Monthly Archives: July 2017

Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

 

In digital world, there is word called “click bait”. It’s a term where someone uses interesting fake image or hyperbolic title just to allure people to click. For example: using sexy girl image in video containing grave punishment (siksa kubur). Kaskus give it cool nickname: jebakan betman, Batman trap.

My own experience is more than click bait. It’s even worse: event bait. It was started when I saw an event in Eventbrite platform: Lazada Marketing Solution launch. Since I’m looking for alternative advertising platform beside of Google and Facebook, I keen to join the event.

So I signed up and received confirmation from Eventbrite. I also received reminder one day before event. Everything is normal and I can’t smell something fishy.

Event Bait

On the event day, since the invitation is 12:00 AM I arrived around 12:05 AM. I was fasting (it was Thursday) and didn’t think to get some “free lunch”. I just want to register, sholat, and join the party to fulfill my curiosity.

I was shocked when I was rejected in the registration booth! Continue reading Be Aware of “Event Bait” from Lazada!

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Secret of getting India Visa in Just One Day

My friend asked me how to get India visa in one day only. Yes, believe it or not: One day visa application process.

Normally, you need 4 days to a week for this process. The application is made using two options available: online or offline.

If you have a credit card and too lazy to move your ass (or living outside of Jakarta), it’s better to apply it online. Just access this link, fill the form, and you will receive E-visa in a week. No need to come to embassy for interview session (finger print scanning actually..).

If you need faster processing time, offline process is the answer. Just visit Indian Embassy in Kuningan area in Jakarta, near of Singapore and Nederland embassy.

In front of Taj Mahal gate

The application time open from 9 – 12 AM, Monday to Friday. After clearing security check in the front line, we must queue to submit our application file. What kind of file? It depends on your visa type. The list is here. After you fill it, just print and bring the other supporting documents.

Getting India visa is not difficult. They are not like US who screen foreigner strictly.

So, what is the secret to get one day visa process?

Based on my personal experience, it’s a little bit dramatic. I applied India visa around May 2017. Continue reading Secret of getting India Visa in Just One Day

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

5 Preparation on Becoming Dad

Next month will be one of the biggest day in my life: I will be a Dad!

Yeay!!! Pipi Kentang (my wife nickname) is estimated to give birth in mid of September. Since it’s only a forecast, the date can be faster or be delayed. Safe margin is in 2 weeks, if till the end of September there is no symptoms of giving birth (contraction and other symptoms), she needs to have medical operation.

Becoming Dad is not easy. After I researched and interviewed a lot of Dad, at least there are 5 preparations to become successful father.

Designed by Freepik

#1 Knowledge preparations

One of the basic but most important thing is, most of us don’t know how to become a Dad! They don’t know about birth process and how to help their struggling wife. Knowledge plays significant role to guide us on which action we must take at a certain situations. Do we need operation? How to calm down your wife? What if your baby’s position is in occiput posterior?

How to get the knowledge? Just like RPG game, we can gain it in 3 simple ways:

  • Reading (book, internet, blog, etc.)
  • Talking to others (ask doctor, family, friend)
  • Practicing (walk the talk, try every knowledge that we know)

#2 Emotional preparations

Believe me, birth process is a little bit stressful. There are so many things to be managed and some negative anxiety sometimes comes up in our mind. The key is: keep cool, calm, and confident! Birth process is a natural phenomenon. It exists since mankind can reproduce. Just let it flow and enjoy the process. We must assure that our wife is relaxing and always supporting her during this tough time.

#3 Financial preparations

How much does it cost? Believe me, it’s not cheap. In Jakarta, the minimum cost is 1000 dollars and can increase up to 5000 dollars if medical operation is needed. So, stop hanging out in café and prepare your piggy bank account from now on.

#4 Physical preparations

Physical aspect is not just needed for our wife who gives birth. Each upcoming Dad also needs a fit physical condition since they he must stand by in hospital, assist, and wait for the entire period. Exhausted body can be a bad influence in our decision making. So, start exercise and have a good rest.

#5 Spiritual preparations

Last and one of the most important aspects is: spiritual assets. In my religion, life and death is “God’s business”. All we can do is trying our best and He will do the rest. Praying, giving charity, or doing any religious activity will help us to strive welcoming this new baby boy.

So, have you prepared those 5 aspects? If you are still single, better to prepare from now. If you were an “upcoming Dad” in the next couple of months, congratulations dude! You have so much homework to do! Good luck.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Tentang Tahu Bulat yang Semakin Jarang Terlihat

Ada fenomena penting yang saya rasa luput dari pemberitaan media mainstream: tahu bulat kini sulit ditemukan!. Kita lebih suka meributkan mbak Afi dari Banyuwangi, Kaesang anak Jokowi, Sevel yang mati, atau kasus politik berbaju agama yang sudah mulai basi. Tapi tidak ada yang mengangkat isu sepenting tahu bulat!

Setidaknya itu berdasarkan pengamatan pribadi saya. Di dekat stasiun Tanjung Barat dulu ada 2 penjual tahu bulat. Menggunakan pick up yang dimodifikasi ala food truck, mereka mempromosikan tahu bulat dengan tagline yang sengak di kuping:

“Tahuuuu bulat… Digoreng dadakan, 500 an, hangat-hangat”.

Kini jingle itu tinggal sejarah dalam hipotalamus otak saya. Kedua penjual tadi lenyap. Demikian juga dengan mobile rounded tofu (tahu bulat keliling) yang sering datang ke kampung tempat saya tinggal. Tak pernah nongol lagi.

Jajanan Rakyat

Sebagai kaum sudra pecinta jajanan murah kaya lemak, bagi saya tahu bulat bukan hanya sebuah jajan yang digoreng dadakan. Tahu bulat adalah symbol inovasi sederhana tapi mengena. Tahu bulat lahir dan melengkapi keluarga besar tahu yang menjadi salah satu makanan wajib orang Asia.

Berbeda dengan tahu isi yang biasanya lebih kompleks (berisi sayur, sosis/daging, dan digoreng dalam balutan tepung), tahu bulat menawarkan kesederhanaan. Hanya tahu berbentuk bulat, digoreng dalam minyak panas, lalu dibumbui sesuai selera. Murah dan sederhana.

Kuliner yang konon berasal dari Jawa Barat ini sempat booming setahun lalu. Setidaknya itu berdasarkan keyword search yang diketikkan orang di mbah Google. Bahkan hal ini mendorong lahirnya game Tahu Bulat yang sempat menjadi salah satu top free games di 2016.

google trends

Tapi kini trend itu mulai berlalu. Interest orang terhadap tahu bulat mulai menurun. Mungkin hal itu yang mendorong penjual tahu bulat sudah tidak semasif tahun lalu. Ia sudah melewati peak period. Nggak hits dan nge-trend lagi.

Apa yang terjadi dengan tahu bulat?

Stagnansi

Menurut saya karena setidaknya karena tiga alasan.

  1. Tidak adanya inovasi – menjual komoditi

Terakhir saya makan tahu bulat beberapa bulan lalu (Pipi Kentang menganggap tahu bulat adalah makanan minyak ga bergisi), rasanya masih sama dengan tahu bulat yang saya makan saat baru launching. Tahu hambar agak asin (karena saya ga pernah mau pake bubuk absurd dari abang penjualnya).

Tidak ada inovasi yang dilakukan misalnya dengan menciptakan tahu bulat mozzarella, toping kaviar, atau tahu bulat dengan siraman red wine (kalo ga ada bisa diganti topi miring). Akhirnya penjual tahu bulat jatuh pada commodity trap ala pasar persaingan sempurna. Tak ada yang membedakan penjual A dan B.

  1. Business model yang stagnan

Saat tahu bulat baru masuk ke pasar, business modelnya inovatif. Menggunakan pick up, ia menawarkan mobile store yang mampu menjangkau wilayah distribusi yang luas. Disaat tukang gorengan lain duduk manis di store, penjual tahu bulat datang menjemput bola.

Tapi setelah itu tak ada lagi. Saya belum mengenal penjual tahu bulat yang membangun brandnya, menciptakan bisnis model baru (misalnya franchise), atau melakukan product development (missal dengan frozen rounded tofu).

  1. Perang harga

Tahu bulat sempat menjadi disruptive market gorengan. Disaat bakwan atau pisang goreng berharga 1000 rupiah, tahu bulat datang dengan cost leadership: jual cukup 500 perak. Strategy ini cukup berhasil untuk menggaet kaum marjinal berpendapatan rendah seperti saya.

Tapi bagaimana selanjutnya? Disinilah penjual tahu bulat mengalami dilemma. Disatu sisi harus mempertahankan cost leadership (kenaikan harga akan membuat konsumen lari ke gorengan lain), disisi lain ia harus menerima margin yang sangat tipis.

Ditengah inflasi yang semakin meninggi, ketatnya kompetisi, dan banyaknya produk subsitusi, kemungkinan banyak penjual yang merasa bisnis tahu bulat sudah tidak feasible dan sustainable untuk dilakukan. Mereka beralih bisnis dan membuat jumlah penjual tahu bulat semakin sedikit.

Equilibrium Baru

Saya percaya apa yang terjadi pada pasar tahu bulat adalah sebuah market synchronization, seleksi alam untuk melihat penjual mana yang bisa memberikan nilai tambah.

Pada akhirnya proses ini akan menciptakan equilibrium baru yang menyeimbangkan supply terharap demand. Yang jelas sebagai pecinta gorengan, saya berharap tahu bulat jangan sampai punah atau sampai di-klaim negara tetangga hehehe.

Besok-besok jika ada bos atau pelanggan yang meminta pekerjaan dadakan diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya, cukup ajukan pertanyaan: “Emang saya jualan tahu bulat bos?”

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Gilanya Penjara Indonesia

 

Percayakah Anda dengan pernyataan dibawah ini:

  • Anda bisa mengelola bisnis narkoba dari dalam penjara
  • Kangen kehangatan wanita? Cukup panggil istri atau gunakan jasa prostitusi sambil sewa ruang besuk milik sipir
  • Banyak penipuan “mama minta pulsa” kepada orang umum yang dilakukan oleh tahanan

Jika Anda tidak percaya dengan semua point diatas, sebaiknya Anda membaca “Surat-Surat dari Balik Jeruji” yang ditulis Zeng Wui Jian, napi kasus narkoba yang 2 tahun ngamar di 4 penjara berbeda. Pedihnya siksaaan fisik dan batin di penjara membuatnya menulis kepada Jaya Suprana yang kemudian membukukannya.

cover bukunya

Kesan saya setelah membaca curhatannya: beruntunglah jika kita belum pernah dipenjara. Tidak ada penjara Indonesia yang manusiawi. Kapasitas penjara pasti overload, hukum yang penuh jebakan batman dengan tujuan memeras dompet, dan juga seringnya tindak kekerasan antar narapidana.

Setidaknya ada tiga hal yang membuat saya geleng-geleng kepala.

UUD

Didalam penjara, berlaku filosofi UUD yang sama. Ujung-ujungnya Duit. Ingin dapat sel yang “hanya” diisi 8 orang? Setor 3 juta. Kalo ga mau? Silahkan menikmati kehangatan sel yang diisi 20 orang. Disana handphone dilarang. Tapi di beberapa rutan, dengan iuran mingguan 200rb, Anda diperbolehkan menggenggam hape touchscreen terbaru.

Mendapat kiriman uang dari keluarga saat besuk? Jangan harap Anda terima 100%. Ada banyak pihak yang harus Anda sedekahkan, bisa menerima 80% saja sudah untung.

Bisnis Dalam Penjara

Kata siapa penjara menghalangi bisnis Anda? Karena justru banyak kasus perdagangan narkoba dikendalikan dari dalam terali besi. Bermodalkan HP, bandar besar memerintahkan produksi, mencari supplier, dan memasarkan barang haram itu dari dalam penjara. Bahkan di beberapa rutan, para napi bisa mengedarkan narkoba kesesama napi lain.

Selain itu, bisnis jasa transfer uang juga berkembang pesat. Para napi bisa menitipkan uang kepada para sipir yang meminta fee sampai 10%. Tak ketinggalan juga “bisnis receh” macam kopi, dan rokok yang merupakan food and beverages best seller diseluruh rutan.

Gledek

Yang membikin saya merinding: banyak penipuan dilakukan oleh bang napi. Bermodalkan hape, koneksi internet, dan kemampuan sepik-sepik, narapidana bisa “menggoyang” orang baik-baik diluar sana. Contoh klasiknya: penipuan pulsa.

Modus operandinya sederhana: bang napi akan membangun koneksi dengan calon korban. Bisa dengan pura2 nelpon ngaku teman, atau dengan profil palsu di facebook. Setelah akrab, si calon korban akan dimintai tolong. Biasanya berhubungan dengan penegak hukum.

Contohnya kejadian tanggal 4 Agustus 2015.

Si korban bernama Rano digarap oleh napi bernama Boyor. Ia mengaku Jarwo, teman lamanya yang jadi pelaut (si Rano sendiri yang menduga-duga). Nah ceritanya Jarwo lagi di kantor polisi kena razia, ia minta Rano membantu nego ke polisi (diperankan napi lain bernama Ade).

Polisi mau melepas Jarwo dengan satu syarat: duit tilang diganti pulsa. Jarwo menjanjikan komisi 200rb jika Rano mau membantu. Lha koq si Rano setuju. Ia pun bergegas ke Alfamart, mengisi 2 nomor masing-masing 200rb. Tapi ternyata pulsa belum masuk, nomornya keliru. Padahal ttu taktik penipuan “dikecot” dengan membuat korban salah transfer. Akhirnya Rano mengirim lagi 200rb. Total 600rb.

Setelah itu Jarwo kembali ke panggung sandiwara dengan meyakinkan uang cash pengganti pulsa sudah ia pegang. Dan ada kabar gembira, ia akan mendapatkan satu hp blackberry karena sudah membantu korps kepolisian.

Tapi ada syaratnya: ia harus suntik pulsa lagi ketiga nomor anggota buser, nanti uangnya diganti. Kali ini narapidana Emi yang mengaku sebagai AKP Wibowo. Mungkin karena iming-iming hape baru, dan seneng dapat kenalan polisi, Rano mengisi lagi 3 nomor dengan nilai 600rb.

Sebelum pesta berakhir, AKP Wibowo memberikan info teranyar: Tim polisi sedang menuju ke lokasi Rano untuk memberikan bonus. Ia juga diminta berbelanja barang apapun dan akan dibayari saat rombongan polisi sampai ditempatnya. Tak ketinggalan titipan pulsa Brigadir Adi (dimainkan napi lain lagi!) sebesar 600rb.

Total Jendral, Rano yang mengaku pedagang ayam dari Parung harus merogoh 1,8 juta ditambah belanjaan yang ia harap akan dibayarkan. Ia adalah korban “gledekan”, penipuan bermodal omong besar yang dilakukan para tahanan.

Enak DIbaca dan Perlu

Akhir kata, buku ini sedikit membuka rahasia umum tentang mirisnya manajemen Lembaga Pemasyarakatan yang sama sekali tidak memasyarakatkan manusia didalamnya. Anda akan mengerti kenapa keributan kecil antar napi bisa merembet ke tawuran masal antar gang. Atau kenapa banyak sipir yang “main mata” dengan para narapidana. Ditulis dengan bahasa ringan tapi berbobot, saya merekomendasikan untuk membacanya.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Kenapa Manusia Ingin Memiliki Anak?

 

image from freepik.com

Untuk Yoda yang akan lahir ke dunia,

Mungkin suatu saat kamu akan bertanya: “Kenapa sih setiap keluarga ingin memiliki anak?”

Pertanyaan lucu tapi valid. Secara biologis, jawabannya sederhana: untuk mempertahankan species. Dorongan natural kita membuat manusia suka beranak pinak dan berkembang biak. (untuk cara kopulasi bisa kamu baca di buku biologi ya!)

Tapi jawaban itu patut dipertanyakan relevansinya di dunia modern. Karena faktanya manusia sudah berkembang biak hingga sekitar 7,5 miliar jiwa. Manusia juga sudah menempati posisi teratas dalam piramida rantai makanan. Tak ada makhluk lain yang memburu dan memakan manusia.

Manusia purba masih mengalami fase penuh ancaman bahaya dari binatang atau alam sekitar. Nenek moyang kita harus beranak sebanyak mungkin untuk melangsungkan peradaban. Sekarang? Ilmu kedokteran semakin maju dan usia harapan hidup bisa diperpanjang sampai 70 tahun. Manusia modern justru mati karena mayoritas tiga hal: penyakit, bencana alam, atau karena sebab manusia lain (terbunuh, kecelakaan, perang, dll).

Kemungkinan kedua manusia ingin memiliki anak adalah: investasi. Anak menjadi future asset yang berguna di masa depan.

Karena itulah muncul istilah: banyak anak banyak rezeki. Anak yang ketika dewasa menjadi manusia produktif diharapkan bisa berkontribusi pada perekonomian keluarga.

Agama juga menempatkan anak sholeh sebagai harta tak tergantikan. Penolong di akhirat kelak. Doa mereka bisa meringankan perjalanan orang tuanya di alam kubur.

Banyak orang tua yang juga berharap bisa memiliki anak agar punya teman di masa tua. Mereka berharap anak-anaknya mau merawat dan menemani saat memasuki usia senja.

Tapi memandang anak sebagai investasi memiliki probabilitas. Tidak semua orang tua dianugerahi anak yang baik. Saya mengenal orang yang kesepian di hari tua meski anak-anaknya banyak (rata-rata orang tua mengalaminya). Ada yang dikasih ujian dengan anak-anak nakal. Ada juga yang hartanya habis karena anak-anaknya tidak bisa mengelola dengan baik.

Memiliki anak dan berharap anak akan menjadi pelipur lara di masa tua adalah sebuah sikap optimisme berlebihan. Tidak ada jaminan anak yang dibesarkan dengan kasih sayang akan menyayangi kita di masa depan.

Orang tua yang memiliki motif seperti itu adalah orang tua yang berkeluarga dengan sifat bisnis. Saat anak mereka sukses, ego orang tua akan naik dan berharap kontribusi mereka kepada kesuksesan sang anak dapat berpulang dalam bentuk bakti kepada mereka.

Sampai ada ungkapan yang sangat “transaksional”:

“Sayangi orang tuamu karena mereka sudah susah payah membesarkanmu”.

Kami tidak ingin menjadi orang tua seperti itu. Merawatmu adalah sebuah kerja besar kemanusiaan. Bukan sebuah investasi di hari tua agar si anak harus meramat manusia yang melahirkan dan membesarkan mereka.

Karena itu jangan cintai kami karena kami adalah orang tuamu. Jangan berbuat baik kepada kami karena kami yang membesarkanmu. Jangan menolong kami karena kami pernah menolongmu sewaktu kecil.

Berbuat baiklah kepada kami, dan kepada semua orang, karena kita adalah sama-sama ciptaan Tuhan.

Berbuat baiklah atas nama Tuhan dan kemanusiaan, karena itu adalah tujuan kita diciptakan.

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail