#81 Salience effect: Kenapa informasi hangat bisa menipu

Ada berita artis ditangkap karena mengkonsumsi narkoba. Semua orang berkomentar, mengutuk keras dan menyayangkan bagaimana bisa si artis terjerat lembah hitam itu. Narkoba menjadi topic hangat yang diperbincangkan di warung kopi, acara gossip, dan menghiasi headline media baik digital atau tradisional.

Misalnya Anda Anda adalah seorang jurnalis kriminal. Kebetulan keesokan harinya ada kecelakaan. Penyebabnya masih diselidiki polisi. Namun berdasarkan sumber internal yang Anda miliki, ditemukan beberapa gram bubuk narkotika di dashboard mobil.

Anda lalu menulis berita dengan judul panas:

“Narkoba kembali merenggut korban!”

Headline berita seperti diatas adalah korban salience effect. Salience adalah tingkat “noticeable” (kecenderungan untuk dikenal) atas informasi yang menonjol. Salience effect bisa berarti: terkadang sesuatu yang stand out, bisa mengacaukan analisa yang ada.

Adanya narkoba yang merupakan informasi dengan salient tingggi menciptakan bias. Karena belum tentu narkoba adalah penyebab terjadinya kecelakaan. Bisa saja sang pengemudi mengantuk, atau ada factor sabotase eksternal. Karena itu perlu dilakukan penyelidikan yang menyeluruh.

Contoh lainnya saat ramai-ramainya soal polemic transportasi online. Anda mendapat berita jika ada tabrakan antara angkot dengan salah satu taksi online. Jika terkena salience effect, Anda akan menulis:

“Angkot dan Taksi Online kembali berseteru!”

Judul berita diatas akan disukai editor Anda. Sifatnya bombastis, up to date, dan mampu memanfaatkan salient dari momentum gonjang-ganjing taksi online. Tapi secara logika, tabrakan yang terjadi belum tentu disebabkan oleh konflik supir angkot dengan taksi aplikasi online. Bisa saja kecelakaan terjadi karena hal lain yang tak disengaja, dan kebetulan salah satu korbannya adalah anggota taksi online.

Intinya, kita harus berhati-hati dengan salience effect. Informasi yang bersifat menonjol bisa melupakan kita untuk mencari akar permasalahan dan langsung memberikan penilaian yang dangkal.

Contohnya terakhir: saat maraknya kasus penculikan, tiba-tiba anak tetangga Anda belum pulang hingga malam hari. Jika Anda berpikir ia menjadi korban penculikan, maka cobalah untuk tenang dan kurangi salience effect yang terjadi.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *