Monthly Archives: June 2017

#85 Crespi Effect: Kenapa kebaikan kita hanya bertahan saat Ramadan?

Bulan Ramadan membawa dampak positif bagi hidup kita. Masjid jadi ramai hingga dini hari, qur’an diperdengarkan disana sini, music di mall berganti lagu religi, orang jadi rajin berbagi, anak Yatim akhirnya dikunjungi, dan kita saling bermaaf-maafan sambil bersilaturahmi.

Saya sempat berpikir, apa yang membuat semua orang jadi sholeh?

Apakah karena pada bulan mulia ini setan dibelenggu dan pahala dilipatgandakan? Apakah karena pada bulan Ramadan ada malam yang lebih baik dari malam 1000 bulan?

Secara teoritis psikologis, ada korelasi antara performa yang dilakukan terhadap insentif yang didapatkan.

Pada tahun 1942, seorang Psikolog bernama Leo Crespi mencoba meneliti dampak insentif terhadap “kinerja” pada tikus. Ia meneliti tiga grup tikus yang rata-rata beranggotakan 20-an ekor tikus albino jantan berumur 3-6 bulan.

Disetiap grup ia meletakkan tikus itu di sebuah “sirkuit buatan” dengan umpan pakan yang ada di ujung “garis finish”. Ia menciptakan semacam “lomba balap tikus” dengan umpan yang berbeda-beda sebagai hadiahnya. Ia lalu mengukur kecepatan tikus dalam berlari mengambil umpan itu.

Hasilnya ternyata sesuai dugaan, semakin banyak reward (umpan) yang diberikan, semakin cepat performa lari si tikus. Demikian juga sebaliknya, semakin sedikit umpan di ujung lintasan, semakin tidak bersemangat si tikus yang membuat larinya melambat.

Mungkin ini yang membuat kita begitu bersemangat menyambut Ramadan. Kita terkena “Crespi effect” saat reward yang alhamdulilah dahsyatnya menjadi pendorong untuk melakukan kebaikan.

Pertanyaan selanjutnya: Kenapa kesalihan ini tidak bisa bertahan lama? Kenapa setelah Ramadan usai kita kembali melakukan dosa-dosa yang sama untuk ditebus di Ramadan berikutnya (jika masih hidup)?

Dugaan saya: karena kita masih seperti si tikus dan berfokus pada “umpan” bonus pahala saat Ramadan. Kita tidak sadar jika Ramadan adalah bulan latihan. Semacam environmental trial testing sebelum menjalani “ujian sesungguhnya” di bulan berikutnya.

Kita lupa jika puasa dibulan Ramadan dan puasa sunnah dibulan lain itu sama baiknya. Kita sering lupa jika menahan emosi itu seharusnya dilakukan sepanjang tahun. Dan seharusnya kita sadar jika menyantuni anak yatim itu bukan ritual setahun sekali.

Padahal Ramadan adalah sebuah penerapan incentive theory yang dilakukan oleh Tuhan. Ia memberikan positive reinforcement berupa bulan pengampunan dan pelipatgandaan pahala agar kita, pada akhirnya mencintai kebaikan dan menjadi orang baik.

Bukankah itu tujuan Tuhan menciptakan kita sebagai khalifah di dunia?

Tidak hanya mencari pahala ibadah berlipat ganda. Hal itu akan kita dapat jika kita melaksanakan tugas utama kita:

Menjadi rahmat bagi semesta.

https://static.comicvine.com/uploads/original/11119/111198831/4557633-2008240983-mouse.jpg

*sumber gambar

**sumber jurnal Crespi

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Nudies Party ala Onsen

Jika berkunjung ke negeri Sakura, ada satu kegiatan yang wajib masuk to do list activity: mandi bareng di onsen!.

Pemandian air panas di Jepang dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan sumber airnya. Ada yang bersumber dari air alami, disebut Onsen. Dan ada yang berasal dari air keran yang dipanasi dan diberi berbagai mineral dan aroma therapy, namanya sento.

Onsen biasanya ada di daerah pegunungan dan menjadi satu paket wisata dengan resort yang ada. Otomatis harganya jadi laham bo’ (bisa ribuan yen). Sedangkan sento, karena menggunakan air panas buatan, punya tiket masuk yang lebih terjangkau dan bisa ditemukan di kota besar.

Orang Jepang sendiri sangat suka mandi di pemandian umum. Kenapa? Karena zaman dahulu, ga semua orang bisa punya kamar mandi. Apalagi yang ada air panasnya. Sehingga orang berbondong-bondong datang ke onsen untuk mencari kehangatan mandi air panas ditengah udara Jepang yang dingin.

Karena penasaran, akhirnya saya dan Pipi Kentang googling daftar onsen yang ada. Kebetulan didekat penginapan kami ada Funaoka Onsen, ‘sento’ tradisional yang kata Wikipedia, sudah berdiri sejak tahun 1923 (ngalahin Nyonya Meneer cuy!).

Foto dari depan. Ga boleh foto didalem cuy. dok pribadi

Telanjang Bulat

Setelah sampai, kami agak kagok. Karena ga bawa handuk sedangkan semua orang sudah siap dengan peralatan mandinya. Setelah membayar tiket 430 yen, kami harus membayar extra 200 yen untuk membeli handuk (ya kali bajunya dibuat handuk).

Setelah itu pengunjung harus masuk ke ruang ganti. Lebih tepatnya, ruang copot baju. Karena disini Anda harus menanggalkan semua pakaian seperti mau mandi dirumah sendiri. Rasanya gimana? Aneh dan ga biasa. Apalagi pas baru masuk and ngeliat bapak-bapak dengan santainya nyopot baju disamping saya.

Aturan mandi di onsen mengharuskan kita untuk telanjang bulat saat masuk kedalam. Agak kagok juga sih, puasa-puasa ngeliat “rudal” orang. Klo kalah gede gimana? Kan maluuuu -_-

Setelah itu saya masuk ke ruang pembilasan. Disini kita diminta menyiram badan kita sebelum masuk ke kolam. Abis gebyar gebyur asal basah, masuklah saya kedalam lokasi pemandian.

Orang-orang sudah berendam dengan santainya. Kondisinya cukup ramai, meski masih jam setengah 4 sore (padahal Funaoka onsen baru buka jam 3). Mungkin karena onsen ini menjadi salah satu top visit places di forum-forum travel, banyak turis mampir untuk berendam.

Karena banyak turis yang datang saya bisa melakukan uji ANOVA (analysis of variance) dari hipotesis yang saya dapat dari video J*V, bra*zer, atau b*ngbros. Oh “samurai” orang Jepang segitu, “pedangnya” orang bule segitu, “goloknya” orang Timur Tengah segitu. Hehehe.

Rasa airnya gimana?

Panassss! Saya yang baru berendam 15 menit udah ngerasa berendam 15 tahun. Untungnya Onsen ini menawarkan berbagai pilihan air panas. Ada yang regular (air panas biasa), beraroma rempah-rempah, sampai yang dialiri listrik! Kita tinggal pindah-pindah kolam untuk merasakan sensasi berendam yang berbeda-beda.

Saya paling suka kolam rempah. Aroma airnya segar. Khusus untuk yang berlistrik, airnya mendapat aliran listrik ber-watt rendah. Rasanya seperti digelitik dan kedut-kedut di kulit. Apalagi di bagian sensitive kita, Auuwwww.

Andai ada di Indonesia…

Zaman sekarang, karena semua orang sudah punya kamar mandi dan pemanas air, onsen sudah berganti fungsi. Dari sekedar tempat mandi dan mensucikan diri (ajaran Buddha menempatkan mandi sebagai bentuk penyucian), menjadi wahana relaksasi dan rekreasi.

Saya tidak bisa membayangkan jika ada ritual mandi telanjang bareng seperti ini ada di Indonesia. Sudah pasti dicurigai jadi sarang pesta Gay dan jadi target penggrebekan FPI.

Padahal mandi bareng di onsen punya filosofi social yang tinggi. Kewajiban telanjang bulat membuat kita membuang semua sikap “ja-im” dan malu-malu. Suasana onsen yang rileks juga sangat cocok untuk menambah keakraban dan bonding time bersama teman.

Tapi jujur saja, saya masih merasa malu. Apa karena itu kemaluan saya besar?

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail