pelajarannya: jangan terlalu transaksional saat meminta bantuan orang lain. Karena manusia pada dasarnya makhluk yang berusaha memaksimalkan keuntungan bagi dirinya sendiri. Bertanya tentang materi didepan hanya mengaktifkan self defence mechanism keuangan kita.

Seperti salah satu cerita humor sufi. Alkisah ada seorang kikir yang terjatuh kedalam lubang. Ia lalu berteriak meminta tolong. Kebetulan ada pemuda yang lewat dan bersedia membantunya. Ia lalu menjulurkan tangan sambil berkata:

“Berikan tanganmu”. Tapi si kikir justru diam saja.

“Ayo berikan tanganmu, biar kutarik keatas”.

Tetap tak ada respon. Akhirnya si pemuda sadar dan mengubah perkataannya.

“Kuberikan tanganku, ambillah”.

Akhirnya si kikir bisa keluar dari lubang.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail