#78 In-Group Out-Group bias: Kenapa kita membenci orang yang berbeda kelompok

Beberapa bulan terakhir dunia social media menjadi ajang perdebatan Pilkada. Pasukan cyber media saling menyerang dan menjatuhkan lawan masing-masing dengan berbagai cara. Mulai black campaign, meme satire, framing media hingga debat komentar.

Terbentuk kelompok sesuai pilihan calon. Saya beradaptasi dengan mengurangi konsumsi berita lewat gadget, maximal hanya 15 menit dalam sehari.  Social media hanya saya gunakan untuk posting tulisan dan membalas komentar.

Kenapa? Karena saya merasa perdebatan dunia maya adalah low value added activity. Tidak membuat saya happy, juga tidak membuat saya tambah pinter. Mungkin juga saya tidak terlalu tertarik karena KTP saya masih luar DKI.

Meski bekerja dan alhamdulilah sudah membeli rumah mungil pertama di Jakarta, belum terbersit keinginan untuk berpindah kewargakotaan.

Yang menjadi pertanyaan saya: kenapa kita sangat getol membela kelompok kita sendiri?

Ternyata secara historis biologis, kebiasaan berkelompok adalah metode mempertahankan diri yang diturunkan dari nenek moyang kita. Kita adalah homo homini socius, makhluk social yang saling membutuhkan. Manusia purba berkelompok untuk berburu dan mengamankan wilayahnya dari serangan predator.

Masalahnya, berkelompok ternyata bisa menghasilkan bias pola pikir. Pertama, bias identitas sosial. Batasan “kelompok” sangat tidak jelas. Bisa sangat luas mulai dari kesamaan Negara, agama, suku, pekerjaan, hobi, bahkan kesamaan selera. Padahal identitas itu adalah identitas imajiner yang terbentuk didalam persepsi kita sendiri.

Henri Tajfel, psikolog Polandia menjelaskan jika kita seringkali membutuhkan identitas social untuk menjelaskan posisi kita terhadap orang lain. Disinilah bias kedua lahir: in-group out-group bias. kita seringkali memandang kelompok luar tidak sebaik kelompok kita.

Karena itulah orang Indonesia akan menganggap negaranya lebih baik dari Malaysia, dan sebaliknya, orang Malaysia beranggapan negaranya lebih baik dari Indonesia. Ini yang menjelaskan kenapa pendukung Barcelona akan menghina Madrid, dan sebaliknya, Madridistas akan menghujat Barcelona.

In-group out-group bias-lah yang membuat pendukung pilkada saling mengolok-olok meski yang dihina belum tentu lebih baik dari yang menghina.

Solusinya? Terimalah perbedaaan dan jangan pernah merasa kelompok kita lebih superior dibandingkan kelompok lain.

Bukankah Tuhan menciptakan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kita saling mengenal?

http://www.theemotionmachine.com/wp-content/uploads/ingroup-outgroup.jpg
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *